Yakin Pilihanmu Ada di Sekolah Kedinasan? (Part 3)


Tulisan ini lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yak, di sini nih kalo mau cek.

Balik lagi ke perguruan tinggi kedinasan. Poin tiga, lulus langsung diangkat jadi PNS golongan 3A di salah satu lembaga non departemen milik pemerintah. Benarkah demikian? Nyatanya, proses yang saya alami tidak seperti itu tuh (meski di awal masuk kuliah saya sudah tanda tangan surat perjanjian ikatan dinas yang salah satu isi nya konon berkenaan dengan hal ini, entahlah saya lupa hal ini tercakup di pasal berapa). Kok bisa demikian? Simak penjelasan saya dibawah ini.

Saya lulus di awal bulan Oktober 2013. Saya magang bulan Maret 2014. Selama 5 bulan saya dan teman-teman seangkatan ‘dirumahkan’. Tapi, sebagian besar waktu saya saat itu saya habiskan di tanah rantau kok. Mengajar les privat dengan bayaran yang cukup besar dan durasi waktunya lama, lumayan duitnya bisa saya pakai jalan-jalan ke negeri sebelah sama mengunjungi pacar saya di luar pulau (jangan sirik, haha). Balik lagi ke magang. Eh, tunggu. Magang? Saya tidak salah ketik? Benar, saya tidak salah ketik. Saya magang dulu selama 7 bulan mulai dari Maret hingga Oktober 2014. Di awal magang (bulan Maret), saya dan teman-teman seangkatan diharuskan mengikuti TKD (tes kompetensi dasar, sejenis sama tes TKD untuk tes CPNS di jalur umum). Mungkin ada yang bertanya, sama seperti pelamar CPNS pada umumnya dong? Beda, dikit. Kami hanya ikut TKD saja, tanpa TKB. Kenapa kami nggak ikut TKB? Konon, ujian komprehensif di semester 7 yang kami lalui pada saat kuliah jauh lebih horor dan lebih susah dibandingkan ujian TKB. Konon lho yaaaaa….

Di tes TKD ini, ada yang lolos ada yang tidak. Yang tidak lolos diharuskan untuk mengulang di bulan Juli 2014 hingga lulus. Baru pada Oktober 2014, NIP saya keluar, TMT dan SPMT saya sebagai CPNS juga tertanggal 1 Oktober 2014. Ingat ya, CPNS belum PNS. Bedakan. CPNS gajinya (dan tunjangan kinerjanya) 80% dan tidak ada hak cuti. Untuk menuju PNS, semuanya juga mengalami hal itu kok. Jadi, tulisan di awal paragraf ini diralat ya. Tau kan bagian mana yang harus diralat? Lulus tidak langsung diangkat jadi PNS, tapi lewat proses bla bla bla seperti yang saya tulis di atas.

Saya tambahkan lagi ya selain 3 poin yang sudah saya bahas di tulisan ini dan tulisan-tulisan sebelumnya.

Sekarang saya sudah CPNS, seperti yang sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya. Pertanyaannya, saya bekerja dimana? Sesuai perjanjian ikatan dinas. Daerahnya? Di INDONESIA. Sekali lagi, di Indonesia. Di mananya? Nah, ini panjang penjelasannya.

Penempatan lulusan kampus saya didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, putra daerah. Ini berlaku hanya untuk putra daerah di luar Pulau Jawa saja ya, catat. Kedua, IPK. Semakin tinggi IPKmu, semakin banyak pilihan tempat yang tersedia dan semakin besar pula peluangmu menggeser teman-teman yang IPKnya di strata bawahmu. Ketiga, penempatan bersama. Hal ini ada karena semakin banyaknya pasangan-pasangan satu kampus yang mengajukan penempatan bersama dengan alasan menikah tentunya. Karena di angkatan saya tidak ada program khusus PMDK bagi daerah tertentu, maka yang berlaku adalah ketiga aturan di atas. Kalopun ada program khusus PMDK, maka prioritas mereka ya balik ke daerahnya masing-masing. Biasanya ini untuk daerah 3T tertentu sih, yang dirasa pegawainya disana masih kurang banyak. Bagaimana dengan yang IPKnya selangit? Kalo masuk 10 besar ya silahkan milih, pusat atau daerah tujuan istimewa di luar Pulau Jawa. Kalo nggak masuk sepuluh besar, ya berarti ada di alasan kedua. Yang tanpa alasan sih, nggak peduli

Saya berasal dari Kabupaten Sukoharjo, salah satu kabupaten kecil di sebelah selatan Kota Solo Provinsi Jawa Tengah. Buang jauh-jauh pikiran kalian kalo saya ditempatkan di tempat asal saya, itu hanya mimpi (apalagi untuk lulusan fresh graduate yang IPKnya hidup segan mati tak mau seperti saya ini). SK CPNS saya keluar dan saya ditempatkan di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Awalnya, saya disuruh milih. Pilihan pertama saya ada di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Aceh Selatan di Aceh dan terakhir di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi NTT. Saya berharap banyak di Kalimantan Selatan karena pacar saya penempatan di sana, tapi apa daya karena faktor X gagallah semua rencana. Di Aceh, nggak tau karena faktor apa saya juga nggak disana (padahal ada lho yang IPKnya dibawah saya yang bisa penempatan sana dan dia bukan putra daerah). Jadilah saya di Provinsi NTT. Tapi, bukan di kabupaten yang saya inginkan.

Mungkin pada bertanya-tanya, kenapa penempatan saya bisa jauh sekali? Well, jauh dekat itu realtif. Secara jarak, memang jauh. Secara rumah saya di tengahnya Pulau Jawa, untuk mencapai daerah penempatan saya harus lewat Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, dll. Tapi secara waktu, untuk pulang ke hometown saya masih bisa dijangkau dalam waktu setengah hari kok. Dari kabupaten penempatan saya ke bandara terdekat dibutuhkan waktu sekitar 45 menit naik motor atau mobil dengan kondisi jalan yang bagus, aspalnya sudah hot mix karena jalan provinsi. Dari bandara tersebut ada penerbangan ke Denpasar setiap hari, penerbangan BUMN plat merah sehari dan penerbangan yang dikelola swasta. Dari Denpasar ke Jogja atau Solo, ya tiap hari jelas ada dong ya. Denpasar, Jogja dan Solo kan destinasi wisata yang banyak peminatnya, hehehe….

