Bandung : Libur Panjang dan Cinta Kita #1


Awal Bulan Desember 2016, saya yang masih bekerja di tengah Indonesia ini mengajukan cuti tahunan. Mayan kan bisa ketemu sama suami tercinta, sekaligus jalan-jalan.

Seminggu saya habiskan di rumah mama papa saya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sahabat baik saya dari kecil menikah dan saya dikasih kain buat jadi bridesmaid. Awww awwww….. Gimana cantiknya dia (dan tentu saja saya) itu rahasia. Merayu suami buat mau pulang ke Sukoharjo, alhamdulillah suami bisa ijin. bahagiaaaaaaaaa…….

Seminggu selanjutnya (saya cuti 2 minggu kalender, btw) saya dan suami memutuskan untuk jalan-jalan. BANDUNG menjadi destinasi kami kali ini. Kami memilih Bandung bukan karena tanpa sebab. Beberapa waktu lalu suami ada perjalanan dinas ke Bandung dua kali. Perjalanan dinas pertama, saya dioleh-olehi suami vest emesh warna abu-abu tua. Perjalanan dinas kedua, suami bingung mau ngasih saya oleh-oleh apa. Akhirnya, suami menawarkan ‘gimana kalo kita liburan ke Bandung pas long weekend nanti?’. Tanpa banyak pikir, saya langsung mengiyakan aja. Mayan, honeymoon kedua :D.

Urusan transportasi dari dan ke plus selama di Bandung itu urusan suami. Giliran penginapan dan itinerary mana saja yang mungkin kami kunjungi itu urusan saya. Sippppp….

Sudut Kota Bandung Selalu Menarik Untuk Difoto

Sudut Kota Bandung Selalu Menarik Untuk Difoto

Hari H pun tiba. Suami memesan tiket kereta Argo Parahyangan yang berangkat jam 5 pagi dari Gambir. Malang tak dapat ditolak, kami telat bangun! Alarm hp sudah saya set di jam 3 dini hari, entah karena faktor saya yang terlalu capek atau karena saya matiin terus saya tidur lagi, saya terbangun di jam 4 pagi. Langsung syok, terus bangunin abang. Saya pun langsung gerak cepat dong. Mandi kilat jadi tujuan utama. Setelah mandi, saya pun dibuat KZL ZBL BGT sama suami. Gimana gak dongkol coba, waktu tinggal mepet gini si abang masih bisa-bisanya terkantuk-kantuk duduk di atas kasur. Gjkgjkgjk…… Baru mandi pas disuruh mandi, itu juga mandinya lama bener. Arrrrgggghhhhhhh……

Jam sudah menunjukkan 4.30. Saya udah menyerahkan sepenuhnya gimana kami berangkat ke abang. Terserahlah. Masih dongkol. Si abang ngerasa waktu setengah jam nggak bakal cukup buat ngejar kereta naik taksi ke Gambir. Searching sana-sini, si abang menemukan artikel kalo kereta Argo Parahyangan ini menaikkan penumpang dari Jatinegara. OK sip. Meluncurlah kami ke Jatinegara. Drama belum berakhir ternyata. Taksi yang kami tumpangi sopirnya baru dan belum hapal jalan, ke Stasiun Jatinegara aja nyasar. Gjkgjkgjk…..

Sampai di stasiun, kami celingak-celinguk nyari mana nih tempat buat nge-print tiket. Setelah tanya petugas stasiun, ternyata kereta Argo Parahyangan nggak menaikkan penumpang di Jatinegara. Kami disarankan untuk naik CL ke Stasiun Bekasi. Dan ketika petugasnya mendengar kami akan berangkat jam 5 atau sekitar 15 menit lagi, kereta Argo Parahyangan tak akan terkejar. Lemes kami lemes……

Inhale exhale inhale exhale…..

Sepagi ini kami drama ketinggalan kereta, ditambah lagi belum sarapan, mandi kilat dan sisa-sisa ngantuk masih ada. Fiyuh…..

