S.K.R.I.P.S.I #7


OK. Ini lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Malam hari sebelum saya menjalani sidang skripsi, saya udah buat ringkasan kecil mengenai pembuktian rumus-rumus dan jawaban dari beberapa kemungkinan pertanyaan yang saya buat sendiri. Hingga pukul 2 dini hari, saya belum bisa tidur juga. Entahlah saya agak lupa jam berapa saya bisa tidur, yang jelas ketika adzan subuh di masjid dekat kosan berkumandang saya sudah mencelat bangun dan lalu tidak bisa tidur lagi.

Kali ini, sidang saya memang tidak bersamaan dengan si abang. Tapi, bersamaan dengan satu-satunya teman sekos yang tingkat empat, namanya Diah. Diah dan saya sidang di hari, tanggal dan sesi yang sama, bahkan ruang kami pun satu gedung, satu lantai dan hanya berseberangan. Alhasil, Diah dan saya berangkat ke kampus bersama-sama dengan perasaan yang lebih kurang juga sama. Oiya, saya sebel juga sih waktu itu. Si abang yang saya harapkan datang tidak juga datang (dan akhirnya beneran gak datang) dengan alasan tulisan skripsinya belum selesai. Saya maklum sih, beban skripsi jurusannya memang lebih berat daripada jurusan saya. Ya tapi tetap aja kecewa 😦

Memasuki ruang sidang, aura horor sudah mulai terasa. Saya merasa benar-benar ciut dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya di hadapan dosen-dosen penguji, apalagi jika mengingat-ingat IP saya yang hidup segan mati tak mau. Memulai sidang dengan berdoa dalam hati setelah sebelumnya juga meminta doa dari mama papa lewat sms.

Kalian percaya dengan kekuatan doa? Saya percaya. Di sidang skripsi kali ini saya sendiri membuktikan kekuatan doa, entah itu doa dari diri sendiri, orang tua maupun yang lainnya. Saya yang semula bernyali kecil, entah kenapa tiba-tiba saya begitu lancar ketika memaparkan presentasi hasil skripsi saya. Bahkan saya rasa jauh lebih lancar jika dibandingkan dengan pada saat seminar dulu. Dan pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji alhamdulillah lancar saya jawab, baik pertanyaan dari segi substansi maupun dari segi metodologi. Pertanyaan yang paling saya takutkan –pembuktian rumus—tidak terjadi. Sekali lagi, alhamdulillah 🙂

Keluar ruang sidang dengan wajah yang berseri-seri dan senyam-senyum gembira. Setelah beberapa saat kemudian saya dipanggil kembali ke ruang sidang dan dinyatakan lulus dengan sedikit revisi. Ya, hanya sedikit revisi yang meliputi kesalahan tanda baca, kurang konsisten menuliskan simbol matematikanya, kurang dieksplor di bagian saran dan kesimpulan. Kalau saya niat, sebenarnya revisi saya ini bisa kok selesai dalam waktu satu hari. Ya tapi karena sayanya aja yang males, nunda-nunda revisi skripsi sampe beberapa hari kemudian.

Revisi skripsi saya selesaikan 3 hari kemudian, sehari setelah si abang sidang. Lancar? Sekali lagi alhamdulillah. Saya hanya perlu sekali perbaikan revisi skripsi saya dan di pertemuan kedua saya sudah dapat tanda tangan persetujuan dari dosen penguji. Sekilas memang lancar. Tapi, hambatan belum berhenti sampai di situ. Anda tahu tentang halaman pengesahan yang di dalamnya berisi tanda tangan dari dosen penguji dan dosen pembimbing? Ya, kesalahan kecil saya yang fatal ada di situ. Jauh sebelum batas akhir pengumpulan drfat skripsi lengkap, draft skripsi saya sudah siap untuk diserahkan (lengkap dengan halaman pengesahan yang sudah terisi semua). Tapi, pihak kampus menolak dengan alasan spasi. Benar, SPASI. Sekali lagi S-P-A-S-I. Mereka bilang, letak tanda tangan di skripsi saya terlalu menggantung dan nggak proporsional. Padahal, di saat yang bersamaan, salah satu dosen penguji saya sedang berwisata ke Yerussalem dalam waktu 2 minggu. Saya diharuskan mengganti, tanpa ada kompromi. Yah mau bagaimana lagi, saya harus menunggu kepulangan dosen penguji yang satu ini. Dan itu artinya saya harus minta waktu khusus untuk sedikit memperpanjang pengumpulan draft skripsi. Dosennya baik sih, malah beliau merasa bersalah gara-gara spasi ini 🙂

