Sedikit Nostalgia Masa SMA Dulu #1


Kita bukanlah air yang mengalir mengikuti arus menuju laut dan lepas bebas bercampur dengan air-air dari tempat lain..Kita bukanlah lilin yang menerangi sekitar dan membiarkan dirinya sendiri luluh..Kita bukanlah api yang bebas merongrong semua menjadi abu..Tapi kita adalah angin,suatu yang kasat mata,tapi terasa. Suatu yang tak terlihat,tapi ada. Suatu yang jauh,tapi dekat. Suatu yg rapuh,tapi kuat..bagiku persahabatan kita tidak akan pernah berakhir. Suatu hari nanti,mugkin akan aku ceritakan kepada anak cucuku bahwa aku punya sahabat yg hebat seperti kalian.

Siang tadi, ketika sedang meributkan diri sendiri setelah baru menyadari sesadar-sadarnya bahwa ada tugas yang harus dikumpulkan sore ini jam 3 dan saya belum selesai membutnya, tujuan awal membuka facebook adalah melihat alamat email PJ mata kuliah yang ada tugasnya tersebut. Tapi, ada tag sebuah notes dari seorang sahabat saya, Galih.

Salah satu isi nya adalah tulisan saya di atas yang saya tulis pada saat-saat terakhir masa-masa SMA dulu. hehe….sedikit nostalgia masa SMA yang indah (meski saya jomblo :p ). Dan saya kangen dengan mereka bertiga, sahabat dekat saya. Galih, Diyah dan Lili. Mereka semua apa kabar ya 🙂

Iklan

Selamat Datang, 21-ku


X-21 adalah suatu kalimat matematika, dimana X adalah suatu variabel dalam hitungan tahun dimana yang tahu hanya ALLAH SWT dan 21 adalah konstanta tahun yang telah dilalui. Harus selalu ingat ini, X-21.

Bermuhasabah diri, sudah pantaskah selama ini? Sudah baikkah menjadi manusia? Sudah benarkah apa yang telah dilakukan? Sudah siapkah untuk terus menerus belajar memperbaiki kesalahan diri sendiri? Sudah ikhlaskah menjalani beban? Sudah semangatkah menyongsong mentari di pagi hari nanti? Sudah siapkah mejadi dewasa? dan, sudah siapkah untuk mati? Sudah pantaskah menjawab semuanya dengan sudah?

Maaf untuk yang selama ini masih tersakiti.

Hidup bukan tentang hari ini dan kemarin, tapi masih ada esok hari.

Terima kasih kepada semua yang telah mencoba untuk membantu memperbaiki.

Terima kasih kepada semua yang telah mengisi hidupku selama ini.

Terima kasih kepada semua orang yang mencintai saya tanpa syarat.

Mama. Papa. Kiko. Monik. Masku tersayang, Genzy Habibie. Sahabat-sahabat dekatku dari TK-SD-SMP-SMA-kuliah.

Semoga kita bisa saling mendoakan, dan saling mengingatkan.

Semoga masih diberi waktu yang cukup untuk persiapan hidup nanti.

Semoga apa yang telah dilakukan selama ini bukanlah sia-sia saja.

Semoga….Semoga…Semoga…

Terima kasih atas semua doanya.

Selamat datang 21-ku. Ini aku, datang untuk mengarungi usia baru. Dengan semangat baru, dengan mimpi baru.

Jakarta,16 Februari 2012

Belum Ada Judul #3


Belajar untuk mempercayai dan dipercayai itu sulit. Sangat sulit. Mempercayai dan dipercayai. Saling mempercayai. Dan belajar saling mempercayai itu butuh proses, lebih dari dalam hitungan detik,menit, jam dan hari.

Tapi, proses hilangnya saling mempercayai itu berbanding terbalik dengan proses menumbuhkannya. Tidak perlu dalam hitungan hari, jam dan menit, sedetik pun cukup lama. Mungkin analog dengan memecahkan gelas kristal di atas lantai marmer. Sama-sama mahal dan bagus, tapi jika dalam kondisi seperti itu yang terjadi adalah yang satu menghancurkan yang lain dan yang tidak hancur ini masih tetap tidak lecet (mungkin).

Ketika sudah hilang saling mempercayai, menumbuhkannya lagi lebih sulit lagi. Perlu berpikir. Perlu merasa. Perlu evaluasi. Sudah wajarkah? Sudah mungkinkah? Sudah sepantasnyakah?

Tidak semua orang mempunyai kepekaan yang sama tentang saling mempercayai. Tapi, setidaknya paham lah secara general bagaimana saling mempercayai itu. Iya, minimal secara general.

di antara proposal metpen, slide metpen, lagu-lagunya Iwan Fals&SO7, dan sms dari abang yang sudah tidur

Catatan Mahasiswi Kura-Kura #4


x : “Eh, tugas proposal metpen kamu udah selesai belum?

y : “Aduh belom. Bab 1-3 sih udah selesai, tinggal njilid doang. Tapi presentasi buat besok belom sama sekali.”

x : “Aku malah bab 3 belom, dan presentasi baru seupil.”

y : “Oiya, tugas mikroekonomi kamu yang buat makalah gimana? datanya gimana?”

x : ” Aku udah selese. Tapi latar belakangnya nggak kuat, gimana dong?”
y : “Ya cari lagi aja, kan di internet banyak. Nah dataku ini lohhhhhhhh…..”

x : “Kenapa emang sama datamu?”

y : “4 uji asumsi klasik nya nggak memenuhi, gimana dong?”

………………………………………………………………………………………………..

x : “Eh, kamu udah nyicil belajar buat UAS belum?”

y : “Baru baca modul doang, modul uas tahun lalu aja. Buka-buka catatan aja nggak sempet.”

x : “Biasalah, rapat PKL sampe larut malem. Pulang-pulang tepar. Mana ada perubahan yang mendadak lagi. duh duh duh…..”

y : “Kamu udah belajar anareg belum?”

x : “Belum. Ajarin aku dong, aku nggak bisa nih di anareg.”

y : “Bukannya nilai anareg kamu kemaren 9 ya?”

x : “Iya, tapi materi habis UTS aku banyak yang nggak paham.”

……………………………………………………………………………………………….

 

Saya hanya duduk diam sambil nyusun ulang jadwal kegiatan yang harus dilakukan. Hidup di tengah-tengah orang ambisius telah memaksa saya menjadi orang ambisius juga. Tidak apa-apa. Meski saya seperti ini, yang penting jangan sampai termakan dan mati dengan keambisiusan diri sendiri.

Lebih baik dikira orang malas daripada dikira orang rajin

Suatu siang di barisan belakang kelas