Belum Ada Judul #2


Terkadang ketika saya sudah terlalu penat dengan berbagai himpitan, saya lupa bahwa saya masih punya satu sikap maut yang mematikan dan tidak terprediksi : DIAM.

DIAM bukan berarti saya setuju.

DIAM bukan berarti saya menolak.

DIAM bukan berarti saya tidak tahu.

DIAM bukan berarti saya tidak berpikir.

DIAM bukan berarti saya tenang.

DIAM bukan berarti saya apatis.

DIAM bukan berarti saya bodoh.

DIAM bukan berarti saya mengabaikan.

DIAM bukan berarti saya pengecut.

DIAM bukan berarti saya sakit jiwa.

Sekali lagi, saya DIAM karena saya sudah terlalu penat dengan berbagai himpitan. Sudah, itu saja.

DIAM itu puncak dari ketidakmengertian saya untuk bagaimana harus bertindak. Saya butuh waktu untuk sendiri.

Saya rasa semua orang juga pernah merasakan.

DIAM.

Jakarta,

diantara serpihan roti, tumpukan buku, serakan kertas dan gelas bekas minum beberapa bungkus kopi

Langit Sore, Aku Menyukaimu #2


Ketika aku bertemu dengan angin, dan dia dengan lembut menyapaku,”hai perempuan, sedang memikirkan apa kamu?”

Aku hanya tersenyum samar. Sambil mencabut rumput yang tumbuh dekat kakiku, aku menjawab,”menurutmu?”

Angin diam sebentar, berpikir mungkin. Sekelebat dia berpindah agak mendekat denganku,”jangan melamun, ini sudah petang. Kata orang tua tidak baik melamun di saat seperti ini.”

Aku tertawa. “Aku tidak sedang melamun. Hanya memikirkan sesuatu.”

Angin penasaran. “Memikirkan apa?”

Aku menengadah ke atas, mendapati buritan langit siang yang mulai berubah warnanya. “Memikirkan apa yang masih bisa aku pikirkan, dan memikirkan apa yang memikirkanku.”

“Bukan apa, tapi siapa. Benar begitu?” angin itu mencoba memasuki otakku.

“Ya, itu lebih tepatnya.”

“Apa kamu menyukai langit sore?” tanya angin lirih.

“Senja maksudmu?”

“Siapa lagi?”

“Iya. Mungkin jika ada perkumpulan atau organisasinya, akulah orang pertama yang mendaftar jadi anggotanya.” jawabku dengan bibir menyunggingkan senyum.

“Kenapa?”

‘”Aku selalu merindukannya sejak aku kecil. Seperti ada kehangatan yang menelusup ke hatiku saat senja datang. Senja itu selalu indah. Entah dimanapun aku berada, sekali lagi senja itu indah. Mungkin dia tidak mengerti aku karena banyak yang menyukainya. Tapi, aku selalu mengerti dia karena aku menyukainya.”

“Lalu, apa kamu juga menyukai fajar?”

“Tidak terlalu. Berbeda dengan senja yang selalu menghibur, fajar itu seperti alarm yang berkata ‘hei kalian manusia, bangun tidurlah. cepat cari makan agar tidak mati. bergegaslah. nanti kalian akan kehabisan’. Setelah itu, orang-orang kota seperti kesetanan dikejar waktu seharian.”

Aku dan angin lama terdiam. Kami berdua seolah menekuri alam pikiran masing-masing.

“Apa kamu juga menyukaiku?” sangat lirih angin berucap, nyaris tak terdengar oleh telingaku.

Aku memandangnya lekat-lekat. Ini lucu. Sangat lucu. Konyol. Pertanyaan bodoh. “Kamu mau tahu jawabanku?” aku berkata tidak kalah lirih.

“Kamu mendengar ya, perempuan?” angin kaget. Mungkin disangkanya aku terlalu asyik terlarut dalam pikiranku sendiri.

“Bagaimana aku bisa berkata seperti tadi jika aku tidak mendengar?”

“Terserah. Toh aku bukan senja yang kamu sukai secara fanatik itu.”

“Pertanyaan bodoh. Tak perlu jawaban pun sebenarnya kamu sudah tahu.”

