salah sambung atau sok salah sambung??


*kring……..kring…….* (bunyi telepon rumah)

diangkat teman.

mbak :”halo”

x:”….”

mbak :”halo”

x:”….”

mbak :”halo”

x:”….”

klik. telepon ditutup.

*kring……..kring…….* (bunyi telepon rumah)

Gak ada yang ngangkat.

*kring……..kring…….* (bunyi telepon rumah)

y:”halo” (suara sadis dan sok galak)

x:”ehm…maaf. Bisa bicara dengan mbak *****?”

y:”di sini gak ada yang namanya itu.” (masih ekspresi galak)

x:”ini apotek ***** kan?”

y:”apotek?? Bukanlah. Salah sambung.” (tetep galak)

klik. Telepon ditutup.

Mbak:”ya ampun, galak banget sih kamu.”

y:”udah kayak satpam kontrakan yak ~.~”……….”

Pesan moral=hati2 dengan telepon yang salah sambung (atau sok salah sambung) yang terjadi di kontrakan mahasiswa. Bisa jadi itu adalah salah satu modus pencurian. Asumsikan jika telpon tidak diangkat berarti rumah kosong.

(kebanyakan baca komik detektif nih)

Iklan

Mungkin


Mungkin

Mungkin kamu adalah ksatria berkuda,

sedangkan aku hanyalah sehelai rumput yang bergoyang

mengikuti angin yang mendera.

Mungkin kamu adalah bintang senja,

sedangkan aku hanyalah setitik cahaya dalam realme jagad raya.

Mungkin kamu adalah mahkota indah bunga berwarna,

sedangkan aku hanyalah kelopak kering tak bermakna.

Mungkin kamu adalah sempurna,

sedangkan aku bukan apa-apa.

Tapi cermin tak pernah dusta,

karena kamu-kamu aku-aku

jangan pernah aku-mengamu kamu-mengaku.

Jakarta, 7 januari 2010

Aku dan Diriku


Aku dan Diriku

Aku berdiri tanpa ragu

walau hujan terus memburu wajahku yang tampak layu.

Aku menantang gelombang sendirian

terpahat dipijakan karang yang tak tumbang oleh zaman.

Aku mengokohkan kaki,

berdiri,

berlari,

bukan bersembunyi dalam ilusi

tapi menjemput mimpi dengan asa pasti.

Aku tetap gagah tak kan goyah

meski semua dahan telah patah

meski langit tak lagi cerah

meski hujan berhenti tumpah.

Aku masih tetap bernyanyi selaksa melodi.

Aku masih tetap larut dalam sepertiga malam sunyi.

Aku masih tetap tertawa untuk hari ini.

Karena aku tahu,

pilihanku mati atau jadi berarti.

To my best motivator : my parents

Jakarta, 5 April 2010

Hal sepele yang mama rindukan itu…


Seperti biasa, malam ini aku telepon keluarga di rumah. Meskipun pulsa sudah mendekati limit, tapi kalo kangen mau gimana lagi, hehe…

Beberapa hari ini aku memang agak sibuk (atau sok sibuk ya?). kuliah pengganti yang gak tanggung-tanggung, tugas yang gak mau kalah heboh sama beritanya gayus, amanah2 lain yang tidak bisa disebutkan dan beberapa agenda di luar rutinitas biasa yang menuntut untuk diselesaikan segera. Efeknya, komunikasi (baca:telpon setiap malam) dengan keluarga pun semakin jarang. Pertama, alasan di atas tadi. Kedua, karena hp ku yang satunya rusak, terpaksa aku memakai hp ku yang beda operator dengan mama papa (tapi sama operatornya dengan kedua adik perempuanku) yang menyebabkan aku harus pikir2 tentang tarif telpon. Maklumlah, anak kos selalu sensitif kalo masalah duit, haha…

Ngobrol kesana-kemari sama mama papa itu benar2 hal yang menyenangkan setelah seharian penat dengan rutinitas. Saling menceritakan kegiatan masing-masing, mulai dari hari ini mama masak apa, kerjaan di kantor, tugas kuliah, tetangga yang punya hajat sampe gayus (haha…ini papa yang bahas). Lalu sampailah pada percakapan ini.

Mama (m):kok mbak beberapa hari ini gak sms mama waktu mau berangkat kuliah? Udah 2 hari.

Aku (a) :loh, sms kok ma, tadi pagi mbak sms tapi mama gak balas.

