Penempatan? Galau? Wajar! Eh?!


Saya (mantan) mahasiswa kedinasan dan saya rentan galau. Ups!!!! Ya memang begitulah. Jadi, kalau kamu nggak suka galau dan terlalu rentan sama yang namanya galau, saya sarankan kamu untuk jauh-jauh deh sama yang namanya sekolah kedinasan. Trust me, it works! (kayak iklan ya? biarkanlah…)

Sebagai mantan mahasiswa kedinasan,dulu pas mau masuk kuliah saya disuruh tanda tangan surat ikatan dinas. Salah satu isinya adalah bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Dulu sih pas disuruh tanda tangan di atas kertas bermaterai, pikiran muda saya biasa-biasa aja. Take it slow and let it flow. Saya dulu terlalu larut dalam euforia masuk kuliah gratis, tanpa peduli saya akan ‘dilempar’ jauh dari rumah dan keluarga. Saya dulu juga nggak mikir kalau Indonesia itu nggak hanya sejauh jarak Solo-Jakarta dan tidak semuanya ‘daratan’. Sekarang, setelah saya disodori pilihan untuk memilih lokasi penempatan yang semuanya ada di luar Jawa (karena faktor IPK), barulah otak sehat saya berjalan.

Pusing dan galau itu hal pertama yang saya lakuin. Galau pada keluarga di rumah. Galau pada abang saya. Galau pada teman-teman kos. Pokoknya, tiada hari tanpa dangdut….eh salah, tiada hari tanpa galau.

Sedikit hal yang membahagiakan datang dari abang saya. Dia bersama ketiga temannya ditempatkan di kantor provinsi daerah Kalimantan Selatan, lokasinya tentu saja di Kota Banjarmasin. Luar Jawa juga sih, tapi seenggaknya masih mudah dijangkau Lalu, bagaimana dengan saya? Semua teman-teman saya dan saya sendiri yang tidak masuk peringkat 10 besar mau tidak mau ditempatkan di daerah luar Jawa  di kabupaten dengan kategori tipe C. Yang berasal dari daerah luar Jawa sih mungkin bisa sedikit tenang, karena mereka kemungkinan besar balik ke daerah masing-masing. Sedangkan saya yang berasal dari Jawa? Hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga dengan IPK pas-pasan seperti ini masih bisa ditempatkan di tempat yang ‘tidak terlalu jauh’ dan ‘menyenangkan’ serta ‘sesegera mungkin bisa pindah mengikuti suami’. Ceilehhhh…..

Sedikit lucu ketika saya galau sama abang saya. Dengan gayanya yang sedikit konyol dan easy going, abang saya bilang ke saya sembari menenangkan. “Santai saja, mau kamu penempatan di Kalimantan Selatan atau jauh sekalian ya nggak masalah. Kalau di daerah Kalimantan Selatan, alhamdulillah. Bisa dekat. Tapi kalau misalnya kamu dapatnya yang jauh sekalian, ya diterima saja. Legowo saja, Sayang. Bukankah kalau kamu jauh dari aku, nanti ‘narik’ kamu untuk bisa sedaerah lebih gampang? Maksudku, alasan pindahnya lebih kuat.”

Sebenarnya, ada form di google docs yang dibuat oleh salah seorang teman di jurusan, isinya berupa nama, daerah asal dan 3 daerah tujuan penempatan. Bisa diisi dan dibaca oleh teman-teman satu jurusan (saingan penempatan hanya satu jurusan saja). Tapi, sekali lagi tapi…..seperti yang sudah saya ungkapkan di atas tadi, (mantan) mahasiswa kedinasan itu rentan galau. Pun dengan teman-teman saya.  Fyi, pemilihan lokasi penempatan berdasarkan IPK. Sedih rasanya ketika teman-teman yang IPK-nya tinggi masih nanti-nanti mengisi formnya. Saya yang IPK-nya hidup segan mati tak mau seperti ini, hanya bisa menunggu. OK-lah ketika mereka-mereka itu masih menunda-nunda ngisi form karena masih bingung di hari pertama, kedua sampai seminggu. Tapi, alangkah konyolnya ketika sudah H-3, H-2 hingga hari H mereka-mereka itu masih juga nggak mau ngisi form. Kesannya itu mereka seperti ‘buat apa mikir teman yang IPK-nya dibawah saya, yang penting saya dapat tempat enak’. Beuh, amit-amit jabang bayikkkkkk…..(komat-kamit bacain doa buat mereka).

