Yakin Pilihanmu Ada di Sekolah Kedinasan? (Part 3)


Tulisan ini lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yak, di sini nih kalo mau cek.

Balik lagi ke perguruan tinggi kedinasan. Poin tiga, lulus langsung diangkat jadi PNS golongan 3A di salah satu lembaga non departemen milik pemerintah. Benarkah demikian? Nyatanya, proses yang saya alami tidak seperti itu tuh (meski di awal masuk kuliah saya sudah tanda tangan surat perjanjian ikatan dinas yang salah satu isi nya konon berkenaan dengan hal ini, entahlah saya lupa hal ini tercakup di pasal berapa). Kok bisa demikian? Simak penjelasan saya dibawah ini.

Saya lulus di awal bulan Oktober 2013. Saya magang bulan Maret 2014. Selama 5 bulan saya dan teman-teman seangkatan ‘dirumahkan’. Tapi, sebagian besar waktu saya saat itu saya habiskan di tanah rantau kok. Mengajar les privat dengan bayaran yang cukup besar dan durasi waktunya lama, lumayan duitnya bisa saya pakai jalan-jalan ke negeri sebelah sama mengunjungi pacar saya di luar pulau (jangan sirik, haha). Balik lagi ke magang. Eh, tunggu. Magang? Saya tidak salah ketik? Benar, saya tidak salah ketik. Saya magang dulu selama 7 bulan mulai dari Maret hingga Oktober 2014. Di awal magang (bulan Maret), saya dan teman-teman seangkatan diharuskan mengikuti TKD (tes kompetensi dasar, sejenis sama tes TKD untuk tes CPNS di jalur umum). Mungkin ada yang bertanya, sama seperti pelamar CPNS pada umumnya dong? Beda, dikit. Kami hanya ikut TKD saja, tanpa TKB. Kenapa kami nggak ikut TKB? Konon, ujian komprehensif di semester 7 yang kami lalui pada saat kuliah jauh lebih horor dan lebih susah dibandingkan ujian TKB. Konon lho yaaaaa….

Di tes TKD ini, ada yang lolos ada yang tidak. Yang tidak lolos diharuskan untuk mengulang di bulan Juli 2014 hingga lulus. Baru pada Oktober 2014, NIP saya keluar, TMT dan SPMT saya sebagai CPNS juga tertanggal 1 Oktober 2014. Ingat ya, CPNS belum PNS. Bedakan. CPNS gajinya (dan tunjangan kinerjanya) 80% dan tidak ada hak cuti. Untuk menuju PNS, semuanya juga mengalami hal itu kok. Jadi, tulisan di awal paragraf ini diralat ya. Tau kan bagian mana yang harus diralat? Lulus tidak langsung diangkat jadi PNS, tapi lewat proses bla bla bla seperti yang saya tulis di atas.

Saya tambahkan lagi ya selain 3 poin yang sudah saya bahas di tulisan ini dan tulisan-tulisan sebelumnya.

Sekarang saya sudah CPNS, seperti yang sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya. Pertanyaannya, saya bekerja dimana? Sesuai perjanjian ikatan dinas. Daerahnya? Di INDONESIA. Sekali lagi, di Indonesia. Di mananya? Nah, ini panjang penjelasannya.

Penempatan lulusan kampus saya didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, putra daerah. Ini berlaku hanya untuk putra daerah di luar Pulau Jawa saja ya, catat. Kedua, IPK. Semakin tinggi IPKmu, semakin banyak pilihan tempat yang tersedia dan semakin besar pula peluangmu menggeser teman-teman yang IPKnya di strata bawahmu. Ketiga, penempatan bersama. Hal ini ada karena semakin banyaknya pasangan-pasangan satu kampus yang mengajukan penempatan bersama dengan alasan menikah tentunya. Karena di angkatan saya tidak ada program khusus PMDK bagi daerah tertentu, maka yang berlaku adalah ketiga aturan di atas. Kalopun ada program khusus PMDK, maka prioritas mereka ya balik ke daerahnya masing-masing. Biasanya ini untuk daerah 3T tertentu sih, yang dirasa pegawainya disana masih kurang banyak. Bagaimana dengan yang IPKnya selangit? Kalo masuk 10 besar ya silahkan milih, pusat atau daerah tujuan istimewa di luar Pulau Jawa. Kalo nggak masuk sepuluh besar, ya berarti ada di alasan kedua. Yang tanpa alasan sih, nggak peduli

Saya berasal dari Kabupaten Sukoharjo, salah satu kabupaten kecil di sebelah selatan Kota Solo Provinsi Jawa Tengah. Buang jauh-jauh pikiran kalian kalo saya ditempatkan di tempat asal saya, itu hanya mimpi (apalagi untuk lulusan fresh graduate yang IPKnya hidup segan mati tak mau seperti saya ini). SK CPNS saya keluar dan saya ditempatkan di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Awalnya, saya disuruh milih. Pilihan pertama saya ada di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Aceh Selatan di Aceh dan terakhir di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi NTT. Saya berharap banyak di Kalimantan Selatan karena pacar saya penempatan di sana, tapi apa daya karena faktor X gagallah semua rencana. Di Aceh, nggak tau karena faktor apa saya juga nggak disana (padahal ada lho yang IPKnya dibawah saya yang bisa penempatan sana dan dia bukan putra daerah). Jadilah saya di Provinsi NTT. Tapi, bukan di kabupaten yang saya inginkan.

Mungkin pada bertanya-tanya, kenapa penempatan saya bisa jauh sekali? Well, jauh dekat itu realtif. Secara jarak, memang jauh. Secara rumah saya di tengahnya Pulau Jawa, untuk mencapai daerah penempatan saya harus lewat Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, dll. Tapi secara waktu, untuk pulang ke hometown saya masih bisa dijangkau dalam waktu setengah hari kok. Dari kabupaten penempatan saya ke bandara terdekat dibutuhkan waktu sekitar 45 menit naik motor atau mobil dengan kondisi jalan yang bagus, aspalnya sudah hot mix karena jalan provinsi. Dari bandara tersebut ada penerbangan ke Denpasar setiap hari, penerbangan BUMN plat merah sehari dan penerbangan yang dikelola swasta. Dari Denpasar ke Jogja atau Solo, ya tiap hari jelas ada dong ya. Denpasar, Jogja dan Solo kan destinasi wisata yang banyak peminatnya, hehehe….

Beberapa teman saya penempatannya lebih jauh. Atau ‘kelihatan dekat tapi sebenarnya jauh’. Misalnya saja di salah satu provinsi di Kalimantan, tidak usah sampai jauh di ujung timur Indonesia,. Kalimantan sama Jawa cukup deket kan ya dibanding NTT ke Jawa? Tapi, lihat dulu dia di kabupaten apa di Kalimantan. Ada lho yang dari kabupaten penempatan dia ke bandara terdekat membutuhkan waktu sekitar 9 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang aduhai. Atau di daerah pedalaman Sulawesi yang harus semalam menyusuri darat dan laut untuk bisa sampai di ibukota provinsi yang mana baru ada bandara cukup besar untuk bisa pulang ke kampung halaman. Nah, bagaimana dengan yang di ujung timur atau ujung barat? Lebih-lebih sensasinya….harus naik pesawat mini, pesawatnya tidak selalu ada setiap hari, kalo cuaca buruk kapal sebagai satu-satunya mode transportasi untuk ke bandara tidak bisa jalan, dll.

Yang diatas baru masalah moda trasnportasinya, belum memikirkan biaya pulang ke kampung halaman lho. Berapa sih gaji pegawai negeri? Cari sendiri ya. Kalo masih single sih nggak masalah terkait ongkos, kalo yang sudah berkeluarga dengan beberapa anak? Ya berat.

