Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 2 #3)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

23.00 Waktu Singapura – 00.30 Waktu Bangkok

Kami masuk ke ruang tunggu dengan kondisi badan yang capek, maunya sih saya langsung tepar aja di kasur. Apalah daya masih terdampar di Changi.

Satu yang saya ingat, penerbangan yang berangkat lewat Changi ini dilarang untuk membawa air mineral lebihd ari 100 ml ke atas kabin. Kami yang sudah mengisi botol-botol kami dengan air dari tap water gratisan yang kami temui di bandara terpaksa kami buang sebelum ditemukan petugas. Hiks…

Sampai di dalam pesawat, nyesel kami bertambah-tambah. Koper kami yang beratnya sekitar 8 Kg, kami masukkan ke bagasi pesawat dengan beli bagasi tambahan. Eh, ini ada penumpang lain yang naikkin koper ukuran medium ke kabin. Dan kopernya kelihatan nggak ringan lagi. Arrrrgggghhhhhh……kan jadi KZL ZBL. Tau gitu koper kami yang cuma lebih dikit kami naikkin aja ke kabin. Rrrrrrrrrr……..

Cukup nyaman kami naik tigerair. Tapi, masalah cuaca masih belum berhenti. Sepanjang perjalanan masih hujan dan goncangan-goncangan masih terasa. Saya yang rese dengan goncangan di pesawat jadi tambah rese, terlebih beberapa waktu sebelumnya saya mengalami goncangan pesawat yang nyaris bikin jantung copot di penerbangan Denpasar-Jogja. Rrrrrrr……

00.30 -02.00

Kami landing dengan selamat sampai Bandara Suvarnabhumi, bandara baru kebanggan Thailand. Masih baru dan terlihat megah, cuma karena saya ngantuk berat jadi ya cuma bisa sibuk nahan kantuk semenjak turun pesawat sampai ambil bagasi. Di Suvarnabhumi, tersedia boardwalk yang lumayan panjang. Alhamdulillah tertolong dengan alat canggih ini, kalo enggak ya saya bisa gempor jalan sempoyongan sambil nahan kantuk. Haha…

Masalah bagasi selesai. Sesuai rencana awal, kami memilih naik taksi dari Suvarnabhumi ke penginapan kami di daerah Khaosan Road karena waktu sudah lewat dari tengah malam. Antri untuk dapat nomor taksi beberapa lama, akhirnya kami dapat taksi seorang laki-laki paruh baya yang ramah.

Brrrrrrr…….hawa dingin menusuk tulang langsung menyambut kami sekeluar kami dari bandara. Dingin banget. Suhu sekitar 12″ celcius, rendah untuk ukuran kami yang terbiasa dengan suhu 27″-29″ di malam hari. Tau nggak kenapa penyebabnya? Jadi, di Bulan Januari matahari sedang ada di selatan garis khatulistiwa. Ngingetnya gampang, pas perayaan Natal di Australia sedang musim panas. Dan Bangkok ini letaknya jauh di utara khatulistiwa, meski nggak sampai ke wilayah subtropis sih. Jadi kalo matahari di selatan, ya Bangkok seperti lagi spring lah (atau winter?).

Sopir taksi yang kami naiki cukup ramah. Seperti kebanyakan orang Thailand, Bahasa Inggris yang dia kuasai terbata-bata meski saya masih bisa nangkep. Sepangjang jalan, saya temui jalanan kota Bangkok yang lengang di dinihari. Lampu berwarna orange menerangi jalan utama dengan untaian kabel-kabel dari tiang listrik yang sedikit semrawut di depan pertokoan, nyaris mirip Jakarta. Bedanya, di Bangkok banyak foto raja terpampang di jalan-jalan, bahkan beberapa kali sopir taksi yang kami naiki ini bilang “Long live our king”. Gitu….

Saya mau tidur di dalam taksi, cuma nggak enak aja sama sopir taksi nya yang mencoba mengajak kami mengobrol. Suami sibuk dengan gadgetnya, mengawasi diam-diam via google maps si taksi biar sampe tujuan nggak diputer-puterin.

Kami nggak melewati kawasan Khaosan Road karena penginapan yang kami pesan ada di Jalan Tanee Road, di gang sebelahnya Khaosan Road. Suasana cukup lengang malam itu, saya nggak tau kalo ternyata di jalan ini memang nggak serame Khaosan Road. Alhamdulillah.

Setiba di depan hotel, saya nggak yakin. Memang sih ada plang tulisan papan nama hotelnya, tapi di depan hostel itu ada toko-toko yang tutup. Jadi, untuk masuk ke hotel, kami harus melewati lorong yang nggak begitu panjang. Sepertinya, bagian depan hostel ini disewakan untuk toko-toko gitu deh dan di atasnya baru dibuat hostel. Di ujung lorong baru kami temui resepsionisnya. Setiba kami di resepsionis, kami harus deposit sebesar THB 500. Oiya, nama hostel yang kami tempati itu Thai Cozy House.

Untuk sampai di kamar, disediakan lift mungil yang akan mengantar kami ke lantai atas. Mayan, nggak perlu capek naik tangga. Kamarnya cukup bagus menurut saya, meski tanpa jendela dan TV nya masih pake TV model konde. Luasnya jelas lebih luas dibandingkan hostel kami yang ada di Singapura. Kamar mandinya aja sih, yah walopun bersih tapi sempit. Kunci kamarnya juga belum model smart key kayak yang di Singapura, tapi masih pake kunci manual yang kemrincing dan putaran knop model bulat ala tahun 80an.

Untuk postingan kali ini, saya nggak kasih foto ya. Secara foto Bandara Suvarnabhumi, taksi yang kami naiki dan kamar yang kami tempati nggak sempat saya foto saking saya kecapekan. Hahaha…maaf.

Rincian pengeluaran hari kedua :

  • Naik supertree SGD 10
  • Masuk Flower Dome – Cloud Forest SGD 56
  • Beli oleh-oleh SGD 20
  • Makan (3x) SGD 46,55
  • Bagasi SGD 23
  • Tukar ke THB SGD 111,8
  • Taksi dari Suvarnabhumi ke hostel THB 460
  • Deposit Hotel THB 500

Cerita selanjutnya.