Beberapa teman saya penempatannya lebih jauh. Atau ‘kelihatan dekat tapi sebenarnya jauh’. Misalnya saja di salah satu provinsi di Kalimantan, tidak usah sampai jauh di ujung timur Indonesia,. Kalimantan sama Jawa cukup deket kan ya dibanding NTT ke Jawa? Tapi, lihat dulu dia di kabupaten apa di Kalimantan. Ada lho yang dari kabupaten penempatan dia ke bandara terdekat membutuhkan waktu sekitar 9 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang aduhai. Atau di daerah pedalaman Sulawesi yang harus semalam menyusuri darat dan laut untuk bisa sampai di ibukota provinsi yang mana baru ada bandara cukup besar untuk bisa pulang ke kampung halaman. Nah, bagaimana dengan yang di ujung timur atau ujung barat? Lebih-lebih sensasinya….harus naik pesawat mini, pesawatnya tidak selalu ada setiap hari, kalo cuaca buruk kapal sebagai satu-satunya mode transportasi untuk ke bandara tidak bisa jalan, dll.

Yang diatas baru masalah moda trasnportasinya, belum memikirkan biaya pulang ke kampung halaman lho. Berapa sih gaji pegawai negeri? Cari sendiri ya. Kalo masih single sih nggak masalah terkait ongkos, kalo yang sudah berkeluarga dengan beberapa anak? Ya berat.

Meski demikian, ada juga yang dapat penempatan kerja di dekat rumah di kampung halamannya. Bisa 15 menit sampai tanpa harus huru hara ke bandara buat pulang kampung. Atau ada juga yang di kabupaten sebelah kampung halamannya. Atau ada juga yang satu provinsi dengan kampung halamannya, tapi beda pulau. Atau ada juga yang harus 9-10 jam jalur darat dari kampung halaman ke kabupaten penempatan tujuan. Dengan catatan, semua itu terjadi di luar Pulau Jawa.

Wilayah penempatan kerja tidak main-main. Nggak ada pertimbangan yang cowok di pelosok yang cewek agak kota, semua sama rata (menurut saya). Yah…balik lagi lah sama beberapa alasan penempatan lulusan yang telah saya tulis di atas. Dan yang perlu diingat, wilayah penempatan ini untuk hidup selama sekitar 3-5 tahun setelah ditempatkan. Kok lama? Ya memang. Ya nanti kan juga bisa pindah. Eitsss….tunggu dulu. Alasan kamu pindah apa? OK lah kalo ikut suami, kalo alasan yang menurut atasan nggak bisa diterima? Ya bye bye. Pindah ikut suami aja pertimbangannya macem-macem. Kalo suami satu instansi biasanya yang ‘penempatan strategis’ disuruh ke ‘penempatan yang tidak strategis’. Biasanya lho ya. Belom lagi kalo dapat atasan yang ‘menyulitkan’ untuk ngasih surat pindah, konon kata leluhur itu melelahkan jiwa dan raga…….

So, perhatikan penempatan satuan kerja terendah yang ada di perguruan tinggi kedinasan itu sampai di tingkat apa. Berbahagialah yang tingkat terendah satuan kerjanya di wilayah kota, kalau kabupaten? Sudah saya sebutkan di atas, tidak peduli kabupaten 3T atau bukan, selama masih ada satuan kerja ya bisa saja ditempatkan di sana. Misalnya, di Kabupaten Sangihe Talaud, Rote Ndao, Sabang, Merauke, Banggai Kepulauan, Kepulauan Selayar, Natuna, Anambas, Nias, dll. Mungkin yang berasal dari provinsi yang sama, pasti taulah atau minimal pernah denger nama kabupaten-kabupaten yang saya sebutkan tadi. Nah, kalo kamu yang nggak hapal itu daerah mana? Bukalah peta!! Lihat, belajar geografi lagi ya.

Sekian tulisan dari saya, seorang alumni sebuah perguruan tinggi kedinasan. Siap tidak siap harus siap, bagi saya sih yang sudah terlanjur nyemplung di dunia kedinasan seperti ini. Bagi kamu yang ingin mendaftar di perguruan tinggi kedinasan, selamat mempertimbangkan. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyampaikan fakta tentang apa yang saya rasakan selama ini, bukan untuk berniat jahat dengan menakut-nakuti atau menyiutkan nyali kamu. Jika kalian merasa perguruan tinggi kedinasan itu gue banget, silahkan mendaftar. Saya doakan semoga lulus hingga menjadi abdi negara, dimanapun kamu nanti ditempatkan.

Iklan

Yakin Pilihanmu Ada di Perguruan Tinggi Kedinasan? (Part 2)


Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Silahkan cek di sini.

Poin kedua, dapat uang saku per bulan. Ini juga benar. Tahun 2009, saya mendapatkan sekitar 400 ribu per bulan (atau 450 ribu ya? Saya lupa). Tahun 2010, ada kenaikan menjadi 500 ribu per bulan hingga pertengahan tahun dan di akhir tahun menjadi 850 ribu per bulan. Sampai saya lulus di tahun 2013, uang saku yang saya dapatkan masih tetap sama. Terakhir saya dengar, mulai 2015 ini uang saku yang diterima mahasiswa sebesar 1 juta.

Mari kita berhitung. Saya dulu kos di awal kuliah (sekamar berdua) sekitar 250 ribu per bulan, lalu sempat ngontrak rumah dengan teman-teman dengan biaya sebesar 2,5 juta per tahun (anggaplah sekitar 200ribu per bulan), terakhir saya kos sekamar sendiri dengan biaya 400ribu per bulan. Saya makan sehari (plus jajan) sekitar 20-30 ribu, sebulan anggaplah 600-900 ribu. Pulsa untuk internet dan pulsa hp biasa sekitar 100 ribu. Kebutuhan lain-lain (deterjen, sabun mandi, pasta gigi, shampo, bedak, parfum, pembalut wanita, dll) sekitar 100-150 ribu per bulan. Jika dikalkulasikan, lebih kurang 1 juta hingga 1,5 juta per bulan saya habiskan untuk biaya hidup. Itu sudah termasuk hidup hemat ya, tanpa hedon ke mall atau ke pusat grosir yang murah meriah yang kadangkala menghinggapi benak para mahasiswa yang suntuk dengan kuliah. Hahaha…