Nah, barusan saya dibuat supernyesek setelah mendengar cerita dari salah satu teman saya. Hm….jadi gini. Saya memilih 3 daerah untuk ‘calon’ lokasi penempatan saya nanti. Kalimantan Selatan, Aceh dan NTT. Daerah favorit teman-teman dari Jawa selain Sumatera adalah Kalimantan. Saya tau resikonya memilih Kalimantan Selatan di pilihan pertama, alasan saya sih tidak lain dan tidak bukan adalah mengikuti abang saya. Saya sudah berkali-kali ngecek di form google docs, yang menuliskan pilihan penempatan di Kalimantan Selatan hanya saya seorang yang berasal dari Jawa. Tapi, menurut cerita teman saya tadi, ada satu anak Jawa yang milih penempatan Kalimantan Selatan juga (kuotanya untuk anak luar propinsi hanya satu). Padahal di form google docs yang dia isi, dia menulis Kalimantan Tengah di pilihan pertama dan bla bla bla. Sebut saja MAS X. Saya yang semula tenang-tenang saja jadi merasa ‘jatuh terperosok sedalam-dalamnya’. IPK MAS X lebih tinggi dari saya dan dia “berbohong’ pada akhirnya. Duh, sakitnyaaaa…….(komat-kamit bacain doa semoga kabar itu bohong)

Selain MAS X yang bertingkah menjatuhkan seperti itu, ternyata ada beberapa orang yang lagak dan tingkahnya sebelas dua belas dengan MAS X. Ada yang berganti-ganti di H-3, bahkan yang lebih sadis ada yang berganti-ganti tempat di hari H nya. Tapi, sesadis-sadisnya mereka, yang paling sadis adalah orang yang tidak mengisi form google docs tersebut (tapi menyerahkan formulir ke bagian kepegawaian langsung tanpa diketahui teman-teman yang lain daerah mana tujuannya). Siapa pelakunya? Saya berdoa, semoga mereka nggak ‘sakit’ jiwanya*.

*insyaallah akan saya ceritakan di postingan saya selanjutnya

Iklan

S.K.R.I.P.S.I #3


Tulisan saya muncul lagi. Yayyyyy…..*ini apa sih -.-“

Ceritanya masih di seputar nasib mahasiswa kura-kura tingkat akhir. Alhamdulillah proposal no.1 sudah saya serahkan ke 2 dosen yang saya anggap ekspert, niatnya sih minta saran dari beliau gimana bagusnya sebelum resmi diajukan ke jurusan sebagai topik resmi skripsi saya. Nah sekarang saya masih harus berjuang dengan sisa bayi topik saya sebanyak 3 buah ini. Mau diapakan? Ya dikerjakan. Apapun resikonya. Apapun alasannya.

Topik yang ke-2 adalah mengenai kopi. Sebelumnya saya merasa enjoy saja dengan topik ini. Optimis lah. Komoditi kopi ini udah masuk top five dalam urusan ekspor loh selama dekade akhir-akhir ini, jadi pasti ok dong kalo dibahas. Tapi……..perkiraan saya ini meleset ketika habis sholat maghrib di masjid tadi saya bertemu kakak tingkat yang ahli dan saya kenal dekat. Kakaknya bilang,mending nggak usah kamu ambil kopi. Kopi itu karena dia udah di top five komoditas ekspor, jadi udah banyak banget yang bahas. Kakaknya nyaranin juga supaya lihat lagi skripsi-skripsi tahun lalu. Setelah saya ublek-ublek lagi fosil-fosil skripsi dan muter sana-sini, sampailah saya pada satu keputusan besar : lebih baik saya ganti topik sekarang.