Meski demikian, ada juga yang dapat penempatan kerja di dekat rumah di kampung halamannya. Bisa 15 menit sampai tanpa harus huru hara ke bandara buat pulang kampung. Atau ada juga yang di kabupaten sebelah kampung halamannya. Atau ada juga yang satu provinsi dengan kampung halamannya, tapi beda pulau. Atau ada juga yang harus 9-10 jam jalur darat dari kampung halaman ke kabupaten penempatan tujuan. Dengan catatan, semua itu terjadi di luar Pulau Jawa.

Wilayah penempatan kerja tidak main-main. Nggak ada pertimbangan yang cowok di pelosok yang cewek agak kota, semua sama rata (menurut saya). Yah…balik lagi lah sama beberapa alasan penempatan lulusan yang telah saya tulis di atas. Dan yang perlu diingat, wilayah penempatan ini untuk hidup selama sekitar 3-5 tahun setelah ditempatkan. Kok lama? Ya memang. Ya nanti kan juga bisa pindah. Eitsss….tunggu dulu. Alasan kamu pindah apa? OK lah kalo ikut suami, kalo alasan yang menurut atasan nggak bisa diterima? Ya bye bye. Pindah ikut suami aja pertimbangannya macem-macem. Kalo suami satu instansi biasanya yang ‘penempatan strategis’ disuruh ke ‘penempatan yang tidak strategis’. Biasanya lho ya. Belom lagi kalo dapat atasan yang ‘menyulitkan’ untuk ngasih surat pindah, konon kata leluhur itu melelahkan jiwa dan raga…….

So, perhatikan penempatan satuan kerja terendah yang ada di perguruan tinggi kedinasan itu sampai di tingkat apa. Berbahagialah yang tingkat terendah satuan kerjanya di wilayah kota, kalau kabupaten? Sudah saya sebutkan di atas, tidak peduli kabupaten 3T atau bukan, selama masih ada satuan kerja ya bisa saja ditempatkan di sana. Misalnya, di Kabupaten Sangihe Talaud, Rote Ndao, Sabang, Merauke, Banggai Kepulauan, Kepulauan Selayar, Natuna, Anambas, Nias, dll. Mungkin yang berasal dari provinsi yang sama, pasti taulah atau minimal pernah denger nama kabupaten-kabupaten yang saya sebutkan tadi. Nah, kalo kamu yang nggak hapal itu daerah mana? Bukalah peta!! Lihat, belajar geografi lagi ya.

Sekian tulisan dari saya, seorang alumni sebuah perguruan tinggi kedinasan. Siap tidak siap harus siap, bagi saya sih yang sudah terlanjur nyemplung di dunia kedinasan seperti ini. Bagi kamu yang ingin mendaftar di perguruan tinggi kedinasan, selamat mempertimbangkan. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyampaikan fakta tentang apa yang saya rasakan selama ini, bukan untuk berniat jahat dengan menakut-nakuti atau menyiutkan nyali kamu. Jika kalian merasa perguruan tinggi kedinasan itu gue banget, silahkan mendaftar. Saya doakan semoga lulus hingga menjadi abdi negara, dimanapun kamu nanti ditempatkan.

Iklan

Yakin Pilihanmu Ada di Perguruan Tinggi Kedinasan? (Part 2)


Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Silahkan cek di sini.

Poin kedua, dapat uang saku per bulan. Ini juga benar. Tahun 2009, saya mendapatkan sekitar 400 ribu per bulan (atau 450 ribu ya? Saya lupa). Tahun 2010, ada kenaikan menjadi 500 ribu per bulan hingga pertengahan tahun dan di akhir tahun menjadi 850 ribu per bulan. Sampai saya lulus di tahun 2013, uang saku yang saya dapatkan masih tetap sama. Terakhir saya dengar, mulai 2015 ini uang saku yang diterima mahasiswa sebesar 1 juta.

Mari kita berhitung. Saya dulu kos di awal kuliah (sekamar berdua) sekitar 250 ribu per bulan, lalu sempat ngontrak rumah dengan teman-teman dengan biaya sebesar 2,5 juta per tahun (anggaplah sekitar 200ribu per bulan), terakhir saya kos sekamar sendiri dengan biaya 400ribu per bulan. Saya makan sehari (plus jajan) sekitar 20-30 ribu, sebulan anggaplah 600-900 ribu. Pulsa untuk internet dan pulsa hp biasa sekitar 100 ribu. Kebutuhan lain-lain (deterjen, sabun mandi, pasta gigi, shampo, bedak, parfum, pembalut wanita, dll) sekitar 100-150 ribu per bulan. Jika dikalkulasikan, lebih kurang 1 juta hingga 1,5 juta per bulan saya habiskan untuk biaya hidup. Itu sudah termasuk hidup hemat ya, tanpa hedon ke mall atau ke pusat grosir yang murah meriah yang kadangkala menghinggapi benak para mahasiswa yang suntuk dengan kuliah. Hahaha…

Eh, bukunya gimana? Tenang, di perpustakaan ada (meski tidak seberapa). Kalo kamu rajin ke perpustakaan, bisa pinjam kok. Kalo kamu nggak rajin, ya beli atau pinjam kakak tingkat. Saya termasuk golongan orang yang angin-anginan ke perpustakaan, tapi juga malas pinjam ke kakak tingkat. Biasanya, saya beli buku kuliah untuk mata kuliah inti saja atau yang saya anggap penting biar bukunya bisa saya coret-coret sesuka hati. Kalo untuk pelajaran yang kata kakak tingkat nggak penting-penting amat, ya saya pinjem aja sih. Sayang duit, hehe…

Pertanyaannya, cukupkah uang saku yang saya dapat? Dengan sedih saya jawab, tentu saja tidak. Di awal kuliah saya masih rutin dikirimin uang orang tua. Sekedarnya saja sih, saya nggak menyebut harus dikirimi berapa karena saya tahu bagaimana kondisi keuangan keluarga saya. Kalo cukup, ya alhamdulillah. Kalo kurang, yang saya hemat ya di makan dan jajan. Lebih? Jarang pake banget J. Mulai dari situlah saya putar otak how to survive dan bisa jalan-jalan cantik seperti teman-teman saya yang lain.

Saya coba-coba untuk bekerja sampingan sebagai guru les privat. Cukup lama saya jalani pekerjaan sampingan menjadi guru les privat dari rumah ke rumah, mulai dari tahun 2010 akhir hingga 2014 akhir. Murid saya beragam, mulai dari kelas 3 SD hingga 12 SMA, dari sekolah negeri hingga sekolah swasta, dari sekolah nasional hingga sekolah bilingual dan bahkan sekolah internasional. Bayarannya per pertemuan pun beragam, mulai dari 60 ribu per pertemuan hingga 250 ribu per pertemuan. Mulai saat itu, kondisi finansial saya bisa dikatakan cukup (terkadang juga lebih sedikit, biasanya saya tabung) untuk tidak lagi meminta uang kiriman dari orang tua.

Dari pekerjaan sampingan saya ini, ada banyak hal yang bisa saya pelajari. Saya jadi tahu tentang bagaimana penyampaian ilmu di berbagai sekolah. Kalo di sekolah nasional, ya nggak jauh beda dengan apa yang saya alami dulu. Kalo di sekolah fullday, ada banyak kegiatan tambahan di sekolah selain belajar (misalnya makan siang gratis dan ibadah bersama). Lain lagi dengan sekolah internasional. Selain bahasanya ada tiga macem (di tempat sekolah adek les saya dulu, bahasa pertamanya bahasa Inggris, kedua bahasa China dan ketiga baru bahasa Indonesia). Harga jajanan ditempat mereka juga mahal, sebanding lah sama uang bayaran mereka per semester yang nyebut berapa puluh USD. Fasilitas dan perhatian guru di sekolah internasional pun sangat memadai, sangat jauh berbeda dengan yang saya alami di jenjang sekolah yang sama. Ya benerlah apa kata pepatah, ada uang ada barang….eh salah, ada uang ada mutu. Tapi, nggak ada jaminan kok sekolah mahal itu pasti bikin pinter. Trust me.