Eh, bukunya gimana? Tenang, di perpustakaan ada (meski tidak seberapa). Kalo kamu rajin ke perpustakaan, bisa pinjam kok. Kalo kamu nggak rajin, ya beli atau pinjam kakak tingkat. Saya termasuk golongan orang yang angin-anginan ke perpustakaan, tapi juga malas pinjam ke kakak tingkat. Biasanya, saya beli buku kuliah untuk mata kuliah inti saja atau yang saya anggap penting biar bukunya bisa saya coret-coret sesuka hati. Kalo untuk pelajaran yang kata kakak tingkat nggak penting-penting amat, ya saya pinjem aja sih. Sayang duit, hehe…

Pertanyaannya, cukupkah uang saku yang saya dapat? Dengan sedih saya jawab, tentu saja tidak. Di awal kuliah saya masih rutin dikirimin uang orang tua. Sekedarnya saja sih, saya nggak menyebut harus dikirimi berapa karena saya tahu bagaimana kondisi keuangan keluarga saya. Kalo cukup, ya alhamdulillah. Kalo kurang, yang saya hemat ya di makan dan jajan. Lebih? Jarang pake banget J. Mulai dari situlah saya putar otak how to survive dan bisa jalan-jalan cantik seperti teman-teman saya yang lain.

Saya coba-coba untuk bekerja sampingan sebagai guru les privat. Cukup lama saya jalani pekerjaan sampingan menjadi guru les privat dari rumah ke rumah, mulai dari tahun 2010 akhir hingga 2014 akhir. Murid saya beragam, mulai dari kelas 3 SD hingga 12 SMA, dari sekolah negeri hingga sekolah swasta, dari sekolah nasional hingga sekolah bilingual dan bahkan sekolah internasional. Bayarannya per pertemuan pun beragam, mulai dari 60 ribu per pertemuan hingga 250 ribu per pertemuan. Mulai saat itu, kondisi finansial saya bisa dikatakan cukup (terkadang juga lebih sedikit, biasanya saya tabung) untuk tidak lagi meminta uang kiriman dari orang tua.

Dari pekerjaan sampingan saya ini, ada banyak hal yang bisa saya pelajari. Saya jadi tahu tentang bagaimana penyampaian ilmu di berbagai sekolah. Kalo di sekolah nasional, ya nggak jauh beda dengan apa yang saya alami dulu. Kalo di sekolah fullday, ada banyak kegiatan tambahan di sekolah selain belajar (misalnya makan siang gratis dan ibadah bersama). Lain lagi dengan sekolah internasional. Selain bahasanya ada tiga macem (di tempat sekolah adek les saya dulu, bahasa pertamanya bahasa Inggris, kedua bahasa China dan ketiga baru bahasa Indonesia). Harga jajanan ditempat mereka juga mahal, sebanding lah sama uang bayaran mereka per semester yang nyebut berapa puluh USD. Fasilitas dan perhatian guru di sekolah internasional pun sangat memadai, sangat jauh berbeda dengan yang saya alami di jenjang sekolah yang sama. Ya benerlah apa kata pepatah, ada uang ada barang….eh salah, ada uang ada mutu. Tapi, nggak ada jaminan kok sekolah mahal itu pasti bikin pinter. Trust me.

Dari pekerjaan sampingan ini pulalah saya bisa mengurangi salah satu kelemahan saya : buta arah. Ketika ada murid les baru, mau nggak mau saya harus cari sendiri dimana rumah mereka, kesananya harus naik apa aja, dan ongkosnya berapa. Saya nggak ada motor, jadi andalan utama saya untuk kemana-mana ya naik bus atau angkot. Mau nggak mau saya hapal kalo ke sana naik apa aja, turun dimana, bayar berapa. Wakwak….udah kayak tour guide yak. Karena seringnya saya naik kendaraan umum inilah, awareness saya tentang berbagai modus kejahatan di kendaraan umum meningkat. Beberapa kali saya melihat kejahatan di depan mata saya, bahkan saya sendiri pun hampir kena. Saya kapok? Enggak tuh. Hahaha…

Terakhir, dari pekerjaan sampingan saya ini pulalah saya kenal dengan dunia orang lain di tempat saya merantau. Mulai dari pembantu di tempat adek les saya yang ramah dan suka minjemin saya mukena plus sajadah kalo waktu sholat tiba, satpam rumah yang kadang ngasih tebengan motor sampai ke jalan raya tempat bus lewat, kepala pembantu adek les saya yang baik hati tapi kerasnya bukan main menghadapi adek les saya yang bandel, hingga beragam profesi orang tua adek les saya mulai dari pegawai kantoran biasa, kontraktor, petinggi di salah satu BUMN pusat, juragan kelapa sawit, juragan travel umroh, juragan batu bara di Kalimantan sana sampai CEO salah satu produsen minuman terkemuka. Fyi, mereka rata-rata berbeda suku dan agama dengan saya loh. Meski demikian, nggak ada masalah tuh selama ini. Kalau datang waktunya sholat, ya saya minta ijin sholat di tempat yang bersih (biasanya di kamar pembantunya atau di ruang khusus yang bebas dari najis). Mereka baik-baik, ramah, care dengan saya, bahkan sampai sekarang saya sudah nggak ngajar pun masih keep in touch.

Selain saya, banyak kok teman saya (yang juga mahasiswa di perguruang tinggi kedinasan) yang juga bekerja sampingan sebagai guru les privat. Ada yang memilih dekat-dekat saja dengan kampus biar transportasinya gampang, ada yang milih agak jauh tapi bayarannya gede. Hehe… Hal lain yang banyak dilakukan oleh mahasiswa perguruan tinggi kedinasan selain kuliah (untuk menyambung hidup atau cuma sekedar tambah uang jajan) diantaranya adalah berjualan secara online. Macam-macam jenis jualannya, mulai dari jasa hingga barang. Mulai dari jasa ngeprint tugas sampai jasa servis leptop. Mulai dari jualan pulsa internet sampai jualan jasa download yang ukuran filenya gede-gede. Mulai dari jualan makanan ringan hingga jualan makanan berat. Mulai dari jualan jilbab hingga jualan mukena. Mulai dari jualan baju korea hingga jualan kaos distro. Kreatif? Unik? Atau malah memprihatinkan? This is our way to get more money, entah itu hanya untuk tambahan kas kontrakan, tambahan buat jajan-jajan cantik, atau benar-benar untuk menyambung hidup.