And finally…..skripsi saya berhasil juga diserahkan untuk dijilid oleh pihak kampus 😀

Iklan

S.K.R.I.P.S.I #6


Maaf. Sekali lagi maaf. Beneran minta maaf. Blog ini sudah lumutan berkarat dan jamuran di sana-sini karena ulah saya. Ya, ulah saya yang masih seenak sendiri tergantung mood mau ngisi apa di blog ini. Alasan saya kali ini : SKRIPSI. Antara omong kosong dan tidak. OK, sebagai permintaan maaf dan pembukaan hidup yang baru bagi blog saya ini, maka silahkan disimak beberapa huruf yang saya rangkai di bawah.

29 Agustus 2013

Ini hari dimana saya seminar skripsi (di kampus lain disebut sidang terbuka). Seminar skripsi ini wajib hukumnya di kampus saya sebagai langkah awal pertanggungjawaban dari skripsi yang saya buat. Di dalam seminar skripsi, saya berperan sebagai penyaji, dosen pembimbing saya sebagai narasumber, 3 orang teman yang telah ditetapkan oleh kampus sebagai tim pembahas, teman-teman sebagai penonton dan salah seorang dosen sebagai moderator. Tahun ini, seminar skripsi diadakan pada tanggal 19-30 Agustus, jadi praktis seminar skripsi saya ini berada di ujung akhir perjalanan seminar skripsi tahun 2013. Oiya, perlu anda ketahui bahwa seminar skripsi di kampus saya hanya diadakan sekali dalam setahun. Begitu juga dengan sidang skripsi (di kampus lain disebut sidang tertutup) dan wisuda.

Grogi? Pasti iya. Deg-degan? Jangan tanya. Bismillahirrahmanirrahim. Gugup saya bukan terletak pada siapa tim pembahas saya, tetapi pada moderator. Aneh ya? Iya sih. Untuk tim pembahas, saya sudah mengenal mereka bertiga. Bukan maksud ada KKN seperti yang lain dengan bilang terang-terangan hei-tim-pembahas-kamu-mau-tanya-apa-silahkan-konfirmasi-saya-duu, bukan. Saya yakin, insyaa Allah bisa lah untuk memjawab pertanyaan tim pembahas tersebut. Meski pada akhirnya ada beberapa hambatan juga sih, hehe. Nah, di awal tadi saya bilang saya agak gugup dimoderatori oleh dosen ini. Kenapa? Pertama, bapaknya tegas dan sedikit keras. Kedua, bapaknya pasti mengupas metodologi penulisan draft seminar saya. Asal anda tahu, beliau ini dosen mata kuliah metode penelitian saya di semester 5 dulu.

Percaya nggak percaya, saya dan si abang mengalami kondisi yang ‘seperti kebetulan’. Jadi ceritanya gini. Di web portal kampus, jadwal seminar saya sudah terpampang jauh-jauh hari sebelum hari H. Sedangkan jadwal seminar punya si abang belum. Jadwal saya di hari Kamis 29 Agustus 2013 sesi 3. Ketika jadwal seminar si abang keluar, saya beneran kaget. Jadwalnya sama persis dengan jadwal saya, baik hari, tanggal maupun sesi pelaksanaannya. Hanya saja saya di ruang 252 dan dia di 262 (di gedung yang sama, selisih satu lantai). Ckckckck….heran saya. Apa nggak ada hari lain untuk seminar skripsi? Ya sudahlah pasrah saja. Jadwal seminar skripsi nggak bisa diganti, kecuali atas pengajuan dosen. Buyar sudah impian saya untuk menghadiri dan dihadiri oleh si abang di seminar skripsi ini.

