Catatan Pengantin Baru Part #4


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini :).

Skip skip skip. Sampailah saya di moment yang paling mendebarkan : akad  nikah.

Si abang datang bersama mama dan papanya di hari Kamis sore. Yang datang dari keluarga si abang ya memang hanya mama papanya aja, demi efisiensi biaya. Lagipula, dia anak tunggal dan keluarga besarnya di Sumatera Barat semua.

Hari Jum’at, saya dan si abang ke KUA dekat rumah saya. Ketemu sama bapak yang besok bakal jadi penghulu di nikahan saya, hihihi. Kami berdua melengkapi administrasi yang masih kurang beberapa, sekaligus pembekalan pra nikah. Si abang disuruh menghapal yang nanti diucapkan pada saat ijab kabul. Saya sudah mulai deg-degan, cemas-cemas galau gimana gitu. Malamnya, saya tertidur karena capek cemas. Hahahaha…..

Tibalah hari Sabtu. Pagi-pagi saya sudah di make up sama tukang make up yang datang ke rumah. Deg-degan. Ketemu si abang pagi harinya juga cemas-cemas gimana gitu, rasanya campur aduk nggak karuan. Senyum juga ikhlas nggak ikhlas.

Dandan Dulu

Dandan Dulu

Setelah semua selesai dandan, saya berjalan pelan-pelan dituntun mama dan kedua adek saya keluar tempat rias menuju tempat akad akan dilangsungkan. Tempatnya tidak mewah, hanya di halaman rumah saja dengan sedikit dekorasi warna hijau. Tamu undangan sudah banyak yang hadir, dan penghulu sudah siap untuk melaksanakan tugasnya.

Kelihatan Tegang

Kelihatan Tegang

Setelah ada pembukaan bla bla bla, sampailah si abang harus mengucapkan akad nikah.

Saya terima nikah dan kawinnya, Valent Gigih Saputri binti Sungkono dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Al-Qur’an dan logam mulia sebesar xx gram dibayar tunai.

Sah….sah….sah…

SAH

SAH

Alhamdulillah. Hati saya lega, plong. Begitu juga si abang, mukanya udah nggak tegang lagi.

Hari itu hari bahagia kami, akhirnya kami sudah sah menjadi suami istri.

Alhamdulillah

Alhamdulillah

Siang sampai sore hari, para tamu undangan banyak yang berdatangan. Ini di luar dugaan, prediksi keluarga tidak demikian soalnya. Dan malam harinya, acara midodareni dilaksanakan. Sebenarnya, acara ini dilangsungkan di malam sebelum akad berlangsung. Ya tapi nggak papalah, anggaplah ini acara untuk merekatkan tetangga sekitar.

Acara midodareni apa saja? Cuma nyanyi-nyanyi dan ramah tamah. No more. Begitu terus sampai jam 9 malam acara kelar. Jam 10 malam sudah beres. Siapkan tenaga, besok resepsi berlangsung.

Coba Tebak Saya Yang Mana

Coba Tebak Saya Yang Mana

 

Lanjutan….

Iklan

Balada Gelar di Belakang Nama


-Apalah arti sebuah nama-

Konon sih katanya klise, apa sih arti sebuah nama. Penting? Nggak penting? Kalo bagi saya pribadi sih penting. Nama menunjukkan identitas, nama berarti doa, nama berarti jati diri.

Sekarang, bagaimana dengan gelar? Iya bener, gelar akademik. Bukan gelar keturunan kerajaan atau gelar habis melakukan ibadah.

Sebagian besar orang menganggap gelar akademik itu penting banget, prestigius, menunjukkan kualitas seseorang, alat menjual diri ke perusahaan tempat bekerja, tingkat ketercapaian seseorang dalam belajar, de el el. Bener kok, nggak salah. Masalahnya, sudah sesuai tempat, situasi dan kondisikah dalam mencantumkan gelar?