“Sudah ku duga.” Aku mendapati ekspresi wajah datar dari angin.

“Kamu itu sepaket dengan senja. Barang substitusi, bukan barang komplementer. Kalian berdua, senja dan angin, itu substitusi sempurna.”

“Kenapa?”

Dan aku pun mulai kesal. Seperti berbicara dengan balita yang tak pernah puas saja. “Kamu selalu menyertai senja, kamu selalu menyertai fajar, kamu selalu menyertai siang, kamu selalu menyertai malam, semua-semua kamu sertai. Jadi, kamu lebih aku kenal dari senja. Kamu setiap saat, sedangkan senja hanya sesaat.”

“Lalu, apa maumu?”

“Tidak ada. Aku perempuan yang menyukai senja. Dan sekarang, aku juga menyukaimu.” Aku mengembangkan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.

“Dan kita berdua sama-sama ada hubungan dengan senja? Kamu menyukai senja, dan aku sebagai substitusinya? Haha…seperti cinta segitiga saja.”

“Bukan cinta segitiga. Cintaku bukan untukmu, bukan untuk senja.”

“Lalu?” Angin semakin menyelidik.

“DIA. Yang mempunyai aku, kamu, senja dan semua-semuanya.” Aku menengadahkan lagi wajahku, tegak lurus dengan langit senja. Menerawang. Mencoba menerobos dimensi lain dari jagad raya yang tak terlihat.

Angin tersenyum lebar. Mengikutiku, dia menengadah juga ke langit. “Kita sama, perempuan.”

Aku melihat, senja sedikit tersenyum. Tersipu seperti gadis belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Hanya sebentar saja, kemudian setelah itu dia tenggelam. Menyerahkan langit kepada malam.

“Aku pulang.”

Suatu petang di Jakarta,

terkurung dengan rutinitas yang membosankan

Ayah Juga Lupa


Membaca message di facebook yang sudah lumayan lama bersarang, dan menemukan obrolan menarik dengan salah seorang sahabat terbaik saya. Saya copas aja ya, semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

d:”Oi,Aq mau ngrim psan ini kmaren,tp g smpt,aq pnya pglan artikel yg dah ada 100thn yg llu d sbuah koran d eropa,,,kpan2 aq pngn kmu mmbcany,,”

s:”Ttg apa?”

3 hari kemudian, muncullah di message facebook saya.

d:”bacanya dihayati ya..rada panjang”

 

 

โ€œAYAH JUGA LUPAโ€

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah
tangan kecil merayap dibawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang
lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke
kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran
di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan
perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu. Ada
hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar
kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke
sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah
lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau
melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu.
Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja.
Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru
mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan
melambaikan tangan sambil berseru, โ€œSelamat jalan Ayah!โ€ dan Ayah
mengerutkan dahi, lalu menjawab โ€œTegakkan bahumu!โ€

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari
jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut,
memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus
kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk
pulang ke rumah. Kaus kaki mahal โ€” dan kalau kau yang harus membelinya,
kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran
seorang Ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang
perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa
terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar
karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. โ€œKau mau apa?โ€
semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas melompat ke
arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher dan mencium Ayah,
tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat,
kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang
bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan
kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa
takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah
lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca โ€” ini
adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti
Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu
banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari
tahun-tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati
mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit
luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur
masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada
masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu
dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan
mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau
terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan
bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan
tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata
tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata
ini seolah-olah sebuah ritual: โ€œDia cuma seorang anak kecil โ€” anak
lelaki kecil!

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat
Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam
tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau
masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah
meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

disadur dari buku psikologi populer

march 18, 2010

 

nb: sahabat saya itu juga sudah buat notes ini di facebooknya dan juga postingan tulisan ini di blog pribadinya. hehehe…copas nggak papa kan yak?? pasti ekspresi sahabat saya itu setelah membaca tulisan ini adalah……csenyum-senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala nggak jelas ๐Ÿ˜€. oya, judul buku nya Influence, karya Dale Carnegie (kalo gak salah sih tulisannya gini.

