Uji Penyimpangan Asumsi Klasik


Pengujian penyimpangan asumsi klasik dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah model yang diajukan dalam penelitian ini dinyatakan lolos dari penyimpangan asumsi klasik. Uji asumsi klasik merupakan persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS).

Uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi. Tidak ada ketentuan yang pasti tentang urutan uji mana dulu yang harus dipenuhi. Analisis dapat dilakukan tergantung pada data yang ada. Masing-masing pengujian penyimpangan asumsi klasik adalah sebagai berikut:

 a.      Uji Heterosekdastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan yaitu model yang terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas.

Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot dengan memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, uji Park atau uji White.

Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan heteroskedastisitas.

b.      Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya (t -1). Secara sederhana, analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara observasi dengan data observasi sebelumnya. Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu) dan tidak perlu dilakukan pada data cross section.

Beberapa uji statistik yang sering dipergunakan adalah uji Durbin-Watson, uji dengan Run Test dan jika data observasi di atas 100 data sebaiknya menggunakan uji Lagrange Multiplier. Beberapa cara untuk menanggulangi masalah autokorelasi adalah dengan mentransformasikan data atau bisa juga dengan mengubah model regresi ke dalam bentuk persamaan beda umum (generalized difference equation). Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasukkan variabel lag dari variabel terikatnya menjadi salah satu variabel bebas, sehingga data observasi menjadi berkurang.

c.       Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu.

Cara untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi pearson antara variabel-variabel bebas, atau dengan melihat eigenvalues dan condition index (CI).

Beberapa alternatif cara untuk mengatasi masalah multikolinearitas adalah sebagai berikut:

  1. Mengganti atau mengeluarkan variabel yang mempunyai korelasi yang tinggi.
  2. Menambah jumlah observasi.

Mentransformasikan data ke dalam bentuk lain, misalnya logaritma natural, akar kuadrat atau bentuk first difference delta.

d.         Uji normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki nilai residual yang berdistribusi normal. Uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel, tetapi pada nilai residualnya. Kesalahan yang sering terjadi adalah uji normalitas dilakukan pada masing-masing variabel. Hal tersebut tidak dilarang, tetapi model regresi memerlukan normalitas pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabel penelitian.

Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji histogram, uji normal P Plot, uji Chi Square, Skewness dan Kurtosis atau uji Kolmogorov Smirnov. Tidak ada metode yang paling baik atau paling tepat. Hanya saya, pengujian dengan metode grafik sering menimbulkan perbedaan persepsi di antara peneliti, sehingga penggunaan uji normalitas dengan uji statistik lebih dipilih karena bebas dari keragu-raguan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pengujian dengan uji statistik lebih baik dari pada pengujian dengan metode grafik.

Apabila data jauh dari nilai normal, maka dapat dilakukan beberapa langkah yaitu: melakukan transformasi data, melakukan penghilangan data outliers atau menambah data observasi. Transformasi dapat dilakukan ke dalam bentuk Logaritma natural, akar kuadrat, inverse, atau bentuk yang lain tergantung dari bentuk kurva normalnya, apakah condong ke kiri, ke kanan, mengumpul di tengah atau menyebar ke samping kanan dan kiri.

*dari berbagai sumber

 

 

Iklan

Jepang : Metamorfosis (part 3)


Banyak juga sumber lain yang mengatakan, Jepang maju karena kebiasaannya. Beberapa kebiasaan yang dianggap para peneliti menyebabkan Jepang maju adalah :

