Bandung : Libur Panjang dan Cinta Kita #2


Cerita ini lanjutan dari sini.

Pagi di hari kedua, kami semangat 45 buat menjelajah Kota Bandung. Tujuan pertama kali ke Dusun Bambu di daerah Lembang.

Lucu aja sih backgorundnya bambu disusun rapi gitu

Lucu aja sih backgorundnya bambu disusun rapi gitu

Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 7.00. Mampir makan bubur ayam khas Bandung dulu di daerah sekitar UPI. Buburnya lumayan enak dengan potongan ati ampela yang berlimpah, bahagiaaaaaaa……

Kami melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 8.00 kami sampai di Dusun Bambu. Cukup susah mencapai Dusun Bambu jika naik kendaraan umum, untuk sampai di tempat tujuan kami naik motor sewaan dan dengan bantuan google maps (serta tentu saja kemampuan membaca dan mengingat peta dengan baik, haha). Sampai di sana, kondisi masih cukup sepi. Alhamdulillah. Mari selfie dulu kakak…..

Selfie sebelum pintu masuk

Selfie sebelum pintu masuk

Suasana Dusun Bambu yang menawarkan nuansa khas pedesaan dengan beberapa lahan yang ditanami padi (atau rumput-rumputan ya?) dengan pematangnya. Ada juga jembatan gantung yang sebenarnya itu jalan ke saung-saung rumah makan, tapi berhubung rumah makannya belum buka jadi ya kami bisa leluasa foto-foto. Satu yang saya suka dari Dusun Bambu, ada beberapa taman bunga. Meski gak sebagus Flower Dome, tapi mayan lah ya buat nambah koleksi foto di instagram. Ada juga air mancur kecil. Lalu, ada semacam foodcourt yang menawarkan makanan nusantara. Karena kami lagi nggak lapar, ya skip ajalah. Di ujung jalan keluar, kupon masuk tadi bisa dituker sama air mineral mini. Mayan lah.

Rumah makan belum buka, mari selfie

Rumah makan belum buka, mari selfie

Di belakang kami, ikonik Dusun Bambu

Di belakang kami, ikonik Dusun Bambu

Puas menikmati Dusun Bambu, kami menuju destinasi selanjutnya. Nah, sekitar jam 10.00 pas kami pulang itu, pengunjungnya udah mulai berjubel. Alamak…..

Memasuki Dusun Bambu disambut sawah

Memasuki Dusun Bambu disambut sawah

Labirin tempat bermain anak-anak

Labirin tempat bermain anak-anak

Ini yang nge hits di Dusun Bambu

Ini yang nge hits di Dusun Bambu

Nah, jangan lupa selfie di sini

Nah, jangan lupa selfie di sini

Destinasi kami selanjutnya, masih bertemakan alam dan terletak di daerah Lembang, Farm House. Kedua destinasi ini saya sih yang milih, dapat dari hasil ngubek-ubek blog punya orang. Dari Dusun Bambu ke Farm House, kami harus puter balik darai arah Lembang ke pusat kota karena letak Dusun Bambu ini lebih di atas. Sepanjang perjalanan, kami cuma bisa melongo. Macet parah sepanjang jalur menuju Lembang, mulai dari motor, mobil pribadi sampai bus pariwisata. Kami yang melawan arus ini tenang-tenang saja, tapi khawatir juga sih nanti di Farm House bakal berjubel.

Berjubel di Farm House

Berjubel di Farm House

Kekhawatiran kami terjadi. Sampai di Farm House, suasana umpel-umpelan yang menyambut kami. Ya maklum aja lah ya, long weekend gini. Kami membeli tiket masuk dan tiket masuknya bisa ditukar dengan segelas susu segar atau susu kemasan di counter penukaran. Karena saya udah sumpek sama orang-orang di sekitar yang banyaknya ampun-ampunan, maka diputuskanlah si abang yang menukarkan tiket masuknya. Nah, pas menukarkan tiket ini, seperti biasalah ya kalo lagi musim rame gini pasti ada aja orang-orang yang meneyerobot seenak jidat. Kalo sama si abang, dijabanin tuh :p.

Jig SAW

Jig SAW

Yang serem gini ada juga di Farm House

Yang serem gini ada juga di Farm House

Kalau di Dusun Bambu tadi menawarkan nuansa pedesaan yang hijau, beda halnya dengan Farm House yang menawarkan suasana peternakan ala-ala Eropa. Kami kurang bisa menikmati Farm House, ya karena banyaknya pengunjung itu tadi. Tapi, tetap dong ya selfie jalan terus. Kapanpun dan dimanapun, nggak peduli cuma nyempil di pojokan. Sayang, banyaknya pengunjung berbanding terbalik dengan banyaknya jumlah foto pemandangan yang saya ambil. Saya badmood mau ambil foto, huhuhu……

Dandan ala Eropa

Dandan ala Eropa

Di Farm House juga menyediakan penyewaan baju ala-ala peternakan di Eropa gitu, jadi bisa buat gaya-gayaan. Saya sih udah puas nonton mereka aja sambil sesekali ijin mereka buat saya foto. Ngeliat panjangnya antrean yang mau nyewa baju aja udah bikin saya mundur, lagipula apa nggak panas ya di tempat berjubel banyak orang gini pake baju seperti itu? Hehe…

Bodo Amat Mau Selfie

Bodo Amat Mau Selfie

Selfie Nyempil

Selfie Nyempil

Di Farm House juga banyak kafe-kafe bergaya Eropa dan banyak yang jualan sosis bakar jenis Frankfuter (ini jenisnya bener apa nggak ya?). Lumayan enak kalo menurut kami, hanya saja kurang banyak, hahaha….

Bangunan bergaya Eropa, abaikan foto selfie suka-suka kami

Bangunan bergaya Eropa, abaikan foto selfie suka-suka kami

Di Farm House juga ada semacam kebun binatang mini dengan beberapa pawang di kandangnya. Tapi kok saya kasihan ya sama hewan-hewannya. Secara ya, hewan-hewannya itu tuh dikandang yang nggak terlalu tertutup. Jadi, pengunjung bisa leluasa memegang-megang si hewan. Kan bikin si hewan stress tuh :(. Kalo sama anak kecil ya dibejek-bejek gemes gitu, si abang pun memegang beberapa domba yang bulunya cukup terawat dan komentarnya “serasa megang karpet” :D.

Kasian dombanya

Kasian dombanya

Puas di Farm House, kami lapar. Destinasi selanjutnya ini pilihan si abang, Restoran Steak ‘Karnivor’. Serem ya pas dengernya, hihi. Lokasinya ada di sekitar Jalan Riau. Kami sampai sana sekitar jam satu lebih dikit, pengunjung nggak terlalu banyak waktu itu. Kami langsung memilih steak monster yang berat dagingnya sekilo, hahaha…. Penasaran aja sih gimana penampakannya.