M            :ke hp mama yang mana, gsm atau cdma?

A             :yang gsm ma, kayak biasanya.

M            :ah, nggak kok. Udah mama cek berkali-kali tapi tetep aja gak ada sms masuk dari mbak.

A             :hp nya mungkin error kali ma. Atau mungkin gangguan di operatornya.

M            :iya mungkin. Padahal mama kan kangen sama mbak, kangen di sms pamitan mau berangkat kuliah. Masa’ yang dipamitin cuma papa aja?

A             :beneran kok ma, mbak sms ke mama sama papa. iya ma, mbak juga kangen sms mama yang selalu ngasih semangat ke mbak.

M            :ya udah, biar besok hp nya di servis dulu. Tetap semangat ya mbak, belajar yang rajin, jangan lupa ibadahnya, besok diusahakan puasa, jaga kesehatan. Anak mama pasti sukses. Jaga diri baik2 ya cah ayu J

 

Klik. Setelah telpon aku tutup, hatiku benar2 trenyuh dan aku menangis.

Sudah menjadi kebiasaan sejak aku tinggal di Jakarta dan jauh dari rumah, saat aku keluar mau ada hal penting yang harus diselesaikan, aku biasa sms mama papa walaupun hanya sekedar bilang “pergi dulu ma/pa, aku mau ke ….”. Anggaplah sebagai pamitan dan minta doa restu dari orang tua. Ini masalah sepele menurutku. Sudah dari kecil aku dididik untuk selalu berpamitan dan cium tangan dengan kedua orang tuaku saat akan pergi keluar rumah, rasanya ada yang kurang kalo gak melakukan. Baru kali ini aku merasakan hal tersebut bukanlah sesepele yang aku kira. Ini berarti –sangat berarti—untuk orang-orang yang sangat aku cintai. Beruntung aku dibesarkan di tengah keluarga yang selalu terbuka satu sama lain. Kehangatan dan kebersamaan masih tetap bisa aku rasakan meski kami berjauhan.

Yang sekarang aku pikirkan, apakah seperti yang mama rasakan saat nanti aku menjadi ibu yang tinggal jauh dari anaknya? *thingking*

Ekspedisi Papandayan #3


11.20

Perjalanan dari tempat kami beristirahat sejenak untuk makan mie instan tadi ke pondok salada tidak begitu jauh. Medannya pun sudah mendingan (gak begitu ekstrim lagi maksudnya). Oya, lumayan susah juga menemukan pondok salada ini karena gak ada arah penunjuknya. Keadaan pondok salada yang berupa padang berumput membuat kami yang capek bisa tersenyum senang. Pemandangannya bagus. Banyak edelweisnya lagi :D. Di sini kami bertemu dengan banyak pendaki2 lain yang juga mendirikan dome(tenda kecil) seperti kami. Yang lumayan mengejutkan, kami bertemu dengan satu keluarga muda dengan 2 anak kecil disini,

keren kan

sepertinya mereka sudah ngecamp dari kemaren2 deh. Hebat, keluarga pendaki. Ada 2 anak kecil lagi (4 dan 6 tahunan). Gimana mereka sampai sininya ya? Ckckck…ntar kalo punya suami dan anak aku ajak naik gunung juga ah :P, haha…kembali ke topik. Setelah selesai mendirikan dome yang hanya 1 karena yang lainnya salah mabil perlengkapan), kamipun memasak. Bener2 deh, kalo cewek itu belajar masak di sapur, kalo cowok belajar masak di gunung, haha. Kami masak nasi yang atasnya belum masak betul (bhs.jawa=nglethis) dan bawahnya gosong (how come??). lalu goreng nugget.

