Yakin Pilihanmu Ada di Sekolah Kedinasan? (Part 3)


Tulisan ini lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yak, di sini nih kalo mau cek.

Balik lagi ke perguruan tinggi kedinasan. Poin tiga, lulus langsung diangkat jadi PNS golongan 3A di salah satu lembaga non departemen milik pemerintah. Benarkah demikian? Nyatanya, proses yang saya alami tidak seperti itu tuh (meski di awal masuk kuliah saya sudah tanda tangan surat perjanjian ikatan dinas yang salah satu isi nya konon berkenaan dengan hal ini, entahlah saya lupa hal ini tercakup di pasal berapa). Kok bisa demikian? Simak penjelasan saya dibawah ini.

Saya lulus di awal bulan Oktober 2013. Saya magang bulan Maret 2014. Selama 5 bulan saya dan teman-teman seangkatan ‘dirumahkan’. Tapi, sebagian besar waktu saya saat itu saya habiskan di tanah rantau kok. Mengajar les privat dengan bayaran yang cukup besar dan durasi waktunya lama, lumayan duitnya bisa saya pakai jalan-jalan ke negeri sebelah sama mengunjungi pacar saya di luar pulau (jangan sirik, haha). Balik lagi ke magang. Eh, tunggu. Magang? Saya tidak salah ketik? Benar, saya tidak salah ketik. Saya magang dulu selama 7 bulan mulai dari Maret hingga Oktober 2014. Di awal magang (bulan Maret), saya dan teman-teman seangkatan diharuskan mengikuti TKD (tes kompetensi dasar, sejenis sama tes TKD untuk tes CPNS di jalur umum). Mungkin ada yang bertanya, sama seperti pelamar CPNS pada umumnya dong? Beda, dikit. Kami hanya ikut TKD saja, tanpa TKB. Kenapa kami nggak ikut TKB? Konon, ujian komprehensif di semester 7 yang kami lalui pada saat kuliah jauh lebih horor dan lebih susah dibandingkan ujian TKB. Konon lho yaaaaa….

Di tes TKD ini, ada yang lolos ada yang tidak. Yang tidak lolos diharuskan untuk mengulang di bulan Juli 2014 hingga lulus. Baru pada Oktober 2014, NIP saya keluar, TMT dan SPMT saya sebagai CPNS juga tertanggal 1 Oktober 2014. Ingat ya, CPNS belum PNS. Bedakan. CPNS gajinya (dan tunjangan kinerjanya) 80% dan tidak ada hak cuti. Untuk menuju PNS, semuanya juga mengalami hal itu kok. Jadi, tulisan di awal paragraf ini diralat ya. Tau kan bagian mana yang harus diralat? Lulus tidak langsung diangkat jadi PNS, tapi lewat proses bla bla bla seperti yang saya tulis di atas.

Saya tambahkan lagi ya selain 3 poin yang sudah saya bahas di tulisan ini dan tulisan-tulisan sebelumnya.

Sekarang saya sudah CPNS, seperti yang sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya. Pertanyaannya, saya bekerja dimana? Sesuai perjanjian ikatan dinas. Daerahnya? Di INDONESIA. Sekali lagi, di Indonesia. Di mananya? Nah, ini panjang penjelasannya.

Penempatan lulusan kampus saya didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, putra daerah. Ini berlaku hanya untuk putra daerah di luar Pulau Jawa saja ya, catat. Kedua, IPK. Semakin tinggi IPKmu, semakin banyak pilihan tempat yang tersedia dan semakin besar pula peluangmu menggeser teman-teman yang IPKnya di strata bawahmu. Ketiga, penempatan bersama. Hal ini ada karena semakin banyaknya pasangan-pasangan satu kampus yang mengajukan penempatan bersama dengan alasan menikah tentunya. Karena di angkatan saya tidak ada program khusus PMDK bagi daerah tertentu, maka yang berlaku adalah ketiga aturan di atas. Kalopun ada program khusus PMDK, maka prioritas mereka ya balik ke daerahnya masing-masing. Biasanya ini untuk daerah 3T tertentu sih, yang dirasa pegawainya disana masih kurang banyak. Bagaimana dengan yang IPKnya selangit? Kalo masuk 10 besar ya silahkan milih, pusat atau daerah tujuan istimewa di luar Pulau Jawa. Kalo nggak masuk sepuluh besar, ya berarti ada di alasan kedua. Yang tanpa alasan sih, nggak peduli