Selfie menunggu pesanan

Selfie menunggu pesanan

Steak monster

Steak monster

Setelah matang dan merasakan, kami kecewa. Rasa steaknya nggak nendang, bumbunya biasa banget. Ya tapi kami habiskan juga sih, mahal coi :p.

Kami selesai makan sekitar jam setengah 3. Nggak tau ya ini beneran atau hanya perkiraan si abang aja, orang Bandung itu makan siangnya jam 2 jam 3 an. Dan, pas kami selesai makan, restorannya rame. Fufufufu…..

Kenyang dan ngantuk jadi kombinasi yang tepat. Yaudah lah ya, kami balik ke hotel. Bobok-bobok manja sampe sore.

Agenda sore hari, ke ciwalk yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari hotel. Windows shopping sebahagia hati kami, dan kami nggak banyak belanja apa-apa. Sialnya, malam itu hujan turun. Rencana mau ngembaliin motor ke tempat sewaan jadi batal. Untungnya, si mas tempat sewaan mau jemput motornya ke hotel dengan dikenakan charge yang nggak gede-gede amat. Alhamdulillah.

Petualangan kami hari itu selesai. Bersambung ke sini.

Bandung : Libur Panjang dan Cinta Kita #1


Awal Bulan Desember 2016, saya yang masih bekerja di tengah Indonesia ini mengajukan cuti tahunan. Mayan kan bisa ketemu sama suami tercinta, sekaligus jalan-jalan.

Seminggu saya habiskan di rumah mama papa saya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sahabat baik saya dari kecil menikah dan saya dikasih kain buat jadi bridesmaid. Awww awwww….. Gimana cantiknya dia (dan tentu saja saya) itu rahasia. Merayu suami buat mau pulang ke Sukoharjo, alhamdulillah suami bisa ijin. bahagiaaaaaaaaa…….

Seminggu selanjutnya (saya cuti 2 minggu kalender, btw) saya dan suami memutuskan untuk jalan-jalan. BANDUNG menjadi destinasi kami kali ini. Kami memilih Bandung bukan karena tanpa sebab. Beberapa waktu lalu suami ada perjalanan dinas ke Bandung dua kali. Perjalanan dinas pertama, saya dioleh-olehi suami vest emesh warna abu-abu tua. Perjalanan dinas kedua, suami bingung mau ngasih saya oleh-oleh apa. Akhirnya, suami menawarkan ‘gimana kalo kita liburan ke Bandung pas long weekend nanti?’. Tanpa banyak pikir, saya langsung mengiyakan aja. Mayan, honeymoon kedua :D.

Urusan transportasi dari dan ke plus selama di Bandung itu urusan suami. Giliran penginapan dan itinerary mana saja yang mungkin kami kunjungi itu urusan saya. Sippppp….

Sudut Kota Bandung Selalu Menarik Untuk Difoto

Sudut Kota Bandung Selalu Menarik Untuk Difoto

Hari H pun tiba. Suami memesan tiket kereta Argo Parahyangan yang berangkat jam 5 pagi dari Gambir. Malang tak dapat ditolak, kami telat bangun! Alarm hp sudah saya set di jam 3 dini hari, entah karena faktor saya yang terlalu capek atau karena saya matiin terus saya tidur lagi, saya terbangun di jam 4 pagi. Langsung syok, terus bangunin abang. Saya pun langsung gerak cepat dong. Mandi kilat jadi tujuan utama. Setelah mandi, saya pun dibuat KZL ZBL BGT sama suami. Gimana gak dongkol coba, waktu tinggal mepet gini si abang masih bisa-bisanya terkantuk-kantuk duduk di atas kasur. Gjkgjkgjk…… Baru mandi pas disuruh mandi, itu juga mandinya lama bener. Arrrrgggghhhhhhh……

Jam sudah menunjukkan 4.30. Saya udah menyerahkan sepenuhnya gimana kami berangkat ke abang. Terserahlah. Masih dongkol. Si abang ngerasa waktu setengah jam nggak bakal cukup buat ngejar kereta naik taksi ke Gambir. Searching sana-sini, si abang menemukan artikel kalo kereta Argo Parahyangan ini menaikkan penumpang dari Jatinegara. OK sip. Meluncurlah kami ke Jatinegara. Drama belum berakhir ternyata. Taksi yang kami tumpangi sopirnya baru dan belum hapal jalan, ke Stasiun Jatinegara aja nyasar. Gjkgjkgjk…..

Sampai di stasiun, kami celingak-celinguk nyari mana nih tempat buat nge-print tiket. Setelah tanya petugas stasiun, ternyata kereta Argo Parahyangan nggak menaikkan penumpang di Jatinegara. Kami disarankan untuk naik CL ke Stasiun Bekasi. Dan ketika petugasnya mendengar kami akan berangkat jam 5 atau sekitar 15 menit lagi, kereta Argo Parahyangan tak akan terkejar. Lemes kami lemes……

Inhale exhale inhale exhale…..

Sepagi ini kami drama ketinggalan kereta, ditambah lagi belum sarapan, mandi kilat dan sisa-sisa ngantuk masih ada. Fiyuh…..

Kami sudah masuk ke halte busway ketika tiba-tiba terdengar suara suami “Dek, aku kebelet pup. Cari WC dulu yuk.” Duh!

Sambil menunggu si abang menyelesaikan “panggilan alam”, saya melanjutkan searching tiket travel Jakarta-Bandung yang tadi sempat tertunda. Pikir ini itu, akhirnya aku ambil 2 opsi jam berangkat dari 2 shelter berbeda dari travel agen yang sama. Skip skip skip…..

Sebel Nggak Sebel Kita Tetap Selfie

Sebel Nggak Sebel Kita Tetap Selfie

Kami berangkat ke Bandung naik travel jam 9 pagi dari Tebet. Alhamdulillah, akhirnya jadi berangkat juga. Kami paham sih resikonya naik travel di long weekend gini, pasti macet. PASTI.

Jalan dari Jakarta ke Bandung relatif lancar. Alhamdulillah ya, seneng gitu. Eh tapi, pas keluar tol mau masuk Kota Bandungnya…..alamaaaaaaaaakkkkkkk, kami terjebak macet 2 jam. Gjkgjkgjk.

Welcome to Bandung

Welcome to Bandung

Hampir jam 3 sore, kami turun di daerah Pasteur. Lemes dan perut laper itu udah pasti. Tujuan utama : cari makan. Iseng-iseng kita nyoba Bakso Boedjangan, bakso yang lagi hits dan kekinian dari Bandung. Worth it lah, namanya juga orang laper pasti apa aja enak :p.