Beberapa waktu yang lalu, saya ribut dengan mama papa saya. Tentu saja via telepon, saya di Indonesia bagian tengah dan beliau berdua di Indonesia bagian barat. Masalahnya sih nggak berat-berat amat : saya dan calon suami sepakat tidak mencantumkan gelar akademik di belakang nama kami berdua di acara pernikahan kami nanti sedangkan mama dan papa saya sebaliknya. Runyam? Iya.

Mama papa saya dari awal maunya kami mencantumkan gelar akademik kami berdua di acara pernikahan kami nanti. Mulai dari nama di undangan sampe penyebutan nanti di acara. Alasannya, kami berdua sudah lulus kuliah, sudah bekerja. Kuliah kami nggak main-main susahnya, 4 tahun berjuang dengan ancaman DO. Belum lagi kami menjadi kebanggaan keluarga besar dengan gelar akademik kami berdua, dan bla bla bla. Saya nggak hapal semua alasannya.

Sedangkan saya dan si abang sudah jauh-jauh hari sepakat tidak mencantumkan gelar akademik kami di belakang nama untuk acara-acara yang sifatnya tidak ada hubungan dengan akademik dan pekerjaan. Mengapa? Alesan kami simpel aja sih : Untuk apa? Pamer? Apa yang perlu dipamerkan? Toh kami berdua sama-sama masih diploma, kami berdua prestasinya biasa-biasa saja bahkan cenderung meranaaaaaaaa, kami berdua ipk nya di golongan hidup segan mati tak mau, kami berdua masih saja menjadi orang biasa. Lalu untuk apa penyebutan gelar akademik di belakang nama kami?

Kami ingin meniru orang-orang luar biasa yang seringkali hanya menyebutkan nama saja tanpa embel-embel gelar akademik mereka yang sepanjang gerbong kereta. Rasa-rasanya mereka keren, berilmu tapi tidak menunjukkan tingginya level ilmu mereka. Kami percaya, banyak dan dalamnya ilmu seseorang itu tidak terlihat dari gelar. Tapi apa daya, kita hidup di jaman semua orang mendewakan gelar. Tanpa peduli gelar itu darimana, gelar itu apa hakekatnya, gelar itu untuk apa.

Tanggapan si abang ketika saya curhat masalah ini sih tenang-tenang saja. Nanti ya kita bicarakan baik-baik sama mama papa kamu.

Fiyuh…..

Masa Kuliah

Masa Kuliah

Our Engagement Day


Finally, we’re engaged!!!!

Setelah atur rencana mulai dari kapan nentuin hari lamaran, gimana ketemuannya, apa aja yang perlu dilakuin sampe siapa aja yang nanti akan diundang di acara lamaran kami. Ribet? Iya. Pusing? Iya. Galau? Iya. Nggak ada duit? Iyaaaaaa….

Rencana lamaran kami sudah jauh-jauh hari sih dipikirkan, secara LDR mah harus mikirin progres ke depan dong ya. Jadi semenjak berangkat penempatan -November 2014- kami berdua sudah sepakat lamaran akan dilaksanakan nanti ketika saya datang prajab di Jakarta. Dari November hingga awal tahun 2015, kabar prajab masih simpang siur nggak jelas. Ya sudahlah, kami cari aman saja. Pilihan kami jatuh di waktu beberapa hari setelah hari raya idul fitri.

Kembali lagi ke kata LDR. Sebagai pelaku LDR yang kekinian, pastinya kami berdua harus mikir dong gimana caranya biar acara lamaran kami ini bisa efektif dan efisien dari segi biaya dan mendukung perlengkapan menuju hari nikah ntar. Beruntung kami hidup di jaman teknologi sudah bukan lagi barang tersier, hahaha….

Pertama, cincin lamaran. Ini penting. Ya kali masak lamaran nggak ngasih cincin?! Jadilh di Bulan April 2015 ketika saya sedang diklat prajabatan di Jakarta, saya dan abang hunting cincin berdua. Duit kami pas-pasan sih, alhamdulillah si abang ada duit dikit buat beli cincin. Pergilah kami ke Cikini Gold Center di sebelah stasiun Cikini. Pilihannya lumayan banyak, kami pilih ke satu toko yang kami lupa apa namanya. Memilih ini itu dan kami memutuskan beli cincin seperti di bawah. Simpel. Dan bentuknya nggak sama (sepasang bukan berarti harus sama kan 🙂 ). Cincin saya dari bahan emas putih, sedangkan abang lebih milih paladium. Harganya? Rahasia.