Saya berasal dari Kabupaten Sukoharjo, salah satu kabupaten kecil di sebelah selatan Kota Solo Provinsi Jawa Tengah. Buang jauh-jauh pikiran kalian kalo saya ditempatkan di tempat asal saya, itu hanya mimpi (apalagi untuk lulusan fresh graduate yang IPKnya hidup segan mati tak mau seperti saya ini). SK CPNS saya keluar dan saya ditempatkan di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Awalnya, saya disuruh milih. Pilihan pertama saya ada di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Aceh Selatan di Aceh dan terakhir di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi NTT. Saya berharap banyak di Kalimantan Selatan karena pacar saya penempatan di sana, tapi apa daya karena faktor X gagallah semua rencana. Di Aceh, nggak tau karena faktor apa saya juga nggak disana (padahal ada lho yang IPKnya dibawah saya yang bisa penempatan sana dan dia bukan putra daerah). Jadilah saya di Provinsi NTT. Tapi, bukan di kabupaten yang saya inginkan.

Mungkin pada bertanya-tanya, kenapa penempatan saya bisa jauh sekali? Well, jauh dekat itu realtif. Secara jarak, memang jauh. Secara rumah saya di tengahnya Pulau Jawa, untuk mencapai daerah penempatan saya harus lewat Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, dll. Tapi secara waktu, untuk pulang ke hometown saya masih bisa dijangkau dalam waktu setengah hari kok. Dari kabupaten penempatan saya ke bandara terdekat dibutuhkan waktu sekitar 45 menit naik motor atau mobil dengan kondisi jalan yang bagus, aspalnya sudah hot mix karena jalan provinsi. Dari bandara tersebut ada penerbangan ke Denpasar setiap hari, penerbangan BUMN plat merah sehari dan penerbangan yang dikelola swasta. Dari Denpasar ke Jogja atau Solo, ya tiap hari jelas ada dong ya. Denpasar, Jogja dan Solo kan destinasi wisata yang banyak peminatnya, hehehe….

Beberapa teman saya penempatannya lebih jauh. Atau ‘kelihatan dekat tapi sebenarnya jauh’. Misalnya saja di salah satu provinsi di Kalimantan, tidak usah sampai jauh di ujung timur Indonesia,. Kalimantan sama Jawa cukup deket kan ya dibanding NTT ke Jawa? Tapi, lihat dulu dia di kabupaten apa di Kalimantan. Ada lho yang dari kabupaten penempatan dia ke bandara terdekat membutuhkan waktu sekitar 9 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang aduhai. Atau di daerah pedalaman Sulawesi yang harus semalam menyusuri darat dan laut untuk bisa sampai di ibukota provinsi yang mana baru ada bandara cukup besar untuk bisa pulang ke kampung halaman. Nah, bagaimana dengan yang di ujung timur atau ujung barat? Lebih-lebih sensasinya….harus naik pesawat mini, pesawatnya tidak selalu ada setiap hari, kalo cuaca buruk kapal sebagai satu-satunya mode transportasi untuk ke bandara tidak bisa jalan, dll.

Yang diatas baru masalah moda trasnportasinya, belum memikirkan biaya pulang ke kampung halaman lho. Berapa sih gaji pegawai negeri? Cari sendiri ya. Kalo masih single sih nggak masalah terkait ongkos, kalo yang sudah berkeluarga dengan beberapa anak? Ya berat.

Meski demikian, ada juga yang dapat penempatan kerja di dekat rumah di kampung halamannya. Bisa 15 menit sampai tanpa harus huru hara ke bandara buat pulang kampung. Atau ada juga yang di kabupaten sebelah kampung halamannya. Atau ada juga yang satu provinsi dengan kampung halamannya, tapi beda pulau. Atau ada juga yang harus 9-10 jam jalur darat dari kampung halaman ke kabupaten penempatan tujuan. Dengan catatan, semua itu terjadi di luar Pulau Jawa.

