Karena Kita Mahasiswa #2


Masih tentang kantin, masalah ngetag tempat duduk. Selama ini, susah rasanya kalo mau pesen dulu trus baru nyari tempat. Soalnya, sudah penuh sama tag-tagan orang sih. Masak iya udah pesen makan, udah bawa piring-gelas, makan-minum sambil berdiri? Hadeh….kayak kambing aja makan-minum sambil berdiri. Dan nggak lucu kalo hanya gara-gara masalah nggak bisa duduk karena tag-tagan. So, what’ll we do next? Hilangin budaya tag-tagan. Pesen makan dulu, baru nyari tempat. Kalo ada yang bilang ini udah ada orangnya, sodorin tuh piring sama gelas ke dekat yang ngomong (maksudnya : kamu mau saya makan sambil berdiri kayak kambing? Apa kata dunia…..). Udah, duduk aja. Pasang tampang polos kayak bayi. Siapa cepat dia dapat. Kantin itu milik bersama loh 🙂

Selain masalah kantin, masalah lain adalah membuang sampah. Saya rasa, tempat sampah di kampus sudah banyak. Tapi entah kenapa masih banyak juga sampah berceceran. Penambahan kuantitas tempat sampah sepertinya bukan sarana yang tepat, kembali lagi pada diri kita sendiri : KESADARAN. Saya, mahasiswa. Kamu, mahasiswa. Mahasiswa bukan lagi bocah yang harus diberi denda berapa ribu rupiah atau membersihkan kelas ketika membuang sampah sembarangan kan? 🙂

Terkait mahasiswa, ada lagi satu hal yang menarik. Ketika kamu tanya teman-teman dari kampus lain, jam berapa perpustakaan dan laboratorium buka dan tutup? Jawabannya, bukan seperti jam buka-tutup kantor pada umumnya. Bagaimana dengan kampus STIS? Sayangnya, sama seperti jam buka-tutup kantor pada umumnya, buka jam 8.30 tutup jam 16.00. Bandingkan dengan kampus lain yang jam tutup perpustakaannya itu malam hari, jadi mahasiswa bisa puas menghuni perpustakaan seharian. Menurut saya, di jam buka nya sih gak masalah, cuma jam tutupnya itu yang jadi masalah. Seperti yang saya (dan mungkin juga sebagian teman-teman yang lain) rasakan, kemana akan belajar dan ngerjain tugas ketika saat mengerjakan tugas di kos atau kontrakan si kasur melambai-lambai plus kurang referensi buku? Apakah ada tempat nongkrong yang nyaman (dan murah) untuk belajar di sekitaran kampus selain perpustakaan? Yah, meskipun perpustakaan kampus masih belum nyaman, tapi seenggaknya sudah cukup lumayan (apalagi kalo ditambah pohon-pohon yang hijau ya). Sekali lagi, kami ini mahasiswa, bukan pegawai kantoran. Jadi, kalo saya mau usul perpanjangan jam tutup perpustakaan ke siapa yak? Dan juga laboratorium komputer di lantai 4 gedung 2 itu. Jangan-jangan mahasiswanya sendiri nggak tau kalo laboratorium itu bisa dipake untuk mahasiswa kalo nggak ada kelas yang make? Haha…oya, yang ini butuh saran dari teman-teman. Saya rasa, semua mahasiswa membutuhkan jam tutup perpustakaan yang lebih panjang 🙂

Last but not least, parkiran sepeda dan sepeda motor di basement. Emang ada ya? Nggak ada dibuat khusus parkiran sepeda dan sepeda motor sih, itu parkir mobil sebenarnya yang dipake untuk parkir sepeda dan sepeda motor. Tau sendiri kan, kalo parkir mobil itu pastinya lebih luas sekatnya daripada parkir sepeda dan sepeda motor. Coba kamu tengok sebentar ketika pulang kuliah dan lewat di basement. Apa yang kamu lihat di parkiran sepeda dan sepeda motor itu? Semrawut. Sepeda dan sepeda motor malang melintang. Emang sih menghadapnya satu arah, tapi nggak beraturannya itu lho. Kalo dilihat-lihat, kasihan juga yang mau keluar, repot mindahin ini itu. Eittsss…jangan langsung mengomel karena nggak ada tukang parkirnya. Tanpa tukang parkir, kita bisa kok merapikan sepeda dan sepeda motor itu. Tapi bukan terus angkat-angkat sepeda dan sepeda motor itu satu-satu ya, capek deh. Bagaimana kalo kita buat garis pembatas belakang untuk batas parkir? Kalo nggak garis, apa gitu yang sekiranya bisa sebagai tanda ‘oh, ini lho ada batas parkirnya’. Nah, kalo kayak gini, siapa ya yang mau buat? Saya yakin, dengan cara seperti ini, seenggaknya nanti parkiran agak sedikit lebih rapi dari sekarang 🙂

Sudah cukup panjang ternyata, dan ini sudah tengah malam. Mohon maaf apabila masih ada salah-salah kata (sudah ngantuk soalnya).

