Catatan Pengantin Baru Part #3


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini ūüėÄ

Sebenarnya, saya bisa dibilang cukup beruntung menjelang pernikahan saya berlangsung. Sebagai PNS yang belum genap 2 bulan diangkat menjadi PNS, hak saya untuk mendapatkan cuti alasan penting dengan alasan pernikahan pertama bisa saya dapatkan cukup banyak. Tau nggak berapa? Tadaaaaaa……saya dapat cuti selama lebih kurang 35 hari kerja, atau 52 hari biasa, atau sekitar hampir 2 bulan. Emejingggggg…….secara si abang hanya dapat cuti selama 10 hari kerja atau 2 minggu hari biasa,¬†no more. Itu sudah termasuk buat¬†honeymoon. Maka, terpujilah wahai ibu kepala kantor tempat saya bekerja yang memahami kegalauan hati calon pengantin (waktu itu) yang sedang pusing mikirin rancangan acara pernikahan dan juga¬†honeymoon. Hihihi…..

Tiket pesawat dari Tambolaka (Sumba Barat Daya) ke Jogja mah santai, tenang. Sudah dipesen jauh-jauh hari. Nah, saya akan cerita sedikit tentang perjalanan saya naik pesawat kali ini yang cukup mendebarkan. Perjalanan dari Tambolaka ke Denpasar lancar, meski waktu itu cuaca sering tidak mendukung tapi alhamdulillah waktu itu cuaca cerah-cerah aja. Drama terjadi ketika penerbangan dari Denpasar ke Jogja. Awalnya cuaca cerah ceria, sampai tibalah 30 menit menjelang mendarat cuaca mendadak buruk. Awalnya saya masih bisa nonton film dengan tenang. Sampai tanda disuruh mengenakan sabuk pengaman berbunyi pun saya masih tenang, seperti biasalah saya pikir. Tiba-tiba pesawat seperti jatuh, kemudian naik lagi, jatuh lagi lebih keras, naik merangkak lagi. Alamak…….hati saya habis, perut saya terasa seperti ketinggalan di bawah. Suara istighfar memenuhi pesawat, tangan saya panas dingin, sambil pandang-pandangan sama mbak-mbak di sebelah saya yang sama takutnya dengan saya. Pucat pasi, seriusan. Sepanjang perjalanan, cuaca masih buruk. Gila ini pikir saya, sampai Jogja pun demikian. Saya langsung bernafas lega setelah mendarat dengan sempurna dan keluar dari pesawat.¬†Feel freeeeeeee……

Drama naik pesawat sudah selesai, meski setelah itu trauma saya pas naik pesawat dengan kondisi buruk masih saja menghantui (nanti akan saya ceritakan di postingan selanjutnya). Selanjutnya, drama lain lagi : drama menjelang pernikahan.

Setelah saya pontang-panting¬†handle¬†urusan¬†tetek bengek¬†pernikahan dari jarak jauh, ternyata ada hal-hal yang hanya bisa saya kerjakan secara langsung tanpa perantara.¬†Seriously, capek lho. Jangan dikira cuma¬†handle¬†jarak jauh aja mah enteng, enggak. Mikir. Saya masih mikir ini pas apa enggak, ini cocok apa enggak, kira-kira gimana ya ntar hasilnya,¬†and so on. Dasarnya saya manusia¬†overthinking¬†sih ya, hahahaha….

Hal pertama dan utama yang saya kerjakan : fitting baju pengantin, baik yang untuk akad maupun resepsi. Saya kan sewa baju, saya kira ukurannya bisa all size gitu. Ternyata enggak saudara-saudara. Saya mencoba baju yang ukurannya memang all size, tapi nanti bisa dijahit kasar biar terlihat ngepas dibadan saya. Woalah, lha saya baru tau. Lalu, sepatu. Saya sempat khawatir. Kaki saya untuk ukuran perempuan cukup panjang. Ukuran 40-41, jarang ada yang muat dan nyaman untuk sendal selop pengantin. Dulu, pas jaman saya kecil kejadian soalnya. Saya jadi pendamping pengantin yang kecil-kecil itu dan gak ada sendal yang muat (untuk ukuran saya yang masih bocah waktu itu), jadilah saya pakai sendal orang dewasa. Lha terus sekarang setelah saya dewasa gini saya harus pake sendalnya siapa? Syukur alhamdulillah, MuA saya menyediakan sendal dengan ukuran yang sedikit hampir pas di kaki saya. Nggak pas banget, tapi juga nggak sempit banget. Mayan lah, kalo kata anak jaman sekarang. Punya abang? Sudah beres, beberapa minggu sebelum resepsi dilaksanakan si abang sudah fitting baju dan sandal beserta atribut yang lain. Waktu itu dia sekalian ada tugas dinas ke Jogja, mampir bentar lah ke Solo.

