Catatan Pengantin Baru Part #4


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini :).

Skip skip skip. Sampailah saya di moment yang paling mendebarkan : akad  nikah.

Si abang datang bersama mama dan papanya di hari Kamis sore. Yang datang dari keluarga si abang ya memang hanya mama papanya aja, demi efisiensi biaya. Lagipula, dia anak tunggal dan keluarga besarnya di Sumatera Barat semua.

Hari Jum’at, saya dan si abang ke KUA dekat rumah saya. Ketemu sama bapak yang besok bakal jadi penghulu di nikahan saya, hihihi. Kami berdua melengkapi administrasi yang masih kurang beberapa, sekaligus pembekalan pra nikah. Si abang disuruh menghapal yang nanti diucapkan pada saat ijab kabul. Saya sudah mulai deg-degan, cemas-cemas galau gimana gitu. Malamnya, saya tertidur karena capek cemas. Hahahaha…..

Tibalah hari Sabtu. Pagi-pagi saya sudah di make up sama tukang make up yang datang ke rumah. Deg-degan. Ketemu si abang pagi harinya juga cemas-cemas gimana gitu, rasanya campur aduk nggak karuan. Senyum juga ikhlas nggak ikhlas.

Dandan Dulu

Dandan Dulu

Setelah semua selesai dandan, saya berjalan pelan-pelan dituntun mama dan kedua adek saya keluar tempat rias menuju tempat akad akan dilangsungkan. Tempatnya tidak mewah, hanya di halaman rumah saja dengan sedikit dekorasi warna hijau. Tamu undangan sudah banyak yang hadir, dan penghulu sudah siap untuk melaksanakan tugasnya.

Kelihatan Tegang

Kelihatan Tegang

Setelah ada pembukaan bla bla bla, sampailah si abang harus mengucapkan akad nikah.

Saya terima nikah dan kawinnya, Valent Gigih Saputri binti Sungkono dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Al-Qur’an dan logam mulia sebesar xx gram dibayar tunai.

Sah….sah….sah…

SAH

SAH

Alhamdulillah. Hati saya lega, plong. Begitu juga si abang, mukanya udah nggak tegang lagi.

Hari itu hari bahagia kami, akhirnya kami sudah sah menjadi suami istri.

Alhamdulillah

Alhamdulillah

Siang sampai sore hari, para tamu undangan banyak yang berdatangan. Ini di luar dugaan, prediksi keluarga tidak demikian soalnya. Dan malam harinya, acara midodareni dilaksanakan. Sebenarnya, acara ini dilangsungkan di malam sebelum akad berlangsung. Ya tapi nggak papalah, anggaplah ini acara untuk merekatkan tetangga sekitar.

Acara midodareni apa saja? Cuma nyanyi-nyanyi dan ramah tamah. No more. Begitu terus sampai jam 9 malam acara kelar. Jam 10 malam sudah beres. Siapkan tenaga, besok resepsi berlangsung.

Coba Tebak Saya Yang Mana

Coba Tebak Saya Yang Mana

 

Lanjutan….

Iklan

Catatan Pengantin Baru Part #2


Halo, postingan ini lanjutan dari sini ya 🙂

Setelah sesi foto pre wedding selesai, maka saya dan si abang menentukan tanggal berapa kami nanti akan menikah. Kedua orang tua ngomong ini itu dan kami hanya diam mendengarkan sambil sesekali menanggapi, maka diputuskanlah kami akan menikah di Bulan Januari 2016 dengan pertimbangan kedua adik saya sedang tidak dalam bulan-bulan ujian. Voilaaaaaaaaaa……itu hari baik menurut kami berdua, padahal jaman sekarang masih banyak lho yang masih pakai hitung-hitungan orang Jawa (atau orang Minang juga ada hitung-hitungannya, saya nggak paham) yang menentukan hari baik itu berdasarkan tanggal lahir, letak rumah, dan ciri-ciri lain yang menurut saya tidak masuk akal. Satu lagi, hari baik itu menurut keluarga kami ya hari libur (Sabtu atau Minggu). Kenapa? Kalo hari-hari kerja kasian tamu yang berniat datang, jadi membolos atau mangkir kerja kan nggak enak :p.