Dari cerita di atas, jangan memukul rata bahwa semua mahasiswa perguruan tinggi kedinasan itu miskin semua atau ‘kreatif’ cari duit ya. Ada juga kok yang masih benar-benar murni sebagai mahasiswa yang tugasnya hanya berangkat kuliah-belajar-pulang-dan jalan-jalan. Ada yang uang saku dari kampus hanya ditabung atau hanya untuk jajan-jajan saja. Ada yang orang tuanya rutin mengirim uang yang cukup (bahkan ada yang berlebih) untuk kebutuhan hidupnya selama di tanah rantau. Berbahagialah mereka yang masuk kategori di paragraf ini, tugasnya di tanah rantau hanya kuliah dan belajar. Hehe…

Sudah kepanjangan tulisan saya kali ini? OK, lanjut di postingan ini ya.

Yakin Pilihanmu Ada di Perguruan Tinggi Kedinasan? (Part 1)


Masa-masa sekarang ini –sekitar bulan Februari Maret- para siswa kelas 12 SMA sedang gencar-gencarnya didatangi oleh para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mereka yang datang itu biasanya alumni dari SMA tersebut. Mereka datang dari berbagai perguruan tinggi. Tidak hanya dari perguruan tinggi negeri saja, mahasiswa dari perguruan tinggi swasta yang bergengsi pun ikut meramaikan. Tidak ketinggalan pula mahasiswa dari perguruan tinggi kedinasan juga ikut meramaikan silaturahmi ke sekolah dalam rangkaian ‘kunjungan’ promosi tersebut. Di sini saya tidak akan membahas ‘kunjungan’ mahasiswa dari perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta, tapi hanya akan saya batasi di ‘kunjungan’ mahasiswa dari perguruan tinggi kedinasan. Kenapa? Karena saya salah satu alumni perguruan tinggi kedinasan (meski saya juga sempat sebentar jadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri). Tujuan saya menulis tulisan singkat di blog saya ini hanya untuk meluruskan dan open your mind, dibalik ‘janji-janji surga’ perguruan tinggi kedinasan ada resiko besar yang juga harus dihadapi.

Ada yang masih bertanya apa itu perguruan tinggi kedinasan? Akan saya jelaskan secara singkat saja ya. Perguruan tinggi kedinasan adalah perguruan tinggi yang berada di bawah naungan suatu departemen atau lembaga pemerintah non departemen. Ada yang berbayar ada pula yang gratis. Ada yang ikatan dinas dengan departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang dulu menanungi perguruan tingginya (begitu wisuda dan lulus tes TKD saja bisa langsung diangkat) ada yang tidak (ikut seleksi seperti pelamar CPNS pada umumnya). Ada yang pendidikannya semi militer ada juga yang tidak. Ada yang dapat uang saku ada yang tidak. Dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, silahkan googling sendiri ya :).

Seperti yang saya sebutkan di awal, saya adalah salah satu alumni perguruan tinggi kedinasan. Pacar saya juga berasal dari kampus yang sama (yang artinya dia juga alumni dari perguruan tinggi kedinasan). Adik pertama saya sekarang masih tercatat di salah satu perguruan tinggi kedinasan, meski berbeda kampus dengan saya. Awalnya, saya mau-mau saja masuk ke perguruan tinggi kedinasan dengan beberapa ‘janji-janji surga’ yang sampai di telinga saya dan keluarga. Apa sajakah itu? Di antaranya sebagai berikut :

  1. Kuliah gratis
  2. Dapat uang saku per bulan
  3. Lulus langsung diangkat jadi PNS golongan 3A di salah satu lembaga non departemen milik pemerintah

Waktu itu saya dan keluarga tergiur dengan tiga hal yang saya sebutkan di atas, terlebih lagi saya berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Tanpa mempertimbangkan resiko, tanpa bertanya apa saja nilai minusnya, saya masuk. Konyol? Ya benar. Sikap saya ini memang konyol, memilih tanpa melihat plus minus-nya. Maka, untuk kamu yang sudah mendengar ‘janji-janji surga’ tersebut, waspadalah. Mau maju dan siap menghadapi segala resiko, silahkan. Mau mundur dan cari tempat kuliah lain, ya silahkan. Hidup memang harus memilih bukan?!

Poin pertama, kuliah gratis. Ya, memang benar gratis. Saya hanya membayar biaya sekitar 2,5 juta di awal masa kuliah untuk keperluan seragam, ospek kampus dan outbound. Tapi, sesuatu yang gratis itu pasti ada syarat dan ketentuan yang berlaku dong (enak aja lu main gratis, dikira duit turun dari langit apa? :p). Apa saja syarat dan ketentuan yang harus saya alami?