Wilayah penempatan kerja tidak main-main. Nggak ada pertimbangan yang cowok di pelosok yang cewek agak kota, semua sama rata (menurut saya). Yah…balik lagi lah sama beberapa alasan penempatan lulusan yang telah saya tulis di atas. Dan yang perlu diingat, wilayah penempatan ini untuk hidup selama sekitar 3-5 tahun setelah ditempatkan. Kok lama? Ya memang. Ya nanti kan juga bisa pindah. Eitsss….tunggu dulu. Alasan kamu pindah apa? OK lah kalo ikut suami, kalo alasan yang menurut atasan nggak bisa diterima? Ya bye bye. Pindah ikut suami aja pertimbangannya macem-macem. Kalo suami satu instansi biasanya yang ‘penempatan strategis’ disuruh ke ‘penempatan yang tidak strategis’. Biasanya lho ya. Belom lagi kalo dapat atasan yang ‘menyulitkan’ untuk ngasih surat pindah, konon kata leluhur itu melelahkan jiwa dan raga…….

So, perhatikan penempatan satuan kerja terendah yang ada di perguruan tinggi kedinasan itu sampai di tingkat apa. Berbahagialah yang tingkat terendah satuan kerjanya di wilayah kota, kalau kabupaten? Sudah saya sebutkan di atas, tidak peduli kabupaten 3T atau bukan, selama masih ada satuan kerja ya bisa saja ditempatkan di sana. Misalnya, di Kabupaten Sangihe Talaud, Rote Ndao, Sabang, Merauke, Banggai Kepulauan, Kepulauan Selayar, Natuna, Anambas, Nias, dll. Mungkin yang berasal dari provinsi yang sama, pasti taulah atau minimal pernah denger nama kabupaten-kabupaten yang saya sebutkan tadi. Nah, kalo kamu yang nggak hapal itu daerah mana? Bukalah peta!! Lihat, belajar geografi lagi ya.

Sekian tulisan dari saya, seorang alumni sebuah perguruan tinggi kedinasan. Siap tidak siap harus siap, bagi saya sih yang sudah terlanjur nyemplung di dunia kedinasan seperti ini. Bagi kamu yang ingin mendaftar di perguruan tinggi kedinasan, selamat mempertimbangkan. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyampaikan fakta tentang apa yang saya rasakan selama ini, bukan untuk berniat jahat dengan menakut-nakuti atau menyiutkan nyali kamu. Jika kalian merasa perguruan tinggi kedinasan itu gue banget, silahkan mendaftar. Saya doakan semoga lulus hingga menjadi abdi negara, dimanapun kamu nanti ditempatkan.

Yakin Pilihanmu Ada di Perguruan Tinggi Kedinasan? (Part 2)


Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Silahkan cek di sini.

Poin kedua, dapat uang saku per bulan. Ini juga benar. Tahun 2009, saya mendapatkan sekitar 400 ribu per bulan (atau 450 ribu ya? Saya lupa). Tahun 2010, ada kenaikan menjadi 500 ribu per bulan hingga pertengahan tahun dan di akhir tahun menjadi 850 ribu per bulan. Sampai saya lulus di tahun 2013, uang saku yang saya dapatkan masih tetap sama. Terakhir saya dengar, mulai 2015 ini uang saku yang diterima mahasiswa sebesar 1 juta.

Mari kita berhitung. Saya dulu kos di awal kuliah (sekamar berdua) sekitar 250 ribu per bulan, lalu sempat ngontrak rumah dengan teman-teman dengan biaya sebesar 2,5 juta per tahun (anggaplah sekitar 200ribu per bulan), terakhir saya kos sekamar sendiri dengan biaya 400ribu per bulan. Saya makan sehari (plus jajan) sekitar 20-30 ribu, sebulan anggaplah 600-900 ribu. Pulsa untuk internet dan pulsa hp biasa sekitar 100 ribu. Kebutuhan lain-lain (deterjen, sabun mandi, pasta gigi, shampo, bedak, parfum, pembalut wanita, dll) sekitar 100-150 ribu per bulan. Jika dikalkulasikan, lebih kurang 1 juta hingga 1,5 juta per bulan saya habiskan untuk biaya hidup. Itu sudah termasuk hidup hemat ya, tanpa hedon ke mall atau ke pusat grosir yang murah meriah yang kadangkala menghinggapi benak para mahasiswa yang suntuk dengan kuliah. Hahaha…