Tanggal 16 Januari direncanakan akad akan dilaksanakan. Tanggal 17 Januari -esok harinya- resepsi sederhana digelar. Setelah fix tanggal, yang pertama kali kami lakukan adalah memilih lokasi resepsi. Resepsi aja sih, soalnya untuk akad akan kami laksanakan di rumah saya. Oiya, saya cerita ini di kondisi rumah saya aja ya. Yang di rumah abang -di batam sana- saya kurang tau gimana-gimana riwehnya, semua sudah di handle sama mama mertua sih.

Ada beberapa opsi tempat resepsi. Yang jelas bukan di rumah saya, secara saya masih berada di rumah dinas yang luas rumahnya terbatas. Well, pilihan pertama ada di gedung yang beneran murni nyewain gedung. Jadi ya bener-bener gedung, nggak ada katering dan dekor serta perlengkapan yang lain. Ada beberapa pilihan disini, tapi mama papa saya memutuskan untuk nggak ngambil. Alasannya, tentu saja nggak mau repot. Sebenarnya, ada keuntungan dari pemilihan gedung seperti ini. Dekorasi bisa kita tentukan sendiri, makanan juga bisa kita pilih sendiri, pun dengan hiburan. Tapi, dengan alasan efisiensi dan efektivitas waktu serta dana, kami memutuskan untuk menggunakan gedung yang sudah lengkap satu paket dengan hiburan, dekorasi, serta kateringnya. Kelemahannya mengambil satu paket gini, nggak lain dan nggak bukan kita harus mau dengan paket yang ada. Nggak bisa request mau dekor mewah ala-ala putri salju atau hiburan yang paham lagu-lagunya anak muda. Pffttttt……

Setekah acara pemilihan gedung beres, ada beberapa hal yang harus saya handle sendiri dari jarak jauh. Apa aja? Ini nih :

  • Make up untuk akad dan resepsi

     Masalah make up bagi saya susah-susah gampang. Kulit wajah saya sensitif, sekali salah make up akibatnya bisa panjang. Bintil-bintil kecil di wajah yang gatal sampai jerawat yang membeludak akan datang menghampiri. Saya memutuskan untuk menggukana MuA yang menangani saya pas foto pre wedding kemarin, namanya Mbak Iyum. Awal perkenalan kami nggak disnegaja. Jadi waktu itu saya sudah nemu tukang foto yang tepat, hanya saja saya belum nemu tukan make up yang bagus. Saya minta saran ke tukang fotonya, siapa MuA yang bagus di daerah Solo dan sekitarnya. Dikenalinlah saya sama mbak Iyum ini. Pas foto prewed, alhamdulillah cocok. Mama menyarankan buat nerusin aja pake jasa mbaknya. Ya saya OK aja sih, haha. Meski ada sedikit masalah ketika booking (karena pas acara resepsi si mbak sudah ada job lain, sehingga diganti kakaknya yang juga tukang rias), tapi over all saya sih baik-baik aja. Saya lebih memilih pinjam kebaya untuk akad dan resepsi dari MuA-nya, alasan pertama dan utama ya karena menghemat uang dan tenaga dong. Dipakainya sekali belinya pake duit jutaan, sayang bener. Kebutuhan yang lain masih banyak contohnya jalan-jalan.

  • Dokumentasi

     Kasusnya sama, saya nggak mau ribet nyari dimana lagi harus mencari tukang foto yang bagus dan sesuai dengan selera saya. Maka, diputuskanlah saya memakai jasa tukang foto yang sama dengan tukang foto ketika pre wedding kemarin. Alhamdulillah si mas-nya belum ada job, jadi leluasa deh bookingnya. Saya ambil foto yang reguler, sama video yang model wedding clip. Sip, beres.

