Kutipan dari Pollyana


Waktu itu di sore hari yang cukup mendung, seperti biasa saya menunggu adek les saya makan sore sebelum belajar sains dengan saya. Di meja belajarnya, saya menemukan buku impor berupa cerita dongeng klasik dari Inggris (kalo nggak salah) yang judulnya Pollyana. Mungkin buku dongeng milik adik perempuannya, pikirku.

Saya buka sekilas, tidak sempat saya selesaikan satu buku penuh. Secara garis besar, Pollyana adalah anak dari seorang pendeta. Ibunya meninggal ketika dia masih kecil, sedangkan ayahnya meninggal beberapa waktu yang lalu. Pollyana yang malang pun tinggal di panti asuhan dengan kondisi yang sangat sederhana. Ternyata, panti asuhan tidak mampu lagi menampungnya. Maka, diserahkannya Pollyana ke satu-satunya tante yang dia punya. Kebetulan tante itu orang yang kaya raya. Seperti dongeng klasik pada umumnya, tante Pollyana yang kaya raya ternyata tidak suka dengan Pollyana, meski juga tidak jahat. Tante Pollyana punya pembatu perempuan dan tukang kebun yang segera akrab setelah bertemu dengan Pollyana. Hal yang menarik dari sosok Pollyana, dia berhasil menjadikan hidupnya yang terlihat biasa-biasa saja bahkan cenderung memprihatinkan di tengah istana tantenya menjadi terlihat indah, bahagia dan sempurna versi dia sendiri. Wow…sanggupkah kalian?

Ada beberapa kutipan yang menurut saya menarik. Seperti berikut ini.

Once you start looking for the happy things, you don’t think about the bad ones as much

Atau kutipan yang agak panjang berikut.

Just be glad game is starting. You must find something in everything to be glad about. For instance, if you see a pair of crutches, just be glad that you don’t need them, That’s all there is to it.

🙂

Tes Kerohanian = Tes Kesehatan Jiwa


Postingan saya kali ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Silahkan baca di sini.

Beberapa waktu yang lalu, ada instruksi dari kantor tempat saya (nanti) akan bekerja untuk mengumpulkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk pengangkatan menjadi CPNS. Mendadak dangdut deh pokoknya. Ya bayangin aja, baru juga hari pertama masuk kantor setelah libur (lama) lebaran tiba-tiba muncul instruksi sedemikian rupa yang mengharuskan saya (yang belum ngurus dokumen-dokumen tersebut) untuk balik lagi ke rumah. Emang sih, pas lagi di rumah udah ada kriteria-kriteria dokumen apa yang diperlukan untuk pengangkatan. TAPI…..MEREKA TIDAK BILANG KAPAN BATAS AKHIR PENGUMPULANNYA, MEREKA HANYA BILANG UNTUK BEKAL LIBURAN. Belajar dari kakak tingkat kami yang disuruh mengumpulkan dokumen-dokumen di bulan Oktober, jadi saya dan beberapa teman santae-santae aja dong belum ngurus (karena ini masih bulan Agustus). Trus, kata mereka juga dikasih ijin buat ngurus. TAPI……MEREKA HANYA MEMBERI WAKTU 3 MINGGU UNTUK MENGURUS DOKUMEN-DOKUMENNYA DAN TIDAK ADA IJIN. Kyaaaa…………………iya sih, emang cukup lama waktunya untuk mengurus dokumen-dokumen yang hanya butuh waktu 2 hari megurusnya. Syok terapinya itu lho, harus balik lagi ke rumah setelah lama stay di rumah dan tanpa dikasih ijin pula (alhasil saya pun bolos 4 hari -3 hari ngurus dokumen 1 hari tepar di kosan). Yang jadi masalah bagi saya, ya tentu saja duit. Duit sudah terkuras menjelang lebaran beli ini itu, belum lagi untuk biaya hidup bulan Agustus, plus tiket kereta pp Jakarta-Solo. Fiyyuh….thank you so much lah ya 😦 .

