Catatan Pengantin Baru Part #2


Halo, postingan ini lanjutan dari sini ya 🙂

Setelah sesi foto pre wedding selesai, maka saya dan si abang menentukan tanggal berapa kami nanti akan menikah. Kedua orang tua ngomong ini itu dan kami hanya diam mendengarkan sambil sesekali menanggapi, maka diputuskanlah kami akan menikah di Bulan Januari 2016 dengan pertimbangan kedua adik saya sedang tidak dalam bulan-bulan ujian. Voilaaaaaaaaaa……itu hari baik menurut kami berdua, padahal jaman sekarang masih banyak lho yang masih pakai hitung-hitungan orang Jawa (atau orang Minang juga ada hitung-hitungannya, saya nggak paham) yang menentukan hari baik itu berdasarkan tanggal lahir, letak rumah, dan ciri-ciri lain yang menurut saya tidak masuk akal. Satu lagi, hari baik itu menurut keluarga kami ya hari libur (Sabtu atau Minggu). Kenapa? Kalo hari-hari kerja kasian tamu yang berniat datang, jadi membolos atau mangkir kerja kan nggak enak :p.

Tanggal 16 Januari direncanakan akad akan dilaksanakan. Tanggal 17 Januari -esok harinya- resepsi sederhana digelar. Setelah fix tanggal, yang pertama kali kami lakukan adalah memilih lokasi resepsi. Resepsi aja sih, soalnya untuk akad akan kami laksanakan di rumah saya. Oiya, saya cerita ini di kondisi rumah saya aja ya. Yang di rumah abang -di batam sana- saya kurang tau gimana-gimana riwehnya, semua sudah di handle sama mama mertua sih.

Ada beberapa opsi tempat resepsi. Yang jelas bukan di rumah saya, secara saya masih berada di rumah dinas yang luas rumahnya terbatas. Well, pilihan pertama ada di gedung yang beneran murni nyewain gedung. Jadi ya bener-bener gedung, nggak ada katering dan dekor serta perlengkapan yang lain. Ada beberapa pilihan disini, tapi mama papa saya memutuskan untuk nggak ngambil. Alasannya, tentu saja nggak mau repot. Sebenarnya, ada keuntungan dari pemilihan gedung seperti ini. Dekorasi bisa kita tentukan sendiri, makanan juga bisa kita pilih sendiri, pun dengan hiburan. Tapi, dengan alasan efisiensi dan efektivitas waktu serta dana, kami memutuskan untuk menggunakan gedung yang sudah lengkap satu paket dengan hiburan, dekorasi, serta kateringnya. Kelemahannya mengambil satu paket gini, nggak lain dan nggak bukan kita harus mau dengan paket yang ada. Nggak bisa request mau dekor mewah ala-ala putri salju atau hiburan yang paham lagu-lagunya anak muda. Pffttttt……

Setekah acara pemilihan gedung beres, ada beberapa hal yang harus saya handle sendiri dari jarak jauh. Apa aja? Ini nih :

  • Make up untuk akad dan resepsi

     Masalah make up bagi saya susah-susah gampang. Kulit wajah saya sensitif, sekali salah make up akibatnya bisa panjang. Bintil-bintil kecil di wajah yang gatal sampai jerawat yang membeludak akan datang menghampiri. Saya memutuskan untuk menggukana MuA yang menangani saya pas foto pre wedding kemarin, namanya Mbak Iyum. Awal perkenalan kami nggak disnegaja. Jadi waktu itu saya sudah nemu tukang foto yang tepat, hanya saja saya belum nemu tukan make up yang bagus. Saya minta saran ke tukang fotonya, siapa MuA yang bagus di daerah Solo dan sekitarnya. Dikenalinlah saya sama mbak Iyum ini. Pas foto prewed, alhamdulillah cocok. Mama menyarankan buat nerusin aja pake jasa mbaknya. Ya saya OK aja sih, haha. Meski ada sedikit masalah ketika booking (karena pas acara resepsi si mbak sudah ada job lain, sehingga diganti kakaknya yang juga tukang rias), tapi over all saya sih baik-baik aja. Saya lebih memilih pinjam kebaya untuk akad dan resepsi dari MuA-nya, alasan pertama dan utama ya karena menghemat uang dan tenaga dong. Dipakainya sekali belinya pake duit jutaan, sayang bener. Kebutuhan yang lain masih banyak contohnya jalan-jalan.