Masalah belum berhenti sampe disini saudara-saudara, masih berlanjut layaknya sinetron Tersanjung yang nggak katam-katam dari jaman saya TK sampe SMP. Masalahnya tidak lain dan tidak bukan juga masih mbulet di topik skripsi lah. Judeg saya mikir apa nggak nemu-nemu. Pokoknya saya mau neliti masalah sektor riil, nggak mau sektor moneter (selain karena sektor ini masih di awang-awang menurut saya, dosen di kampus saya yang ahli di bidang ini jarang). Jadilah saya mimbik-mimbik mau nangis. Walaupun tampang saya macam sekuriti gini,tapi hati saya hati helokiti :3

Di tengah samudera kegalauan, saya inget kalo saya belum sholat isya’. Ya udahlah, kata murobbi saya yang harus dilakukan saat lagi galau itu adalah curhat sama Allah, makanya trus saya ambil wudhu dan sholat. Sambil ngaji dikit biar sekalian latihan vokal, dapet plus plus pahala loh. Jadilah sholat isya tadi saya curhat sambil mimbik-mimbik plus pasang muka melas ke Allah, please help me My Lord 😦

Dan anda sekalian boleh percaya boleh enggak. Inspirasi itu datang. Ya. INSPIRASI ITU DATANG. So amazing banget. ping ping ping….*kayak bunyi bbm

Habis sholat saya pegang hape. Iseng aja sih mulanya buka galery foto, lagi kangen sama abang saya ceritanya. Gak sengaja saya menemukan foto tentang skripsi kakak tingkat yang dulu saya foto untuk bahan latar belakang. Yyyiiihhhaaaaa…….saya menemukan peluang yang berlimpah di sini. Masih sama topiknya di sini, tentang deindustrialisasi. Kakak tingkat itu membahas deindustrialisasi sektoral secara agregat, bukan secara per sektor. Dan saya akan mencoba mengupasnya lagi menjadi per sektor. Dalam kesimpulannya, industri manufaktur dia bagi menjadi dua : sunset industry dan sunrise industry. Sunset industry merupakan industri yang sudah melewati masa kejayaannya, kalo yang sunrise industry itu sebaliknya.

OK lah. Dengan ini saya resmi.mengganti bayi topik skripsi saya yang kedua menjadi deindustrialisasi sektor X dimana X disini merupakan sektor sunset industry yang belum saya ketahui apa. Kemungkinan besar subsektor furniture atau kalau enggak subsektor batu bara,pengilangan minyak,dll. Masalah lain yang perlu dipastikan adalah apa aja variabel-variabel penelitiannya. Dan juga kualitas datanya.

Well…..semoga selalu dimudahkan. SAYA WISUDA 2013.

S.K.R.I.P.S.I #2


Kalo ditanyain enakan mana antara nulis skripsi sama nulis blog? Gak usah lama mikir langsung saya jawab : NULIS BLOG.

Menurut saya, proses pengerjaan skripsi itu ada 3. Tahap awal, tahap tengah dan tahap akhir. Tahap awal itu mulai dari pencarian topik, pencarian masalah, dan lain-lain sampe nyusun proposal. Tahap tengah itu ya mulai pengerjaan skripsinya, konsultasi ke para ahli, bimbingan bareng dosen pembimbing, dan lain-lain sampai menjelang seminar.

Pada masa-masa seperti saya ini, sudah pasti masuk ke tahap awal. Masa-masa dimana saya harus nyari topik serasa nyari jarum di tumpukan jerami dan buka-buka buku pantat gajah lagi (OK, yang ini agak hiperbol). Nah, di musim kayak gini nih yang mengharuskan saya jadi anak nongkrong perpustakaan kampus. Keren kan? Gak gitu juga sih, alasannya saya nongkrong di perpus itu karena saya bisa ngadem di tengah panasnya udara jakarta yang konon bisa membakar semut saat berjalan di jalan raya ibukota. Alasan lain, saya pasti lebih memilih tidur ketika saya ada waktu longgar di kos. Kos saya sempit dan panas (khas kos-kosan miring harga Jakarta), kalo siang bawaannya males-malesan aja, hahaha….

Saya tahu kalo saya itu orangnya malas. Udah gitu, saya nggak suka diburu-buru. Lengkaplah sudah cap procrastinator dalam diri saya. Dengan catatan seperti itu, mau gak mau saya harus curi start biar sampe finishnya tetep sama-sama. Kata orang, KnowYourself Know Your Enemy. Saya sudah tau diri saya seperti saya, itu sebabnya saya tau apa enemy yang harus saya hadapi. Saya mulai searching jurnal, artikel, makalah, dan sejenisnya semenjak liburan puasa beberapa bulan lalu. Dan alhamdulillah, hasilnya sudah ada. Yah, meski masih bingung ini mau digimanain itu mau digimanain. Yang jelas kalo ditanyain topik skripsi, saya jawab “udah” aja. Mending gitulah daripada kayak teman2 saya yg bilang “belum apa-apa” trus tiba2 dateng2 udah mau selesai, pencitraan yang munafik demi gak mau kesaing. Ckckck….itulah mahasiswa jaman sekarang. Mending ngomong jujur lah, kasihan yg dibohongin, banyak dosa juga loh kalo bohongnya terus2an 🙂

