Catatan Pengantin Baru Part #6


Cerita sebelumnya.

Hari Kamis, 21 Januari 2016, seminggu setelah bom Thamrin.

Saya, suami, dan mama papa saya berangkat menuju Kota Batam. Mama dan Papa mertua berencana mengadakan pesta kecil-kecilan disana. Kami berempat berangkat dari Bandara Adi Soemarmo, Solo. Ini pertama kalinya mama papa saya naik pesawat. Agak-agak takut juga saya nanti kalau-kalau mama papa saya mabuk udara atau gimana. Alhamdulillah, kami berempat landing dengan selamat di Hang Nadim, Batam. Pusing-pusing dikit wajarlah, cuaca Bulan Januari seperti biasanya.

Foto di depan tulisan hits

Foto di depan tulisan hits

Kami menginap di Asrama Haji, daerah dekat pusat kotanya Kota Batam. Dari sana bisa terlihat tulisan ‘Welcome to Batam’ yang ala-ala Hollywood itu, Masjid Raya, alun-alun kota dan salah satu pelabuhan penyeberangan ke Singapura. Sore hingga malam hari kami habiskan dengan berjalan-jalan menyusuri kota, sekalian beramah tamah dengan keluarga dari suami.

Di depan alun-alun kota

Di depan alun-alun kota

Hari kedua, kami menuju ke Jembatan Barelang. Hanya sampai jembatan 1 aja sih, soalnya kami nggak boleh capek-capek. Fyi, saya dan suami akan didandani dan dipajang (lagi) besok. Mama papa nggak lupa dong ya foto-foto selfie di Jembatan Barelang. Biar nggak kalah hits sama anak muda, hahaha….

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Sore harinya, salah seorang adik saya turun di Hang Nadim. Dan salah satu yang lainnya ngambek nggak bisa ikut acara resepsi di Batam karena masih kuliah. Yang bisa ikut ke Batam Kiko, dan repotnya kami juga harus ngurusin si Monik yang ngambek pengen ke Batam juga. Ah elah….

Malam hari, kami fitting baju pengantin sekalian baju untuk orang tua. Mama dan papa mertua nggak mau repot-repot ngurusin pesta, jadi semua diserahin ke gedung dan  semacam wedding organizer deh. Baju saya udah OK, baju si abang kegedean (dan si penyewanya kekeuh nggak mau ngecilin, rrrrr), sandal si abang OK, sandal saya enggak (aaaaarrrrgggghhhhh). Gini nih, derita badan suami nggak begitu tinggi dan kaki saya yang panjangnya melebihi rata-rata. Mana tinggal besok lagi acaranya :(.

Jangan perhatiin kaki

Jangan perhatiin kaki

Saya nggak mau dipusingkan dengan segala macam keributan kecil-kecil. Que sera-sera aja lah, whatever will be will be.

Pagi harinya, MuA datang on time sesuai jadwal. Kebetulan, tempat resepsi dan tempat saya menginal masih satu area. Resepsi diselenggarakan di Aula Asrama Haji. Saya dan si abang belum sarapan, kami hanya makan ringan sebelum pesta. Nah, ini nih cikal bakal saya sakit (kayaknya).

OK, muka sakit saya tersamarkan

OK, muka sakit saya tersamarkan

Sesuai kesepakatan awal, saya mau pakai suntiang yang paling ringan. OK. Suntiang yang paling ringan beratnya 1,5 Kg. Kata si abang “Ringan itu, sama kayak adek pake helm.” Berbekal pengetahuan yang saya dapat dari abang, saya pun mengiyakan. Tak disangka, beban yang diterima di kepala saya lebih-lebih. Jilbab model yang cukup ketat dan masih harus menyunggi (apa sih istilahnya membawa beban di kepala?) suntiang, plus cuma makan dikit. Gjkgjkgjk….

Alis Sinchan

Alis Sinchan

Mbak MuA-nya pun bikin saya emosi. Di Sukoharjo, alis saya memang nggak saya apa-apain. Nggak dirapiin ataupun dicukur, udahlah dibiarin aja gitu. MuA di Sukoharjo udah paham dan nggak mempermasalahkan alis ini. Dihias juga masih bagus kok alis saya, hanya jangan di zoom in aja. Eh ini, mbak MuA di Batam ini, pake nyinyirin alis saya yang masih natural. Inilah itulah, kan bikin bete. Yakan yakan yakan. Alis-alis saya, suka-suka saya dong. Gjkgjkgjk…….