  • Dokumentasi

     Kasusnya sama, saya nggak mau ribet nyari dimana lagi harus mencari tukang foto yang bagus dan sesuai dengan selera saya. Maka, diputuskanlah saya memakai jasa tukang foto yang sama dengan tukang foto ketika pre wedding kemarin. Alhamdulillah si mas-nya belum ada job, jadi leluasa deh bookingnya. Saya ambil foto yang reguler, sama video yang model wedding clip. Sip, beres.

  • Baju orang tua dan saudara kandung

     Ini nih, yang kecil-kecil tapi bikin ribet dan perlu mikir. Kalo yang untuk bapak-bapak sih masih oke aja ya pake baju yang netral, misal jas dan beskap yang warnanya nggak ngejreng. Nah, yang emak-emak yang rempong. Awalnya saya kan nggak begitu mikirin mau pake kebaya warna apa, terserahlah. Hanya saja jangan yang bikin kulit saya jadi terlihat hitam, haha. Saya sih ikut aja saran mama yang pake kebaya warna hijau mint dan orange. Semi pastel dan cantik. Lalu, baju emak-emak menyesuaikan. Dan baju dua adik saya juga warnanya senada. Untunglah si abang anak tunggal, jadi dia nggak rempong nyariin baju buat saudaranya. Hoho….

Kebaya Resepsi

Kebaya Resepsi

 

Kebaya Akad

Kebaya Akad

 

  • Souvenir

     Toko souvenir di Solo sebenarnya banyak sih, hanya saja saya yang lagi nggak ada di rumah ini kan jadi susah dong kalo harus nyari lagi. Terpujilah wahai para penjual souvenir online yang sudah banyak bertebaran di instagram, dan terpercaya. Seirus lho, saya ambil souvenir dari penjual di instagram dan barangnya bagus, free ongkir pula. Saya pesan yang sederhana aja sih, kaca rias kecil sama dompet batik besar.

  • Undangan

     Oke, saya termasuk golongan sakit hati untuk urusan undangan. Hiks, sedih bener mau bahas. Jadi ceritanya kan saya udah searching sana sini tuh terkait undangan, udah nemu undangan yang minimalis menggemaskan bin imut-imut. Eh, tetiba inget kalo ada saudara jauh yang bisa bikin undangan. Maka, pesanlah saya ke tempat saudara jauh tersebut. Respon awalnya nggak ngenaki, sok jutek gimana gitu. Terlebih pas saya habis kasih contoh begini lho model undangan yang saya mau. Seberapapun saya bayar kok. Eh pas hasilnya keluar, saya kecewa berat. Undangan terkesan asal-asalan dan nggak menarik sama sekali. RRRRRRRRRRRrrrrrrrrrrrr……….Pengalaman yang bisa dipetik dari kasus saya ini, lebih baik milih tempat percetakan yang terkenal deh, kualitasnya bagus dan pelyanannya ramah ketimbang milih punya saudara sendiri yang jauh dari harapan. Bukannya nggak memberdayakan saudara, tapi kan sebagai konsumen we deserve the best dong ya.

Sekian uneg-uneg dari pengantin baru yang kayaknya udah cukup panjang ceritanya, haha….

see you later

Lanjutan……

Iklan

Catatan Pengantin Baru Part #1


Menghadapi pernikahan. Rentetan acaranya dimulai dari lamaran-mempersiapkan acara pernikahan baik dari segi mental fisik dan materi-acara pernikahan-pasca acara pernikahan. Panjang ya, mau nyaingin gerbong kereta panjangnya. Tidak seorang pun mau dong acara yang hanya berlaku sekali seumur hidup ini banyak cacatnya di sana sini. Well,  walaupun sempurna nggak sempurna suatu acara pernikahan pasti ada juga yang ngomongin di belakang. Hayo ngaku siapa yang sering bisik-bisik di belakang pengantin? Hihihi….

Pertama, acara lamaran. Kalo saya pribadi sih, acara lamaran itu masuk kategori sekunder dalam segi finansial dan perayaan. Lamaran sebagai tanda kalau seorang laki-laki benar-benar serius ingin membina rumah tangga dengan seorang perempuan dengan cara datang baik-baik ke keluarga pihak perempuan. Itu definisi menurut saya sendiri lho. Sebaiknya, setelah lamaran itu secepatnya menyusun acara pernikahan. Kalo pihak laki-laki sama perempuan berdekatan tempat tinggalnya lebih enak, lebih cepat lebih baik bukan. Berbeda dengan kondisi saya dan abang yang harus terpisah pulau, perlu strategi untuk menyusun acara pernikahan kami. Fyi, ada lho laki-laki yang minggat padahal udah melamar pacarnya dengan alasan macam-macam. Nggak banyak memang, tapi laki-laki bencong macam ini ada. Sueerrrrr….