Topik saya ada 4. Sedikit? Banyak? Terserah apa kata kalian, yang jelas ide sayaseperti  itu. Kalo mau tau, boleh kok dibaca topiknya ini sambil ngasih masukan juga boleh banget 😀

1. Deindustrialisasi, dianalisis dengan teknik analisis ekonometrik dan cluster analysis. Nantinya saya akan membahas tentang deindustrialisasi di Indonesia beserta variabel-variabel apa yang mempengaruhinya. Masalah ini sudah dibahas di tesis salah seorang mahasiswa IPB, hanya saja beliau membahasnya secara makro. Di sini nanti saya akan membahas mengenai deindustrialisasi masing-masing propinsi di Indonesia. Dan juga mengkategorikannya ke dalam cluster-cluster tertentu sesuai dengan kriteria yg saya masih belum tau mau digimanakan.

2. Kopi. Industri kopi lebih tepatmya. Ini masih menjadi dilema, apakah mengenai kondisi ekspornya atau mengenai kekuatan industrinya. Kalau melihat kondisi ekspornya, analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda (RLB). Kalau kekuatan industrinya, analisis yang digunakan adalah anaisis Cobb-Douglass. Gak jauh beda ya? hehehe….

3. Pengangguran terdidik. Lah ini masalahnya masih belum jelas. Pokoknya saya tertarik aja sama yang namanya pengangguran terdidik, datanya ada juga sih. Analisis yang nanti saya pakai juga udah ada kok, kalau nggak pakai regresi logistik ya pakai survival analysis. Tapi saya masih belum nemu masalahnya apa. Ditambah lagi masalah ini lebih cenderung ke masalah sosial, bukan ekonomi (di kampus saya jurusan sosial dan ekonomi dipisah). Jadi….suram T.T

4. Sektor informal. Setali tiga uang sama topik nomor 3, yang ini juga masih belum jelas masalahnya dimana. Datanya juga udah ada, tapi alat analisisnya belum tau pake apa. Latar belakang masalahnya sih udah. Jadi ceritanya gini nih. Pas krisis ekonomi 2008 yang lagi booming menimpa kawasan Amerika dan Eropa yang menyebabkan mereka pontang-panting perekonomiannya. Imbasnya, banyak negara Asia yang terkena, lebih-lebih mereka yang pengimpor barang-jasa setia langganan Amerika Eropa. Tapi, kita rasakan sendiri kan kalo di Indonesia dampaknya ‘kurang terasa’ atau ‘kurang greget’ kalo dibandingkan krisis moneter 1998. Menurut pakar dan beberapa pendapat ekonom, salah satu faktor Indonesia seperti itu karena sektor informal kita kuat (selain karena kita kurang setia berlangganan sama impor barang-jasanya si Amerika-Eropa). Trus, saya harus gimana dong?? Topik ini agak cerah dikit sih, tapi suremnya juga masih kerasa. huwohuwohuwoooooo ……

Ada saran?

Karena Kita Mahasiswa #2


Masih tentang kantin, masalah ngetag tempat duduk. Selama ini, susah rasanya kalo mau pesen dulu trus baru nyari tempat. Soalnya, sudah penuh sama tag-tagan orang sih. Masak iya udah pesen makan, udah bawa piring-gelas, makan-minum sambil berdiri? Hadeh….kayak kambing aja makan-minum sambil berdiri. Dan nggak lucu kalo hanya gara-gara masalah nggak bisa duduk karena tag-tagan. So, what’ll we do next? Hilangin budaya tag-tagan. Pesen makan dulu, baru nyari tempat. Kalo ada yang bilang ini udah ada orangnya, sodorin tuh piring sama gelas ke dekat yang ngomong (maksudnya : kamu mau saya makan sambil berdiri kayak kambing? Apa kata dunia…..). Udah, duduk aja. Pasang tampang polos kayak bayi. Siapa cepat dia dapat. Kantin itu milik bersama loh 🙂