Kritik dan saran yang membangun ditunggu ya. Selamat malam.

 

 

 

Karena Kita Mahasiswa #1


Bismillahirrahmanirrahim…

Tulisan saya kali ini agak sedikit mikir, tapi mikirnya nggak berat-berat amat. Mahasiswa macam saya mana kuat mikir yang berat-berat, haha… Sebenarnya ini adalah obrolan ringan antara saya dan abang ketika makan malam tadi. Dan di tulisan saya ini, nggak semua murni ide dari saya. Ini idenya si abang, yang saya coba tuangkan dalam bentuk tulisan (karena abang saya orangnya beribet kalo disuruh nulis, terpaksa saya yang jadi tumbalnya).

Well, mari saya mulai. Saya, mahasiswa. Terlepas dari saya ini mahasiswa perguruan tinggi tipe apa dan jurusan apa, tapi saya ini tetaplah mahasiswa. MAHASISWA, bukan sekedar siswa, bukan sekedar bocah yang menerima ilmu di jam sekolah lalu pulang ke rumah untuk belajar-main-tidur. MAHASISWA, the agent of change. Kalo kamu masih ragu, apa mahasiswa bisa menjadi seorang peubah, perlu kamu buka lagi buku sejarah. Siapa yang menjatuhkan pemerintahan orde lama? MAHASISWA. Siapa yang menjatuhkan pemerintahan orde baru? MAHASISWA. Mahasiswa punya power yang kuat, kaum persuasif yang punya otak, kaum idealis dengan jiwa pemberontak.

Kampus saya tercinta, ini yang akan saya ceritakan. Ada sedikit keprihatinan melihat bagaimana kepedulian mahasiswanya. Meskipun setiap hari kami memakai pakaian seragam, tapi kami tetaplah mahasiswa. Kami bukanlah pekerja kantor, meski kami menerima uang dari pemerintah setiap bulan (fyi, itu uang ikatan dinas). Entahlah, mungkin karena banyak yang mikir nggak pengen kuliah di sini, jadi bersikap semau guweh dan acuh tak acuh cuek bebek dengan kampusnya dan bla bla bla. Ehemm…boleh saya tanya kamu sekalian yang sekarang kuliah di kampus yang sama dengan saya? Kamu sudah masuk ke kampus ini kan? Sudah mengalahkan berapa pesaing? Tetap merasa jiwa kamu bukan di sini? Dan masih merasa ‘seharusnya saya disana’? tapi ironisnya, kamu masih kuliah di sini, masih nerima duit dari pemerintah, masih nggak keluar dari kampus, etc. Lalu, dengan alasan itulah mengapa kamu cuek? Tidak adakah jiwa memiliki, tidak adakah jiwa ‘oh…ini lho kampus saya.”??

Balik ke topik utama. Di awal kami masuk dulu, di masa-masa magradika, kami sebagai mahasiswa baru diajarkan untuk peduli. Tapi, setelah magradika selesai, sifat peduli itu mulai berkurang. Kenapa? Silahkan tanya pada diri mahasiswa masing-masing.

Mahasiswa STIS sudah banyak melakukan kegiatan di luar kampus mengenai kemanusaiaan. Entah itu baksos, TPA, kerja bakti, atau apalah. Dan ironisnya, hanya sedikit kegiatan kemanusiaan itu yang ada di internal kampus. Kenapa? Saya tidak tahu.

Saya, mahasiswa. Kamu, mahasiswa. Saya ingin mengajukan saran kepada semua teman-teman mahasiswa, yang ada di kampus saya tentunya. Khususnya untuk angkatan 51 yang (insyaallah) sebentar lagi memikul balok 4 di pundaknya, dan adek-adek tingkat saya pada umumnya. Yuk, kita sebagai agen perubahan mulai berbenah. Tidak usah terlalu muluk-muluk, kita mulai dari diri kita sendiri saja dulu. Oiya, disini juga saya ada beberapa saran yang masih belum menemukan solusi. Bagi yang ada ide, mungkin bisa membantu.