Selesai didandanin, saya pun dipakaiin suntiang. OK lah, sepuluh menit pertama masih baik-baik aja. Tibalah saya keluar kamar rias, memakai sepatu dan olalaaaaaaaaaa……………sepatu saya kekecilan!!!!! Sepatu yang saya pakai hak-nya runcing. Bisa dibayangkan kan betapa kaki saya sebagai penopang tubuh ini dipakein sepatu ber-hak runcing dan kekecilan?!

Jalan pelan-pelan, masih bisa senyum. Mendadak, sekitar 15 menit setelah saya pakai suntiang, kepala saya seperti dicengkeram keras banget. Saya pun terhuyung. Nggak sampai jatuh karena dipegangin suami. Tapi, saya nggak kuat dengan pusingnya. Dari awal sebenarnya saya udah bilang, saya punya penyakit vertigo yang sering kambuh kalo terlalu lama pake helm. Rrrrrrrrrr………

Saya udah nggak peduli lagi dengan make up saya, saya sampai nangis saking nggak kuatnya nahan pusing. Pusing kombo yang saya rasakan ini hebat banget lho. Ya kalo nggak pernah ngerasain sakitnya sih ya terserah aja ya, tapi saya ogah banget deh kayak gitu lagi.

Pelan-pelan saya dituntun ke panggung utama. Masih tetap nahan pusing. Saya menegakkan kepala setengah mati. Hanya bisa duduk sambil sesekali air mata saya netes, saya emang kalo lagi sakit sukanya nangis mulu (rrrrrrrrrrr). Disuruh berdiri pas udah duduk di kursi pelaminan, saya nggak kuat. Semua orang panik, bahkan ada yang berpikiran saya dihuna-guna orang lain. Suasana tambah runyam ketika para tamu udah mulai datang. Pusing saya cukup terobati (sedikit banget) setelah saya minum teh manis hangat.

Masih belum bisa berdiri

Masih belum bisa berdiri

Alhamdulilllah, udah bisa berdiri. Senyum, sesekali menolehkan kepala. Para keluarga lega. Sementara acara berjalan lancar.

Menjelang akhir, sakit kepala yang saya rasakan menjadi-jadi lagi. Saya udah mewek lagi, nggak kuat. 1,5 jam saya duduk di panggung, saya nekat minta balik ke ruang rias. Tujuan utama dan pertama : melepas suntiang.

PLONG rasanya setelah suntiang dilepas, walaupun kepala saya masih nyut-nyutan. Badan saya lemes, mulut pait, dan pandangan muter-muter. Saya pun disuruh tidur aja, sementara suami dan keluarga masih menyalami tamu di luar.

The best photo of that day

The best photo of that day

Setelah tidur setengah jam, pusing saya sedikit berkurang. Saya pun ke gedung depan, nggak enak masih ada beberapa tamu. Semua senang saya udah enakan. Tapi, rasa-rasanya saya perlu obat dokter deh.

Sore harinya, saya ke dokter klinik diantar keluarga. Tensi saya (yang biasanya emang udah rendah) cukup rendah saat itu. Setelah dikasih obat, pusing saya agak berkurang.

Nyesel sih saya, pas resepsi malah sakit. Padahal, hari-hari sebelumnya saya udah menjaga diri biar nggak kecapekan lho. Makan minum bergizi, istirahat cukup. Yah, mau gimana lagi. Semoga nggak mengecewakan banyak pihak lah.

Foto bersama keluarga besar

Foto bersama keluarga besar

Lanjutan tulisan ada di sini.

Iklan

Catatan Pengantin Baru Part #5


Lanjutan dari tulisan sebelumnya. So sorry kalo tulisan kali ini lebih banyak fotonya daripada tulisannya.

Jeng jeng….hari besar pun tiba. Jam setengah 6, para perias sudah datang. Saya, suami, mertua dan para perias sarapan dulu dengan yang disediakan oleh pihak hotel. Oiya, resepsi saya ini digelar di gedung yang juga sekalian ada hotelnya. Alasan papa saya sih biar keluarga suami nyaman aja nginepnya, nggak perlu jauh-jauh dari penginapan ke gedung resepsi.