Sambil makan, kami berdua diskusi tentang itinerary yang sudah berantakan dari kami berangkat tadi. Coret ini coret itu, telat bangun sejam nyoretin apa-apa.

Bukan Pesan Sponsor

Bukan Pesan Sponsor

Karena hari menjelang sore dan mendung sudah di depan mata, kami berdua bergegas menuju ke hotel di daerah Cihampelas. Namanya Vio Hotel, hotel budget yang harganya bisa lebih rendah lagi karena memanfaatkan promo dari web pemesanan hotel langganan kami. Namanya juga hotel budget, asal bisa tidur aja lah :D.

Sore hari menjelang Maghrib, kami memutuskan untuk jalan keluar. Tujuan kami hari itu di daerah Jalan Riau : shopping. Kami nggak shopping maksa sih, kalo ada yang bagus dan harga cocok ya dibeli, kalo enggak ya udah. Jalan Riau surganya FO, begitu kata suami. Jujur, saya nggak paham mana FO yang jual barang bagus, saya cuma lihatnya di situ ada beberapa FO yang ramai di kunjungi. Dan kesanalah tujuan kami selanjutnya. Saya kurang nyaman ketika belanja dan banyak orang. Demi menyenangkan hati suami, ya udahlah saya belanja. Satu aja barang yang saya beli : tas tenteng buat ke pesta :p.

Selesai belanja, kami disambut hujan lebat. Padahal agenda kami selanjutnya adalah mengambil motor sewaan yang ada di daerah Dipati Ukur. Terpaksa, sambil menunggu hujan kami makan malam.

Salah satu hal konyol yang kami lakukan saat jalan-jalan di musim penghujan adalah lupa membawa payung. Hari sudah malam, gerimis masih lebat rintik-rintiknya. Kami memutuskan naik taksi dari Jalan Riau ke daerah Dipati Ukur. Setelah sampai sana, kami masih harus nyari lokasi penyewaan sepeda motor karena tempatnya masuk ke dalam gang kecil.

Wuah, drama kami luar biasa hari itu. Berantem, terus diem-dieman, terus curhat, terus ketawa-ketiwi lagi, terus berantem lagi, muter gitu aja terus. Ini semua karena telat bangun sejam, haha….

Jadi, aturan mutlak nomer satu sebelum mulai jalan-jalan : jangan bangun telat.

Lanjutannya ada di sini.

Pariwisata NTT : Antara Potensi dan Promosi


        Saya seorang alumni sekolah kedinasan dan sudah dua tahun ini ditempatkan bekerja di NTT. Seringkali saya ikut turun ke lapangan jika ada survei ataupun sensus yang mengharuskan saya mengawasi kerja petugas. Wilayah tugas tidak pandang bulu, kota-desa, pantai-gunung, menyebrang sungai-pinggir laut sampai melewati hutan hujan-padang sabana tandus pun pernah saya lalui. Dua tahun saya terkesan dengan NTT, sekaligus miris melihat kondisi masyarakat yang saya temui. Keelokan alam yang dimiliki NTT seperti sepaket dengan kekeringan, minimnya fasilitas kesehatan, minimnya fasilitas air bersih, gizi buruk dan sejenisnya.

        NTT sudah banyak dikenal masyarakat sebagai salah satu provinsi dengan pendatapan per kapita yang rendah. Badan Pusat Statistik mencatat pendapatan per kapita NTT di tahun 2015 hanya sekitar 14,928 juta rupiah, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan per kapita nasional yang sebesar 45,176 juta rupiah. Sampai di sini saya berpikir, apakah benar potensi alamnya belum diberdayakan? Sebegitu parahkah keterbatasan yang dimiliki? Sebegitu minimkah sumber pendapatan di sini? Atau mungkin masyarakatnya sendiri yang masih nyaman dengan segala keterbatasan?

        Di tahun 2011, pemerintah melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) telah merancang tema pembangunan di Indonesia. Dari 6 koridor ekonomi yang ditetapkan, NTT bersama dengan NTB dan Bali berada dalam koridor ekonomi dengan pengembangan di bidang pariwisata, perikanan dan peternakan. Saya ambil satu tema yang menarik, pariwisata. Mengingat keterbatasan data yang saya miliki, riset kecil-kecilan ini saya batasi hanya di NTT.

        Geliat pariwisata di Bali sudah tidak diragukan lagi. Ikon wisata sebagai Pulau Dewata sudah tersemat di Bali sejak tahun 1980-an. Kelengkapan tujuan wisata yang dimiliki menjadikan Bali sebagai primadonanya pariwisata Indonesia hingga saat ini. Dengan semakin ramainya Bali, agaknya NTB sebagai provinsi tetangganya menjadi tujuan alternatif wisatawan. Tidak mau kalah dengan Bali, NTB mengusung konsep Wisata Halal di Indonesia. Ini menarik dan potensial untuk dikembangkan, mengingat penganut agama Islam di Indonesia sangat banyak dan baru Aceh serta Sumatera Barat yang berkonsep wisata seperti NTB. Bagaimana dengan NTT? Pada tahun ini, agaknya pemerintah daerah NTT mulai serius mengembangkan pariwisata. Hal ini ditandai dengan ditetapkannya NTT sebagai New Tourism Territory.

        Mari berbicara menggunakan data. Seberapa besar pariwisata ketiga provinsi ini mempengaruhi perkembangan ekonominya? Di mana posisi NTT dibandingkan 2 temannya yang berada dalam koridor ekonomi yang sama?

Distribusi pariwisata terhap PDRB tahun 2010-2015

Distribusi pariwisata terhap PDRB tahun 2010-2015

        Dari grafik di atas bisa dilihat, pariwisata Bali sebagai penyumbang perekonomian (yang dalam hal ini digambarkan dalam PDRB atau Produk Domestrik Regional Bruto) terbanyak dibandingkan NTB dan NTT. Dari tahun 2010 hingga 2015, peranan pariwisata di Bali menduduki 26 persen dari total perekonomian. Dalam rentang waktu yang sama, pariwisata NTB menyumbangkan sekitar 11-14 persen dan NTT hanya menghasilkan sekitar 5 persen. Dari grafik juga terlihat, tren kontribusi pariwisata di Bali dan NTT mengalami kondisi yang stabil, berbeda dengan NTB yang menurun di akhir periode. Selanjutnya, mari kita telaah per provinsi.