Cerita Antara Naga dan Kebo #1


Penting nggak penting…yang penting ngeblog :p

Kepala pusing setelah tadi tidur di jam yang salah (jam 5-6 sore). Dan sekarang mau belajar buat UTS mikroekonomi yang entah-kapan-UTS-nya, kepala sudah maen pusing aja.

OK. Perkenalkan mas saya yang ganteng kayak bocah, sok lucu, sok imut dan garing kalo ngelucu bernama Genzy Habibie, biasa dipanggil Genzy (yang lazim), Nzy, Nji, Gegen, Gendhut, Buncit, Cit, Ndhundhut (lima nama yang terakhir ini cuma saya yang manggil). Ehm…kali ini sekalian aja sebut namanya biar sekali-sekali nongol di blognya orang cantik, pasti langsung girang :). Orang Minang yang kulitnya lebih putih dari saya ini, hobinya (mungkin) cuma makan, dan sedikit ngutak-atik komputer yang merupakan istri keduanya. Lahir di Padang, tapi besar di Batam. Anak tunggal yang tidak punya kakak dan adik ( dan saya yang jadi adeknya ๐Ÿ˜€ ). Kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) angkatan 51 (sama lah ya dengan saya) di jurusan Komputasi Statistik.

Mas saya itu gimana ya?? yah seperti itulah orangnya. Rambut ikal, jidat lebar, badan nggak tinggi, kulit putih, gigi taring sebelah kiri keluar, dan berperut buncit kayak orang hamil 3 bulan. Orangnya kocak, susah serius, dan paling nyebelin adalah kalo dia sudah ngantuk (tanya apa dijawab apa, ngalor ngidul ).Tapi……saya nyaman dekat dengan dia. Mungkin karena sama-sama kayak bocah kali yak ๐Ÿ˜€

Kami nggak pernah sekelas. Dulu juga jarang ketemu. Dan….akrab aja nggak loh T.T

Pasti kalian pada bertanya-tanya, kok bisa jadian? Hahaha….ada deh ya. Kami dekat ketika tingkat 2 (semester 4) mau berakhir. Dekatnya juga cuma lewat dunia maya aja, ketemu juga jarang nyapa. Emang sih, pada dasarnya kan emang saya orangnya lugu, lucu dan pemalu :D. Eh, trus deket resminya kapan? ada deh yaaaaaaaa…….hanya untuk konsumsi pribadi, uuuuuu (gayanya kayak artis dimintain tanda tangan).

Entah sejak kapan, dia punya nama lain seperti NAGA. Alasannya pasti cuma satu, hobi makannya yang sering seporsi kuli. Namanya bisa jadi naga lapar, naga buncit, naga ngakak, naga apa lagi ya?? *mikir. Dan juga entah sejak kapan nama saya jadi ada embel-embelnya KEBO. Mentang-mentang hobi saya tidur dengan cantik dan anggun, jadi gitu ya manggilnya *manyun, pasang tampang polos kayak bayi ๐Ÿ˜

nih nih nih……pamer dikit ah. fotonya naga dan kebo waktu lagi akur ๐Ÿ˜€

kalo lagi galau level manula

Tampangnya me**m

Jidatnya lebar..........

Saya cantik dan mas saya .....

Tampangnya mas saya kayak bocah :p

Tuh kan bocah lagi :p

Dan dia lebih putih ๐Ÿ˜ฆ

Depan vs Belakang


Salah satu hal yang paling tidak saya sukai adalah ngomongin orang di belakang. Asalkan kamu tahu, itu jauh lebih bikin nyesek daripada ngomong langsng di depan.

Kamu pernah ngerasain yang kayak gini nggak? Misalkan saja nama anda itu A. “Eh, boleh ngomong sesuatu? Maaf ya kalo kamu tersinggung. Saya kalo lagi ngomong di forum jangan dipotong dulu ya, soalnya saya nanti bisa lupa mau ngomong apa. Lagipula, motong omongan orang di forum itu juga nggak sopan kan?”