Dari pekerjaan sampingan ini pulalah saya bisa mengurangi salah satu kelemahan saya : buta arah. Ketika ada murid les baru, mau nggak mau saya harus cari sendiri dimana rumah mereka, kesananya harus naik apa aja, dan ongkosnya berapa. Saya nggak ada motor, jadi andalan utama saya untuk kemana-mana ya naik bus atau angkot. Mau nggak mau saya hapal kalo ke sana naik apa aja, turun dimana, bayar berapa. Wakwak….udah kayak tour guide yak. Karena seringnya saya naik kendaraan umum inilah, awareness saya tentang berbagai modus kejahatan di kendaraan umum meningkat. Beberapa kali saya melihat kejahatan di depan mata saya, bahkan saya sendiri pun hampir kena. Saya kapok? Enggak tuh. Hahaha…

Terakhir, dari pekerjaan sampingan saya ini pulalah saya kenal dengan dunia orang lain di tempat saya merantau. Mulai dari pembantu di tempat adek les saya yang ramah dan suka minjemin saya mukena plus sajadah kalo waktu sholat tiba, satpam rumah yang kadang ngasih tebengan motor sampai ke jalan raya tempat bus lewat, kepala pembantu adek les saya yang baik hati tapi kerasnya bukan main menghadapi adek les saya yang bandel, hingga beragam profesi orang tua adek les saya mulai dari pegawai kantoran biasa, kontraktor, petinggi di salah satu BUMN pusat, juragan kelapa sawit, juragan travel umroh, juragan batu bara di Kalimantan sana sampai CEO salah satu produsen minuman terkemuka. Fyi, mereka rata-rata berbeda suku dan agama dengan saya loh. Meski demikian, nggak ada masalah tuh selama ini. Kalau datang waktunya sholat, ya saya minta ijin sholat di tempat yang bersih (biasanya di kamar pembantunya atau di ruang khusus yang bebas dari najis). Mereka baik-baik, ramah, care dengan saya, bahkan sampai sekarang saya sudah nggak ngajar pun masih keep in touch.

Selain saya, banyak kok teman saya (yang juga mahasiswa di perguruang tinggi kedinasan) yang juga bekerja sampingan sebagai guru les privat. Ada yang memilih dekat-dekat saja dengan kampus biar transportasinya gampang, ada yang milih agak jauh tapi bayarannya gede. Hehe… Hal lain yang banyak dilakukan oleh mahasiswa perguruan tinggi kedinasan selain kuliah (untuk menyambung hidup atau cuma sekedar tambah uang jajan) diantaranya adalah berjualan secara online. Macam-macam jenis jualannya, mulai dari jasa hingga barang. Mulai dari jasa ngeprint tugas sampai jasa servis leptop. Mulai dari jualan pulsa internet sampai jualan jasa download yang ukuran filenya gede-gede. Mulai dari jualan makanan ringan hingga jualan makanan berat. Mulai dari jualan jilbab hingga jualan mukena. Mulai dari jualan baju korea hingga jualan kaos distro. Kreatif? Unik? Atau malah memprihatinkan? This is our way to get more money, entah itu hanya untuk tambahan kas kontrakan, tambahan buat jajan-jajan cantik, atau benar-benar untuk menyambung hidup.

Dari cerita di atas, jangan memukul rata bahwa semua mahasiswa perguruan tinggi kedinasan itu miskin semua atau ‘kreatif’ cari duit ya. Ada juga kok yang masih benar-benar murni sebagai mahasiswa yang tugasnya hanya berangkat kuliah-belajar-pulang-dan jalan-jalan. Ada yang uang saku dari kampus hanya ditabung atau hanya untuk jajan-jajan saja. Ada yang orang tuanya rutin mengirim uang yang cukup (bahkan ada yang berlebih) untuk kebutuhan hidupnya selama di tanah rantau. Berbahagialah mereka yang masuk kategori di paragraf ini, tugasnya di tanah rantau hanya kuliah dan belajar. Hehe…

Sudah kepanjangan tulisan saya kali ini? OK, lanjut di postingan ini ya.

Tes Kerohanian = Tes Kesehatan Jiwa


Postingan saya kali ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Silahkan baca di sini.

Beberapa waktu yang lalu, ada instruksi dari kantor tempat saya (nanti) akan bekerja untuk mengumpulkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk pengangkatan menjadi CPNS. Mendadak dangdut deh pokoknya. Ya bayangin aja, baru juga hari pertama masuk kantor setelah libur (lama) lebaran tiba-tiba muncul instruksi sedemikian rupa yang mengharuskan saya (yang belum ngurus dokumen-dokumen tersebut) untuk balik lagi ke rumah. Emang sih, pas lagi di rumah udah ada kriteria-kriteria dokumen apa yang diperlukan untuk pengangkatan. TAPI…..MEREKA TIDAK BILANG KAPAN BATAS AKHIR PENGUMPULANNYA, MEREKA HANYA BILANG UNTUK BEKAL LIBURAN. Belajar dari kakak tingkat kami yang disuruh mengumpulkan dokumen-dokumen di bulan Oktober, jadi saya dan beberapa teman santae-santae aja dong belum ngurus (karena ini masih bulan Agustus). Trus, kata mereka juga dikasih ijin buat ngurus. TAPI……MEREKA HANYA MEMBERI WAKTU 3 MINGGU UNTUK MENGURUS DOKUMEN-DOKUMENNYA DAN TIDAK ADA IJIN. Kyaaaa…………………iya sih, emang cukup lama waktunya untuk mengurus dokumen-dokumen yang hanya butuh waktu 2 hari megurusnya. Syok terapinya itu lho, harus balik lagi ke rumah setelah lama stay di rumah dan tanpa dikasih ijin pula (alhasil saya pun bolos 4 hari -3 hari ngurus dokumen 1 hari tepar di kosan). Yang jadi masalah bagi saya, ya tentu saja duit. Duit sudah terkuras menjelang lebaran beli ini itu, belum lagi untuk biaya hidup bulan Agustus, plus tiket kereta pp Jakarta-Solo. Fiyyuh….thank you so much lah ya 😦 .

Sori deh kebanyakan curhat, habis keadannya emang kayak gitu T.T

Ada yang baru di dokumen pengangkatan CPNS saya kali ini. Apa itu? Selain surat sehat jasmani dan bebas narkoba, ada lagi surat sehat rohani. Karena saya nggak tahu itu apa, yaudah saya tanya ke custoer service RSUD dekat rumah. Mulanya si mbak yang saya tanya juga bingung, lalu dia tanyakan ke temannya di bagian lain. Dan dari dia saya dapat keterangan, kalau tes kesehatan rohani itu tentang kondisi kejiwaan. Karena waktu itu saya sudah cukup siang sampai di RSUD (jam 11an lewat), maka saya disuruh untuk balik lagi keesokan harinya.

OK deh. Karena mbak customer service-nya cukup ramah dan mau menjelaskan, saya pun nurut dan pulang sambil senyum. Sebelumnya, saya sudah was-was. Tes kesehatan jasmani, rohani dan bebas narkoba harus dilakukan di rumah sakit milik pemerintah (di tempat saya adanya ya RSUD). Padahal, saya cukup anti dengan rumah sakit pemerintah. Kenapa? Pertama dan utama, jelas pelayanan mereka jauh dari kata menyenangkan (yang selalu saya temui). Terakhir saya ke RSUD dekat rumah ini ketika saya masih SD. Udah dibentak-bentak, jutek pula perawatnya. Cihhhh…..