Eh, bukunya gimana? Tenang, di perpustakaan ada (meski tidak seberapa). Kalo kamu rajin ke perpustakaan, bisa pinjam kok. Kalo kamu nggak rajin, ya beli atau pinjam kakak tingkat. Saya termasuk golongan orang yang angin-anginan ke perpustakaan, tapi juga malas pinjam ke kakak tingkat. Biasanya, saya beli buku kuliah untuk mata kuliah inti saja atau yang saya anggap penting biar bukunya bisa saya coret-coret sesuka hati. Kalo untuk pelajaran yang kata kakak tingkat nggak penting-penting amat, ya saya pinjem aja sih. Sayang duit, hehe…

Pertanyaannya, cukupkah uang saku yang saya dapat? Dengan sedih saya jawab, tentu saja tidak. Di awal kuliah saya masih rutin dikirimin uang orang tua. Sekedarnya saja sih, saya nggak menyebut harus dikirimi berapa karena saya tahu bagaimana kondisi keuangan keluarga saya. Kalo cukup, ya alhamdulillah. Kalo kurang, yang saya hemat ya di makan dan jajan. Lebih? Jarang pake banget J. Mulai dari situlah saya putar otak how to survive dan bisa jalan-jalan cantik seperti teman-teman saya yang lain.

Saya coba-coba untuk bekerja sampingan sebagai guru les privat. Cukup lama saya jalani pekerjaan sampingan menjadi guru les privat dari rumah ke rumah, mulai dari tahun 2010 akhir hingga 2014 akhir. Murid saya beragam, mulai dari kelas 3 SD hingga 12 SMA, dari sekolah negeri hingga sekolah swasta, dari sekolah nasional hingga sekolah bilingual dan bahkan sekolah internasional. Bayarannya per pertemuan pun beragam, mulai dari 60 ribu per pertemuan hingga 250 ribu per pertemuan. Mulai saat itu, kondisi finansial saya bisa dikatakan cukup (terkadang juga lebih sedikit, biasanya saya tabung) untuk tidak lagi meminta uang kiriman dari orang tua.

Dari pekerjaan sampingan saya ini, ada banyak hal yang bisa saya pelajari. Saya jadi tahu tentang bagaimana penyampaian ilmu di berbagai sekolah. Kalo di sekolah nasional, ya nggak jauh beda dengan apa yang saya alami dulu. Kalo di sekolah fullday, ada banyak kegiatan tambahan di sekolah selain belajar (misalnya makan siang gratis dan ibadah bersama). Lain lagi dengan sekolah internasional. Selain bahasanya ada tiga macem (di tempat sekolah adek les saya dulu, bahasa pertamanya bahasa Inggris, kedua bahasa China dan ketiga baru bahasa Indonesia). Harga jajanan ditempat mereka juga mahal, sebanding lah sama uang bayaran mereka per semester yang nyebut berapa puluh USD. Fasilitas dan perhatian guru di sekolah internasional pun sangat memadai, sangat jauh berbeda dengan yang saya alami di jenjang sekolah yang sama. Ya benerlah apa kata pepatah, ada uang ada barang….eh salah, ada uang ada mutu. Tapi, nggak ada jaminan kok sekolah mahal itu pasti bikin pinter. Trust me.

Dari pekerjaan sampingan ini pulalah saya bisa mengurangi salah satu kelemahan saya : buta arah. Ketika ada murid les baru, mau nggak mau saya harus cari sendiri dimana rumah mereka, kesananya harus naik apa aja, dan ongkosnya berapa. Saya nggak ada motor, jadi andalan utama saya untuk kemana-mana ya naik bus atau angkot. Mau nggak mau saya hapal kalo ke sana naik apa aja, turun dimana, bayar berapa. Wakwak….udah kayak tour guide yak. Karena seringnya saya naik kendaraan umum inilah, awareness saya tentang berbagai modus kejahatan di kendaraan umum meningkat. Beberapa kali saya melihat kejahatan di depan mata saya, bahkan saya sendiri pun hampir kena. Saya kapok? Enggak tuh. Hahaha…