Fitting baju akad

Fitting baju akad

Baju resepsi kami berdua

Baju resepsi kami berdua

Kedua, seserahan. Biasanya seserahan dibelikan dari pihak laki-laki. Kali ini di tempat saya beda. Yang beli saya (pihak perempuan) dengan duitnya ya tetep dari si abang dong. Baik kan saya? Hoho….alasannya sih simpel aja. Keluarga abang dari jauh, kasihan kalo harus repot nambah-nambahin bagasi pesawat dengan seserahan dan bisa jadi seserahannya nggak sesuai dengan ukuran saya. Kalo nggak sesuai kan barangnya jadi mubadzir, ya kan? Jadi, saya bela-belain tuh beli seserahan di Solo dan sekitarnya. Mulai dari logam mulia sebagai mas kawin, seperangkat alat sholat sama Al-Qur’an sampai kosmetik yang sesuai dan pas di hati saya. Ceileeeeee…..

Logam mulia sebagai mas kawin

Logam mulia sebagai mas kawin

Yang pertama dan utama sebagai perempuan : kosmetik

Yang pertama dan utama sebagai perempuan : kosmetik

Ketiga. Ini nih yang bikin saya senewen sendiri. Mengkoordinir apa-apa saja yang sudah saya¬†handle¬†dari jarak jauh dulu. Mastiin tukang foto-nya jangan lupa, mastiin tukang rias-nya bisa datang¬†on time,¬†mastiin souvenir segera tiba, mastiin undangan nggak kurang, mastiin makanan enak apa enggak lhahhhhh , sampe mastiin si calon suami nggak lupa cara ngucapin ijab kabul nanti. Hahahahaha……

Drama selanjutnya adalah drama kekurangan undangan.¬†God,¬†saya dan keluarga¬†undersetimate¬†dengan jumlah tamu yang akan kami undang. Masih banyak ternyata kolega dan teman dekat kami yang kelupaan diundang. Jadilah si papa yang heboh minta cetak lagi undangan, nyuruh orang buat muter lagi, de el el. Sedih kan ūüė•

Kata mama saya sih, NGGAK ADA NIKAH TANPA DRAMA.

Jangan lupa amplopnya yaaaaa :p

Jangan lupa amplopnya yaaaaa :p

 

Lanjutan…..

Iklan

Catatan Pengantin Baru Part #2


Halo, postingan ini lanjutan dari sini ya ūüôā

Setelah sesi foto pre wedding selesai, maka saya dan si abang menentukan tanggal berapa kami nanti akan menikah. Kedua orang tua ngomong ini itu dan kami hanya diam mendengarkan sambil sesekali menanggapi, maka diputuskanlah kami akan menikah di Bulan Januari 2016 dengan pertimbangan kedua adik saya sedang tidak dalam bulan-bulan ujian. Voilaaaaaaaaaa……itu hari baik menurut kami berdua, padahal jaman sekarang masih banyak lho yang masih pakai hitung-hitungan orang Jawa (atau orang Minang juga ada hitung-hitungannya, saya nggak paham) yang menentukan hari baik itu berdasarkan tanggal lahir, letak rumah, dan ciri-ciri lain yang menurut saya tidak masuk akal. Satu lagi, hari baik itu menurut keluarga kami ya hari libur (Sabtu atau Minggu). Kenapa? Kalo hari-hari kerja kasian tamu yang berniat datang, jadi membolos atau mangkir kerja kan nggak enak :p.

Tanggal 16 Januari direncanakan akad akan dilaksanakan. Tanggal 17 Januari -esok harinya- resepsi sederhana digelar. Setelah fix tanggal, yang pertama kali kami lakukan adalah memilih lokasi resepsi. Resepsi aja sih, soalnya untuk akad akan kami laksanakan di rumah saya. Oiya, saya cerita ini di kondisi rumah saya aja ya. Yang di rumah abang -di batam sana- saya kurang tau gimana-gimana riwehnya, semua sudah di handle sama mama mertua sih.

Ada beberapa opsi tempat resepsi. Yang jelas bukan di rumah saya, secara saya masih berada di rumah dinas yang luas rumahnya terbatas. Well, pilihan pertama ada di gedung yang beneran murni nyewain gedung. Jadi ya bener-bener gedung, nggak ada katering dan dekor serta perlengkapan yang lain. Ada beberapa pilihan disini, tapi mama papa saya memutuskan untuk nggak ngambil. Alasannya, tentu saja nggak mau repot. Sebenarnya, ada keuntungan dari pemilihan gedung seperti ini. Dekorasi bisa kita tentukan sendiri, makanan juga bisa kita pilih sendiri, pun dengan hiburan. Tapi, dengan alasan efisiensi dan efektivitas waktu serta dana, kami memutuskan untuk menggunakan gedung yang sudah lengkap satu paket dengan hiburan, dekorasi, serta kateringnya. Kelemahannya mengambil satu paket gini, nggak lain dan nggak bukan kita harus mau dengan paket yang ada. Nggak bisa request mau dekor mewah ala-ala putri salju atau hiburan yang paham lagu-lagunya anak muda. Pffttttt……