Balik lagi ke cerita semula. Pagi harinya, dengan diantar mama, saya pun pergi ke RSUD. Nggak begitu jauh sih dari rumah, nggak sampai 10 menit naik motor. Sesampai di sana, suasana sudah cukup ramai. Saya pun pergi ke loket umum dan tidak lama kemudian dilayani. Saya dipersilahkan untuk pergi ke kasir terlebih dahulu. Saya estimasi awal, tes ini akan habis sekitar kurang dari 200 ribu rupiah. Eh ternyata….setelah sampai kasir, total semua tes nya 320 ribu rupiah T.T. Untung mama saya bawa duit cadangan. Saya pun curiga dong kok habis banyak banget, apa sih yang menyebabkan biayanya membengkak kayak gitu? Selidik punya selidik, Tes MMPI. Itu tes apa? Kenapa harus ada? Mungkin untuk tes kesehatan rohani.

Bla bla bla….saya nggak menceritakan bagaimana tes kesehatan jasmani dan tes bebas narkoba ya, karena umumnya nggak jauh beda dengan tempat-tempat lain dan sudah banyak referensi yang membahasnya. Saya hanya ingin membahas tes kesehatan rohani saja 🙂

Tes kesehatan rohani yang saya jalani ditangani oleh dokter spesialis jiwa dan psikiater. Saya disuruh mengerjakan tes di komputer dengan beberapa soal. Kata perawatnya sih beberapa soal, tapi TERNYATA BEBERAPA ITU LEBIH DARI 200 SOAL. Alamak!!!!! Mau tau gimana soal-soalnya? Ini yang saya ingat. Jawabannya hanya 2, ya atau tidak.

-saya merasa bahagia

-keluarga saya menyayangi saya

-saya tidak pernah tidak melanggar peraturan lalu lintas

-saya tidak pernah tidak suka dengan kondisi sosial saya

-saya merasa orang-orang memmbenci saya

-saya merasa diikuti oleh orang yang tidak saya kenal

-saya merasa mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain

-saya gampang sedih

-mama saya mencintai saya

-dll

Gampang? Iya memang, tapi kok bayarannya 200ribu. Nyesek sek sek sek T.T

Setelah beberapa saat selesai mengerjakan soal-soal tersebut, saya pun dipanggil perawat dan disuruh menghadap dokternya untuk membicarakan hasil tes yang saya kerjakan tadi. Hasilnya, semua normal dan saya sehat rohani. Eh, ada tapinya. Seperti ini kurang lebih percakapan saya dengan dokter tersebut membahas ‘tapi’.

Dokter (D) : “Kamu punya pacar?”

Saya (S) : “Iya, Dok.”

D : “Dia cemburuan nggak?”

S : “Enggak, Dok.”

D : “Kalau kamu?”

S : “Iya, Dok. Hehehe…”

D : “Oh pantes. Nih lihat, nilai paranoid kamu cukup tinggi. Sekitar 63. Kalo kamu sudah di atas 70 berarti tingkat kecemasan kamu sudah mengkhawatirkan dan menganggu lingkungan kamu, kamu perlu konsultasi sama psikiater dan psikolog. Menjalani hidup itu santae saja, jangan terlalu cemas menghadapi sesuatu itu”

S : “Oh, gitu. Iya, Dok.”

D : “Kamu sering galau juga ya?”

S : “Kadang sih.”

D : “Nah, galau juga perlu dikurangin. Sering bikin orang lain galau nggak?”

S : “Wah, kalau itu saya nggak tau, Dok. Kayaknya enggak sih, teman saya ada yang parah kayak gitu, Dok.”

D : “Oya?! Dia menikmati nggak bikin orang lain galau? Contohnya kayak gimana?”

S : “Misalnya nih, besok itu ujian. Nah, pas malamnya banyak tuh teman-teman saya yang update status atau ngetwit di twitter kalo malem ini ‘belum belajar’, ‘lagi main nih’, atau apalah yang intinya seperti menjatuhkan mental lain yang juga mau ujian.”

D : “Coba deh kamu tanyain mereka gimana hasil tes kesehatan rohani mereka, mereka sehat jiwanya nggak? Kalau sudah seperti itu, bisa jadi kondisi kejiwaan dia terganggu.”

S : “Hehehe…”

Nah, begitulah sepenggal kisah curhat saya dengan dokter jiwa yang memeriksa saya. Saya pun tanya teman-teman saya yang tes di berbagai tempat. Tapi, kebanyakan dari mereka tes di rumah sakit yang tes kesehatan rohaninya cuma ditanya 5 menit tentang bli bli bli trus ditulis sehat rohani. Yah…pupus sudah harapan saya menanyai mereka-mereka yang saya sinyalir sebagai ‘tukang bikin galau’. Ya siapa tau hipotesis dokter jiwa tadi terbukti, hehehe…

FYI, pelayanan RSUD di dekat rumah sudah bagus. Ada peningkatan yang berarti. Bahkan, jika pelayanan kurang memuaskan silahkan hubungi nomer tertentu. Wuih…..good job. Meski senyum paramedisnya masih mahal :p

Penempatan? Galau? Wajar! Eh?!


Saya (mantan) mahasiswa kedinasan dan saya rentan galau. Ups!!!! Ya memang begitulah. Jadi, kalau kamu nggak suka galau dan terlalu rentan sama yang namanya galau, saya sarankan kamu untuk jauh-jauh deh sama yang namanya sekolah kedinasan. Trust me, it works! (kayak iklan ya? biarkanlah…)

Sebagai mantan mahasiswa kedinasan,dulu pas mau masuk kuliah saya disuruh tanda tangan surat ikatan dinas. Salah satu isinya adalah bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Dulu sih pas disuruh tanda tangan di atas kertas bermaterai, pikiran muda saya biasa-biasa aja. Take it slow and let it flow. Saya dulu terlalu larut dalam euforia masuk kuliah gratis, tanpa peduli saya akan ‘dilempar’ jauh dari rumah dan keluarga. Saya dulu juga nggak mikir kalau Indonesia itu nggak hanya sejauh jarak Solo-Jakarta dan tidak semuanya ‘daratan’. Sekarang, setelah saya disodori pilihan untuk memilih lokasi penempatan yang semuanya ada di luar Jawa (karena faktor IPK), barulah otak sehat saya berjalan.

Pusing dan galau itu hal pertama yang saya lakuin. Galau pada keluarga di rumah. Galau pada abang saya. Galau pada teman-teman kos. Pokoknya, tiada hari tanpa dangdut….eh salah, tiada hari tanpa galau.

Sedikit hal yang membahagiakan datang dari abang saya. Dia bersama ketiga temannya ditempatkan di kantor provinsi daerah Kalimantan Selatan, lokasinya tentu saja di Kota Banjarmasin. Luar Jawa juga sih, tapi seenggaknya masih mudah dijangkau Lalu, bagaimana dengan saya? Semua teman-teman saya dan saya sendiri yang tidak masuk peringkat 10 besar mau tidak mau ditempatkan di daerah luar Jawa  di kabupaten dengan kategori tipe C. Yang berasal dari daerah luar Jawa sih mungkin bisa sedikit tenang, karena mereka kemungkinan besar balik ke daerah masing-masing. Sedangkan saya yang berasal dari Jawa? Hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga dengan IPK pas-pasan seperti ini masih bisa ditempatkan di tempat yang ‘tidak terlalu jauh’ dan ‘menyenangkan’ serta ‘sesegera mungkin bisa pindah mengikuti suami’. Ceilehhhh…..

