Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 2 #3)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

23.00 Waktu Singapura – 00.30 Waktu Bangkok

Kami masuk ke ruang tunggu dengan kondisi badan yang capek, maunya sih saya langsung tepar aja di kasur. Apalah daya masih terdampar di Changi.

Satu yang saya ingat, penerbangan yang berangkat lewat Changi ini dilarang untuk membawa air mineral lebihd ari 100 ml ke atas kabin. Kami yang sudah mengisi botol-botol kami dengan air dari tap water gratisan yang kami temui di bandara terpaksa kami buang sebelum ditemukan petugas. Hiks…

Sampai di dalam pesawat, nyesel kami bertambah-tambah. Koper kami yang beratnya sekitar 8 Kg, kami masukkan ke bagasi pesawat dengan beli bagasi tambahan. Eh, ini ada penumpang lain yang naikkin koper ukuran medium ke kabin. Dan kopernya kelihatan nggak ringan lagi. Arrrrgggghhhhhh……kan jadi KZL ZBL. Tau gitu koper kami yang cuma lebih dikit kami naikkin aja ke kabin. Rrrrrrrrrr……..

Cukup nyaman kami naik tigerair. Tapi, masalah cuaca masih belum berhenti. Sepanjang perjalanan masih hujan dan goncangan-goncangan masih terasa. Saya yang rese dengan goncangan di pesawat jadi tambah rese, terlebih beberapa waktu sebelumnya saya mengalami goncangan pesawat yang nyaris bikin jantung copot di penerbangan Denpasar-Jogja. Rrrrrrr……

00.30 -02.00

Kami landing dengan selamat sampai Bandara Suvarnabhumi, bandara baru kebanggan Thailand. Masih baru dan terlihat megah, cuma karena saya ngantuk berat jadi ya cuma bisa sibuk nahan kantuk semenjak turun pesawat sampai ambil bagasi. Di Suvarnabhumi, tersedia boardwalk yang lumayan panjang. Alhamdulillah tertolong dengan alat canggih ini, kalo enggak ya saya bisa gempor jalan sempoyongan sambil nahan kantuk. Haha…

Masalah bagasi selesai. Sesuai rencana awal, kami memilih naik taksi dari Suvarnabhumi ke penginapan kami di daerah Khaosan Road karena waktu sudah lewat dari tengah malam. Antri untuk dapat nomor taksi beberapa lama, akhirnya kami dapat taksi seorang laki-laki paruh baya yang ramah.

Brrrrrrr…….hawa dingin menusuk tulang langsung menyambut kami sekeluar kami dari bandara. Dingin banget. Suhu sekitar 12″ celcius, rendah untuk ukuran kami yang terbiasa dengan suhu 27″-29″ di malam hari. Tau nggak kenapa penyebabnya? Jadi, di Bulan Januari matahari sedang ada di selatan garis khatulistiwa. Ngingetnya gampang, pas perayaan Natal di Australia sedang musim panas. Dan Bangkok ini letaknya jauh di utara khatulistiwa, meski nggak sampai ke wilayah subtropis sih. Jadi kalo matahari di selatan, ya Bangkok seperti lagi spring lah (atau winter?).

Sopir taksi yang kami naiki cukup ramah. Seperti kebanyakan orang Thailand, Bahasa Inggris yang dia kuasai terbata-bata meski saya masih bisa nangkep. Sepangjang jalan, saya temui jalanan kota Bangkok yang lengang di dinihari. Lampu berwarna orange menerangi jalan utama dengan untaian kabel-kabel dari tiang listrik yang sedikit semrawut di depan pertokoan, nyaris mirip Jakarta. Bedanya, di Bangkok banyak foto raja terpampang di jalan-jalan, bahkan beberapa kali sopir taksi yang kami naiki ini bilang “Long live our king”. Gitu….

Saya mau tidur di dalam taksi, cuma nggak enak aja sama sopir taksi nya yang mencoba mengajak kami mengobrol. Suami sibuk dengan gadgetnya, mengawasi diam-diam via google maps si taksi biar sampe tujuan nggak diputer-puterin.

Kami nggak melewati kawasan Khaosan Road karena penginapan yang kami pesan ada di Jalan Tanee Road, di gang sebelahnya Khaosan Road. Suasana cukup lengang malam itu, saya nggak tau kalo ternyata di jalan ini memang nggak serame Khaosan Road. Alhamdulillah.

Setiba di depan hotel, saya nggak yakin. Memang sih ada plang tulisan papan nama hotelnya, tapi di depan hostel itu ada toko-toko yang tutup. Jadi, untuk masuk ke hotel, kami harus melewati lorong yang nggak begitu panjang. Sepertinya, bagian depan hostel ini disewakan untuk toko-toko gitu deh dan di atasnya baru dibuat hostel. Di ujung lorong baru kami temui resepsionisnya. Setiba kami di resepsionis, kami harus deposit sebesar THB 500. Oiya, nama hostel yang kami tempati itu Thai Cozy House.

Untuk sampai di kamar, disediakan lift mungil yang akan mengantar kami ke lantai atas. Mayan, nggak perlu capek naik tangga. Kamarnya cukup bagus menurut saya, meski tanpa jendela dan TV nya masih pake TV model konde. Luasnya jelas lebih luas dibandingkan hostel kami yang ada di Singapura. Kamar mandinya aja sih, yah walopun bersih tapi sempit. Kunci kamarnya juga belum model smart key kayak yang di Singapura, tapi masih pake kunci manual yang kemrincing dan putaran knop model bulat ala tahun 80an.

Untuk postingan kali ini, saya nggak kasih foto ya. Secara foto Bandara Suvarnabhumi, taksi yang kami naiki dan kamar yang kami tempati nggak sempat saya foto saking saya kecapekan. Hahaha…maaf.

Rincian pengeluaran hari kedua :

  • Naik supertree SGD 10
  • Masuk Flower Dome – Cloud Forest SGD 56
  • Beli oleh-oleh SGD 20
  • Makan (3x) SGD 46,55
  • Bagasi SGD 23
  • Tukar ke THB SGD 111,8
  • Taksi dari Suvarnabhumi ke hostel THB 460
  • Deposit Hotel THB 500

Cerita selanjutnya.

Iklan