16 September 2013

Pelaksanaan sidang skripsi tahun ini jatuh pada tanggal 9-20 September. Dan saya sidang di tengah-tengah musim sidang. Pelaksanaan sidang hanya dihadiri oleh 4 orang, yang terdiri dari saya sebagai penyaji, dosen pembimbing sebagai moderator dan 2 dosen sebagai penguji sidang skripsi. Beberapa hari sebelum hari sidang tiba, saya sempat belajar bareng dengan beberapa teman saya. Demi apa? Demi saya nggak mati dibantai pas sidang.

Deg-degan? Sudah jangan taya gimana saya deg-degannya. Jujur saja, dosen penguji sidang skripsi saya sempat mengalami pergantian. Dosen penguji pertama yang paling menentukan diganti hanya beberapa hari sebelum hari H sidang. Dari dosen yang semula masih ramah tamah diganti dengan dosen yang sudah setengah tua dan lumayan jeli di bagian metodologi penelitian yang saya gunakan. Banyak rumor yang beredar, pertanyaan sidang yang biasanya keluar dari dosen ini adalah pembuktian rumus. Saya mahasiswa statistika terapan, jadi ketika menggunakan rumus statistika untuk diterapkan di ilmu lain (ekonomi) saya juga harus tahu bagaimana asal rumus itu. Ribet kan? Iya pake banget. Dosen penguji kedua saya adala dosen lawas yang dulunya sempat menjadi petinggi di instansi pemerintahan yang sejalur dengan tempat saya kuliah. Beliau ini concern di bidang ekonomi industri. Tepat sekali dengan topik utama skripsi saya yang juga mengangkat tema ekonomi industri. Tapi, ketika ditanya mana yang lebih berat : substansi skripsi atau metodologi skripsi? Saya nggak bakal ragu jawab metodologi skripsi. Penerapannya sih gampang, ada beberapa software pendukung. Namun, isi secara statistika-matematika nya? Ya ampun, metodologi penelitian yang saya gunakan ini bahkan seringkali digunakan oleh mahasiswa tingkat lanjut yang menyelesaikan program master atau doktor! Anda tahu tentang analisis regresi data panel? Nah, itu yang saya gunakan. Silahkan dicari dan dipelajari kalo Anda berminat.

Nah, bagaimana hasil dari sidang saya ini? Nantikan di tulisan saya berikutnya.

S.K.R.I.P.S.I #4


Finally, THEY’RE DONE!!
Apaan sih? Itu tuh, proposal saya. Jadi bikin empat? Ah enggak, yang masalah terakhir nggak ketemu-ketemu masalahnya apa, tiga saja cukup, itu juga yang 2 beda sama rencana awal. Alhamdulillah, semangat 🙂 *self talking

Antara capek, seneng, kesel, puas, gembira, galau, dan rasa gado-gado yang rame rasanya. Tulisan ini saya tulis di siang hari yang langitnya lumayan hitam, maklum lagi musim hujan. OK sip, ini berarti kode dari langit untuk sesegera mungkin buat tidur siang 🙂

Sebenarnya ketiga proposal saya sudah saya serahin hari rabu kemaren. Hal ini sengaja banget saya lakukan karena suatu hal. Gini ceritanya. Hari Kamis-Senin (15-19 Nov), temen kos saya —si Diah— pulang kampung ke Pekalongan. Jadilah hari Senin (12 Nov) dia ke jurusan buat tanya-tanya kalo ngumpulinnya nitip temen gimana, dia rencana mau nitip saya plus saya print-in sekalian. Nah, iseng dia tanya juga ke jurusan, kalo topiknya sama gimana. Jawaban dari orang jurusan, cukup membuat saya terkejut. Kalo topiknya sama, lebih dipilih yang tanggal ngumpulinnya duluan. Jawaban yang disampaikan itu berbeda dengan persepsi teman-teman yang menganggap kalo topiknya sama ntar bakal dipilih proposal yang paling baik oleh tim peneliti. Untunglah salah satu proposal saya udah jadi, tinggal editing dikit. Ya udah, kurang dari 30 jam lagi harus sudah selesai 2 proposal yang lain. Sebenarnya udah ada gambaran yang 2 proposal tambahan ini mau diapain, cuma faktor M-nya aja yang lagi gila-gilaan (M=males). Dan taraaaaaa………..dengan muka mirip zombie karena semalem nggak tidur cukup, saya berangkat ke kampus buat kuliah + nyerahin proposal.