Sedikit lucu ketika saya galau sama abang saya. Dengan gayanya yang sedikit konyol dan easy going, abang saya bilang ke saya sembari menenangkan. “Santai saja, mau kamu penempatan di Kalimantan Selatan atau jauh sekalian ya nggak masalah. Kalau di daerah Kalimantan Selatan, alhamdulillah. Bisa dekat. Tapi kalau misalnya kamu dapatnya yang jauh sekalian, ya diterima saja. Legowo saja, Sayang. Bukankah kalau kamu jauh dari aku, nanti ‘narik’ kamu untuk bisa sedaerah lebih gampang? Maksudku, alasan pindahnya lebih kuat.”

Sebenarnya, ada form di google docs yang dibuat oleh salah seorang teman di jurusan, isinya berupa nama, daerah asal dan 3 daerah tujuan penempatan. Bisa diisi dan dibaca oleh teman-teman satu jurusan (saingan penempatan hanya satu jurusan saja). Tapi, sekali lagi tapi…..seperti yang sudah saya ungkapkan di atas tadi, (mantan) mahasiswa kedinasan itu rentan galau. Pun dengan teman-teman saya.  Fyi, pemilihan lokasi penempatan berdasarkan IPK. Sedih rasanya ketika teman-teman yang IPK-nya tinggi masih nanti-nanti mengisi formnya. Saya yang IPK-nya hidup segan mati tak mau seperti ini, hanya bisa menunggu. OK-lah ketika mereka-mereka itu masih menunda-nunda ngisi form karena masih bingung di hari pertama, kedua sampai seminggu. Tapi, alangkah konyolnya ketika sudah H-3, H-2 hingga hari H mereka-mereka itu masih juga nggak mau ngisi form. Kesannya itu mereka seperti ‘buat apa mikir teman yang IPK-nya dibawah saya, yang penting saya dapat tempat enak’. Beuh, amit-amit jabang bayikkkkkk…..(komat-kamit bacain doa buat mereka).

Nah, barusan saya dibuat supernyesek setelah mendengar cerita dari salah satu teman saya. Hm….jadi gini. Saya memilih 3 daerah untuk ‘calon’ lokasi penempatan saya nanti. Kalimantan Selatan, Aceh dan NTT. Daerah favorit teman-teman dari Jawa selain Sumatera adalah Kalimantan. Saya tau resikonya memilih Kalimantan Selatan di pilihan pertama, alasan saya sih tidak lain dan tidak bukan adalah mengikuti abang saya. Saya sudah berkali-kali ngecek di form google docs, yang menuliskan pilihan penempatan di Kalimantan Selatan hanya saya seorang yang berasal dari Jawa. Tapi, menurut cerita teman saya tadi, ada satu anak Jawa yang milih penempatan Kalimantan Selatan juga (kuotanya untuk anak luar propinsi hanya satu). Padahal di form google docs yang dia isi, dia menulis Kalimantan Tengah di pilihan pertama dan bla bla bla. Sebut saja MAS X. Saya yang semula tenang-tenang saja jadi merasa ‘jatuh terperosok sedalam-dalamnya’. IPK MAS X lebih tinggi dari saya dan dia “berbohong’ pada akhirnya. Duh, sakitnyaaaa…….(komat-kamit bacain doa semoga kabar itu bohong)

Selain MAS X yang bertingkah menjatuhkan seperti itu, ternyata ada beberapa orang yang lagak dan tingkahnya sebelas dua belas dengan MAS X. Ada yang berganti-ganti di H-3, bahkan yang lebih sadis ada yang berganti-ganti tempat di hari H nya. Tapi, sesadis-sadisnya mereka, yang paling sadis adalah orang yang tidak mengisi form google docs tersebut (tapi menyerahkan formulir ke bagian kepegawaian langsung tanpa diketahui teman-teman yang lain daerah mana tujuannya). Siapa pelakunya? Saya berdoa, semoga mereka nggak ‘sakit’ jiwanya*.

*insyaallah akan saya ceritakan di postingan saya selanjutnya

Si Hijau


Alhamdulillah….akhirnya ‘si hijau’ jadi juga. Saya dan abang buatnya udah hari Selasa kemaren loh, jadinya 4 hari kerja setelah hari pembuatan. Lumayan lama sih…

Saya dan abang mulanya mendaftar secara online melalui situs resmi imigrasi. Kami harus mengupload scan KK, akta kelahiran dan KTP. Setelah itu, kami tinggal menentukan kapan kami akan ke kantor imigrasinya. Kami online hari senin malam, dan kami mendaftar untuk datang ke kantor imigrasi hari selasanya dan itu masih dapat tempat :).

Hari selasa, berangkatlah kami ke kantor imigrasi Jakarta Timur. Letaknya persis di sebelah LP Cipinang. Kami berangkat lumayan pagi, jam 8. Tapi ternyata, banyak yang jauh lebih pagi dari kami. Setiba di sana, kami mengisi form ini itu dan mengantre. Cukup lama kami memenuhi persyaratan ini, dari jam 9 pagi hingga jam 18.30 sore. Itu sudah termasuk wawancara dan foto. Kami juga diharuskan membayar uang 255 ribu, 200 ribu untuk pembuatan dan 55 ribu untuk biaya administrasi. Ingat ya, kami melakukannya tanpa calo.

Ketika ditanya kapan saya akan keluar negeri, saya jawab aja akhir tahun ini sekitar bulan November dengan tujuan Singapura. Padahal, saya masih belum tau pasti  kapan, bagaimana, mengapa dengan siapa dan kemana saya akan menggunakan ‘si hijau’ ini untuk yang pertama kali, hihihihi 🙂

Waktu membuat ‘si hijau’ ini saja, saya memang belum ada kepastian kapan, bagaimana, mengapa dengan siapa dan kemana saya akan pergi. Yang penting, saya membuat dulu lah. Habis itu, rencananya akan saya pajang di kamar biar bisa dilihatin setiap hari. Dengan demikian, maka saya tidak lupa untuk berdoa kepada Allah agar memudahkan saya untuk secepatnya menggunakan ‘si hijau’ ini. Ingat, jalanNya itu datang dari arah tak terduga dan tak disangka-sangka loh 🙂

Nah, ‘si hijau’, tunggu saya untuk secepatnya menggunakanmu ya 😀

si hijau

Ketika perpustakaan kampus menjadi ‘trending topic’ akhir-akhir ini…


Yah….kira-kira seperti judul diatas salah satu status facebook salah seorang teman saya. Kenapa harus perpustakaan kampus? Ada apakah? Kenapa kok jadi sampai jadi trending topic segala sih?

Kalo menurut saya sih, hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan karena sekarang lingkungan perpustakaan kampus menjadi suatu hal yang ‘aneh’. Perpustakaan yang seharusnya nyaman, tenang dan damai plus enak buat belajar, menjadi berkurang nilai tempatnya karena satu dan lain hal.

Problemnya, perpustakaan sekarang berisik. Sudah menjadi rahasia umum kalo perpustakaan itu seharusnya menjadi suatu tempat yang tenang dan damai tanpa suara-suara berisik yang mengganggu pengunjung. Coba cari perpustakaan mana saja deh, pasti ada syarat tidak tertulis yang menyetujui aturan seperti itu. Nah, apa jadinya ketika perpustakaan menjadi tempat yang gaduh dengan suara musik dan tv saling bersahutan, ditambah obrolan penjaga perpustakaan yang seperti obrolan ibu-ibu di pasar? Trust me, it’s very very annoying. Saya nggak menyalahkan kalo penjaga perpustakaan berdalih mereka bekerja juga butuh hiburan dan komunikasi dengan rekan kerja mereka. Tapi, harap diingat. Ruang kerja anda –wahai penjaga perpustakaan– menyatu padu dengan ruang baca dan rak-rak buku yang otomatis ketika anda-anda sekalian itu mengobrol dan bermusik ria keras-keras pasti telingan kami –para pengunjung ini– akan mendengar. Kami nggak tuli. Juga kuping kami nggak kami sumpelin headset sampe budeg.