Lalu, bandingkan dengan yang ini. Suatu ketika kamu sedang di suatu tempat. Misalkan saja di lift kampus ataupun kamar mandi, dimana orang mungkin tidak mengenali kamu. Ada orang bisik-bisik ngomongin kamu. “Tau nggak sih, si A itu cerewetnya ampun-ampunan deh ya. Masak kemaren gw waktu ngomong di rapat, dia maen serobot-serobotan aja gitu. Kayak nggak pernah ikut diskusi aja. Nggak sopan bener sih. Mana usulannya juga nggak mutu lagi”. Teman yang lain menanggapi, “Di kelas dia emang kelihatan vokal gitu juga kok. Tukang serobot juga. Kayaknya ntar cita-citanya jadi seroboters deh,hahaha…”.

Nah, bagaimana perasaan kamu jika ditempatkan pada posisi A? Pilih kasus yang pertama atau kedua?

Saya kembalikan ke pribadi masing-masing, Saya percaya, “ketahanan” setiap orang itu beda-beda,ย  begitu juga dengan tingkat kepekaannya.

Cara ngomong dan menyampaikan pendapat itu penting, sangat penting. Salah sedikit, mungkin akibatnya bisa fatal.

Yuk, kita jaga omongan kita. Selagi kita masih diberi nikmat sehat dan menghirup udara yang gratis ini.

Jika anda nggak pengen orang lain ngomongin anda di belakang, maka anda jangan juga ngomongin orang di belakang.

Mari kita terapkan pada diri kita masing-masing dulu ๐Ÿ™‚

*nb : contoh di atas hanya ilustrasi saja, bukan kejadian beneran. Maaf jika ada yang tersinggung.

Catatan Mahasiswi Kura-Kura #3


Sama seperti tulisan saya yang tengah malam tadi saya post, nggak seratus persen sama, tapi mirip lah ya.

Bangun pagi—lihat jam—jam 09.20. Bangun karena “diganggu” sms oleh makhluk hidup yang ganteng. Sms an sampe jam 12 siang lebih—masih dengan posisi sama seperti ketika membuka mata untuk melihat dunia di pagi ini : ngulet dengan indah di kasur sambil mlungker dengan anggunnya di dalam selimut ijo hore. Beranjak dari kasur karena lapar. Buka gudang makanan, masak mie instan dan minum susu coklat panas. Mandi pagi yang sangat kesiangan biar bisa two in one mandinya biar seger. Nyuci baju dikit, begitu sampe di tempat jemuran terbengong-bengong. Mau ditaruh mana calon jemuran saya ini? Semua tali jemuran sudah full dengan aneka macam jemuran manusia-manusia penghuni rumah. Dan kemudian saya mikir………………………………….TARA!!!!!!! Akhirnya, dengan kekuatan seribu planet upil raksasa melawan negara api, calon jemuran saya terpaksa saya jejel-jejelkan diantara jemuran-jemuran yang masih basah sah sah sah. *terpaksa gais

Melihat buku mikroekonominya Pindyck edisi 6 dan 7, plus buku catatan mikroekonomi yang tergeletak pasrah di atas meja, saya jadi tersentuh untuk membukanya. Baiklah. Niat sudah dimulai. Ini adalah awal yang baik mengingat Jum’at minggu ini saya UTS Mikroekonomi (HARI GINI MASIH UTS? ah sudahlah….diam lebih baik daripada saya gampar). Eh, tapi bentar. Buka lepi dulu deh, online bentar. Siapa tau ada cowok ganteng yang online trus ngajakin chat. Dan ternyata benar ๐Ÿ˜€ *girang. Asek asek asek….padahal juga barusan bangun tidur udah smsan. Lanjut ah chatnya…

Sekarang sudah jam berapa???????????? *teriak ala penyanyi dangdut yang ngajakin penonton goyang waktu pentas

Oh, sudah jam 3 sore. APA??? Jam 3 sore??? kok saya sudah ngantuk lagi ya???

Tolonglah….apa salah dan dosaku. kenapa hobi ngebo saya ini menjadi-jadi di tengah-tengah kegalauan mahasiswa yang lain pada sibuk untuk tugas-tugas dan PKL?? hiks hiks hiks hiks…..apakah karena cuaca Jakarta yang sangat memanjakan penghuninya di saat weekend seperti ini? Mungkinkah singgasana saya perlu diruwat karena banyak setan pengganggu saya untuk terus ngebo? Mengapa harus mahasiswi kura-kura seperti saya yang harus terkenaย  hobi terkutuk tapi menyenangkan seperti ini?

