Selamat Datang, 21-ku


X-21 adalah suatu kalimat matematika, dimana X adalah suatu variabel dalam hitungan tahun dimana yang tahu hanya ALLAH SWT dan 21 adalah konstanta tahun yang telah dilalui. Harus selalu ingat ini, X-21.

Bermuhasabah diri, sudah pantaskah selama ini? Sudah baikkah menjadi manusia? Sudah benarkah apa yang telah dilakukan? Sudah siapkah untuk terus menerus belajar memperbaiki kesalahan diri sendiri? Sudah ikhlaskah menjalani beban? Sudah semangatkah menyongsong mentari di pagi hari nanti? Sudah siapkah mejadi dewasa? dan, sudah siapkah untuk mati? Sudah pantaskah menjawab semuanya dengan sudah?

Maaf untuk yang selama ini masih tersakiti.

Hidup bukan tentang hari ini dan kemarin, tapi masih ada esok hari.

Terima kasih kepada semua yang telah mencoba untuk membantu memperbaiki.

Terima kasih kepada semua yang telah mengisi hidupku selama ini.

Terima kasih kepada semua orang yang mencintai saya tanpa syarat.

Mama. Papa. Kiko. Monik. Masku tersayang, Genzy Habibie. Sahabat-sahabat dekatku dari TK-SD-SMP-SMA-kuliah.

Semoga kita bisa saling mendoakan, dan saling mengingatkan.

Semoga masih diberi waktu yang cukup untuk persiapan hidup nanti.

Semoga apa yang telah dilakukan selama ini bukanlah sia-sia saja.

Semoga….Semoga…Semoga…

Terima kasih atas semua doanya.

Selamat datang 21-ku. Ini aku, datang untuk mengarungi usia baru. Dengan semangat baru, dengan mimpi baru.

Jakarta,16 Februari 2012

Iklan

Langit Sore, Aku Menyukaimu #2


Ketika aku bertemu dengan angin, dan dia dengan lembut menyapaku,”hai perempuan, sedang memikirkan apa kamu?”

Aku hanya tersenyum samar. Sambil mencabut rumput yang tumbuh dekat kakiku, aku menjawab,”menurutmu?”

Angin diam sebentar, berpikir mungkin. Sekelebat dia berpindah agak mendekat denganku,”jangan melamun, ini sudah petang. Kata orang tua tidak baik melamun di saat seperti ini.”

Aku tertawa. “Aku tidak sedang melamun. Hanya memikirkan sesuatu.”

Angin penasaran. “Memikirkan apa?”

Aku menengadah ke atas, mendapati buritan langit siang yang mulai berubah warnanya. “Memikirkan apa yang masih bisa aku pikirkan, dan memikirkan apa yang memikirkanku.”

“Bukan apa, tapi siapa. Benar begitu?” angin itu mencoba memasuki otakku.

“Ya, itu lebih tepatnya.”

“Apa kamu menyukai langit sore?” tanya angin lirih.

“Senja maksudmu?”

“Siapa lagi?”

“Iya. Mungkin jika ada perkumpulan atau organisasinya, akulah orang pertama yang mendaftar jadi anggotanya.” jawabku dengan bibir menyunggingkan senyum.

“Kenapa?”

‘”Aku selalu merindukannya sejak aku kecil. Seperti ada kehangatan yang menelusup ke hatiku saat senja datang. Senja itu selalu indah. Entah dimanapun aku berada, sekali lagi senja itu indah. Mungkin dia tidak mengerti aku karena banyak yang menyukainya. Tapi, aku selalu mengerti dia karena aku menyukainya.”

“Lalu, apa kamu juga menyukai fajar?”

“Tidak terlalu. Berbeda dengan senja yang selalu menghibur, fajar itu seperti alarm yang berkata ‘hei kalian manusia, bangun tidurlah. cepat cari makan agar tidak mati. bergegaslah. nanti kalian akan kehabisan’. Setelah itu, orang-orang kota seperti kesetanan dikejar waktu seharian.”

Aku dan angin lama terdiam. Kami berdua seolah menekuri alam pikiran masing-masing.

“Apa kamu juga menyukaiku?” sangat lirih angin berucap, nyaris tak terdengar oleh telingaku.

Aku memandangnya lekat-lekat. Ini lucu. Sangat lucu. Konyol. Pertanyaan bodoh. “Kamu mau tahu jawabanku?” aku berkata tidak kalah lirih.