Kami sudah masuk ke halte busway ketika tiba-tiba terdengar suara suami “Dek, aku kebelet pup. Cari WC dulu yuk.” Duh!

Sambil menunggu si abang menyelesaikan “panggilan alam”, saya melanjutkan searching tiket travel Jakarta-Bandung yang tadi sempat tertunda. Pikir ini itu, akhirnya aku ambil 2 opsi jam berangkat dari 2 shelter berbeda dari travel agen yang sama. Skip skip skip…..

Sebel Nggak Sebel Kita Tetap Selfie

Sebel Nggak Sebel Kita Tetap Selfie

Kami berangkat ke Bandung naik travel jam 9 pagi dari Tebet. Alhamdulillah, akhirnya jadi berangkat juga. Kami paham sih resikonya naik travel di long weekend gini, pasti macet. PASTI.

Jalan dari Jakarta ke Bandung relatif lancar. Alhamdulillah ya, seneng gitu. Eh tapi, pas keluar tol mau masuk Kota Bandungnya…..alamaaaaaaaaakkkkkkk, kami terjebak macet 2 jam. Gjkgjkgjk.

Welcome to Bandung

Welcome to Bandung

Hampir jam 3 sore, kami turun di daerah Pasteur. Lemes dan perut laper itu udah pasti. Tujuan utama : cari makan. Iseng-iseng kita nyoba Bakso Boedjangan, bakso yang lagi hits dan kekinian dari Bandung. Worth it lah, namanya juga orang laper pasti apa aja enak :p.

Sambil makan, kami berdua diskusi tentang itinerary yang sudah berantakan dari kami berangkat tadi. Coret ini coret itu, telat bangun sejam nyoretin apa-apa.

Bukan Pesan Sponsor

Bukan Pesan Sponsor

Karena hari menjelang sore dan mendung sudah di depan mata, kami berdua bergegas menuju ke hotel di daerah Cihampelas. Namanya Vio Hotel, hotel budget yang harganya bisa lebih rendah lagi karena memanfaatkan promo dari web pemesanan hotel langganan kami. Namanya juga hotel budget, asal bisa tidur aja lah :D.

Sore hari menjelang Maghrib, kami memutuskan untuk jalan keluar. Tujuan kami hari itu di daerah Jalan Riau : shopping. Kami nggak shopping maksa sih, kalo ada yang bagus dan harga cocok ya dibeli, kalo enggak ya udah. Jalan Riau surganya FO, begitu kata suami. Jujur, saya nggak paham mana FO yang jual barang bagus, saya cuma lihatnya di situ ada beberapa FO yang ramai di kunjungi. Dan kesanalah tujuan kami selanjutnya. Saya kurang nyaman ketika belanja dan banyak orang. Demi menyenangkan hati suami, ya udahlah saya belanja. Satu aja barang yang saya beli : tas tenteng buat ke pesta :p.

Selesai belanja, kami disambut hujan lebat. Padahal agenda kami selanjutnya adalah mengambil motor sewaan yang ada di daerah Dipati Ukur. Terpaksa, sambil menunggu hujan kami makan malam.

Salah satu hal konyol yang kami lakukan saat jalan-jalan di musim penghujan adalah lupa membawa payung. Hari sudah malam, gerimis masih lebat rintik-rintiknya. Kami memutuskan naik taksi dari Jalan Riau ke daerah Dipati Ukur. Setelah sampai sana, kami masih harus nyari lokasi penyewaan sepeda motor karena tempatnya masuk ke dalam gang kecil.

Wuah, drama kami luar biasa hari itu. Berantem, terus diem-dieman, terus curhat, terus ketawa-ketiwi lagi, terus berantem lagi, muter gitu aja terus. Ini semua karena telat bangun sejam, haha….

Jadi, aturan mutlak nomer satu sebelum mulai jalan-jalan : jangan bangun telat.

Lanjutannya ada di sini.