Sampai di kampus, habis sesi 1 saya ketemu sama abang saya yang nitip di printin proposalnya. Rencananya dia mau nyerahin proposal hari itu juga. Ngobrolah kita bentar, sambil bahas tentang proposal masing-masing. Hari itu, tanggapan abang saya sengak banget, bikin sakit hati. Tapi, emang bener sih. Saya hanya nggak suka cara dia menyampaikan. Kalo dikuantitatifkan, minus 90 dari range nilai 100. OK lanjut. Saya kan jadi galau level mahadewa mau ngumpulin apa enggak, akhirnya saya tetap putuskan ke jurusan apapun yang terjadi

Di jurusan, saya ngobrol sebentar sama mbak yang ngurusin penyerahan proposal. Untung mbaknya baik, gak masalah saya ajak ngobrol dikit tentang kegalauan saya itu. Saya bilang ke mbaknya, sebenarnya saya sudah ada 3 proposal, tapi yang 2 masih ada yang perlu diperbaiki karena satu dan lain hal. Mbaknya bilang, kumpulin semuanya aja dulu dek, nanti kalo mau revisi bisa besok Senin hasil revisiannya diserahkan ulang (nb : hari Kamis-Minggu lagi long weekend), yang penting kan di sini kamu tercatat sudah ngumpulin tanggal sekian (hari itu tanggal 14 Nov). Fyuhhhhh……..alhamdulillah, saya seperti mendapat angin segar. Dan saya pun menyerahkan ketiga proposal saya dengan gembira ria. Lalalalalala…..

Sedikit cerita tentang ketiga proposal saya. Sebenarnya ketiga temanya sama, tapi obyek penelitian dan metodenya beda-beda, hehehe….. topik pertama masih tetap deisndustrialisasi di Indonesia yang mengelompokkan masing-masing provinsi berdasarkan kondisi deindustrialisasinya. Topik kedua deindustrialisasi sektor industri furnitur dan dampaknya pada perekonomian Indonesia, pake analisis time series sama analisis tabel IO. Topik kedua deindustrialisasi sektor industri produk dari batubara dan pengilangan minyak bumi dan dampaknya pada perekonomian Indonesia, pake analisis time series sama analisis tabel IO juga. Kenapa saya milih analisis tabel IO? Karena trend topik skripsi tahun lalu gak banyak yang pake ini, jadi saya coba mengangkat masalah analisis yang katanya’jadul’ ini (padahal di tempat lain masih jadi sesuatu yang ‘wooooww’ loh). Dan sepertinya angkatan saya pun juga gak banyak yang nengok ini. Padahal, dulu di tingkat 3 (semester 5) ada mata kuliah ini loh. Dan saya kebetulan jadi koordinator PJ kelas untuk matkul ini, jadi ada link kalo misal ada masalah. Hahahaha…..

Sekarang, mari fokus ke uts. Uts tinggal 10 hari dan masih banyak yang harus dipelajari lagi. Dan jangan lupa, mari berdoa semoga topik saya diterima 🙂

S.K.R.I.P.S.I #3


Tulisan saya muncul lagi. Yayyyyy…..*ini apa sih -.-“

Ceritanya masih di seputar nasib mahasiswa kura-kura tingkat akhir. Alhamdulillah proposal no.1 sudah saya serahkan ke 2 dosen yang saya anggap ekspert, niatnya sih minta saran dari beliau gimana bagusnya sebelum resmi diajukan ke jurusan sebagai topik resmi skripsi saya. Nah sekarang saya masih harus berjuang dengan sisa bayi topik saya sebanyak 3 buah ini. Mau diapakan? Ya dikerjakan. Apapun resikonya. Apapun alasannya.