Selain masalah kantin, masalah lain adalah membuang sampah. Saya rasa, tempat sampah di kampus sudah banyak. Tapi entah kenapa masih banyak juga sampah berceceran. Penambahan kuantitas tempat sampah sepertinya bukan sarana yang tepat, kembali lagi pada diri kita sendiri : KESADARAN. Saya, mahasiswa. Kamu, mahasiswa. Mahasiswa bukan lagi bocah yang harus diberi denda berapa ribu rupiah atau membersihkan kelas ketika membuang sampah sembarangan kan? 🙂

Terkait mahasiswa, ada lagi satu hal yang menarik. Ketika kamu tanya teman-teman dari kampus lain, jam berapa perpustakaan dan laboratorium buka dan tutup? Jawabannya, bukan seperti jam buka-tutup kantor pada umumnya. Bagaimana dengan kampus STIS? Sayangnya, sama seperti jam buka-tutup kantor pada umumnya, buka jam 8.30 tutup jam 16.00. Bandingkan dengan kampus lain yang jam tutup perpustakaannya itu malam hari, jadi mahasiswa bisa puas menghuni perpustakaan seharian. Menurut saya, di jam buka nya sih gak masalah, cuma jam tutupnya itu yang jadi masalah. Seperti yang saya (dan mungkin juga sebagian teman-teman yang lain) rasakan, kemana akan belajar dan ngerjain tugas ketika saat mengerjakan tugas di kos atau kontrakan si kasur melambai-lambai plus kurang referensi buku? Apakah ada tempat nongkrong yang nyaman (dan murah) untuk belajar di sekitaran kampus selain perpustakaan? Yah, meskipun perpustakaan kampus masih belum nyaman, tapi seenggaknya sudah cukup lumayan (apalagi kalo ditambah pohon-pohon yang hijau ya). Sekali lagi, kami ini mahasiswa, bukan pegawai kantoran. Jadi, kalo saya mau usul perpanjangan jam tutup perpustakaan ke siapa yak? Dan juga laboratorium komputer di lantai 4 gedung 2 itu. Jangan-jangan mahasiswanya sendiri nggak tau kalo laboratorium itu bisa dipake untuk mahasiswa kalo nggak ada kelas yang make? Haha…oya, yang ini butuh saran dari teman-teman. Saya rasa, semua mahasiswa membutuhkan jam tutup perpustakaan yang lebih panjang 🙂

Last but not least, parkiran sepeda dan sepeda motor di basement. Emang ada ya? Nggak ada dibuat khusus parkiran sepeda dan sepeda motor sih, itu parkir mobil sebenarnya yang dipake untuk parkir sepeda dan sepeda motor. Tau sendiri kan, kalo parkir mobil itu pastinya lebih luas sekatnya daripada parkir sepeda dan sepeda motor. Coba kamu tengok sebentar ketika pulang kuliah dan lewat di basement. Apa yang kamu lihat di parkiran sepeda dan sepeda motor itu? Semrawut. Sepeda dan sepeda motor malang melintang. Emang sih menghadapnya satu arah, tapi nggak beraturannya itu lho. Kalo dilihat-lihat, kasihan juga yang mau keluar, repot mindahin ini itu. Eittsss…jangan langsung mengomel karena nggak ada tukang parkirnya. Tanpa tukang parkir, kita bisa kok merapikan sepeda dan sepeda motor itu. Tapi bukan terus angkat-angkat sepeda dan sepeda motor itu satu-satu ya, capek deh. Bagaimana kalo kita buat garis pembatas belakang untuk batas parkir? Kalo nggak garis, apa gitu yang sekiranya bisa sebagai tanda ‘oh, ini lho ada batas parkirnya’. Nah, kalo kayak gini, siapa ya yang mau buat? Saya yakin, dengan cara seperti ini, seenggaknya nanti parkiran agak sedikit lebih rapi dari sekarang 🙂

Sudah cukup panjang ternyata, dan ini sudah tengah malam. Mohon maaf apabila masih ada salah-salah kata (sudah ngantuk soalnya).

Kritik dan saran yang membangun ditunggu ya. Selamat malam.

 

 

 

Karena Kita Mahasiswa #1


Bismillahirrahmanirrahim…

Tulisan saya kali ini agak sedikit mikir, tapi mikirnya nggak berat-berat amat. Mahasiswa macam saya mana kuat mikir yang berat-berat, haha… Sebenarnya ini adalah obrolan ringan antara saya dan abang ketika makan malam tadi. Dan di tulisan saya ini, nggak semua murni ide dari saya. Ini idenya si abang, yang saya coba tuangkan dalam bentuk tulisan (karena abang saya orangnya beribet kalo disuruh nulis, terpaksa saya yang jadi tumbalnya).