Iklan

Catatan Pengantin Baru Part #1


Menghadapi pernikahan. Rentetan acaranya dimulai dari lamaran-mempersiapkan acara pernikahan baik dari segi mental fisik dan materi-acara pernikahan-pasca acara pernikahan. Panjang ya, mau nyaingin gerbong kereta panjangnya. Tidak seorang pun mau dong acara yang hanya berlaku sekali seumur hidup ini banyak cacatnya di sana sini. Well,  walaupun sempurna nggak sempurna suatu acara pernikahan pasti ada juga yang ngomongin di belakang. Hayo ngaku siapa yang sering bisik-bisik di belakang pengantin? Hihihi….

Pertama, acara lamaran. Kalo saya pribadi sih, acara lamaran itu masuk kategori sekunder dalam segi finansial dan perayaan. Lamaran sebagai tanda kalau seorang laki-laki benar-benar serius ingin membina rumah tangga dengan seorang perempuan dengan cara datang baik-baik ke keluarga pihak perempuan. Itu definisi menurut saya sendiri lho. Sebaiknya, setelah lamaran itu secepatnya menyusun acara pernikahan. Kalo pihak laki-laki sama perempuan berdekatan tempat tinggalnya lebih enak, lebih cepat lebih baik bukan. Berbeda dengan kondisi saya dan abang yang harus terpisah pulau, perlu strategi untuk menyusun acara pernikahan kami. Fyi, ada lho laki-laki yang minggat padahal udah melamar pacarnya dengan alasan macam-macam. Nggak banyak memang, tapi laki-laki bencong macam ini ada. Sueerrrrr….

Lanjut ke acara lamaran. Saya dan abang sama-sama paham kalo kondisi kami berdua pas-pasan. Kami berdua pun sepakat, acara lamaran kita ini nggak usah lah digelar dengan acara yang mewah dan mengundang banyak orang. Jadi, ketika acara lamaran kita berdua hanya mengundang beberapa tetangga dekat rumah dan saudara-saudara dekat. Hidangan yang disediakan pun juga sederhana. Selain alasan tempat tinggal kami yang berjauhan, waktu yang tersedia untuk saya dan abang sangat terbatas. Maklum, kami berdua hanya buruh negara bergaji pas-pasan. Hehe….

Satu hal yang tidak boleh lepas (menurut saya) untuk acara lamaran adalah tukar cincin. Kami lamaran di tanggal 20 Juli 2015, dan kami membeli cincin sekitar Bulan April 2015 ketika saya sedang mengikuti diklat prajabatan di Jakarta. Lama ya? Memang, LDR butuh strategi men 😉

Selepas acara lamaran, kami memutuskan untuk ambil foto pre wedding. Masih dalam konsep yang sederhana, kami hanya melakukan foto pre wedding indoor. Sebelumnya kami memang sudah menghubungi pihak fotografer nya sih lewat whatsapp. Oiya, kami kenal fotografernya sama tau bagaimana portofolio mereka dari instagram. Terima kasih teknologi, hidup kami jadi lebih mudah 🙂

Cerita ini sudah saya bahas sebelumnya disini. Nantikan kelanjutan kisah kami 🙂

ps : kali ini saya nggak nampilin foto, secara psotingan kali ini memperhalus postingan saya sebelumnya. Hehe…..salam cinta dan damai dari daerah tengah Indonesia yang masih terbelakang dan tertinggal.

I come back……


So sorry, long time gak nongol nulis di blog 😀 *ketawa nyengir nggak berdosa*

Bulan Oktober November masih disibukkan dengan pekerjaan akhir tahun kantor yang entah kapan habisnya, namun akhirnya habis juga. Bahagia?? Tentu saja dong. Disamping kegiatannya menguras tenaga dan pikiran juga kesehatan jiwa dan raga, saya juga masih harus mempersiapkan pernikahan saya di Bulan Januari. Jreng jrengggggggg…..

