Jeda


Aku mencintaimu dengan caraku sendiri, kamu tidak paham? karena kamu laki-laki dan aku perempuan, mungkin.

Aku menyayangimu dengan caraku sendiri, kamu merasa aneh? karena kamu begini dan aku begitu, mungkin.

Aku menyukaimu dengan caraku sendiri, kamu tidak sadar? karena tertawamu itu juga tertawaku, mungkin.

Aku mengatakan hal yang jujur, kamu kaget? karena aku tidak suka kamu terlarut dengan sikapmu yang demikian, mungkin.

mungkin….

mungkin….

mungkin….

dan mungkin….

jeda sepertinya tidak bisa mengistirahatkan perjalanan kita

aku

kamu

terlalu disayangkan saat harus berdiam.

Katakan padaku, apa yang seharusnya bagaimana.

Dan aku akan mengatakan padamu, apa yang seharusnya bagaimana.

 

Jakarta, 29 Desember 2011

ketika suatu keegoisan bertemu dengan ketidakpahaman

Iklan

ASEAN Dalam Putaran Globalisasi


Dalam tiga tahun terakhir, aneka ujian ekonomi silih berganti menerpa negara-negara di dunia, tidak terkecuali negara di kawasan ASEAN. Pada 2008 lalu krisis keuangan dunia sempat menghancurkan beberapa negara di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Namun, pada 2010 negara-negara tersebut beranjak pulih dan sepenuhnya kemudi ekonomi bisa dikendalikan lagi. Tidak lama setelah itu, ujian datang dalam wujud kerja sama ekonomi ASEAN plus China (ASEAN China Free Trade Agreement/ACFTA).

Umumnya, negara-negara anggota ASEAN kalah bersaing dengan China sehingga neraca perdagangannya cenderung defisit berhadapan dengan China, termasuk Indonesia.

Saat ini ASEAN juga dihadapkan dengan krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara maju (AS, Uni Eropa, dan Jepang) sehingga pasti akan memengaruhi kinerja ekonomi 2012. Situasi inilah yang menjadi latar belakang penyelenggaraan KTT ASEAN pekan lalu.

Kapasitas Ekonomi ASEAN

Jika dibagi dalam dua kategori besar, anggota ASEAN terdiri atas lima negara yang memiliki kekuatan ekonomi cukup besar dan lima negara yang ukuran ekonominya kecil. Lima negara yang mempunyai kekuatan cukup besar adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Lima negara ini karakteristik ekonominya sebetulnya hampir sama, kecuali Singapura. Empat negara ekonominya berpijak pada sektor pertanian, industri, dan perdagangan; sedangkan Singapura kuat di sektor jasa. Sementara itu, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Brunei Darussalam tergolong kecil ukuran ekonominya.

Negara-negara ini juga relatif sama konsentrasinya, kecuali Brunei yang mengandalkan kepada minyak. Dengan deskripsi ini, kerja sama ekonomi di tingkat ASEAN sebetulnya juga tidak mudah dilakukan karena perbedaan keadaan “dua blok” itu.

Besar kecilnya ukuran ekonomi suatu negara biasanya diasosiasikan dengan produk domestik bruto (PDB). Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar (240 juta) memiliki PDB yang paling besar, yaitu USD706,74 miliar.

Setelah itu disusul oleh Thailand (USD312,61 miliar), Malaysia (USD237,96 miliar), Singapura (USD194,62 miliar), dan Filipina (USD188,72 miliar). Sedangkan Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Brunei kekuatan PDB-nya jika digabung masih di bawah USD75 miliar (IMF, 2011). Sungguh pun begitu, PDB itu tidak secara otomatis menunjukkan daya beli rata-rata suatu negara.

Daya beli lebih dekat dengan menggunakan ukuran pendapatan per kapita (PDB dibagi jumlah penduduk), yang dari sisi ini Singapura, Thailand, dan Malaysia menyisihkan Indonesia. Jadi, PDB Indonesia besar lebih banyak disebabkan jumlah penduduk. Jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi dari blok yang pertama, dalam tiga tahun terakhir relatif cukup seimbang, kecuali pada 2009.

Pada 2009 itu, Indonesia tumbuh 5,4 persen, Malaysia 4,6 persen, Thailand -2,3 persen, Singapura empat persen, dan Filipina tumbuh 1,1 persen. Namun, pada 2010 pertumbuhan ekonomi Thailand amat fantastis, yakni 7,8 persen.

