Pariwisata NTT : Antara Potensi dan Promosi


        Saya seorang alumni sekolah kedinasan dan sudah dua tahun ini ditempatkan bekerja di NTT. Seringkali saya ikut turun ke lapangan jika ada survei ataupun sensus yang mengharuskan saya mengawasi kerja petugas. Wilayah tugas tidak pandang bulu, kota-desa, pantai-gunung, menyebrang sungai-pinggir laut sampai melewati hutan hujan-padang sabana tandus pun pernah saya lalui. Dua tahun saya terkesan dengan NTT, sekaligus miris melihat kondisi masyarakat yang saya temui. Keelokan alam yang dimiliki NTT seperti sepaket dengan kekeringan, minimnya fasilitas kesehatan, minimnya fasilitas air bersih, gizi buruk dan sejenisnya.

        NTT sudah banyak dikenal masyarakat sebagai salah satu provinsi dengan pendatapan per kapita yang rendah. Badan Pusat Statistik mencatat pendapatan per kapita NTT di tahun 2015 hanya sekitar 14,928 juta rupiah, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan per kapita nasional yang sebesar 45,176 juta rupiah. Sampai di sini saya berpikir, apakah benar potensi alamnya belum diberdayakan? Sebegitu parahkah keterbatasan yang dimiliki? Sebegitu minimkah sumber pendapatan di sini? Atau mungkin masyarakatnya sendiri yang masih nyaman dengan segala keterbatasan?

        Di tahun 2011, pemerintah melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) telah merancang tema pembangunan di Indonesia. Dari 6 koridor ekonomi yang ditetapkan, NTT bersama dengan NTB dan Bali berada dalam koridor ekonomi dengan pengembangan di bidang pariwisata, perikanan dan peternakan. Saya ambil satu tema yang menarik, pariwisata. Mengingat keterbatasan data yang saya miliki, riset kecil-kecilan ini saya batasi hanya di NTT.

        Geliat pariwisata di Bali sudah tidak diragukan lagi. Ikon wisata sebagai Pulau Dewata sudah tersemat di Bali sejak tahun 1980-an. Kelengkapan tujuan wisata yang dimiliki menjadikan Bali sebagai primadonanya pariwisata Indonesia hingga saat ini. Dengan semakin ramainya Bali, agaknya NTB sebagai provinsi tetangganya menjadi tujuan alternatif wisatawan. Tidak mau kalah dengan Bali, NTB mengusung konsep Wisata Halal di Indonesia. Ini menarik dan potensial untuk dikembangkan, mengingat penganut agama Islam di Indonesia sangat banyak dan baru Aceh serta Sumatera Barat yang berkonsep wisata seperti NTB. Bagaimana dengan NTT? Pada tahun ini, agaknya pemerintah daerah NTT mulai serius mengembangkan pariwisata. Hal ini ditandai dengan ditetapkannya NTT sebagai New Tourism Territory.

        Mari berbicara menggunakan data. Seberapa besar pariwisata ketiga provinsi ini mempengaruhi perkembangan ekonominya? Di mana posisi NTT dibandingkan 2 temannya yang berada dalam koridor ekonomi yang sama?

Distribusi pariwisata terhap PDRB tahun 2010-2015

Distribusi pariwisata terhap PDRB tahun 2010-2015

        Dari grafik di atas bisa dilihat, pariwisata Bali sebagai penyumbang perekonomian (yang dalam hal ini digambarkan dalam PDRB atau Produk Domestrik Regional Bruto) terbanyak dibandingkan NTB dan NTT. Dari tahun 2010 hingga 2015, peranan pariwisata di Bali menduduki 26 persen dari total perekonomian. Dalam rentang waktu yang sama, pariwisata NTB menyumbangkan sekitar 11-14 persen dan NTT hanya menghasilkan sekitar 5 persen. Dari grafik juga terlihat, tren kontribusi pariwisata di Bali dan NTT mengalami kondisi yang stabil, berbeda dengan NTB yang menurun di akhir periode. Selanjutnya, mari kita telaah per provinsi.

Kontribusi Pariwisata Bali terhadap PDRB

Kontribusi Pariwisata Bali terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTB terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTB terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTT terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTT terhadap PDRB

        Dari ketiga grafik diatas bisa dilihat bagaimana fluktuasi kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian masing-masing provinsi per tahun. Di Bali, meskipun cukup stabil, tetapi dalam 2 tahun terakhir mengalami sedikit penurunan. NTB juga mengalami penurunan di tahun 2015 sekitar 1,7 persen. Sedangkan NTT, meski stabil di angka 5 persen, dalam 4 tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Apakah ini artinya pariwisata NTB dan Bali menurun dan NTT meningkat? Belum tentu. Bisa jadi ada sektor lain yang meningkat dan lebih mendominasi perekonomian di provinsi tersebut.