Bulan Desember, kegiatan kantor sudah mereda. Terus malah jadi bingung mau kerja apaan. Pagi berangkat kantor, siang pulang makan siang, kalo sempet ya tidur bentar, sore pulang kantor. Banyak sih yang cuti akhir tahun, baik yang merayakan natal maupun yang bukan. Saya? Harus puas menjaga kantor. Secara saya sudah di acc mengajukan cuti alasan penting selama 35 hari kerja di Bulan Januari dan Februari ntar. Merdekaaaaaaa……

Memasuki tahun yang baru, hati saya berbunga-bunga indah. Tentu saja, sebentar lagi akhirnya saya menikah dengan abang saya. Masuk kerja di Bulan Januari 2016 hanya 5 hari dan setelah itu cusssss pulang kampung. Ada sih drama dikit-dikit di kantor, ya tapi namanya juga orang lagi bahagia ya hal-hal semacam itu saya anggap kentut di tengah gurun sahara aja. Wahahaha…..

8 Januari 2016. Saya pulang kampung. Bahagia yang amat sangat. Sesampai di rumah, to do list yang ada di kepala harus segera dikerjakan. Mulai dari foto dan video, souvenir nikah, menghadapi orang-orang dekat yang luput diundang, make up untuk acara akad nikah hingga resepsi, dan segala macamnya. Keadaan diperumit dengan kondisi saya dan abang yang LDR selama 14 bulan, jadi kami menerapkan beberapa tips dan trik untuk mempersiapkan pernikahan kami yang sekali seumur hidup. Salah satunya adalah dengan mengambil jarak sekitar 6 bulan dari acara lamaran hingga resepsi dan kami gunakan untuk mengorganisir acara pernikahan kami dari jarak jauh. Beruntung sekarang teknologi sudah canggih. Saya dan abang memanfaatkan aplikasi chatting whatsapp, email, instagram and many more.

Yang selalu ada di otak saya selain rencana pernikahan ini tentu saja adalah agenda honeymoon kami berdua. Kemana????? Rahasiaaaaaa. Eh tapi kan udah lewat ya, hihihi…..tunggu postingan selanjutnya 😉

Balada Gelar di Belakang Nama


-Apalah arti sebuah nama-

Konon sih katanya klise, apa sih arti sebuah nama. Penting? Nggak penting? Kalo bagi saya pribadi sih penting. Nama menunjukkan identitas, nama berarti doa, nama berarti jati diri.

Sekarang, bagaimana dengan gelar? Iya bener, gelar akademik. Bukan gelar keturunan kerajaan atau gelar habis melakukan ibadah.

Sebagian besar orang menganggap gelar akademik itu penting banget, prestigius, menunjukkan kualitas seseorang, alat menjual diri ke perusahaan tempat bekerja, tingkat ketercapaian seseorang dalam belajar, de el el. Bener kok, nggak salah. Masalahnya, sudah sesuai tempat, situasi dan kondisikah dalam mencantumkan gelar?

Beberapa waktu yang lalu, saya ribut dengan mama papa saya. Tentu saja via telepon, saya di Indonesia bagian tengah dan beliau berdua di Indonesia bagian barat. Masalahnya sih nggak berat-berat amat : saya dan calon suami sepakat tidak mencantumkan gelar akademik di belakang nama kami berdua di acara pernikahan kami nanti sedangkan mama dan papa saya sebaliknya. Runyam? Iya.

Mama papa saya dari awal maunya kami mencantumkan gelar akademik kami berdua di acara pernikahan kami nanti. Mulai dari nama di undangan sampe penyebutan nanti di acara. Alasannya, kami berdua sudah lulus kuliah, sudah bekerja. Kuliah kami nggak main-main susahnya, 4 tahun berjuang dengan ancaman DO. Belum lagi kami menjadi kebanggaan keluarga besar dengan gelar akademik kami berdua, dan bla bla bla. Saya nggak hapal semua alasannya.