Saran saya sih, alangkah lebih baik kalo ruang penjaga dengan ruang baca dan rak-rak buku dipisah. Saya pernah melihat perpustakaan dengan tipe seperti ini, seperti perpustakaan daerah di kabupaten saya –yang dulu jadi langganan saya ketika masih di rumah– atau perpustakaan UI. Di sana, penjaga perpustakaan bisa leluasa beraktivitas layaknya pegawai biasa yang bukan penjaga perpustakaan. Bisa haha hihi, bergosip ria, bermusik keras-keras, lihat sinetron, maen game atau apalah. Atau kalo saran saya ini hanya ecek-ecek, bagaimana kalo pihak yang berwenang menanyakan solusinya kepada yang lebih ahli, pustakawan mungkin?

Saya hanyalah mahasiswi biasa yang mengunjungi perpustakaan dengan beberapa alasan. Pertama, mau ngenet gratis karena kuota modem saya sedang sekarat atau ngambek. Kedua, ngadem mau ngerjain tugas karena kalo ngerjain di kos kepanasan atau kalo gak gitu di kosan pasti tidur. Ketiga, kerja kelompok yang butuh referensi jurnal-jurnal internasional yang bisa di download dari internet. Keempat, saya membutuhkan referensi dari buku-buku yang ada di perpustakaan untuk belajar atau mengerjakan tugas.

Dan sebagai mahasiswi biasa yang mengunjungi perpustakaan dengan beberapa alasan, tentunya hal-hal yang menyebabkan perpustakaan kampus menjadi trending topic akhir-akhir ini juga mempengaruhi saya dong. Keganggu itu udah pasti. Kayak yang tadi siang saya lakukan, menyuruh diam dengan bilang ‘sssssssssssssttttttttttttttttttttt’ keras-keras kepada yang-entah-siapa-cekikikan-keraskeras-mirip-banget-sama-nenek-sihir-dibalik-tempat-majalah. Abang saya malah lebih parah lagi, bilang ‘sssssssssstttttttttttt’ nya nggak cukup sekali, sambil teriak-teriak pula. Yah….sedih sih. Mari kita doakan saja semoga perpustakaan kampus cepat berubah.

Oiya, dan jangan lupa doakan semoga perpustakaan kampus ditambahin colokannya tiap meja. Biar kami sebagai pengunjung nggak berebut colokan atau membawa colokan T sendiri. 🙂

Tipe Kepribadian


I need to relax and today is weekend. Not bad if I spent it to do something I love.

Meskipun saya bukan seorang mahasiswa psikologi, tapi ijinkanlah saya menulis tentang hal-hal yang berbau psikologi. Saya memang mahasiswa statistika ekonomi semester 8, dan di semester ini kami mendapat mata kuliah psikologi sosial. Kebetulan pula kelompok saya untuk presentasi dapat bab tentang tipe kepribadian (masih lama sih majunya, ini cuma iseng aja buat). Semoga bermanfaat ya, ini saya search dari berbagai sumber.

Florence Littaauer, seorang penulis buku Personality Plus, membagi tipe kepribadian menjadi 4 : Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis. Masing-masing tipe mempunyai keunikan tersendiri yang tidak dimiliki tipe lainnya. Keunikan ini bisa dilihat dari penampilan, model bajunya, cara berbicara, cara bergaul, bahkan sampai cara meletakkan sepatunya. Misalnya saja nih, orang sanguinis akan membiarkan sepatunya terinjak-injak, sementara orang plegmatis akan menyingkirkannya karena takut mengganggu orang lain, tapi malas meletakkannya ke dalam rak yang hanya berjarak beberapa meter saja. Orang koleris dan melankolis akan sama-sama memasukkan sepatu mereka ke dalam rak. Hanya saja, orang koleris akan memasukkannya dengan serampangan, yang penting bisa masuk karena menyadari fungsi rak sepatu adalah untuk meletakkan sepatu, sedangkan orang melankolis akan memasukkannya sambil menjaga kerapihan jarak antara sepatu kanan dengan kirinya. Benar-benar berbeda ya :). Tapi, ini nggak mutlak loh. Artinya, ini hanyalah contoh yang bisa jadi tidak setiap orang dengan kepribadian yang sama akan melakukan hal semacam ini.

Perbedaan kepribadian tidak boleh menjadikan kita saling mengolok atau merasa ‘lebih’ dibanding yang lain. Maing-masing tipe memiliki kekuatan yang harus dioptimalkan dan kelemahan yang harus diminimalisir. Yuk, lihat lebih detail lagi mengenai keempat kepribadian ini.

a. Sanguinis

Orang sanguinis biasanya populer dan identik dengan popularitas. Orang sanguinis ini memiliki kepribadian yang menarik, suka berbicara, emosional, humoris, ingatan yang kuat akan warna, mampu berbicara dengan memukau, demonstratif, ekspresif, antusias, periang, penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, good performance , lugu, polos, berhati tulus serta kekanak-kanakan.

Dalam hal pekerjaan, orang sanguinis selalu siap menjadi sukarelawan untuk tugas apapun, selalu memikirkan hal-hal baru, tampak hebat di permukaan, kreatif dan inovatif, punya energi, cemerlang, menginspirasi orang lain, dan mempesona orang lain untuk ikut bekerja. Sebagai teman, orang tipe ini tipe teman yang baik. Ia mudah bergaul, gampang jatuh cinta, suka dipuji, menyenangkan, tidak pendendam, cepat minta maaf, spontan dan tidak membosankan.

Kelemahan dari orang sanguinis adalah suka tidak ada tindak lanjut, mudah bosan, bertele-tele, suka membesar-besarkan masalah (bahasa gaulnya sih lebay, sehingga sering terjebak pada kebohongan). Orang tipe ini menyukai kesenangan dan kepribadian memikat sehingga dia sering merasa tidak percaya bahwa dia bisa melakukan kesalahan. Dia juga terlalu banyak bicara, tidak sabar untuk menceritakan segala sesuatu hingga detail, terlalu mementingkan diri sendiri, kurang peka, memiliki ingatan yang buruk, suka buta arah, sulit untuk mendengarkan, kurang perhatian pada orang lain, sering menyela pembicaraan orang, sering berbicara tanpa berpikir dahulu, teman yang selalu berubah-ubah, tidak tertib, kekanak-kanakan atau tidak dewasa.

Dalam hal berpakaian, orang sanguinis biasanya menyukai pakaian yang berwarna-warni dan bermotif, menyukai dandanan yang bisa menjadikannya sebagai pusat perhatian, atau setidaknya menyukai hiasan-hiasan yang ramai. Maka jangan kaget ketika anda menemukan orang yang sangat ‘ramai’, baik dari segi penampilan maupun perilaku. Tapi, tidak semua orang bisa dikenalinseperti itu. Kalau anda sedang mengawasi orang yang berlalu lalang di jalan, dan menemukanorang yang sedang asyik mengobrol seru dengan gembira bersama teman-temannya, atau jika sendirian dia akan melayangkan pendangan ke semua orang dengan harapan menemukan seseorang yang bisa diajak bercakap-cakap atau melakukan suatu hal yang menarik. Nah, inilah orang sanguinis yang sesungguhnya.