cewek belajar masak di dapur, cowok belajar masak di gunung

Ini nih yang konyol. Chef Genzy belajar masak. Fyi, 9 dari 10 orang yang ada di situ bilang nuggetnya udah gosong woi, tapi si Genzy nya seorang diri yang bilang belumlah,ini belum gosong (alasan, beneran gosong kok). Gak jauh beda dengan goreng nugget, goreng ikan asin pun sama aja. Jadinya bukan ikan asin, tapi ikan pait ~.~”. masak sarden juga konyol lagi. Harusnya masak sarden itu kan gak usah dikasih air yak, nah si Fajar dateng2 nambahin air di sarden yang lagi dimasak. Hadoh…..sarden berkuah banyak, gimana rasanya ntar?? Udahlah, masak makanan udah, lanjut rebus air dan kopi. Serasa jadi pinter masak, haha. Setelah dirasa semuanya udah lengkap, berkumpullah kami bersepuluh dalam 1 dome. Memakan masakan yang barusan kami masak benar2 lezat, entah gimana rasanya, kalo perut sudah lapar, makanan apapun enakkkkkkkkkkkkkkk banget. Ikan pait, nugget gosong, nasi gak jelas, sarden berkuah, dll, masuk semua ke perut. Alhamdulillah :). Capek juga setelah masak, aku pun memilih untuk tidur. Rupa2nya, Ode dan Genzy masih berniat untuk bersibuk2 ria memasak, mungkin kesempatan kali ya bereksperimen mumpung ada alat dan bahan, hehe. Saat aku tidur, mereka berdua membuat nutrijel. Entah gimana caranya, saat aku bangun dan pengen mencicipi nutrijel buatan mereka, aku jadi bener2 kehilangan selera. Nutrijel udah gak kayak nutrijel lagi, tapi mirip i***s (untung strobery warnanya pink), haha. Di sela2 waktu istirahat ini, kegiatannya pada macem2 deh. Mulai dari masak, tidur pulas sampe dingin aja gak kerasa, hunting edelweiss, nungguin SB orang yang lagi tidur karena tidurnya kelamaan, main di sungai, etc. have fun lah yaa…sayangnya, karena cuaca yang lumayan mendung membuat kami tidak diijinkan untuk naik ke puncak. Padahal tinggal dikit lagi loh. Yah….finish sampe

pondok salada yang gak ada seladanya

pondok salada deh. Btw, ngomong2 pondok salada, aku lihat dan cari2 di sekeliling, kok gak ada pohon2 seladanya ya? Atau ini mungkin tempat orang jualan selada? Maybe 😛

16.00

Packing packing packing. Turun dan pulang cuy, besok ada yang punya kegiatan. Cepet2 juga, takutnya ntar keburu sore keburu cuaca nya semakin gak bersahabat lagi. Dan ada sedikit yang masih mengganjal, aku gagal melihat bintang di atas gunung. Huhuhuhu T.T,,,but it’s OK. Kalopun ngecamp, gak yakin juga bisa lihat bintang, wong cuacanya kayak gini. Langsung aja lah berangkat. Kali ini gak lupa berdoa dulu, kami gak mau sial kayak yang kemaren, haha. Kalo tadi kami naik dengan tenaga ekstra, sekarang turun dengan tenaga ekstra juga. Ekstra ngerem nya, harus cakram kalo gak mau jatuh tersungkur dengan indahnya. Gak naek gak turun, tetap aja foto2 narsis

mejeng dulu lah yaa

jalan terus. Haha…paling keren waktu di kawah belerangnya itu. Udah siap2 senyum sambil pasang muka manis, eh kamera yang timer nya udah di set jatuh kena angin, gak cuma sekali lagi. Hehe…tapi, tetep aja dong kami gaya, namanya juga anak muda :D. naik 3 jam, turun 1,5 jam. Wow, fantastis kan?! Ngebut sih.

17.30

Sampe basecamp bawah, kelaparan melanda perutku. Warung di sekitar basecamp kayaknya boleh juga tuh dicoba. Anginnya sudah mulai kenceng, angin darat atau angin gunungkah (udah lupa pelajaran yang ini) ?? Cuma Maul yang mau makan di warung itu, yang lain pada masak mie instan yang tersisa karena masih lumayan banyak. Tapi ujung2nya mereka jajan juga ding, haha…Rasanya lumayan lah untuk ukuran warung di sekitar gunung, harganya juga lumyan. 6 rbu rupiah untuk sepiring nasi goreng plus telor (lebih murah ketimbang di Jakarta). Dari ibu yang jual di warung itu, aku tahu kalo akhir2 ini sering terjadi badai di sekitar situ. Oh…pantes. Untung kami udah sampe bawah. Gak bsia ngebayangin deh kalo kami masih di perjalanan, lebih2 di daerah kawah belerang, bisa2 kami jalan sambil merangkak.