Terakhir, dari pekerjaan sampingan saya ini pulalah saya kenal dengan dunia orang lain di tempat saya merantau. Mulai dari pembantu di tempat adek les saya yang ramah dan suka minjemin saya mukena plus sajadah kalo waktu sholat tiba, satpam rumah yang kadang ngasih tebengan motor sampai ke jalan raya tempat bus lewat, kepala pembantu adek les saya yang baik hati tapi kerasnya bukan main menghadapi adek les saya yang bandel, hingga beragam profesi orang tua adek les saya mulai dari pegawai kantoran biasa, kontraktor, petinggi di salah satu BUMN pusat, juragan kelapa sawit, juragan travel umroh, juragan batu bara di Kalimantan sana sampai CEO salah satu produsen minuman terkemuka. Fyi, mereka rata-rata berbeda suku dan agama dengan saya loh. Meski demikian, nggak ada masalah tuh selama ini. Kalau datang waktunya sholat, ya saya minta ijin sholat di tempat yang bersih (biasanya di kamar pembantunya atau di ruang khusus yang bebas dari najis). Mereka baik-baik, ramah, care dengan saya, bahkan sampai sekarang saya sudah nggak ngajar pun masih keep in touch.

Selain saya, banyak kok teman saya (yang juga mahasiswa di perguruang tinggi kedinasan) yang juga bekerja sampingan sebagai guru les privat. Ada yang memilih dekat-dekat saja dengan kampus biar transportasinya gampang, ada yang milih agak jauh tapi bayarannya gede. Hehe… Hal lain yang banyak dilakukan oleh mahasiswa perguruan tinggi kedinasan selain kuliah (untuk menyambung hidup atau cuma sekedar tambah uang jajan) diantaranya adalah berjualan secara online. Macam-macam jenis jualannya, mulai dari jasa hingga barang. Mulai dari jasa ngeprint tugas sampai jasa servis leptop. Mulai dari jualan pulsa internet sampai jualan jasa download yang ukuran filenya gede-gede. Mulai dari jualan makanan ringan hingga jualan makanan berat. Mulai dari jualan jilbab hingga jualan mukena. Mulai dari jualan baju korea hingga jualan kaos distro. Kreatif? Unik? Atau malah memprihatinkan? This is our way to get more money, entah itu hanya untuk tambahan kas kontrakan, tambahan buat jajan-jajan cantik, atau benar-benar untuk menyambung hidup.

Dari cerita di atas, jangan memukul rata bahwa semua mahasiswa perguruan tinggi kedinasan itu miskin semua atau ‘kreatif’ cari duit ya. Ada juga kok yang masih benar-benar murni sebagai mahasiswa yang tugasnya hanya berangkat kuliah-belajar-pulang-dan jalan-jalan. Ada yang uang saku dari kampus hanya ditabung atau hanya untuk jajan-jajan saja. Ada yang orang tuanya rutin mengirim uang yang cukup (bahkan ada yang berlebih) untuk kebutuhan hidupnya selama di tanah rantau. Berbahagialah mereka yang masuk kategori di paragraf ini, tugasnya di tanah rantau hanya kuliah dan belajar. Hehe…

Sudah kepanjangan tulisan saya kali ini? OK, lanjut di postingan ini ya.

Yakin Pilihanmu Ada di Perguruan Tinggi Kedinasan? (Part 1)


Masa-masa sekarang ini –sekitar bulan Februari Maret- para siswa kelas 12 SMA sedang gencar-gencarnya didatangi oleh para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mereka yang datang itu biasanya alumni dari SMA tersebut. Mereka datang dari berbagai perguruan tinggi. Tidak hanya dari perguruan tinggi negeri saja, mahasiswa dari perguruan tinggi swasta yang bergengsi pun ikut meramaikan. Tidak ketinggalan pula mahasiswa dari perguruan tinggi kedinasan juga ikut meramaikan silaturahmi ke sekolah dalam rangkaian ‘kunjungan’ promosi tersebut. Di sini saya tidak akan membahas ‘kunjungan’ mahasiswa dari perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta, tapi hanya akan saya batasi di ‘kunjungan’ mahasiswa dari perguruan tinggi kedinasan. Kenapa? Karena saya salah satu alumni perguruan tinggi kedinasan (meski saya juga sempat sebentar jadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri). Tujuan saya menulis tulisan singkat di blog saya ini hanya untuk meluruskan dan open your mind, dibalik ‘janji-janji surga’ perguruan tinggi kedinasan ada resiko besar yang juga harus dihadapi.