        Balik lagi ke fokus utama riset saya, NTT. Gambaran di atas sudah terlihat bagaimana pengaruh pariwisata terhadap perekonomian. Sekarang, saya akan tunjukkan berapa besar perkembangan nilai riil dari sektor ini di NTT.

Perkembangan sektor pariwisata NTT

Perkembangan sektor pariwisata NTT

        Dari grafik terlihat pariwisata NTT meningkat sedikit demi sedikit. Secara riil, nilai sektor ini menghasilkan 240 milyar rupiah pada tahun 2010 meningkat menjadi 318 milyar di tahun 2015. Bagaimana tingkat pertumbuhannya? Mari kita simak grafik di bawah.

Laju pertumbuhan sektor pariwisata di NTT

Laju pertumbuhan sektor pariwisata di NTT

        Grafik laju pertumbuhan di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata di NTT ini tidaklah stabil. Apa artinya? Sektor pariwisata bisa terus meningkat, tetapi terhambat. Apa penyebabnya? Mari kita bahas beberapa faktor berikut.

        NTT mempunyai 458 obyek wisata yang tersebar di 22 kabupaten kota. Obyek wisata yang paling banyak dimiliki adalah obyek wisata yang bertema alam. Obyek ini berjumlah 115 obyek atau sekitar 25 persen dari total obyek wisata NTT. Obyek wisata alam ini beragam, mulai dari padang sabana, hutan lindung, goa maupun perbukitan. Obyek wisata kedua terbanyak yang dimiliki NTT adalah pantai. Pantai di NTT berjumlah 104 buah atau sekitar 22 persen dari total obyek wisata, tidak mengherankan memang mengingat NTT sebagai provinsi kepulauan dengan garis pantai sepanjang +- 5.700 km 1). Berikut saya gambarkan presentase obyek wisata yang ada di NTT.

Persentase obyek wisata di NTT

Persentase obyek wisata di NTT

        Satu hal yang disayangkan, hingga tulisan ini diturunkan, saya belum berhasil mendapatkan data mengenai berapa jumlah obyek wisata yang sudah dikelola secara resmi, berapa jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung hingga berapa pendapatan yang diperoleh dari obyek wisata tersebut. Saya hanya menemui jumlah agregat wisatawan yang berkunjung ke NTT yang dibedakan berdasarkan wisatawan domestik dan manca negara. Perhatikan grafik berikut.

Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di NTT

Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di NTT

        Wisatawan yang mengunjungi NTT menunjukkan tren yang terus bertambah selama 5 tahun terakhir. Wisatawan ini didominasi oleh wisatawan domestik dengan perbandingan sekitar 5 hingga 7 kali lipat dibandingkan dengan wisatawan mancanegara.

     Faktor keberadaan akomodasi penginapan sebagai penunjang kegiatan pariwisata juga mempengaruhi. Akomodasi penginapan yang dimaksud di sini meliputi hotel berbintang, hotel non bintang, hostel, dsb. Selama 6 tahun terakhir, jumlah penambahan akomodasi penginapan di seluruh wilayah NTT tidaklah terlalu besar. Di tahun 2010 ada 259 unit, sedangkan 6 tahun setelahnya yaitu tahun 2015 hanya bertambah sekitar 75 unit saja menjadi 334 unit.

Banyaknya akomodasi penginapan di NTT

Banyaknya akomodasi penginapan di NTT

        Bagaimana dengan nilai TPK-nya? TPK atau tingkat penghunian kamar merupakan perbandingan banyaknya malam kamar yang terpakai dengan banyaknya malam kamar yang tersedia di akomodasi penginapan. Badan Pusat Statistik mengeluarkan angka TPK untuk hotel bintang dan non bintang. Dari grafik di bawah dapat diketahui bahwa TPK hotel bintang di NTT lebih tinggi dibandingkan dengan TPK hotel non bintang. Sayangnya, selama 5 tahun terakhir rata-rata kamar yang dipakai kurang dari setengah kamar yang tersedia, baik hotel bintang maupun non bintang. Artinya, pemanfaatan kamar hotel di NTT baik hotel bintang maupun non bintang masih rendah.