19.00

Setelah menunggu cukup lama mobil pick up yang tadi pagi sudah mengantar kami kesini dan sekarang menjemput kami lagi, akhirnya penantian kami sampai juga. Bye Papandayan, see u next time yak :D. seneng deh bisa ke sana, meski gak lihat sunrise, sunset, bintang ataupun ke puncaknya. Ngerasain hawa dinginnya aja aku udah seneng kok. Karena alasan dingin juga, aku dan Qura

saatnya pulang

sebagai 2 orang perempuan di rombongan itu memilih duduk di depan dekat sopir, yang cowok semuanya di belakang bersama tas2 carrier kami semuanya. Niatnya duduk di depan agar aku bisa tidur, tapi ternyata gak bisa. Asik juga ternyata ngobrol sama bapaknya. Ngobrolin banyak hal, mulai dari Gunung Papandayan sampe Papua (bapaknya dulu pernah kerja di Papua di pertambangan). Gak kerasa, kami sudah sampai di pertigaan Cisurup. OK, nyari angkot lagi.

19.55

Cuma berselang 5 menit dari kedatangan kami di pertigaan Cisurup, kami pun mendapat angkot ke Terminal Guntur. Sistem angkot disini kayaknya nganterin penumpangnya satu2 deh, jadi kami muter2 gitu. Gak papalah, sekalian muter2 daerah orang. Dan sekali lagi, prinsip muat gak muat dimuat2in. Genzy aja dipangku Aziz, Delly dan Dikky duduk di bawah, yang lain sih dapet duduk meski sempit2an. Pokoknya, muat gak muat dimuat2in, hehe.

20.45

Tiba di Terminal Guntur, lebih tepatnya di kantor bus apa gitu (lupa namanya, pake kurnia gitu lah). Hm…masih nunggu lumayan lama juga. Hoahmmm…ngantuk udah gak bisa ditahan. Yang lain baterainya juga udah mulai habis. Terbukti banyak yang pada diam. Ya udahlah, ikut2an diem aja.

23.35

Bus yang kami tunggu2 pun tiba juga, akhirnya. Masukkan semua tas carrier ke bagasi bus. Naik ke bus. Dan saatnya tidur. Wuah….pulasnya. yakin deh, gak ada yang hidup selama di perjalanan, haha. Untung gak ada yang jualan Jeruk amis atau sawo amis lagi yak, haha…ekonomi AC serasa eksekutif. Hihi…

2.30

Pasar Rebo…Pasar Rebo….hadoh, kami semua mencelat bangun. Udah sampe Pasar Rebo ya, kok gak kerasa.mungkin saking pulasnya kai tidur kali. Turun dari bus aja mukan2nya masih pada setengah sadar. Dan konyolnya, kami jalan salah arah loh buat pulang ke Otista. Efek baru bangun tisur kali. Udah gitu, gak ada yang ketawa. Yah,,,aku aja sadarnya waktu sampe rumah. Hohoho….sampe depan kampus tercinta, kamipun pulang dengan membawa hati yang cerah ceria, capek, ngantuk dan tidak lupa cucian.

OK guys, where’s our next trip??Salam 1111

eh bentar, ini oleh2 lagi dari kami 😀

turun dari kawah
suasana saat kabut turun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

edelweis

edelweis lagi 😀

Ekspedisi Papandayan #2


persiapan berangkat

 

06.00

Setelah dirasa cukup puas kami beristirahat, berangkatlah kami ke pertigaan Cisurup. Pertama dengar agak serem juga, Fajar bilangnya Cisurupan dan aku dengernya kesurupan (haha…parah). Kami bersepuluh naik angkot. Muat gak muat dimuat-muatin deh, bayar 5rb mau senyaman naik taksi, haha. Lumayan juga nih dapet pemandangan pagi-pagi di pegunungan, hal yang sudah lama banget gak aku rasakan. Yuhu…asek. Udaranya bo, Jakarta mah lewat. Sawah dan gunung-gunung yang gagah menjulang, hm…..benar2 lukisanMu yang tiada tandingnya.

mejeng dulu sebelum naik mobil

07.00

Kami tiba di pertigaan Cisurup. Untuk sampai ke basecamp Gunung Papandayan, kami harus menyewa angkot pick-up lagi. Ongkosnya sekitar 8ribuan per manusia. Haha..asik asik asik, serasa mau takbiran keliling kampung saat dirumah simbah. Gak ada yang mau duduk di depan samping sopir, semuanya duduk di belakang. Jalannya ke sana itu loh, lumayan parah rusaknya. Hm…rata2 jalan di kawasan pegunungan lah. Macem2 komentar teman2, mulai dari serasa kayak di film Titanic (versi Delly dan Genzy), butuh reparasi pantat (versi Maul), ambil foto penduduk lokal (Ode yang kurang kerjaan), ngomentarin jalannya yang asik buat goyang (ahaha..sumber tidak disebutkan), dll. Sial, ternyata aku duduk diatas mesin, pantes pantatku panas T.T

seru cuy 🙂

 