Tebak nanti muka saya kayak gimana ya

Tebak nanti muka saya kayak gimana ya

Skip aja lah ya masalah dandan-dandanan. Saya sih nggak banyak masalah. Memang awalnya bukan perias ini yang saya inginkan. Jadi, saya booking perias ke salah satu orang (yang juga perias waktu saya foto prewed). Nah, pas akad (hari Sabtu) mbaknya bisa. Tapi, pas resepsi (hari Minggu) mbaknya nggak bisa. Jadilah saya di handle sama kakaknya si mbak yang juga perias juga. Alhamdulilllah nggak ada masalah berarti sih. Cuma mama mertua saya ngomel terus masalah maku up yang pecah-pecah sama ujung mata yang keriput. Sampe ditambal-tambalin gitu make up nya sama bedak yang mama mertua bawa sendiri. Saya sih diem aja ya, manyun. Menambah bedak dengan warna dan merk yang berbeda di riasan yang sudah jadi hanya menambah menor dan merusak pemerataan warna yang sudah dihasilkan. OK. No comment. Riasan di saya, mama sama kedua adik saya fine-fine aja tuh. Kalo masalah keriput, ya namanya udah tua ya keriput. Kalo nggak mau keriput ya perawatan kayak Madonna, yakan? Hehe….

Make up 1

Make up 1

Make up 2

Make up 2

Make up 3

Make up 3

Masalah lain yang saya perhatikan, sejak akad kemarin, dandanan mama mertua saya selalu full dengan bling bling, Di jilbab, di bros depan, gelang, kalung. Dari banyak sumber yang saya baca, pengantin perempuan itu nggak boleh ada yang nyaingin keglamorannya pas dia jadi pengantin. Dia harus berkilau dan cantik dibandingkan orang tuanya, orang tua suaminya, kakaknya, adiknya, iparnya dan briedsmaid-nya. Saya no comment deh masalah ini. Ya mungkin bisa jadi bahan renungan aja sih bagi mama mama di luar sana :).

Balik lagi ke acara resepsi. Jam setengah 10, acara dimulai. Dari awal kami sepakat memakai adat Jawa, hanya saja tidak terlalu banyak adat dan prosesi yang kami lakukan. Hanya, panggih (bertemunya pengantin laki-laki dan perempuan) dan sungkem ke orang tua dan mertua.

Salah dua dari penjaga kado

Salah dua dari penjaga kado

Cuaca kota kelahiran saya yang cukup panas membuat saya khawatir make up saya luntur, untung pas sewa gedung sudah diantisipasi dengan pesen kipas angin di panggung manten ntar. Aman. Nah, si abang nih yang sewot dari tadi. Secara nih ya, suami saya ini buncit perutnya kayak orang hamil 3-4 bulan gitu. Adat Jawa dengan memakai beskap mengharuskan suami memakai stagen. Ya memang sedikit mengurangi kebuncitan perutnya sih, tapi efeknya dia jadi nggak leluasa duduk. Kasiannnnn :p .

Perut buncit abang tersamarkan

Perut buncit abang tersamarkan

Pertama-tama, saya berjalan duluan menuju panggung dengan didampingi dengan pendamping manten. Pendamping manten ini teman dekat mama yang juga tetangga yang telah ditunjuk pihak keluarga. Bla bla bla….saya nggak hapal pada ngomong apa. Terus saya berdiri lagi dari kursi pengantin, menuju ke tengah ruangan menjemput suami saya yang juga digiring sama penggiring pihak laki-laki. Terus ketemu deh. Absurd ya, gitu lah 😀

Abang datang adek senang

Abang datang adek senang

Yes, tangan saya lebih putih dari si abang

Yes, tangan saya lebih putih dari si abang

Berdua bersama menuju pelaminan

Berdua bersama menuju pelaminan

Selanjutnya, acara doa. Yang pembaca doa juga sudah ditentukan siapa petugasnya. Nah yang ini saya nggak kenal dia siapa. Pasca doa, sungkem. Saya mewek parah pas sungkem ini. Sampai make up saya di touch up lagi sama periasnya di atas panggung. Mewek mewek dah 😀

Sungkem mewek

Sungkem mewek

Selanjutnya, ya acara hiburan sampai sejam selanjutnya acara selesai. Foto-foto dengan teman dekat, tetangga sekitar, dengan keluarga, dengan para among tamu (penerima tamu). Semua bahagia semua penuh suka cita, saya dan suami pun nggak bosen-bosennya senyum terus. Walo lelah, kami tetap tersenyum 😀

Teman-teman

Teman-teman

Keluarga besar

Keluarga besar

Geng jaman SMA

Geng jaman SMA

Geng jaman SD-SMP

Geng jaman SD-SMP

Ada hal yang menarik dari resepsi saya ini. Ini ceritanya saya dapat dari salah satu among tamu yang juga tetangga sebelah rumah. Pas pembukaan hingga seperempat acara dimulai, yang hadir di gedung nggak banyak. Paling sekitar 300 orang dari 1000 orang yang diperkirakan hadir. Tapi, pas acara sudah sampai di tengah, yang hadir hampir penuh. Alhamdulillah, estimasi tepat. Konsumsi jadi nggak sisa banyak atau kurang banyak. Udah gitu aja bikin kami bahagia.