  1. Pertama dan utama, ancaman DO yang besar (terlebih di semester 1 dan 2, kalau di kampus saya. Kampus lain malah ada yang lebih kejam, setiap semester). Ancaman DO ini berlaku untuk mata kuliah inti. Jadilah orang yang jeli, jangan langsung percaya ketika kakak tingkat yang promosi bilang “tenang saja, asal belajar yang rajin nggak bakal kena DO kok”, “nanti ada belajar bersama, DO bisa diatasi”, “mata kuliah intinya gampang-gampang kok,” dsb. Itu versi dia ya, sekali lagi itu versi dia. Coba iseng tanya ke kakak tingkat di perguruan tinggi kedinasan itu apa saja mata kuliah inti di tempatnya belajar. Searching dulu mata kuliah itu tentang apa, garis besarnya aja lah (anak gahol jaman sekarang kayaknya nggak mungkin nggak bisa internetan deh). Dari situ kamu bisa memilih masuk kuliah di perguruan tinggi kedinasan dengan mata yang sedikit terbuka….oh, ini ya mata kuliah intinya. “Itu aku bangetlah”, “Iyuh….ketemu cacing integral rangkap tiga?”, “Hitungan akuntansinya kok rumit ya ternyata”, “Ah, matriks kayak gini sih gampang”, “Kok ketemu mata kuliah hapalan sih.”, dll. It’s up to you. Only you who know your own strenght.
  2. Mata kuliah mulai dari yang mudah hingga sangat sulit. Semua mata kuliah ya, nggak cuma mata kuliah inti. Kalo yang ini relatif sih, sulit dan enggaknya tergantung masing-masing individu. Maka dari itu, penting banget untuk mengenali dulu apakah kamu mampu dan menyenangi bidang ilmu di perguruan tinggi kedinasan tersebut. Kalo hanya sekedar ikut-ikutan trend, ya terima saja kalo di tengah jalan kamu merasa kuliahmu terasa sungguh berat. Begadang? Cari referensi ini itu? Sibuk kesana kemari buat belajar kelompok? Wes biyasaaaaaa……
  3. Ditambah lagi, persaingan antar teman yang cukup ketat. Dari awal, tes masuk ke perguruan tinggi kedinasan sudah ketahuan kan bagaimana ketat dan sulitnya. Yang lolos pastilah pintar-pintar. Di sini berlaku hukum alam, yang pintar (kebanyakan) egois (tingkat tinggi). Jadi ya wajar-wajar saja kalo setelah kamu masuk kuliah di perguruan tinggi kedinasan dan mendapati teman yang demikian. Misalnya ketika besok ujian dan kamu tanya udah belajar belum, dia jawab belum belajar nih….pas hasilnya dibagiin dia dapet nilai A. Atau tanya rumus nggak dijawab atau dijawab nggak ngerti, tapi beberapa saat kemudian ketika dosen bertanya hal yang sama….dia dengan gagah berani maju ke depan kelas dan lancar menuliskan rumusnya yang sudah dia hapal di luar kepala. Atau nggak mau datang ke belajar kelompok dengan alasan yang beragam, padahal dia salah satu orang yang ilmunya di bidang itu mumpuni. Atau ada temen yang kalo mau tau suatu hal tentang pelajaran dia rajin bener tanya ini itu ke kamu, giliran kamu tanya hal lain (tentang pelajaran) juga ke dia (dan dia tahu) malah dia tutup kuping. Dll. Kalo saya tulis satu per satu,bisa penuh ntar halaman ini.
  4. Nilai mata kuliah yang ‘cukup mahal’. Mengapa cukup mahal? Awalnya, saya mengira ini cuma terjadi di kampus saya aja. Ternyata, di kampus adek saya juga. Untuk mata kuliah yang sama, misalnya saja kalkulus, di perguruan tinggi kedinasan dengan di perguruan tinggi lain berbeda penilaian. Memang nggak semua, tapi rata-rata demikian. Well, masalah nilai di mata kuliah emang nggak bisa diperbandingkan ya. Gimana kalo tentang tugas akhir saja? Hehe…agak fair menurut saya. Jadi gini, kuliah saya setara dengan S1. Wajarnya, untuk bisa lulus kuliah ya menyelesaikan skripsi dong. Iya, memang benar yang dikerjakan itu skripi. Tapi, skripsi yang dikerjakan ini kalau diukur tingkat kesulitannya bisa selevel tesis atau bahkan disertasi di perguruan tinggi lain. Saya nggak omong kosong lho, skripsi yang kemarin saya kerjakan aja hampir mirip dengan disertasi orang lain dalam hal metodologi dan sebagian sumber datanya. Teman-teman saya yang lain pun juga demikian. Jika ada yang menyelesaikan di level skripsi, biasanya disindir sama dosen kenapa ngerjain skripsi yang nggak jauh beda sama tugas kuliah biasa. Huhuhu…..Nilai lebihnya, konon ketika menempuh pendidikan master tidak akan kesulitan. Nilai kurangnya, apalagi kalo nggak susah, capek, lelah dan pusing. Skripsi level biasa aja udah pada nyebut, lha ini skripsi yang…..ah sudahlah.
  5. Belum lagi aturan di perguruan tinggi kedinasan yang berbeda dengan perguruan tinggi lainnya. Mulai dari berseragam khusus (jadi, lupakan sense of fashion untuk kuliah), aturan jilbab dan rambut, aturan baju, dan aturan-aturan lain yang sekarang saya sudah gak hapal lagi. Kamu melanggar, kena poin hukuman. Nantinya poin hukuman ini akan diakumulasi setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran (saya lupa). Jika sudah melebihi batas atas, beragam hukumannya. Mulai dari nggak boleh ikut ujian hingga dikeluarkan.

Masih mau membaca? Ok, karena tulisan saya ini kepanjangan maka lanjutannya akan saya tulis di sini ya :).

Tes Kerohanian = Tes Kesehatan Jiwa


Postingan saya kali ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Silahkan baca di sini.

Beberapa waktu yang lalu, ada instruksi dari kantor tempat saya (nanti) akan bekerja untuk mengumpulkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk pengangkatan menjadi CPNS. Mendadak dangdut deh pokoknya. Ya bayangin aja, baru juga hari pertama masuk kantor setelah libur (lama) lebaran tiba-tiba muncul instruksi sedemikian rupa yang mengharuskan saya (yang belum ngurus dokumen-dokumen tersebut) untuk balik lagi ke rumah. Emang sih, pas lagi di rumah udah ada kriteria-kriteria dokumen apa yang diperlukan untuk pengangkatan. TAPI…..MEREKA TIDAK BILANG KAPAN BATAS AKHIR PENGUMPULANNYA, MEREKA HANYA BILANG UNTUK BEKAL LIBURAN. Belajar dari kakak tingkat kami yang disuruh mengumpulkan dokumen-dokumen di bulan Oktober, jadi saya dan beberapa teman santae-santae aja dong belum ngurus (karena ini masih bulan Agustus). Trus, kata mereka juga dikasih ijin buat ngurus. TAPI……MEREKA HANYA MEMBERI WAKTU 3 MINGGU UNTUK MENGURUS DOKUMEN-DOKUMENNYA DAN TIDAK ADA IJIN. Kyaaaa…………………iya sih, emang cukup lama waktunya untuk mengurus dokumen-dokumen yang hanya butuh waktu 2 hari megurusnya. Syok terapinya itu lho, harus balik lagi ke rumah setelah lama stay di rumah dan tanpa dikasih ijin pula (alhasil saya pun bolos 4 hari -3 hari ngurus dokumen 1 hari tepar di kosan). Yang jadi masalah bagi saya, ya tentu saja duit. Duit sudah terkuras menjelang lebaran beli ini itu, belum lagi untuk biaya hidup bulan Agustus, plus tiket kereta pp Jakarta-Solo. Fiyyuh….thank you so much lah ya 😦 .

