Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 2 #1)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Hari kedua, kami siap-siap cabut buat ke negara selanjutnya. Packing udah mulai dari pagi. Barang yang kami keluarkan nggak banyak, jadi nggak banyak juga barang yang kami tata ulang.

05.30-06.30

Bangun tidur – sholat subuh – check out. Mungkin ada yang tanya, kok sholat subuhnya jam setengah 6? Jadi gini, jam di Singapura itu GMT +8 dan WIB itu GMT+7, udah jelas kan kalo jam di Singapura lebih awal sejam (tapi kondisi langitnya sama dengan WIB).

06.30-07.30

Kami check out, sekaligus nitipin barang bawaan ke resepsionis hostel. Tips : barang yang dititipin jangan sampai ada barang yang berharga, selalu bawa passport dan dokumen pendukung, kunci rapat-rapat tas dan pastikan resepsionis hostel terpercaya. Karena saya nginep di hostel yang buat backpaker , jadi nggak cuma saya aja yang titip barang. Habis itu kami sarapan di McD, minum milo biar lebih sehat dibandingkan soda. Haha….

07.30-13.00

Sarapan selesai, kami menuju ke area Gardens By The Bay – Flower Dome – Cloud Forest. Fyi, ketiga tempat itu berdekatan. Berdekatan juga dengan Patung Merlion dan Singapore Flyer. Dari Stasiun MRT Chinatown kami turun di Stasiun Bayfront. Dari situ ada penunjuk jalan keluar yang langsung menuju ke Gardens By The Bay. Kalo Gardens By The Bay ini identik dengan supertree-nya, maka Flower Dome dan Cloud Forest identik dengan 2 kubah raksasa (dome) yang bersanding seperti mata belalang.

Supertree dari kejauhan

Supertree dari kejauhan

Saat itu, cuaca berangin dan hujan rintik-rintik kecil ketika kami sampai di Gardens By The Bay. Kami membeli tiket buat naik ke Supertrees nya seharga SGD 5 per orang sekali naik. Duh, kok ngeri ya sampe atas. Saya yang takut ketinggian ini cuma bisa ndredeg setelah keluar lift sampai di atas. Saya tau kalo ini sudah dirancang aman, tapi tetep aja bikin saya jiper. Suami takut ketinggian juga sih, tapi nggak separah saya. Jadilah suami yang bertugas ambil foto di atas, haha… Baru beberapa menit di atas, kami sudah diperingatkan sama petugas yang berjaga di atas untuk segera turun karena cuaca sedang hujan dengan rintik cukup banyak. Alhamdulillah, penderitaan selesai.

Suasana dari skyway

Suasana dari skyway

Suasana dari skyway

Suasana dari skyway

Gardens By The Bay ini terhitung masih baru, baru beberapa tahun. Konsepnya bertema alam dengan tata tanaman yang vertikal. Adem lihatnya. Kalau malam, supertree yang mirip banget sama pohon-pohon ala avatar ini dihiasin lampu-lampu berwarna-warni. Sayang, saya belum pernah berkunjung ke Gardens By The Bay di malam hari.

Puas menikmati Garden By The Bay, kami membeli tiket untuk bisa masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. Gak tau ya bisa beli salah satu aja atau harus dua-duanya, saya memang niat mau berkunjung ke dua tempat itu. Tiket masuknya cukup mahal, per orang sekitar SGD 28.

Sambutan Flower Dome

Sambutan Flower Dome

Pertama kali kami menuju ke Flower Dome. Memasuki Flower Dome, kami disambut dengan layar-layar berukuran cukup besar yang menampilkan beraneka ragam bunga. Wuah, awesome. Selanjutnya, saya terpesona sepenuhnya dengan Flower Dome. Ratusan bunga terhampar di dalam ruangan yang didesain sedemikian rupa sehingga mirip dengan kondisi kebun bunga yang sejuk. Sejuknya darimana? Dari AC.

Cantik ya bunganya

Cantik ya bunganya

Eksis dulu di tempat hits

Eksis dulu di tempat hits

Bunga di Flower Dome

Bunga di Flower Dome

Tema Flower Dome ini beraneka ragam, sering berganti-ganti setiap beberpa waktu (berapa bulan sekali ya, saya lupa). Saya suka ambil foto bunga, tapi saya nggak hapal apa nama bunganya. Haha…

Temanya Tahun Baru China

Temanya Tahun Baru China

Sudut Flower Dome

Sudut Flower Dome

Apa saja bunganya, cek di website nya ini. Mulai dari beraneka jenis mawar sampai bunga dari Afrika, berbagai jenis anggrek sampai bunga Amerika. Kalo boleh, saya nginep disini nggak pulang nggak papa deh. Haha….

Pas saya ke sana (Januari 2016), temanya sedang tahun baru China. Ada beragam shio dalam mitologi China yang berbentuk lucu-lucu berwarna merah hitam di tengah-tengah Flower Dome. Di tengah tahun pas lebaran, Juli 2016, temanya udah berganti. Waktu itu temanya bunga Lili (kalo ini masih inget) dan ada beberapa aksen retro klasik yang dipajang. Serasa nggak di Asia kalo dikelilingi bunga cantik dari berbagai dunia gini. Keluar dari Flower Dome, saya yang sudah terlanjur jatuh cinta ini menobatkan Flower Dome sebagai destinasi favorit saya ketika berkunjung ke Singapura ๐Ÿ˜€

Suasana Flower Dome

Suasana Flower Dome

Selanjutnya kami menuju Cloud Forest. Banyak review yang menyebutkan disini cukup dingin. Bagi saya, ini masih masuk kategori suhu biasa cenderung sejuk. Enak udaranya, sejuk adem serasa di hutan hujan tropis gitu. Cloud Forest memang didesain seperti hutan hujan yang asri lengkap dengan air terjun artifisialnya, mungkin terinspirasi sama hutan hujan di Kalimantan kali ya. Konon, air terjun di Cloud Forest ini dinobatkan sebagai air terjun tertinggi di dunia yang ada di dalam ruangan. Dengan sentuhan modern, pengunjung bisa naik tangga dan berjalan-jalan di jembatan gantung (bahasa kerennya skyway) yang mengelilingi Cloud Forest. Cek foto-fotonya di bawah ini.