Ruang kerja orang sanguinis mencerminkan gayanya yang seenaknya. Meja tulisnya penuh dengan kertas-kertas dan tumpukan pekerjaan yang acak-acakan. Orang lain yang melihat ketidakteraturannya mungkin akan bertanya dalam hati bagaimana dia bisa memanfaatkan berbagai hal yang berbeda-beda dan tumpang tindih, Anda bisa jadi akan menemukan barang-barang pribadi dalam tumpukan pekerjaan tersebut. Mungkin saja gantunga kunci pemberian teman, buku pinjamana,sampah bungkus makanan atau bahkan rempah-rempah sisa makanan yang lama. Bukannya jorok, tapi hanya terkadang, dia lupa untuk membuangnya aetelah sekian lama. Hahahaha 😀

b. Koleris

Jika mencari figur-figur pemimpin, inilah dia orang tipe koleris. Koleris adalah pribadi yang kuat. Dia adalah orang yang ekstrovert, sebagai pelaku, selalu optimis, dan pekerja keras. Orang koleris memiliki bakat menjadi pemimpin, dinamis dan aktif, sangat memerlukan perubahan, harus senantiasa memperbaiki kesalahan, berkemauan kuat dan tegas, tidak mudah patah semangat, bebas dan mandiri. Dia senantiasa memancarkan keyakinan dan percaya diri, bisa menjalankan apa saja, motivator yang hebat, berorientasi pada target, detail, terorganisisr dengan baik, cenderung untuk mencari pemecahan yang praktis, bergerak cepat, mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain, menekankan hasil dan berkembang dengan persaingan.

Orang koleris cenderung kurang butuh teman, lebih suka memimpin dan biasanya dia memang bisa menjadi pemimpin yang diandalkan. Dia bisa unggul dalam keadaan yang darurat, bisa mengambil langkah-langkah pemecahan pada saat yang dibutuhkan. Dalam pekerjaan, seorang koleris adalah pekerja keras, ambisius daam mengejar prestasi. Dia tidak bisa bersantai-santai, tidak suka malas-malasan, dan selalu tegang. Dia akan menjadi semakin bersemangat jika berposisi sebagai pengendali atau pemimpin.

Kelemahan dari seorang koleris adalah mereka selalu sok unggul dan sering meremehkan orang lain. Mereka juga tidak sabaran, suka menasehati dan memberi solusi meskipun tidak diminta sehingga kesannya menjadi sok tahu dan sok care. Mereka benci kekalahan, tidak pernah merasa salah, arogan, sok kuasa, keras kepalam tidak sabaran, suka bicara apa adanya, sulit menerima orang lain benar, juga sulit memahami kenapa orang lain tidak bisa menyesuaikan diri dengan dirinya. Uniknya, mereka mampu memanipulasi orang sehingga tunduk pada kendalinya. Rata-rata orang koleris adalah orang yang otoriter dan senang dengan pertempuran/pertengkaran. Karena jika ‘bertempur’ dan menang maka itulah kesenangan yang dia dambakan. Bahkan yang lebih ekstrim, dia bisa menghalalkan segala cara agar bisa meraih kemenangan. Dia akan senang menyalahkan kesalahan orang lain dan menganggap dia paling benar. Sayangnya, dia sangat sulit untuk minta maaf.

Ruang kerja orang koleris biasanya tanpa hiasan. Waktu mereka sudah dihabiskan dengan tugas yang dihadapi sehingga mereka tidak sempat memerhatikan apakah ada gambar di dinding atau apakah perabotannya sudah serasi. Dia akan lebih suka menggunakan benda-benda lama yang masih efektif digunakan daripada menggunakan barang-barang baru yang fungsinya sama saja. Maka jangan heran apabila anda menemukan teman anda yang masih saja menggunakan sepatu yang telah pudar warnanya meskipun sebenarnya punya kemampuan untuk membeli yang baru. Dia beranggapan bahwa jaket it masih nyaman dipakai dan belum rusak. Itulah orang koleris.

Orang koleris bisa dikenali dari cara jalannya yang mantap, cepat dan penuh percaya diri. Mungkin anda akan melihat gambaran para ‘cewek macho’ dari tipe koleris ini. Orang-orang ini punya sesuatu yang penting yang harus dilakukan, punya hal-hal lain yang lebih besar untuk dipikirkan, dan tidak suka membuang-buang waktu untuk menyimpang atau sekedar melihat-lihat. Dia juga sering berbicara dengan keras dan tegas.

Orang koleris lebih mementingkan fungsi daripada yang lainnya. Jadi, biasanya dia tidak terlalu terpikat dengan mode pakaian dan lebih suka memilih pakaian biasa yang baik tapi tahan lama. Dia memilih karena fungsinya, bukan karena keindahannya. Atau kalu tidak, keindahan hanya sebagai pelengkap saja. Dia mengusahakan perhiasannya minimum, hanya yang paling perlu saja.

c. Melankolis

Orang melankolis adalah tipe manusia yang ‘sempurna’. Dia introvert, pemikir dan pesimis. Orang melankolis adalah orang yang mendalam dan penuh pikiran. Dia juga analitis, serius dan tekun, cenderung jenius, berbakat dan kreatif, artistik dan musikal, filosofis dan puitis, mengahargai keindahan, perasa, suka berkorban, penuh kesadaran dan idealis. Dalam hal pekerjaan, orang melankolis biasanya berorientasi jadwal, eprfeksionis, standar tinggi, sangat rinci, gigih dan cermat. Dia juga tertib dan terorganisasi. Dia teratur, rapi, ekonomis, peduli dengan masalah — meskipun remeh, pintar mencari pemecahan masalah secara kreatif, suka diagram, grafik dan daftar.

Dalam pergaulan, orang melankolis cenderung hati-hati dalam berteman, puas dibelakang layar, menghindari perhatian. Namun demikian, ketika dia sudah mendapatkan teman yang cocok, dia akan setia dan berbakti, siap menampung curhat, mampu memberikan solusi, sangat perhatian dan siap memberikan ‘segalanya’ untuk sahabatnya tersebut tanpa pamrih. Orang melankolis juga mudah terharu saat melihat orang lain sedih, serta cenderung mencari pasangan hidup yang ideal, bahkan cenderung pemilih.

Orang melankolis selalu merasa paling benar namun dengan kesungguhan dan sikapnya yang perfeksionis, dia mampu membuktikan bahwa dia adalah orang yang benar. Setidaknya, meyakinkan orang-orang bahwa dia memang benar. Oleh karena itu, dia merupakan pemuja kesempurnaan dan mudah tertekan ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dia anggap sebagai kebenaran, meskipun itu hal yang remeh, seperti menyaksikan buku-buku yang berantakan atau barang-barang yang tidak ditempatkan di tempatnya.

Orang melankolis terkesan terlalu banyak memberi tuntutan kepada orang lain, khususnya orang-orang terdekat dalam hidupnya. Wajah orang melankolis rata-rata muram dan selalu saja mencari-cari kesulitan alias masalah. Dia gampang sakit hati dan menikmati rasa sakit itu.

Ciri negatif lainnya, dai biasanya memiliki citra diri yang negatif (minder). Jangan harapa dia mau dengan sukarela maju ke depan panggung meskipun hanya untuk mengucapkan satu dua patah kata. Hal ini terjadi karena dia merasa tidak aman secara sosial. Dia sebenarnya butuh pujian nammun gengsi untuk memintanya sehingga dengan cara halus, ia akan memintanya atau bahkan ‘memaksanya’. Mereka juga sering menunda-nunda karena terlalu banyak perhitungan, takut jika dia tak mampu melakukan dengan benar.

Kunci untuk mengamati orang melankolis adalah kata sempurna. Segala hal mengenai mereka sempurna dan serba rapi. Anda biasanya bisa dengan cepat mengenali orang dengan tipe kepribadian melankolis dengan melihat pakaian, postur rubuh dan gaya rambutnya yang biasanya rapi dan merapat ke kepala.