Pertumbuhan tersebut hanya kalah dibandingkan Singapura 12 persen. Sementara itu, pada 2010 Indonesia tumbuh 6,1 persen, Malaysia 4,8 persen, dan Filipina 6,1 persen. Pada 2011 ini diproyeksikan empat dari lima negara akan tumbuh di atas 4,5 persen, hanya Thailand yang diprediksi tumbuh rendah, sekira 2,6 persen saja (IMF, 2011).

Titik Pijak Kerja Sama

ASEAN sebetulnya mempunyai daya tarik ekonomi yang tinggi, bukan semata karena pertumbuhan ekonominya yang bagus, melainkan juga memiliki potensi lain yang besar. Penduduk di ASEAN cukup besar, yaitu 700 juta jiwa, sehingga ini merupakan pasar yang potensial.

PDB-nya mencapai USD1,5 triliun (2010), investasi asing sebesar USD75,8 miliar (2010), dan pertumbuhan investasi asing menyentuh angka 131,8 persen. Ini menandakan wilayah ini merupakan salah satu tujuan investasi asing langsung, di samping China dan India.

Berikutnya, pertumbuhan perdagangan intra-ASEAN sebesar 31,2 persen per tahun dan nilai transaksi perdagangan intra-ASEAN pada 2010 sebesar USD519,7 miliar. Nilai transaksi itu melonjak amat signifikan dibanding 2009, di mana pada tahun tersebut nilai perdagangan intra-ASEAN baru USD76,2 miliar (Bloomberg, 2011).

Keadaan seperti itulah yang menjadikan ASEAN berada dalam pusaran tarikan kepentingan negara-negara raksasa ekonomi, khususnya AS dan China.

Pada KTT ASEAN minggu lalu, Obama dan Hu Jintao sama-sama datang ke Bali, yang tentu saja dimaksudkan hendak berebut pengaruh di ASEAN. Dalam konteks seperti ini kerja sama ekonomi ASEAN mesti bersandar kepada dua titik pijak.

Pertama, membuat pemerataan pembangunan ekonomi antaranggota ASEAN agar daya saing mereka dalam memasuki persaingan ekonomi dunia menjadi merata.

ASEAN hanya akan relevan apabila semua negara merasa mendapat manfaat dari kerja sama ekonomi. Jika tidak, ikatan regional ini mudah lepas dan menjadi sasaran godaan dari wilayah/negara lain. Kedua, AS saat ini sangat agresif dalam menawarkan kerja sama ekonomi (Trans- Pacific Partnership/TPP) kepada beberapa negara yang masuk dalam ASEAN, termasuk tawaran kepada Indonesia.

Sebaiknya, keikutsertaan maupun penolakan masing-masing negara untuk terlibat dalam TPP sudah dibicarakan pada level ASEAN. Jika memang satu kesepakatan tidak bisa diambil,sekurangnya negara yang ikut dalam TPP telah diketahui dan disetujui oleh anggota ASEAN lainnya.

Celakanya, proses ini tampaknya tidak dilakukan, terbukti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam sudah setuju bergabung dalam TPP sebelum KTT ASEAN diselenggarakan, sedangkan Indonesia sampai hari ini sikapnya menolak bergabung.

ASEAN perlu lebih kritis lagi membaca peta perubahan ekonomi global agar keputusan yang diambil tidak menjerat kawasan ini dalam pusaran globalisasi ekonomi yang demikian buas.

AHMAD ERANI YUSTIKA
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya, Direktur Eksekutif Indef
(Koran SI/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/11/23/279/533020/asean-dalam-pusaran-globalisasi

Mengapa Indonesia Tahan Krisis?


Krisis ekonomi global benar-benar akan datang pada 2012. Kita semua sudah tahu hal itu, dan mustahil menghindarinya. Yang belum diketahui, seberapa besar krisis tersebut akan menyebabkan kerusakan perekonomian Indonesia?

Transmisi krisis ekonomi global ke Indonesia terutama terjadi melalui transaksi perdagangan internasional dan aliran modal. Ekspor kita cenderung melemah, karena pasar potensial seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa sedang “sakit”.

Negara-negara pasar kita yang lain, meski sakitnya tidak separah kedua kawasan itu, juga kemungkinan besar akan sedikit menurunkan permintaannya terhadap produk-produk ekspor kita. Mereka adalah Jepang, China, dan Asia Tenggara.