Yang pertama, masalah kantin. Kampus baru, kantin baru. Bagi kamu yang sering nongkrong di kantin, pasti tau dong apa masalah utama di kantin (saya aja yang nggak sering-sering amat berkelana di kantin ngerasain kok). Kalo masih belum ngeh, coba datang ketika jam makan siang. Apa yang kamu rasakan ketika makan? Kalo saya, serasa makan di tempat sampah atau toilet. Maaf, saya pake kata sarkasme, but that’s the fact. Di meja makan yang notabene tempat buat makan, berceceranlah bekas makanan dan minuman yang ditinggal pergi begitu saja dengan penghuninya (serasa di tempat sampah kan?). Belum lagi, bekas tisu yang entah siapa pemakainya ditinggal begitu saja(serasa di toilet kan?). Ok, mungkin kamu akan berkilah,”kan ada pelayannya yang ngambilin piring dan gelas kotor, sama sekalian sampahnya juga. Jadi, buat apa dong kita susah-susah?” Sekarang, saya balik tanya ke kamu, proporsionalkah para pelayan di kantin kampus dengan mahasiswa yang makan? Belum lagi jika ada mahasiswa yang makan, pasti sebagai penjual sesegera mungkin harus dilayani kan? Udahlah, mau berkilah apa lagi? Apa susahnya sih ketika kita habis makan di kantin, sisa makanan atau minuman atau tisu dibuang ke tempat sampah? Dan mengembalikan piring-gelas kotor itu ke penjualnya (sekalian bayar)? Posisikan diri kita sebagai orang yang mau makan di tempat kita duduk tadi, mau kamu makan di tempat yang naruh piring-gelas buat makan aja susah? Belum lagi, kalo kecampur sama bekas makanan orang gimana? Pasti nggak mau kan? Ya udah, besok dimulai yok 🙂

 

 

 

Selamat Ulang Tahun, Mama…


Ini adalah ulang tahun mama yang ketiga kalinya tanpa saya di rumah. Kalian ingin tahu bagaimana rasanya? Sangat sedih. Sangat sedih. Dan sangat sedih. Meskipun ketika saya di rumah juga tidak ada perayaan apa-apa, tapi dengan adanya saya di rumah (yang tentu saja ada mama papa dan kedua adik perempuan saya) bisa membuat hati saya sangat tenang. Saya bisa melihat mama tersenyum ceria sepanjang hari karena ucapan-ucapan sayang dari kami berempat dan juga (biasanya) sedikit kado sederhana dari hasil kami menyisihkan uang jajan.

Tadi pagi ketika saya membuka mata yang masih sangat berat (saya baru pulang dari nonton konser jam 1 dini hari), saya mencoba telpon mama. Sekedar mengucapkan ulang tahun dan mendoakan dengan mengucapkan doanya langsung di depan beliau. Tidak banyak doa yang saya ucapkan di depan beliau, meski di dalam doa saya setiap harinya selalu ada banyak sekali doa untuk beliau (dan juga papa+kedua adik saya). Entahlah, rasanya bibir saya kelu.

Mama hanya minta satu hal. Katanya, ini adalah kado terindah untuk beliau. Mama ingin nantinya anak-anak beliau (saya+kiko+monik) bisa sukses dunia akherat sehingga bisa membanggakan mama dan papa. Simpel. Dan cukup membuat saya menghela napas lama.

Iya ma, saya akan berusaha. Anak sulungmu ini tidak akan mengecewakanmu. Selamanya 🙂

Selamat Ulang Tahun, Mama……

1 Juli 1965-1 Juli 2012

Awal Halaman


Aku mencoba menulis sajakku dari awal.
Sangat pelan-pelan,
seperti balita menggambar huruf.
Kau tahu ini buku baru,
semua nantinya akan diterima anak cucuku.
Serupa desing angin memecah angan,
buku baruku tertindih kotak tinta tak punya mata,
tumpah.
Ini awal halamanku,
ini awal sajakku,
ini awal ceritaku.
Akankah tumpahan tinta di awal halaman merembes hingga ke akhir?
Tidak cukupkah satu halaman saja, Tuhan? Aku mohon…
Aku tak tahu bagaimana menghilangkannya,
aku takut saat ingin melihat bagaimana selanjutnya.
Dan buku yang lain menertawakanku,
kenapa?
Ketika perlahan angin malam pelan mencoba menembus rusuk,
sekilas napas kasat berhembus.
Aku harus mencoba mengulangi lagi,
ini masih awal halaman.

Jakarta,1 Juli 2012