“Kamu mendengar ya, perempuan?” angin kaget. Mungkin disangkanya aku terlalu asyik terlarut dalam pikiranku sendiri.

“Bagaimana aku bisa berkata seperti tadi jika aku tidak mendengar?”

“Terserah. Toh aku bukan senja yang kamu sukai secara fanatik itu.”

“Pertanyaan bodoh. Tak perlu jawaban pun sebenarnya kamu sudah tahu.”

“Sudah ku duga.” Aku mendapati ekspresi wajah datar dari angin.

“Kamu itu sepaket dengan senja. Barang substitusi, bukan barang komplementer. Kalian berdua, senja dan angin, itu substitusi sempurna.”

“Kenapa?”

Dan aku pun mulai kesal. Seperti berbicara dengan balita yang tak pernah puas saja. “Kamu selalu menyertai senja, kamu selalu menyertai fajar, kamu selalu menyertai siang, kamu selalu menyertai malam, semua-semua kamu sertai. Jadi, kamu lebih aku kenal dari senja. Kamu setiap saat, sedangkan senja hanya sesaat.”

“Lalu, apa maumu?”

“Tidak ada. Aku perempuan yang menyukai senja. Dan sekarang, aku juga menyukaimu.” Aku mengembangkan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.

“Dan kita berdua sama-sama ada hubungan dengan senja? Kamu menyukai senja, dan aku sebagai substitusinya? Haha…seperti cinta segitiga saja.”

“Bukan cinta segitiga. Cintaku bukan untukmu, bukan untuk senja.”

“Lalu?” Angin semakin menyelidik.

“DIA. Yang mempunyai aku, kamu, senja dan semua-semuanya.” Aku menengadahkan lagi wajahku, tegak lurus dengan langit senja. Menerawang. Mencoba menerobos dimensi lain dari jagad raya yang tak terlihat.

Angin tersenyum lebar. Mengikutiku, dia menengadah juga ke langit. “Kita sama, perempuan.”

Aku melihat, senja sedikit tersenyum. Tersipu seperti gadis belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Hanya sebentar saja, kemudian setelah itu dia tenggelam. Menyerahkan langit kepada malam.

“Aku pulang.”

Suatu petang di Jakarta,

terkurung dengan rutinitas yang membosankan

Ayah Juga Lupa


Membaca message di facebook yang sudah lumayan lama bersarang, dan menemukan obrolan menarik dengan salah seorang sahabat terbaik saya. Saya copas aja ya, semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

d:”Oi,Aq mau ngrim psan ini kmaren,tp g smpt,aq pnya pglan artikel yg dah ada 100thn yg llu d sbuah koran d eropa,,,kpan2 aq pngn kmu mmbcany,,”

s:”Ttg apa?”

3 hari kemudian, muncullah di message facebook saya.

d:”bacanya dihayati ya..rada panjang”

 

 

โ€œAYAH JUGA LUPAโ€

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah
tangan kecil merayap dibawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang
lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke
kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran
di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan
perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu. Ada
hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar
kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke
sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah
lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau
melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu.
Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja.
Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru
mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan
melambaikan tangan sambil berseru, โ€œSelamat jalan Ayah!โ€ dan Ayah
mengerutkan dahi, lalu menjawab โ€œTegakkan bahumu!โ€

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari
jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut,
memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus
kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk
pulang ke rumah. Kaus kaki mahal โ€” dan kalau kau yang harus membelinya,
kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran
seorang Ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang
perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa
terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar
karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. โ€œKau mau apa?โ€
semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas melompat ke
arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher dan mencium Ayah,
tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat,
kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang
bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan
kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa
takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah
lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca โ€” ini
adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti
Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu
banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari
tahun-tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati
mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit
luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur
masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada
masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu
dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan
mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau
terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan
bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan
tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata
tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata
ini seolah-olah sebuah ritual: โ€œDia cuma seorang anak kecil โ€” anak
lelaki kecil!

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat
Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam
tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau
masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah
meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

disadur dari buku psikologi populer

march 18, 2010

 

nb: sahabat saya itu juga sudah buat notes ini di facebooknya dan juga postingan tulisan ini di blog pribadinya. hehehe…copas nggak papa kan yak?? pasti ekspresi sahabat saya itu setelah membaca tulisan ini adalah……csenyum-senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala nggak jelas ๐Ÿ˜€. oya, judul buku nya Influence, karya Dale Carnegie (kalo gak salah sih tulisannya gini.