  • Baju orang tua dan saudara kandung

     Ini nih, yang kecil-kecil tapi bikin ribet dan perlu mikir. Kalo yang untuk bapak-bapak sih masih oke aja ya pake baju yang netral, misal jas dan beskap yang warnanya nggak ngejreng. Nah, yang emak-emak yang rempong. Awalnya saya kan nggak begitu mikirin mau pake kebaya warna apa, terserahlah. Hanya saja jangan yang bikin kulit saya jadi terlihat hitam, haha. Saya sih ikut aja saran mama yang pake kebaya warna hijau mint dan orange. Semi pastel dan cantik. Lalu, baju emak-emak menyesuaikan. Dan baju dua adik saya juga warnanya senada. Untunglah si abang anak tunggal, jadi dia nggak rempong nyariin baju buat saudaranya. Hoho….

Kebaya Resepsi

Kebaya Resepsi

 

Kebaya Akad

Kebaya Akad

 

  • Souvenir

     Toko souvenir di Solo sebenarnya banyak sih, hanya saja saya yang lagi nggak ada di rumah ini kan jadi susah dong kalo harus nyari lagi. Terpujilah wahai para penjual souvenir online yang sudah banyak bertebaran di instagram, dan terpercaya. Seirus lho, saya ambil souvenir dari penjual di instagram dan barangnya bagus, free ongkir pula. Saya pesan yang sederhana aja sih, kaca rias kecil sama dompet batik besar.

  • Undangan

     Oke, saya termasuk golongan sakit hati untuk urusan undangan. Hiks, sedih bener mau bahas. Jadi ceritanya kan saya udah searching sana sini tuh terkait undangan, udah nemu undangan yang minimalis menggemaskan bin imut-imut. Eh, tetiba inget kalo ada saudara jauh yang bisa bikin undangan. Maka, pesanlah saya ke tempat saudara jauh tersebut. Respon awalnya nggak ngenaki, sok jutek gimana gitu. Terlebih pas saya habis kasih contoh begini lho model undangan yang saya mau. Seberapapun saya bayar kok. Eh pas hasilnya keluar, saya kecewa berat. Undangan terkesan asal-asalan dan nggak menarik sama sekali. RRRRRRRRRRRrrrrrrrrrrrr……….Pengalaman yang bisa dipetik dari kasus saya ini, lebih baik milih tempat percetakan yang terkenal deh, kualitasnya bagus dan pelyanannya ramah ketimbang milih punya saudara sendiri yang jauh dari harapan. Bukannya nggak memberdayakan saudara, tapi kan sebagai konsumen we deserve the best dong ya.

Sekian uneg-uneg dari pengantin baru yang kayaknya udah cukup panjang ceritanya, haha….

see you later

Lanjutan……

Catatan Pengantin Baru Part #1


Menghadapi pernikahan. Rentetan acaranya dimulai dari lamaran-mempersiapkan acara pernikahan baik dari segi mental fisik dan materi-acara pernikahan-pasca acara pernikahan. Panjang ya, mau nyaingin gerbong kereta panjangnya. Tidak seorang pun mau dong acara yang hanya berlaku sekali seumur hidup ini banyak cacatnya di sana sini. Well,  walaupun sempurna nggak sempurna suatu acara pernikahan pasti ada juga yang ngomongin di belakang. Hayo ngaku siapa yang sering bisik-bisik di belakang pengantin? Hihihi….

Pertama, acara lamaran. Kalo saya pribadi sih, acara lamaran itu masuk kategori sekunder dalam segi finansial dan perayaan. Lamaran sebagai tanda kalau seorang laki-laki benar-benar serius ingin membina rumah tangga dengan seorang perempuan dengan cara datang baik-baik ke keluarga pihak perempuan. Itu definisi menurut saya sendiri lho. Sebaiknya, setelah lamaran itu secepatnya menyusun acara pernikahan. Kalo pihak laki-laki sama perempuan berdekatan tempat tinggalnya lebih enak, lebih cepat lebih baik bukan. Berbeda dengan kondisi saya dan abang yang harus terpisah pulau, perlu strategi untuk menyusun acara pernikahan kami. Fyi, ada lho laki-laki yang minggat padahal udah melamar pacarnya dengan alasan macam-macam. Nggak banyak memang, tapi laki-laki bencong macam ini ada. Sueerrrrr….