Kontribusi Pariwisata Bali terhadap PDRB

Kontribusi Pariwisata Bali terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTB terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTB terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTT terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTT terhadap PDRB

        Dari ketiga grafik diatas bisa dilihat bagaimana fluktuasi kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian masing-masing provinsi per tahun. Di Bali, meskipun cukup stabil, tetapi dalam 2 tahun terakhir mengalami sedikit penurunan. NTB juga mengalami penurunan di tahun 2015 sekitar 1,7 persen. Sedangkan NTT, meski stabil di angka 5 persen, dalam 4 tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Apakah ini artinya pariwisata NTB dan Bali menurun dan NTT meningkat? Belum tentu. Bisa jadi ada sektor lain yang meningkat dan lebih mendominasi perekonomian di provinsi tersebut.

        Balik lagi ke fokus utama riset saya, NTT. Gambaran di atas sudah terlihat bagaimana pengaruh pariwisata terhadap perekonomian. Sekarang, saya akan tunjukkan berapa besar perkembangan nilai riil dari sektor ini di NTT.

Perkembangan sektor pariwisata NTT

Perkembangan sektor pariwisata NTT

        Dari grafik terlihat pariwisata NTT meningkat sedikit demi sedikit. Secara riil, nilai sektor ini menghasilkan 240 milyar rupiah pada tahun 2010 meningkat menjadi 318 milyar di tahun 2015. Bagaimana tingkat pertumbuhannya? Mari kita simak grafik di bawah.

Laju pertumbuhan sektor pariwisata di NTT

Laju pertumbuhan sektor pariwisata di NTT

        Grafik laju pertumbuhan di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata di NTT ini tidaklah stabil. Apa artinya? Sektor pariwisata bisa terus meningkat, tetapi terhambat. Apa penyebabnya? Mari kita bahas beberapa faktor berikut.

        NTT mempunyai 458 obyek wisata yang tersebar di 22 kabupaten kota. Obyek wisata yang paling banyak dimiliki adalah obyek wisata yang bertema alam. Obyek ini berjumlah 115 obyek atau sekitar 25 persen dari total obyek wisata NTT. Obyek wisata alam ini beragam, mulai dari padang sabana, hutan lindung, goa maupun perbukitan. Obyek wisata kedua terbanyak yang dimiliki NTT adalah pantai. Pantai di NTT berjumlah 104 buah atau sekitar 22 persen dari total obyek wisata, tidak mengherankan memang mengingat NTT sebagai provinsi kepulauan dengan garis pantai sepanjang +- 5.700 km 1). Berikut saya gambarkan presentase obyek wisata yang ada di NTT.

Persentase obyek wisata di NTT

Persentase obyek wisata di NTT

        Satu hal yang disayangkan, hingga tulisan ini diturunkan, saya belum berhasil mendapatkan data mengenai berapa jumlah obyek wisata yang sudah dikelola secara resmi, berapa jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung hingga berapa pendapatan yang diperoleh dari obyek wisata tersebut. Saya hanya menemui jumlah agregat wisatawan yang berkunjung ke NTT yang dibedakan berdasarkan wisatawan domestik dan manca negara. Perhatikan grafik berikut.

Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di NTT

Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di NTT

        Wisatawan yang mengunjungi NTT menunjukkan tren yang terus bertambah selama 5 tahun terakhir. Wisatawan ini didominasi oleh wisatawan domestik dengan perbandingan sekitar 5 hingga 7 kali lipat dibandingkan dengan wisatawan mancanegara.

     Faktor keberadaan akomodasi penginapan sebagai penunjang kegiatan pariwisata juga mempengaruhi. Akomodasi penginapan yang dimaksud di sini meliputi hotel berbintang, hotel non bintang, hostel, dsb. Selama 6 tahun terakhir, jumlah penambahan akomodasi penginapan di seluruh wilayah NTT tidaklah terlalu besar. Di tahun 2010 ada 259 unit, sedangkan 6 tahun setelahnya yaitu tahun 2015 hanya bertambah sekitar 75 unit saja menjadi 334 unit.

Banyaknya akomodasi penginapan di NTT

Banyaknya akomodasi penginapan di NTT

        Bagaimana dengan nilai TPK-nya? TPK atau tingkat penghunian kamar merupakan perbandingan banyaknya malam kamar yang terpakai dengan banyaknya malam kamar yang tersedia di akomodasi penginapan. Badan Pusat Statistik mengeluarkan angka TPK untuk hotel bintang dan non bintang. Dari grafik di bawah dapat diketahui bahwa TPK hotel bintang di NTT lebih tinggi dibandingkan dengan TPK hotel non bintang. Sayangnya, selama 5 tahun terakhir rata-rata kamar yang dipakai kurang dari setengah kamar yang tersedia, baik hotel bintang maupun non bintang. Artinya, pemanfaatan kamar hotel di NTT baik hotel bintang maupun non bintang masih rendah.

TPK NTT

TPK NTT

        Selain hotel, faktor penentu kelancaran pariwisata adalah moda transportasi. Saya ambil salah satu moda transportasi utama yang banyak digunakan para wisatawan, pesawat udara. NTT merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai jumlah bandara terbanyak ketiga setelah Papua dan Papua Barat 2). Dari 16 bandara yang tersedia di seluruh NTT, hanya 2 bandara yang tidak dibuka untuk umum atau tidak berfungsi. Ringkasnya bisa dikatakan satu bandara bisa untuk melayani penumpang di 2 kabupaten kota. NTT sebagai provinsi kepulauan sebenarnya cukup diuntungkan dengan banyaknya bandara yang tersedia. Frekuensi kunjungan pesawat pun cukup rutin, rata-rata ada sekitar 4 hingga 5 kunjungan pesawat per hari atau sekitar 34 kunjungan pesawat per minggu di setiap bandara pada tahun 2015.

Frekuensi kunjungan pesawat

Frekuensi kunjungan pesawat

        Dari pemaparan di atas, terlihat jelas pariwisata NTT yang potensial ini belum begitu dikembangkan. Beragamnya obyek wisata yang tersedia, kecukupan akomodasi penginapan dan frekuensi kunjungan pesawat yang cukup rutin sebagai moda transportasi utama belum cukup untuk memicu perkembangan pariwisata NTT secara cepat. Apa solusinya? Digital marketing, pemasaran secara digital.

        Kata digital marketing masih terdengar cukup asing bagi sebagian orang. Digital marketing sendiri merupakan bagian dari proses pemasaran yang menggunakan media digital. Banyak bentuk dari digital marketing, mulai dari website, blog, hingga sosial media yang dikembangkan oleh pemerintah (official social media) seperti fanspage di Facebook, Twitter  maupun Instagram. Tarifnya pun bervariasi, dari yang gratis hingga berbayar. Siapapun bisa melakukan digital marketing ini, mulai dari perseorangan, kelompok, perusahaan komersial hingga pemerintah. Sejauh yang saya tahu, digital marketing di NTT ini banyak dilakukan oleh perseorangan yang mempunyai hobi travelling, badan-badan sosial milik swasta atau LSM yang bergerak di bidang kemasyarakatan, program stasiun televisi swasta dalam maupun luar negeri yang membahas mengenai tempat-tempat wisata di Indonesia dan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata seperti hotel dan resort bintang lima yang concern dengan profit perusahaan.