Sori deh kebanyakan curhat, habis keadannya emang kayak gitu T.T

Ada yang baru di dokumen pengangkatan CPNS saya kali ini. Apa itu? Selain surat sehat jasmani dan bebas narkoba, ada lagi surat sehat rohani. Karena saya nggak tahu itu apa, yaudah saya tanya ke custoer service RSUD dekat rumah. Mulanya si mbak yang saya tanya juga bingung, lalu dia tanyakan ke temannya di bagian lain. Dan dari dia saya dapat keterangan, kalau tes kesehatan rohani itu tentang kondisi kejiwaan. Karena waktu itu saya sudah cukup siang sampai di RSUD (jam 11an lewat), maka saya disuruh untuk balik lagi keesokan harinya.

OK deh. Karena mbak customer service-nya cukup ramah dan mau menjelaskan, saya pun nurut dan pulang sambil senyum. Sebelumnya, saya sudah was-was. Tes kesehatan jasmani, rohani dan bebas narkoba harus dilakukan di rumah sakit milik pemerintah (di tempat saya adanya ya RSUD). Padahal, saya cukup anti dengan rumah sakit pemerintah. Kenapa? Pertama dan utama, jelas pelayanan mereka jauh dari kata menyenangkan (yang selalu saya temui). Terakhir saya ke RSUD dekat rumah ini ketika saya masih SD. Udah dibentak-bentak, jutek pula perawatnya. Cihhhh…..

Balik lagi ke cerita semula. Pagi harinya, dengan diantar mama, saya pun pergi ke RSUD. Nggak begitu jauh sih dari rumah, nggak sampai 10 menit naik motor. Sesampai di sana, suasana sudah cukup ramai. Saya pun pergi ke loket umum dan tidak lama kemudian dilayani. Saya dipersilahkan untuk pergi ke kasir terlebih dahulu. Saya estimasi awal, tes ini akan habis sekitar kurang dari 200 ribu rupiah. Eh ternyata….setelah sampai kasir, total semua tes nya 320 ribu rupiah T.T. Untung mama saya bawa duit cadangan. Saya pun curiga dong kok habis banyak banget, apa sih yang menyebabkan biayanya membengkak kayak gitu? Selidik punya selidik, Tes MMPI. Itu tes apa? Kenapa harus ada? Mungkin untuk tes kesehatan rohani.

Bla bla bla….saya nggak menceritakan bagaimana tes kesehatan jasmani dan tes bebas narkoba ya, karena umumnya nggak jauh beda dengan tempat-tempat lain dan sudah banyak referensi yang membahasnya. Saya hanya ingin membahas tes kesehatan rohani saja 🙂

Tes kesehatan rohani yang saya jalani ditangani oleh dokter spesialis jiwa dan psikiater. Saya disuruh mengerjakan tes di komputer dengan beberapa soal. Kata perawatnya sih beberapa soal, tapi TERNYATA BEBERAPA ITU LEBIH DARI 200 SOAL. Alamak!!!!! Mau tau gimana soal-soalnya? Ini yang saya ingat. Jawabannya hanya 2, ya atau tidak.

-saya merasa bahagia

-keluarga saya menyayangi saya

-saya tidak pernah tidak melanggar peraturan lalu lintas

-saya tidak pernah tidak suka dengan kondisi sosial saya

-saya merasa orang-orang memmbenci saya

-saya merasa diikuti oleh orang yang tidak saya kenal

-saya merasa mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain

-saya gampang sedih

-mama saya mencintai saya

-dll

Gampang? Iya memang, tapi kok bayarannya 200ribu. Nyesek sek sek sek T.T

Setelah beberapa saat selesai mengerjakan soal-soal tersebut, saya pun dipanggil perawat dan disuruh menghadap dokternya untuk membicarakan hasil tes yang saya kerjakan tadi. Hasilnya, semua normal dan saya sehat rohani. Eh, ada tapinya. Seperti ini kurang lebih percakapan saya dengan dokter tersebut membahas ‘tapi’.

Dokter (D) : “Kamu punya pacar?”

Saya (S) : “Iya, Dok.”

D : “Dia cemburuan nggak?”

S : “Enggak, Dok.”

D : “Kalau kamu?”

S : “Iya, Dok. Hehehe…”

D : “Oh pantes. Nih lihat, nilai paranoid kamu cukup tinggi. Sekitar 63. Kalo kamu sudah di atas 70 berarti tingkat kecemasan kamu sudah mengkhawatirkan dan menganggu lingkungan kamu, kamu perlu konsultasi sama psikiater dan psikolog. Menjalani hidup itu santae saja, jangan terlalu cemas menghadapi sesuatu itu”

S : “Oh, gitu. Iya, Dok.”

