Masih


Pagi masih menemuiku

Syukurlah, walau kemarin sempat diam

Diam, karena suara2 itu terlalu bising

Berlomba mereka melepas kata

Pada bibir setengah isi

Menuju hati setengah kosong

 

Aku tahu kau benar

Mungkin cerdas?

Yah.. tapi harusnya hawamu mewangi,kan?

Atau seperti angin sepoi-sepoi yang membelai lembut

Bukan seperti ombak yang menghantam

Bukankah cerdas?

 

Lalu, hari ini pagi masih bercerita

Tentang episode yang masih bersambung

Bersambung untuk ku isi lagi setengahnya

Mengisi hati dengan hati

Bukan dengan bisingmu

Tapi dengan aku.

Jakarta,21 November 2011

Seperti Ini, Kita…


Kita saling memandang, seperti ini

membiarkan rasa mengalir layaknya dalam nadi

meresapkan diri dalam suka cita tersembunyi

 

Kita…

terenyuh dalam sapaan kata sederhana

kita yakin itu cinta

dan tak perlu kata tuk merumuskannya

 

Cinta ini saling berbalas

walau terbingkai dalam tingkah biasa

kita akan tetap seperti ini kan?

karena bukan waktunya untuk bicara

bukan waktunya tuk saling berkata

 

Itu cinta…

kita…

buat kita biasa…

seperti itu cinta…

kita…

rangkaian cerita untuk kita

kau, aku…

 

Cinta ini bukan hanya satu sisi

kita…

sisiku dan sisimu…

 

Walau hanya begini,

dengan cara ini,

seperti ini,

kita telah berhasil mengungkap cinta

seperti ini,

kita…

telah tahu, kita memang saling cinta

Jakarta, 13 November 2011

Catatan Akhir Sekolah


Aku berjalan lunglai memasuki rumah. Sepi. Bapak ibu masih di jalan.

Ku lepas seragam putih biruku. Lalu ku gantung di tempat biasa.

Aku mengambil kertas dan pulpen dari dalam tas sekolah. Aku menuliskan sesuatu. Tanpa ragu, aku menempelkan kertas itu di baju seragamku.

Lalu, aku gulung sprei lusuh. Aku naik ke kursi dan aku ikat kuat sprei ke kayu di langit-langit kamar.

Perlahan aku lilitkan leherku di sprei itu. Kata-kata pak guru tadi begitu menusuk.

Untuk yang terakhir kali, aku pandangi tulisan di seragamku. HARGA SEKOLAH = RP 2.000.000

Mantap aku menjejakkan kursi pijakanku. Selamat tinggal.

Barangkali Cinta


Barangkali cinta

Jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu

dan engkau beriak karenanya

darahku dan darahmu terkunci dalam nadi yang berbeda

Namun berpadu dalam badai yang sama

Barangkali cinta

Jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku

dan aku terbakar karenanya

Napasmu dan napasku bangkit dari rongga dada yang berbeda

Namun lebur dalam bara yang satu

Barangkali cinta

Jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu

dan engkau memahamiku seketika

Kulitmu dan kulitku

membalut dua tubuh yang berbeda

Namun berbagi bahasa yang serupa

Barangkali cinta

Jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa

dan aku dapati rumah yang ku cari

Matamu dan mataku

tersimpan dalam kelopak yang terpisah

Namun bertemu di jalan setapak yang searah

Barangkali cinta

Karena darahku, napasku, kulitku, dan tatap mataku

Kehilangan semua makna dan gunanya

Jika tak ada engkau di seberang sana

Barangkali cinta

Karena darahmu, napasmu, kulitmu dan tatap matamu

Kehilangan semua perjalanan dan tujuan

Jika tak ada aku di seberang sini

Pastilah cinta

Yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan

Untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu

Dan menjembatani semuanya

Demi memahami dirinya sendiri.

 

Madre

Dewi Lestari