Lanjut ke acara lamaran. Saya dan abang sama-sama paham kalo kondisi kami berdua pas-pasan. Kami berdua pun sepakat, acara lamaran kita ini nggak usah lah digelar dengan acara yang mewah dan mengundang banyak orang. Jadi, ketika acara lamaran kita berdua hanya mengundang beberapa tetangga dekat rumah dan saudara-saudara dekat. Hidangan yang disediakan pun juga sederhana. Selain alasan tempat tinggal kami yang berjauhan, waktu yang tersedia untuk saya dan abang sangat terbatas. Maklum, kami berdua hanya buruh negara bergaji pas-pasan. Hehe….

Satu hal yang tidak boleh lepas (menurut saya) untuk acara lamaran adalah tukar cincin. Kami lamaran di tanggal 20 Juli 2015, dan kami membeli cincin sekitar Bulan April 2015 ketika saya sedang mengikuti diklat prajabatan di Jakarta. Lama ya? Memang, LDR butuh strategi men 😉

Selepas acara lamaran, kami memutuskan untuk ambil foto pre wedding. Masih dalam konsep yang sederhana, kami hanya melakukan foto pre wedding indoor. Sebelumnya kami memang sudah menghubungi pihak fotografer nya sih lewat whatsapp. Oiya, kami kenal fotografernya sama tau bagaimana portofolio mereka dari instagram. Terima kasih teknologi, hidup kami jadi lebih mudah 🙂

Cerita ini sudah saya bahas sebelumnya disini. Nantikan kelanjutan kisah kami 🙂

ps : kali ini saya nggak nampilin foto, secara psotingan kali ini memperhalus postingan saya sebelumnya. Hehe…..salam cinta dan damai dari daerah tengah Indonesia yang masih terbelakang dan tertinggal.

Balada Gelar di Belakang Nama


-Apalah arti sebuah nama-

Konon sih katanya klise, apa sih arti sebuah nama. Penting? Nggak penting? Kalo bagi saya pribadi sih penting. Nama menunjukkan identitas, nama berarti doa, nama berarti jati diri.

Sekarang, bagaimana dengan gelar? Iya bener, gelar akademik. Bukan gelar keturunan kerajaan atau gelar habis melakukan ibadah.

Sebagian besar orang menganggap gelar akademik itu penting banget, prestigius, menunjukkan kualitas seseorang, alat menjual diri ke perusahaan tempat bekerja, tingkat ketercapaian seseorang dalam belajar, de el el. Bener kok, nggak salah. Masalahnya, sudah sesuai tempat, situasi dan kondisikah dalam mencantumkan gelar?

Beberapa waktu yang lalu, saya ribut dengan mama papa saya. Tentu saja via telepon, saya di Indonesia bagian tengah dan beliau berdua di Indonesia bagian barat. Masalahnya sih nggak berat-berat amat : saya dan calon suami sepakat tidak mencantumkan gelar akademik di belakang nama kami berdua di acara pernikahan kami nanti sedangkan mama dan papa saya sebaliknya. Runyam? Iya.

Mama papa saya dari awal maunya kami mencantumkan gelar akademik kami berdua di acara pernikahan kami nanti. Mulai dari nama di undangan sampe penyebutan nanti di acara. Alasannya, kami berdua sudah lulus kuliah, sudah bekerja. Kuliah kami nggak main-main susahnya, 4 tahun berjuang dengan ancaman DO. Belum lagi kami menjadi kebanggaan keluarga besar dengan gelar akademik kami berdua, dan bla bla bla. Saya nggak hapal semua alasannya.

Sedangkan saya dan si abang sudah jauh-jauh hari sepakat tidak mencantumkan gelar akademik kami di belakang nama untuk acara-acara yang sifatnya tidak ada hubungan dengan akademik dan pekerjaan. Mengapa? Alesan kami simpel aja sih : Untuk apa? Pamer? Apa yang perlu dipamerkan? Toh kami berdua sama-sama masih diploma, kami berdua prestasinya biasa-biasa saja bahkan cenderung meranaaaaaaaa, kami berdua ipk nya di golongan hidup segan mati tak mau, kami berdua masih saja menjadi orang biasa. Lalu untuk apa penyebutan gelar akademik di belakang nama kami?