Namun Indonesia beruntung. Kontribusi ekspor kita terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang kini sekira Rp7.000 triliun, tidaklah besar. Ekspor neto atau neraca perdagangan (selisih antara ekspor terhadap impor) dalam dua tahun terakhir sekira USD20 miliar, atau ekuivalen tiga persen PDB.

Ini persentase yang relatif kecil, sementara penyumbang terbesar PDB adalah konsumsi rumah tangga sebesar 60 persen. Sisanya disumbang oleh investasi (30 persen) dan belanja pemerintah (tujuh persen).

Struktur ini mirip dengan yang terjadi di AS, yang penduduknya sekira 310 juta orang. Dengan kata lain, perekonomian yang memiliki pasar domestik kuat akan bisa bertahan dengan mengandalkan potensi lokal. Inilah alasan terbesar perekonomian Indonesia mampu tumbuh 4,5 persen saat terjadi krisis subprime mortgage di AS pada 2009. Sementara itu, negara yang ketergantungan ekonominya terhadap ekspor, terutama produk manufaktur, sangat terkena krisis.

Contoh terbaik adalah Singapura. Saat krisis memuncak pada semester I-2009, perekonomian Singapura bahkan mengalami kontraksi hingga di atas 10 persen. Kejadian ini tampaknya bakal terulang pada 2012. Meski demikian, saya masih optimistis, situasi 2012 lebih baik daripada 2009. Artinya, perekonomian Singapura kendati bakal melemah, rasanya tidak bakal mengalaminya sedramatis 2009.

Pertumbuhan ekonomi memang akan melambat,tapi tidak akan sampai minus 13 persen. Lebih masuk akal jika Singapura bakal tetap tumbuh positif namun landai, misal pertumbuhan di bawah tiga persen. Kalaupun pertumbuhan negatif, katakanlah hanya minus satu atau dua persen saja.

Mengapa? Pertama, timbulnya kesadaran bersama, bahwa terlalu riskan membiarkan Yunani dan Italia bangkrut, karena efek dominonya terlalu besar. Kebangkrutan mereka dipandang sebagai too big to fail.

Karena itu, banyak negara maju dan sebagian emerging markets terkemuka yang akan membantu menolong. Caranya adalah membeli obligasi negara-negara tersebut untuk menopang stabilitas. Pemerintah AS juga akan menempuh segala cara agar negaranya tidak bangkrut.

Kedua, meski harga komoditas primer (pertambangan dan perkebunan) tetap tinggi, namun level harga kali ini belum setinggi saat krisis 2008-2009. Bahkan masih terbuka kemungkinan harga-harga tersebut akan tertekan turun, seiring dengan pelemahan permintaan akibat krisis. Ini akan membantu upaya pemulihan.

Karena itu, krisis memang akan memberi dampak negatif terhadap seluruh dunia, namun daya rusaknya belum sebesar krisis 2009. Perekonomian dunia masih tetap akan tumbuh, namun dengan level landai. Tidak seperti 2009, negara-negara emerging markets Asia masih akan mencapai pertumbuhan ekonomi positif, namun melemah. Pertahanan penting perekonomian Indonesia adalah sektor finansial.

Pada akhir 2011, pasar finansial memang cenderung panik karena aroma ketidakpastian penyelesaian krisis zona euro. Namun pada jangka menengah ke depan, saya yakin investor akan tetap memandang Indonesia sebagai negara penting untuk menerima investasi portofolio, sebagaimana China dan India.

Krisis ekonomi 2012 nanti tetap akan menyisakan China, India, dan Indonesia sebagai tiga negara dengan kinerja pertumbuhan ekonomi tertinggi.

China tetap mampu tumbuh sembilan persen, India tujuh atau 7,5 persen, dan Indonesia antara enam hingga 6,3 persen. Jadi, tidak ada alasan bagi investor untuk meninggalkan Indonesia. Kalaupun sekarang terjadi kepanikan, itu bersifat sementara.

Yang membuat kita tetap optimistis adalah kondisi industri perbankan. Pada saat krisis 1998, industri ini merupakan “pintu masuk” terjadinya krisis yang kemudian menjalar ke mana-mana.