Iklan

Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 2 #2)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

15.00-16.30

Setelah oleh-oleh yang kami beli kami rasa cukup serta cuaca yang mendung-mendung gerimis syahdu, maka kami memutuskan untuk sholat di Masjid Jamae yang masih ada di sekitar Chinatown. Masjidnya sudah cukup tua, tapi terawat. Saya nggak tau sih tuaan mana antara Masjid Jamae dengan Sri Maryaman Temple yang letaknya bersebelahan.

Halamn depan Masjid Jamae

Halamn depan Masjid Jamae

Di Masjid Jamae, saya leyeh-leyeh bentar di serambinya sambil beli air minum  kemasan di vending machine. Di dalam masjid, sepertinya sedang ada study tour dari murid-murid SD dengan guru mereka. Saya tau ini dari sepatu-sepatu kecil yang berjejer rapi di teras masjid sebelum batas suci. Saya cukup kaget ketika melihat mereka keluar dengan tertib dan saya nggak yakin sebagian besar mereka muslim. Melihat saya dan suami yang duduk di depan masjid, mereka tersenyum kepada saya. Beberapa anak di belakang rombongan yang sudah bergerak meninggalkan masjid, kesulitan ingin membeli air minum di vending machine. Saya pun sukarela mengajari membantu mereka, sebagai imbalannya mereka bilang “Thank you, Miss” sambil senyum manis. Senangnyaaaa 🙂

Papan informasi

Papan informasi

Saya melihat ada perbedaan antara Masjid Jamae ini dengan beberapa masjid di Indonesia yang sama-sama dijadikan sebagai tempat bersejarah, bukan saja sebagai tempat ibadah. Di Indonesia, saya belum menemui masjid dengan beberapa artikel yang dipajang di kotak kaca yang menarik untuk dibaca dan berisi mengenai seputar dunia Islam. Di Masjid Jamae ini, di Singapura yang mayoritas penduduknya bukan muslim, terpampang artikel-artikel menarik untuk dapat dibaca siapa saja yang berkunjung ke sana karena diletakkan di teras depan di luar area batas suci. Artikelnya pun bermacam-macam, mulai dari mengapa perempuan Islam harus mengenakan jilbab, mengapa umat Islam harus berpuasa, bagaimana pandangan Islam mengenai perempuan dalam dunia politik, dll. Saya melihat, Masjid Jamae ini selain sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat edukasi.

16.30-19.00

Puas saya dan suami beristirahat gratis, kami melanjutkan langkah kami. Tujuan selanjutnya ke Bandara Changi. Kami kesana naik MRT.

Jam-jam segini nih jam-jamnya orang-orang Singapura pulang kerja. Arah orang-orang pulang kerja ini juga ke pinggiran kota, banyak yang searah dengan kami menuju ke Changi. Karena barang bawaan kami yang cukup banyak untuk ukuran orang naik MRT, maka kami sedikit mengalah dengan memilih MRT yang agak akhir saja. Toh MRT di Singapura ini jedanya cuma sebentar dan tepat waktu datangnya. Ditambah lagi, pesawat kami masih jam 23.00. Masih lama. Tenang…

19.00-21.00

Sengaja memang kami datang datang beberapa jam sebelum check in dibuka. Tujuan kami memang ingin keliling-keliling Changi, kan lumayan tuh. Tigerair yang kami naiki ada di Terminal 1, kami langsung menuju Terminal 1 dengan cuma singgah bentar di Terminal 2 dan 3 (lewat doang). Banyak yang cukup seru di terminal 1, tempat leyeh-leyeh sambil males-malesan juga ada.

Kotak telpon merah

Kotak telpon merah

Kami main di pohon sosial. Bentuknya sih layar komputer yang besar dan dibentuk selayaknya pohon. Terus kita ambil foto di alat yang disediakan, pilih pake baju apa dan mau kemana. Terus terbang deh. Lucu. Kami yang ndeso ini terkagum-kagum dengan kerennya.

Pohon sosial

Pohon sosial

Terus ada juga rintik-rintik air yang menari-nari cantik dan teratur, namanya kinetic rain. Saya sempat merekamnya, tapi lupa saya taruh dimana. Bisa dilihat disini deh.

Big Ben Tiruan

Big Ben Tiruan

Tahun baru imlek yang datang sebentar lagi juga turut menyemarakkan suasana bandara. Monyet-monyet emesh (boneka aja sih) dipajang di dalam bandara dengan beberapa bus tingkat dan kios telepon umum khas Kota London. Serasa ada di London deh. Saya jadi ingat teman saya, Erli, yang tergila-gila banget sama London (tapi suka nonton film Korea). Saya ambil beberapa foto dan kirim ke WA dia. Sssstttt, jangan takut susah akses internet di Changi. Wifi gratis bertebaran dimana-mana, PC dengan koneksi cukup stabil dan gratis diakses juga tersedia. Eh tapi, si abang iseng pengen nge-test berapa kecepatan internet di Changi ini dan ditemukanlah sekian.

Boneka monyet lucu

Boneka monyet lucu

Puas kami menikmati suasana bandara yang ih wow banget, kami berdua pun makan malam. Harus kenyang pokoknya, sampai Bangkok tengah malam banget soalnya. Gak lupa isi persediaan air minum di tap water, balada turis hemat. Eh tapi, makan malam kami kali ini yang disponsori dnegan prinsip ‘harus kenyang’ menjadikan kami sedikit boros dalam pengeluaran. Ah gak papa, ini kan hari terakhir di Singapura. Wakwak…

Bus tingkat merah khas London

Bus tingkat merah khas London

Kami juga menukarkan uang di Changi, dari SGD ke THB. Kenapa kami tukar uang? Karena kami nggak jadi naik Singapore Flyer (karena cuaca jelek dan kami lelah dengan takut ketinggian) dan budget yang kami alokasikan untuk airport tax di Changi ternyata gak ada (jaga-jaga aja). Alhasil, kami menukarkan SGD 111,8 kami ke sebuah money changer di sekitar bandara. Hitung-hitung buat tambah uang jajan kami selama di Bangkok.