Cerita Antara Naga dan Kebo #1


Penting nggak penting…yang penting ngeblog :p

Kepala pusing setelah tadi tidur di jam yang salah (jam 5-6 sore). Dan sekarang mau belajar buat UTS mikroekonomi yang entah-kapan-UTS-nya, kepala sudah maen pusing aja.

OK. Perkenalkan mas saya yang ganteng kayak bocah, sok lucu, sok imut dan garing kalo ngelucu bernama Genzy Habibie, biasa dipanggil Genzy (yang lazim), Nzy, Nji, Gegen, Gendhut, Buncit, Cit, Ndhundhut (lima nama yang terakhir ini cuma saya yang manggil). Ehm…kali ini sekalian aja sebut namanya biar sekali-sekali nongol di blognya orang cantik, pasti langsung girang :). Orang Minang yang kulitnya lebih putih dari saya ini, hobinya (mungkin) cuma makan, dan sedikit ngutak-atik komputer yang merupakan istri keduanya. Lahir di Padang, tapi besar di Batam. Anak tunggal yang tidak punya kakak dan adik ( dan saya yang jadi adeknya ๐Ÿ˜€ ). Kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) angkatan 51 (sama lah ya dengan saya) di jurusan Komputasi Statistik.

Mas saya itu gimana ya?? yah seperti itulah orangnya. Rambut ikal, jidat lebar, badan nggak tinggi, kulit putih, gigi taring sebelah kiri keluar, dan berperut buncit kayak orang hamil 3 bulan. Orangnya kocak, susah serius, dan paling nyebelin adalah kalo dia sudah ngantuk (tanya apa dijawab apa, ngalor ngidul ).Tapi……saya nyaman dekat dengan dia. Mungkin karena sama-sama kayak bocah kali yak ๐Ÿ˜€

Kami nggak pernah sekelas. Dulu juga jarang ketemu. Dan….akrab aja nggak loh T.T

Pasti kalian pada bertanya-tanya, kok bisa jadian? Hahaha….ada deh ya. Kami dekat ketika tingkat 2 (semester 4) mau berakhir. Dekatnya juga cuma lewat dunia maya aja, ketemu juga jarang nyapa. Emang sih, pada dasarnya kan emang saya orangnya lugu, lucu dan pemalu :D. Eh, trus deket resminya kapan? ada deh yaaaaaaaa…….hanya untuk konsumsi pribadi, uuuuuu (gayanya kayak artis dimintain tanda tangan).

Entah sejak kapan, dia punya nama lain seperti NAGA. Alasannya pasti cuma satu, hobi makannya yang sering seporsi kuli. Namanya bisa jadi naga lapar, naga buncit, naga ngakak, naga apa lagi ya?? *mikir. Dan juga entah sejak kapan nama saya jadi ada embel-embelnya KEBO. Mentang-mentang hobi saya tidur dengan cantik dan anggun, jadi gitu ya manggilnya *manyun, pasang tampang polos kayak bayi ๐Ÿ˜

nih nih nih……pamer dikit ah. fotonya naga dan kebo waktu lagi akur ๐Ÿ˜€

kalo lagi galau level manula

Tampangnya me**m

Jidatnya lebar..........

Saya cantik dan mas saya .....

Tampangnya mas saya kayak bocah :p

Tuh kan bocah lagi :p

Dan dia lebih putih ๐Ÿ˜ฆ

Catatan Mahasiswi Kura-Kura #3


Sama seperti tulisan saya yang tengah malam tadi saya post, nggak seratus persen sama, tapi mirip lah ya.

Bangun pagi—lihat jam—jam 09.20. Bangun karena “diganggu” sms oleh makhluk hidup yang ganteng. Sms an sampe jam 12 siang lebih—masih dengan posisi sama seperti ketika membuka mata untuk melihat dunia di pagi ini : ngulet dengan indah di kasur sambil mlungker dengan anggunnya di dalam selimut ijo hore. Beranjak dari kasur karena lapar. Buka gudang makanan, masak mie instan dan minum susu coklat panas. Mandi pagi yang sangat kesiangan biar bisa two in one mandinya biar seger. Nyuci baju dikit, begitu sampe di tempat jemuran terbengong-bengong. Mau ditaruh mana calon jemuran saya ini? Semua tali jemuran sudah full dengan aneka macam jemuran manusia-manusia penghuni rumah. Dan kemudian saya mikir………………………………….TARA!!!!!!! Akhirnya, dengan kekuatan seribu planet upil raksasa melawan negara api, calon jemuran saya terpaksa saya jejel-jejelkan diantara jemuran-jemuran yang masih basah sah sah sah. *terpaksa gais