Lanjut ke acara lamaran. Saya dan abang sama-sama paham kalo kondisi kami berdua pas-pasan. Kami berdua pun sepakat, acara lamaran kita ini nggak usah lah digelar dengan acara yang mewah dan mengundang banyak orang. Jadi, ketika acara lamaran kita berdua hanya mengundang beberapa tetangga dekat rumah dan saudara-saudara dekat. Hidangan yang disediakan pun juga sederhana. Selain alasan tempat tinggal kami yang berjauhan, waktu yang tersedia untuk saya dan abang sangat terbatas. Maklum, kami berdua hanya buruh negara bergaji pas-pasan. Hehe….

Satu hal yang tidak boleh lepas (menurut saya) untuk acara lamaran adalah tukar cincin. Kami lamaran di tanggal 20 Juli 2015, dan kami membeli cincin sekitar Bulan April 2015 ketika saya sedang mengikuti diklat prajabatan di Jakarta. Lama ya? Memang, LDR butuh strategi men 😉

Selepas acara lamaran, kami memutuskan untuk ambil foto pre wedding. Masih dalam konsep yang sederhana, kami hanya melakukan foto pre wedding indoor. Sebelumnya kami memang sudah menghubungi pihak fotografer nya sih lewat whatsapp. Oiya, kami kenal fotografernya sama tau bagaimana portofolio mereka dari instagram. Terima kasih teknologi, hidup kami jadi lebih mudah 🙂

Cerita ini sudah saya bahas sebelumnya disini. Nantikan kelanjutan kisah kami 🙂

ps : kali ini saya nggak nampilin foto, secara psotingan kali ini memperhalus postingan saya sebelumnya. Hehe…..salam cinta dan damai dari daerah tengah Indonesia yang masih terbelakang dan tertinggal.

I come back……


So sorry, long time gak nongol nulis di blog 😀 *ketawa nyengir nggak berdosa*

Bulan Oktober November masih disibukkan dengan pekerjaan akhir tahun kantor yang entah kapan habisnya, namun akhirnya habis juga. Bahagia?? Tentu saja dong. Disamping kegiatannya menguras tenaga dan pikiran juga kesehatan jiwa dan raga, saya juga masih harus mempersiapkan pernikahan saya di Bulan Januari. Jreng jrengggggggg…..

Bulan Desember, kegiatan kantor sudah mereda. Terus malah jadi bingung mau kerja apaan. Pagi berangkat kantor, siang pulang makan siang, kalo sempet ya tidur bentar, sore pulang kantor. Banyak sih yang cuti akhir tahun, baik yang merayakan natal maupun yang bukan. Saya? Harus puas menjaga kantor. Secara saya sudah di acc mengajukan cuti alasan penting selama 35 hari kerja di Bulan Januari dan Februari ntar. Merdekaaaaaaa……

Memasuki tahun yang baru, hati saya berbunga-bunga indah. Tentu saja, sebentar lagi akhirnya saya menikah dengan abang saya. Masuk kerja di Bulan Januari 2016 hanya 5 hari dan setelah itu cusssss pulang kampung. Ada sih drama dikit-dikit di kantor, ya tapi namanya juga orang lagi bahagia ya hal-hal semacam itu saya anggap kentut di tengah gurun sahara aja. Wahahaha…..