Air Terjun Artifisial

Air Terjun Artifisial

Skyway

Skyway

Skyway

Skyway

Menurut saya, Cloud Forest ‘hanya’ gitu aja. Nggak begitu menarik, masih menarik hutan asli di gunung. Tapi, untuk sentuhan modern nya, sangatlah pantas untuk diacungi jempol. Kami nggak lama-lama sih di Cloud Forest, mungkin efek sudah lelah juga setelah di Flower Dome. Haha…

Taman di atas Cloud Forest

Taman di atas Cloud Forest

Bunga dari lego

Bunga dari lego

Fyi, ketiga tempat di atas menggunakan energi yang berasal dari limbah mereka sendiri lho. Istilahnya sustainable energy. Mulai dari AC hingga lampu. Hebat ya…

13.00-15.00

Cuaca mendung. Kami pulang ke daerah Chinatown, sekalian makan siang disana. Cuaca yang tidak menentu kayak gini nih yang sering bikin agenda jalan-jalan kacau. Huhu…

Makan di McD lagi yang tentu saja tidak ada nasi di sana. Selanjutnya, kami menyempatkan membeli sedikit oleh-oleh di Chinatown. Lumayan murah harga oleh-oleh disini. Oleh-oleh yang kami beli pun tidak banyak makan tempat, hanya beberapa gantungan kunci dan magnet kulkas.

Cerita selanjutnya.

Iklan

Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 1 #2)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

12.00-13.45

Selepas dari Henderson Waves Bridge, kami berdua balik lagi ke Vivocity. Kami mau naik MRT ke Chinatown. Karena saya nggak punya EZ-link card, maka saya beli 2 kartu Singapore Tourist Pass (STP) yang berlaku untuk 2 hari (@ SGD 26, termasuk deposit yang nanti akan dikembalikan di akhir SGD 10 per kartu). Tenang, jalur MRT di Singapura lebih jelas dan gamblang dibandingkan jalur bus nya (yang meski jelas dan tepat waktu tapi tetap aja pusing karena banyak jalur).Dengan STP ini, gratis naik MRT dan bus sepuas-puasnya selama kartunya belum kadaluarsa. Hohoho…..

Sampailah kami di Chinatown. Tahun 2014 awal kami pernah ke Singapura dan sedikit banyak tau tentang Stasiun MRT di Chinatown ini. Nah, sekarang ini -2 tahun kemudian- tampilan stasiunnya banyak berubah. Kami yang kaget dengan tampilan barunya celingak-celinguk dong lihat peta.

Sudut jalan di Chinatown

Sudut jalan di Chinatown

Disaat kami sedang asik mengamati peta dan menerka-nerka nanti dimana kami harus keluar, datanglah petugas stasiun yang sudah berumur setengah baya. Dengan ramah, petugas tersebut menyapa kami dan dengan sopan meminta kami untuk membuka isi tas ransel yang kami bawa. Fyi, tas kami cukup banyak waktu itu. 2 tas ransel yang kami bawa masing-masing, 1 tas kamera, 1 tas kecil dan 1 koper kabin. Karena memintanya dengan ramah sambil senyum, ya kami nggak keberatan. Petugas tersebut juga bilang, ini sekedar random cek aja. Tapi, saya kok curiganya karena tas kami yang cukup gede ya untuk barang 2 orang. Haha….

Nggak ada masalah setelah pemeriksaan tas oleh petugas stasiun. Kami pun melanjutkan langkah kami ke kedai milik orang India (atau orang Arab ya? India deh kayaknya) yang menjual nasi briyani di dekat Masjid Jamae Chinatown dan dekat pula dengan hostel tempat kami akan menginap nanti.

13.45-14.00

Urusan makan selesai, lanjut check in. Jangan kaget kalo baru pertama kali nginep di hostel dan ditarikin uang deposit, ini untuk jaga-jaga kalo kita merusakkan barang-barang hostel. Nantinya, uang deposit ini akan dikembalikan kok (kalo kita nggak ngerusak) pas kita check out. Deposit hotel yang kmai keluarkan sekitar SGD 10. Fyi, kami menginap di Backpakers Inn Chinatown.

14.00-17.00

Kami leyeh-leyeh santae di hostel. Lelah dan tidur siang dulu, soalnya tadi bangun pagi bener buat ngejar feri. Hahaha….

17.00-19.00

Kami keluar hostel. Tujuan kami ke Raffles Landing Site. Lumayan nyaman lho berada di area itu. Sungainya bersih, taman-tamannya juga. Kami menikmati pemandangan sore di situ sambil jajan es krim uncle yang harganya naik menjadi SGD 1,2. Hiks…

Salah satu daerah dekat Raffles Landing Site

Salah satu daerah dekat Raffles Landing Site

Enak es krim nya Bang ?

Enak es krim nya Bang ?

Dari Raffles Place itu, kami berjalan kaki menuju ke sekitar patung Merlion. Kami urung turun sampai ke bawah di depan patung Merlionnya, pengunjung berjubel banyak banget kayak cendol di sekitar es dawet. Jadilah kami duduk-duduk di taman dekat jalan raya sambil ngobrolin ERP (Electronis Road Piercing) yang sudah diterapkan di Singapura. Kabarnya, ERP juga akan diterapkan di jalan protokol Jakarta. Tapi entahlah, sampai awal 2017 ini ERP di Jakarta (sepertinya) belum diterapkan.

Pakde Raffles

Pakde Raffles

Bosan nongkrong, kami jalan santae dari sekitar patung merlion ke Esplanade. Lumayan jauh sih, tapi seneng aja gitu. Saya suka dengan transportasi jalan raya di Singapura. Tertib, teratur dan rapi. Sampai di sekitar Esplanade, kami menuju halte bus terdekat. Sekarang giliran suami yang bertugas membaca jalur bus. Tujuan kami selanjutnya ke daerah Orchard, kami mau tukar Rupiah ke THB di Lucky Plaza.

Becak tradisional di Singapura

Becak tradisional di Singapura

Orang apa cendol ?

Orang apa cendol ?

19.00-21.00

Untuk urusan naik bus apa dari halte bus dekat Esplanade ke Orchard, jangan tanya saya ya. Saya nggak tau dan lupa mencatat nomor bus nya. Maaf :).