  • Kerja keras. Jam kerja di Jepang tergolong tinggi, sekitar 2450 jam/tahun, atau sekitar 9 jam/hari (dihitung hari kerja 5 hari). Pulang cepat adalah hal yang tabu dilakukan oleh para pegawai di Jepang. Bagaimana dengan pegawai di Indonesia? Dengan rata-rata jam kerja 7 jam/hari saja masih banyak yang terlambat dan mencuri waktu untuk pulang lebih awal.
  • Hidup hemat. Sistem politik ekonomi dumping  merupakan suatu strategi Jepang dalam memasarkan produknya dengan menjual harga suatu barang produksi dalam negeri bernilai lebih rendah ketika dijual keluar negeri. Politik ekonomi ini sedikit banyak mendorong pengusaha untuk mengekspor hasil produksi mereka. Dengan cara seperti inilah masyarakat Jepang terbiasa hidup hemat. Meminjam istilah orang Jawa, nrimo.
  • Malu. Budaya malu ini sudah mengakar di masyarakat Jepang dari jaman turun-temurun. Budaya Harakiri atau bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka. Ketika kita sedikit jeli membaca berita internasional, banyak ditemukan petinggi-petinggi negara di Jepang yang mengundurkan diri karena mereka merasa tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik atau terlibat korupsi. Bagaimana dengan masyarakat kita? Pejabat yang gagal memerintah masih mempunyai muka untuk mencalonkan diri lagi menjadi pemimpin. Para koruptor masih santai-santai saja merokok di ruang kerjanya.
  • Inovasi. Jepang bukanlah bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam memodifikasi temuan orang dan lalu memasarkannya dalam bentuk yang digemari pasar. Misalnya saja, Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda. Cassete tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan model portabel sebagai sebuah produk yang laris di pasaran adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony masa itu. Sampai sekarang, model ini sudah sangat berkembang dan produknya berhasil dijual hingga mencapai ratusan juta produk. Bagaimana dengan kita? Sebenarnya kita mampu untuk memodifikasi dan melakukan inovasi, tapi kembali lagi seperti di atas : krisis kepercayaan diri bangsa kita sudah parah.
  • Pantang menyerah. Bisa dikatakan Jepang itu merupakan negara yang miskin sumber daya alamnya. Jepang menjadi pengimpor minyak bumi, batu bara, bijih besi, dll bahkan 85% sumber energi di Jepang berasal dari negara lain (termasuk Indonesia). Ketika kita melihat kondisi geografisnya yang sangat rawan gempa, nyaris tidak mungkin suatu bangunan dan atau infrastruktur lainnya bisa bertahan disana. Tetapi, karena keterbatasan sumber daya alam dan kondisi geografis itulah mereka beradaptasi dan belajar untuk survive, bahkan terus maju.
  • Budaya membaca. Salah seorang dosen yang pernah belajar ke Jepang pernah mengatakan, budaya membaca di Jepang sangat tinggi. Dimana-mana sangatlah mudah dijumpai orang-orang yang beraktivitas sambil membaca, seperti menunggu kereta, di dalam bus, dll. Bagi mereka, membacalah dan anda akan melihat dunia.
  • Menjaga budaya. Perkembangan teknologi dan ekonomi yag tinggi tidak membuat bangsa Jepang lupa akan budaya mereka sendiri. Misalnya saja, masih banyak ditemui rumah khas tradisional Jepang di area pemukiman modern. Atau budaya minta maaf yang seperti menjadi reflek orang Jepang. Serta misalnya penggunaan huruf asli Jepang (kanji, katakana, hiragana) untuk keseharian mereka, bukan tulisan latin seperti kebanyakan orang-orang di dunia.

Kita –bangsa Indonesia—maukah meniru bangsa Jepang seperti yang bangsa Jepang lakukan setelah mereka kalah perang? Tidak usah muluk-muluk. Mari kita mulai dari diri kita sendiri dulu, baru dengan orang-orang di sekitar kita. Jika mereka (bangsa Jepang) saja bisa, mengapa kita tidak? Kita sama-sama makhluk Tuhan yang diberi kelebihan dan kekurangan. Rendahkan sedikit ego, dan mari mulai beraksi seperti mereka. Percaya pada kemampuan sendiri, yakin kita mampu. Kita bisa menjadi negara maju.

Jepang : Metamorfosis (part 2)


Pendudukan Amerika Serikat pasca perang dunia kedua merupakan awal kebangkitan ekonomi Jepang. Ekonomi Jepang mulai bergerak cepat sehingga pada tahun 1950-an mereka bisa kembali pada tingkat pendapatan per kapita yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelum perang. Kondisi ini terkenal dengan ledakan jimmu karena dianggap sebagai ledakan ekonomi terbesar dalam sejarah Jepang sejak dibentuk oleh Kaisar Jimmu tahun 660 SM.

Pada akhir kependudukan Amerika Serikat di tahun 1960-an, Jepang berhasil memantapkan perekonomiannya di urutan terbesar ketiga di dunia. Hal ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa yang bisa dicapai oleh suatu negara yang kalah perang 15 tahun kemudian. Jepang berada diantara negara-negara maju dan negara-negara berkembang dengan menggabungkan aspek-aspek penting di keduanya. Inilah kunci Jepang sebagai suatu bangsa yang mempunyai kemampuan industri paling besar di dunia.

Kesuksesan industri Jepang dapat dilihat dari hasil produksi Jepang yang berupa peralatan elektronik, segala otomotif, dan segala jenis barang industri lainnya. Perlahan perekonomian Jepang mencapai puncak kejayaannya. Beberapa tahun setelah pendudukan Amerika Serikat berakhir, produk-produk Jepang menguasai dunia internasional, bahkan berhasil menyingkirkan produk-produk negara yang lebih maju sebelumnya.

