Catatan Pengantin Baru Part #1


Menghadapi pernikahan. Rentetan acaranya dimulai dari lamaran-mempersiapkan acara pernikahan baik dari segi mental fisik dan materi-acara pernikahan-pasca acara pernikahan. Panjang ya, mau nyaingin gerbong kereta panjangnya. Tidak seorang pun mau dong acara yang hanya berlaku sekali seumur hidup ini banyak cacatnya di sana sini. Well,  walaupun sempurna nggak sempurna suatu acara pernikahan pasti ada juga yang ngomongin di belakang. Hayo ngaku siapa yang sering bisik-bisik di belakang pengantin? Hihihi….

Pertama, acara lamaran. Kalo saya pribadi sih, acara lamaran itu masuk kategori sekunder dalam segi finansial dan perayaan. Lamaran sebagai tanda kalau seorang laki-laki benar-benar serius ingin membina rumah tangga dengan seorang perempuan dengan cara datang baik-baik ke keluarga pihak perempuan. Itu definisi menurut saya sendiri lho. Sebaiknya, setelah lamaran itu secepatnya menyusun acara pernikahan. Kalo pihak laki-laki sama perempuan berdekatan tempat tinggalnya lebih enak, lebih cepat lebih baik bukan. Berbeda dengan kondisi saya dan abang yang harus terpisah pulau, perlu strategi untuk menyusun acara pernikahan kami. Fyi, ada lho laki-laki yang minggat padahal udah melamar pacarnya dengan alasan macam-macam. Nggak banyak memang, tapi laki-laki bencong macam ini ada. Sueerrrrr….

Lanjut ke acara lamaran. Saya dan abang sama-sama paham kalo kondisi kami berdua pas-pasan. Kami berdua pun sepakat, acara lamaran kita ini nggak usah lah digelar dengan acara yang mewah dan mengundang banyak orang. Jadi, ketika acara lamaran kita berdua hanya mengundang beberapa tetangga dekat rumah dan saudara-saudara dekat. Hidangan yang disediakan pun juga sederhana. Selain alasan tempat tinggal kami yang berjauhan, waktu yang tersedia untuk saya dan abang sangat terbatas. Maklum, kami berdua hanya buruh negara bergaji pas-pasan. Hehe….

Satu hal yang tidak boleh lepas (menurut saya) untuk acara lamaran adalah tukar cincin. Kami lamaran di tanggal 20 Juli 2015, dan kami membeli cincin sekitar Bulan April 2015 ketika saya sedang mengikuti diklat prajabatan di Jakarta. Lama ya? Memang, LDR butuh strategi men 😉

Selepas acara lamaran, kami memutuskan untuk ambil foto pre wedding. Masih dalam konsep yang sederhana, kami hanya melakukan foto pre wedding indoor. Sebelumnya kami memang sudah menghubungi pihak fotografer nya sih lewat whatsapp. Oiya, kami kenal fotografernya sama tau bagaimana portofolio mereka dari instagram. Terima kasih teknologi, hidup kami jadi lebih mudah 🙂

Cerita ini sudah saya bahas sebelumnya disini. Nantikan kelanjutan kisah kami 🙂

ps : kali ini saya nggak nampilin foto, secara psotingan kali ini memperhalus postingan saya sebelumnya. Hehe…..salam cinta dan damai dari daerah tengah Indonesia yang masih terbelakang dan tertinggal.

I come back……


So sorry, long time gak nongol nulis di blog 😀 *ketawa nyengir nggak berdosa*

Bulan Oktober November masih disibukkan dengan pekerjaan akhir tahun kantor yang entah kapan habisnya, namun akhirnya habis juga. Bahagia?? Tentu saja dong. Disamping kegiatannya menguras tenaga dan pikiran juga kesehatan jiwa dan raga, saya juga masih harus mempersiapkan pernikahan saya di Bulan Januari. Jreng jrengggggggg…..

Bulan Desember, kegiatan kantor sudah mereda. Terus malah jadi bingung mau kerja apaan. Pagi berangkat kantor, siang pulang makan siang, kalo sempet ya tidur bentar, sore pulang kantor. Banyak sih yang cuti akhir tahun, baik yang merayakan natal maupun yang bukan. Saya? Harus puas menjaga kantor. Secara saya sudah di acc mengajukan cuti alasan penting selama 35 hari kerja di Bulan Januari dan Februari ntar. Merdekaaaaaaa……

Memasuki tahun yang baru, hati saya berbunga-bunga indah. Tentu saja, sebentar lagi akhirnya saya menikah dengan abang saya. Masuk kerja di Bulan Januari 2016 hanya 5 hari dan setelah itu cusssss pulang kampung. Ada sih drama dikit-dikit di kantor, ya tapi namanya juga orang lagi bahagia ya hal-hal semacam itu saya anggap kentut di tengah gurun sahara aja. Wahahaha…..

8 Januari 2016. Saya pulang kampung. Bahagia yang amat sangat. Sesampai di rumah, to do list yang ada di kepala harus segera dikerjakan. Mulai dari foto dan video, souvenir nikah, menghadapi orang-orang dekat yang luput diundang, make up untuk acara akad nikah hingga resepsi, dan segala macamnya. Keadaan diperumit dengan kondisi saya dan abang yang LDR selama 14 bulan, jadi kami menerapkan beberapa tips dan trik untuk mempersiapkan pernikahan kami yang sekali seumur hidup. Salah satunya adalah dengan mengambil jarak sekitar 6 bulan dari acara lamaran hingga resepsi dan kami gunakan untuk mengorganisir acara pernikahan kami dari jarak jauh. Beruntung sekarang teknologi sudah canggih. Saya dan abang memanfaatkan aplikasi chatting whatsapp, email, instagram and many more.

Yang selalu ada di otak saya selain rencana pernikahan ini tentu saja adalah agenda honeymoon kami berdua. Kemana????? Rahasiaaaaaa. Eh tapi kan udah lewat ya, hihihi…..tunggu postingan selanjutnya 😉