Sori deh kebanyakan curhat, habis keadannya emang kayak gitu T.T

Ada yang baru di dokumen pengangkatan CPNS saya kali ini. Apa itu? Selain surat sehat jasmani dan bebas narkoba, ada lagi surat sehat rohani. Karena saya nggak tahu itu apa, yaudah saya tanya ke custoer service RSUD dekat rumah. Mulanya si mbak yang saya tanya juga bingung, lalu dia tanyakan ke temannya di bagian lain. Dan dari dia saya dapat keterangan, kalau tes kesehatan rohani itu tentang kondisi kejiwaan. Karena waktu itu saya sudah cukup siang sampai di RSUD (jam 11an lewat), maka saya disuruh untuk balik lagi keesokan harinya.

OK deh. Karena mbak customer service-nya cukup ramah dan mau menjelaskan, saya pun nurut dan pulang sambil senyum. Sebelumnya, saya sudah was-was. Tes kesehatan jasmani, rohani dan bebas narkoba harus dilakukan di rumah sakit milik pemerintah (di tempat saya adanya ya RSUD). Padahal, saya cukup anti dengan rumah sakit pemerintah. Kenapa? Pertama dan utama, jelas pelayanan mereka jauh dari kata menyenangkan (yang selalu saya temui). Terakhir saya ke RSUD dekat rumah ini ketika saya masih SD. Udah dibentak-bentak, jutek pula perawatnya. Cihhhh…..

Balik lagi ke cerita semula. Pagi harinya, dengan diantar mama, saya pun pergi ke RSUD. Nggak begitu jauh sih dari rumah, nggak sampai 10 menit naik motor. Sesampai di sana, suasana sudah cukup ramai. Saya pun pergi ke loket umum dan tidak lama kemudian dilayani. Saya dipersilahkan untuk pergi ke kasir terlebih dahulu. Saya estimasi awal, tes ini akan habis sekitar kurang dari 200 ribu rupiah. Eh ternyata….setelah sampai kasir, total semua tes nya 320 ribu rupiah T.T. Untung mama saya bawa duit cadangan. Saya pun curiga dong kok habis banyak banget, apa sih yang menyebabkan biayanya membengkak kayak gitu? Selidik punya selidik, Tes MMPI. Itu tes apa? Kenapa harus ada? Mungkin untuk tes kesehatan rohani.

Bla bla bla….saya nggak menceritakan bagaimana tes kesehatan jasmani dan tes bebas narkoba ya, karena umumnya nggak jauh beda dengan tempat-tempat lain dan sudah banyak referensi yang membahasnya. Saya hanya ingin membahas tes kesehatan rohani saja 🙂

Tes kesehatan rohani yang saya jalani ditangani oleh dokter spesialis jiwa dan psikiater. Saya disuruh mengerjakan tes di komputer dengan beberapa soal. Kata perawatnya sih beberapa soal, tapi TERNYATA BEBERAPA ITU LEBIH DARI 200 SOAL. Alamak!!!!! Mau tau gimana soal-soalnya? Ini yang saya ingat. Jawabannya hanya 2, ya atau tidak.

-saya merasa bahagia

-keluarga saya menyayangi saya

-saya tidak pernah tidak melanggar peraturan lalu lintas

-saya tidak pernah tidak suka dengan kondisi sosial saya

-saya merasa orang-orang memmbenci saya

-saya merasa diikuti oleh orang yang tidak saya kenal

-saya merasa mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain

-saya gampang sedih

-mama saya mencintai saya

-dll

Gampang? Iya memang, tapi kok bayarannya 200ribu. Nyesek sek sek sek T.T

Setelah beberapa saat selesai mengerjakan soal-soal tersebut, saya pun dipanggil perawat dan disuruh menghadap dokternya untuk membicarakan hasil tes yang saya kerjakan tadi. Hasilnya, semua normal dan saya sehat rohani. Eh, ada tapinya. Seperti ini kurang lebih percakapan saya dengan dokter tersebut membahas ‘tapi’.

Dokter (D) : “Kamu punya pacar?”

Saya (S) : “Iya, Dok.”

D : “Dia cemburuan nggak?”

S : “Enggak, Dok.”

D : “Kalau kamu?”

S : “Iya, Dok. Hehehe…”

D : “Oh pantes. Nih lihat, nilai paranoid kamu cukup tinggi. Sekitar 63. Kalo kamu sudah di atas 70 berarti tingkat kecemasan kamu sudah mengkhawatirkan dan menganggu lingkungan kamu, kamu perlu konsultasi sama psikiater dan psikolog. Menjalani hidup itu santae saja, jangan terlalu cemas menghadapi sesuatu itu”

S : “Oh, gitu. Iya, Dok.”

D : “Kamu sering galau juga ya?”

S : “Kadang sih.”

D : “Nah, galau juga perlu dikurangin. Sering bikin orang lain galau nggak?”

S : “Wah, kalau itu saya nggak tau, Dok. Kayaknya enggak sih, teman saya ada yang parah kayak gitu, Dok.”

D : “Oya?! Dia menikmati nggak bikin orang lain galau? Contohnya kayak gimana?”

S : “Misalnya nih, besok itu ujian. Nah, pas malamnya banyak tuh teman-teman saya yang update status atau ngetwit di twitter kalo malem ini ‘belum belajar’, ‘lagi main nih’, atau apalah yang intinya seperti menjatuhkan mental lain yang juga mau ujian.”

D : “Coba deh kamu tanyain mereka gimana hasil tes kesehatan rohani mereka, mereka sehat jiwanya nggak? Kalau sudah seperti itu, bisa jadi kondisi kejiwaan dia terganggu.”

S : “Hehehe…”

Nah, begitulah sepenggal kisah curhat saya dengan dokter jiwa yang memeriksa saya. Saya pun tanya teman-teman saya yang tes di berbagai tempat. Tapi, kebanyakan dari mereka tes di rumah sakit yang tes kesehatan rohaninya cuma ditanya 5 menit tentang bli bli bli trus ditulis sehat rohani. Yah…pupus sudah harapan saya menanyai mereka-mereka yang saya sinyalir sebagai ‘tukang bikin galau’. Ya siapa tau hipotesis dokter jiwa tadi terbukti, hehehe…

FYI, pelayanan RSUD di dekat rumah sudah bagus. Ada peningkatan yang berarti. Bahkan, jika pelayanan kurang memuaskan silahkan hubungi nomer tertentu. Wuih…..good job. Meski senyum paramedisnya masih mahal :p

Penempatan? Galau? Wajar! Eh?!