Topik yang ke-2 adalah mengenai kopi. Sebelumnya saya merasa enjoy saja dengan topik ini. Optimis lah. Komoditi kopi ini udah masuk top five dalam urusan ekspor loh selama dekade akhir-akhir ini, jadi pasti ok dong kalo dibahas. Tapi……..perkiraan saya ini meleset ketika habis sholat maghrib di masjid tadi saya bertemu kakak tingkat yang ahli dan saya kenal dekat. Kakaknya bilang,mending nggak usah kamu ambil kopi. Kopi itu karena dia udah di top five komoditas ekspor, jadi udah banyak banget yang bahas. Kakaknya nyaranin juga supaya lihat lagi skripsi-skripsi tahun lalu. Setelah saya ublek-ublek lagi fosil-fosil skripsi dan muter sana-sini, sampailah saya pada satu keputusan besar : lebih baik saya ganti topik sekarang.

Masalah belum berhenti sampe disini saudara-saudara, masih berlanjut layaknya sinetron Tersanjung yang nggak katam-katam dari jaman saya TK sampe SMP. Masalahnya tidak lain dan tidak bukan juga masih mbulet di topik skripsi lah. Judeg saya mikir apa nggak nemu-nemu. Pokoknya saya mau neliti masalah sektor riil, nggak mau sektor moneter (selain karena sektor ini masih di awang-awang menurut saya, dosen di kampus saya yang ahli di bidang ini jarang). Jadilah saya mimbik-mimbik mau nangis. Walaupun tampang saya macam sekuriti gini,tapi hati saya hati helokiti :3

Di tengah samudera kegalauan, saya inget kalo saya belum sholat isya’. Ya udahlah, kata murobbi saya yang harus dilakukan saat lagi galau itu adalah curhat sama Allah, makanya trus saya ambil wudhu dan sholat. Sambil ngaji dikit biar sekalian latihan vokal, dapet plus plus pahala loh. Jadilah sholat isya tadi saya curhat sambil mimbik-mimbik plus pasang muka melas ke Allah, please help me My Lord 😦

Dan anda sekalian boleh percaya boleh enggak. Inspirasi itu datang. Ya. INSPIRASI ITU DATANG. So amazing banget. ping ping ping….*kayak bunyi bbm

Habis sholat saya pegang hape. Iseng aja sih mulanya buka galery foto, lagi kangen sama abang saya ceritanya. Gak sengaja saya menemukan foto tentang skripsi kakak tingkat yang dulu saya foto untuk bahan latar belakang. Yyyiiihhhaaaaa…….saya menemukan peluang yang berlimpah di sini. Masih sama topiknya di sini, tentang deindustrialisasi. Kakak tingkat itu membahas deindustrialisasi sektoral secara agregat, bukan secara per sektor. Dan saya akan mencoba mengupasnya lagi menjadi per sektor. Dalam kesimpulannya, industri manufaktur dia bagi menjadi dua : sunset industry dan sunrise industry. Sunset industry merupakan industri yang sudah melewati masa kejayaannya, kalo yang sunrise industry itu sebaliknya.

OK lah. Dengan ini saya resmi.mengganti bayi topik skripsi saya yang kedua menjadi deindustrialisasi sektor X dimana X disini merupakan sektor sunset industry yang belum saya ketahui apa. Kemungkinan besar subsektor furniture atau kalau enggak subsektor batu bara,pengilangan minyak,dll. Masalah lain yang perlu dipastikan adalah apa aja variabel-variabel penelitiannya. Dan juga kualitas datanya.

Well…..semoga selalu dimudahkan. SAYA WISUDA 2013.

S.K.R.I.P.S.I #2


Kalo ditanyain enakan mana antara nulis skripsi sama nulis blog? Gak usah lama mikir langsung saya jawab : NULIS BLOG.

Menurut saya, proses pengerjaan skripsi itu ada 3. Tahap awal, tahap tengah dan tahap akhir. Tahap awal itu mulai dari pencarian topik, pencarian masalah, dan lain-lain sampe nyusun proposal. Tahap tengah itu ya mulai pengerjaan skripsinya, konsultasi ke para ahli, bimbingan bareng dosen pembimbing, dan lain-lain sampai menjelang seminar.