        Saya belum melihat adanya upaya yang serius dari pemerintah daerah NTT untuk mengembangkan pariwisata melalui digital marketing. Padahal, mengembangkan pariwisata melalui digital marketing lebih mampu mencakup pangsa pasar yang lebih luas dibandingkan dengan non digital marketing. Gaya hidup masyarakat yang bergerak dinamis dan bersentuhan langsung dengan internet menjadikan digital marketing sebuah terobosan baru yang dirasa lebih mampu mempersuasi dan lebih cepat menyebarkan informasi. Ambillah contoh, Kementerian Pariwisata Indonesia dengan slogannya “Wonderful Indonesia” atau “Pesona Indonesia”. Upaya Kementerian Pariwisata Indonesia dalam melakukan digital marketing patut diacungi jempol. Mulai dari menggandeng travel blogger ternama, fotografer profesional yang fokus di bidang pariwisata, hingga membuat  website yang komprehensif (bisa dilihat di sini ) hingga mengelola official account sosial media yang interaktif.

        Selama ini inovasi dari banyak pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata belum terlalu optimal, termasuk juga pemerintah daerah di NTT. Pemerintah daerah, selaku pihak yang bersinggungan langsung dengan potensi wisata yang dimiliki, akan lebih baik jika mengubah mindset dan pelayanan pemerintah yang terjebak dalam kekakuan birokrasi menjadi lebih inovatif, fleksibel, dan melayani kebutuhan masyarakat yang semakin hari semakin beragam. Dengan demikian, diharapkan pariwisata NTT mampu berkembang pesat dan meningkatkan pendapatan masyarakatnya.

        Salam hangat dari daerah tengah Indonesia.

Keterangan :

  1. data diambil dari BKPM Provinsi NTT
  2. data diambil dari www.hubud.dephub.go.id

Sumber gambar dari google

Catatan Pengantin Baru Part #5


Lanjutan dari tulisan sebelumnya. So sorry kalo tulisan kali ini lebih banyak fotonya daripada tulisannya.

Jeng jeng….hari besar pun tiba. Jam setengah 6, para perias sudah datang. Saya, suami, mertua dan para perias sarapan dulu dengan yang disediakan oleh pihak hotel. Oiya, resepsi saya ini digelar di gedung yang juga sekalian ada hotelnya. Alasan papa saya sih biar keluarga suami nyaman aja nginepnya, nggak perlu jauh-jauh dari penginapan ke gedung resepsi.

Tebak nanti muka saya kayak gimana ya

Tebak nanti muka saya kayak gimana ya

Skip aja lah ya masalah dandan-dandanan. Saya sih nggak banyak masalah. Memang awalnya bukan perias ini yang saya inginkan. Jadi, saya booking perias ke salah satu orang (yang juga perias waktu saya foto prewed). Nah, pas akad (hari Sabtu) mbaknya bisa. Tapi, pas resepsi (hari Minggu) mbaknya nggak bisa. Jadilah saya di handle sama kakaknya si mbak yang juga perias juga. Alhamdulilllah nggak ada masalah berarti sih. Cuma mama mertua saya ngomel terus masalah maku up yang pecah-pecah sama ujung mata yang keriput. Sampe ditambal-tambalin gitu make up nya sama bedak yang mama mertua bawa sendiri. Saya sih diem aja ya, manyun. Menambah bedak dengan warna dan merk yang berbeda di riasan yang sudah jadi hanya menambah menor dan merusak pemerataan warna yang sudah dihasilkan. OK. No comment. Riasan di saya, mama sama kedua adik saya fine-fine aja tuh. Kalo masalah keriput, ya namanya udah tua ya keriput. Kalo nggak mau keriput ya perawatan kayak Madonna, yakan? Hehe….

Make up 1

Make up 1

Make up 2

Make up 2

Make up 3

Make up 3

Masalah lain yang saya perhatikan, sejak akad kemarin, dandanan mama mertua saya selalu full dengan bling bling, Di jilbab, di bros depan, gelang, kalung. Dari banyak sumber yang saya baca, pengantin perempuan itu nggak boleh ada yang nyaingin keglamorannya pas dia jadi pengantin. Dia harus berkilau dan cantik dibandingkan orang tuanya, orang tua suaminya, kakaknya, adiknya, iparnya dan briedsmaid-nya. Saya no comment deh masalah ini. Ya mungkin bisa jadi bahan renungan aja sih bagi mama mama di luar sana :).

Balik lagi ke acara resepsi. Jam setengah 10, acara dimulai. Dari awal kami sepakat memakai adat Jawa, hanya saja tidak terlalu banyak adat dan prosesi yang kami lakukan. Hanya, panggih (bertemunya pengantin laki-laki dan perempuan) dan sungkem ke orang tua dan mertua.

Salah dua dari penjaga kado

Salah dua dari penjaga kado

Cuaca kota kelahiran saya yang cukup panas membuat saya khawatir make up saya luntur, untung pas sewa gedung sudah diantisipasi dengan pesen kipas angin di panggung manten ntar. Aman. Nah, si abang nih yang sewot dari tadi. Secara nih ya, suami saya ini buncit perutnya kayak orang hamil 3-4 bulan gitu. Adat Jawa dengan memakai beskap mengharuskan suami memakai stagen. Ya memang sedikit mengurangi kebuncitan perutnya sih, tapi efeknya dia jadi nggak leluasa duduk. Kasiannnnn :p .