Kami ingin meniru orang-orang luar biasa yang seringkali hanya menyebutkan nama saja tanpa embel-embel gelar akademik mereka yang sepanjang gerbong kereta. Rasa-rasanya mereka keren, berilmu tapi tidak menunjukkan tingginya level ilmu mereka. Kami percaya, banyak dan dalamnya ilmu seseorang itu tidak terlihat dari gelar. Tapi apa daya, kita hidup di jaman semua orang mendewakan gelar. Tanpa peduli gelar itu darimana, gelar itu apa hakekatnya, gelar itu untuk apa.

Tanggapan si abang ketika saya curhat masalah ini sih tenang-tenang saja. Nanti ya kita bicarakan baik-baik sama mama papa kamu.

Fiyuh…..

Masa Kuliah

Masa Kuliah

Our Engagement Day


Finally, we’re engaged!!!!

Setelah atur rencana mulai dari kapan nentuin hari lamaran, gimana ketemuannya, apa aja yang perlu dilakuin sampe siapa aja yang nanti akan diundang di acara lamaran kami. Ribet? Iya. Pusing? Iya. Galau? Iya. Nggak ada duit? Iyaaaaaa….

Rencana lamaran kami sudah jauh-jauh hari sih dipikirkan, secara LDR mah harus mikirin progres ke depan dong ya. Jadi semenjak berangkat penempatan -November 2014- kami berdua sudah sepakat lamaran akan dilaksanakan nanti ketika saya datang prajab di Jakarta. Dari November hingga awal tahun 2015, kabar prajab masih simpang siur nggak jelas. Ya sudahlah, kami cari aman saja. Pilihan kami jatuh di waktu beberapa hari setelah hari raya idul fitri.

Kembali lagi ke kata LDR. Sebagai pelaku LDR yang kekinian, pastinya kami berdua harus mikir dong gimana caranya biar acara lamaran kami ini bisa efektif dan efisien dari segi biaya dan mendukung perlengkapan menuju hari nikah ntar. Beruntung kami hidup di jaman teknologi sudah bukan lagi barang tersier, hahaha….

Pertama, cincin lamaran. Ini penting. Ya kali masak lamaran nggak ngasih cincin?! Jadilh di Bulan April 2015 ketika saya sedang diklat prajabatan di Jakarta, saya dan abang hunting cincin berdua. Duit kami pas-pasan sih, alhamdulillah si abang ada duit dikit buat beli cincin. Pergilah kami ke Cikini Gold Center di sebelah stasiun Cikini. Pilihannya lumayan banyak, kami pilih ke satu toko yang kami lupa apa namanya. Memilih ini itu dan kami memutuskan beli cincin seperti di bawah. Simpel. Dan bentuknya nggak sama (sepasang bukan berarti harus sama kan 🙂 ). Cincin saya dari bahan emas putih, sedangkan abang lebih milih paladium. Harganya? Rahasia.

Our RIngs

Our Rings

Kedua, kami harus menentukan kapan pelaksanaan lamarannya. Saya sekarang ada di Sumba Barat, NTT. Mama papa saya ada di Sukoharjo, Jawa Tengah. Abang ada di Jakarta, dan mama papanya ada di Batam. Sepakatlah kami melangsungkan acara lamaran tanggal 20 Juli 2015 hari Senin disaat cuti bersama masih berlangsung. Acaranya sederhana saja, nggak sampe 15 orang yang diundang. Makanan juga sekedarnya. Dari awal memang kami berdua sepakat kalo acara lamaran ini sederhana saja. Bahkan, kami meniadakan hantaran lamaran!!! No problem, right?

Ketiga, foto prewed. Jujur, masih lama nikahnya tapi kami udah mikirin prewed dong. It’s a must. Kapan lagi dan seberapa sering pelaku LDR yang gajinya sedemikian rupa bisa ketemu? Searching vendor di Solo kurang banyak pilihan, kalo hasilnya bagus harganya mahal kalo harganya murah hasilnya norak. Pffffttttt…..akhirnya kami pilih salah satu vendor yang lumayan bagus menurut kami dan harganya bisa nego, wakwak….MUA juga demikian. Alhamdulillah, meskipun hanya foto prewed indoor, tapi hasilnya OK. Nih beberapa foto prewed kami.