Our RIngs

Our Rings

Kedua, kami harus menentukan kapan pelaksanaan lamarannya. Saya sekarang ada di Sumba Barat, NTT. Mama papa saya ada di Sukoharjo, Jawa Tengah. Abang ada di Jakarta, dan mama papanya ada di Batam. Sepakatlah kami melangsungkan acara lamaran tanggal 20 Juli 2015 hari Senin disaat cuti bersama masih berlangsung. Acaranya sederhana saja, nggak sampe 15 orang yang diundang. Makanan juga sekedarnya. Dari awal memang kami berdua sepakat kalo acara lamaran ini sederhana saja. Bahkan, kami meniadakan hantaran lamaran!!! No problem, right?

Ketiga, foto prewed. Jujur, masih lama nikahnya tapi kami udah mikirin prewed dong. It’s a must. Kapan lagi dan seberapa sering pelaku LDR yang gajinya sedemikian rupa bisa ketemu? Searching vendor di Solo kurang banyak pilihan, kalo hasilnya bagus harganya mahal kalo harganya murah hasilnya norak. Pffffttttt…..akhirnya kami pilih salah satu vendor yang lumayan bagus menurut kami dan harganya bisa nego, wakwak….MUA juga demikian. Alhamdulillah, meskipun hanya foto prewed indoor, tapi hasilnya OK. Nih beberapa foto prewed kami.

IMG-20150723-WA0001 IMG-20150723-WA0004 IMG-20150723-WA0005

Keempat, cari gedung. Sumpah ya, ini susah. Sukoharjo mah kota kecil. Cari gedung buat resepsi kalo gak di Solo ya mana lagi. Saya dan mama muter-muter cari gedung resepsi yang juga menyediakan katering dan segala pernak-perniknya. Ketahuan kan kalo keluarga saya ogah ribet, haha….Untungnya ketemu. Harga masih manusiawi. Dan yang lebih membahagiakan : bayarannya bisa dicicil. Merdeka!!!!!

Stop dulu tulisan saya kali ini. Kapan-kapan saya sambung deh cerita saya dan si abang menuju hari H. Woho…..

Emotional Intelligence


Ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah dulu, ada salah seorang guru saya yang berkata lebih kurang seperti ini, “Taukah kalian, tidak selalu orang sukses itu orang yang mempunyai IQ (Intelligence Quotient) tinggi. Ketika kalian nanti bekerja dan hidup bermasyarakat, IQ itu hanya berperan sekitar 20%, sisanya EQ (Emotional Intelligence) yang berperan.”. Waktu itu saya penasaran dengan apa yang namanya EQ tersebut. Selain tes IQ, ternyata ada jyga tes EQ. Hanya saja tidak seperti tes IQ yang biasanya ada di sekolah-sekolah, tes EQ lebih ditekankan di luar sekolah. Entahlah, mungkin ini bagian dari sistem pendidikan bangsa ini yang lebih mengutamakan IQ ketimbang EQ.

Setelah saya searching, ada beberapa hal yang saya dapat. Daniel Goleman adalah orang yang memperkenalkan Emotinal Intelligence atau Kecerdasan Emosional. Goleman melakukan suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan lebih berhasil membina hubungan dengan orang-orang di sekitarnya dan lebih sukses dibandingkan orang yang memiliki IQ tinggi saja tanpa diiringi dengan kecerdasan emosional. Dia menjelaskan, ada lima dasar kecerdasan emosional.

a. Mengenali emosi diri

Kesadaran diri untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan salah satu dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada pada dalam kekuasaan perasaan (ini nih yang biasanya terjadi pada remaja jaman sekarang). Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang handal bagi kehidupan mereka, karena mereka mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka sendiri. Hal ini yang sesungguhnya sangat membantu mereka atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi, mulai dari masalah akan kuliah di bidang apa sampai ke pekerjaan apa yang akan diambil.