Perut buncit abang tersamarkan

Perut buncit abang tersamarkan

Pertama-tama, saya berjalan duluan menuju panggung dengan didampingi dengan pendamping manten. Pendamping manten ini teman dekat mama yang juga tetangga yang telah ditunjuk pihak keluarga. Bla bla bla….saya nggak hapal pada ngomong apa. Terus saya berdiri lagi dari kursi pengantin, menuju ke tengah ruangan menjemput suami saya yang juga digiring sama penggiring pihak laki-laki. Terus ketemu deh. Absurd ya, gitu lah 😀

Abang datang adek senang

Abang datang adek senang

Yes, tangan saya lebih putih dari si abang

Yes, tangan saya lebih putih dari si abang

Berdua bersama menuju pelaminan

Berdua bersama menuju pelaminan

Selanjutnya, acara doa. Yang pembaca doa juga sudah ditentukan siapa petugasnya. Nah yang ini saya nggak kenal dia siapa. Pasca doa, sungkem. Saya mewek parah pas sungkem ini. Sampai make up saya di touch up lagi sama periasnya di atas panggung. Mewek mewek dah 😀

Sungkem mewek

Sungkem mewek

Selanjutnya, ya acara hiburan sampai sejam selanjutnya acara selesai. Foto-foto dengan teman dekat, tetangga sekitar, dengan keluarga, dengan para among tamu (penerima tamu). Semua bahagia semua penuh suka cita, saya dan suami pun nggak bosen-bosennya senyum terus. Walo lelah, kami tetap tersenyum 😀

Teman-teman

Teman-teman

Keluarga besar

Keluarga besar

Geng jaman SMA

Geng jaman SMA

Geng jaman SD-SMP

Geng jaman SD-SMP

Ada hal yang menarik dari resepsi saya ini. Ini ceritanya saya dapat dari salah satu among tamu yang juga tetangga sebelah rumah. Pas pembukaan hingga seperempat acara dimulai, yang hadir di gedung nggak banyak. Paling sekitar 300 orang dari 1000 orang yang diperkirakan hadir. Tapi, pas acara sudah sampai di tengah, yang hadir hampir penuh. Alhamdulillah, estimasi tepat. Konsumsi jadi nggak sisa banyak atau kurang banyak. Udah gitu aja bikin kami bahagia.

Mama, kedua adik saya dan para penerima tamu

Mama, kedua adik saya dan para penerima tamu

Seragam among tamu dari pihak keluarga berbeda dengan yang dari pihak teman-teman mama papa dan tetangga. Harganya juga beda, kualitasnya juga beda. Dikit aja sih. Yang keluarga warnanya agak semu pink, sedangkan yang teman-teman dan tetangga warnanya orange. Modelnya kain jumputan. Kata mama, yang lagi hits itu. Saya yang sense of fashion nya jauh di bawah mama ya cuma iya iya ajalah.

You dan I #4

You dan I #4

You dan I #3

You dan I #3

You dan I #2

You dan I #2

You dan I #1

You dan I #1

Selepas resepsi, kami kembali ke rumah. Sore harinya, di rumah masih banyak tamu. Nggak kebayang saya gimana capaeknya mama papa, untung masih banyak saudara dan tetangga sekitar yang bantu-bantu. Tamu-tamu ini masih berlanjut hingga hari Rabu, H+3 setelah resepsi. Fiyuhhhhh……..

New Family

New Family

Welcome to the family, abang

Welcome to the family, abang

 

Lanjutannya bisa di klik di sini.

Catatan Pengantin Baru Part #4


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini :).

Skip skip skip. Sampailah saya di moment yang paling mendebarkan : akad  nikah.

Si abang datang bersama mama dan papanya di hari Kamis sore. Yang datang dari keluarga si abang ya memang hanya mama papanya aja, demi efisiensi biaya. Lagipula, dia anak tunggal dan keluarga besarnya di Sumatera Barat semua.

Hari Jum’at, saya dan si abang ke KUA dekat rumah saya. Ketemu sama bapak yang besok bakal jadi penghulu di nikahan saya, hihihi. Kami berdua melengkapi administrasi yang masih kurang beberapa, sekaligus pembekalan pra nikah. Si abang disuruh menghapal yang nanti diucapkan pada saat ijab kabul. Saya sudah mulai deg-degan, cemas-cemas galau gimana gitu. Malamnya, saya tertidur karena capek cemas. Hahahaha…..

Tibalah hari Sabtu. Pagi-pagi saya sudah di make up sama tukang make up yang datang ke rumah. Deg-degan. Ketemu si abang pagi harinya juga cemas-cemas gimana gitu, rasanya campur aduk nggak karuan. Senyum juga ikhlas nggak ikhlas.

Dandan Dulu

Dandan Dulu

Setelah semua selesai dandan, saya berjalan pelan-pelan dituntun mama dan kedua adek saya keluar tempat rias menuju tempat akad akan dilangsungkan. Tempatnya tidak mewah, hanya di halaman rumah saja dengan sedikit dekorasi warna hijau. Tamu undangan sudah banyak yang hadir, dan penghulu sudah siap untuk melaksanakan tugasnya.

Kelihatan Tegang

Kelihatan Tegang

Setelah ada pembukaan bla bla bla, sampailah si abang harus mengucapkan akad nikah.

Saya terima nikah dan kawinnya, Valent Gigih Saputri binti Sungkono dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Al-Qur’an dan logam mulia sebesar xx gram dibayar tunai.

Sah….sah….sah…

SAH

SAH

Alhamdulillah. Hati saya lega, plong. Begitu juga si abang, mukanya udah nggak tegang lagi.

Hari itu hari bahagia kami, akhirnya kami sudah sah menjadi suami istri.

Alhamdulillah

Alhamdulillah

Siang sampai sore hari, para tamu undangan banyak yang berdatangan. Ini di luar dugaan, prediksi keluarga tidak demikian soalnya. Dan malam harinya, acara midodareni dilaksanakan. Sebenarnya, acara ini dilangsungkan di malam sebelum akad berlangsung. Ya tapi nggak papalah, anggaplah ini acara untuk merekatkan tetangga sekitar.

Acara midodareni apa saja? Cuma nyanyi-nyanyi dan ramah tamah. No more. Begitu terus sampai jam 9 malam acara kelar. Jam 10 malam sudah beres. Siapkan tenaga, besok resepsi berlangsung.

Coba Tebak Saya Yang Mana

Coba Tebak Saya Yang Mana

 

Lanjutan….

Catatan Pengantin Baru Part #3


Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini 😀

Sebenarnya, saya bisa dibilang cukup beruntung menjelang pernikahan saya berlangsung. Sebagai PNS yang belum genap 2 bulan diangkat menjadi PNS, hak saya untuk mendapatkan cuti alasan penting dengan alasan pernikahan pertama bisa saya dapatkan cukup banyak. Tau nggak berapa? Tadaaaaaa……saya dapat cuti selama lebih kurang 35 hari kerja, atau 52 hari biasa, atau sekitar hampir 2 bulan. Emejingggggg…….secara si abang hanya dapat cuti selama 10 hari kerja atau 2 minggu hari biasa, no more. Itu sudah termasuk buat honeymoon. Maka, terpujilah wahai ibu kepala kantor tempat saya bekerja yang memahami kegalauan hati calon pengantin (waktu itu) yang sedang pusing mikirin rancangan acara pernikahan dan juga honeymoon. Hihihi…..