IMG-20150723-WA0001 IMG-20150723-WA0004 IMG-20150723-WA0005

Keempat, cari gedung. Sumpah ya, ini susah. Sukoharjo mah kota kecil. Cari gedung buat resepsi kalo gak di Solo ya mana lagi. Saya dan mama muter-muter cari gedung resepsi yang juga menyediakan katering dan segala pernak-perniknya. Ketahuan kan kalo keluarga saya ogah ribet, haha….Untungnya ketemu. Harga masih manusiawi. Dan yang lebih membahagiakan : bayarannya bisa dicicil. Merdeka!!!!!

Stop dulu tulisan saya kali ini. Kapan-kapan saya sambung deh cerita saya dan si abang menuju hari H. Woho…..

Kutipan dari Pollyana


Waktu itu di sore hari yang cukup mendung, seperti biasa saya menunggu adek les saya makan sore sebelum belajar sains dengan saya. Di meja belajarnya, saya menemukan buku impor berupa cerita dongeng klasik dari Inggris (kalo nggak salah) yang judulnya Pollyana. Mungkin buku dongeng milik adik perempuannya, pikirku.

Saya buka sekilas, tidak sempat saya selesaikan satu buku penuh. Secara garis besar, Pollyana adalah anak dari seorang pendeta. Ibunya meninggal ketika dia masih kecil, sedangkan ayahnya meninggal beberapa waktu yang lalu. Pollyana yang malang pun tinggal di panti asuhan dengan kondisi yang sangat sederhana. Ternyata, panti asuhan tidak mampu lagi menampungnya. Maka, diserahkannya Pollyana ke satu-satunya tante yang dia punya. Kebetulan tante itu orang yang kaya raya. Seperti dongeng klasik pada umumnya, tante Pollyana yang kaya raya ternyata tidak suka dengan Pollyana, meski juga tidak jahat. Tante Pollyana punya pembatu perempuan dan tukang kebun yang segera akrab setelah bertemu dengan Pollyana. Hal yang menarik dari sosok Pollyana, dia berhasil menjadikan hidupnya yang terlihat biasa-biasa saja bahkan cenderung memprihatinkan di tengah istana tantenya menjadi terlihat indah, bahagia dan sempurna versi dia sendiri. Wow…sanggupkah kalian?

Ada beberapa kutipan yang menurut saya menarik. Seperti berikut ini.

Once you start looking for the happy things, you don’t think about the bad ones as much

Atau kutipan yang agak panjang berikut.

Just be glad game is starting. You must find something in everything to be glad about. For instance, if you see a pair of crutches, just be glad that you don’t need them, That’s all there is to it.

🙂

Tes Kerohanian = Tes Kesehatan Jiwa


Postingan saya kali ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Silahkan baca di sini.

Beberapa waktu yang lalu, ada instruksi dari kantor tempat saya (nanti) akan bekerja untuk mengumpulkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk pengangkatan menjadi CPNS. Mendadak dangdut deh pokoknya. Ya bayangin aja, baru juga hari pertama masuk kantor setelah libur (lama) lebaran tiba-tiba muncul instruksi sedemikian rupa yang mengharuskan saya (yang belum ngurus dokumen-dokumen tersebut) untuk balik lagi ke rumah. Emang sih, pas lagi di rumah udah ada kriteria-kriteria dokumen apa yang diperlukan untuk pengangkatan. TAPI…..MEREKA TIDAK BILANG KAPAN BATAS AKHIR PENGUMPULANNYA, MEREKA HANYA BILANG UNTUK BEKAL LIBURAN. Belajar dari kakak tingkat kami yang disuruh mengumpulkan dokumen-dokumen di bulan Oktober, jadi saya dan beberapa teman santae-santae aja dong belum ngurus (karena ini masih bulan Agustus). Trus, kata mereka juga dikasih ijin buat ngurus. TAPI……MEREKA HANYA MEMBERI WAKTU 3 MINGGU UNTUK MENGURUS DOKUMEN-DOKUMENNYA DAN TIDAK ADA IJIN. Kyaaaa…………………iya sih, emang cukup lama waktunya untuk mengurus dokumen-dokumen yang hanya butuh waktu 2 hari megurusnya. Syok terapinya itu lho, harus balik lagi ke rumah setelah lama stay di rumah dan tanpa dikasih ijin pula (alhasil saya pun bolos 4 hari -3 hari ngurus dokumen 1 hari tepar di kosan). Yang jadi masalah bagi saya, ya tentu saja duit. Duit sudah terkuras menjelang lebaran beli ini itu, belum lagi untuk biaya hidup bulan Agustus, plus tiket kereta pp Jakarta-Solo. Fiyyuh….thank you so much lah ya 😦 .