b. Mengelola emosi

Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. Ini nih yang susah, saya sendirimasih sering kerepotan mengelola emosi saya sendiri. Terkadang pengendalian emosi saya bagus, tapi tidak jarang buruk. Hal ini terjadi mulai dari jaman saya kecil, raport TK saya selalu ada tulisan yang intinya ‘kendalikan emosimu’. Cuma sekarang mulai ke sini mulai bisa mengendalikan emosi, asal nggak pas PMS aja sih :p. Mengendalikan emosi bukan hanya ketika marah saja lho, tapi ketika senang juga. Misalnya saja nih, ketika sedih tidak terlalu bersedih banget, ketika senang juga tidak terlalu heboh berlebihan (bahkan sampai euphoria).

c. Memotivasi diri sendiri

Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan (istilah lainnya memotivasi diri sendiri) adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, juga untuk berkreasi. Kendali diri emosional -menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati- adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Dan, mampu menyesuaikan diri dalam ‘aliran’ yang memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan. Banyak orang mengatakan, memotivasi diri sendiri itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan memotivasi orang lain. Sulit bukan berarti tidak bisa kan? Banyak cara kok untuk memotivasi diri sendiri. Misalnya saja, memberi hadiah ke diri kita sendiri saat kita berhasil mencapai suatu target yang kita tetapkan. Nggak usah mahal-mahal, misalnya saja makan es krim coklat, atau makan bakso yang lezat atau nonton film, atau baca novel, atau terserah apa kesukaan Anda. Atau bsia juga memotivasi diri sendiri dengan cara lain, seperti motivasi nilai yang bagus, motivasi untuk orang tua dan keluarga, sampai memotivasi diri sendiri yang paling tinggi tingkatannya : melakukan segala sesuatu untuk Allah SWT. Yang saya sebutkan terakhir ini beneran keren deh :).

d. Mengenali emosi orang lain

Empati, kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul dasar. Orang yang empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. Senang rasanya ketika partner kita tersebut orang yang empati. Tapi, tingkat empati tiap orang itu berbeda-beda. Yang saya rasakan sih, biasanya perempuan lebih mudah berempati daripada laki-laki. Ini cuma menurut pengamatan saya aja lho.

e. Membina hubungan

Seni membela hubungan, sebagian besar, merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antarpribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengasah keterampilan dalam membina hubungan, salah satunya mengikuti suatu organisasi atau suatu kepanitiaan di sekolah ataupun kampus. Semakin sering kita berinteraksi dengan orang lain, akan semakin mudah bagi kita untuk membina hubungan dengan orang lain. Tidak percaya? Coba tanyakan pada teman-teman Anda yang aktif di organisasi ataupun di kepanitian.

22


Pagi itu, saya bangun pagi karena pagi-pagi hape saya sudah berbunyi nyaring melebihi suara alarm yang biasa saya setting dengan volume nggak manusiawi. Sepertinya sudah menjadi ritual setiap tanggal 16 Februari sejak 4 tahun yang lalu kalo orang rumah pasti ribut mengucapkan Happy birthday di pagi hari mulai dari mama–papa–jarjit kiko ngakngik (adek pertama saya)–jarjit monik ngakngik (adek kedua saya). Tapi, pacar saya malah nggak telpon /(._.)\

Malesnya sudah maksimalis saat tiba-tiba saja pacar saya yang ganteng sms pake kata ‘adek cantik’. Ini jarang loh, biasanya juga panggilnya si buluk, maripil, ngakngik, upil, bau ketek, bau jigong, nggak pernah mandi, dll. Nggak berapa lama, dia datang ke kosan sambil bawa kue tart. Voilaaaaaaaaaaa……………………………………..silahkan anda mau percaya mau enggak, ini adalah kue tart pertama saya selama saya hidup dan melewati 16 Februari. Dulu pas 17 tahun, teman-teman juga membelikan saya kue tapi bukan kue tart (dimakan bareng-bareng soalnya). Dan ini so amazing buat saya, meskipun sejujurnya saya nggak begitu suka kue tart. Kenapa? Pertama, harganya mahal. Kedua, berbeda sama makanan yg lain kalo banyak enak kalo sedikit enggak, ini sebaliknya (kalo sedikit sih enak, kalo banyak jadi enggak). Ketiga, nggak tahan lama. Duit abang saya habis buat beli kue tart ini, jadi saya nggak dapat kado yang tahan lama. Kata abang sih, kadonya ya kue tart ini. Sedih saya, kadonya cuma habis dalam sehari T.T…..Biar awet, jadinya saya foto aja deh ya, biar bisa buat kenang-kenangan.