TPK NTT

TPK NTT

        Selain hotel, faktor penentu kelancaran pariwisata adalah moda transportasi. Saya ambil salah satu moda transportasi utama yang banyak digunakan para wisatawan, pesawat udara. NTT merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai jumlah bandara terbanyak ketiga setelah Papua dan Papua Barat 2). Dari 16 bandara yang tersedia di seluruh NTT, hanya 2 bandara yang tidak dibuka untuk umum atau tidak berfungsi. Ringkasnya bisa dikatakan satu bandara bisa untuk melayani penumpang di 2 kabupaten kota. NTT sebagai provinsi kepulauan sebenarnya cukup diuntungkan dengan banyaknya bandara yang tersedia. Frekuensi kunjungan pesawat pun cukup rutin, rata-rata ada sekitar 4 hingga 5 kunjungan pesawat per hari atau sekitar 34 kunjungan pesawat per minggu di setiap bandara pada tahun 2015.

Frekuensi kunjungan pesawat

Frekuensi kunjungan pesawat

        Dari pemaparan di atas, terlihat jelas pariwisata NTT yang potensial ini belum begitu dikembangkan. Beragamnya obyek wisata yang tersedia, kecukupan akomodasi penginapan dan frekuensi kunjungan pesawat yang cukup rutin sebagai moda transportasi utama belum cukup untuk memicu perkembangan pariwisata NTT secara cepat. Apa solusinya? Digital marketing, pemasaran secara digital.

        Kata digital marketing masih terdengar cukup asing bagi sebagian orang. Digital marketing sendiri merupakan bagian dari proses pemasaran yang menggunakan media digital. Banyak bentuk dari digital marketing, mulai dari website, blog, hingga sosial media yang dikembangkan oleh pemerintah (official social media) seperti fanspage di Facebook, Twitter  maupun Instagram. Tarifnya pun bervariasi, dari yang gratis hingga berbayar. Siapapun bisa melakukan digital marketing ini, mulai dari perseorangan, kelompok, perusahaan komersial hingga pemerintah. Sejauh yang saya tahu, digital marketing di NTT ini banyak dilakukan oleh perseorangan yang mempunyai hobi travelling, badan-badan sosial milik swasta atau LSM yang bergerak di bidang kemasyarakatan, program stasiun televisi swasta dalam maupun luar negeri yang membahas mengenai tempat-tempat wisata di Indonesia dan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata seperti hotel dan resort bintang lima yang concern dengan profit perusahaan.

        Saya belum melihat adanya upaya yang serius dari pemerintah daerah NTT untuk mengembangkan pariwisata melalui digital marketing. Padahal, mengembangkan pariwisata melalui digital marketing lebih mampu mencakup pangsa pasar yang lebih luas dibandingkan dengan non digital marketing. Gaya hidup masyarakat yang bergerak dinamis dan bersentuhan langsung dengan internet menjadikan digital marketing sebuah terobosan baru yang dirasa lebih mampu mempersuasi dan lebih cepat menyebarkan informasi. Ambillah contoh, Kementerian Pariwisata Indonesia dengan slogannya “Wonderful Indonesia” atau “Pesona Indonesia”. Upaya Kementerian Pariwisata Indonesia dalam melakukan digital marketing patut diacungi jempol. Mulai dari menggandeng travel blogger ternama, fotografer profesional yang fokus di bidang pariwisata, hingga membuat  website yang komprehensif (bisa dilihat di sini ) hingga mengelola official account sosial media yang interaktif.

        Selama ini inovasi dari banyak pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata belum terlalu optimal, termasuk juga pemerintah daerah di NTT. Pemerintah daerah, selaku pihak yang bersinggungan langsung dengan potensi wisata yang dimiliki, akan lebih baik jika mengubah mindset dan pelayanan pemerintah yang terjebak dalam kekakuan birokrasi menjadi lebih inovatif, fleksibel, dan melayani kebutuhan masyarakat yang semakin hari semakin beragam. Dengan demikian, diharapkan pariwisata NTT mampu berkembang pesat dan meningkatkan pendapatan masyarakatnya.

        Salam hangat dari daerah tengah Indonesia.

Keterangan :

  1. data diambil dari BKPM Provinsi NTT
  2. data diambil dari www.hubud.dephub.go.id

Sumber gambar dari google

Iklan

Uji Penyimpangan Asumsi Klasik


Pengujian penyimpangan asumsi klasik dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah model yang diajukan dalam penelitian ini dinyatakan lolos dari penyimpangan asumsi klasik. Uji asumsi klasik merupakan persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS).

Uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi. Tidak ada ketentuan yang pasti tentang urutan uji mana dulu yang harus dipenuhi. Analisis dapat dilakukan tergantung pada data yang ada. Masing-masing pengujian penyimpangan asumsi klasik adalah sebagai berikut:

 a.      Uji Heterosekdastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan yaitu model yang terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas.

Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot dengan memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, uji Park atau uji White.

Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan heteroskedastisitas.

b.      Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya (t -1). Secara sederhana, analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara observasi dengan data observasi sebelumnya. Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu) dan tidak perlu dilakukan pada data cross section.

Beberapa uji statistik yang sering dipergunakan adalah uji Durbin-Watson, uji dengan Run Test dan jika data observasi di atas 100 data sebaiknya menggunakan uji Lagrange Multiplier. Beberapa cara untuk menanggulangi masalah autokorelasi adalah dengan mentransformasikan data atau bisa juga dengan mengubah model regresi ke dalam bentuk persamaan beda umum (generalized difference equation). Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasukkan variabel lag dari variabel terikatnya menjadi salah satu variabel bebas, sehingga data observasi menjadi berkurang.

c.       Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu.

Cara untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi pearson antara variabel-variabel bebas, atau dengan melihat eigenvalues dan condition index (CI).

Beberapa alternatif cara untuk mengatasi masalah multikolinearitas adalah sebagai berikut:

  1. Mengganti atau mengeluarkan variabel yang mempunyai korelasi yang tinggi.
  2. Menambah jumlah observasi.

Mentransformasikan data ke dalam bentuk lain, misalnya logaritma natural, akar kuadrat atau bentuk first difference delta.

d.         Uji normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki nilai residual yang berdistribusi normal. Uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel, tetapi pada nilai residualnya. Kesalahan yang sering terjadi adalah uji normalitas dilakukan pada masing-masing variabel. Hal tersebut tidak dilarang, tetapi model regresi memerlukan normalitas pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabel penelitian.

Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji histogram, uji normal P Plot, uji Chi Square, Skewness dan Kurtosis atau uji Kolmogorov Smirnov. Tidak ada metode yang paling baik atau paling tepat. Hanya saya, pengujian dengan metode grafik sering menimbulkan perbedaan persepsi di antara peneliti, sehingga penggunaan uji normalitas dengan uji statistik lebih dipilih karena bebas dari keragu-raguan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pengujian dengan uji statistik lebih baik dari pada pengujian dengan metode grafik.

Apabila data jauh dari nilai normal, maka dapat dilakukan beberapa langkah yaitu: melakukan transformasi data, melakukan penghilangan data outliers atau menambah data observasi. Transformasi dapat dilakukan ke dalam bentuk Logaritma natural, akar kuadrat, inverse, atau bentuk yang lain tergantung dari bentuk kurva normalnya, apakah condong ke kiri, ke kanan, mengumpul di tengah atau menyebar ke samping kanan dan kiri.

*dari berbagai sumber

 

 

ASEAN Dalam Putaran Globalisasi


Dalam tiga tahun terakhir, aneka ujian ekonomi silih berganti menerpa negara-negara di dunia, tidak terkecuali negara di kawasan ASEAN. Pada 2008 lalu krisis keuangan dunia sempat menghancurkan beberapa negara di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Namun, pada 2010 negara-negara tersebut beranjak pulih dan sepenuhnya kemudi ekonomi bisa dikendalikan lagi. Tidak lama setelah itu, ujian datang dalam wujud kerja sama ekonomi ASEAN plus China (ASEAN China Free Trade Agreement/ACFTA).

Umumnya, negara-negara anggota ASEAN kalah bersaing dengan China sehingga neraca perdagangannya cenderung defisit berhadapan dengan China, termasuk Indonesia.

Saat ini ASEAN juga dihadapkan dengan krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara maju (AS, Uni Eropa, dan Jepang) sehingga pasti akan memengaruhi kinerja ekonomi 2012. Situasi inilah yang menjadi latar belakang penyelenggaraan KTT ASEAN pekan lalu.

Kapasitas Ekonomi ASEAN

Jika dibagi dalam dua kategori besar, anggota ASEAN terdiri atas lima negara yang memiliki kekuatan ekonomi cukup besar dan lima negara yang ukuran ekonominya kecil. Lima negara yang mempunyai kekuatan cukup besar adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Lima negara ini karakteristik ekonominya sebetulnya hampir sama, kecuali Singapura. Empat negara ekonominya berpijak pada sektor pertanian, industri, dan perdagangan; sedangkan Singapura kuat di sektor jasa. Sementara itu, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Brunei Darussalam tergolong kecil ukuran ekonominya.