08.00

kawah belerang

berangkat!!

basecamp papandayan

Taraaa….sampai juga kami bersepuluh di basecamp Papandayan. Lumayan lapang untuk parkir mobil atau bus. Hawa dingin mulai terasa. Kami siap2 pake jaket dan beberapa perlengkapan yang kami bawa. Gak perlu lama2. Setelah mengurus perijinan lengkap, kami semua langsung berangkat. Kali ini gak lupa berdoa dulu. Tau gak, kesialan2 kami dari tadi malam tuh ternyata karena dari berangkatnya kami lupa belum berdoa, pada nafsuan pengen cepet2 berangkat seh, hehe. OK, mulai jalan mulai juga foto2 narsis kami. Ceritanya dikit2 aja ya. Gak muat soalnya kalo diceritain semuanya (nyesel gak ikut langsung). Perjalanan kami disambut oleh kawah belerang yang masih aktif. Ini beneran loh, 2 tahun yang lalu kan Gunung Papandayan meletus. Waktu kemaren Gunung Merapi erupsi, Gunung Papandayan juga siaga 1. Untung saja waktu itu cuaca cukup cerah (meski matahari masih aja gak keliatan) sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Fyi, kalo hujan

naik naik ke puncak gunung

biasanya pendakian mendekati kawah dilarang. Biasanya aku menjauh dari yang namanya kawah belerang, karena gak kuat kalo lama2. Ini pertama kalinya aku melihat kawah belerang langsung dari jarak yang sangat dekat. Air yang bergelembung, batu2an belerang, kepulan asap yang menimbulkan suara yang mendesis, dll. Khawatir juga ntar kalo aku tiba2 pusing atau mual, tapi untungnya cuma mata yang pedih. Disarankan memakai masker yang dibasahi dengan air saat melewati kawah belerang biar gak terlalu banyak menghirup gas belerang kali. Jangan lupa juga pake kacamata, beneran perih saat di sekitar kawah itu. Oya, selain gas belerang, keadaan di sekitar kawah juga tandus, kering dan gersang. Hanya batu2an yang menjulang tinggi dan berserakan tak beraturan. Gak ada satupun pohon yang tumbuh di area itu, paling cuma area di bawahnya yang masih aman dari semburan gas belerang. Lumayan lama juga perjalanan di sekitar kawah belerang itu. Jalannya bener2 padang yang gak datar, haha. Tingkat kesesatan 90% kalo aku disuruh naik sendirian dan lalu balik lagi, nyasar sih udah pasti (aku kan bingung arahnya parah). Beruntung kami bertemu dengan beberapa penduduk lokal yang bersedia mengantar kami dan memberi beberapa petunjuk untuk perjalanan selanjutnya. Walaupun gak sampai puncak, tapi setidaknya mereka mengantar kami sampai tempat yang “sudah ada petunjuk untuk diingat” selain batu. Next trip, emang bener bukan lagi padang yang tidak datar, tapi jalurnya ajib bener dah. Naik dan turun yang lumayan ekstrim lagi, 50derajat lebih lah (pasti sukses bikin cewek2 penggila dandan di salon bersiul-siul, hkhkhk). Sedikit kasian untuk pasukan sandal jepit baru (Ode dan Dikky) soalnya medannya cukup licin. Siapa gitu bilang,”kok jalannya gak ada rata2nya sih?” dan ada yang menjawab “rata2nya kan miu”. Alamak………..naik gunung juga masih mikirin miu2an (fyi, dalam ilmu statistika/matematika miu itu berarti rata2 untuk populasi). Kata2 penyemangat kami adalah nasi goreng. Atau TAHAN (kata2 yang sering diusapkan di JA). Malah ada yang matkul inti, teriak MPC (metode penarikan contoh), STATMAT (statistika matematika), METSAT (metode statistika) …haha…stress :). Karena jalur pintas yang seharusnya bisa kami lewati longsor, terpaksalah kami berputar arah. Eh, percaya gak. Di jalur yang kayak gini pun ada juga orang yang naik sepeda gunung. Salut deh. Kami bawa badan aja susah, haha.