8 Januari 2016. Saya pulang kampung. Bahagia yang amat sangat. Sesampai di rumah, to do list yang ada di kepala harus segera dikerjakan. Mulai dari foto dan video, souvenir nikah, menghadapi orang-orang dekat yang luput diundang, make up untuk acara akad nikah hingga resepsi, dan segala macamnya. Keadaan diperumit dengan kondisi saya dan abang yang LDR selama 14 bulan, jadi kami menerapkan beberapa tips dan trik untuk mempersiapkan pernikahan kami yang sekali seumur hidup. Salah satunya adalah dengan mengambil jarak sekitar 6 bulan dari acara lamaran hingga resepsi dan kami gunakan untuk mengorganisir acara pernikahan kami dari jarak jauh. Beruntung sekarang teknologi sudah canggih. Saya dan abang memanfaatkan aplikasi chatting whatsapp, email, instagram and many more.

Yang selalu ada di otak saya selain rencana pernikahan ini tentu saja adalah agenda honeymoon kami berdua. Kemana????? Rahasiaaaaaa. Eh tapi kan udah lewat ya, hihihi…..tunggu postingan selanjutnya 😉

Balada Gelar di Belakang Nama


-Apalah arti sebuah nama-

Konon sih katanya klise, apa sih arti sebuah nama. Penting? Nggak penting? Kalo bagi saya pribadi sih penting. Nama menunjukkan identitas, nama berarti doa, nama berarti jati diri.

Sekarang, bagaimana dengan gelar? Iya bener, gelar akademik. Bukan gelar keturunan kerajaan atau gelar habis melakukan ibadah.

Sebagian besar orang menganggap gelar akademik itu penting banget, prestigius, menunjukkan kualitas seseorang, alat menjual diri ke perusahaan tempat bekerja, tingkat ketercapaian seseorang dalam belajar, de el el. Bener kok, nggak salah. Masalahnya, sudah sesuai tempat, situasi dan kondisikah dalam mencantumkan gelar?

Beberapa waktu yang lalu, saya ribut dengan mama papa saya. Tentu saja via telepon, saya di Indonesia bagian tengah dan beliau berdua di Indonesia bagian barat. Masalahnya sih nggak berat-berat amat : saya dan calon suami sepakat tidak mencantumkan gelar akademik di belakang nama kami berdua di acara pernikahan kami nanti sedangkan mama dan papa saya sebaliknya. Runyam? Iya.

Mama papa saya dari awal maunya kami mencantumkan gelar akademik kami berdua di acara pernikahan kami nanti. Mulai dari nama di undangan sampe penyebutan nanti di acara. Alasannya, kami berdua sudah lulus kuliah, sudah bekerja. Kuliah kami nggak main-main susahnya, 4 tahun berjuang dengan ancaman DO. Belum lagi kami menjadi kebanggaan keluarga besar dengan gelar akademik kami berdua, dan bla bla bla. Saya nggak hapal semua alasannya.

Sedangkan saya dan si abang sudah jauh-jauh hari sepakat tidak mencantumkan gelar akademik kami di belakang nama untuk acara-acara yang sifatnya tidak ada hubungan dengan akademik dan pekerjaan. Mengapa? Alesan kami simpel aja sih : Untuk apa? Pamer? Apa yang perlu dipamerkan? Toh kami berdua sama-sama masih diploma, kami berdua prestasinya biasa-biasa saja bahkan cenderung meranaaaaaaaa, kami berdua ipk nya di golongan hidup segan mati tak mau, kami berdua masih saja menjadi orang biasa. Lalu untuk apa penyebutan gelar akademik di belakang nama kami?

Kami ingin meniru orang-orang luar biasa yang seringkali hanya menyebutkan nama saja tanpa embel-embel gelar akademik mereka yang sepanjang gerbong kereta. Rasa-rasanya mereka keren, berilmu tapi tidak menunjukkan tingginya level ilmu mereka. Kami percaya, banyak dan dalamnya ilmu seseorang itu tidak terlihat dari gelar. Tapi apa daya, kita hidup di jaman semua orang mendewakan gelar. Tanpa peduli gelar itu darimana, gelar itu apa hakekatnya, gelar itu untuk apa.