Seorang perempuan tipe melankolis cenderung mengikat rambutnya atau memotongnya pendek sehingga dia bisa menjaganya agar tetap rapi. Sementara jika dia mengenakan jilbab maka dia pasti akan sangat memperhatikan lipatan jilbabnya dan kelicinan hasil setrikaannya. Anda juga akan langsung mengenali orang dengan tipe ini lewat sepatu mereka yang begitu mengkilat, serta kancing pergelangan tangan yang rapi. Dia memiliki rak-rak khusus tempat segala harus diletakkannya sesuai dengan ‘jenis’nya. Jika anda melihat ada teman anda yang selalu menjaga kamarnya tetap rapi dengan segala sesuatu berada pada tempatnya, nah itulah dia tipe melankolis yang ‘sempurna’.

d. Plegmatis

“Lakukan sesuatu!” Itulah kalimat yang paling sering dilontarkan pada seorang plegmatis. Damai, itulah kesan terkuat yang dilontarkan pada seorang plegmatis. Dia adalah sosok yang introvert, pengamat dan pesimis. Dia rendah hati, mudah bergaul, santai, diam, tenang, sabar dan baik keseimbangannya. Hidupnya konsisten, cerdas, simpatik, baik hati, menyembunyikan emosi, bahagia menerima kehidupan dan efisien. Dalam pekerjaan, dia cakap dan mantap. Damai dan mudah sepakat, punya kemampuan administratif, menjadi penengah masalah, menghindari konflik, tetap baik meskipun di bawah tekanan, serta mampu menemukan cara yang mudah. Dia mudah diajak bergaul, menyenangkan, tidak suka menyinggung perasaan, pendengar yang baik, selera humor lumayan, suka mengawasi orang, punya banyak teman, punya belas kasihan dan perhatihan.

Orang plegmatis juga memiliki kelemahan. Dia sangat butuh dimotivasi karena nyaris tak punya semangat. Dia sulit melakukan perubahan-perubahan, dan juga sangat malas. Karena kemalasannya, dia sering menunda-nunda pekerjaan. Dia nyaman dengan suasana yang biasa-biasa saja, yang bagi orang sanguinis atau koleris tentu sangat menyebalkan. Dengan sendirinya, dia juga malas mencoba hal-hal baru. Hidupnya monoton. Meskipun dia memiliki keinginan, biasanya lebih suka dipendam dalam-dalam. Dia juga tidak berani mengambil keputusan, cenderung plin-plan dan sulit berkata tidak. Itu karena dia tidak mau terlibat konflik dan tidak mau menanggung resiko. Namun, jika dia sudah memiliki tekad untuk melakukan sesuatu, dia pasti akan melakukannya, dan tak ada seorang pun yang bsia mencegahnya.

Menemukan orang plegmatis secara visual mungkin paling sulit. Dia adalah orang yang berada di tengah-tengah dan jarang memberikan ciri khas, namun justru itulah ciri khasnya, dia bukanlah watak-watak yang lainnya. Damai  dan tidak menonojol. Seolah-olah melebur dengan orang-orang di sekitar mereka, seolah tidak ada. Pilihan pakaian dan penampilan mereka pun biasanya sesantai yang dimungkinkan oleh situasinya. Mereka tidak ingin banyak menarik perhatian dan suka berada di latar belakang.

Orang plegmatis, saking menyatunya dia dengan segala sesuatu di sekelilingnya, kadang tidak peduli apakah dia medapatkan ruang kerja sendiri atau tidak. Dia bahagia di mana saja dan bisa menyesuaikan diri melakukan segala hal dimana saja. Jika dia memiliki ruang kerja sendiri, biasanya rapi, walaupun mungkin penuh dengan tugas-tugas dan proyek-proyek yang setegah jadi. Orang plegmatis damai suka menempatkan segala sesuatu di meja tulisnya sehingga dia bisa dengan mudah menjangkaunya. Jadi jangan heran jika suatu ketika anda akan melihatnya meluncurkan kursi roda mereka melintasi lantai untuk mengambil barang yang diperlukan, bukannya turun dari kursi dan berjalan untuk mengambilnya.

Pakaian yang dikenakan seorang plegmatis terkesan apa adanya dan sederhana. Dia akan memilih warna-warni alami yang terkesan lembut dan longgar. Mereka akan menghindari warna-warni mencolok yang biasanya disukai orang-orang sanguinis. Apakah bagian-bagian pakaiannya saling berkesusaian tidak begitu dipedulikannya. Gaya orang plegmatis biasanya mengalir dan apa adanya. Dia seolah begitu ringan sehingga lewat tanpa menarik perhatian orang lain begitu saja. Jika anda memiliki teman yang memiliki tipe kepribadian semacam ini maka dia akan menjadi teman yang menyenangkan, pendengar yang baik, dan pendamai perselisihan yang penyabar.

Sering diantara keempat tipe karakter ini terdapat perpaduan dua karakter. Yang biasa terjadi adalah karakter sanguinis-koleris dan melankolis-plegmatis juga koleris-melankolis dan sanguinis-plegmatis. Tapi juga tidak menutup kemungkinan ada sisi-sisi pribadi lain yang muncul dari dirinya, yang tidak lebih dominan dibandingkan kepribadian lain yang lebih menonjol.

Karakter ‘bos’ yang suka bekerja keras pada orang koleris, tentu akan menjadi lebih ‘ringan’ jika dipadukan dengan gaya sanguinisnya. Meskipun pekerja keras dan cenderung suka mendominasi, dengan gaya yang ringan, orang koleris-sanguinis akan mampu menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, pemimpin dengan tipe ini juga akan cenderung melompat-lompat, kurang sistematis, mudah melupakan apa-apa yang telah menjadi kesepakatan dan ketika diingatkan, dengan mudah dia akan memaafkan dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang koleris yang melankolis, benar-benar perpaduan karakter yang mungkin akan membuat orang-orang dibawahnya merasa ‘tertekan’. Pemimpin yang berkemauan keras dan perfeksionis biasanya memang dijauhi oleh anak buahnya. Akan tetapi, rata-rata pemimpin yang berprestasi, memiliki karakter semacam ini. Sikap plegmatis, akan mengurangi rasa depresi pada orang melankolis sehingga perpaduan watak ini akan menciptakan si sempurna yang cenderung mudah berdamai. Akan tetapi, rasa tidak percaya diri untuk tampil di muka umum bisa semakin menjadi-jadi.

Sedangkan perpaduan sanguinis-plegmatis akan memunculkan si pendengar yang baik hati. Pikirannya begitu sederhana, dan dia membiarkan dirinya selalu sederhana. Dia nyaman dengan kesederhanaan itu. Tapi, jangan heran kalau dia  -hampir bisa dikatakan- selalu lamban dalam memutuskan segala sesuatu.

Sementara, ada juga pribadi yang disebut-sebut mengenakan ‘topeng’, yaitu jika dia memiliki karakter koleris-plegmatis atau sanguinis-melankolis. Orang plegmatis, tidak mungkin ‘berdamai’ dengan karakter koleris. Sehingga jika ada orang koleris namun suatu saat muncul sikap plegmatisnya, berarti ada sesuatu hal yang ‘palsu’. Bisa jadi orang koleris itu merasa putus asa, ataupun mengalami tekanan yang begitu kuat sehingga akhirnya memilih ‘berdamai dengan nasib’. Demikian juga, jika orang yang karakter dasarnya melankolis namun dia mendadak bergaya seperti sanguinis, bisa jadi dia hanya sedang berakting.

Setiap orang adalah perpaduan dari beragam karakter yang berbeda. Inilah yang menyebabkan masing-masing individu unik dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pengetahuan tentang berbagai karakter ini bukan berarti mengilhami kita untuk memberikan pemaafan atas karakter negatif kita. Justru dengan pengetahuan itu, kita akan terdorong untuk memanfaatkan hal-hal yang positif. serta memperbaiki hal-hal negatif yang ada bersama kita. Memahami kepribadian diri sendiri dapat membantu kita memahami kepribadian orang lain.