Kini industri perbankan jauh lebih sound. Aspek terpentingnya adalah posisi modal. Kini rata-rata rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) adalah 16,7 persen, atau jauh melebihi persyaratan minimal delapan persen. Sedangkan kemampuan mengelola risiko tercermin pada non-performing loan(NPL) yang kini tiga persen, atau jauh di bawah batas aman lima persen.

Secara kualitatif, industri perbankan juga terus mendorong tata kelola (governance). Ini semua bermuara pada profil industri perbankan yang lebih tahan guncangan.

Namun itu semua belum cukup untuk menghadapi krisis 2012. Pemerintah harus lebih tangkas mengendalikan sisi fiskal. Jangan biarkan pembangunan infrastruktur berjalan lambat atau bahkan jalan di tempat, dan terjebak pada wacana “menunggu investor swasta yang tak kunjung datang”.

Pemerintah harus berani “pasang badan” membiayai proyek infrastruktur. Belanja pemerintah yang sangat tidak disiplin, sehingga menyisakan begitu banyak anggaran tak terserap, tidak boleh terjadi lagi pada 2012.

Problem birokrasi dan kepemimpinan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi bottleneck, harus diurai. Saya selalu ingat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak awal selalu mendengungkan istilah yang indah,yakni perlunya debottlenecking.

Namun sayang, itu cuma sebatas wacana. Semoga 2012 memberi semangat baru, agar istilah tersebut benar-benar diimplementasikan. Jika semua itu dilakukan, saya yakin perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh antara 6,0-6,3 persen pada 2012. Tetaplah optimistis, dan tetaplah bekerja keras untuk mencapainya.

A TONY PRASETIANTONO
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan
Kebijakan Publik (PSEKP) UGM dan
Komisaris Independen Bank Permata
(Koran SI/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/12/19/279/544100/mengapa-indonesia-tahan-krisis

Mitos Tentang Krisis


Beberapa tahun lalu, saat krisis moneter tengah melanda Indonesia, Carol Dweck mengumpulkan sekira 400 remaja dan memberi mereka puzzle sederhana.

Mereka diberi dua kalimat yang masing-masing terdiri atas enam kata. Yang satu bunyinya begini: “You must be smart at this.” (Kalian harus cerdas pada soal ini). Satunya lagi: “You must have worked really hard.” (Kalian pasti bekerja sangat keras).

Kalimat-kalimat itu diberikan untuk mengetahui perbedaan sikap dari apa yang tiap orang percayai atau miliki. Setelah diberi dua jenis puzzle tadi, diketahui sebagian besar remaja memilih kalimat pertama. Anak-anak kelompok ini terdiri atas orang-orang yang sangat mengedepankan pentingnya inteligensi (kecerdasan) sehingga kata “smart” sangat penting bagi mereka.

Adapun yang kedua terdiri atas anak-anak yang percaya pada kata “hard work”. “Mereka ini umumnya melakukan sesuatu bukan untuk sukses,” kata Dweck. Namun, menurutnya, hal itu karena mereka ingin mengeksplorasi tantangan-tantangan yang menarik. Sukses adalah soal belakangan, bukan menjadi permulaan. Kepada mereka semua diberikan tawaran untuk memilih satu jenis soal dari dua pilihan. Pilihan pertama, soal-soal yang mudah, yang kedua, soal-soal sulit. Anda tahu apa yang terjadi?

Menyadari Krisis: Tidur!

Anak-anak yang mengklaim dirinya “smart” dan senang menyebut dirinya “smart worker” atau mengedepankan inteligensi ternyata tidak mau mengambil soal-soal yang sulit. Mereka ingin sukses dan bagi mereka, orang smart harus lulus dan memilih yang mudah.

Dua pertiga responden smart tersebut dicatat psikolog Dweck memilih soal yang mudah. Kata Dweck, “Mereka takut kehilangan label smart yang melekat pada diri mereka dengan menghindari tantangan.

“Rupanya mendapat label smart dan hebat mengundang beban psikologis yang berat dan ini bisa membuat manusia menghindar dari tantangan-tantangan alam yang sulit. Sebaliknya, orang-orang yang tidak terbebani oleh label “smart” berjalan lebih ringan. Sebanyak 90 persen di antara mereka justru memilih soal yang sulit.