Well, mari saya mulai. Saya, mahasiswa. Terlepas dari saya ini mahasiswa perguruan tinggi tipe apa dan jurusan apa, tapi saya ini tetaplah mahasiswa. MAHASISWA, bukan sekedar siswa, bukan sekedar bocah yang menerima ilmu di jam sekolah lalu pulang ke rumah untuk belajar-main-tidur. MAHASISWA, the agent of change. Kalo kamu masih ragu, apa mahasiswa bisa menjadi seorang peubah, perlu kamu buka lagi buku sejarah. Siapa yang menjatuhkan pemerintahan orde lama? MAHASISWA. Siapa yang menjatuhkan pemerintahan orde baru? MAHASISWA. Mahasiswa punya power yang kuat, kaum persuasif yang punya otak, kaum idealis dengan jiwa pemberontak.

Kampus saya tercinta, ini yang akan saya ceritakan. Ada sedikit keprihatinan melihat bagaimana kepedulian mahasiswanya. Meskipun setiap hari kami memakai pakaian seragam, tapi kami tetaplah mahasiswa. Kami bukanlah pekerja kantor, meski kami menerima uang dari pemerintah setiap bulan (fyi, itu uang ikatan dinas). Entahlah, mungkin karena banyak yang mikir nggak pengen kuliah di sini, jadi bersikap semau guweh dan acuh tak acuh cuek bebek dengan kampusnya dan bla bla bla. Ehemm…boleh saya tanya kamu sekalian yang sekarang kuliah di kampus yang sama dengan saya? Kamu sudah masuk ke kampus ini kan? Sudah mengalahkan berapa pesaing? Tetap merasa jiwa kamu bukan di sini? Dan masih merasa ‘seharusnya saya disana’? tapi ironisnya, kamu masih kuliah di sini, masih nerima duit dari pemerintah, masih nggak keluar dari kampus, etc. Lalu, dengan alasan itulah mengapa kamu cuek? Tidak adakah jiwa memiliki, tidak adakah jiwa ‘oh…ini lho kampus saya.”??

Balik ke topik utama. Di awal kami masuk dulu, di masa-masa magradika, kami sebagai mahasiswa baru diajarkan untuk peduli. Tapi, setelah magradika selesai, sifat peduli itu mulai berkurang. Kenapa? Silahkan tanya pada diri mahasiswa masing-masing.

Mahasiswa STIS sudah banyak melakukan kegiatan di luar kampus mengenai kemanusaiaan. Entah itu baksos, TPA, kerja bakti, atau apalah. Dan ironisnya, hanya sedikit kegiatan kemanusiaan itu yang ada di internal kampus. Kenapa? Saya tidak tahu.

Saya, mahasiswa. Kamu, mahasiswa. Saya ingin mengajukan saran kepada semua teman-teman mahasiswa, yang ada di kampus saya tentunya. Khususnya untuk angkatan 51 yang (insyaallah) sebentar lagi memikul balok 4 di pundaknya, dan adek-adek tingkat saya pada umumnya. Yuk, kita sebagai agen perubahan mulai berbenah. Tidak usah terlalu muluk-muluk, kita mulai dari diri kita sendiri saja dulu. Oiya, disini juga saya ada beberapa saran yang masih belum menemukan solusi. Bagi yang ada ide, mungkin bisa membantu.