Kawasan Orchard itu cukup luas. Benar memang kami turun di daerah Orchard, tapi sampe sana kami bingung kalo ke Lucky Plaza lewat mana. Kami pernah ke sana sebelumnya, tapi naik MRT. Jelas beda dong ya turun dari MRT dan bus. Haha…

Selfi dulu pas naik bus

Selfi dulu pas naik bus

Celingak-celinguk, kesana kemari nyari gratisan sinyal wifi. Sial, nggak ketemu. Beruntung kami bertemu dengan mbak-mbak kantoran (yang mungkin kasian ngeliat kami mukanya udah muka bingung dan lelah) yang berbaik hati menunjukkan lewat jalur mana kalo mau ke Lucky Plaza. Alhamdulillah…..dengan petunjuk dari si mbak kami sampai :D.

Hal pertama yang kami lakukan, tentu saja tukar duit. Kami tukar duit ke salah satu konter resmi penukaran uang. Cukup banyak sih konternya. Saya milih yang rame aja, soalnya kemungkinan yang rame ini nih rate nya bagus gitu. Haha.. Kalo masih punya energi dan gampang mengingat rate per konter, nggak ada salahnya kok pura-pura jalan sambil ngeliat rate yang biasanya dipampang di layar depan konter.

Papan peringatan

Papan peringatan

Selesai tukar uang, perut kami lapar. Dari hasil browsing sana-sini, Lucky Plaza terkenal sebagai mall-nya orang Indonesia di Singapura. Iseng aja kami muter nyari makan. Sampailah kami ke bebek goreng Pak Ndut yang lokasinya berdekatan dengan Ayam Penyet Ria. Kayaknya harganya gak mahal deh (maklum, budget kami mepet), kami berani-beraniin masuk. Haha…

Harga bebek gorengnya cukup mahal menurut saya, ya iyalah kalo dibandingin sama di Indonesia. Tapi seriusan, enakkkkk. Harganya seporsi sekitar SGD 7 atau 8 ya, saya agak lupa. Lengkap dengan nasi, sambel yang super pedes dan tahu sutra khas daerah Melayu yang endessss (soalnya di Batam tahunya juga sejenis tahu yang enak ini). Penampakannya lihat disini.

Puas kami makan, kami pulang. Sebenarnya agenda selanjutnya adalah nongkrong di Clark Quay, menikmati malam sambil romantis-romantisan gitu. Apalah daya, saya yang sehari sebelumnya tumbang masih belum sehat betul malam itu untuk tidur larut. Jadilah kami pulang ke hostel. Dan mencoba naik bus. Suami tambah seneng pas dapat bus tingkat. Haha… Maklum lah, dia jarang naik bus tingkat. Dari bus tingkat pula, masih kata suami, bisa lihat pemandangan dan lalu lintas. Ya diiyain aja deh, saya mah ngikut. Aku padamu wis.

Suasana Chinatown di malam hari

Suasana Chinatown di malam hari

Rincian pengeluaran hari pertama :

  • Kapal Feri Rp 500.000
  • Makan Rp 38.000 (sarapan beli di Batam) + SGD 36,95
  • STP SGD 52
  • Deposit hotel SGD 10

Cerita selanjutnya.

Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 1 #1)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya. Tapi karena postingan sebelumnya itu tentang acara pernikahan saya, jadinya postingan lanjutan ini saya ganti judul ya.

Nah, ini sebenarnya honeymoon saya dan suami sih. Jadi, agak nggak tepat juga kalo dibilang backpaker. Secara saya dan suami nginep di hostel yang bukan sharing kamar, terus kesana-kemari naik pesawat (dan taksi sesekali). Tapi kalo non backpaker ya nggak juga, lha kami lho nggembel kemana-mana tanpa ikut tour and travel. Haha…

Rute traveling saya dan suami : Batam-Singapura-Bangkok-Kuala Lumpur-Jakarta.

Lanjut ya, saya mulai dari hal paling krusial dalam travelling : budget. Beberapa harganya masih ada di catatan saya, yang lain lagi saya estimasi aja ya soalnya udah agak lupa. Penginapan sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya, begitu juga sama tiket pesawat. Saya pesan di traveloka, jadi bayarnya semua dalam rupiah. Rincian hotel sebagai berikut : Singapura –> nginap di Chinatown 1 malam, Rp 600.000, Bangkok –> nginap di kawasan Khaosan Road 3 malam, total Rp 900.000 dan Kuala Lumpur –> nginap di Chinatown 3 malam, total Rp 750.000. Semua hotel yang saya pesan untuk 1 kamar 2 orang ya. Untuk transportasi, saya menggunakan kapal feri dan pesawat. Start saya dari Batam, kapal feri dari Batam ke Singapura Rp 500.000 untuk 2 orang. Pesawat dari Singapura ke Bangkok saya pakai Jetstar, sekitar Rp 1.600.000 untuk 2 orang. Pesawat dari Bangkok ke Kuala Lumpur saya pakai Malindo, sekitar Rp 1.600.000 untuk 2 orang. Dan dari Kuala Lumpur-Jakarta saya pakai Lion, sekitar Rp 1.200.000 untuk 2 orang. Jadi, jika ditotal, budget awal sebelum saya berangkat untuk transportasi dan hotel adalah sekitar Rp 6.650.000.

Suasana pagi di pelabuhan Batam Center

Suasana pagi di pelabuhan Batam Center

Sekarang, masalah uang yang dibawa untu jalan. Saya tukar uang di Batam untuk SGD (Singapore Dollar), MYR (Malaysia Ringgit) dan THB (Thailand Baht). Jangan lupakan IDR dan USD, selalu sedia dalam dompet (saya sih sedia USD karena kurs nya yang cukup stabil kalo ditukar kemana-mana). Oya, saya juga nukar beberapa Rupiah ke THB di Singapura karena waktu itu persediaan THB di Batam sedang menipis. Yang saya tulis disini pengeluaran total yang saya catat berdasarkan kurs setempat : Rp 700.000, SGD 400, MYR 3.250 dan THB 9.606. Kalau dirupiahkan, semua totalnya sekitar Rp 10.400.000. Total dengan akomodasi, hotel dan lain-lain adalah sekitar Rp 17.050.000. Untuk 2 orang ya. Terhitung cukup mahal, ya gitulah alasannya seperti di atas.

