Yakin Pilihanmu Ada di Perguruan Tinggi Kedinasan? (Part 2)


Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Silahkan cek di sini.

Poin kedua, dapat uang saku per bulan. Ini juga benar. Tahun 2009, saya mendapatkan sekitar 400 ribu per bulan (atau 450 ribu ya? Saya lupa). Tahun 2010, ada kenaikan menjadi 500 ribu per bulan hingga pertengahan tahun dan di akhir tahun menjadi 850 ribu per bulan. Sampai saya lulus di tahun 2013, uang saku yang saya dapatkan masih tetap sama. Terakhir saya dengar, mulai 2015 ini uang saku yang diterima mahasiswa sebesar 1 juta.

Mari kita berhitung. Saya dulu kos di awal kuliah (sekamar berdua) sekitar 250 ribu per bulan, lalu sempat ngontrak rumah dengan teman-teman dengan biaya sebesar 2,5 juta per tahun (anggaplah sekitar 200ribu per bulan), terakhir saya kos sekamar sendiri dengan biaya 400ribu per bulan. Saya makan sehari (plus jajan) sekitar 20-30 ribu, sebulan anggaplah 600-900 ribu. Pulsa untuk internet dan pulsa hp biasa sekitar 100 ribu. Kebutuhan lain-lain (deterjen, sabun mandi, pasta gigi, shampo, bedak, parfum, pembalut wanita, dll) sekitar 100-150 ribu per bulan. Jika dikalkulasikan, lebih kurang 1 juta hingga 1,5 juta per bulan saya habiskan untuk biaya hidup. Itu sudah termasuk hidup hemat ya, tanpa hedon ke mall atau ke pusat grosir yang murah meriah yang kadangkala menghinggapi benak para mahasiswa yang suntuk dengan kuliah. Hahaha…

Eh, bukunya gimana? Tenang, di perpustakaan ada (meski tidak seberapa). Kalo kamu rajin ke perpustakaan, bisa pinjam kok. Kalo kamu nggak rajin, ya beli atau pinjam kakak tingkat. Saya termasuk golongan orang yang angin-anginan ke perpustakaan, tapi juga malas pinjam ke kakak tingkat. Biasanya, saya beli buku kuliah untuk mata kuliah inti saja atau yang saya anggap penting biar bukunya bisa saya coret-coret sesuka hati. Kalo untuk pelajaran yang kata kakak tingkat nggak penting-penting amat, ya saya pinjem aja sih. Sayang duit, hehe…

Pertanyaannya, cukupkah uang saku yang saya dapat? Dengan sedih saya jawab, tentu saja tidak. Di awal kuliah saya masih rutin dikirimin uang orang tua. Sekedarnya saja sih, saya nggak menyebut harus dikirimi berapa karena saya tahu bagaimana kondisi keuangan keluarga saya. Kalo cukup, ya alhamdulillah. Kalo kurang, yang saya hemat ya di makan dan jajan. Lebih? Jarang pake banget J. Mulai dari situlah saya putar otak how to survive dan bisa jalan-jalan cantik seperti teman-teman saya yang lain.

Saya coba-coba untuk bekerja sampingan sebagai guru les privat. Cukup lama saya jalani pekerjaan sampingan menjadi guru les privat dari rumah ke rumah, mulai dari tahun 2010 akhir hingga 2014 akhir. Murid saya beragam, mulai dari kelas 3 SD hingga 12 SMA, dari sekolah negeri hingga sekolah swasta, dari sekolah nasional hingga sekolah bilingual dan bahkan sekolah internasional. Bayarannya per pertemuan pun beragam, mulai dari 60 ribu per pertemuan hingga 250 ribu per pertemuan. Mulai saat itu, kondisi finansial saya bisa dikatakan cukup (terkadang juga lebih sedikit, biasanya saya tabung) untuk tidak lagi meminta uang kiriman dari orang tua.

Dari pekerjaan sampingan saya ini, ada banyak hal yang bisa saya pelajari. Saya jadi tahu tentang bagaimana penyampaian ilmu di berbagai sekolah. Kalo di sekolah nasional, ya nggak jauh beda dengan apa yang saya alami dulu. Kalo di sekolah fullday, ada banyak kegiatan tambahan di sekolah selain belajar (misalnya makan siang gratis dan ibadah bersama). Lain lagi dengan sekolah internasional. Selain bahasanya ada tiga macem (di tempat sekolah adek les saya dulu, bahasa pertamanya bahasa Inggris, kedua bahasa China dan ketiga baru bahasa Indonesia). Harga jajanan ditempat mereka juga mahal, sebanding lah sama uang bayaran mereka per semester yang nyebut berapa puluh USD. Fasilitas dan perhatian guru di sekolah internasional pun sangat memadai, sangat jauh berbeda dengan yang saya alami di jenjang sekolah yang sama. Ya benerlah apa kata pepatah, ada uang ada barang….eh salah, ada uang ada mutu. Tapi, nggak ada jaminan kok sekolah mahal itu pasti bikin pinter. Trust me.