Ini hanya 25% nya aja, tapi cukup mewakili kok

Sudah lihat kan kue nya? Rasa coklat, dalamnya bolu, ada krim vanila dan selai stroberi sedikit. Manis rasanya, kata abang sih seperti saya, hehe… Sederhana ya, tidak ada tulisan apapun. Simpel. Anggun. Dan banyak dijumpai di toko kue. Tapi saya tetap menghargai usaha abang saya buat ngasih surprise ini. Alhamdulillah masih bisa merasakan kue tart di hari ulang tahun sendiri. Abang saya perhatian juga ya ternyata 😀

Maaf ya kalo abang saya baca ini dan tersinggung, dulu kan adek sudah ngomong langsung pas abang ngasih kue ini. Bukannya nggak menghargai, hanya ngomong jujur aja kok. Daripada beli kue tart yang cukup mahal kayak gini, mending beli kue kecil-kecilan aja. Dan beliin kado buat adek yang tahan lama. Hahahaha…..ini kok malah jadi saya sih yang minta kadonya? Kado kan terserah yang ngasih ya :p

Overall, thank a ot for this. You’re my man, you’re my friend, you’re my brother, and you’re my everything 🙂

Sudah cukup seneng-senengnya, sekarang mari muhasabah diri lagi. Gak papa kan muhasabah diri lagi meski ulang tahun sudah lewat jauh?

Bissmillahirrahmanirrahim.  Semoga aku di hari ini dan di hari esok selalu lebih baik dari hari kemarin. Semoga apa yang aku lakukan kemarin, sekarang dan yang akan datang bermanfaat untuk orang lain dan diri sendiri. Semoga apa yang menjadi inginku bisa juga menjadi kehendakMu. Limpahkanlah selalu nikmatMu untukku dan keluargaku. Berilah kami kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan dunia akherat. Jauhkanlah kami dari godaan setan, siksa kubur dan api nerakamu. Berilah aku seorang imam dan keturunan yang sholeh-shalilah yang bisa menuntunku di dunia dan akherat. Terima kasih atas semua nikmatMu, aku mohon ampun atas semua kesalahanku. Semoga sisa hidup ini menjadi suatu hal yang bermanfaat. Aamiin.

Cerita Antara Naga dan Kebo #3 : Our First Anniversary


Apa yang kamu lakukan saat kamu merayakan first anniversary jadian kamu sama pacar kamu? Pasti jawabannya macem-macem. Mulai dari makan malam romantis, pergi tamasya berdua, ngasih kue tart yang lucu, dikasih boneka yang imut, atau semacam-macamnya itulah yang romantis-romantis.

Bagaimana dengan saya dan abang saya? TOTALLY DIFFERENT. Yah tau sendiri lah abang saya itu orangnya jauh dari urusan romantis. Pas mau deket-deket hari H nya saya pancing-pancing sih,” Mas, kita ntar tgl.15 (hari jadian) mau kemana?”. Bukannya berinisiatif, dia malah balik nanya, “ Kamu maunya kemana, Sayang?”. Mungkin maksud dia baik minta pendapat saya, tapi ya sekali-sekali mbok inisiatif ngajakin ke mana gitu biar ada romantis-romantisnya dikit. Saya cuek aja jawabnya,”Aku terserah mau kemana, ngikut aja sama yang dulu ngajak jadian.” Selesai, girls.