Sori deh kebanyakan curhat, habis keadannya emang kayak gitu T.T

Ada yang baru di dokumen pengangkatan CPNS saya kali ini. Apa itu? Selain surat sehat jasmani dan bebas narkoba, ada lagi surat sehat rohani. Karena saya nggak tahu itu apa, yaudah saya tanya ke custoer service RSUD dekat rumah. Mulanya si mbak yang saya tanya juga bingung, lalu dia tanyakan ke temannya di bagian lain. Dan dari dia saya dapat keterangan, kalau tes kesehatan rohani itu tentang kondisi kejiwaan. Karena waktu itu saya sudah cukup siang sampai di RSUD (jam 11an lewat), maka saya disuruh untuk balik lagi keesokan harinya.

OK deh. Karena mbak customer service-nya cukup ramah dan mau menjelaskan, saya pun nurut dan pulang sambil senyum. Sebelumnya, saya sudah was-was. Tes kesehatan jasmani, rohani dan bebas narkoba harus dilakukan di rumah sakit milik pemerintah (di tempat saya adanya ya RSUD). Padahal, saya cukup anti dengan rumah sakit pemerintah. Kenapa? Pertama dan utama, jelas pelayanan mereka jauh dari kata menyenangkan (yang selalu saya temui). Terakhir saya ke RSUD dekat rumah ini ketika saya masih SD. Udah dibentak-bentak, jutek pula perawatnya. Cihhhh…..

Balik lagi ke cerita semula. Pagi harinya, dengan diantar mama, saya pun pergi ke RSUD. Nggak begitu jauh sih dari rumah, nggak sampai 10 menit naik motor. Sesampai di sana, suasana sudah cukup ramai. Saya pun pergi ke loket umum dan tidak lama kemudian dilayani. Saya dipersilahkan untuk pergi ke kasir terlebih dahulu. Saya estimasi awal, tes ini akan habis sekitar kurang dari 200 ribu rupiah. Eh ternyata….setelah sampai kasir, total semua tes nya 320 ribu rupiah T.T. Untung mama saya bawa duit cadangan. Saya pun curiga dong kok habis banyak banget, apa sih yang menyebabkan biayanya membengkak kayak gitu? Selidik punya selidik, Tes MMPI. Itu tes apa? Kenapa harus ada? Mungkin untuk tes kesehatan rohani.

Bla bla bla….saya nggak menceritakan bagaimana tes kesehatan jasmani dan tes bebas narkoba ya, karena umumnya nggak jauh beda dengan tempat-tempat lain dan sudah banyak referensi yang membahasnya. Saya hanya ingin membahas tes kesehatan rohani saja 🙂

Tes kesehatan rohani yang saya jalani ditangani oleh dokter spesialis jiwa dan psikiater. Saya disuruh mengerjakan tes di komputer dengan beberapa soal. Kata perawatnya sih beberapa soal, tapi TERNYATA BEBERAPA ITU LEBIH DARI 200 SOAL. Alamak!!!!! Mau tau gimana soal-soalnya? Ini yang saya ingat. Jawabannya hanya 2, ya atau tidak.

-saya merasa bahagia

-keluarga saya menyayangi saya

-saya tidak pernah tidak melanggar peraturan lalu lintas

-saya tidak pernah tidak suka dengan kondisi sosial saya

-saya merasa orang-orang memmbenci saya

-saya merasa diikuti oleh orang yang tidak saya kenal

-saya merasa mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain

-saya gampang sedih

-mama saya mencintai saya

-dll

Gampang? Iya memang, tapi kok bayarannya 200ribu. Nyesek sek sek sek T.T

Setelah beberapa saat selesai mengerjakan soal-soal tersebut, saya pun dipanggil perawat dan disuruh menghadap dokternya untuk membicarakan hasil tes yang saya kerjakan tadi. Hasilnya, semua normal dan saya sehat rohani. Eh, ada tapinya. Seperti ini kurang lebih percakapan saya dengan dokter tersebut membahas ‘tapi’.

Dokter (D) : “Kamu punya pacar?”

Saya (S) : “Iya, Dok.”

D : “Dia cemburuan nggak?”

S : “Enggak, Dok.”

D : “Kalau kamu?”