D : “Kamu sering galau juga ya?”

S : “Kadang sih.”

D : “Nah, galau juga perlu dikurangin. Sering bikin orang lain galau nggak?”

S : “Wah, kalau itu saya nggak tau, Dok. Kayaknya enggak sih, teman saya ada yang parah kayak gitu, Dok.”

D : “Oya?! Dia menikmati nggak bikin orang lain galau? Contohnya kayak gimana?”

S : “Misalnya nih, besok itu ujian. Nah, pas malamnya banyak tuh teman-teman saya yang update status atau ngetwit di twitter kalo malem ini ‘belum belajar’, ‘lagi main nih’, atau apalah yang intinya seperti menjatuhkan mental lain yang juga mau ujian.”

D : “Coba deh kamu tanyain mereka gimana hasil tes kesehatan rohani mereka, mereka sehat jiwanya nggak? Kalau sudah seperti itu, bisa jadi kondisi kejiwaan dia terganggu.”

S : “Hehehe…”

Nah, begitulah sepenggal kisah curhat saya dengan dokter jiwa yang memeriksa saya. Saya pun tanya teman-teman saya yang tes di berbagai tempat. Tapi, kebanyakan dari mereka tes di rumah sakit yang tes kesehatan rohaninya cuma ditanya 5 menit tentang bli bli bli trus ditulis sehat rohani. Yah…pupus sudah harapan saya menanyai mereka-mereka yang saya sinyalir sebagai ‘tukang bikin galau’. Ya siapa tau hipotesis dokter jiwa tadi terbukti, hehehe…

FYI, pelayanan RSUD di dekat rumah sudah bagus. Ada peningkatan yang berarti. Bahkan, jika pelayanan kurang memuaskan silahkan hubungi nomer tertentu. Wuih…..good job. Meski senyum paramedisnya masih mahal :p

Penempatan? Galau? Wajar! Eh?!


Saya (mantan) mahasiswa kedinasan dan saya rentan galau. Ups!!!! Ya memang begitulah. Jadi, kalau kamu nggak suka galau dan terlalu rentan sama yang namanya galau, saya sarankan kamu untuk jauh-jauh deh sama yang namanya sekolah kedinasan. Trust me, it works! (kayak iklan ya? biarkanlah…)

Sebagai mantan mahasiswa kedinasan,dulu pas mau masuk kuliah saya disuruh tanda tangan surat ikatan dinas. Salah satu isinya adalah bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Dulu sih pas disuruh tanda tangan di atas kertas bermaterai, pikiran muda saya biasa-biasa aja. Take it slow and let it flow. Saya dulu terlalu larut dalam euforia masuk kuliah gratis, tanpa peduli saya akan ‘dilempar’ jauh dari rumah dan keluarga. Saya dulu juga nggak mikir kalau Indonesia itu nggak hanya sejauh jarak Solo-Jakarta dan tidak semuanya ‘daratan’. Sekarang, setelah saya disodori pilihan untuk memilih lokasi penempatan yang semuanya ada di luar Jawa (karena faktor IPK), barulah otak sehat saya berjalan.

Pusing dan galau itu hal pertama yang saya lakuin. Galau pada keluarga di rumah. Galau pada abang saya. Galau pada teman-teman kos. Pokoknya, tiada hari tanpa dangdut….eh salah, tiada hari tanpa galau.

Sedikit hal yang membahagiakan datang dari abang saya. Dia bersama ketiga temannya ditempatkan di kantor provinsi daerah Kalimantan Selatan, lokasinya tentu saja di Kota Banjarmasin. Luar Jawa juga sih, tapi seenggaknya masih mudah dijangkau Lalu, bagaimana dengan saya? Semua teman-teman saya dan saya sendiri yang tidak masuk peringkat 10 besar mau tidak mau ditempatkan di daerah luar Jawa  di kabupaten dengan kategori tipe C. Yang berasal dari daerah luar Jawa sih mungkin bisa sedikit tenang, karena mereka kemungkinan besar balik ke daerah masing-masing. Sedangkan saya yang berasal dari Jawa? Hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga dengan IPK pas-pasan seperti ini masih bisa ditempatkan di tempat yang ‘tidak terlalu jauh’ dan ‘menyenangkan’ serta ‘sesegera mungkin bisa pindah mengikuti suami’. Ceilehhhh…..