Sedangkan saya dan si abang sudah jauh-jauh hari sepakat tidak mencantumkan gelar akademik kami di belakang nama untuk acara-acara yang sifatnya tidak ada hubungan dengan akademik dan pekerjaan. Mengapa? Alesan kami simpel aja sih : Untuk apa? Pamer? Apa yang perlu dipamerkan? Toh kami berdua sama-sama masih diploma, kami berdua prestasinya biasa-biasa saja bahkan cenderung meranaaaaaaaa, kami berdua ipk nya di golongan hidup segan mati tak mau, kami berdua masih saja menjadi orang biasa. Lalu untuk apa penyebutan gelar akademik di belakang nama kami?

Kami ingin meniru orang-orang luar biasa yang seringkali hanya menyebutkan nama saja tanpa embel-embel gelar akademik mereka yang sepanjang gerbong kereta. Rasa-rasanya mereka keren, berilmu tapi tidak menunjukkan tingginya level ilmu mereka. Kami percaya, banyak dan dalamnya ilmu seseorang itu tidak terlihat dari gelar. Tapi apa daya, kita hidup di jaman semua orang mendewakan gelar. Tanpa peduli gelar itu darimana, gelar itu apa hakekatnya, gelar itu untuk apa.

Tanggapan si abang ketika saya curhat masalah ini sih tenang-tenang saja. Nanti ya kita bicarakan baik-baik sama mama papa kamu.

Fiyuh…..

Masa Kuliah

Masa Kuliah

Our Engagement Day


Finally, we’re engaged!!!!

Setelah atur rencana mulai dari kapan nentuin hari lamaran, gimana ketemuannya, apa aja yang perlu dilakuin sampe siapa aja yang nanti akan diundang di acara lamaran kami. Ribet? Iya. Pusing? Iya. Galau? Iya. Nggak ada duit? Iyaaaaaa….

Rencana lamaran kami sudah jauh-jauh hari sih dipikirkan, secara LDR mah harus mikirin progres ke depan dong ya. Jadi semenjak berangkat penempatan -November 2014- kami berdua sudah sepakat lamaran akan dilaksanakan nanti ketika saya datang prajab di Jakarta. Dari November hingga awal tahun 2015, kabar prajab masih simpang siur nggak jelas. Ya sudahlah, kami cari aman saja. Pilihan kami jatuh di waktu beberapa hari setelah hari raya idul fitri.

Kembali lagi ke kata LDR. Sebagai pelaku LDR yang kekinian, pastinya kami berdua harus mikir dong gimana caranya biar acara lamaran kami ini bisa efektif dan efisien dari segi biaya dan mendukung perlengkapan menuju hari nikah ntar. Beruntung kami hidup di jaman teknologi sudah bukan lagi barang tersier, hahaha….

Pertama, cincin lamaran. Ini penting. Ya kali masak lamaran nggak ngasih cincin?! Jadilh di Bulan April 2015 ketika saya sedang diklat prajabatan di Jakarta, saya dan abang hunting cincin berdua. Duit kami pas-pasan sih, alhamdulillah si abang ada duit dikit buat beli cincin. Pergilah kami ke Cikini Gold Center di sebelah stasiun Cikini. Pilihannya lumayan banyak, kami pilih ke satu toko yang kami lupa apa namanya. Memilih ini itu dan kami memutuskan beli cincin seperti di bawah. Simpel. Dan bentuknya nggak sama (sepasang bukan berarti harus sama kan 🙂 ). Cincin saya dari bahan emas putih, sedangkan abang lebih milih paladium. Harganya? Rahasia.

Our RIngs

Our Rings

Kedua, kami harus menentukan kapan pelaksanaan lamarannya. Saya sekarang ada di Sumba Barat, NTT. Mama papa saya ada di Sukoharjo, Jawa Tengah. Abang ada di Jakarta, dan mama papanya ada di Batam. Sepakatlah kami melangsungkan acara lamaran tanggal 20 Juli 2015 hari Senin disaat cuti bersama masih berlangsung. Acaranya sederhana saja, nggak sampe 15 orang yang diundang. Makanan juga sekedarnya. Dari awal memang kami berdua sepakat kalo acara lamaran ini sederhana saja. Bahkan, kami meniadakan hantaran lamaran!!! No problem, right?