Negara-negara ini juga relatif sama konsentrasinya, kecuali Brunei yang mengandalkan kepada minyak. Dengan deskripsi ini, kerja sama ekonomi di tingkat ASEAN sebetulnya juga tidak mudah dilakukan karena perbedaan keadaan “dua blok” itu.

Besar kecilnya ukuran ekonomi suatu negara biasanya diasosiasikan dengan produk domestik bruto (PDB). Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar (240 juta) memiliki PDB yang paling besar, yaitu USD706,74 miliar.

Setelah itu disusul oleh Thailand (USD312,61 miliar), Malaysia (USD237,96 miliar), Singapura (USD194,62 miliar), dan Filipina (USD188,72 miliar). Sedangkan Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Brunei kekuatan PDB-nya jika digabung masih di bawah USD75 miliar (IMF, 2011). Sungguh pun begitu, PDB itu tidak secara otomatis menunjukkan daya beli rata-rata suatu negara.

Daya beli lebih dekat dengan menggunakan ukuran pendapatan per kapita (PDB dibagi jumlah penduduk), yang dari sisi ini Singapura, Thailand, dan Malaysia menyisihkan Indonesia. Jadi, PDB Indonesia besar lebih banyak disebabkan jumlah penduduk. Jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi dari blok yang pertama, dalam tiga tahun terakhir relatif cukup seimbang, kecuali pada 2009.

Pada 2009 itu, Indonesia tumbuh 5,4 persen, Malaysia 4,6 persen, Thailand -2,3 persen, Singapura empat persen, dan Filipina tumbuh 1,1 persen. Namun, pada 2010 pertumbuhan ekonomi Thailand amat fantastis, yakni 7,8 persen.

Pertumbuhan tersebut hanya kalah dibandingkan Singapura 12 persen. Sementara itu, pada 2010 Indonesia tumbuh 6,1 persen, Malaysia 4,8 persen, dan Filipina 6,1 persen. Pada 2011 ini diproyeksikan empat dari lima negara akan tumbuh di atas 4,5 persen, hanya Thailand yang diprediksi tumbuh rendah, sekira 2,6 persen saja (IMF, 2011).

Titik Pijak Kerja Sama

ASEAN sebetulnya mempunyai daya tarik ekonomi yang tinggi, bukan semata karena pertumbuhan ekonominya yang bagus, melainkan juga memiliki potensi lain yang besar. Penduduk di ASEAN cukup besar, yaitu 700 juta jiwa, sehingga ini merupakan pasar yang potensial.

PDB-nya mencapai USD1,5 triliun (2010), investasi asing sebesar USD75,8 miliar (2010), dan pertumbuhan investasi asing menyentuh angka 131,8 persen. Ini menandakan wilayah ini merupakan salah satu tujuan investasi asing langsung, di samping China dan India.

Berikutnya, pertumbuhan perdagangan intra-ASEAN sebesar 31,2 persen per tahun dan nilai transaksi perdagangan intra-ASEAN pada 2010 sebesar USD519,7 miliar. Nilai transaksi itu melonjak amat signifikan dibanding 2009, di mana pada tahun tersebut nilai perdagangan intra-ASEAN baru USD76,2 miliar (Bloomberg, 2011).

Keadaan seperti itulah yang menjadikan ASEAN berada dalam pusaran tarikan kepentingan negara-negara raksasa ekonomi, khususnya AS dan China.

Pada KTT ASEAN minggu lalu, Obama dan Hu Jintao sama-sama datang ke Bali, yang tentu saja dimaksudkan hendak berebut pengaruh di ASEAN. Dalam konteks seperti ini kerja sama ekonomi ASEAN mesti bersandar kepada dua titik pijak.

Pertama, membuat pemerataan pembangunan ekonomi antaranggota ASEAN agar daya saing mereka dalam memasuki persaingan ekonomi dunia menjadi merata.

ASEAN hanya akan relevan apabila semua negara merasa mendapat manfaat dari kerja sama ekonomi. Jika tidak, ikatan regional ini mudah lepas dan menjadi sasaran godaan dari wilayah/negara lain. Kedua, AS saat ini sangat agresif dalam menawarkan kerja sama ekonomi (Trans- Pacific Partnership/TPP) kepada beberapa negara yang masuk dalam ASEAN, termasuk tawaran kepada Indonesia.