Berbagai kesuksesan yang diperoleh Jepang tidak lepas dari hubungan dengan bangsa-bangsa asing. Pendudukan Amerika Serikat dan sekutunya dengan membawa hasil revolusi industri berhasil membuat bangsa Jepang sadar akan ketertinggalannya. Masa tersebut merupakan awal bagi Jepang memasuki dunia modern yang ditandai dengan kebijakan yang terkenal dengan Restorasi Meiji. Sejak saat itu, Jepang menaruh perhatian yang besar kepada Eropa dan Amerika Serikat sebagai negara maju.

Satu hal yang cukup menarik dan ini merupakan suatu ironi. Orang-orang Jepang justru menyambut baik kedatangan tentara-tentara Amerika Serikat yang notabene telah menjadikan mereka sebagai negara yang kalah perang. Orang-orang Jepang yang kecewa dan patah semangat yang mestinya menyambut kedatangan Amerika Serikat dengan kebencian dan penyesalan, malah menganggap orang-orang Amerika Serikat sebagai pembimbing menuju yang lebih baik. Orang-orang Jepang memanfaatkan kesempatan ini sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalannya. Dan hal tersebut terbukti jelas setelah pendudukan Amerika Serikat berakhir.

Pernahkah Anda –sebagai seorang warga negara Indonesia—berpikir untuk mengikuti orang-orang Jepang dalam menyuarakan isi hatinya kepada pemerintah? Dimana orang-orang Jepang pada saat sakit hati dengan pemerintah bukannya berdemo besar-besaran dan anarkis, bukan berkoar-koar ini itu dan bukan merasa perlu untuk bicara tentang hal-hal yang bukan bidangnya, tetapi malah meniru serta memodifikasi ilmu yang mereka peroleh dari negara yang mereka anggap maju.

Sudahkah orang-orang Indonesia meniru dan memodifikasi ilmu dari negara maju seperti orang-orang Jepang? Sudah. Hanya perbedaannya, orang-orang Jepang mengangkat ilmu hasil modifikasi mereka menjadi suatu trendsetter baru di dunia internasional dan mengembangkannya di bidang yang memberikan mereka return devisa yang besar, sedangkan kita hanya sekedar follower dan mengembangkannya hanya untuk konsumsi sendiri yang masih sedikit nilai returnnya. Salah satu contohnya, industri otomotif. Jepang meniru dunia otomotif dari bangsa-bangsa barat. Jepang yang dulunya tidak tahu apa-apa, sekarang bisa unjuk gigi. Lihat saja di ajang bergengsi balapan sekelas MotoGP, mayoritas sepeda motor yang dikendarai para pembalap merupakan hasil pabrikan dari Jepang. Sebenarnya, Indonesia juga bisa. Lihat saja mobil hasil rakitan anak SMK yang sempat menghebohkan media nasional. Sebenarnya bukan hanya satu saja, tapi sudah banyak result dari anak bangsa yang bisa dibanggakan. Namun sayang, hasil kerja keras ini seperti tidak ada tindak lanjut. Setelah berita mencuat, media heboh memberitakan, hasil kerja keras anak bangsa ini bukannya dihargai dan dimotivasi tetapi malah ada para petinggi-petinggi negara yang mencemooh. Hasil kerja keras ini pun seperti menjadi mimpi lagi. Entahlah, sepertinya pemerintah malu mengakui.

Jepang : Metamorfosis (part 1)


Pertama kali saya mendengar kata Jepang adalah ketika saya mendengarkan salah satu lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Trio Kwek-Kwek ketika saya masih kecil. Di  salah satumya lirik yang berbunyi “…Jepang negri sakura, katanya…katanya…Matahari dewanya, katanya.. katanya…Samurai senjatanya,wow.. .wow…Sumo olah-raganya…”.Dalam benak saya ketika kecil, saya tidak tahu apa itu sakura, apa itu dewa, apa itu samurai dan apa itu sumo. Jaman dulu, mendapatkan informasi tidak semudah sekarang. Saya yang waktu itu masih kelas 1 SD, susah payah mencari tahu informasi dari lagu Trio Kwek-Kwek tersebut. Di perpustakaan sekolah saya pun tidak ada buku yang membahas tentang Jepang (maklumlah, SD saya dulu di desa). Saya coba cari di buku IPS kakak tingkat dan hanya sepotong-sepotong informasinya, tidak jauh beda seperti informasi yang saya dapatkan dari kedua orang tua saya. Bahwa sakura itu bunga asli dari Jepang, di sekitar rumah tidak ada yang jual. Bahwa Dewa Matahari itu Tuhannya orang-orang Jepang. Bahwa samurai itu senjata tradisional dari Jepang yang berbentuk pedang, bentuknya lancip lurus dan sangat tajam. Bahwa sumo itu olahraga tradisonal orang Jepang, yang main laki-laki gendut-gendut, mainnya banting-bantingan. Ketika saya bertanya lebih jauh, rata-rata dijawab sama, tidak tahu.