Ketiga, foto prewed. Jujur, masih lama nikahnya tapi kami udah mikirin prewed dong. It’s a must. Kapan lagi dan seberapa sering pelaku LDR yang gajinya sedemikian rupa bisa ketemu? Searching vendor di Solo kurang banyak pilihan, kalo hasilnya bagus harganya mahal kalo harganya murah hasilnya norak. Pffffttttt…..akhirnya kami pilih salah satu vendor yang lumayan bagus menurut kami dan harganya bisa nego, wakwak….MUA juga demikian. Alhamdulillah, meskipun hanya foto prewed indoor, tapi hasilnya OK. Nih beberapa foto prewed kami.

IMG-20150723-WA0001 IMG-20150723-WA0004 IMG-20150723-WA0005

Keempat, cari gedung. Sumpah ya, ini susah. Sukoharjo mah kota kecil. Cari gedung buat resepsi kalo gak di Solo ya mana lagi. Saya dan mama muter-muter cari gedung resepsi yang juga menyediakan katering dan segala pernak-perniknya. Ketahuan kan kalo keluarga saya ogah ribet, haha….Untungnya ketemu. Harga masih manusiawi. Dan yang lebih membahagiakan : bayarannya bisa dicicil. Merdeka!!!!!

Stop dulu tulisan saya kali ini. Kapan-kapan saya sambung deh cerita saya dan si abang menuju hari H. Woho…..

Kutipan dari Pollyana


Waktu itu di sore hari yang cukup mendung, seperti biasa saya menunggu adek les saya makan sore sebelum belajar sains dengan saya. Di meja belajarnya, saya menemukan buku impor berupa cerita dongeng klasik dari Inggris (kalo nggak salah) yang judulnya Pollyana. Mungkin buku dongeng milik adik perempuannya, pikirku.

Saya buka sekilas, tidak sempat saya selesaikan satu buku penuh. Secara garis besar, Pollyana adalah anak dari seorang pendeta. Ibunya meninggal ketika dia masih kecil, sedangkan ayahnya meninggal beberapa waktu yang lalu. Pollyana yang malang pun tinggal di panti asuhan dengan kondisi yang sangat sederhana. Ternyata, panti asuhan tidak mampu lagi menampungnya. Maka, diserahkannya Pollyana ke satu-satunya tante yang dia punya. Kebetulan tante itu orang yang kaya raya. Seperti dongeng klasik pada umumnya, tante Pollyana yang kaya raya ternyata tidak suka dengan Pollyana, meski juga tidak jahat. Tante Pollyana punya pembatu perempuan dan tukang kebun yang segera akrab setelah bertemu dengan Pollyana. Hal yang menarik dari sosok Pollyana, dia berhasil menjadikan hidupnya yang terlihat biasa-biasa saja bahkan cenderung memprihatinkan di tengah istana tantenya menjadi terlihat indah, bahagia dan sempurna versi dia sendiri. Wow…sanggupkah kalian?

Ada beberapa kutipan yang menurut saya menarik. Seperti berikut ini.

Once you start looking for the happy things, you don’t think about the bad ones as much

Atau kutipan yang agak panjang berikut.

Just be glad game is starting. You must find something in everything to be glad about. For instance, if you see a pair of crutches, just be glad that you don’t need them, That’s all there is to it.

🙂

Tes Kerohanian = Tes Kesehatan Jiwa


Postingan saya kali ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Silahkan baca di sini.