Sebaiknya, keikutsertaan maupun penolakan masing-masing negara untuk terlibat dalam TPP sudah dibicarakan pada level ASEAN. Jika memang satu kesepakatan tidak bisa diambil,sekurangnya negara yang ikut dalam TPP telah diketahui dan disetujui oleh anggota ASEAN lainnya.

Celakanya, proses ini tampaknya tidak dilakukan, terbukti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam sudah setuju bergabung dalam TPP sebelum KTT ASEAN diselenggarakan, sedangkan Indonesia sampai hari ini sikapnya menolak bergabung.

ASEAN perlu lebih kritis lagi membaca peta perubahan ekonomi global agar keputusan yang diambil tidak menjerat kawasan ini dalam pusaran globalisasi ekonomi yang demikian buas.

AHMAD ERANI YUSTIKA
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya, Direktur Eksekutif Indef
(Koran SI/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/11/23/279/533020/asean-dalam-pusaran-globalisasi

Mengapa Indonesia Tahan Krisis?


Krisis ekonomi global benar-benar akan datang pada 2012. Kita semua sudah tahu hal itu, dan mustahil menghindarinya. Yang belum diketahui, seberapa besar krisis tersebut akan menyebabkan kerusakan perekonomian Indonesia?

Transmisi krisis ekonomi global ke Indonesia terutama terjadi melalui transaksi perdagangan internasional dan aliran modal. Ekspor kita cenderung melemah, karena pasar potensial seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa sedang “sakit”.

Negara-negara pasar kita yang lain, meski sakitnya tidak separah kedua kawasan itu, juga kemungkinan besar akan sedikit menurunkan permintaannya terhadap produk-produk ekspor kita. Mereka adalah Jepang, China, dan Asia Tenggara.

Namun Indonesia beruntung. Kontribusi ekspor kita terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang kini sekira Rp7.000 triliun, tidaklah besar. Ekspor neto atau neraca perdagangan (selisih antara ekspor terhadap impor) dalam dua tahun terakhir sekira USD20 miliar, atau ekuivalen tiga persen PDB.

Ini persentase yang relatif kecil, sementara penyumbang terbesar PDB adalah konsumsi rumah tangga sebesar 60 persen. Sisanya disumbang oleh investasi (30 persen) dan belanja pemerintah (tujuh persen).

Struktur ini mirip dengan yang terjadi di AS, yang penduduknya sekira 310 juta orang. Dengan kata lain, perekonomian yang memiliki pasar domestik kuat akan bisa bertahan dengan mengandalkan potensi lokal. Inilah alasan terbesar perekonomian Indonesia mampu tumbuh 4,5 persen saat terjadi krisis subprime mortgage di AS pada 2009. Sementara itu, negara yang ketergantungan ekonominya terhadap ekspor, terutama produk manufaktur, sangat terkena krisis.

Contoh terbaik adalah Singapura. Saat krisis memuncak pada semester I-2009, perekonomian Singapura bahkan mengalami kontraksi hingga di atas 10 persen. Kejadian ini tampaknya bakal terulang pada 2012. Meski demikian, saya masih optimistis, situasi 2012 lebih baik daripada 2009. Artinya, perekonomian Singapura kendati bakal melemah, rasanya tidak bakal mengalaminya sedramatis 2009.

Pertumbuhan ekonomi memang akan melambat,tapi tidak akan sampai minus 13 persen. Lebih masuk akal jika Singapura bakal tetap tumbuh positif namun landai, misal pertumbuhan di bawah tiga persen. Kalaupun pertumbuhan negatif, katakanlah hanya minus satu atau dua persen saja.

Mengapa? Pertama, timbulnya kesadaran bersama, bahwa terlalu riskan membiarkan Yunani dan Italia bangkrut, karena efek dominonya terlalu besar. Kebangkrutan mereka dipandang sebagai too big to fail.

Karena itu, banyak negara maju dan sebagian emerging markets terkemuka yang akan membantu menolong. Caranya adalah membeli obligasi negara-negara tersebut untuk menopang stabilitas. Pemerintah AS juga akan menempuh segala cara agar negaranya tidak bangkrut.

Kedua, meski harga komoditas primer (pertambangan dan perkebunan) tetap tinggi, namun level harga kali ini belum setinggi saat krisis 2008-2009. Bahkan masih terbuka kemungkinan harga-harga tersebut akan tertekan turun, seiring dengan pelemahan permintaan akibat krisis. Ini akan membantu upaya pemulihan.