21.00-23.00

Kami check in di konter kios Tigerair. Kami berdua gak yakin, koper kabin suami ini beratnya kurang dari 7 kg. Maka, kami memutuskan untuk beli bagasi di temoat check in. Hiks….

Sesungguhnya kami berdua terkagum-kagum dengan Self Check In and drop baggage yang sudah diterapkan di Changi. Di Soetta, sebagai bandara terdepan termaju dan ter ter lainnya di Indonesia, rasa-rasanya belum ada saat itu. Ini baru ada di Terminal 3 Ultimate yang baru beroperasi. Padahal ya, sebelumnya kami terpesona dengan sistem silent airport -nya. Duh, ndeso.

Masuk ke ruang tunggu, saya mengalami sedikit diskriminasi oleh petugas. Jadi ceritanya, pas kami masuk, kami berada persis di rombongan siswa-siswa setara anak SMP dari Thailand yang ikut olimpiade di Singapura. Siswi terakhir masuk dan mesin detektor bunyi. Otomatis, saya yang masih berada jauh dan jaga jarak ya nggak maju dong ya. Dia, oleh petugas perempuan yang pake hand detector, disuruh langsung maju terus aja tanpa diperiksa badannya. Giliran saya yang melewati mesin detektor dan sama sekali gak bunyi mesinnya, si pertugas perempuan ini menyuruh saya berhenti dan badan saya diperiksa pake hand detector dia. Ya nggak bunyi lah. Saya curiga, apa karena cuma saya yang pake jilbab terus diginiin? Mesin detektornya lho nggak bunyi, kenapa si ibu petugas meriksa saya lagi? Kenapa di si adek yang bunyi nggak diperiksa?

Cerita selanjutnya.

Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 2 #1)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Hari kedua, kami siap-siap cabut buat ke negara selanjutnya. Packing udah mulai dari pagi. Barang yang kami keluarkan nggak banyak, jadi nggak banyak juga barang yang kami tata ulang.

05.30-06.30

Bangun tidur – sholat subuh – check out. Mungkin ada yang tanya, kok sholat subuhnya jam setengah 6? Jadi gini, jam di Singapura itu GMT +8 dan WIB itu GMT+7, udah jelas kan kalo jam di Singapura lebih awal sejam (tapi kondisi langitnya sama dengan WIB).

06.30-07.30

Kami check out, sekaligus nitipin barang bawaan ke resepsionis hostel. Tips : barang yang dititipin jangan sampai ada barang yang berharga, selalu bawa passport dan dokumen pendukung, kunci rapat-rapat tas dan pastikan resepsionis hostel terpercaya. Karena saya nginep di hostel yang buat backpaker , jadi nggak cuma saya aja yang titip barang. Habis itu kami sarapan di McD, minum milo biar lebih sehat dibandingkan soda. Haha….

07.30-13.00

Sarapan selesai, kami menuju ke area Gardens By The Bay – Flower Dome – Cloud Forest. Fyi, ketiga tempat itu berdekatan. Berdekatan juga dengan Patung Merlion dan Singapore Flyer. Dari Stasiun MRT Chinatown kami turun di Stasiun Bayfront. Dari situ ada penunjuk jalan keluar yang langsung menuju ke Gardens By The Bay. Kalo Gardens By The Bay ini identik dengan supertree-nya, maka Flower Dome dan Cloud Forest identik dengan 2 kubah raksasa (dome) yang bersanding seperti mata belalang.

Supertree dari kejauhan

Supertree dari kejauhan

Saat itu, cuaca berangin dan hujan rintik-rintik kecil ketika kami sampai di Gardens By The Bay. Kami membeli tiket buat naik ke Supertrees nya seharga SGD 5 per orang sekali naik. Duh, kok ngeri ya sampe atas. Saya yang takut ketinggian ini cuma bisa ndredeg setelah keluar lift sampai di atas. Saya tau kalo ini sudah dirancang aman, tapi tetep aja bikin saya jiper. Suami takut ketinggian juga sih, tapi nggak separah saya. Jadilah suami yang bertugas ambil foto di atas, haha… Baru beberapa menit di atas, kami sudah diperingatkan sama petugas yang berjaga di atas untuk segera turun karena cuaca sedang hujan dengan rintik cukup banyak. Alhamdulillah, penderitaan selesai.

Suasana dari skyway

Suasana dari skyway

Suasana dari skyway

Suasana dari skyway

Gardens By The Bay ini terhitung masih baru, baru beberapa tahun. Konsepnya bertema alam dengan tata tanaman yang vertikal. Adem lihatnya. Kalau malam, supertree yang mirip banget sama pohon-pohon ala avatar ini dihiasin lampu-lampu berwarna-warni. Sayang, saya belum pernah berkunjung ke Gardens By The Bay di malam hari.

Puas menikmati Garden By The Bay, kami membeli tiket untuk bisa masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. Gak tau ya bisa beli salah satu aja atau harus dua-duanya, saya memang niat mau berkunjung ke dua tempat itu. Tiket masuknya cukup mahal, per orang sekitar SGD 28.

Sambutan Flower Dome

Sambutan Flower Dome

Pertama kali kami menuju ke Flower Dome. Memasuki Flower Dome, kami disambut dengan layar-layar berukuran cukup besar yang menampilkan beraneka ragam bunga. Wuah, awesome. Selanjutnya, saya terpesona sepenuhnya dengan Flower Dome. Ratusan bunga terhampar di dalam ruangan yang didesain sedemikian rupa sehingga mirip dengan kondisi kebun bunga yang sejuk. Sejuknya darimana? Dari AC.