Ketika belajar IPS di SD dulu, saya belajar tentang geografis negara-negara dunia dan sejarah Indonesia-dunia. Dari situ, mulailah pertanyaan-pertanyaan saya tentang Jepang lebih berkembang bukan hanya sebatas lagunya Trio Kwek-Kwek. Dari geografi, disebutkan bahwa negara Jepang itu negara kepulauan yang sangat rawan gempa. Dari sejarah, pada masa perang dunia kedua, Jepang sebagai salah satu negara yang kalah perang habis-habisan. Lalu, sekarang ini Jepang dijuluki sebagai Macan Asia karena majunya perekonomian yang dicapai. Nah, bagaimana orang-orang Jepang dalam waktu 6 dekade bisa menyulap negara yang miskin karena kalah perang menjadi negara ekonominya maju? Bukankah jangka waktunya sama dengan jangka waktu Indonesia merdeka dari penjajah? Bagaimana orang-orang Jepang bisa maju infrastruktur pembangunannya di atas tanah yang sering gempa?

Ketika di SMA, saya masuk ke jurusan IPA. Untuk urusan Jepang, saya sudah agak lupa. Maklum, di jurusan IPA tidak diajarin lagi mata pelajaran IPS (kecuali sejarah). Baru ketika saya masuk kuliah di universitas negeri di kota saya, keingintahuan saya tentang Jepang mulai muncul lagi ke permukaan. Bukan karena tiba-tiba, melainkan ada sebabnya. Waktu itu saya masuk ke jurusan FKIP. Ketika penyambutan mahasiswa baru, salah satu dekan ada yang berbicara tentang Jepang. Beliau berkata bahwa negara miskin sumber daya alam seperti Jepang bisa maju perekonomiannya karena guru. Perubahan terbesar yang menjadi tonggak sejarah untuk menjadi maju bagi negara Jepang itu pada saat setelah perang dunia. Waktu itu, yang pertama kali ditanyakan kaisar Jepang setelah kalah perang bukan berapa banyak kerugian negara ataupun korban perang, tapi berapa banyak guru yang tersedia. Isi pembicaraan beliau selanjutnya benar-benar melahirkan tanda tanya besar di kepala saya, mengapa dan bagaimana bisa.

Dari beberapa sumber yang saya peroleh, ada perubahan sikap rakyat Jepang setelah perang dunia kedua.  Pada awalnya, orang  Jepang terkenal dengan sikap optimis dan memiliki kepercayaan yang tinggi. Namun, ketika kalah perang dunia kedua, sikap optimis dan kepercayaan mereka yang tinggi mulai luntur. Banyak rakyat Jepang yang merasa menjadi korban oleh negara yang ingin menuntut kepada orang yang membuat mereka sengsara. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak didukung oleh pemerintah Jepang. Rasa marah mereka bukan kepada Amerika Serikat sebagai pihak yang menang di perang dunia kedua, tetapi lebih mengarah kepada pemerintah Jepang sendiri yang menyebabkan mereka menderita. Rasa marah dan kecewa mereka terhadap negara yang mereka agung-agungkan selama ini mereka ungkapkan tidak dengan cara yang frontal (kekerasan) karena tradisi mereka yang kuat agar tunduk kepada raja sebagai keturunan dewa.

Cara bangsa Jepang merespon semua unsur asing berpengaruh terhadap kesuksesan mereka selama ini, terutama di bidang ekonomi. Bangsa Jepang mempunya kepribadian yang tangguh dan hal tersebut dijadikan kekuatan bagi mereka untuk menghadapi persaingan dunia barat. Mereka tidak serta merta berkiblat langsung ke barat, tetapi mereka saring terlebih dahulu dengan budaya mereka, sesuai apa tidak.

5 cm di Gunung Semeru


Taruh mimpi – mimpi kamu, cita – cita kamu, keyakinan kamu,
apa yang kamu mau kejar . . .
Kamu taruh disini, jangan menempel di kening
Biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu . . .
Jadi dia tak akan pernah lepas dari mata kamu
Da kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari,
kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa.

Apapun hambatannya, bilang pada diri kamu sendiri,
kalau kamu percaya sama keinginan itu dan kamu tak bisa menyerah.
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh,
bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu,
segala keinginan, mimpi, cita – cita , keyakinan diri . .
Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.

Dan . .
sehabis itu yang kamu perlu. . .
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya . .
Serta mulut yang akan selalu berdoa . .

 

(novel ‘5 cm’)