Pada masa-masa seperti saya ini, sudah pasti masuk ke tahap awal. Masa-masa dimana saya harus nyari topik serasa nyari jarum di tumpukan jerami dan buka-buka buku pantat gajah lagi (OK, yang ini agak hiperbol). Nah, di musim kayak gini nih yang mengharuskan saya jadi anak nongkrong perpustakaan kampus. Keren kan? Gak gitu juga sih, alasannya saya nongkrong di perpus itu karena saya bisa ngadem di tengah panasnya udara jakarta yang konon bisa membakar semut saat berjalan di jalan raya ibukota. Alasan lain, saya pasti lebih memilih tidur ketika saya ada waktu longgar di kos. Kos saya sempit dan panas (khas kos-kosan miring harga Jakarta), kalo siang bawaannya males-malesan aja, hahaha….

Saya tahu kalo saya itu orangnya malas. Udah gitu, saya nggak suka diburu-buru. Lengkaplah sudah cap procrastinator dalam diri saya. Dengan catatan seperti itu, mau gak mau saya harus curi start biar sampe finishnya tetep sama-sama. Kata orang, KnowYourself Know Your Enemy. Saya sudah tau diri saya seperti saya, itu sebabnya saya tau apa enemy yang harus saya hadapi. Saya mulai searching jurnal, artikel, makalah, dan sejenisnya semenjak liburan puasa beberapa bulan lalu. Dan alhamdulillah, hasilnya sudah ada. Yah, meski masih bingung ini mau digimanain itu mau digimanain. Yang jelas kalo ditanyain topik skripsi, saya jawab “udah” aja. Mending gitulah daripada kayak teman2 saya yg bilang “belum apa-apa” trus tiba2 dateng2 udah mau selesai, pencitraan yang munafik demi gak mau kesaing. Ckckck….itulah mahasiswa jaman sekarang. Mending ngomong jujur lah, kasihan yg dibohongin, banyak dosa juga loh kalo bohongnya terus2an 🙂

Topik saya ada 4. Sedikit? Banyak? Terserah apa kata kalian, yang jelas ide sayaseperti  itu. Kalo mau tau, boleh kok dibaca topiknya ini sambil ngasih masukan juga boleh banget 😀

1. Deindustrialisasi, dianalisis dengan teknik analisis ekonometrik dan cluster analysis. Nantinya saya akan membahas tentang deindustrialisasi di Indonesia beserta variabel-variabel apa yang mempengaruhinya. Masalah ini sudah dibahas di tesis salah seorang mahasiswa IPB, hanya saja beliau membahasnya secara makro. Di sini nanti saya akan membahas mengenai deindustrialisasi masing-masing propinsi di Indonesia. Dan juga mengkategorikannya ke dalam cluster-cluster tertentu sesuai dengan kriteria yg saya masih belum tau mau digimanakan.

2. Kopi. Industri kopi lebih tepatmya. Ini masih menjadi dilema, apakah mengenai kondisi ekspornya atau mengenai kekuatan industrinya. Kalau melihat kondisi ekspornya, analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda (RLB). Kalau kekuatan industrinya, analisis yang digunakan adalah anaisis Cobb-Douglass. Gak jauh beda ya? hehehe….

3. Pengangguran terdidik. Lah ini masalahnya masih belum jelas. Pokoknya saya tertarik aja sama yang namanya pengangguran terdidik, datanya ada juga sih. Analisis yang nanti saya pakai juga udah ada kok, kalau nggak pakai regresi logistik ya pakai survival analysis. Tapi saya masih belum nemu masalahnya apa. Ditambah lagi masalah ini lebih cenderung ke masalah sosial, bukan ekonomi (di kampus saya jurusan sosial dan ekonomi dipisah). Jadi….suram T.T

4. Sektor informal. Setali tiga uang sama topik nomor 3, yang ini juga masih belum jelas masalahnya dimana. Datanya juga udah ada, tapi alat analisisnya belum tau pake apa. Latar belakang masalahnya sih udah. Jadi ceritanya gini nih. Pas krisis ekonomi 2008 yang lagi booming menimpa kawasan Amerika dan Eropa yang menyebabkan mereka pontang-panting perekonomiannya. Imbasnya, banyak negara Asia yang terkena, lebih-lebih mereka yang pengimpor barang-jasa setia langganan Amerika Eropa. Tapi, kita rasakan sendiri kan kalo di Indonesia dampaknya ‘kurang terasa’ atau ‘kurang greget’ kalo dibandingkan krisis moneter 1998. Menurut pakar dan beberapa pendapat ekonom, salah satu faktor Indonesia seperti itu karena sektor informal kita kuat (selain karena kita kurang setia berlangganan sama impor barang-jasanya si Amerika-Eropa). Trus, saya harus gimana dong?? Topik ini agak cerah dikit sih, tapi suremnya juga masih kerasa. huwohuwohuwoooooo ……

Ada saran?