Mama, kedua adik saya dan para penerima tamu

Mama, kedua adik saya dan para penerima tamu

Seragam among tamu dari pihak keluarga berbeda dengan yang dari pihak teman-teman mama papa dan tetangga. Harganya juga beda, kualitasnya juga beda. Dikit aja sih. Yang keluarga warnanya agak semu pink, sedangkan yang teman-teman dan tetangga warnanya orange. Modelnya kain jumputan. Kata mama, yang lagi hits itu. Saya yang sense of fashion nya jauh di bawah mama ya cuma iya iya ajalah.

You dan I #4

You dan I #4

You dan I #3

You dan I #3

You dan I #2

You dan I #2

You dan I #1

You dan I #1

Selepas resepsi, kami kembali ke rumah. Sore harinya, di rumah masih banyak tamu. Nggak kebayang saya gimana capaeknya mama papa, untung masih banyak saudara dan tetangga sekitar yang bantu-bantu. Tamu-tamu ini masih berlanjut hingga hari Rabu, H+3 setelah resepsi. Fiyuhhhhh……..

New Family

New Family

Welcome to the family, abang

Welcome to the family, abang

 

Lanjutannya bisa di klik di sini.

Catatan Pengantin Baru Part #4


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini :).

Skip skip skip. Sampailah saya di moment yang paling mendebarkan : akad  nikah.

Si abang datang bersama mama dan papanya di hari Kamis sore. Yang datang dari keluarga si abang ya memang hanya mama papanya aja, demi efisiensi biaya. Lagipula, dia anak tunggal dan keluarga besarnya di Sumatera Barat semua.

Hari Jum’at, saya dan si abang ke KUA dekat rumah saya. Ketemu sama bapak yang besok bakal jadi penghulu di nikahan saya, hihihi. Kami berdua melengkapi administrasi yang masih kurang beberapa, sekaligus pembekalan pra nikah. Si abang disuruh menghapal yang nanti diucapkan pada saat ijab kabul. Saya sudah mulai deg-degan, cemas-cemas galau gimana gitu. Malamnya, saya tertidur karena capek cemas. Hahahaha…..

Tibalah hari Sabtu. Pagi-pagi saya sudah di make up sama tukang make up yang datang ke rumah. Deg-degan. Ketemu si abang pagi harinya juga cemas-cemas gimana gitu, rasanya campur aduk nggak karuan. Senyum juga ikhlas nggak ikhlas.

Dandan Dulu

Dandan Dulu

Setelah semua selesai dandan, saya berjalan pelan-pelan dituntun mama dan kedua adek saya keluar tempat rias menuju tempat akad akan dilangsungkan. Tempatnya tidak mewah, hanya di halaman rumah saja dengan sedikit dekorasi warna hijau. Tamu undangan sudah banyak yang hadir, dan penghulu sudah siap untuk melaksanakan tugasnya.

Kelihatan Tegang

Kelihatan Tegang

Setelah ada pembukaan bla bla bla, sampailah si abang harus mengucapkan akad nikah.

Saya terima nikah dan kawinnya, Valent Gigih Saputri binti Sungkono dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Al-Qur’an dan logam mulia sebesar xx gram dibayar tunai.

Sah….sah….sah…

SAH

SAH

Alhamdulillah. Hati saya lega, plong. Begitu juga si abang, mukanya udah nggak tegang lagi.

Hari itu hari bahagia kami, akhirnya kami sudah sah menjadi suami istri.

Alhamdulillah

Alhamdulillah

Siang sampai sore hari, para tamu undangan banyak yang berdatangan. Ini di luar dugaan, prediksi keluarga tidak demikian soalnya. Dan malam harinya, acara midodareni dilaksanakan. Sebenarnya, acara ini dilangsungkan di malam sebelum akad berlangsung. Ya tapi nggak papalah, anggaplah ini acara untuk merekatkan tetangga sekitar.

Acara midodareni apa saja? Cuma nyanyi-nyanyi dan ramah tamah. No more. Begitu terus sampai jam 9 malam acara kelar. Jam 10 malam sudah beres. Siapkan tenaga, besok resepsi berlangsung.

Coba Tebak Saya Yang Mana

Coba Tebak Saya Yang Mana

 

Lanjutan….