Cantik ya bunganya

Cantik ya bunganya

Eksis dulu di tempat hits

Eksis dulu di tempat hits

Bunga di Flower Dome

Bunga di Flower Dome

Tema Flower Dome ini beraneka ragam, sering berganti-ganti setiap beberpa waktu (berapa bulan sekali ya, saya lupa). Saya suka ambil foto bunga, tapi saya nggak hapal apa nama bunganya. Haha…

Temanya Tahun Baru China

Temanya Tahun Baru China

Sudut Flower Dome

Sudut Flower Dome

Apa saja bunganya, cek di website nya ini. Mulai dari beraneka jenis mawar sampai bunga dari Afrika, berbagai jenis anggrek sampai bunga Amerika. Kalo boleh, saya nginep disini nggak pulang nggak papa deh. Haha….

Pas saya ke sana (Januari 2016), temanya sedang tahun baru China. Ada beragam shio dalam mitologi China yang berbentuk lucu-lucu berwarna merah hitam di tengah-tengah Flower Dome. Di tengah tahun pas lebaran, Juli 2016, temanya udah berganti. Waktu itu temanya bunga Lili (kalo ini masih inget) dan ada beberapa aksen retro klasik yang dipajang. Serasa nggak di Asia kalo dikelilingi bunga cantik dari berbagai dunia gini. Keluar dari Flower Dome, saya yang sudah terlanjur jatuh cinta ini menobatkan Flower Dome sebagai destinasi favorit saya ketika berkunjung ke Singapura 😀

Suasana Flower Dome

Suasana Flower Dome

Selanjutnya kami menuju Cloud Forest. Banyak review yang menyebutkan disini cukup dingin. Bagi saya, ini masih masuk kategori suhu biasa cenderung sejuk. Enak udaranya, sejuk adem serasa di hutan hujan tropis gitu. Cloud Forest memang didesain seperti hutan hujan yang asri lengkap dengan air terjun artifisialnya, mungkin terinspirasi sama hutan hujan di Kalimantan kali ya. Konon, air terjun di Cloud Forest ini dinobatkan sebagai air terjun tertinggi di dunia yang ada di dalam ruangan. Dengan sentuhan modern, pengunjung bisa naik tangga dan berjalan-jalan di jembatan gantung (bahasa kerennya skyway) yang mengelilingi Cloud Forest. Cek foto-fotonya di bawah ini.

Air Terjun Artifisial

Air Terjun Artifisial

Skyway

Skyway

Skyway

Skyway

Menurut saya, Cloud Forest ‘hanya’ gitu aja. Nggak begitu menarik, masih menarik hutan asli di gunung. Tapi, untuk sentuhan modern nya, sangatlah pantas untuk diacungi jempol. Kami nggak lama-lama sih di Cloud Forest, mungkin efek sudah lelah juga setelah di Flower Dome. Haha…

Taman di atas Cloud Forest

Taman di atas Cloud Forest

Bunga dari lego

Bunga dari lego

Fyi, ketiga tempat di atas menggunakan energi yang berasal dari limbah mereka sendiri lho. Istilahnya sustainable energy. Mulai dari AC hingga lampu. Hebat ya…

13.00-15.00

Cuaca mendung. Kami pulang ke daerah Chinatown, sekalian makan siang disana. Cuaca yang tidak menentu kayak gini nih yang sering bikin agenda jalan-jalan kacau. Huhu…

Makan di McD lagi yang tentu saja tidak ada nasi di sana. Selanjutnya, kami menyempatkan membeli sedikit oleh-oleh di Chinatown. Lumayan murah harga oleh-oleh disini. Oleh-oleh yang kami beli pun tidak banyak makan tempat, hanya beberapa gantungan kunci dan magnet kulkas.

Cerita selanjutnya.

Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 1 #2)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

12.00-13.45

Selepas dari Henderson Waves Bridge, kami berdua balik lagi ke Vivocity. Kami mau naik MRT ke Chinatown. Karena saya nggak punya EZ-link card, maka saya beli 2 kartu Singapore Tourist Pass (STP) yang berlaku untuk 2 hari (@ SGD 26, termasuk deposit yang nanti akan dikembalikan di akhir SGD 10 per kartu). Tenang, jalur MRT di Singapura lebih jelas dan gamblang dibandingkan jalur bus nya (yang meski jelas dan tepat waktu tapi tetap aja pusing karena banyak jalur).Dengan STP ini, gratis naik MRT dan bus sepuas-puasnya selama kartunya belum kadaluarsa. Hohoho…..

Sampailah kami di Chinatown. Tahun 2014 awal kami pernah ke Singapura dan sedikit banyak tau tentang Stasiun MRT di Chinatown ini. Nah, sekarang ini -2 tahun kemudian- tampilan stasiunnya banyak berubah. Kami yang kaget dengan tampilan barunya celingak-celinguk dong lihat peta.

Sudut jalan di Chinatown

Sudut jalan di Chinatown

Disaat kami sedang asik mengamati peta dan menerka-nerka nanti dimana kami harus keluar, datanglah petugas stasiun yang sudah berumur setengah baya. Dengan ramah, petugas tersebut menyapa kami dan dengan sopan meminta kami untuk membuka isi tas ransel yang kami bawa. Fyi, tas kami cukup banyak waktu itu. 2 tas ransel yang kami bawa masing-masing, 1 tas kamera, 1 tas kecil dan 1 koper kabin. Karena memintanya dengan ramah sambil senyum, ya kami nggak keberatan. Petugas tersebut juga bilang, ini sekedar random cek aja. Tapi, saya kok curiganya karena tas kami yang cukup gede ya untuk barang 2 orang. Haha….

Nggak ada masalah setelah pemeriksaan tas oleh petugas stasiun. Kami pun melanjutkan langkah kami ke kedai milik orang India (atau orang Arab ya? India deh kayaknya) yang menjual nasi briyani di dekat Masjid Jamae Chinatown dan dekat pula dengan hostel tempat kami akan menginap nanti.