Ya sudahlah. Mari tidur. MANFAATKAN WAKTU UNTUK TIDUR SELAMA MASIH BISA TIDUR.

*baca niat dalam hati : Ya Allah, nanti malam saya janji deh begadang, buat belajar mikroekonomi tercinta. HELP ME YA. amien ๐Ÿ™‚

Antara Lagu Favorit dan Lagu Alarm di Handphone


Ada yang menggelitik hati saya untuk menulis di blog malam ini. Padahal ini sedang weekend, tapi saya sedang tidak jalan berdua ataupun diapeli pacar saya (perlu dicatat bahwa saya bukan lagi single tapi juga belum menikah), melainkan sedang berkutat dengan tumpukan buku mikroekonomi yang tebalnya kurang lebih samalah ya dengan pantat bayi gajah.

Curhat dikit nggak papa kan? Santelah, curhatan saya ini nggak masuk ke arah galau kok. Saya kan udah gedhe B) *pasang tampang cool.

Cuaca kota Jakarta hari ini mendukung banget untuk bermalas-malasan, serasa sedang berada bukan di kota pengap ini. Bagaimana tidak, membuka mata saja sudah hujan deres, lanjutlah tidur sampe nggak kerasa begitu membuka mata untuk yang kedua kalinya sudah maen jam 11 aja. Eh, tapi jam 10 siang tadi itu tuh serasa jam 6 pagi loh. Seriusan deh, nikmat banget buat ngulet-ngulet di kasur sambil selimutan pake selimut buluk warna hijau hore plus kelonan sama guling langsing di singgasanaku. Matahari hari ini juga maen malu-maluan, kayak cewek abg labil yang mau ketemu gebetannya. Alhasil, rencana yang sudah disusun kemaren untuk rajin belajar gagal total. Kenapa? Karena saya tidur seharian ๐Ÿ˜ฆ

OK. Itu tidak berlaku setiap hari ya. Kegiatan seperti diatas hanya terjadi pada saat weekend dan cuacanya mendukung *pencitraan.

Ngomong-ngomong soal bangun tidur, pernah nggak sih kalian bangun tidur tanpa alarm dan di waktu yang sama di setiap harinya? Kalau bisa iya, berarti kalian hebat. Itu artinya jam bangun tidur biologis kalian sudah teratur. Berbeda dengan saya yang kayaknya emang dari jaman bayi nggak punya jam bangun tidur biologis yang bagus kayak gitu. Saya yang dari bawaan bayi suka tidur dan susah bangun (hal ini sudah sepaket) membutuhkan yang namanya alarm untuk bisa bangun pada waktu yang telah ditentukan. Kadang nggak cuma 1, tapi 2 bahkan 3. Berlebihan ya?? Hahaha….kalau nggak gitu nggak dijamin bangunnya tepat waktu.

Jaman-jaman dulu, sebelum ada handphone, jam weker yang super berisik menjadi andalan. Sekarang kan teknologi sudah maju tuh, ada handphone yang bisa jadi alarm juga. so, say good bye to jam weker ๐Ÿ˜€ .

Nah, kalo diperhatikan nih, ada sedikit yang menarik. Saya biasa memasang lagu untuk alarm di handphone saya dengan lagu yang alirannya keras (rock atau underground yang nggak jelas gitu). Lagi-lagi alasan saya cuma satu : dengan berisiknya bunyi itu di kuping, maka saya akan terlonjak dan bangun tidur.

Pernah terpikirkan, apa efek lagu tersebut sebelum dan sesudah kita jadikan alarm di handphone? Kalo saya sih ada. Saya jadi benci lagu itu. Sebagus apapun lagu itu. Semanis apapun kenangan yang ada di lagu itu. Seganteng siapapun penyanyinya. And whatever. Kenapa? Karena lagu tersebut (saya paksa) untuk menjadi “pengganggu” dalam kenikmatan hidup saya (baca:tidur). Jadi, gampang saja bagi saya untuk mengubah lagu yang dulunya saya suka menjadi lagu yang saya benci. JADIKAN LAGU TERSEBUT SEBAGAI ALARM DI HANDPHONE. selesai.

How about you?