Sedikit lucu ketika saya galau sama abang saya. Dengan gayanya yang sedikit konyol dan easy going, abang saya bilang ke saya sembari menenangkan. “Santai saja, mau kamu penempatan di Kalimantan Selatan atau jauh sekalian ya nggak masalah. Kalau di daerah Kalimantan Selatan, alhamdulillah. Bisa dekat. Tapi kalau misalnya kamu dapatnya yang jauh sekalian, ya diterima saja. Legowo saja, Sayang. Bukankah kalau kamu jauh dari aku, nanti ‘narik’ kamu untuk bisa sedaerah lebih gampang? Maksudku, alasan pindahnya lebih kuat.”

Sebenarnya, ada form di google docs yang dibuat oleh salah seorang teman di jurusan, isinya berupa nama, daerah asal dan 3 daerah tujuan penempatan. Bisa diisi dan dibaca oleh teman-teman satu jurusan (saingan penempatan hanya satu jurusan saja). Tapi, sekali lagi tapi…..seperti yang sudah saya ungkapkan di atas tadi, (mantan) mahasiswa kedinasan itu rentan galau. Pun dengan teman-teman saya.  Fyi, pemilihan lokasi penempatan berdasarkan IPK. Sedih rasanya ketika teman-teman yang IPK-nya tinggi masih nanti-nanti mengisi formnya. Saya yang IPK-nya hidup segan mati tak mau seperti ini, hanya bisa menunggu. OK-lah ketika mereka-mereka itu masih menunda-nunda ngisi form karena masih bingung di hari pertama, kedua sampai seminggu. Tapi, alangkah konyolnya ketika sudah H-3, H-2 hingga hari H mereka-mereka itu masih juga nggak mau ngisi form. Kesannya itu mereka seperti ‘buat apa mikir teman yang IPK-nya dibawah saya, yang penting saya dapat tempat enak’. Beuh, amit-amit jabang bayikkkkkk…..(komat-kamit bacain doa buat mereka).

Nah, barusan saya dibuat supernyesek setelah mendengar cerita dari salah satu teman saya. Hm….jadi gini. Saya memilih 3 daerah untuk ‘calon’ lokasi penempatan saya nanti. Kalimantan Selatan, Aceh dan NTT. Daerah favorit teman-teman dari Jawa selain Sumatera adalah Kalimantan. Saya tau resikonya memilih Kalimantan Selatan di pilihan pertama, alasan saya sih tidak lain dan tidak bukan adalah mengikuti abang saya. Saya sudah berkali-kali ngecek di form google docs, yang menuliskan pilihan penempatan di Kalimantan Selatan hanya saya seorang yang berasal dari Jawa. Tapi, menurut cerita teman saya tadi, ada satu anak Jawa yang milih penempatan Kalimantan Selatan juga (kuotanya untuk anak luar propinsi hanya satu). Padahal di form google docs yang dia isi, dia menulis Kalimantan Tengah di pilihan pertama dan bla bla bla. Sebut saja MAS X. Saya yang semula tenang-tenang saja jadi merasa ‘jatuh terperosok sedalam-dalamnya’. IPK MAS X lebih tinggi dari saya dan dia “berbohong’ pada akhirnya. Duh, sakitnyaaaa…….(komat-kamit bacain doa semoga kabar itu bohong)

Selain MAS X yang bertingkah menjatuhkan seperti itu, ternyata ada beberapa orang yang lagak dan tingkahnya sebelas dua belas dengan MAS X. Ada yang berganti-ganti di H-3, bahkan yang lebih sadis ada yang berganti-ganti tempat di hari H nya. Tapi, sesadis-sadisnya mereka, yang paling sadis adalah orang yang tidak mengisi form google docs tersebut (tapi menyerahkan formulir ke bagian kepegawaian langsung tanpa diketahui teman-teman yang lain daerah mana tujuannya). Siapa pelakunya? Saya berdoa, semoga mereka nggak ‘sakit’ jiwanya*.

*insyaallah akan saya ceritakan di postingan saya selanjutnya