09.30

1,5 berjalan di medan yang lumayan kayak gitu plus bawa tas carrier yang lumayan berat juga (kecuali Genzy) membuat kami bersepuluh lapar. Well, buka logistic. Tuing tuing tuing………..mie instan. Loh loh loh….ternyata mie instannya banyak amat yak?! OK lah, sok atuh dimasak, mau mie rebus mau mie gorreng masukin aja lah semuanya. Apapun rasanya semuanya enak. 10 mie instan bener2 kerasa kayak makan 3 sendok deh -.-‘. Gila aja yang cowok makannya cepet amat. Beragam gaya lagi, mulai dari sepiring berdua atau bertiga atau berempat, makan langsung dari misting (panci) atau yang parah pake gelas pinjeman orang lagi. Hahahaha…..seru2an deh. Konyol. Mie instan aja gak cukup, langsung sikat roti. Haha…setelah udah gak begitu lapar lagi, kami melanjutkan perjalanan. Next trip=pondok salada.

Ekspedisi Papandayan #1


Mau sedikit cerita ah tentang pengalamanku beberapa hari yang lalu. Sekedar catatan perjalanan, sudah lama gak nulis. Anggap saja sebagai oleh2 dariku, hehehe…

Dedicated for angkatan 51 STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta). Kejadian ini terjadi pada tanggal 31 Desember 2010-01 Januari 2011.

17.00

Rencana awal yang ikut pendakian ini adalah 10 orang yang terdiri dari 8 cowok dan 2 cewek. Kami berkumpul di depan kampus kami tercinta, di Jalan Otista Raya, Jakarta Timur. Yang datang jam segitu baru Fajar, Aziz, Delly, Ode, Ilham, Qurrata dan aku. Baru kemudian Maul dan Dikky, yang terakhir Genzy karena dia ada kuliah sesi 4 (fyi, kuliah sesi 4 berakhir jam 18.15). Bener2 ajib deh yang terakhir ini, mentang2 badannya kecil bawa barangnya juga dikit. Seperti orang mau pindah tidur, bukan naik gunung, haha. Dalam hati aku tertawa senang, ini dia calon korban yang disuruh-suruh bawa barang-barang kelompok, kan barang-barang pribadinya dikit. Dan ini terbukti loh (hahaha…piss Gen ^^v). Dari kami bersepuluh, kayaknya cuma Ilham deh yang tampilannya udah beneran mau mendaki gunung, mulai dari carrier sampai sepatu gunung. Bagus bagus bagus…

19.00

Berangkat dari kampus. Mungkin karena tahun baru, halte busway yang biasanya baru tutup jam 10 malem, jam segitu dah tutup. Well, rencana awal naik busway dari shelter busway bidara cina jurusan Kp.Melayu-Kp.Rambutan pindah haluan ke angkot metromini 06 jurusan Pasar Rebo. Alamak…jalanan macet parah!!! Jarak Otista-Pasar Rebo yang biasanya bisa ditempuh kira2 setengah jam naek angkot jadi 2,5 jam. Hebat!!!! Kami dibagi 2 kelompok. Kloter 1:aku, Maul, Aziz, Fajar dan Ode satu angkot sampai Pasar Rebo. Kloter 2:Qura, Delly, Genzy, Dikky dan Ilham mengalami sedikit tragedi konyol, diusir sopir angkot dari angkot yang mereka tumpangi gara2 si sopir ngambek angkotnya kejebak macet dan pengen pulang (ini katanya Delly loh). Turunlah mereka berlima di depan Carrefour, lalu mereka jalan kaki melewati pasar ikan. Hore…ternyata setelah pasar ikan udah gak macet lagi. karena jarak ke Pasar Rebo masih lumayan jauh, mereka naik angkot lagi deh. Di lokasi yang sama, wajah2 di kloter 1 yang semula sudah sepet gara2 macet, jadi berbinar-binar lagi wajahnya setelah angkot berjalan normal. Tujuan utama mengejar sunrise pun masih ada, meski cuma 50%.