Yang pertama, masalah kantin. Kampus baru, kantin baru. Bagi kamu yang sering nongkrong di kantin, pasti tau dong apa masalah utama di kantin (saya aja yang nggak sering-sering amat berkelana di kantin ngerasain kok). Kalo masih belum ngeh, coba datang ketika jam makan siang. Apa yang kamu rasakan ketika makan? Kalo saya, serasa makan di tempat sampah atau toilet. Maaf, saya pake kata sarkasme, but that’s the fact. Di meja makan yang notabene tempat buat makan, berceceranlah bekas makanan dan minuman yang ditinggal pergi begitu saja dengan penghuninya (serasa di tempat sampah kan?). Belum lagi, bekas tisu yang entah siapa pemakainya ditinggal begitu saja(serasa di toilet kan?). Ok, mungkin kamu akan berkilah,”kan ada pelayannya yang ngambilin piring dan gelas kotor, sama sekalian sampahnya juga. Jadi, buat apa dong kita susah-susah?” Sekarang, saya balik tanya ke kamu, proporsionalkah para pelayan di kantin kampus dengan mahasiswa yang makan? Belum lagi jika ada mahasiswa yang makan, pasti sebagai penjual sesegera mungkin harus dilayani kan? Udahlah, mau berkilah apa lagi? Apa susahnya sih ketika kita habis makan di kantin, sisa makanan atau minuman atau tisu dibuang ke tempat sampah? Dan mengembalikan piring-gelas kotor itu ke penjualnya (sekalian bayar)? Posisikan diri kita sebagai orang yang mau makan di tempat kita duduk tadi, mau kamu makan di tempat yang naruh piring-gelas buat makan aja susah? Belum lagi, kalo kecampur sama bekas makanan orang gimana? Pasti nggak mau kan? Ya udah, besok dimulai yok 🙂

 

 

 

Uji Penyimpangan Asumsi Klasik


Pengujian penyimpangan asumsi klasik dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah model yang diajukan dalam penelitian ini dinyatakan lolos dari penyimpangan asumsi klasik. Uji asumsi klasik merupakan persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS).

Uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi. Tidak ada ketentuan yang pasti tentang urutan uji mana dulu yang harus dipenuhi. Analisis dapat dilakukan tergantung pada data yang ada. Masing-masing pengujian penyimpangan asumsi klasik adalah sebagai berikut:

 a.      Uji Heterosekdastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan yaitu model yang terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas.

Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot dengan memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, uji Park atau uji White.

Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan heteroskedastisitas.

b.      Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya (t -1). Secara sederhana, analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara observasi dengan data observasi sebelumnya. Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu) dan tidak perlu dilakukan pada data cross section.

Beberapa uji statistik yang sering dipergunakan adalah uji Durbin-Watson, uji dengan Run Test dan jika data observasi di atas 100 data sebaiknya menggunakan uji Lagrange Multiplier. Beberapa cara untuk menanggulangi masalah autokorelasi adalah dengan mentransformasikan data atau bisa juga dengan mengubah model regresi ke dalam bentuk persamaan beda umum (generalized difference equation). Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasukkan variabel lag dari variabel terikatnya menjadi salah satu variabel bebas, sehingga data observasi menjadi berkurang.

c.       Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu.

Cara untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi pearson antara variabel-variabel bebas, atau dengan melihat eigenvalues dan condition index (CI).

Beberapa alternatif cara untuk mengatasi masalah multikolinearitas adalah sebagai berikut:

  1. Mengganti atau mengeluarkan variabel yang mempunyai korelasi yang tinggi.
  2. Menambah jumlah observasi.

Mentransformasikan data ke dalam bentuk lain, misalnya logaritma natural, akar kuadrat atau bentuk first difference delta.

d.         Uji normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki nilai residual yang berdistribusi normal. Uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel, tetapi pada nilai residualnya. Kesalahan yang sering terjadi adalah uji normalitas dilakukan pada masing-masing variabel. Hal tersebut tidak dilarang, tetapi model regresi memerlukan normalitas pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabel penelitian.

Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji histogram, uji normal P Plot, uji Chi Square, Skewness dan Kurtosis atau uji Kolmogorov Smirnov. Tidak ada metode yang paling baik atau paling tepat. Hanya saya, pengujian dengan metode grafik sering menimbulkan perbedaan persepsi di antara peneliti, sehingga penggunaan uji normalitas dengan uji statistik lebih dipilih karena bebas dari keragu-raguan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pengujian dengan uji statistik lebih baik dari pada pengujian dengan metode grafik.

Apabila data jauh dari nilai normal, maka dapat dilakukan beberapa langkah yaitu: melakukan transformasi data, melakukan penghilangan data outliers atau menambah data observasi. Transformasi dapat dilakukan ke dalam bentuk Logaritma natural, akar kuadrat, inverse, atau bentuk yang lain tergantung dari bentuk kurva normalnya, apakah condong ke kiri, ke kanan, mengumpul di tengah atau menyebar ke samping kanan dan kiri.