Bodohkah mereka? “Bukan,” kata Dweck. Namun mereka tidak tertarik untuk dianggap sukses atau ingin cepat-cepat menunjukkan hasil, apa lagi dinilai “kaya”. Kata sukses, kaya, dan smart kalah enak. Tidak elok bila dibandingkan dengan kata “upaya”, “kerja keras”, dan “tantangan”.

Mereka yang merasa cerdas umumnya takut gagal, takut mencoba sesuatu yang baru, dan mudah cemas begitu keadaan berubah atau terancam oleh kata “krisis”. Sebaliknya, mereka yang tak merasa cerdas dan selalu berorientasi pada kerja keras justru menikmati suasana krisis dan tidak kehilangan kepercayaan diri.

Pembaca yang baik, hari-hari ini kata-kata krisis kembali berbunyi keras di antara para pelaku usaha dan CEO menyusul merambahnya krisis keuangan ke beberapa negara Eropa.

Dari studi Dweck tadi jelaslah, kita selalu akan menemukan dua jenis CEO. Yang satu takut dan mudah kehilangan kepercayaan diri, sedangkan yang satu lagi EGP (emangnya gue pikirin) dan cenderung kata orang Jawa Timur sebagai “agak bonek”.

Anda mau tahu hasil studi lanjutan yang dilakukan Dweck? Kepada kedua kelompok respondennya itu Dweck lalu memberi soal yang sama dengan yang dikerjakan kelompok pertama tadi, yaitu soal yang mudah. Kelompok yang merasa cerdas tadi ternyata mendapatkan skor 20 persen lebih rendah daripada pekerjaannya semula.

Dalam bahasa manajemen, saya menyimpulkan, produktivitas mereka justru merosot setelah badai berlalu sekalipun soalnya tidak lebih sulit. Di sisi lain, kaum pekerja keras justru mengalami kenaikan kinerja sebesar 30 persen. Kesulitan dan kegagalan telah membuat mata mereka terbuka dan hormon mereka penuh.

“Anak-anak yang mendewa-dewakan kecerdasan dan merasa pintar menghambat motivasi mereka untuk maju dan meracuni kinerja di masa depan.” Itulah sebabnya di masa-masa seperti ini, para CEO perlu bertransformasi diri dari merasa cerdas menjadi bekerja keras.

Attitude is everything. Krisis itu bukanlah yang terjadi secara merata, susah tidak akan dialami sama oleh setiap orang. Sama halnya dengan kebalikannya saat Anda membaca berita-berita bagus seperti kenaikan rating investment grade Indonesia. Mereka yang beruntung bukanlah mereka yang merasa smart, melainkan mereka yang mau mengeksplorasi berbagai kesempatan baru di masa depan.

Jadi saya sependapat dengan almarhum Peter Drucker yang mengatakan, cara terbaik mengetahui tentang keadaan masa depan adalah dengan menjelajahi masa depan itu sendiri dengan penuh kesungguhan. Bukankah soal hasil sudah ada yang menentukan? Tapi apa dan bagaimana Anda mengerjakannya membuat hasil itu jadi berbeda.

RHENALD KASALI

Ketua Program MM Universitas Indonesia (Koran SI/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/12/22/279/545728/mitos-tentang-krisis

Langit Sore, Aku Menyukaimu #1


Well,tidak jauh berbeda dengan yang lalu2.menikmati langit sore.entah kenapa,selalu ada sensasi tersendiri saat dipayungi si langit sore yang anggun.ada aroma ketenangan,mungkin karena sebentar lagi malam.ada nafas nyaman,mungkin karena sebentar lagi istirahat.ada serpihan semangat tadi pagi,mungkin karena sebentar lagi kerinduan akan terlengkapi.
Cobalah resapi angin yang membelai wajahmu dan mengantarkan udara menelusuri rongga2 hidungmu.menurutku sangat nyaman untuk melepas penat dan suntuk.dan sangat disayangkan untuk dilewatkan hanya untuk sekedar tidur.
Perhatikan orang-orang di sekililingmu.wajah2 capek dan lelah membingkai sore mereka.ini kesempatan untuk menjadi berbeda.bukankah orang yg tangguh itu adalah orang yg tetap bersemangat disaat yg lain sudah capek?bukankah orang yg kuat itu adalah orang yg tetap tekun disaat yg lain sudah lelah?
Langit sore menawarkan pesona untuk keluar dari zona nyaman,dan menjadi berbeda.cukuplah sedikit diatas rata2 yg lain 🙂

Jakarta, 1 Desember 2011