S.K.R.I.P.S.I #1


Halohaaaaa…….
Lama tak jumpa dan sekarang saya datang kembali dengan segudang cerita mengenai apa yang terjadi dengan diri saya akhir-akhir ini. Ohohoho….tenang saja, saya sehat kok dan masih tetap cantik :p

Pasti kaget ya dengan judul postingan saya kali ini? Penasaran kan? Tenang,kalo anda mencari all about skripsi sebagai keywordnya, saya sarankan anda untuk sesegera mungkin menutup blog saya ini karena anda salah alamat xD. Satu-satunya alasan saya nulis postingan ini ya seperti biasa aja lah….just for fun atau bahasa biasanya sebagai penghilang rasa penat dengan keadaan sebagai mahasiswa kura-kura.

Sekarang saya memasuki masa-masa akhir kuliah saya di salah satu PTK. Tahun terakhir (insyaallah), balok 4, tahun ke-4, semester ganjil. Kalo orang kuliah biasa itu semester 7. Ih wow…kok udah banyak aja ya,padahal serasa baru kemaren deh saya lulus sma -,-“

Tau sendiri lah ya mahasiswa tingkat akhir itu bagaimana. Sibuk meeeeennnnnn…..(tapi saya belum begitu sibuk juga). Kalo di PTN atau PTS lain,yang namanya skripsi itu pas semua mata kuliahnya udah selesai atau ada mata kuliah prasyarat yang udah selesai. Tapi kampus saya beda, kuliah biasa (kuis,uts,uas) dan skripsi (mulai dari proposal sampe seminar-sidang) tetap berjalan beriringan bergandeng tangan dengan anggunnya. Belum lagi ujian kompre yg diadakan di semester ini (semester ganjil). Bagi kalian yang belum begitu ngeh sama yang namanya kompre, kompre itu nama panjangnya komprehensip, yaitu ujian pilihan ganda berjumlah 50 soal yang asalnya campur mawut dari mata kuliah inti tingkat 1-3 (semester 1-6). Nilainya 1 sks, tapi konon sih mematikan. Entahlah… Nah,ini kompre di kampus saya. Lain kampus lain cerita ya….

Sekarang nih yg lagi digalauin sama temen2 seangkatan tuh ya skripsi. Keren dong kampus saya,ngasih pemberitahuan pengumpulan proposal skripsi ke jurusan dengan tenggat waktu 23 hari. 23 HARI!!!!!!! Dapat??? Didapat-dapatkan.

Ah entahlah….saya ikutan pusing dan galau juga ini nih. Ntar deh ya kalo kepala udah agak tenang saya posting lagi 🙂

*catatan : mungkin postingan ini agak gak penting dan nyampah. Maaf ya pembaca 🙂

Karena Kita Mahasiswa #2


Masih tentang kantin, masalah ngetag tempat duduk. Selama ini, susah rasanya kalo mau pesen dulu trus baru nyari tempat. Soalnya, sudah penuh sama tag-tagan orang sih. Masak iya udah pesen makan, udah bawa piring-gelas, makan-minum sambil berdiri? Hadeh….kayak kambing aja makan-minum sambil berdiri. Dan nggak lucu kalo hanya gara-gara masalah nggak bisa duduk karena tag-tagan. So, what’ll we do next? Hilangin budaya tag-tagan. Pesen makan dulu, baru nyari tempat. Kalo ada yang bilang ini udah ada orangnya, sodorin tuh piring sama gelas ke dekat yang ngomong (maksudnya : kamu mau saya makan sambil berdiri kayak kambing? Apa kata dunia…..). Udah, duduk aja. Pasang tampang polos kayak bayi. Siapa cepat dia dapat. Kantin itu milik bersama loh 🙂