Catatan Pengantin Baru Part #2


Halo, postingan ini lanjutan dari sini ya 🙂

Setelah sesi foto pre wedding selesai, maka saya dan si abang menentukan tanggal berapa kami nanti akan menikah. Kedua orang tua ngomong ini itu dan kami hanya diam mendengarkan sambil sesekali menanggapi, maka diputuskanlah kami akan menikah di Bulan Januari 2016 dengan pertimbangan kedua adik saya sedang tidak dalam bulan-bulan ujian. Voilaaaaaaaaaa……itu hari baik menurut kami berdua, padahal jaman sekarang masih banyak lho yang masih pakai hitung-hitungan orang Jawa (atau orang Minang juga ada hitung-hitungannya, saya nggak paham) yang menentukan hari baik itu berdasarkan tanggal lahir, letak rumah, dan ciri-ciri lain yang menurut saya tidak masuk akal. Satu lagi, hari baik itu menurut keluarga kami ya hari libur (Sabtu atau Minggu). Kenapa? Kalo hari-hari kerja kasian tamu yang berniat datang, jadi membolos atau mangkir kerja kan nggak enak :p.

Tanggal 16 Januari direncanakan akad akan dilaksanakan. Tanggal 17 Januari -esok harinya- resepsi sederhana digelar. Setelah fix tanggal, yang pertama kali kami lakukan adalah memilih lokasi resepsi. Resepsi aja sih, soalnya untuk akad akan kami laksanakan di rumah saya. Oiya, saya cerita ini di kondisi rumah saya aja ya. Yang di rumah abang -di batam sana- saya kurang tau gimana-gimana riwehnya, semua sudah di handle sama mama mertua sih.

Ada beberapa opsi tempat resepsi. Yang jelas bukan di rumah saya, secara saya masih berada di rumah dinas yang luas rumahnya terbatas. Well, pilihan pertama ada di gedung yang beneran murni nyewain gedung. Jadi ya bener-bener gedung, nggak ada katering dan dekor serta perlengkapan yang lain. Ada beberapa pilihan disini, tapi mama papa saya memutuskan untuk nggak ngambil. Alasannya, tentu saja nggak mau repot. Sebenarnya, ada keuntungan dari pemilihan gedung seperti ini. Dekorasi bisa kita tentukan sendiri, makanan juga bisa kita pilih sendiri, pun dengan hiburan. Tapi, dengan alasan efisiensi dan efektivitas waktu serta dana, kami memutuskan untuk menggunakan gedung yang sudah lengkap satu paket dengan hiburan, dekorasi, serta kateringnya. Kelemahannya mengambil satu paket gini, nggak lain dan nggak bukan kita harus mau dengan paket yang ada. Nggak bisa request mau dekor mewah ala-ala putri salju atau hiburan yang paham lagu-lagunya anak muda. Pffttttt……

Setekah acara pemilihan gedung beres, ada beberapa hal yang harus saya handle sendiri dari jarak jauh. Apa aja? Ini nih :

  • Make up untuk akad dan resepsi

     Masalah make up bagi saya susah-susah gampang. Kulit wajah saya sensitif, sekali salah make up akibatnya bisa panjang. Bintil-bintil kecil di wajah yang gatal sampai jerawat yang membeludak akan datang menghampiri. Saya memutuskan untuk menggukana MuA yang menangani saya pas foto pre wedding kemarin, namanya Mbak Iyum. Awal perkenalan kami nggak disnegaja. Jadi waktu itu saya sudah nemu tukang foto yang tepat, hanya saja saya belum nemu tukan make up yang bagus. Saya minta saran ke tukang fotonya, siapa MuA yang bagus di daerah Solo dan sekitarnya. Dikenalinlah saya sama mbak Iyum ini. Pas foto prewed, alhamdulillah cocok. Mama menyarankan buat nerusin aja pake jasa mbaknya. Ya saya OK aja sih, haha. Meski ada sedikit masalah ketika booking (karena pas acara resepsi si mbak sudah ada job lain, sehingga diganti kakaknya yang juga tukang rias), tapi over all saya sih baik-baik aja. Saya lebih memilih pinjam kebaya untuk akad dan resepsi dari MuA-nya, alasan pertama dan utama ya karena menghemat uang dan tenaga dong. Dipakainya sekali belinya pake duit jutaan, sayang bener. Kebutuhan yang lain masih banyak contohnya jalan-jalan.

  • Dokumentasi

     Kasusnya sama, saya nggak mau ribet nyari dimana lagi harus mencari tukang foto yang bagus dan sesuai dengan selera saya. Maka, diputuskanlah saya memakai jasa tukang foto yang sama dengan tukang foto ketika pre wedding kemarin. Alhamdulillah si mas-nya belum ada job, jadi leluasa deh bookingnya. Saya ambil foto yang reguler, sama video yang model wedding clip. Sip, beres.