Tanggapan si abang ketika saya curhat masalah ini sih tenang-tenang saja. Nanti ya kita bicarakan baik-baik sama mama papa kamu.

Fiyuh…..

Masa Kuliah

Masa Kuliah

Our Engagement Day


Finally, we’re engaged!!!!

Setelah atur rencana mulai dari kapan nentuin hari lamaran, gimana ketemuannya, apa aja yang perlu dilakuin sampe siapa aja yang nanti akan diundang di acara lamaran kami. Ribet? Iya. Pusing? Iya. Galau? Iya. Nggak ada duit? Iyaaaaaa….

Rencana lamaran kami sudah jauh-jauh hari sih dipikirkan, secara LDR mah harus mikirin progres ke depan dong ya. Jadi semenjak berangkat penempatan -November 2014- kami berdua sudah sepakat lamaran akan dilaksanakan nanti ketika saya datang prajab di Jakarta. Dari November hingga awal tahun 2015, kabar prajab masih simpang siur nggak jelas. Ya sudahlah, kami cari aman saja. Pilihan kami jatuh di waktu beberapa hari setelah hari raya idul fitri.

Kembali lagi ke kata LDR. Sebagai pelaku LDR yang kekinian, pastinya kami berdua harus mikir dong gimana caranya biar acara lamaran kami ini bisa efektif dan efisien dari segi biaya dan mendukung perlengkapan menuju hari nikah ntar. Beruntung kami hidup di jaman teknologi sudah bukan lagi barang tersier, hahaha….

Pertama, cincin lamaran. Ini penting. Ya kali masak lamaran nggak ngasih cincin?! Jadilh di Bulan April 2015 ketika saya sedang diklat prajabatan di Jakarta, saya dan abang hunting cincin berdua. Duit kami pas-pasan sih, alhamdulillah si abang ada duit dikit buat beli cincin. Pergilah kami ke Cikini Gold Center di sebelah stasiun Cikini. Pilihannya lumayan banyak, kami pilih ke satu toko yang kami lupa apa namanya. Memilih ini itu dan kami memutuskan beli cincin seperti di bawah. Simpel. Dan bentuknya nggak sama (sepasang bukan berarti harus sama kan 🙂 ). Cincin saya dari bahan emas putih, sedangkan abang lebih milih paladium. Harganya? Rahasia.

Our RIngs

Our Rings

Kedua, kami harus menentukan kapan pelaksanaan lamarannya. Saya sekarang ada di Sumba Barat, NTT. Mama papa saya ada di Sukoharjo, Jawa Tengah. Abang ada di Jakarta, dan mama papanya ada di Batam. Sepakatlah kami melangsungkan acara lamaran tanggal 20 Juli 2015 hari Senin disaat cuti bersama masih berlangsung. Acaranya sederhana saja, nggak sampe 15 orang yang diundang. Makanan juga sekedarnya. Dari awal memang kami berdua sepakat kalo acara lamaran ini sederhana saja. Bahkan, kami meniadakan hantaran lamaran!!! No problem, right?

Ketiga, foto prewed. Jujur, masih lama nikahnya tapi kami udah mikirin prewed dong. It’s a must. Kapan lagi dan seberapa sering pelaku LDR yang gajinya sedemikian rupa bisa ketemu? Searching vendor di Solo kurang banyak pilihan, kalo hasilnya bagus harganya mahal kalo harganya murah hasilnya norak. Pffffttttt…..akhirnya kami pilih salah satu vendor yang lumayan bagus menurut kami dan harganya bisa nego, wakwak….MUA juga demikian. Alhamdulillah, meskipun hanya foto prewed indoor, tapi hasilnya OK. Nih beberapa foto prewed kami.

IMG-20150723-WA0001 IMG-20150723-WA0004 IMG-20150723-WA0005

Keempat, cari gedung. Sumpah ya, ini susah. Sukoharjo mah kota kecil. Cari gedung buat resepsi kalo gak di Solo ya mana lagi. Saya dan mama muter-muter cari gedung resepsi yang juga menyediakan katering dan segala pernak-perniknya. Ketahuan kan kalo keluarga saya ogah ribet, haha….Untungnya ketemu. Harga masih manusiawi. Dan yang lebih membahagiakan : bayarannya bisa dicicil. Merdeka!!!!!