Tiket pesawat dari Tambolaka (Sumba Barat Daya) ke Jogja mah santai, tenang. Sudah dipesen jauh-jauh hari. Nah, saya akan cerita sedikit tentang perjalanan saya naik pesawat kali ini yang cukup mendebarkan. Perjalanan dari Tambolaka ke Denpasar lancar, meski waktu itu cuaca sering tidak mendukung tapi alhamdulillah waktu itu cuaca cerah-cerah aja. Drama terjadi ketika penerbangan dari Denpasar ke Jogja. Awalnya cuaca cerah ceria, sampai tibalah 30 menit menjelang mendarat cuaca mendadak buruk. Awalnya saya masih bisa nonton film dengan tenang. Sampai tanda disuruh mengenakan sabuk pengaman berbunyi pun saya masih tenang, seperti biasalah saya pikir. Tiba-tiba pesawat seperti jatuh, kemudian naik lagi, jatuh lagi lebih keras, naik merangkak lagi. Alamak…….hati saya habis, perut saya terasa seperti ketinggalan di bawah. Suara istighfar memenuhi pesawat, tangan saya panas dingin, sambil pandang-pandangan sama mbak-mbak di sebelah saya yang sama takutnya dengan saya. Pucat pasi, seriusan. Sepanjang perjalanan, cuaca masih buruk. Gila ini pikir saya, sampai Jogja pun demikian. Saya langsung bernafas lega setelah mendarat dengan sempurna dan keluar dari pesawat. Feel freeeeeeee……

Drama naik pesawat sudah selesai, meski setelah itu trauma saya pas naik pesawat dengan kondisi buruk masih saja menghantui (nanti akan saya ceritakan di postingan selanjutnya). Selanjutnya, drama lain lagi : drama menjelang pernikahan.

Setelah saya pontang-panting handle urusan tetek bengek pernikahan dari jarak jauh, ternyata ada hal-hal yang hanya bisa saya kerjakan secara langsung tanpa perantara. Seriously, capek lho. Jangan dikira cuma handle jarak jauh aja mah enteng, enggak. Mikir. Saya masih mikir ini pas apa enggak, ini cocok apa enggak, kira-kira gimana ya ntar hasilnya, and so on. Dasarnya saya manusia overthinking sih ya, hahahaha….

Hal pertama dan utama yang saya kerjakan : fitting baju pengantin, baik yang untuk akad maupun resepsi. Saya kan sewa baju, saya kira ukurannya bisa all size gitu. Ternyata enggak saudara-saudara. Saya mencoba baju yang ukurannya memang all size, tapi nanti bisa dijahit kasar biar terlihat ngepas dibadan saya. Woalah, lha saya baru tau. Lalu, sepatu. Saya sempat khawatir. Kaki saya untuk ukuran perempuan cukup panjang. Ukuran 40-41, jarang ada yang muat dan nyaman untuk sendal selop pengantin. Dulu, pas jaman saya kecil kejadian soalnya. Saya jadi pendamping pengantin yang kecil-kecil itu dan gak ada sendal yang muat (untuk ukuran saya yang masih bocah waktu itu), jadilah saya pakai sendal orang dewasa. Lha terus sekarang setelah saya dewasa gini saya harus pake sendalnya siapa? Syukur alhamdulillah, MuA saya menyediakan sendal dengan ukuran yang sedikit hampir pas di kaki saya. Nggak pas banget, tapi juga nggak sempit banget. Mayan lah, kalo kata anak jaman sekarang. Punya abang? Sudah beres, beberapa minggu sebelum resepsi dilaksanakan si abang sudah fitting baju dan sandal beserta atribut yang lain. Waktu itu dia sekalian ada tugas dinas ke Jogja, mampir bentar lah ke Solo.

Fitting baju akad

Fitting baju akad

Baju resepsi kami berdua

Baju resepsi kami berdua

Kedua, seserahan. Biasanya seserahan dibelikan dari pihak laki-laki. Kali ini di tempat saya beda. Yang beli saya (pihak perempuan) dengan duitnya ya tetep dari si abang dong. Baik kan saya? Hoho….alasannya sih simpel aja. Keluarga abang dari jauh, kasihan kalo harus repot nambah-nambahin bagasi pesawat dengan seserahan dan bisa jadi seserahannya nggak sesuai dengan ukuran saya. Kalo nggak sesuai kan barangnya jadi mubadzir, ya kan? Jadi, saya bela-belain tuh beli seserahan di Solo dan sekitarnya. Mulai dari logam mulia sebagai mas kawin, seperangkat alat sholat sama Al-Qur’an sampai kosmetik yang sesuai dan pas di hati saya. Ceileeeeee…..

Logam mulia sebagai mas kawin

Logam mulia sebagai mas kawin

Yang pertama dan utama sebagai perempuan : kosmetik

Yang pertama dan utama sebagai perempuan : kosmetik

Ketiga. Ini nih yang bikin saya senewen sendiri. Mengkoordinir apa-apa saja yang sudah saya handle dari jarak jauh dulu. Mastiin tukang foto-nya jangan lupa, mastiin tukang rias-nya bisa datang on time, mastiin souvenir segera tiba, mastiin undangan nggak kurang, mastiin makanan enak apa enggak lhahhhhh , sampe mastiin si calon suami nggak lupa cara ngucapin ijab kabul nanti. Hahahahaha……

Drama selanjutnya adalah drama kekurangan undangan. God, saya dan keluarga undersetimate dengan jumlah tamu yang akan kami undang. Masih banyak ternyata kolega dan teman dekat kami yang kelupaan diundang. Jadilah si papa yang heboh minta cetak lagi undangan, nyuruh orang buat muter lagi, de el el. Sedih kan 😥

Kata mama saya sih, NGGAK ADA NIKAH TANPA DRAMA.

Jangan lupa amplopnya yaaaaa :p

Jangan lupa amplopnya yaaaaa :p

 

Lanjutan…..

Catatan Pengantin Baru Part #2


Halo, postingan ini lanjutan dari sini ya 🙂

Setelah sesi foto pre wedding selesai, maka saya dan si abang menentukan tanggal berapa kami nanti akan menikah. Kedua orang tua ngomong ini itu dan kami hanya diam mendengarkan sambil sesekali menanggapi, maka diputuskanlah kami akan menikah di Bulan Januari 2016 dengan pertimbangan kedua adik saya sedang tidak dalam bulan-bulan ujian. Voilaaaaaaaaaa……itu hari baik menurut kami berdua, padahal jaman sekarang masih banyak lho yang masih pakai hitung-hitungan orang Jawa (atau orang Minang juga ada hitung-hitungannya, saya nggak paham) yang menentukan hari baik itu berdasarkan tanggal lahir, letak rumah, dan ciri-ciri lain yang menurut saya tidak masuk akal. Satu lagi, hari baik itu menurut keluarga kami ya hari libur (Sabtu atau Minggu). Kenapa? Kalo hari-hari kerja kasian tamu yang berniat datang, jadi membolos atau mangkir kerja kan nggak enak :p.