Beberapa waktu yang lalu, ada instruksi dari kantor tempat saya (nanti) akan bekerja untuk mengumpulkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk pengangkatan menjadi CPNS. Mendadak dangdut deh pokoknya. Ya bayangin aja, baru juga hari pertama masuk kantor setelah libur (lama) lebaran tiba-tiba muncul instruksi sedemikian rupa yang mengharuskan saya (yang belum ngurus dokumen-dokumen tersebut) untuk balik lagi ke rumah. Emang sih, pas lagi di rumah udah ada kriteria-kriteria dokumen apa yang diperlukan untuk pengangkatan. TAPI…..MEREKA TIDAK BILANG KAPAN BATAS AKHIR PENGUMPULANNYA, MEREKA HANYA BILANG UNTUK BEKAL LIBURAN. Belajar dari kakak tingkat kami yang disuruh mengumpulkan dokumen-dokumen di bulan Oktober, jadi saya dan beberapa teman santae-santae aja dong belum ngurus (karena ini masih bulan Agustus). Trus, kata mereka juga dikasih ijin buat ngurus. TAPI……MEREKA HANYA MEMBERI WAKTU 3 MINGGU UNTUK MENGURUS DOKUMEN-DOKUMENNYA DAN TIDAK ADA IJIN. Kyaaaa…………………iya sih, emang cukup lama waktunya untuk mengurus dokumen-dokumen yang hanya butuh waktu 2 hari megurusnya. Syok terapinya itu lho, harus balik lagi ke rumah setelah lama stay di rumah dan tanpa dikasih ijin pula (alhasil saya pun bolos 4 hari -3 hari ngurus dokumen 1 hari tepar di kosan). Yang jadi masalah bagi saya, ya tentu saja duit. Duit sudah terkuras menjelang lebaran beli ini itu, belum lagi untuk biaya hidup bulan Agustus, plus tiket kereta pp Jakarta-Solo. Fiyyuh….thank you so much lah ya 😦 .

Sori deh kebanyakan curhat, habis keadannya emang kayak gitu T.T

Ada yang baru di dokumen pengangkatan CPNS saya kali ini. Apa itu? Selain surat sehat jasmani dan bebas narkoba, ada lagi surat sehat rohani. Karena saya nggak tahu itu apa, yaudah saya tanya ke custoer service RSUD dekat rumah. Mulanya si mbak yang saya tanya juga bingung, lalu dia tanyakan ke temannya di bagian lain. Dan dari dia saya dapat keterangan, kalau tes kesehatan rohani itu tentang kondisi kejiwaan. Karena waktu itu saya sudah cukup siang sampai di RSUD (jam 11an lewat), maka saya disuruh untuk balik lagi keesokan harinya.

OK deh. Karena mbak customer service-nya cukup ramah dan mau menjelaskan, saya pun nurut dan pulang sambil senyum. Sebelumnya, saya sudah was-was. Tes kesehatan jasmani, rohani dan bebas narkoba harus dilakukan di rumah sakit milik pemerintah (di tempat saya adanya ya RSUD). Padahal, saya cukup anti dengan rumah sakit pemerintah. Kenapa? Pertama dan utama, jelas pelayanan mereka jauh dari kata menyenangkan (yang selalu saya temui). Terakhir saya ke RSUD dekat rumah ini ketika saya masih SD. Udah dibentak-bentak, jutek pula perawatnya. Cihhhh…..

Balik lagi ke cerita semula. Pagi harinya, dengan diantar mama, saya pun pergi ke RSUD. Nggak begitu jauh sih dari rumah, nggak sampai 10 menit naik motor. Sesampai di sana, suasana sudah cukup ramai. Saya pun pergi ke loket umum dan tidak lama kemudian dilayani. Saya dipersilahkan untuk pergi ke kasir terlebih dahulu. Saya estimasi awal, tes ini akan habis sekitar kurang dari 200 ribu rupiah. Eh ternyata….setelah sampai kasir, total semua tes nya 320 ribu rupiah T.T. Untung mama saya bawa duit cadangan. Saya pun curiga dong kok habis banyak banget, apa sih yang menyebabkan biayanya membengkak kayak gitu? Selidik punya selidik, Tes MMPI. Itu tes apa? Kenapa harus ada? Mungkin untuk tes kesehatan rohani.