Ada yang masih bertanya apa itu perguruan tinggi kedinasan? Akan saya jelaskan secara singkat saja ya. Perguruan tinggi kedinasan adalah perguruan tinggi yang berada di bawah naungan suatu departemen atau lembaga pemerintah non departemen. Ada yang berbayar ada pula yang gratis. Ada yang ikatan dinas dengan departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang dulu menanungi perguruan tingginya (begitu wisuda dan lulus tes TKD saja bisa langsung diangkat) ada yang tidak (ikut seleksi seperti pelamar CPNS pada umumnya). Ada yang pendidikannya semi militer ada juga yang tidak. Ada yang dapat uang saku ada yang tidak. Dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, silahkan googling sendiri ya :).

Seperti yang saya sebutkan di awal, saya adalah salah satu alumni perguruan tinggi kedinasan. Pacar saya juga berasal dari kampus yang sama (yang artinya dia juga alumni dari perguruan tinggi kedinasan). Adik pertama saya sekarang masih tercatat di salah satu perguruan tinggi kedinasan, meski berbeda kampus dengan saya. Awalnya, saya mau-mau saja masuk ke perguruan tinggi kedinasan dengan beberapa ‘janji-janji surga’ yang sampai di telinga saya dan keluarga. Apa sajakah itu? Di antaranya sebagai berikut :

  1. Kuliah gratis
  2. Dapat uang saku per bulan
  3. Lulus langsung diangkat jadi PNS golongan 3A di salah satu lembaga non departemen milik pemerintah

Waktu itu saya dan keluarga tergiur dengan tiga hal yang saya sebutkan di atas, terlebih lagi saya berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Tanpa mempertimbangkan resiko, tanpa bertanya apa saja nilai minusnya, saya masuk. Konyol? Ya benar. Sikap saya ini memang konyol, memilih tanpa melihat plus minus-nya. Maka, untuk kamu yang sudah mendengar ‘janji-janji surga’ tersebut, waspadalah. Mau maju dan siap menghadapi segala resiko, silahkan. Mau mundur dan cari tempat kuliah lain, ya silahkan. Hidup memang harus memilih bukan?!

Poin pertama, kuliah gratis. Ya, memang benar gratis. Saya hanya membayar biaya sekitar 2,5 juta di awal masa kuliah untuk keperluan seragam, ospek kampus dan outbound. Tapi, sesuatu yang gratis itu pasti ada syarat dan ketentuan yang berlaku dong (enak aja lu main gratis, dikira duit turun dari langit apa? :p). Apa saja syarat dan ketentuan yang harus saya alami?