Saya (mantan) mahasiswa kedinasan dan saya rentan galau. Ups!!!! Ya memang begitulah. Jadi, kalau kamu nggak suka galau dan terlalu rentan sama yang namanya galau, saya sarankan kamu untuk jauh-jauh deh sama yang namanya sekolah kedinasan. Trust me, it works! (kayak iklan ya? biarkanlah…)

Sebagai mantan mahasiswa kedinasan,dulu pas mau masuk kuliah saya disuruh tanda tangan surat ikatan dinas. Salah satu isinya adalah bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Dulu sih pas disuruh tanda tangan di atas kertas bermaterai, pikiran muda saya biasa-biasa aja. Take it slow and let it flow. Saya dulu terlalu larut dalam euforia masuk kuliah gratis, tanpa peduli saya akan ‘dilempar’ jauh dari rumah dan keluarga. Saya dulu juga nggak mikir kalau Indonesia itu nggak hanya sejauh jarak Solo-Jakarta dan tidak semuanya ‘daratan’. Sekarang, setelah saya disodori pilihan untuk memilih lokasi penempatan yang semuanya ada di luar Jawa (karena faktor IPK), barulah otak sehat saya berjalan.

Pusing dan galau itu hal pertama yang saya lakuin. Galau pada keluarga di rumah. Galau pada abang saya. Galau pada teman-teman kos. Pokoknya, tiada hari tanpa dangdut….eh salah, tiada hari tanpa galau.

Sedikit hal yang membahagiakan datang dari abang saya. Dia bersama ketiga temannya ditempatkan di kantor provinsi daerah Kalimantan Selatan, lokasinya tentu saja di Kota Banjarmasin. Luar Jawa juga sih, tapi seenggaknya masih mudah dijangkau Lalu, bagaimana dengan saya? Semua teman-teman saya dan saya sendiri yang tidak masuk peringkat 10 besar mau tidak mau ditempatkan di daerah luar Jawa  di kabupaten dengan kategori tipe C. Yang berasal dari daerah luar Jawa sih mungkin bisa sedikit tenang, karena mereka kemungkinan besar balik ke daerah masing-masing. Sedangkan saya yang berasal dari Jawa? Hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga dengan IPK pas-pasan seperti ini masih bisa ditempatkan di tempat yang ‘tidak terlalu jauh’ dan ‘menyenangkan’ serta ‘sesegera mungkin bisa pindah mengikuti suami’. Ceilehhhh…..

Sedikit lucu ketika saya galau sama abang saya. Dengan gayanya yang sedikit konyol dan easy going, abang saya bilang ke saya sembari menenangkan. “Santai saja, mau kamu penempatan di Kalimantan Selatan atau jauh sekalian ya nggak masalah. Kalau di daerah Kalimantan Selatan, alhamdulillah. Bisa dekat. Tapi kalau misalnya kamu dapatnya yang jauh sekalian, ya diterima saja. Legowo saja, Sayang. Bukankah kalau kamu jauh dari aku, nanti ‘narik’ kamu untuk bisa sedaerah lebih gampang? Maksudku, alasan pindahnya lebih kuat.”

Sebenarnya, ada form di google docs yang dibuat oleh salah seorang teman di jurusan, isinya berupa nama, daerah asal dan 3 daerah tujuan penempatan. Bisa diisi dan dibaca oleh teman-teman satu jurusan (saingan penempatan hanya satu jurusan saja). Tapi, sekali lagi tapi…..seperti yang sudah saya ungkapkan di atas tadi, (mantan) mahasiswa kedinasan itu rentan galau. Pun dengan teman-teman saya.  Fyi, pemilihan lokasi penempatan berdasarkan IPK. Sedih rasanya ketika teman-teman yang IPK-nya tinggi masih nanti-nanti mengisi formnya. Saya yang IPK-nya hidup segan mati tak mau seperti ini, hanya bisa menunggu. OK-lah ketika mereka-mereka itu masih menunda-nunda ngisi form karena masih bingung di hari pertama, kedua sampai seminggu. Tapi, alangkah konyolnya ketika sudah H-3, H-2 hingga hari H mereka-mereka itu masih juga nggak mau ngisi form. Kesannya itu mereka seperti ‘buat apa mikir teman yang IPK-nya dibawah saya, yang penting saya dapat tempat enak’. Beuh, amit-amit jabang bayikkkkkk…..(komat-kamit bacain doa buat mereka).

Nah, barusan saya dibuat supernyesek setelah mendengar cerita dari salah satu teman saya. Hm….jadi gini. Saya memilih 3 daerah untuk ‘calon’ lokasi penempatan saya nanti. Kalimantan Selatan, Aceh dan NTT. Daerah favorit teman-teman dari Jawa selain Sumatera adalah Kalimantan. Saya tau resikonya memilih Kalimantan Selatan di pilihan pertama, alasan saya sih tidak lain dan tidak bukan adalah mengikuti abang saya. Saya sudah berkali-kali ngecek di form google docs, yang menuliskan pilihan penempatan di Kalimantan Selatan hanya saya seorang yang berasal dari Jawa. Tapi, menurut cerita teman saya tadi, ada satu anak Jawa yang milih penempatan Kalimantan Selatan juga (kuotanya untuk anak luar propinsi hanya satu). Padahal di form google docs yang dia isi, dia menulis Kalimantan Tengah di pilihan pertama dan bla bla bla. Sebut saja MAS X. Saya yang semula tenang-tenang saja jadi merasa ‘jatuh terperosok sedalam-dalamnya’. IPK MAS X lebih tinggi dari saya dan dia “berbohong’ pada akhirnya. Duh, sakitnyaaaa…….(komat-kamit bacain doa semoga kabar itu bohong)

Selain MAS X yang bertingkah menjatuhkan seperti itu, ternyata ada beberapa orang yang lagak dan tingkahnya sebelas dua belas dengan MAS X. Ada yang berganti-ganti di H-3, bahkan yang lebih sadis ada yang berganti-ganti tempat di hari H nya. Tapi, sesadis-sadisnya mereka, yang paling sadis adalah orang yang tidak mengisi form google docs tersebut (tapi menyerahkan formulir ke bagian kepegawaian langsung tanpa diketahui teman-teman yang lain daerah mana tujuannya). Siapa pelakunya? Saya berdoa, semoga mereka nggak ‘sakit’ jiwanya*.