Bla bla bla….saya nggak menceritakan bagaimana tes kesehatan jasmani dan tes bebas narkoba ya, karena umumnya nggak jauh beda dengan tempat-tempat lain dan sudah banyak referensi yang membahasnya. Saya hanya ingin membahas tes kesehatan rohani saja 🙂

Tes kesehatan rohani yang saya jalani ditangani oleh dokter spesialis jiwa dan psikiater. Saya disuruh mengerjakan tes di komputer dengan beberapa soal. Kata perawatnya sih beberapa soal, tapi TERNYATA BEBERAPA ITU LEBIH DARI 200 SOAL. Alamak!!!!! Mau tau gimana soal-soalnya? Ini yang saya ingat. Jawabannya hanya 2, ya atau tidak.

-saya merasa bahagia

-keluarga saya menyayangi saya

-saya tidak pernah tidak melanggar peraturan lalu lintas

-saya tidak pernah tidak suka dengan kondisi sosial saya

-saya merasa orang-orang memmbenci saya

-saya merasa diikuti oleh orang yang tidak saya kenal

-saya merasa mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain

-saya gampang sedih

-mama saya mencintai saya

-dll

Gampang? Iya memang, tapi kok bayarannya 200ribu. Nyesek sek sek sek T.T

Setelah beberapa saat selesai mengerjakan soal-soal tersebut, saya pun dipanggil perawat dan disuruh menghadap dokternya untuk membicarakan hasil tes yang saya kerjakan tadi. Hasilnya, semua normal dan saya sehat rohani. Eh, ada tapinya. Seperti ini kurang lebih percakapan saya dengan dokter tersebut membahas ‘tapi’.

Dokter (D) : “Kamu punya pacar?”

Saya (S) : “Iya, Dok.”

D : “Dia cemburuan nggak?”

S : “Enggak, Dok.”

D : “Kalau kamu?”

S : “Iya, Dok. Hehehe…”

D : “Oh pantes. Nih lihat, nilai paranoid kamu cukup tinggi. Sekitar 63. Kalo kamu sudah di atas 70 berarti tingkat kecemasan kamu sudah mengkhawatirkan dan menganggu lingkungan kamu, kamu perlu konsultasi sama psikiater dan psikolog. Menjalani hidup itu santae saja, jangan terlalu cemas menghadapi sesuatu itu”

S : “Oh, gitu. Iya, Dok.”

D : “Kamu sering galau juga ya?”

S : “Kadang sih.”

D : “Nah, galau juga perlu dikurangin. Sering bikin orang lain galau nggak?”

S : “Wah, kalau itu saya nggak tau, Dok. Kayaknya enggak sih, teman saya ada yang parah kayak gitu, Dok.”

D : “Oya?! Dia menikmati nggak bikin orang lain galau? Contohnya kayak gimana?”

S : “Misalnya nih, besok itu ujian. Nah, pas malamnya banyak tuh teman-teman saya yang update status atau ngetwit di twitter kalo malem ini ‘belum belajar’, ‘lagi main nih’, atau apalah yang intinya seperti menjatuhkan mental lain yang juga mau ujian.”

D : “Coba deh kamu tanyain mereka gimana hasil tes kesehatan rohani mereka, mereka sehat jiwanya nggak? Kalau sudah seperti itu, bisa jadi kondisi kejiwaan dia terganggu.”

S : “Hehehe…”

Nah, begitulah sepenggal kisah curhat saya dengan dokter jiwa yang memeriksa saya. Saya pun tanya teman-teman saya yang tes di berbagai tempat. Tapi, kebanyakan dari mereka tes di rumah sakit yang tes kesehatan rohaninya cuma ditanya 5 menit tentang bli bli bli trus ditulis sehat rohani. Yah…pupus sudah harapan saya menanyai mereka-mereka yang saya sinyalir sebagai ‘tukang bikin galau’. Ya siapa tau hipotesis dokter jiwa tadi terbukti, hehehe…

FYI, pelayanan RSUD di dekat rumah sudah bagus. Ada peningkatan yang berarti. Bahkan, jika pelayanan kurang memuaskan silahkan hubungi nomer tertentu. Wuih…..good job. Meski senyum paramedisnya masih mahal :p