S : “Iya, Dok. Hehehe…”

D : “Oh pantes. Nih lihat, nilai paranoid kamu cukup tinggi. Sekitar 63. Kalo kamu sudah di atas 70 berarti tingkat kecemasan kamu sudah mengkhawatirkan dan menganggu lingkungan kamu, kamu perlu konsultasi sama psikiater dan psikolog. Menjalani hidup itu santae saja, jangan terlalu cemas menghadapi sesuatu itu”

S : “Oh, gitu. Iya, Dok.”

D : “Kamu sering galau juga ya?”

S : “Kadang sih.”

D : “Nah, galau juga perlu dikurangin. Sering bikin orang lain galau nggak?”

S : “Wah, kalau itu saya nggak tau, Dok. Kayaknya enggak sih, teman saya ada yang parah kayak gitu, Dok.”

D : “Oya?! Dia menikmati nggak bikin orang lain galau? Contohnya kayak gimana?”

S : “Misalnya nih, besok itu ujian. Nah, pas malamnya banyak tuh teman-teman saya yang update status atau ngetwit di twitter kalo malem ini ‘belum belajar’, ‘lagi main nih’, atau apalah yang intinya seperti menjatuhkan mental lain yang juga mau ujian.”

D : “Coba deh kamu tanyain mereka gimana hasil tes kesehatan rohani mereka, mereka sehat jiwanya nggak? Kalau sudah seperti itu, bisa jadi kondisi kejiwaan dia terganggu.”

S : “Hehehe…”

Nah, begitulah sepenggal kisah curhat saya dengan dokter jiwa yang memeriksa saya. Saya pun tanya teman-teman saya yang tes di berbagai tempat. Tapi, kebanyakan dari mereka tes di rumah sakit yang tes kesehatan rohaninya cuma ditanya 5 menit tentang bli bli bli trus ditulis sehat rohani. Yah…pupus sudah harapan saya menanyai mereka-mereka yang saya sinyalir sebagai ‘tukang bikin galau’. Ya siapa tau hipotesis dokter jiwa tadi terbukti, hehehe…

FYI, pelayanan RSUD di dekat rumah sudah bagus. Ada peningkatan yang berarti. Bahkan, jika pelayanan kurang memuaskan silahkan hubungi nomer tertentu. Wuih…..good job. Meski senyum paramedisnya masih mahal :p

Penempatan? Galau? Wajar! Eh?!


Saya (mantan) mahasiswa kedinasan dan saya rentan galau. Ups!!!! Ya memang begitulah. Jadi, kalau kamu nggak suka galau dan terlalu rentan sama yang namanya galau, saya sarankan kamu untuk jauh-jauh deh sama yang namanya sekolah kedinasan. Trust me, it works! (kayak iklan ya? biarkanlah…)

Sebagai mantan mahasiswa kedinasan,dulu pas mau masuk kuliah saya disuruh tanda tangan surat ikatan dinas. Salah satu isinya adalah bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Dulu sih pas disuruh tanda tangan di atas kertas bermaterai, pikiran muda saya biasa-biasa aja. Take it slow and let it flow. Saya dulu terlalu larut dalam euforia masuk kuliah gratis, tanpa peduli saya akan ‘dilempar’ jauh dari rumah dan keluarga. Saya dulu juga nggak mikir kalau Indonesia itu nggak hanya sejauh jarak Solo-Jakarta dan tidak semuanya ‘daratan’. Sekarang, setelah saya disodori pilihan untuk memilih lokasi penempatan yang semuanya ada di luar Jawa (karena faktor IPK), barulah otak sehat saya berjalan.

Pusing dan galau itu hal pertama yang saya lakuin. Galau pada keluarga di rumah. Galau pada abang saya. Galau pada teman-teman kos. Pokoknya, tiada hari tanpa dangdut….eh salah, tiada hari tanpa galau.

Sedikit hal yang membahagiakan datang dari abang saya. Dia bersama ketiga temannya ditempatkan di kantor provinsi daerah Kalimantan Selatan, lokasinya tentu saja di Kota Banjarmasin. Luar Jawa juga sih, tapi seenggaknya masih mudah dijangkau Lalu, bagaimana dengan saya? Semua teman-teman saya dan saya sendiri yang tidak masuk peringkat 10 besar mau tidak mau ditempatkan di daerah luar Jawa  di kabupaten dengan kategori tipe C. Yang berasal dari daerah luar Jawa sih mungkin bisa sedikit tenang, karena mereka kemungkinan besar balik ke daerah masing-masing. Sedangkan saya yang berasal dari Jawa? Hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga dengan IPK pas-pasan seperti ini masih bisa ditempatkan di tempat yang ‘tidak terlalu jauh’ dan ‘menyenangkan’ serta ‘sesegera mungkin bisa pindah mengikuti suami’. Ceilehhhh…..