*dari berbagai sumber

 

 

Jepang : Metamorfosis (part 3)


Banyak juga sumber lain yang mengatakan, Jepang maju karena kebiasaannya. Beberapa kebiasaan yang dianggap para peneliti menyebabkan Jepang maju adalah :

  • Kerja keras. Jam kerja di Jepang tergolong tinggi, sekitar 2450 jam/tahun, atau sekitar 9 jam/hari (dihitung hari kerja 5 hari). Pulang cepat adalah hal yang tabu dilakukan oleh para pegawai di Jepang. Bagaimana dengan pegawai di Indonesia? Dengan rata-rata jam kerja 7 jam/hari saja masih banyak yang terlambat dan mencuri waktu untuk pulang lebih awal.
  • Hidup hemat. Sistem politik ekonomi dumping  merupakan suatu strategi Jepang dalam memasarkan produknya dengan menjual harga suatu barang produksi dalam negeri bernilai lebih rendah ketika dijual keluar negeri. Politik ekonomi ini sedikit banyak mendorong pengusaha untuk mengekspor hasil produksi mereka. Dengan cara seperti inilah masyarakat Jepang terbiasa hidup hemat. Meminjam istilah orang Jawa, nrimo.
  • Malu. Budaya malu ini sudah mengakar di masyarakat Jepang dari jaman turun-temurun. Budaya Harakiri atau bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka. Ketika kita sedikit jeli membaca berita internasional, banyak ditemukan petinggi-petinggi negara di Jepang yang mengundurkan diri karena mereka merasa tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik atau terlibat korupsi. Bagaimana dengan masyarakat kita? Pejabat yang gagal memerintah masih mempunyai muka untuk mencalonkan diri lagi menjadi pemimpin. Para koruptor masih santai-santai saja merokok di ruang kerjanya.
  • Inovasi. Jepang bukanlah bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam memodifikasi temuan orang dan lalu memasarkannya dalam bentuk yang digemari pasar. Misalnya saja, Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda. Cassete tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan model portabel sebagai sebuah produk yang laris di pasaran adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony masa itu. Sampai sekarang, model ini sudah sangat berkembang dan produknya berhasil dijual hingga mencapai ratusan juta produk. Bagaimana dengan kita? Sebenarnya kita mampu untuk memodifikasi dan melakukan inovasi, tapi kembali lagi seperti di atas : krisis kepercayaan diri bangsa kita sudah parah.
  • Pantang menyerah. Bisa dikatakan Jepang itu merupakan negara yang miskin sumber daya alamnya. Jepang menjadi pengimpor minyak bumi, batu bara, bijih besi, dll bahkan 85% sumber energi di Jepang berasal dari negara lain (termasuk Indonesia). Ketika kita melihat kondisi geografisnya yang sangat rawan gempa, nyaris tidak mungkin suatu bangunan dan atau infrastruktur lainnya bisa bertahan disana. Tetapi, karena keterbatasan sumber daya alam dan kondisi geografis itulah mereka beradaptasi dan belajar untuk survive, bahkan terus maju.
  • Budaya membaca. Salah seorang dosen yang pernah belajar ke Jepang pernah mengatakan, budaya membaca di Jepang sangat tinggi. Dimana-mana sangatlah mudah dijumpai orang-orang yang beraktivitas sambil membaca, seperti menunggu kereta, di dalam bus, dll. Bagi mereka, membacalah dan anda akan melihat dunia.
  • Menjaga budaya. Perkembangan teknologi dan ekonomi yag tinggi tidak membuat bangsa Jepang lupa akan budaya mereka sendiri. Misalnya saja, masih banyak ditemui rumah khas tradisional Jepang di area pemukiman modern. Atau budaya minta maaf yang seperti menjadi reflek orang Jepang. Serta misalnya penggunaan huruf asli Jepang (kanji, katakana, hiragana) untuk keseharian mereka, bukan tulisan latin seperti kebanyakan orang-orang di dunia.

Kita –bangsa Indonesia—maukah meniru bangsa Jepang seperti yang bangsa Jepang lakukan setelah mereka kalah perang? Tidak usah muluk-muluk. Mari kita mulai dari diri kita sendiri dulu, baru dengan orang-orang di sekitar kita. Jika mereka (bangsa Jepang) saja bisa, mengapa kita tidak? Kita sama-sama makhluk Tuhan yang diberi kelebihan dan kekurangan. Rendahkan sedikit ego, dan mari mulai beraksi seperti mereka. Percaya pada kemampuan sendiri, yakin kita mampu. Kita bisa menjadi negara maju.