  • Baju orang tua dan saudara kandung

     Ini nih, yang kecil-kecil tapi bikin ribet dan perlu mikir. Kalo yang untuk bapak-bapak sih masih oke aja ya pake baju yang netral, misal jas dan beskap yang warnanya nggak ngejreng. Nah, yang emak-emak yang rempong. Awalnya saya kan nggak begitu mikirin mau pake kebaya warna apa, terserahlah. Hanya saja jangan yang bikin kulit saya jadi terlihat hitam, haha. Saya sih ikut aja saran mama yang pake kebaya warna hijau mint dan orange. Semi pastel dan cantik. Lalu, baju emak-emak menyesuaikan. Dan baju dua adik saya juga warnanya senada. Untunglah si abang anak tunggal, jadi dia nggak rempong nyariin baju buat saudaranya. Hoho….

Kebaya Resepsi

Kebaya Resepsi

 

Kebaya Akad

Kebaya Akad

 

  • Souvenir

     Toko souvenir di Solo sebenarnya banyak sih, hanya saja saya yang lagi nggak ada di rumah ini kan jadi susah dong kalo harus nyari lagi. Terpujilah wahai para penjual souvenir online yang sudah banyak bertebaran di instagram, dan terpercaya. Seirus lho, saya ambil souvenir dari penjual di instagram dan barangnya bagus, free ongkir pula. Saya pesan yang sederhana aja sih, kaca rias kecil sama dompet batik besar.

  • Undangan

     Oke, saya termasuk golongan sakit hati untuk urusan undangan. Hiks, sedih bener mau bahas. Jadi ceritanya kan saya udah searching sana sini tuh terkait undangan, udah nemu undangan yang minimalis menggemaskan bin imut-imut. Eh, tetiba inget kalo ada saudara jauh yang bisa bikin undangan. Maka, pesanlah saya ke tempat saudara jauh tersebut. Respon awalnya nggak ngenaki, sok jutek gimana gitu. Terlebih pas saya habis kasih contoh begini lho model undangan yang saya mau. Seberapapun saya bayar kok. Eh pas hasilnya keluar, saya kecewa berat. Undangan terkesan asal-asalan dan nggak menarik sama sekali. RRRRRRRRRRRrrrrrrrrrrrr……….Pengalaman yang bisa dipetik dari kasus saya ini, lebih baik milih tempat percetakan yang terkenal deh, kualitasnya bagus dan pelyanannya ramah ketimbang milih punya saudara sendiri yang jauh dari harapan. Bukannya nggak memberdayakan saudara, tapi kan sebagai konsumen we deserve the best dong ya.

Sekian uneg-uneg dari pengantin baru yang kayaknya udah cukup panjang ceritanya, haha….

see you later

Lanjutan……

Catatan Pengantin Baru Part #1


Menghadapi pernikahan. Rentetan acaranya dimulai dari lamaran-mempersiapkan acara pernikahan baik dari segi mental fisik dan materi-acara pernikahan-pasca acara pernikahan. Panjang ya, mau nyaingin gerbong kereta panjangnya. Tidak seorang pun mau dong acara yang hanya berlaku sekali seumur hidup ini banyak cacatnya di sana sini. Well,  walaupun sempurna nggak sempurna suatu acara pernikahan pasti ada juga yang ngomongin di belakang. Hayo ngaku siapa yang sering bisik-bisik di belakang pengantin? Hihihi….

Pertama, acara lamaran. Kalo saya pribadi sih, acara lamaran itu masuk kategori sekunder dalam segi finansial dan perayaan. Lamaran sebagai tanda kalau seorang laki-laki benar-benar serius ingin membina rumah tangga dengan seorang perempuan dengan cara datang baik-baik ke keluarga pihak perempuan. Itu definisi menurut saya sendiri lho. Sebaiknya, setelah lamaran itu secepatnya menyusun acara pernikahan. Kalo pihak laki-laki sama perempuan berdekatan tempat tinggalnya lebih enak, lebih cepat lebih baik bukan. Berbeda dengan kondisi saya dan abang yang harus terpisah pulau, perlu strategi untuk menyusun acara pernikahan kami. Fyi, ada lho laki-laki yang minggat padahal udah melamar pacarnya dengan alasan macam-macam. Nggak banyak memang, tapi laki-laki bencong macam ini ada. Sueerrrrr….