Oke, mari kita mulai jalan-jalannya ya.

06.00 WIB.

Posisi saya dan suami sedang ada di Batam setelah selesai acara resepsi yang kedua. Kami menginap di Asrama Haji di daerah dekat Mega Mall Batam. Jadi, dari penginapan ke pelabuhan feri Batam Center ya tinggal jalan kaki aja udah nyampe. Sengaja kami memilih feri yang berangkat pagi-pagi buta dengan harapan masih cukup sepi. Waktu itu sih lumayan sepi ya, tapi nggak sepi-sepi amat.

08.00 Waktu Singapura.

Waktu Singapura sejam lebih awal dengan WIB, jadi perjalanan yang hanya sekitar 1 jam menjadi seolah-olah 2 jam. Memasuki imigrasi Singapura via Harbour Front (nama pelabuhan di Singapura yang jadi tempat sandaran kapal dari Indonesia) itu dilakukan seperti warga dunia ketiga, serius. Boro-boro senyum, petugasnya aja galak-galak banget. Maklum sih ya, kata suami sih itu karena Singapura ini sudah sering direpotkan sama orang Indonesia (kebanyakan masuk via Batam-Harbour Front ini) yang tujuan awalnya cuma jalan-jalan terus berakhir pada bekerja serabutan.

Welcome

Welcome

08.00-08.30.

Ngurusin administrasi masuk ke Singapura dan leyeh-leyeh melepas lelah di Vivocity. Fyi, Vivocity ini mall yang menyatu dengan MRT dan pelabuhan Harbour Front sekaligus nyambung dengan Resort World Sentosa (sebutlah Sentosa aja ya, kepanjangan namanya). Kami beli roti buat sarapan, harga rotinya gak sampe SGD 10 buat 2 orang. Oya, budget makan untuk kami berdua per orang sekali makan di Singapura ini adalah sebesar SGD 10. Jadi, maksimal uang kami habis sekitar SGD 60 untuk makan berdua. Tenang, ini masih sisa. Makannya ya makan seadanya ya, di fast food atau rumah makan biasa, janga di tempat mewah :p.

08.30-10.30.

Kami ke Sentosa jalan kaki. Serius, ini seru. Di sepanjang Sentosa Boardwalk atau papan jalannya Sentosa, ada boardwalk machine atau bahasa ndesonya papan berbentuk semacam eskalator yang jalan di tempat datar. Kami berdua yang malas jalan mah hanya leyeh-leyeh aja di jalur pinggir sambil ngeliatin bule-bule yang seneng bener udah di boardwalk masih aja jalan cepet. Haha…

Mejeng dulu di depan boardwalk sentosa

Mejeng dulu di depan boardwalk sentosa

Kami udah pernah ke Sentosa sebelumnya, cuma waktu itu kami naik kereta. Ada beberapa keuntungan yang kami dapat dengan memilih jalur jalan kaki ini. Pertama, gratis. Awalnya sih saya baca-baca dari berbagai blog kalo masuk Sentosa lewat jalan kaki ini bayar SGD 1, cuma pas saya ke sana udah gratis tis tis tis. Kedua, ada 2 opsi bagi yang malas dan suka jalan kaki. Kalo kamu malas jalan bisa leyeh-leyeh manja di boardwalk dan jalan bentar-bentar terus sampai. Kalo kamu suka jalan kaki bisa jalan di papan kayu di sepanjang area pejalan kaki yang cukup nyaman, ada ruang terbukanya dan ada yang tertutup. Tenang, yang tertutup cuma atap aja kok, jadi masih bisa lihat pemandangan di sekeliling. Ketiga, bisa berhenti foto-foto di spot yang artistik di sepanjang area pejalan kaki.

Boardwalk Sentosa

Boardwalk Sentosa

Yang kami lakukan di Sentosa adalah……foto-foto. Sengaja kami nggak masuk, mahal coi. Setelah puas, ya kami balik badan lanjut lagi jalan kaki. Haha.

Mejeng di tempat hits

Mejeng di tempat hits

10.30-12.00.

Tujuan kami selanjutnya ke Henderson Waves Bridge atau Jembatan Henderson. Jembatannya unik dan artistik lho menurut saya, bentuknya seperti ombak yang berayun. Lokasinya nggak begitu jauh dari Vivocity. Dari Vivocity, harus naik bus 145 (dari Blk 46 turun di Aft Telok Blangah) atau bus 131 (dari Bt Merah Int turun di Blk 54). Naik bus di Singapura ini cukup membuat saya pusing, lebih-lebih saya nggak bisa baca peta. Jalan terbaik ya ajak teman yang pinter baca peta, kalo nggak ya sediain waktu yang cukup buat melototin petanya.

Henderson Waves Bridge dari bawah

Henderson Waves Bridge dari bawah

Sampai di Henderson Waves, cuaca Singapura cukup terik. Di saat orang-orang masih pada olahraga di jam segitu, saya dan suami santae aja jalan kaki sambil foto-foto. Kalo haus ya tinggal isi ulang di tap water (we did it, too). Dari sini, Singapura cukup seru lho dilihat dari tempat yang agak atas. Selain itu, di Henderson Waves juga banyak taman-taman hijau yang enak bener buat bersantai. Memang ya, Singapura ini sukses menjadikan sebuah kota di dalam taman, bukan lagi sebuah taman di dalam kota.

Penampakan Henderson Waves Bridge

Penampakan Henderson Waves Bridge

Henderson Waves dan Pemandangan

Henderson Waves dan Pemandangan

Singapura dilihat dari atas Jembatan

Singapura dilihat dari atas Jembatan

Cerita selanjutnya.

Catatan Pengantin Baru Part #6


Cerita sebelumnya.

Hari Kamis, 21 Januari 2016, seminggu setelah bom Thamrin.

Saya, suami, dan mama papa saya berangkat menuju Kota Batam. Mama dan Papa mertua berencana mengadakan pesta kecil-kecilan disana. Kami berempat berangkat dari Bandara Adi Soemarmo, Solo. Ini pertama kalinya mama papa saya naik pesawat. Agak-agak takut juga saya nanti kalau-kalau mama papa saya mabuk udara atau gimana. Alhamdulillah, kami berempat landing dengan selamat di Hang Nadim, Batam. Pusing-pusing dikit wajarlah, cuaca Bulan Januari seperti biasanya.