21.30

saat2 menunggu bus ke Garut

Setelah 2,5 jam yang menyiksa, berkumpullah kami bersepuluh di Pasar Rebo. Serasa jadi backpacker beneran, nungguin bus jurusan Jakarta-Garut di pinggir jalan kayak anak hilang, hoho. Semoga dapet yang ekonomi AC-lah, biar bisa tidur di bus. Dan doaku terkabul. Setengah jam kemudian kami mendapat bus jurusan Garut, ekonomi AC. Sipp lah, langsung cabut 😀 . Qura di depanku, Delly dan Fajar di belakangku, Aziz dan Ode dibelakangnya lagi dan 3 orang yang lain (Dikky, Ilham dan Genzy) duduk dengan posisi agak menyedihkan di pojok paling belakang. Wow, great!

23.45

Sepertinya kami memang belum bisa say good bye sama yang namanya macet deh. Di jalan tol pun macet lagi, haduh!! OK, mari lanjutkan tidur. Cek personel, lengkap. Lanjut tidur dengan harapan melihat sunrise besok pagi mencapai limit mendekati 0. Hoahm…..

01.00

kapan lagi bisa duduk di jalan tol kayak gini?

Terbangun dari tidur karena sms tahun baru dari fans2 yang ternyata udah bejibun, biasalah artis (hahaha). Eh, udah pergantian tahun ya? Kok aku gak sadar, kebo amat nih tidurnya -.-“. Lihat kembang apai udah gak ada, adem ayem aja tuh (padahal katanya rame loh). Lihat jalan kanan-kiri udah gak macet. Eh, tunggu. Kok busnya masih berhenti, ada apakah gerangan? Iseng aku tanya penumpang sampingku, busnya mogok neng. mantap!! Jam segini masih di tol itu adalah tanda mustahilnya kami bisa melihat sunrise di puncak gunung. Well, ganti tujuan utama, mengejar sunset. Setelah tengok kanan-kiri sambil cek personel, yang tersisa cuma aku, Qura dan 3 makhluk menyedihkan di pojokan. Yang lain mungkin pada turun, pikirku. Beberapa saat kemudian, masih dalam keadaan setengah sadar, ada yang mendorong bus. Berusaha membuka mata dan mengumpulkan nyawa, oh…ternyata emang beneran didorong oleh para penumpang. Voilla…mesin hidup!!! Para penumpang yang tadi sudah mendorong bus sudah mulai masuk. Cek personel lagi. Loh, mana Maul? Ketinggalan bus ternyata. Sayang sekali, aku masih belum hidup 100%. Lupa-lupa inget gimana nasibnya si Maul bisa sampai ke dalam bus lagi. Berlari kuch-kuch hotahe kah? Atau pasrah melambaikan tangan? Tanyakan langsung pada orangnya 😛

02.30

Setelah didorong, mesin hidup, lalu mati lagi dan sempat diderek, ternyata pak sopir nyerah. Semua penumpang disuruh oper, opernya ke bus ekonomi non AC lagi, walah walah. Yah…pindah pindah pindah. Kenapa gak dari tadi ya?! Hm…oya, disini aku baru pertama kali menemukan orang berjualan buah di bus (di tempatku gak ada penjual model ginian). Penjual jeruk dan penjual sawo. Kalo diperhatikan, lucu juga mereka. Mulai dari 10rbu dapat 7 sawo sampai 10rb dapet 25 sawo (atau berapa ya? Lupa aku). Penjual jeruk gak mau kalah. Bilang jeruknya amis-amis. Hah?? Aku jadi beneran hidup dan mikir, kok amis sih? Emang diapain jeruknya? Dikasih ikan? Atau daging? Wah, jeruknya ajaib bener nih, haha. Baru kemudian aku tahu, amis dalam bahasa sunda itu artinya manis, kalau bahasa jawa amis itu artinya anyir. Lumayan terganggu juga dengan penjual sawo dan penjual jeruk yang ternyata tipe2 pekerja keras menjual dagangannya, aku pura2 tidur pun ditawarin. Udah lah, enjoy it. Toh, bus ini juga yang membawa kami bersepuluh sampai Garut. Have fun, guys.

05.20

Setelah perjalanan yang lamanya melebihi waktu pulang kampungku dari Jakarta, sampailah kami di terminal Guntur, Garut. Solat subuh sambil istirahat sebentar di masjid, sambil sarapan roti yang rupanya tidak cukup besar untuk mengganjal perut langsingku ini. Maunya sih sarapan pake nasi, karena gak ada minum susu pun jadi. Hehe…