Karena itu, krisis memang akan memberi dampak negatif terhadap seluruh dunia, namun daya rusaknya belum sebesar krisis 2009. Perekonomian dunia masih tetap akan tumbuh, namun dengan level landai. Tidak seperti 2009, negara-negara emerging markets Asia masih akan mencapai pertumbuhan ekonomi positif, namun melemah. Pertahanan penting perekonomian Indonesia adalah sektor finansial.

Pada akhir 2011, pasar finansial memang cenderung panik karena aroma ketidakpastian penyelesaian krisis zona euro. Namun pada jangka menengah ke depan, saya yakin investor akan tetap memandang Indonesia sebagai negara penting untuk menerima investasi portofolio, sebagaimana China dan India.

Krisis ekonomi 2012 nanti tetap akan menyisakan China, India, dan Indonesia sebagai tiga negara dengan kinerja pertumbuhan ekonomi tertinggi.

China tetap mampu tumbuh sembilan persen, India tujuh atau 7,5 persen, dan Indonesia antara enam hingga 6,3 persen. Jadi, tidak ada alasan bagi investor untuk meninggalkan Indonesia. Kalaupun sekarang terjadi kepanikan, itu bersifat sementara.

Yang membuat kita tetap optimistis adalah kondisi industri perbankan. Pada saat krisis 1998, industri ini merupakan “pintu masuk” terjadinya krisis yang kemudian menjalar ke mana-mana.

Kini industri perbankan jauh lebih sound. Aspek terpentingnya adalah posisi modal. Kini rata-rata rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) adalah 16,7 persen, atau jauh melebihi persyaratan minimal delapan persen. Sedangkan kemampuan mengelola risiko tercermin pada non-performing loan(NPL) yang kini tiga persen, atau jauh di bawah batas aman lima persen.

Secara kualitatif, industri perbankan juga terus mendorong tata kelola (governance). Ini semua bermuara pada profil industri perbankan yang lebih tahan guncangan.

Namun itu semua belum cukup untuk menghadapi krisis 2012. Pemerintah harus lebih tangkas mengendalikan sisi fiskal. Jangan biarkan pembangunan infrastruktur berjalan lambat atau bahkan jalan di tempat, dan terjebak pada wacana “menunggu investor swasta yang tak kunjung datang”.

Pemerintah harus berani “pasang badan” membiayai proyek infrastruktur. Belanja pemerintah yang sangat tidak disiplin, sehingga menyisakan begitu banyak anggaran tak terserap, tidak boleh terjadi lagi pada 2012.

Problem birokrasi dan kepemimpinan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi bottleneck, harus diurai. Saya selalu ingat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak awal selalu mendengungkan istilah yang indah,yakni perlunya debottlenecking.

Namun sayang, itu cuma sebatas wacana. Semoga 2012 memberi semangat baru, agar istilah tersebut benar-benar diimplementasikan. Jika semua itu dilakukan, saya yakin perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh antara 6,0-6,3 persen pada 2012. Tetaplah optimistis, dan tetaplah bekerja keras untuk mencapainya.

A TONY PRASETIANTONO
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan
Kebijakan Publik (PSEKP) UGM dan
Komisaris Independen Bank Permata
(Koran SI/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/12/19/279/544100/mengapa-indonesia-tahan-krisis

Mitos Tentang Krisis


Beberapa tahun lalu, saat krisis moneter tengah melanda Indonesia, Carol Dweck mengumpulkan sekira 400 remaja dan memberi mereka puzzle sederhana.

Mereka diberi dua kalimat yang masing-masing terdiri atas enam kata. Yang satu bunyinya begini: “You must be smart at this.” (Kalian harus cerdas pada soal ini). Satunya lagi: “You must have worked really hard.” (Kalian pasti bekerja sangat keras).

Kalimat-kalimat itu diberikan untuk mengetahui perbedaan sikap dari apa yang tiap orang percayai atau miliki. Setelah diberi dua jenis puzzle tadi, diketahui sebagian besar remaja memilih kalimat pertama. Anak-anak kelompok ini terdiri atas orang-orang yang sangat mengedepankan pentingnya inteligensi (kecerdasan) sehingga kata “smart” sangat penting bagi mereka.