Foto di depan tulisan hits

Foto di depan tulisan hits

Kami menginap di Asrama Haji, daerah dekat pusat kotanya Kota Batam. Dari sana bisa terlihat tulisan ‘Welcome to Batam’ yang ala-ala Hollywood itu, Masjid Raya, alun-alun kota dan salah satu pelabuhan penyeberangan ke Singapura. Sore hingga malam hari kami habiskan dengan berjalan-jalan menyusuri kota, sekalian beramah tamah dengan keluarga dari suami.

Di depan alun-alun kota

Di depan alun-alun kota

Hari kedua, kami menuju ke Jembatan Barelang. Hanya sampai jembatan 1 aja sih, soalnya kami nggak boleh capek-capek. Fyi, saya dan suami akan didandani dan dipajang (lagi) besok. Mama papa nggak lupa dong ya foto-foto selfie di Jembatan Barelang. Biar nggak kalah hits sama anak muda, hahaha….

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Sore harinya, salah seorang adik saya turun di Hang Nadim. Dan salah satu yang lainnya ngambek nggak bisa ikut acara resepsi di Batam karena masih kuliah. Yang bisa ikut ke Batam Kiko, dan repotnya kami juga harus ngurusin si Monik yang ngambek pengen ke Batam juga. Ah elah….

Malam hari, kami fitting baju pengantin sekalian baju untuk orang tua. Mama dan papa mertua nggak mau repot-repot ngurusin pesta, jadi semua diserahin ke gedung danย  semacam wedding organizer deh. Baju saya udah OK, baju si abang kegedean (dan si penyewanya kekeuh nggak mau ngecilin, rrrrr), sandal si abang OK, sandal saya enggak (aaaaarrrrgggghhhhh). Gini nih, derita badan suami nggak begitu tinggi dan kaki saya yang panjangnya melebihi rata-rata. Mana tinggal besok lagi acaranya :(.

Jangan perhatiin kaki

Jangan perhatiin kaki

Saya nggak mau dipusingkan dengan segala macam keributan kecil-kecil. Que sera-sera aja lah, whatever will be will be.

Pagi harinya, MuA datang on time sesuai jadwal. Kebetulan, tempat resepsi dan tempat saya menginal masih satu area. Resepsi diselenggarakan di Aula Asrama Haji. Saya dan si abang belum sarapan, kami hanya makan ringan sebelum pesta. Nah, ini nih cikal bakal saya sakit (kayaknya).

OK, muka sakit saya tersamarkan

OK, muka sakit saya tersamarkan

Sesuai kesepakatan awal, saya mau pakai suntiang yang paling ringan. OK. Suntiang yang paling ringan beratnya 1,5 Kg. Kata si abang “Ringan itu, sama kayak adek pake helm.” Berbekal pengetahuan yang saya dapat dari abang, saya pun mengiyakan. Tak disangka, beban yang diterima di kepala saya lebih-lebih. Jilbab model yang cukup ketat dan masih harus menyunggi (apa sih istilahnya membawa beban di kepala?) suntiang, plus cuma makan dikit. Gjkgjkgjk….

Alis Sinchan

Alis Sinchan

Mbak MuA-nya pun bikin saya emosi. Di Sukoharjo, alis saya memang nggak saya apa-apain. Nggak dirapiin ataupun dicukur, udahlah dibiarin aja gitu. MuA di Sukoharjo udah paham dan nggak mempermasalahkan alis ini. Dihias juga masih bagus kok alis saya, hanya jangan di zoom in aja. Eh ini, mbak MuA di Batam ini, pake nyinyirin alis saya yang masih natural. Inilah itulah, kan bikin bete. Yakan yakan yakan. Alis-alis saya, suka-suka saya dong. Gjkgjkgjk…….

Selesai didandanin, saya pun dipakaiin suntiang. OK lah, sepuluh menit pertama masih baik-baik aja. Tibalah saya keluar kamar rias, memakai sepatu dan olalaaaaaaaaaa……………sepatu saya kekecilan!!!!! Sepatu yang saya pakai hak-nya runcing. Bisa dibayangkan kan betapa kaki saya sebagai penopang tubuh ini dipakein sepatu ber-hak runcing dan kekecilan?!

Jalan pelan-pelan, masih bisa senyum. Mendadak, sekitar 15 menit setelah saya pakai suntiang, kepala saya seperti dicengkeram keras banget. Saya pun terhuyung. Nggak sampai jatuh karena dipegangin suami. Tapi, saya nggak kuat dengan pusingnya. Dari awal sebenarnya saya udah bilang, saya punya penyakit vertigo yang sering kambuh kalo terlalu lama pake helm. Rrrrrrrrrr………

Saya udah nggak peduli lagi dengan make up saya, saya sampai nangis saking nggak kuatnya nahan pusing. Pusing kombo yang saya rasakan ini hebat banget lho. Ya kalo nggak pernah ngerasain sakitnya sih ya terserah aja ya, tapi saya ogah banget deh kayak gitu lagi.

Pelan-pelan saya dituntun ke panggung utama. Masih tetap nahan pusing. Saya menegakkan kepala setengah mati. Hanya bisa duduk sambil sesekali air mata saya netes, saya emang kalo lagi sakit sukanya nangis mulu (rrrrrrrrrrr). Disuruh berdiri pas udah duduk di kursi pelaminan, saya nggak kuat. Semua orang panik, bahkan ada yang berpikiran saya dihuna-guna orang lain. Suasana tambah runyam ketika para tamu udah mulai datang. Pusing saya cukup terobati (sedikit banget) setelah saya minum teh manis hangat.

Masih belum bisa berdiri

Masih belum bisa berdiri

Alhamdulilllah, udah bisa berdiri. Senyum, sesekali menolehkan kepala. Para keluarga lega. Sementara acara berjalan lancar.

Menjelang akhir, sakit kepala yang saya rasakan menjadi-jadi lagi. Saya udah mewek lagi, nggak kuat. 1,5 jam saya duduk di panggung, saya nekat minta balik ke ruang rias. Tujuan utama dan pertama : melepas suntiang.