13.45-14.00

Urusan makan selesai, lanjut check in. Jangan kaget kalo baru pertama kali nginep di hostel dan ditarikin uang deposit, ini untuk jaga-jaga kalo kita merusakkan barang-barang hostel. Nantinya, uang deposit ini akan dikembalikan kok (kalo kita nggak ngerusak) pas kita check out. Deposit hotel yang kmai keluarkan sekitar SGD 10. Fyi, kami menginap di Backpakers Inn Chinatown.

14.00-17.00

Kami leyeh-leyeh santae di hostel. Lelah dan tidur siang dulu, soalnya tadi bangun pagi bener buat ngejar feri. Hahaha….

17.00-19.00

Kami keluar hostel. Tujuan kami ke Raffles Landing Site. Lumayan nyaman lho berada di area itu. Sungainya bersih, taman-tamannya juga. Kami menikmati pemandangan sore di situ sambil jajan es krim uncle yang harganya naik menjadi SGD 1,2. Hiks…

Salah satu daerah dekat Raffles Landing Site

Salah satu daerah dekat Raffles Landing Site

Enak es krim nya Bang ?

Enak es krim nya Bang ?

Dari Raffles Place itu, kami berjalan kaki menuju ke sekitar patung Merlion. Kami urung turun sampai ke bawah di depan patung Merlionnya, pengunjung berjubel banyak banget kayak cendol di sekitar es dawet. Jadilah kami duduk-duduk di taman dekat jalan raya sambil ngobrolin ERP (Electronis Road Piercing) yang sudah diterapkan di Singapura. Kabarnya, ERP juga akan diterapkan di jalan protokol Jakarta. Tapi entahlah, sampai awal 2017 ini ERP di Jakarta (sepertinya) belum diterapkan.

Pakde Raffles

Pakde Raffles

Bosan nongkrong, kami jalan santae dari sekitar patung merlion ke Esplanade. Lumayan jauh sih, tapi seneng aja gitu. Saya suka dengan transportasi jalan raya di Singapura. Tertib, teratur dan rapi. Sampai di sekitar Esplanade, kami menuju halte bus terdekat. Sekarang giliran suami yang bertugas membaca jalur bus. Tujuan kami selanjutnya ke daerah Orchard, kami mau tukar Rupiah ke THB di Lucky Plaza.

Becak tradisional di Singapura

Becak tradisional di Singapura

Orang apa cendol ?

Orang apa cendol ?

19.00-21.00

Untuk urusan naik bus apa dari halte bus dekat Esplanade ke Orchard, jangan tanya saya ya. Saya nggak tau dan lupa mencatat nomor bus nya. Maaf :).

Kawasan Orchard itu cukup luas. Benar memang kami turun di daerah Orchard, tapi sampe sana kami bingung kalo ke Lucky Plaza lewat mana. Kami pernah ke sana sebelumnya, tapi naik MRT. Jelas beda dong ya turun dari MRT dan bus. Haha…

Selfi dulu pas naik bus

Selfi dulu pas naik bus

Celingak-celinguk, kesana kemari nyari gratisan sinyal wifi. Sial, nggak ketemu. Beruntung kami bertemu dengan mbak-mbak kantoran (yang mungkin kasian ngeliat kami mukanya udah muka bingung dan lelah) yang berbaik hati menunjukkan lewat jalur mana kalo mau ke Lucky Plaza. Alhamdulillah…..dengan petunjuk dari si mbak kami sampai :D.

Hal pertama yang kami lakukan, tentu saja tukar duit. Kami tukar duit ke salah satu konter resmi penukaran uang. Cukup banyak sih konternya. Saya milih yang rame aja, soalnya kemungkinan yang rame ini nih rate nya bagus gitu. Haha.. Kalo masih punya energi dan gampang mengingat rate per konter, nggak ada salahnya kok pura-pura jalan sambil ngeliat rate yang biasanya dipampang di layar depan konter.

Papan peringatan

Papan peringatan

Selesai tukar uang, perut kami lapar. Dari hasil browsing sana-sini, Lucky Plaza terkenal sebagai mall-nya orang Indonesia di Singapura. Iseng aja kami muter nyari makan. Sampailah kami ke bebek goreng Pak Ndut yang lokasinya berdekatan dengan Ayam Penyet Ria. Kayaknya harganya gak mahal deh (maklum, budget kami mepet), kami berani-beraniin masuk. Haha…

Harga bebek gorengnya cukup mahal menurut saya, ya iyalah kalo dibandingin sama di Indonesia. Tapi seriusan, enakkkkk. Harganya seporsi sekitar SGD 7 atau 8 ya, saya agak lupa. Lengkap dengan nasi, sambel yang super pedes dan tahu sutra khas daerah Melayu yang endessss (soalnya di Batam tahunya juga sejenis tahu yang enak ini). Penampakannya lihat disini.

Puas kami makan, kami pulang. Sebenarnya agenda selanjutnya adalah nongkrong di Clark Quay, menikmati malam sambil romantis-romantisan gitu. Apalah daya, saya yang sehari sebelumnya tumbang masih belum sehat betul malam itu untuk tidur larut. Jadilah kami pulang ke hostel. Dan mencoba naik bus. Suami tambah seneng pas dapat bus tingkat. Haha… Maklum lah, dia jarang naik bus tingkat. Dari bus tingkat pula, masih kata suami, bisa lihat pemandangan dan lalu lintas. Ya diiyain aja deh, saya mah ngikut. Aku padamu wis.

Suasana Chinatown di malam hari

Suasana Chinatown di malam hari

Rincian pengeluaran hari pertama :

  • Kapal Feri Rp 500.000
  • Makan Rp 38.000 (sarapan beli di Batam) + SGD 36,95
  • STP SGD 52
  • Deposit hotel SGD 10

Cerita selanjutnya.

Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 1 #1)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya. Tapi karena postingan sebelumnya itu tentang acara pernikahan saya, jadinya postingan lanjutan ini saya ganti judul ya.

Nah, ini sebenarnya honeymoon saya dan suami sih. Jadi, agak nggak tepat juga kalo dibilang backpaker. Secara saya dan suami nginep di hostel yang bukan sharing kamar, terus kesana-kemari naik pesawat (dan taksi sesekali). Tapi kalo non backpaker ya nggak juga, lha kami lho nggembel kemana-mana tanpa ikut tour and travel. Haha…

Rute traveling saya dan suami : Batam-Singapura-Bangkok-Kuala Lumpur-Jakarta.