Lanjut ke acara lamaran. Saya dan abang sama-sama paham kalo kondisi kami berdua pas-pasan. Kami berdua pun sepakat, acara lamaran kita ini nggak usah lah digelar dengan acara yang mewah dan mengundang banyak orang. Jadi, ketika acara lamaran kita berdua hanya mengundang beberapa tetangga dekat rumah dan saudara-saudara dekat. Hidangan yang disediakan pun juga sederhana. Selain alasan tempat tinggal kami yang berjauhan, waktu yang tersedia untuk saya dan abang sangat terbatas. Maklum, kami berdua hanya buruh negara bergaji pas-pasan. Hehe….

Satu hal yang tidak boleh lepas (menurut saya) untuk acara lamaran adalah tukar cincin. Kami lamaran di tanggal 20 Juli 2015, dan kami membeli cincin sekitar Bulan April 2015 ketika saya sedang mengikuti diklat prajabatan di Jakarta. Lama ya? Memang, LDR butuh strategi men 😉

Selepas acara lamaran, kami memutuskan untuk ambil foto pre wedding. Masih dalam konsep yang sederhana, kami hanya melakukan foto pre wedding indoor. Sebelumnya kami memang sudah menghubungi pihak fotografer nya sih lewat whatsapp. Oiya, kami kenal fotografernya sama tau bagaimana portofolio mereka dari instagram. Terima kasih teknologi, hidup kami jadi lebih mudah 🙂

Cerita ini sudah saya bahas sebelumnya disini. Nantikan kelanjutan kisah kami 🙂

ps : kali ini saya nggak nampilin foto, secara psotingan kali ini memperhalus postingan saya sebelumnya. Hehe…..salam cinta dan damai dari daerah tengah Indonesia yang masih terbelakang dan tertinggal.

Balada Gelar di Belakang Nama


-Apalah arti sebuah nama-

Konon sih katanya klise, apa sih arti sebuah nama. Penting? Nggak penting? Kalo bagi saya pribadi sih penting. Nama menunjukkan identitas, nama berarti doa, nama berarti jati diri.

Sekarang, bagaimana dengan gelar? Iya bener, gelar akademik. Bukan gelar keturunan kerajaan atau gelar habis melakukan ibadah.

Sebagian besar orang menganggap gelar akademik itu penting banget, prestigius, menunjukkan kualitas seseorang, alat menjual diri ke perusahaan tempat bekerja, tingkat ketercapaian seseorang dalam belajar, de el el. Bener kok, nggak salah. Masalahnya, sudah sesuai tempat, situasi dan kondisikah dalam mencantumkan gelar?

Beberapa waktu yang lalu, saya ribut dengan mama papa saya. Tentu saja via telepon, saya di Indonesia bagian tengah dan beliau berdua di Indonesia bagian barat. Masalahnya sih nggak berat-berat amat : saya dan calon suami sepakat tidak mencantumkan gelar akademik di belakang nama kami berdua di acara pernikahan kami nanti sedangkan mama dan papa saya sebaliknya. Runyam? Iya.

Mama papa saya dari awal maunya kami mencantumkan gelar akademik kami berdua di acara pernikahan kami nanti. Mulai dari nama di undangan sampe penyebutan nanti di acara. Alasannya, kami berdua sudah lulus kuliah, sudah bekerja. Kuliah kami nggak main-main susahnya, 4 tahun berjuang dengan ancaman DO. Belum lagi kami menjadi kebanggaan keluarga besar dengan gelar akademik kami berdua, dan bla bla bla. Saya nggak hapal semua alasannya.

Sedangkan saya dan si abang sudah jauh-jauh hari sepakat tidak mencantumkan gelar akademik kami di belakang nama untuk acara-acara yang sifatnya tidak ada hubungan dengan akademik dan pekerjaan. Mengapa? Alesan kami simpel aja sih : Untuk apa? Pamer? Apa yang perlu dipamerkan? Toh kami berdua sama-sama masih diploma, kami berdua prestasinya biasa-biasa saja bahkan cenderung meranaaaaaaaa, kami berdua ipk nya di golongan hidup segan mati tak mau, kami berdua masih saja menjadi orang biasa. Lalu untuk apa penyebutan gelar akademik di belakang nama kami?

Kami ingin meniru orang-orang luar biasa yang seringkali hanya menyebutkan nama saja tanpa embel-embel gelar akademik mereka yang sepanjang gerbong kereta. Rasa-rasanya mereka keren, berilmu tapi tidak menunjukkan tingginya level ilmu mereka. Kami percaya, banyak dan dalamnya ilmu seseorang itu tidak terlihat dari gelar. Tapi apa daya, kita hidup di jaman semua orang mendewakan gelar. Tanpa peduli gelar itu darimana, gelar itu apa hakekatnya, gelar itu untuk apa.