Setekah acara pemilihan gedung beres, ada beberapa hal yang harus saya handle sendiri dari jarak jauh. Apa aja? Ini nih :

  • Make up untuk akad dan resepsi

     Masalah make up bagi saya susah-susah gampang. Kulit wajah saya sensitif, sekali salah make up akibatnya bisa panjang. Bintil-bintil kecil di wajah yang gatal sampai jerawat yang membeludak akan datang menghampiri. Saya memutuskan untuk menggukana MuA yang menangani saya pas foto pre wedding kemarin, namanya Mbak Iyum. Awal perkenalan kami nggak disnegaja. Jadi waktu itu saya sudah nemu tukang foto yang tepat, hanya saja saya belum nemu tukan make up yang bagus. Saya minta saran ke tukang fotonya, siapa MuA yang bagus di daerah Solo dan sekitarnya. Dikenalinlah saya sama mbak Iyum ini. Pas foto prewed, alhamdulillah cocok. Mama menyarankan buat nerusin aja pake jasa mbaknya. Ya saya OK aja sih, haha. Meski ada sedikit masalah ketika booking (karena pas acara resepsi si mbak sudah ada job lain, sehingga diganti kakaknya yang juga tukang rias), tapi over all saya sih baik-baik aja. Saya lebih memilih pinjam kebaya untuk akad dan resepsi dari MuA-nya, alasan pertama dan utama ya karena menghemat uang dan tenaga dong. Dipakainya sekali belinya pake duit jutaan, sayang bener. Kebutuhan yang lain masih banyak contohnya jalan-jalan.

  • Dokumentasi

     Kasusnya sama, saya nggak mau ribet nyari dimana lagi harus mencari tukang foto yang bagus dan sesuai dengan selera saya. Maka, diputuskanlah saya memakai jasa tukang foto yang sama dengan tukang foto ketika pre wedding kemarin. Alhamdulillah si mas-nya belum ada job, jadi leluasa deh bookingnya. Saya ambil foto yang reguler, sama video yang model wedding clip. Sip, beres.

  • Baju orang tua dan saudara kandung

¬†¬†¬†¬† Ini nih, yang kecil-kecil tapi bikin ribet dan perlu mikir. Kalo yang untuk bapak-bapak sih masih oke aja ya pake baju yang netral, misal jas dan beskap yang warnanya nggak ngejreng. Nah, yang emak-emak yang rempong. Awalnya saya kan nggak begitu mikirin mau pake kebaya warna apa, terserahlah. Hanya saja jangan yang bikin kulit saya jadi terlihat hitam, haha. Saya sih ikut aja saran mama yang pake kebaya warna hijau mint dan orange. Semi pastel dan cantik. Lalu, baju emak-emak menyesuaikan. Dan baju dua adik saya juga warnanya senada. Untunglah si abang anak tunggal, jadi dia nggak rempong nyariin baju buat saudaranya. Hoho….

Kebaya Resepsi

Kebaya Resepsi

 

Kebaya Akad

Kebaya Akad

 

  • Souvenir

     Toko souvenir di Solo sebenarnya banyak sih, hanya saja saya yang lagi nggak ada di rumah ini kan jadi susah dong kalo harus nyari lagi. Terpujilah wahai para penjual souvenir online yang sudah banyak bertebaran di instagram, dan terpercaya. Seirus lho, saya ambil souvenir dari penjual di instagram dan barangnya bagus, free ongkir pula. Saya pesan yang sederhana aja sih, kaca rias kecil sama dompet batik besar.

  • Undangan

¬†¬†¬†¬† Oke, saya termasuk golongan sakit hati untuk urusan undangan. Hiks, sedih bener mau bahas. Jadi ceritanya kan saya udah searching sana sini tuh terkait undangan, udah nemu undangan yang minimalis menggemaskan bin imut-imut. Eh, tetiba inget kalo ada saudara jauh yang bisa bikin undangan. Maka, pesanlah saya ke tempat saudara jauh tersebut. Respon awalnya nggak ngenaki, sok jutek gimana gitu. Terlebih pas saya habis kasih contoh begini lho model undangan yang saya mau. Seberapapun saya bayar kok. Eh pas hasilnya keluar, saya kecewa berat. Undangan terkesan asal-asalan dan nggak menarik sama sekali. RRRRRRRRRRRrrrrrrrrrrrr……….Pengalaman yang bisa dipetik dari kasus saya ini, lebih baik milih tempat percetakan yang terkenal deh, kualitasnya bagus dan pelyanannya ramah ketimbang milih punya saudara sendiri yang jauh dari harapan. Bukannya nggak memberdayakan saudara, tapi kan sebagai konsumen we deserve the best dong ya.

Sekian uneg-uneg dari pengantin baru yang kayaknya udah cukup panjang ceritanya, haha….

see you later

Lanjutan……