Lanjut ya, saya mulai dari hal paling krusial dalam travelling : budget. Beberapa harganya masih ada di catatan saya, yang lain lagi saya estimasi aja ya soalnya udah agak lupa. Penginapan sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya, begitu juga sama tiket pesawat. Saya pesan di traveloka, jadi bayarnya semua dalam rupiah. Rincian hotel sebagai berikut : Singapura –> nginap di Chinatown 1 malam, Rp 600.000, Bangkok –> nginap di kawasan Khaosan Road 3 malam, total Rp 900.000 dan Kuala Lumpur –> nginap di Chinatown 3 malam, total Rp 750.000. Semua hotel yang saya pesan untuk 1 kamar 2 orang ya. Untuk transportasi, saya menggunakan kapal feri dan pesawat. Start saya dari Batam, kapal feri dari Batam ke Singapura Rp 500.000 untuk 2 orang. Pesawat dari Singapura ke Bangkok saya pakai Jetstar, sekitar Rp 1.600.000 untuk 2 orang. Pesawat dari Bangkok ke Kuala Lumpur saya pakai Malindo, sekitar Rp 1.600.000 untuk 2 orang. Dan dari Kuala Lumpur-Jakarta saya pakai Lion, sekitar Rp 1.200.000 untuk 2 orang. Jadi, jika ditotal, budget awal sebelum saya berangkat untuk transportasi dan hotel adalah sekitar Rp 6.650.000.

Suasana pagi di pelabuhan Batam Center

Suasana pagi di pelabuhan Batam Center

Sekarang, masalah uang yang dibawa untu jalan. Saya tukar uang di Batam untuk SGD (Singapore Dollar), MYR (Malaysia Ringgit) dan THB (Thailand Baht). Jangan lupakan IDR dan USD, selalu sedia dalam dompet (saya sih sedia USD karena kurs nya yang cukup stabil kalo ditukar kemana-mana). Oya, saya juga nukar beberapa Rupiah ke THB di Singapura karena waktu itu persediaan THB di Batam sedang menipis. Yang saya tulis disini pengeluaran total yang saya catat berdasarkan kurs setempat : Rp 700.000, SGD 400, MYR 3.250 dan THB 9.606. Kalau dirupiahkan, semua totalnya sekitar Rp 10.400.000. Total dengan akomodasi, hotel dan lain-lain adalah sekitar Rp 17.050.000. Untuk 2 orang ya. Terhitung cukup mahal, ya gitulah alasannya seperti di atas.

Oke, mari kita mulai jalan-jalannya ya.

06.00 WIB.

Posisi saya dan suami sedang ada di Batam setelah selesai acara resepsi yang kedua. Kami menginap di Asrama Haji di daerah dekat Mega Mall Batam. Jadi, dari penginapan ke pelabuhan feri Batam Center ya tinggal jalan kaki aja udah nyampe. Sengaja kami memilih feri yang berangkat pagi-pagi buta dengan harapan masih cukup sepi. Waktu itu sih lumayan sepi ya, tapi nggak sepi-sepi amat.

08.00 Waktu Singapura.

Waktu Singapura sejam lebih awal dengan WIB, jadi perjalanan yang hanya sekitar 1 jam menjadi seolah-olah 2 jam. Memasuki imigrasi Singapura via Harbour Front (nama pelabuhan di Singapura yang jadi tempat sandaran kapal dari Indonesia) itu dilakukan seperti warga dunia ketiga, serius. Boro-boro senyum, petugasnya aja galak-galak banget. Maklum sih ya, kata suami sih itu karena Singapura ini sudah sering direpotkan sama orang Indonesia (kebanyakan masuk via Batam-Harbour Front ini) yang tujuan awalnya cuma jalan-jalan terus berakhir pada bekerja serabutan.

Welcome

Welcome

08.00-08.30.

Ngurusin administrasi masuk ke Singapura dan leyeh-leyeh melepas lelah di Vivocity. Fyi, Vivocity ini mall yang menyatu dengan MRT dan pelabuhan Harbour Front sekaligus nyambung dengan Resort World Sentosa (sebutlah Sentosa aja ya, kepanjangan namanya). Kami beli roti buat sarapan, harga rotinya gak sampe SGD 10 buat 2 orang. Oya, budget makan untuk kami berdua per orang sekali makan di Singapura ini adalah sebesar SGD 10. Jadi, maksimal uang kami habis sekitar SGD 60 untuk makan berdua. Tenang, ini masih sisa. Makannya ya makan seadanya ya, di fast food atau rumah makan biasa, janga di tempat mewah :p.

08.30-10.30.

Kami ke Sentosa jalan kaki. Serius, ini seru. Di sepanjang Sentosa Boardwalk atau papan jalannya Sentosa, ada boardwalk machine atau bahasa ndesonya papan berbentuk semacam eskalator yang jalan di tempat datar. Kami berdua yang malas jalan mah hanya leyeh-leyeh aja di jalur pinggir sambil ngeliatin bule-bule yang seneng bener udah di boardwalk masih aja jalan cepet. Haha…

Mejeng dulu di depan boardwalk sentosa

Mejeng dulu di depan boardwalk sentosa

Kami udah pernah ke Sentosa sebelumnya, cuma waktu itu kami naik kereta. Ada beberapa keuntungan yang kami dapat dengan memilih jalur jalan kaki ini. Pertama, gratis. Awalnya sih saya baca-baca dari berbagai blog kalo masuk Sentosa lewat jalan kaki ini bayar SGD 1, cuma pas saya ke sana udah gratis tis tis tis. Kedua, ada 2 opsi bagi yang malas dan suka jalan kaki. Kalo kamu malas jalan bisa leyeh-leyeh manja di boardwalk dan jalan bentar-bentar terus sampai. Kalo kamu suka jalan kaki bisa jalan di papan kayu di sepanjang area pejalan kaki yang cukup nyaman, ada ruang terbukanya dan ada yang tertutup. Tenang, yang tertutup cuma atap aja kok, jadi masih bisa lihat pemandangan di sekeliling. Ketiga, bisa berhenti foto-foto di spot yang artistik di sepanjang area pejalan kaki.