*insyaallah akan saya ceritakan di postingan saya selanjutnya

Si Hijau


Alhamdulillah….akhirnya ‘si hijau’ jadi juga. Saya dan abang buatnya udah hari Selasa kemaren loh, jadinya 4 hari kerja setelah hari pembuatan. Lumayan lama sih…

Saya dan abang mulanya mendaftar secara online melalui situs resmi imigrasi. Kami harus mengupload scan KK, akta kelahiran dan KTP. Setelah itu, kami tinggal menentukan kapan kami akan ke kantor imigrasinya. Kami online hari senin malam, dan kami mendaftar untuk datang ke kantor imigrasi hari selasanya dan itu masih dapat tempat :).

Hari selasa, berangkatlah kami ke kantor imigrasi Jakarta Timur. Letaknya persis di sebelah LP Cipinang. Kami berangkat lumayan pagi, jam 8. Tapi ternyata, banyak yang jauh lebih pagi dari kami. Setiba di sana, kami mengisi form ini itu dan mengantre. Cukup lama kami memenuhi persyaratan ini, dari jam 9 pagi hingga jam 18.30 sore. Itu sudah termasuk wawancara dan foto. Kami juga diharuskan membayar uang 255 ribu, 200 ribu untuk pembuatan dan 55 ribu untuk biaya administrasi. Ingat ya, kami melakukannya tanpa calo.

Ketika ditanya kapan saya akan keluar negeri, saya jawab aja akhir tahun ini sekitar bulan November dengan tujuan Singapura. Padahal, saya masih belum tau pasti  kapan, bagaimana, mengapa dengan siapa dan kemana saya akan menggunakan ‘si hijau’ ini untuk yang pertama kali, hihihihi 🙂

Waktu membuat ‘si hijau’ ini saja, saya memang belum ada kepastian kapan, bagaimana, mengapa dengan siapa dan kemana saya akan pergi. Yang penting, saya membuat dulu lah. Habis itu, rencananya akan saya pajang di kamar biar bisa dilihatin setiap hari. Dengan demikian, maka saya tidak lupa untuk berdoa kepada Allah agar memudahkan saya untuk secepatnya menggunakan ‘si hijau’ ini. Ingat, jalanNya itu datang dari arah tak terduga dan tak disangka-sangka loh 🙂

Nah, ‘si hijau’, tunggu saya untuk secepatnya menggunakanmu ya 😀

si hijau

Ketika perpustakaan kampus menjadi ‘trending topic’ akhir-akhir ini…


Yah….kira-kira seperti judul diatas salah satu status facebook salah seorang teman saya. Kenapa harus perpustakaan kampus? Ada apakah? Kenapa kok jadi sampai jadi trending topic segala sih?

Kalo menurut saya sih, hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan karena sekarang lingkungan perpustakaan kampus menjadi suatu hal yang ‘aneh’. Perpustakaan yang seharusnya nyaman, tenang dan damai plus enak buat belajar, menjadi berkurang nilai tempatnya karena satu dan lain hal.

Problemnya, perpustakaan sekarang berisik. Sudah menjadi rahasia umum kalo perpustakaan itu seharusnya menjadi suatu tempat yang tenang dan damai tanpa suara-suara berisik yang mengganggu pengunjung. Coba cari perpustakaan mana saja deh, pasti ada syarat tidak tertulis yang menyetujui aturan seperti itu. Nah, apa jadinya ketika perpustakaan menjadi tempat yang gaduh dengan suara musik dan tv saling bersahutan, ditambah obrolan penjaga perpustakaan yang seperti obrolan ibu-ibu di pasar? Trust me, it’s very very annoying. Saya nggak menyalahkan kalo penjaga perpustakaan berdalih mereka bekerja juga butuh hiburan dan komunikasi dengan rekan kerja mereka. Tapi, harap diingat. Ruang kerja anda –wahai penjaga perpustakaan– menyatu padu dengan ruang baca dan rak-rak buku yang otomatis ketika anda-anda sekalian itu mengobrol dan bermusik ria keras-keras pasti telingan kami –para pengunjung ini– akan mendengar. Kami nggak tuli. Juga kuping kami nggak kami sumpelin headset sampe budeg.

Saran saya sih, alangkah lebih baik kalo ruang penjaga dengan ruang baca dan rak-rak buku dipisah. Saya pernah melihat perpustakaan dengan tipe seperti ini, seperti perpustakaan daerah di kabupaten saya –yang dulu jadi langganan saya ketika masih di rumah– atau perpustakaan UI. Di sana, penjaga perpustakaan bisa leluasa beraktivitas layaknya pegawai biasa yang bukan penjaga perpustakaan. Bisa haha hihi, bergosip ria, bermusik keras-keras, lihat sinetron, maen game atau apalah. Atau kalo saran saya ini hanya ecek-ecek, bagaimana kalo pihak yang berwenang menanyakan solusinya kepada yang lebih ahli, pustakawan mungkin?

Saya hanyalah mahasiswi biasa yang mengunjungi perpustakaan dengan beberapa alasan. Pertama, mau ngenet gratis karena kuota modem saya sedang sekarat atau ngambek. Kedua, ngadem mau ngerjain tugas karena kalo ngerjain di kos kepanasan atau kalo gak gitu di kosan pasti tidur. Ketiga, kerja kelompok yang butuh referensi jurnal-jurnal internasional yang bisa di download dari internet. Keempat, saya membutuhkan referensi dari buku-buku yang ada di perpustakaan untuk belajar atau mengerjakan tugas.

Dan sebagai mahasiswi biasa yang mengunjungi perpustakaan dengan beberapa alasan, tentunya hal-hal yang menyebabkan perpustakaan kampus menjadi trending topic akhir-akhir ini juga mempengaruhi saya dong. Keganggu itu udah pasti. Kayak yang tadi siang saya lakukan, menyuruh diam dengan bilang ‘sssssssssssssttttttttttttttttttttt’ keras-keras kepada yang-entah-siapa-cekikikan-keraskeras-mirip-banget-sama-nenek-sihir-dibalik-tempat-majalah. Abang saya malah lebih parah lagi, bilang ‘sssssssssstttttttttttt’ nya nggak cukup sekali, sambil teriak-teriak pula. Yah….sedih sih. Mari kita doakan saja semoga perpustakaan kampus cepat berubah.

Oiya, dan jangan lupa doakan semoga perpustakaan kampus ditambahin colokannya tiap meja. Biar kami sebagai pengunjung nggak berebut colokan atau membawa colokan T sendiri. 🙂