Adapun yang kedua terdiri atas anak-anak yang percaya pada kata “hard work”. “Mereka ini umumnya melakukan sesuatu bukan untuk sukses,” kata Dweck. Namun, menurutnya, hal itu karena mereka ingin mengeksplorasi tantangan-tantangan yang menarik. Sukses adalah soal belakangan, bukan menjadi permulaan. Kepada mereka semua diberikan tawaran untuk memilih satu jenis soal dari dua pilihan. Pilihan pertama, soal-soal yang mudah, yang kedua, soal-soal sulit. Anda tahu apa yang terjadi?

Menyadari Krisis: Tidur!

Anak-anak yang mengklaim dirinya “smart” dan senang menyebut dirinya “smart worker” atau mengedepankan inteligensi ternyata tidak mau mengambil soal-soal yang sulit. Mereka ingin sukses dan bagi mereka, orang smart harus lulus dan memilih yang mudah.

Dua pertiga responden smart tersebut dicatat psikolog Dweck memilih soal yang mudah. Kata Dweck, “Mereka takut kehilangan label smart yang melekat pada diri mereka dengan menghindari tantangan.

“Rupanya mendapat label smart dan hebat mengundang beban psikologis yang berat dan ini bisa membuat manusia menghindar dari tantangan-tantangan alam yang sulit. Sebaliknya, orang-orang yang tidak terbebani oleh label “smart” berjalan lebih ringan. Sebanyak 90 persen di antara mereka justru memilih soal yang sulit.

Bodohkah mereka? “Bukan,” kata Dweck. Namun mereka tidak tertarik untuk dianggap sukses atau ingin cepat-cepat menunjukkan hasil, apa lagi dinilai “kaya”. Kata sukses, kaya, dan smart kalah enak. Tidak elok bila dibandingkan dengan kata “upaya”, “kerja keras”, dan “tantangan”.

Mereka yang merasa cerdas umumnya takut gagal, takut mencoba sesuatu yang baru, dan mudah cemas begitu keadaan berubah atau terancam oleh kata “krisis”. Sebaliknya, mereka yang tak merasa cerdas dan selalu berorientasi pada kerja keras justru menikmati suasana krisis dan tidak kehilangan kepercayaan diri.

Pembaca yang baik, hari-hari ini kata-kata krisis kembali berbunyi keras di antara para pelaku usaha dan CEO menyusul merambahnya krisis keuangan ke beberapa negara Eropa.

Dari studi Dweck tadi jelaslah, kita selalu akan menemukan dua jenis CEO. Yang satu takut dan mudah kehilangan kepercayaan diri, sedangkan yang satu lagi EGP (emangnya gue pikirin) dan cenderung kata orang Jawa Timur sebagai “agak bonek”.

Anda mau tahu hasil studi lanjutan yang dilakukan Dweck? Kepada kedua kelompok respondennya itu Dweck lalu memberi soal yang sama dengan yang dikerjakan kelompok pertama tadi, yaitu soal yang mudah. Kelompok yang merasa cerdas tadi ternyata mendapatkan skor 20 persen lebih rendah daripada pekerjaannya semula.

Dalam bahasa manajemen, saya menyimpulkan, produktivitas mereka justru merosot setelah badai berlalu sekalipun soalnya tidak lebih sulit. Di sisi lain, kaum pekerja keras justru mengalami kenaikan kinerja sebesar 30 persen. Kesulitan dan kegagalan telah membuat mata mereka terbuka dan hormon mereka penuh.

“Anak-anak yang mendewa-dewakan kecerdasan dan merasa pintar menghambat motivasi mereka untuk maju dan meracuni kinerja di masa depan.” Itulah sebabnya di masa-masa seperti ini, para CEO perlu bertransformasi diri dari merasa cerdas menjadi bekerja keras.

Attitude is everything. Krisis itu bukanlah yang terjadi secara merata, susah tidak akan dialami sama oleh setiap orang. Sama halnya dengan kebalikannya saat Anda membaca berita-berita bagus seperti kenaikan rating investment grade Indonesia. Mereka yang beruntung bukanlah mereka yang merasa smart, melainkan mereka yang mau mengeksplorasi berbagai kesempatan baru di masa depan.

Jadi saya sependapat dengan almarhum Peter Drucker yang mengatakan, cara terbaik mengetahui tentang keadaan masa depan adalah dengan menjelajahi masa depan itu sendiri dengan penuh kesungguhan. Bukankah soal hasil sudah ada yang menentukan? Tapi apa dan bagaimana Anda mengerjakannya membuat hasil itu jadi berbeda.

RHENALD KASALI

Ketua Program MM Universitas Indonesia (Koran SI/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/12/22/279/545728/mitos-tentang-krisis