Stop dulu tulisan saya kali ini. Kapan-kapan saya sambung deh cerita saya dan si abang menuju hari H. Woho…..

Wisuda-Menganggur-Kerja Sambilan-Liburan Bahagia-Magang-…


Halohai……lama banget saya gak menyambangi blog lucuk saya ini, maklumlah saya sedang dalam masa mencari jati diri :D. Pasti kalian yang sering jalan-jalan di blog saya pada kangen sama saya ya? Hihihi…

Yuk ah intip cerita saya sedikit, siapa tau kalian jadi pengen 😀

Setekah wisuda tanggal 10 Oktober tahun 2013 lalu, saya pulang ke rumah. Karena selain sudah gak kuliah dan magang entah kapan, juga adek les yang saya ajar juga lagi liburan pergantian term (1 term di sekolahnya sekitar 3 bulan). Di rumah selama 3 minggu kerjaan saya cuma ongkang-ongkang kaki aja : makan, tidur, jalan-jalan, belajar dandan plus masak sama mama (uhuk….saya udah gede) sama godain balita tetangga yang unyu-unyu. Setelah 3 minggu, sampailah waktu saya kembali ke Jakarta. Bukan karena waktu magang sudah tiba, tapi karena saya mau cari duit tambahan buat jalan-jalan di akhir tahun 2013 atau awal tahun 2014 nanti. Mamanya adek les saya juga sudah sms sih kalo si anaknya sudah masuk sekolah kayak biasa. OK, saya berangkat ke Jakarta untuk mencari duit tambahan demi liburan yang lebih baik dan lebih sejahtera.

Sebelumnya, Papa saya sempat melarang saya untuk pergi ke Jakarta kali ini. Alasannya, daripada saya disana dan duit ngajar hanya ‘ngepas’ untuk hidup sehari-hari mending liburan di rumah sama keluarga. Saya ini termasuk golongan (mantan) mahasiswa yang setelah masa homesicknya selesai, susah buat bolak-balik ke rumah-perantauan. Tapi, saya tetap nekat. Memang, di rumah uang saya utuh karena di rumah nyaris tidak ada uang yang saya harus keluarkan buat hidup. Tapi, saya juga gak dapat duit. Kalau saya di Jakarta, seenggaknya duit saya nambah meski ‘ngepas’ untuk hiudp. Saya seperti bermain judi, probabilitasnya fifty-fifty antara duit saya nambah atau duit saya sama seperti semula.

Bulan November saya ngajar les privat seperti biasa. Saya mengajar les privat science hari Selasa dan Kamis untuk anak SD (kelas 5) dan SMA (kelas 10) kakak beradik di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Saya bingung, kata orang kawasan Menteng itu identik dengan kawasan elit orang Jakarta. Padahal, ketika saya ke sana masih banyak juga rumah orang-orang golongan menengah ke bawah. Baru kemudian saya tahu dari salah seorang pembantu adek les saya, rumah yang mereka tinggali itu adalah kawasan rumah para menteri. Harga sewa rumah di kawasan itu bisa mencapai 50 juta per bulan. Uwauww…..