Boardwalk Sentosa

Boardwalk Sentosa

Yang kami lakukan di Sentosa adalah……foto-foto. Sengaja kami nggak masuk, mahal coi. Setelah puas, ya kami balik badan lanjut lagi jalan kaki. Haha.

Mejeng di tempat hits

Mejeng di tempat hits

10.30-12.00.

Tujuan kami selanjutnya ke Henderson Waves Bridge atau Jembatan Henderson. Jembatannya unik dan artistik lho menurut saya, bentuknya seperti ombak yang berayun. Lokasinya nggak begitu jauh dari Vivocity. Dari Vivocity, harus naik bus 145 (dari Blk 46 turun di Aft Telok Blangah) atau bus 131 (dari Bt Merah Int turun di Blk 54). Naik bus di Singapura ini cukup membuat saya pusing, lebih-lebih saya nggak bisa baca peta. Jalan terbaik ya ajak teman yang pinter baca peta, kalo nggak ya sediain waktu yang cukup buat melototin petanya.

Henderson Waves Bridge dari bawah

Henderson Waves Bridge dari bawah

Sampai di Henderson Waves, cuaca Singapura cukup terik. Di saat orang-orang masih pada olahraga di jam segitu, saya dan suami santae aja jalan kaki sambil foto-foto. Kalo haus ya tinggal isi ulang di tap water (we did it, too). Dari sini, Singapura cukup seru lho dilihat dari tempat yang agak atas. Selain itu, di Henderson Waves juga banyak taman-taman hijau yang enak bener buat bersantai. Memang ya, Singapura ini sukses menjadikan sebuah kota di dalam taman, bukan lagi sebuah taman di dalam kota.

Penampakan Henderson Waves Bridge

Penampakan Henderson Waves Bridge

Henderson Waves dan Pemandangan

Henderson Waves dan Pemandangan

Singapura dilihat dari atas Jembatan

Singapura dilihat dari atas Jembatan

Cerita selanjutnya.

Catatan Pengantin Baru Part #6


Cerita sebelumnya.

Hari Kamis, 21 Januari 2016, seminggu setelah bom Thamrin.

Saya, suami, dan mama papa saya berangkat menuju Kota Batam. Mama dan Papa mertua berencana mengadakan pesta kecil-kecilan disana. Kami berempat berangkat dari Bandara Adi Soemarmo, Solo. Ini pertama kalinya mama papa saya naik pesawat. Agak-agak takut juga saya nanti kalau-kalau mama papa saya mabuk udara atau gimana. Alhamdulillah, kami berempat landing dengan selamat di Hang Nadim, Batam. Pusing-pusing dikit wajarlah, cuaca Bulan Januari seperti biasanya.

Foto di depan tulisan hits

Foto di depan tulisan hits

Kami menginap di Asrama Haji, daerah dekat pusat kotanya Kota Batam. Dari sana bisa terlihat tulisan ‘Welcome to Batam’ yang ala-ala Hollywood itu, Masjid Raya, alun-alun kota dan salah satu pelabuhan penyeberangan ke Singapura. Sore hingga malam hari kami habiskan dengan berjalan-jalan menyusuri kota, sekalian beramah tamah dengan keluarga dari suami.

Di depan alun-alun kota

Di depan alun-alun kota

Hari kedua, kami menuju ke Jembatan Barelang. Hanya sampai jembatan 1 aja sih, soalnya kami nggak boleh capek-capek. Fyi, saya dan suami akan didandani dan dipajang (lagi) besok. Mama papa nggak lupa dong ya foto-foto selfie di Jembatan Barelang. Biar nggak kalah hits sama anak muda, hahaha….

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Sore harinya, salah seorang adik saya turun di Hang Nadim. Dan salah satu yang lainnya ngambek nggak bisa ikut acara resepsi di Batam karena masih kuliah. Yang bisa ikut ke Batam Kiko, dan repotnya kami juga harus ngurusin si Monik yang ngambek pengen ke Batam juga. Ah elah….

Malam hari, kami fitting baju pengantin sekalian baju untuk orang tua. Mama dan papa mertua nggak mau repot-repot ngurusin pesta, jadi semua diserahin ke gedung dan  semacam wedding organizer deh. Baju saya udah OK, baju si abang kegedean (dan si penyewanya kekeuh nggak mau ngecilin, rrrrr), sandal si abang OK, sandal saya enggak (aaaaarrrrgggghhhhh). Gini nih, derita badan suami nggak begitu tinggi dan kaki saya yang panjangnya melebihi rata-rata. Mana tinggal besok lagi acaranya :(.

Jangan perhatiin kaki

Jangan perhatiin kaki

Saya nggak mau dipusingkan dengan segala macam keributan kecil-kecil. Que sera-sera aja lah, whatever will be will be.

Pagi harinya, MuA datang on time sesuai jadwal. Kebetulan, tempat resepsi dan tempat saya menginal masih satu area. Resepsi diselenggarakan di Aula Asrama Haji. Saya dan si abang belum sarapan, kami hanya makan ringan sebelum pesta. Nah, ini nih cikal bakal saya sakit (kayaknya).

OK, muka sakit saya tersamarkan

OK, muka sakit saya tersamarkan

Sesuai kesepakatan awal, saya mau pakai suntiang yang paling ringan. OK. Suntiang yang paling ringan beratnya 1,5 Kg. Kata si abang “Ringan itu, sama kayak adek pake helm.” Berbekal pengetahuan yang saya dapat dari abang, saya pun mengiyakan. Tak disangka, beban yang diterima di kepala saya lebih-lebih. Jilbab model yang cukup ketat dan masih harus menyunggi (apa sih istilahnya membawa beban di kepala?) suntiang, plus cuma makan dikit. Gjkgjkgjk….