Pas hari H, kami gak bisa pergi dari pagi karena ada try out kompre di kampus. Jadilah kami berangkatnya siang hari sekitar jam 2. Kalo udah jam segini, susah kalo mau ke tempat yang agak jauh (kayak KRB, Ancol atau TMII). Rencana sudah bulat, ke mall. Tapi mall apa? Jakarta ini kota maha mall. Sampe gempor muterin mall yang isinya cuma itu lagi itu lagi. Sebenarnya saya nggak begitu suka sama yang namanya mall, males aja lihatnya ya cuma orang dan seonggok kebutuhan hedonis lainnya. Nggak ada make sense nya, haha.

Setelah ribut ini itu, ditetapkanlah MoI (Mall of Indonesia). Abang saya pernah ke sana, tapi saya belum (jangan tanya saya pernah ke mall apa aja). Ke sananya naik busway. OK. Dari shelter bidara cina, ke shelter UKI, lanjut ke arah tanjung priuk. Setelah satu jam lebih, taraaaaaaa…………kamu turun di satu shelter (lupa namanya) yang diyakini itu dekat dengan MoI. Eh, si abang buka google maps. Masih jauh men ternyata. Lanjut lagi naik busway lagi. Turun shelter 1 lagi, salah lagi. Balik lagi naik busway. Turun 2 shelter sebelumnya, salah lagi. Alamakkkkkkk…….mood saya langsung turun drastis, huhuhu….dan ternyata, shelter yang benar itu shelter yang pertama kali kita turun tadi. Plakkkk!!!!! *tampar si abang

Jalan kaki lah kami berdua samabil bergandengan tangan kayak anak TK. Pertama menuju mall artha gading. Niatnya sih lanjut ke MoI, tapi karena gak tau jalan akhirnya gak jadi. Nah kan….

Sampai di sana ngapain aja? Yah karena mood saya udah terlanjur merana, terserah lah mau ngapain. Ujung-ujungnya cuma jalan gak tentu arah. Trus makan mie ayam yang harganya 12 rb per mangkok (enak sih tapi) dengan minum teh botol yang bawa dari rumah. Setelah itu, mata saya berbinar-binar. Ada toko buku langganan saya 😀

Langsung aja saya masuk, si abang pasti juga setuju kok (asumsi aja sih sebenernya ini). 2 jam di toko buku, saya khilaf. Benar-benar khilaf. Lupa kalo uang di dompet ini buat makan sampe akhir bulan. Melihat buku-buku baik novel atau komik yang melambai-lambai ke saya buat minta dibeli, saya pun luluh. 200 rb melayang demi 2 komik, 1 agenda dan 2 novel. Selamat!!!!

Pulangnya, ya kami cekikikan gak jelas lagi. Toko buku itu berhasil merubah mood saya jadi lebih baik lagi, hebat kan si toko buku?!

Nah, jadi apa kesimpulannya dari perayaan 1st anniversary saya dan abang ini? Nggak ada yang spesial. Yang spesial itu cuma satu, jalan berdua ke mana saja sambil tertawa haha haha hihi hihi sama abang. Itulah hal paling romantis sedunia, bukan yang lain.

DN 53 <3

DN 53 ❤

 

DN 54 <3

DN 54 ❤

 

Awal Halaman


Aku mencoba menulis sajakku dari awal.
Sangat pelan-pelan,
seperti balita menggambar huruf.
Kau tahu ini buku baru,
semua nantinya akan diterima anak cucuku.
Serupa desing angin memecah angan,
buku baruku tertindih kotak tinta tak punya mata,
tumpah.
Ini awal halamanku,
ini awal sajakku,
ini awal ceritaku.
Akankah tumpahan tinta di awal halaman merembes hingga ke akhir?
Tidak cukupkah satu halaman saja, Tuhan? Aku mohon…
Aku tak tahu bagaimana menghilangkannya,
aku takut saat ingin melihat bagaimana selanjutnya.
Dan buku yang lain menertawakanku,
kenapa?
Ketika perlahan angin malam pelan mencoba menembus rusuk,
sekilas napas kasat berhembus.
Aku harus mencoba mengulangi lagi,
ini masih awal halaman.

Jakarta,1 Juli 2012