  1. Pertama dan utama, ancaman DO yang besar (terlebih di semester 1 dan 2, kalau di kampus saya. Kampus lain malah ada yang lebih kejam, setiap semester). Ancaman DO ini berlaku untuk mata kuliah inti. Jadilah orang yang jeli, jangan langsung percaya ketika kakak tingkat yang promosi bilang “tenang saja, asal belajar yang rajin nggak bakal kena DO kok”, “nanti ada belajar bersama, DO bisa diatasi”, “mata kuliah intinya gampang-gampang kok,” dsb. Itu versi dia ya, sekali lagi itu versi dia. Coba iseng tanya ke kakak tingkat di perguruan tinggi kedinasan itu apa saja mata kuliah inti di tempatnya belajar. Searching dulu mata kuliah itu tentang apa, garis besarnya aja lah (anak gahol jaman sekarang kayaknya nggak mungkin nggak bisa internetan deh). Dari situ kamu bisa memilih masuk kuliah di perguruan tinggi kedinasan dengan mata yang sedikit terbuka….oh, ini ya mata kuliah intinya. “Itu aku bangetlah”, “Iyuh….ketemu cacing integral rangkap tiga?”, “Hitungan akuntansinya kok rumit ya ternyata”, “Ah, matriks kayak gini sih gampang”, “Kok ketemu mata kuliah hapalan sih.”, dll. It’s up to you. Only you who know your own strenght.
  2. Mata kuliah mulai dari yang mudah hingga sangat sulit. Semua mata kuliah ya, nggak cuma mata kuliah inti. Kalo yang ini relatif sih, sulit dan enggaknya tergantung masing-masing individu. Maka dari itu, penting banget untuk mengenali dulu apakah kamu mampu dan menyenangi bidang ilmu di perguruan tinggi kedinasan tersebut. Kalo hanya sekedar ikut-ikutan trend, ya terima saja kalo di tengah jalan kamu merasa kuliahmu terasa sungguh berat. Begadang? Cari referensi ini itu? Sibuk kesana kemari buat belajar kelompok? Wes biyasaaaaaa……
  3. Ditambah lagi, persaingan antar teman yang cukup ketat. Dari awal, tes masuk ke perguruan tinggi kedinasan sudah ketahuan kan bagaimana ketat dan sulitnya. Yang lolos pastilah pintar-pintar. Di sini berlaku hukum alam, yang pintar (kebanyakan) egois (tingkat tinggi). Jadi ya wajar-wajar saja kalo setelah kamu masuk kuliah di perguruan tinggi kedinasan dan mendapati teman yang demikian. Misalnya ketika besok ujian dan kamu tanya udah belajar belum, dia jawab belum belajar nih….pas hasilnya dibagiin dia dapet nilai A. Atau tanya rumus nggak dijawab atau dijawab nggak ngerti, tapi beberapa saat kemudian ketika dosen bertanya hal yang sama….dia dengan gagah berani maju ke depan kelas dan lancar menuliskan rumusnya yang sudah dia hapal di luar kepala. Atau nggak mau datang ke belajar kelompok dengan alasan yang beragam, padahal dia salah satu orang yang ilmunya di bidang itu mumpuni. Atau ada temen yang kalo mau tau suatu hal tentang pelajaran dia rajin bener tanya ini itu ke kamu, giliran kamu tanya hal lain (tentang pelajaran) juga ke dia (dan dia tahu) malah dia tutup kuping. Dll. Kalo saya tulis satu per satu,bisa penuh ntar halaman ini.
  4. Nilai mata kuliah yang ‘cukup mahal’. Mengapa cukup mahal? Awalnya, saya mengira ini cuma terjadi di kampus saya aja. Ternyata, di kampus adek saya juga. Untuk mata kuliah yang sama, misalnya saja kalkulus, di perguruan tinggi kedinasan dengan di perguruan tinggi lain berbeda penilaian. Memang nggak semua, tapi rata-rata demikian. Well, masalah nilai di mata kuliah emang nggak bisa diperbandingkan ya. Gimana kalo tentang tugas akhir saja? Hehe…agak fair menurut saya. Jadi gini, kuliah saya setara dengan S1. Wajarnya, untuk bisa lulus kuliah ya menyelesaikan skripsi dong. Iya, memang benar yang dikerjakan itu skripi. Tapi, skripsi yang dikerjakan ini kalau diukur tingkat kesulitannya bisa selevel tesis atau bahkan disertasi di perguruan tinggi lain. Saya nggak omong kosong lho, skripsi yang kemarin saya kerjakan aja hampir mirip dengan disertasi orang lain dalam hal metodologi dan sebagian sumber datanya. Teman-teman saya yang lain pun juga demikian. Jika ada yang menyelesaikan di level skripsi, biasanya disindir sama dosen kenapa ngerjain skripsi yang nggak jauh beda sama tugas kuliah biasa. Huhuhu…..Nilai lebihnya, konon ketika menempuh pendidikan master tidak akan kesulitan. Nilai kurangnya, apalagi kalo nggak susah, capek, lelah dan pusing. Skripsi level biasa aja udah pada nyebut, lha ini skripsi yang…..ah sudahlah.
  5. Belum lagi aturan di perguruan tinggi kedinasan yang berbeda dengan perguruan tinggi lainnya. Mulai dari berseragam khusus (jadi, lupakan sense of fashion untuk kuliah), aturan jilbab dan rambut, aturan baju, dan aturan-aturan lain yang sekarang saya sudah gak hapal lagi. Kamu melanggar, kena poin hukuman. Nantinya poin hukuman ini akan diakumulasi setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran (saya lupa). Jika sudah melebihi batas atas, beragam hukumannya. Mulai dari nggak boleh ikut ujian hingga dikeluarkan.

Masih mau membaca? Ok, karena tulisan saya ini kepanjangan maka lanjutannya akan saya tulis di sini ya :).