Selain masalah kantin, masalah lain adalah membuang sampah. Saya rasa, tempat sampah di kampus sudah banyak. Tapi entah kenapa masih banyak juga sampah berceceran. Penambahan kuantitas tempat sampah sepertinya bukan sarana yang tepat, kembali lagi pada diri kita sendiri : KESADARAN. Saya, mahasiswa. Kamu, mahasiswa. Mahasiswa bukan lagi bocah yang harus diberi denda berapa ribu rupiah atau membersihkan kelas ketika membuang sampah sembarangan kan? 🙂

Terkait mahasiswa, ada lagi satu hal yang menarik. Ketika kamu tanya teman-teman dari kampus lain, jam berapa perpustakaan dan laboratorium buka dan tutup? Jawabannya, bukan seperti jam buka-tutup kantor pada umumnya. Bagaimana dengan kampus STIS? Sayangnya, sama seperti jam buka-tutup kantor pada umumnya, buka jam 8.30 tutup jam 16.00. Bandingkan dengan kampus lain yang jam tutup perpustakaannya itu malam hari, jadi mahasiswa bisa puas menghuni perpustakaan seharian. Menurut saya, di jam buka nya sih gak masalah, cuma jam tutupnya itu yang jadi masalah. Seperti yang saya (dan mungkin juga sebagian teman-teman yang lain) rasakan, kemana akan belajar dan ngerjain tugas ketika saat mengerjakan tugas di kos atau kontrakan si kasur melambai-lambai plus kurang referensi buku? Apakah ada tempat nongkrong yang nyaman (dan murah) untuk belajar di sekitaran kampus selain perpustakaan? Yah, meskipun perpustakaan kampus masih belum nyaman, tapi seenggaknya sudah cukup lumayan (apalagi kalo ditambah pohon-pohon yang hijau ya). Sekali lagi, kami ini mahasiswa, bukan pegawai kantoran. Jadi, kalo saya mau usul perpanjangan jam tutup perpustakaan ke siapa yak? Dan juga laboratorium komputer di lantai 4 gedung 2 itu. Jangan-jangan mahasiswanya sendiri nggak tau kalo laboratorium itu bisa dipake untuk mahasiswa kalo nggak ada kelas yang make? Haha…oya, yang ini butuh saran dari teman-teman. Saya rasa, semua mahasiswa membutuhkan jam tutup perpustakaan yang lebih panjang 🙂

Last but not least, parkiran sepeda dan sepeda motor di basement. Emang ada ya? Nggak ada dibuat khusus parkiran sepeda dan sepeda motor sih, itu parkir mobil sebenarnya yang dipake untuk parkir sepeda dan sepeda motor. Tau sendiri kan, kalo parkir mobil itu pastinya lebih luas sekatnya daripada parkir sepeda dan sepeda motor. Coba kamu tengok sebentar ketika pulang kuliah dan lewat di basement. Apa yang kamu lihat di parkiran sepeda dan sepeda motor itu? Semrawut. Sepeda dan sepeda motor malang melintang. Emang sih menghadapnya satu arah, tapi nggak beraturannya itu lho. Kalo dilihat-lihat, kasihan juga yang mau keluar, repot mindahin ini itu. Eittsss…jangan langsung mengomel karena nggak ada tukang parkirnya. Tanpa tukang parkir, kita bisa kok merapikan sepeda dan sepeda motor itu. Tapi bukan terus angkat-angkat sepeda dan sepeda motor itu satu-satu ya, capek deh. Bagaimana kalo kita buat garis pembatas belakang untuk batas parkir? Kalo nggak garis, apa gitu yang sekiranya bisa sebagai tanda ‘oh, ini lho ada batas parkirnya’. Nah, kalo kayak gini, siapa ya yang mau buat? Saya yakin, dengan cara seperti ini, seenggaknya nanti parkiran agak sedikit lebih rapi dari sekarang 🙂

Sudah cukup panjang ternyata, dan ini sudah tengah malam. Mohon maaf apabila masih ada salah-salah kata (sudah ngantuk soalnya).

Kritik dan saran yang membangun ditunggu ya. Selamat malam.