Sejak berangkat dari rumah saya sudah kepikiran, kalau hanya mengajar di 1 tempat saja duit saya nggak cukup buat liburan yang lebih baik dan lebih sejahtera. Maka, tergeraklah saya untuk mencari lowongan les privat lagi. Biasanya, menjelang UAS banyak yang membutuhkan tenaga pengajar les privat. Saya mulai mencari-cari bimbel-bimbel les privat di Jakarta. Beberapa kali melamar, akhirnya ada 2 yang diterima. Yang pertama anak SMA kelas 10, mengajar mata pelajaran matematika. Rumahnya di daerah Jatinegara Indah, kira-kira sejam menuju ke tempatnya. Yang kedua anak kelas SD Internasional kelas 4, mengajar mata pelajaran matematika. Rumahnya di daerah Jalan Agus Salim Menteng, Jakarta Pusat (belakang Pullman Hotel). Saya mengajar anak SMA di Jatinegara hanya bisa bertahan beberapa minggu aja, sedangkan dengan yang anak SD kelas 4 saya bisa bertahan sampai sekarang. Alasannya sih, anak SD kelas 4 itu sekolahnya sama dengan adik les yang saya ajar sebelumnya (kelas 5 dan 10). Jadi, pasti jadwal mereka sama. Hahaha….

Duit dari sana-sini terkumpul. And finally…….saya bisa liburan. Liburan saya jatuh pada bulan Januari, di awal tahun. Alhamdulillah saya bisa pergi ke Singapura dan Batam beberapa hari. Tujuan utama saya sih jalan-jalan nengokin pacar. Tujuan sampingannya memenuhi janji ke petugas imigrasi yang mewawancarain saya pas buat paspor. Waktu itu saya jawab bikin paspor buat jalan-jalan ke Singapura akhir tahun, apa daya baru bisa terlaksana di awal tahun selanjutnya. Cerita selanjutnya nanti ya di postingan selanjutnya. Hehe…

Kabar magang yang sedari saya wisuda belum ada ujung hidungnya, mulai menampakkan diri sekitar bulan Februari. Magang akan dimulai pada tanggal 3 Maret. Oiya, sebelumnya diawali kabar mengejutkan datang, TKD tanggal 11 Maret. Huh, badai akan segera dating. Bersiaplah!!!

Saya ditempatkan magang di subdirektorat statistik konstruksi. Disini suasananya enak dan nyaman, orang-orangnya juga ramah dan asik diajak bercandaan. Haha…TKD pun serasa ringan. Dan TKD memang nggak seberat yang dibayangkan. Kalau menurut saya sih, ujian komprehensif di akhir semester 7 jauh lebih memusingkan.

Dulu ketika saya masih liburan di rumah, iseng-iseng saya ikut kompetisi pelatihan menulis gratis yang diadakan oleh A Fuadi. Nama kompetisinya Akademi Menulis 5 Menara. Siapa A Fuadi itu? Beliau adalah seorang penulis novel. Novelnya terkenal adalah Trilogi 5 Menara. Apa saja syarat yang harus saya penuhi untuk bisa ikut kompetisi ini? Saya disuruh bikin esai mengapa saya ingin mengikuti akademi ini dan juga esai mengenai novel Trilogi 5 Menara. Tanggal 19 Desember 2013 saya mengirim aplikasinya, tanggal 3 Februari 2014 ada email pemberitahuan dari panitia bahwa saya lolos tahap 1 kompetisis Akademi Menulis 5 Menara. Yay….tapi saya masih harus menyisihkan peserta lagi. Peserta yang lolos tahap 1 ada 58 orang, yang akan diterima hanya 20 orang. Untuk bisa lolos di tahap selanjutnya, saya harus menulis tanggapan dan kesanggupan saya jika saya terpilih sebagai peserta akademi. Sekian lama saya menunggu, akhirnya tanggal 9 April 2014 keluarlah pemberitahuan dari panitia Akademi Menulis 5 Menara dan saya dinyatakan berhak mengikuti pelatihan. Setelah di tahap 1 ada 4 orang yang lolos yang satu almamater dengan saya, di tahap 2 ini hanya tinggal 2 orang saja. Salah satunya yang punya blog ini. Peserta yang lolos ada sekitar 26 orang, nantinya akan disusutkan lagi menjadi 20 orang. Wish me luck 🙂

Karena tulisan saya kali ini cukup panjang, maka sekian dulu ya kabar-kabar dari saya. Untuk cerita tentang apa saja yang saya lakukan di Akademi Menulis 5 Menara, nanti akan saya tuliskan di lain waktu.