PLONG rasanya setelah suntiang dilepas, walaupun kepala saya masih nyut-nyutan. Badan saya lemes, mulut pait, dan pandangan muter-muter. Saya pun disuruh tidur aja, sementara suami dan keluarga masih menyalami tamu di luar.

The best photo of that day

The best photo of that day

Setelah tidur setengah jam, pusing saya sedikit berkurang. Saya pun ke gedung depan, nggak enak masih ada beberapa tamu. Semua senang saya udah enakan. Tapi, rasa-rasanya saya perlu obat dokter deh.

Sore harinya, saya ke dokter klinik diantar keluarga. Tensi saya (yang biasanya emang udah rendah) cukup rendah saat itu. Setelah dikasih obat, pusing saya agak berkurang.

Nyesel sih saya, pas resepsi malah sakit. Padahal, hari-hari sebelumnya saya udah menjaga diri biar nggak kecapekan lho. Makan minum bergizi, istirahat cukup. Yah, mau gimana lagi. Semoga nggak mengecewakan banyak pihak lah.

Foto bersama keluarga besar

Foto bersama keluarga besar

Lanjutan tulisan ada di sini.

Bandung : Libur Panjang dan Cinta Kita #3


Tulisan sebelumnya.

Nah, tibalah hari terakhir kami di Bandung. Agenda kami hanya tiga : leyeh-leyeh di hotel, beli oleh-oleh dan pulang kembali ke Jakarta.

Sebenarnya ada agenda lain yang kemarin sempat kami pending, yaitu pergi ke daerah Masjid Raya Bandung yang lagi nge hits dengan rumput sintetisnya sama ke daerah Braga mau foto ala-ala turis gitu. Apa daya, waktu dan cuaca nggak memungkinkan. Kami juga masih trauma ketinggalan kereta lagi, hahaha….

Bye Bandung

Bye Bandung

Oleh-oleh kami beli masih di sekitar jalan Cihampelas. Nggak banyak sih, asal bisa dimakan aja.

Selesai beli oleh-oleh, kami bergegas pergi ke Stasiun Bandung naik taksi. Tujuan kami makan dulu, kombo sarapan dan makan siang.

Sampai Stasiun Bandung, suasana masih nggak begitu rame. Mungkin karena masih pagi. Kami makan di Hokben. Nggak tau ya kenapa Hokben kali ini enak bener rasanya. Mungkin ini perpaduan antara lapar dan lama nggak makan, hahaha…

Beberapa saat kemudian kereta kami sudah sampai. Sama seperti kereta yang di renacana awal kami akan naiki (tapi batal), kereta api Argo Parahyangan. Ngomongnya sih eksekutif, eh tapi kondisinya memprihatinkan bener. Kereta ini kayaknya dari jaman tahun 90an deh interiornya nggak diganti :(.

Saya tidur sepanjang perjalanan, capek. Tinggal si abang yang sendirian menikmati pemandangan.

Bye Bandung, sampai ketemu lain waktu…….

Bandung : Libur Panjang dan Cinta Kita #2


Cerita ini lanjutan dari sini.

Pagi di hari kedua, kami semangat 45 buat menjelajah Kota Bandung. Tujuan pertama kali ke Dusun Bambu di daerah Lembang.

Lucu aja sih backgorundnya bambu disusun rapi gitu

Lucu aja sih backgorundnya bambu disusun rapi gitu

Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 7.00. Mampir makan bubur ayam khas Bandung dulu di daerah sekitar UPI. Buburnya lumayan enak dengan potongan ati ampela yang berlimpah, bahagiaaaaaaa……

Kami melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 8.00 kami sampai di Dusun Bambu. Cukup susah mencapai Dusun Bambu jika naik kendaraan umum, untuk sampai di tempat tujuan kami naik motor sewaan dan dengan bantuan google maps (serta tentu saja kemampuan membaca dan mengingat peta dengan baik, haha). Sampai di sana, kondisi masih cukup sepi. Alhamdulillah. Mari selfie dulu kakak…..

Selfie sebelum pintu masuk

Selfie sebelum pintu masuk

Suasana Dusun Bambu yang menawarkan nuansa khas pedesaan dengan beberapa lahan yang ditanami padi (atau rumput-rumputan ya?) dengan pematangnya. Ada juga jembatan gantung yang sebenarnya itu jalan ke saung-saung rumah makan, tapi berhubung rumah makannya belum buka jadi ya kami bisa leluasa foto-foto. Satu yang saya suka dari Dusun Bambu, ada beberapa taman bunga. Meski gak sebagus Flower Dome, tapi mayan lah ya buat nambah koleksi foto di instagram. Ada juga air mancur kecil. Lalu, ada semacam foodcourt yang menawarkan makanan nusantara. Karena kami lagi nggak lapar, ya skip ajalah. Di ujung jalan keluar, kupon masuk tadi bisa dituker sama air mineral mini. Mayan lah.

Rumah makan belum buka, mari selfie

Rumah makan belum buka, mari selfie

Di belakang kami, ikonik Dusun Bambu

Di belakang kami, ikonik Dusun Bambu

Puas menikmati Dusun Bambu, kami menuju destinasi selanjutnya. Nah, sekitar jam 10.00 pas kami pulang itu, pengunjungnya udah mulai berjubel. Alamak…..

Memasuki Dusun Bambu disambut sawah

Memasuki Dusun Bambu disambut sawah

Labirin tempat bermain anak-anak

Labirin tempat bermain anak-anak

Ini yang nge hits di Dusun Bambu

Ini yang nge hits di Dusun Bambu

Nah, jangan lupa selfie di sini

Nah, jangan lupa selfie di sini

Destinasi kami selanjutnya, masih bertemakan alam dan terletak di daerah Lembang, Farm House. Kedua destinasi ini saya sih yang milih, dapat dari hasil ngubek-ubek blog punya orang. Dari Dusun Bambu ke Farm House, kami harus puter balik darai arah Lembang ke pusat kota karena letak Dusun Bambu ini lebih di atas. Sepanjang perjalanan, kami cuma bisa melongo. Macet parah sepanjang jalur menuju Lembang, mulai dari motor, mobil pribadi sampai bus pariwisata. Kami yang melawan arus ini tenang-tenang saja, tapi khawatir juga sih nanti di Farm House bakal berjubel.