Sedikit lucu ketika saya galau sama abang saya. Dengan gayanya yang sedikit konyol dan easy going, abang saya bilang ke saya sembari menenangkan. “Santai saja, mau kamu penempatan di Kalimantan Selatan atau jauh sekalian ya nggak masalah. Kalau di daerah Kalimantan Selatan, alhamdulillah. Bisa dekat. Tapi kalau misalnya kamu dapatnya yang jauh sekalian, ya diterima saja. Legowo saja, Sayang. Bukankah kalau kamu jauh dari aku, nanti ‘narik’ kamu untuk bisa sedaerah lebih gampang? Maksudku, alasan pindahnya lebih kuat.”

Sebenarnya, ada form di google docs yang dibuat oleh salah seorang teman di jurusan, isinya berupa nama, daerah asal dan 3 daerah tujuan penempatan. Bisa diisi dan dibaca oleh teman-teman satu jurusan (saingan penempatan hanya satu jurusan saja). Tapi, sekali lagi tapi…..seperti yang sudah saya ungkapkan di atas tadi, (mantan) mahasiswa kedinasan itu rentan galau. Pun dengan teman-teman saya.  Fyi, pemilihan lokasi penempatan berdasarkan IPK. Sedih rasanya ketika teman-teman yang IPK-nya tinggi masih nanti-nanti mengisi formnya. Saya yang IPK-nya hidup segan mati tak mau seperti ini, hanya bisa menunggu. OK-lah ketika mereka-mereka itu masih menunda-nunda ngisi form karena masih bingung di hari pertama, kedua sampai seminggu. Tapi, alangkah konyolnya ketika sudah H-3, H-2 hingga hari H mereka-mereka itu masih juga nggak mau ngisi form. Kesannya itu mereka seperti ‘buat apa mikir teman yang IPK-nya dibawah saya, yang penting saya dapat tempat enak’. Beuh, amit-amit jabang bayikkkkkk…..(komat-kamit bacain doa buat mereka).

Nah, barusan saya dibuat supernyesek setelah mendengar cerita dari salah satu teman saya. Hm….jadi gini. Saya memilih 3 daerah untuk ‘calon’ lokasi penempatan saya nanti. Kalimantan Selatan, Aceh dan NTT. Daerah favorit teman-teman dari Jawa selain Sumatera adalah Kalimantan. Saya tau resikonya memilih Kalimantan Selatan di pilihan pertama, alasan saya sih tidak lain dan tidak bukan adalah mengikuti abang saya. Saya sudah berkali-kali ngecek di form google docs, yang menuliskan pilihan penempatan di Kalimantan Selatan hanya saya seorang yang berasal dari Jawa. Tapi, menurut cerita teman saya tadi, ada satu anak Jawa yang milih penempatan Kalimantan Selatan juga (kuotanya untuk anak luar propinsi hanya satu). Padahal di form google docs yang dia isi, dia menulis Kalimantan Tengah di pilihan pertama dan bla bla bla. Sebut saja MAS X. Saya yang semula tenang-tenang saja jadi merasa ‘jatuh terperosok sedalam-dalamnya’. IPK MAS X lebih tinggi dari saya dan dia “berbohong’ pada akhirnya. Duh, sakitnyaaaa…….(komat-kamit bacain doa semoga kabar itu bohong)

Selain MAS X yang bertingkah menjatuhkan seperti itu, ternyata ada beberapa orang yang lagak dan tingkahnya sebelas dua belas dengan MAS X. Ada yang berganti-ganti di H-3, bahkan yang lebih sadis ada yang berganti-ganti tempat di hari H nya. Tapi, sesadis-sadisnya mereka, yang paling sadis adalah orang yang tidak mengisi form google docs tersebut (tapi menyerahkan formulir ke bagian kepegawaian langsung tanpa diketahui teman-teman yang lain daerah mana tujuannya). Siapa pelakunya? Saya berdoa, semoga mereka nggak ‘sakit’ jiwanya*.

*insyaallah akan saya ceritakan di postingan saya selanjutnya