Dari pekerjaan sampingan ini pulalah saya bisa mengurangi salah satu kelemahan saya : buta arah. Ketika ada murid les baru, mau nggak mau saya harus cari sendiri dimana rumah mereka, kesananya harus naik apa aja, dan ongkosnya berapa. Saya nggak ada motor, jadi andalan utama saya untuk kemana-mana ya naik bus atau angkot. Mau nggak mau saya hapal kalo ke sana naik apa aja, turun dimana, bayar berapa. Wakwak….udah kayak tour guide yak. Karena seringnya saya naik kendaraan umum inilah, awareness saya tentang berbagai modus kejahatan di kendaraan umum meningkat. Beberapa kali saya melihat kejahatan di depan mata saya, bahkan saya sendiri pun hampir kena. Saya kapok? Enggak tuh. Hahaha…

Terakhir, dari pekerjaan sampingan saya ini pulalah saya kenal dengan dunia orang lain di tempat saya merantau. Mulai dari pembantu di tempat adek les saya yang ramah dan suka minjemin saya mukena plus sajadah kalo waktu sholat tiba, satpam rumah yang kadang ngasih tebengan motor sampai ke jalan raya tempat bus lewat, kepala pembantu adek les saya yang baik hati tapi kerasnya bukan main menghadapi adek les saya yang bandel, hingga beragam profesi orang tua adek les saya mulai dari pegawai kantoran biasa, kontraktor, petinggi di salah satu BUMN pusat, juragan kelapa sawit, juragan travel umroh, juragan batu bara di Kalimantan sana sampai CEO salah satu produsen minuman terkemuka. Fyi, mereka rata-rata berbeda suku dan agama dengan saya loh. Meski demikian, nggak ada masalah tuh selama ini. Kalau datang waktunya sholat, ya saya minta ijin sholat di tempat yang bersih (biasanya di kamar pembantunya atau di ruang khusus yang bebas dari najis). Mereka baik-baik, ramah, care dengan saya, bahkan sampai sekarang saya sudah nggak ngajar pun masih keep in touch.

Selain saya, banyak kok teman saya (yang juga mahasiswa di perguruang tinggi kedinasan) yang juga bekerja sampingan sebagai guru les privat. Ada yang memilih dekat-dekat saja dengan kampus biar transportasinya gampang, ada yang milih agak jauh tapi bayarannya gede. Hehe… Hal lain yang banyak dilakukan oleh mahasiswa perguruan tinggi kedinasan selain kuliah (untuk menyambung hidup atau cuma sekedar tambah uang jajan) diantaranya adalah berjualan secara online. Macam-macam jenis jualannya, mulai dari jasa hingga barang. Mulai dari jasa ngeprint tugas sampai jasa servis leptop. Mulai dari jualan pulsa internet sampai jualan jasa download yang ukuran filenya gede-gede. Mulai dari jualan makanan ringan hingga jualan makanan berat. Mulai dari jualan jilbab hingga jualan mukena. Mulai dari jualan baju korea hingga jualan kaos distro. Kreatif? Unik? Atau malah memprihatinkan? This is our way to get more money, entah itu hanya untuk tambahan kas kontrakan, tambahan buat jajan-jajan cantik, atau benar-benar untuk menyambung hidup.

Dari cerita di atas, jangan memukul rata bahwa semua mahasiswa perguruan tinggi kedinasan itu miskin semua atau ‘kreatif’ cari duit ya. Ada juga kok yang masih benar-benar murni sebagai mahasiswa yang tugasnya hanya berangkat kuliah-belajar-pulang-dan jalan-jalan. Ada yang uang saku dari kampus hanya ditabung atau hanya untuk jajan-jajan saja. Ada yang orang tuanya rutin mengirim uang yang cukup (bahkan ada yang berlebih) untuk kebutuhan hidupnya selama di tanah rantau. Berbahagialah mereka yang masuk kategori di paragraf ini, tugasnya di tanah rantau hanya kuliah dan belajar. Hehe…

Sudah kepanjangan tulisan saya kali ini? OK, lanjut di postingan ini ya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s