Berjubel di Farm House

Berjubel di Farm House

Kekhawatiran kami terjadi. Sampai di Farm House, suasana umpel-umpelan yang menyambut kami. Ya maklum aja lah ya, long weekend gini. Kami membeli tiket masuk dan tiket masuknya bisa ditukar dengan segelas susu segar atau susu kemasan di counter penukaran. Karena saya udah sumpek sama orang-orang di sekitar yang banyaknya ampun-ampunan, maka diputuskanlah si abang yang menukarkan tiket masuknya. Nah, pas menukarkan tiket ini, seperti biasalah ya kalo lagi musim rame gini pasti ada aja orang-orang yang meneyerobot seenak jidat. Kalo sama si abang, dijabanin tuh :p.

Jig SAW

Jig SAW

Yang serem gini ada juga di Farm House

Yang serem gini ada juga di Farm House

Kalau di Dusun Bambu tadi menawarkan nuansa pedesaan yang hijau, beda halnya dengan Farm House yang menawarkan suasana peternakan ala-ala Eropa. Kami kurang bisa menikmati Farm House, ya karena banyaknya pengunjung itu tadi. Tapi, tetap dong ya selfie jalan terus. Kapanpun dan dimanapun, nggak peduli cuma nyempil di pojokan. Sayang, banyaknya pengunjung berbanding terbalik dengan banyaknya jumlah foto pemandangan yang saya ambil. Saya badmood mau ambil foto, huhuhu……

Dandan ala Eropa

Dandan ala Eropa

Di Farm House juga menyediakan penyewaan baju ala-ala peternakan di Eropa gitu, jadi bisa buat gaya-gayaan. Saya sih udah puas nonton mereka aja sambil sesekali ijin mereka buat saya foto. Ngeliat panjangnya antrean yang mau nyewa baju aja udah bikin saya mundur, lagipula apa nggak panas ya di tempat berjubel banyak orang gini pake baju seperti itu? Hehe…

Bodo Amat Mau Selfie

Bodo Amat Mau Selfie

Selfie Nyempil

Selfie Nyempil

Di Farm House juga banyak kafe-kafe bergaya Eropa dan banyak yang jualan sosis bakar jenis Frankfuter (ini jenisnya bener apa nggak ya?). Lumayan enak kalo menurut kami, hanya saja kurang banyak, hahaha….

Bangunan bergaya Eropa, abaikan foto selfie suka-suka kami

Bangunan bergaya Eropa, abaikan foto selfie suka-suka kami

Di Farm House juga ada semacam kebun binatang mini dengan beberapa pawang di kandangnya. Tapi kok saya kasihan ya sama hewan-hewannya. Secara ya, hewan-hewannya itu tuh dikandang yang nggak terlalu tertutup. Jadi, pengunjung bisa leluasa memegang-megang si hewan. Kan bikin si hewan stress tuh :(. Kalo sama anak kecil ya dibejek-bejek gemes gitu, si abang pun memegang beberapa domba yang bulunya cukup terawat dan komentarnya “serasa megang karpet” :D.

Kasian dombanya

Kasian dombanya

Puas di Farm House, kami lapar. Destinasi selanjutnya ini pilihan si abang, Restoran Steak ‘Karnivor’. Serem ya pas dengernya, hihi. Lokasinya ada di sekitar Jalan Riau. Kami sampai sana sekitar jam satu lebih dikit, pengunjung nggak terlalu banyak waktu itu. Kami langsung memilih steak monster yang berat dagingnya sekilo, hahaha…. Penasaran aja sih gimana penampakannya.

Selfie menunggu pesanan

Selfie menunggu pesanan

Steak monster

Steak monster

Setelah matang dan merasakan, kami kecewa. Rasa steaknya nggak nendang, bumbunya biasa banget. Ya tapi kami habiskan juga sih, mahal coi :p.

Kami selesai makan sekitar jam setengah 3. Nggak tau ya ini beneran atau hanya perkiraan si abang aja, orang Bandung itu makan siangnya jam 2 jam 3 an. Dan, pas kami selesai makan, restorannya rame. Fufufufu…..

Kenyang dan ngantuk jadi kombinasi yang tepat. Yaudah lah ya, kami balik ke hotel. Bobok-bobok manja sampe sore.

Agenda sore hari, ke ciwalk yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari hotel. Windows shopping sebahagia hati kami, dan kami nggak banyak belanja apa-apa. Sialnya, malam itu hujan turun. Rencana mau ngembaliin motor ke tempat sewaan jadi batal. Untungnya, si mas tempat sewaan mau jemput motornya ke hotel dengan dikenakan charge yang nggak gede-gede amat. Alhamdulillah.

Petualangan kami hari itu selesai. Bersambung ke sini.

Bandung : Libur Panjang dan Cinta Kita #1


Awal Bulan Desember 2016, saya yang masih bekerja di tengah Indonesia ini mengajukan cuti tahunan. Mayan kan bisa ketemu sama suami tercinta, sekaligus jalan-jalan.

Seminggu saya habiskan di rumah mama papa saya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sahabat baik saya dari kecil menikah dan saya dikasih kain buat jadi bridesmaid. Awww awwww….. Gimana cantiknya dia (dan tentu saja saya) itu rahasia. Merayu suami buat mau pulang ke Sukoharjo, alhamdulillah suami bisa ijin. bahagiaaaaaaaaa…….

Seminggu selanjutnya (saya cuti 2 minggu kalender, btw) saya dan suami memutuskan untuk jalan-jalan. BANDUNG menjadi destinasi kami kali ini. Kami memilih Bandung bukan karena tanpa sebab. Beberapa waktu lalu suami ada perjalanan dinas ke Bandung dua kali. Perjalanan dinas pertama, saya dioleh-olehi suami vest emesh warna abu-abu tua. Perjalanan dinas kedua, suami bingung mau ngasih saya oleh-oleh apa. Akhirnya, suami menawarkan ‘gimana kalo kita liburan ke Bandung pas long weekend nanti?’. Tanpa banyak pikir, saya langsung mengiyakan aja. Mayan, honeymoon kedua :D.

Urusan transportasi dari dan ke plus selama di Bandung itu urusan suami. Giliran penginapan dan itinerary mana saja yang mungkin kami kunjungi itu urusan saya. Sippppp….