Melihat buku mikroekonominya Pindyck edisi 6 dan 7, plus buku catatan mikroekonomi yang tergeletak pasrah di atas meja, saya jadi tersentuh untuk membukanya. Baiklah. Niat sudah dimulai. Ini adalah awal yang baik mengingat Jum’at minggu ini saya UTS Mikroekonomi (HARI GINI MASIH UTS? ah sudahlah….diam lebih baik daripada saya gampar). Eh, tapi bentar. Buka lepi dulu deh, online bentar. Siapa tau ada cowok ganteng yang online trus ngajakin chat. Dan ternyata benar ๐Ÿ˜€ *girang. Asek asek asek….padahal juga barusan bangun tidur udah smsan. Lanjut ah chatnya…

Sekarang sudah jam berapa???????????? *teriak ala penyanyi dangdut yang ngajakin penonton goyang waktu pentas

Oh, sudah jam 3 sore. APA??? Jam 3 sore??? kok saya sudah ngantuk lagi ya???

Tolonglah….apa salah dan dosaku. kenapa hobi ngebo saya ini menjadi-jadi di tengah-tengah kegalauan mahasiswa yang lain pada sibuk untuk tugas-tugas dan PKL?? hiks hiks hiks hiks…..apakah karena cuaca Jakarta yang sangat memanjakan penghuninya di saat weekend seperti ini? Mungkinkah singgasana saya perlu diruwat karena banyak setan pengganggu saya untuk terus ngebo? Mengapa harus mahasiswi kura-kura seperti saya yang harus terkenaย  hobi terkutuk tapi menyenangkan seperti ini?

Ya sudahlah. Mari tidur. MANFAATKAN WAKTU UNTUK TIDUR SELAMA MASIH BISA TIDUR.

*baca niat dalam hati : Ya Allah, nanti malam saya janji deh begadang, buat belajar mikroekonomi tercinta. HELP ME YA. amien ๐Ÿ™‚

Jeda


Aku mencintaimu dengan caraku sendiri, kamu tidak paham? karena kamu laki-laki dan aku perempuan, mungkin.

Aku menyayangimu dengan caraku sendiri, kamu merasa aneh? karena kamu begini dan aku begitu, mungkin.

Aku menyukaimu dengan caraku sendiri, kamu tidak sadar? karena tertawamu itu juga tertawaku, mungkin.

Aku mengatakan hal yang jujur, kamu kaget? karena aku tidak suka kamu terlarut dengan sikapmu yang demikian, mungkin.

mungkin….

mungkin….

mungkin….

dan mungkin….

jeda sepertinya tidak bisa mengistirahatkan perjalanan kita

aku

kamu

terlalu disayangkan saat harus berdiam.

Katakan padaku, apa yang seharusnya bagaimana.

Dan aku akan mengatakan padamu, apa yang seharusnya bagaimana.

 

Jakarta, 29 Desember 2011

ketika suatu keegoisan bertemu dengan ketidakpahaman

Barangkali Cinta


Barangkali cinta

Jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu

dan engkau beriak karenanya

darahku dan darahmu terkunci dalam nadi yang berbeda

Namun berpadu dalam badai yang sama

Barangkali cinta

Jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku

dan aku terbakar karenanya

Napasmu dan napasku bangkit dari rongga dada yang berbeda

Namun lebur dalam bara yang satu

Barangkali cinta

Jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu

dan engkau memahamiku seketika

Kulitmu dan kulitku

membalut dua tubuh yang berbeda

Namun berbagi bahasa yang serupa

Barangkali cinta

Jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa

dan aku dapati rumah yang ku cari

Matamu dan mataku

tersimpan dalam kelopak yang terpisah

Namun bertemu di jalan setapak yang searah

Barangkali cinta

Karena darahku, napasku, kulitku, dan tatap mataku

Kehilangan semua makna dan gunanya

Jika tak ada engkau di seberang sana

Barangkali cinta

Karena darahmu, napasmu, kulitmu dan tatap matamu

Kehilangan semua perjalanan dan tujuan

Jika tak ada aku di seberang sini

Pastilah cinta

Yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan

Untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu

Dan menjembatani semuanya

Demi memahami dirinya sendiri.

 

Madre

Dewi Lestari