Tanggapan si abang ketika saya curhat masalah ini sih tenang-tenang saja. Nanti ya kita bicarakan baik-baik sama mama papa kamu.

Fiyuh…..

Masa Kuliah

Masa Kuliah

Our Engagement Day


Finally, we’re engaged!!!!

Setelah atur rencana mulai dari kapan nentuin hari lamaran, gimana ketemuannya, apa aja yang perlu dilakuin sampe siapa aja yang nanti akan diundang di acara lamaran kami. Ribet? Iya. Pusing? Iya. Galau? Iya. Nggak ada duit? Iyaaaaaa….

Rencana lamaran kami sudah jauh-jauh hari sih dipikirkan, secara LDR mah harus mikirin progres ke depan dong ya. Jadi semenjak berangkat penempatan -November 2014- kami berdua sudah sepakat lamaran akan dilaksanakan nanti ketika saya datang prajab di Jakarta. Dari November hingga awal tahun 2015, kabar prajab masih simpang siur nggak jelas. Ya sudahlah, kami cari aman saja. Pilihan kami jatuh di waktu beberapa hari setelah hari raya idul fitri.

Kembali lagi ke kata LDR. Sebagai pelaku LDR yang kekinian, pastinya kami berdua harus mikir dong gimana caranya biar acara lamaran kami ini bisa efektif dan efisien dari segi biaya dan mendukung perlengkapan menuju hari nikah ntar. Beruntung kami hidup di jaman teknologi sudah bukan lagi barang tersier, hahaha….

Pertama, cincin lamaran. Ini penting. Ya kali masak lamaran nggak ngasih cincin?! Jadilh di Bulan April 2015 ketika saya sedang diklat prajabatan di Jakarta, saya dan abang hunting cincin berdua. Duit kami pas-pasan sih, alhamdulillah si abang ada duit dikit buat beli cincin. Pergilah kami ke Cikini Gold Center di sebelah stasiun Cikini. Pilihannya lumayan banyak, kami pilih ke satu toko yang kami lupa apa namanya. Memilih ini itu dan kami memutuskan beli cincin seperti di bawah. Simpel. Dan bentuknya nggak sama (sepasang bukan berarti harus sama kan 🙂 ). Cincin saya dari bahan emas putih, sedangkan abang lebih milih paladium. Harganya? Rahasia.

Our RIngs

Our Rings

Kedua, kami harus menentukan kapan pelaksanaan lamarannya. Saya sekarang ada di Sumba Barat, NTT. Mama papa saya ada di Sukoharjo, Jawa Tengah. Abang ada di Jakarta, dan mama papanya ada di Batam. Sepakatlah kami melangsungkan acara lamaran tanggal 20 Juli 2015 hari Senin disaat cuti bersama masih berlangsung. Acaranya sederhana saja, nggak sampe 15 orang yang diundang. Makanan juga sekedarnya. Dari awal memang kami berdua sepakat kalo acara lamaran ini sederhana saja. Bahkan, kami meniadakan hantaran lamaran!!! No problem, right?

Ketiga, foto prewed. Jujur, masih lama nikahnya tapi kami udah mikirin prewed dong. It’s a must. Kapan lagi dan seberapa sering pelaku LDR yang gajinya sedemikian rupa bisa ketemu? Searching vendor di Solo kurang banyak pilihan, kalo hasilnya bagus harganya mahal kalo harganya murah hasilnya norak. Pffffttttt…..akhirnya kami pilih salah satu vendor yang lumayan bagus menurut kami dan harganya bisa nego, wakwak….MUA juga demikian. Alhamdulillah, meskipun hanya foto prewed indoor, tapi hasilnya OK. Nih beberapa foto prewed kami.

IMG-20150723-WA0001 IMG-20150723-WA0004 IMG-20150723-WA0005

Keempat, cari gedung. Sumpah ya, ini susah. Sukoharjo mah kota kecil. Cari gedung buat resepsi kalo gak di Solo ya mana lagi. Saya dan mama muter-muter cari gedung resepsi yang juga menyediakan katering dan segala pernak-perniknya. Ketahuan kan kalo keluarga saya ogah ribet, haha….Untungnya ketemu. Harga masih manusiawi. Dan yang lebih membahagiakan : bayarannya bisa dicicil. Merdeka!!!!!

Stop dulu tulisan saya kali ini. Kapan-kapan saya sambung deh cerita saya dan si abang menuju hari H. Woho…..