Sudut Kota Bandung Selalu Menarik Untuk Difoto

Sudut Kota Bandung Selalu Menarik Untuk Difoto

Hari H pun tiba. Suami memesan tiket kereta Argo Parahyangan yang berangkat jam 5 pagi dari Gambir. Malang tak dapat ditolak, kami telat bangun! Alarm hp sudah saya set di jam 3 dini hari, entah karena faktor saya yang terlalu capek atau karena saya matiin terus saya tidur lagi, saya terbangun di jam 4 pagi. Langsung syok, terus bangunin abang. Saya pun langsung gerak cepat dong. Mandi kilat jadi tujuan utama. Setelah mandi, saya pun dibuat KZL ZBL BGT sama suami. Gimana gak dongkol coba, waktu tinggal mepet gini si abang masih bisa-bisanya terkantuk-kantuk duduk di atas kasur. Gjkgjkgjk…… Baru mandi pas disuruh mandi, itu juga mandinya lama bener. Arrrrgggghhhhhhh……

Jam sudah menunjukkan 4.30. Saya udah menyerahkan sepenuhnya gimana kami berangkat ke abang. Terserahlah. Masih dongkol. Si abang ngerasa waktu setengah jam nggak bakal cukup buat ngejar kereta naik taksi ke Gambir. Searching sana-sini, si abang menemukan artikel kalo kereta Argo Parahyangan ini menaikkan penumpang dari Jatinegara. OK sip. Meluncurlah kami ke Jatinegara. Drama belum berakhir ternyata. Taksi yang kami tumpangi sopirnya baru dan belum hapal jalan, ke Stasiun Jatinegara aja nyasar. Gjkgjkgjk…..

Sampai di stasiun, kami celingak-celinguk nyari mana nih tempat buat nge-print tiket. Setelah tanya petugas stasiun, ternyata kereta Argo Parahyangan nggak menaikkan penumpang di Jatinegara. Kami disarankan untuk naik CL ke Stasiun Bekasi. Dan ketika petugasnya mendengar kami akan berangkat jam 5 atau sekitar 15 menit lagi, kereta Argo Parahyangan tak akan terkejar. Lemes kami lemes……

Inhale exhale inhale exhale…..

Sepagi ini kami drama ketinggalan kereta, ditambah lagi belum sarapan, mandi kilat dan sisa-sisa ngantuk masih ada. Fiyuh…..

Kami sudah masuk ke halte busway ketika tiba-tiba terdengar suara suami “Dek, aku kebelet pup. Cari WC dulu yuk.” Duh!

Sambil menunggu si abang menyelesaikan “panggilan alam”, saya melanjutkan searching tiket travel Jakarta-Bandung yang tadi sempat tertunda. Pikir ini itu, akhirnya aku ambil 2 opsi jam berangkat dari 2 shelter berbeda dari travel agen yang sama. Skip skip skip…..

Sebel Nggak Sebel Kita Tetap Selfie

Sebel Nggak Sebel Kita Tetap Selfie

Kami berangkat ke Bandung naik travel jam 9 pagi dari Tebet. Alhamdulillah, akhirnya jadi berangkat juga. Kami paham sih resikonya naik travel di long weekend gini, pasti macet. PASTI.

Jalan dari Jakarta ke Bandung relatif lancar. Alhamdulillah ya, seneng gitu. Eh tapi, pas keluar tol mau masuk Kota Bandungnya…..alamaaaaaaaaakkkkkkk, kami terjebak macet 2 jam. Gjkgjkgjk.

Welcome to Bandung

Welcome to Bandung

Hampir jam 3 sore, kami turun di daerah Pasteur. Lemes dan perut laper itu udah pasti. Tujuan utama : cari makan. Iseng-iseng kita nyoba Bakso Boedjangan, bakso yang lagi hits dan kekinian dari Bandung. Worth it lah, namanya juga orang laper pasti apa aja enak :p.

Sambil makan, kami berdua diskusi tentang itinerary yang sudah berantakan dari kami berangkat tadi. Coret ini coret itu, telat bangun sejam nyoretin apa-apa.

Bukan Pesan Sponsor

Bukan Pesan Sponsor

Karena hari menjelang sore dan mendung sudah di depan mata, kami berdua bergegas menuju ke hotel di daerah Cihampelas. Namanya Vio Hotel, hotel budget yang harganya bisa lebih rendah lagi karena memanfaatkan promo dari web pemesanan hotel langganan kami. Namanya juga hotel budget, asal bisa tidur aja lah :D.

Sore hari menjelang Maghrib, kami memutuskan untuk jalan keluar. Tujuan kami hari itu di daerah Jalan Riau : shopping. Kami nggak shopping maksa sih, kalo ada yang bagus dan harga cocok ya dibeli, kalo enggak ya udah. Jalan Riau surganya FO, begitu kata suami. Jujur, saya nggak paham mana FO yang jual barang bagus, saya cuma lihatnya di situ ada beberapa FO yang ramai di kunjungi. Dan kesanalah tujuan kami selanjutnya. Saya kurang nyaman ketika belanja dan banyak orang. Demi menyenangkan hati suami, ya udahlah saya belanja. Satu aja barang yang saya beli : tas tenteng buat ke pesta :p.

Selesai belanja, kami disambut hujan lebat. Padahal agenda kami selanjutnya adalah mengambil motor sewaan yang ada di daerah Dipati Ukur. Terpaksa, sambil menunggu hujan kami makan malam.

Salah satu hal konyol yang kami lakukan saat jalan-jalan di musim penghujan adalah lupa membawa payung. Hari sudah malam, gerimis masih lebat rintik-rintiknya. Kami memutuskan naik taksi dari Jalan Riau ke daerah Dipati Ukur. Setelah sampai sana, kami masih harus nyari lokasi penyewaan sepeda motor karena tempatnya masuk ke dalam gang kecil.

Wuah, drama kami luar biasa hari itu. Berantem, terus diem-dieman, terus curhat, terus ketawa-ketiwi lagi, terus berantem lagi, muter gitu aja terus. Ini semua karena telat bangun sejam, haha….

Jadi, aturan mutlak nomer satu sebelum mulai jalan-jalan : jangan bangun telat.

Lanjutannya ada di sini.