Tanggal 16 Januari direncanakan akad akan dilaksanakan. Tanggal 17 Januari -esok harinya- resepsi sederhana digelar. Setelah fix tanggal, yang pertama kali kami lakukan adalah memilih lokasi resepsi. Resepsi aja sih, soalnya untuk akad akan kami laksanakan di rumah saya. Oiya, saya cerita ini di kondisi rumah saya aja ya. Yang di rumah abang -di batam sana- saya kurang tau gimana-gimana riwehnya, semua sudah di handle sama mama mertua sih.

Ada beberapa opsi tempat resepsi. Yang jelas bukan di rumah saya, secara saya masih berada di rumah dinas yang luas rumahnya terbatas. Well, pilihan pertama ada di gedung yang beneran murni nyewain gedung. Jadi ya bener-bener gedung, nggak ada katering dan dekor serta perlengkapan yang lain. Ada beberapa pilihan disini, tapi mama papa saya memutuskan untuk nggak ngambil. Alasannya, tentu saja nggak mau repot. Sebenarnya, ada keuntungan dari pemilihan gedung seperti ini. Dekorasi bisa kita tentukan sendiri, makanan juga bisa kita pilih sendiri, pun dengan hiburan. Tapi, dengan alasan efisiensi dan efektivitas waktu serta dana, kami memutuskan untuk menggunakan gedung yang sudah lengkap satu paket dengan hiburan, dekorasi, serta kateringnya. Kelemahannya mengambil satu paket gini, nggak lain dan nggak bukan kita harus mau dengan paket yang ada. Nggak bisa request mau dekor mewah ala-ala putri salju atau hiburan yang paham lagu-lagunya anak muda. Pffttttt……

Setekah acara pemilihan gedung beres, ada beberapa hal yang harus saya handle sendiri dari jarak jauh. Apa aja? Ini nih :

  • Make up untuk akad dan resepsi

     Masalah make up bagi saya susah-susah gampang. Kulit wajah saya sensitif, sekali salah make up akibatnya bisa panjang. Bintil-bintil kecil di wajah yang gatal sampai jerawat yang membeludak akan datang menghampiri. Saya memutuskan untuk menggukana MuA yang menangani saya pas foto pre wedding kemarin, namanya Mbak Iyum. Awal perkenalan kami nggak disnegaja. Jadi waktu itu saya sudah nemu tukang foto yang tepat, hanya saja saya belum nemu tukan make up yang bagus. Saya minta saran ke tukang fotonya, siapa MuA yang bagus di daerah Solo dan sekitarnya. Dikenalinlah saya sama mbak Iyum ini. Pas foto prewed, alhamdulillah cocok. Mama menyarankan buat nerusin aja pake jasa mbaknya. Ya saya OK aja sih, haha. Meski ada sedikit masalah ketika booking (karena pas acara resepsi si mbak sudah ada job lain, sehingga diganti kakaknya yang juga tukang rias), tapi over all saya sih baik-baik aja. Saya lebih memilih pinjam kebaya untuk akad dan resepsi dari MuA-nya, alasan pertama dan utama ya karena menghemat uang dan tenaga dong. Dipakainya sekali belinya pake duit jutaan, sayang bener. Kebutuhan yang lain masih banyak contohnya jalan-jalan.

  • Dokumentasi

     Kasusnya sama, saya nggak mau ribet nyari dimana lagi harus mencari tukang foto yang bagus dan sesuai dengan selera saya. Maka, diputuskanlah saya memakai jasa tukang foto yang sama dengan tukang foto ketika pre wedding kemarin. Alhamdulillah si mas-nya belum ada job, jadi leluasa deh bookingnya. Saya ambil foto yang reguler, sama video yang model wedding clip. Sip, beres.

  • Baju orang tua dan saudara kandung

     Ini nih, yang kecil-kecil tapi bikin ribet dan perlu mikir. Kalo yang untuk bapak-bapak sih masih oke aja ya pake baju yang netral, misal jas dan beskap yang warnanya nggak ngejreng. Nah, yang emak-emak yang rempong. Awalnya saya kan nggak begitu mikirin mau pake kebaya warna apa, terserahlah. Hanya saja jangan yang bikin kulit saya jadi terlihat hitam, haha. Saya sih ikut aja saran mama yang pake kebaya warna hijau mint dan orange. Semi pastel dan cantik. Lalu, baju emak-emak menyesuaikan. Dan baju dua adik saya juga warnanya senada. Untunglah si abang anak tunggal, jadi dia nggak rempong nyariin baju buat saudaranya. Hoho….

Kebaya Resepsi

Kebaya Resepsi

 

Kebaya Akad

Kebaya Akad

 

  • Souvenir

     Toko souvenir di Solo sebenarnya banyak sih, hanya saja saya yang lagi nggak ada di rumah ini kan jadi susah dong kalo harus nyari lagi. Terpujilah wahai para penjual souvenir online yang sudah banyak bertebaran di instagram, dan terpercaya. Seirus lho, saya ambil souvenir dari penjual di instagram dan barangnya bagus, free ongkir pula. Saya pesan yang sederhana aja sih, kaca rias kecil sama dompet batik besar.

  • Undangan

     Oke, saya termasuk golongan sakit hati untuk urusan undangan. Hiks, sedih bener mau bahas. Jadi ceritanya kan saya udah searching sana sini tuh terkait undangan, udah nemu undangan yang minimalis menggemaskan bin imut-imut. Eh, tetiba inget kalo ada saudara jauh yang bisa bikin undangan. Maka, pesanlah saya ke tempat saudara jauh tersebut. Respon awalnya nggak ngenaki, sok jutek gimana gitu. Terlebih pas saya habis kasih contoh begini lho model undangan yang saya mau. Seberapapun saya bayar kok. Eh pas hasilnya keluar, saya kecewa berat. Undangan terkesan asal-asalan dan nggak menarik sama sekali. RRRRRRRRRRRrrrrrrrrrrrr……….Pengalaman yang bisa dipetik dari kasus saya ini, lebih baik milih tempat percetakan yang terkenal deh, kualitasnya bagus dan pelyanannya ramah ketimbang milih punya saudara sendiri yang jauh dari harapan. Bukannya nggak memberdayakan saudara, tapi kan sebagai konsumen we deserve the best dong ya.

Sekian uneg-uneg dari pengantin baru yang kayaknya udah cukup panjang ceritanya, haha….

see you later

Lanjutan……