Alis Sinchan

Alis Sinchan

Mbak MuA-nya pun bikin saya emosi. Di Sukoharjo, alis saya memang nggak saya apa-apain. Nggak dirapiin ataupun dicukur, udahlah dibiarin aja gitu. MuA di Sukoharjo udah paham dan nggak mempermasalahkan alis ini. Dihias juga masih bagus kok alis saya, hanya jangan di zoom in aja. Eh ini, mbak MuA di Batam ini, pake nyinyirin alis saya yang masih natural. Inilah itulah, kan bikin bete. Yakan yakan yakan. Alis-alis saya, suka-suka saya dong. Gjkgjkgjk…….

Selesai didandanin, saya pun dipakaiin suntiang. OK lah, sepuluh menit pertama masih baik-baik aja. Tibalah saya keluar kamar rias, memakai sepatu dan olalaaaaaaaaaa……………sepatu saya kekecilan!!!!! Sepatu yang saya pakai hak-nya runcing. Bisa dibayangkan kan betapa kaki saya sebagai penopang tubuh ini dipakein sepatu ber-hak runcing dan kekecilan?!

Jalan pelan-pelan, masih bisa senyum. Mendadak, sekitar 15 menit setelah saya pakai suntiang, kepala saya seperti dicengkeram keras banget. Saya pun terhuyung. Nggak sampai jatuh karena dipegangin suami. Tapi, saya nggak kuat dengan pusingnya. Dari awal sebenarnya saya udah bilang, saya punya penyakit vertigo yang sering kambuh kalo terlalu lama pake helm. Rrrrrrrrrr………

Saya udah nggak peduli lagi dengan make up saya, saya sampai nangis saking nggak kuatnya nahan pusing. Pusing kombo yang saya rasakan ini hebat banget lho. Ya kalo nggak pernah ngerasain sakitnya sih ya terserah aja ya, tapi saya ogah banget deh kayak gitu lagi.

Pelan-pelan saya dituntun ke panggung utama. Masih tetap nahan pusing. Saya menegakkan kepala setengah mati. Hanya bisa duduk sambil sesekali air mata saya netes, saya emang kalo lagi sakit sukanya nangis mulu (rrrrrrrrrrr). Disuruh berdiri pas udah duduk di kursi pelaminan, saya nggak kuat. Semua orang panik, bahkan ada yang berpikiran saya dihuna-guna orang lain. Suasana tambah runyam ketika para tamu udah mulai datang. Pusing saya cukup terobati (sedikit banget) setelah saya minum teh manis hangat.

Masih belum bisa berdiri

Masih belum bisa berdiri

Alhamdulilllah, udah bisa berdiri. Senyum, sesekali menolehkan kepala. Para keluarga lega. Sementara acara berjalan lancar.

Menjelang akhir, sakit kepala yang saya rasakan menjadi-jadi lagi. Saya udah mewek lagi, nggak kuat. 1,5 jam saya duduk di panggung, saya nekat minta balik ke ruang rias. Tujuan utama dan pertama : melepas suntiang.

PLONG rasanya setelah suntiang dilepas, walaupun kepala saya masih nyut-nyutan. Badan saya lemes, mulut pait, dan pandangan muter-muter. Saya pun disuruh tidur aja, sementara suami dan keluarga masih menyalami tamu di luar.

The best photo of that day

The best photo of that day

Setelah tidur setengah jam, pusing saya sedikit berkurang. Saya pun ke gedung depan, nggak enak masih ada beberapa tamu. Semua senang saya udah enakan. Tapi, rasa-rasanya saya perlu obat dokter deh.

Sore harinya, saya ke dokter klinik diantar keluarga. Tensi saya (yang biasanya emang udah rendah) cukup rendah saat itu. Setelah dikasih obat, pusing saya agak berkurang.

Nyesel sih saya, pas resepsi malah sakit. Padahal, hari-hari sebelumnya saya udah menjaga diri biar nggak kecapekan lho. Makan minum bergizi, istirahat cukup. Yah, mau gimana lagi. Semoga nggak mengecewakan banyak pihak lah.

Foto bersama keluarga besar

Foto bersama keluarga besar

Lanjutan tulisan ada di sini.

Bandung : Libur Panjang dan Cinta Kita #3


Tulisan sebelumnya.

Nah, tibalah hari terakhir kami di Bandung. Agenda kami hanya tiga : leyeh-leyeh di hotel, beli oleh-oleh dan pulang kembali ke Jakarta.

Sebenarnya ada agenda lain yang kemarin sempat kami pending, yaitu pergi ke daerah Masjid Raya Bandung yang lagi nge hits dengan rumput sintetisnya sama ke daerah Braga mau foto ala-ala turis gitu. Apa daya, waktu dan cuaca nggak memungkinkan. Kami juga masih trauma ketinggalan kereta lagi, hahaha….

Bye Bandung

Bye Bandung

Oleh-oleh kami beli masih di sekitar jalan Cihampelas. Nggak banyak sih, asal bisa dimakan aja.

Selesai beli oleh-oleh, kami bergegas pergi ke Stasiun Bandung naik taksi. Tujuan kami makan dulu, kombo sarapan dan makan siang.

Sampai Stasiun Bandung, suasana masih nggak begitu rame. Mungkin karena masih pagi. Kami makan di Hokben. Nggak tau ya kenapa Hokben kali ini enak bener rasanya. Mungkin ini perpaduan antara lapar dan lama nggak makan, hahaha…

Beberapa saat kemudian kereta kami sudah sampai. Sama seperti kereta yang di renacana awal kami akan naiki (tapi batal), kereta api Argo Parahyangan. Ngomongnya sih eksekutif, eh tapi kondisinya memprihatinkan bener. Kereta ini kayaknya dari jaman tahun 90an deh interiornya nggak diganti :(.

Saya tidur sepanjang perjalanan, capek. Tinggal si abang yang sendirian menikmati pemandangan.

Bye Bandung, sampai ketemu lain waktu…….