Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 2 #2)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

15.00-16.30

Setelah oleh-oleh yang kami beli kami rasa cukup serta cuaca yang mendung-mendung gerimis syahdu, maka kami memutuskan untuk sholat di Masjid Jamae yang masih ada di sekitar Chinatown. Masjidnya sudah cukup tua, tapi terawat. Saya nggak tau sih tuaan mana antara Masjid Jamae dengan Sri Maryaman Temple yang letaknya bersebelahan.

Halamn depan Masjid Jamae

Halamn depan Masjid Jamae

Di Masjid Jamae, saya leyeh-leyeh bentar di serambinya sambil beli air minum  kemasan di vending machine. Di dalam masjid, sepertinya sedang ada study tour dari murid-murid SD dengan guru mereka. Saya tau ini dari sepatu-sepatu kecil yang berjejer rapi di teras masjid sebelum batas suci. Saya cukup kaget ketika melihat mereka keluar dengan tertib dan saya nggak yakin sebagian besar mereka muslim. Melihat saya dan suami yang duduk di depan masjid, mereka tersenyum kepada saya. Beberapa anak di belakang rombongan yang sudah bergerak meninggalkan masjid, kesulitan ingin membeli air minum di vending machine. Saya pun sukarela mengajari membantu mereka, sebagai imbalannya mereka bilang “Thank you, Miss” sambil senyum manis. Senangnyaaaa 🙂

Papan informasi

Papan informasi

Saya melihat ada perbedaan antara Masjid Jamae ini dengan beberapa masjid di Indonesia yang sama-sama dijadikan sebagai tempat bersejarah, bukan saja sebagai tempat ibadah. Di Indonesia, saya belum menemui masjid dengan beberapa artikel yang dipajang di kotak kaca yang menarik untuk dibaca dan berisi mengenai seputar dunia Islam. Di Masjid Jamae ini, di Singapura yang mayoritas penduduknya bukan muslim, terpampang artikel-artikel menarik untuk dapat dibaca siapa saja yang berkunjung ke sana karena diletakkan di teras depan di luar area batas suci. Artikelnya pun bermacam-macam, mulai dari mengapa perempuan Islam harus mengenakan jilbab, mengapa umat Islam harus berpuasa, bagaimana pandangan Islam mengenai perempuan dalam dunia politik, dll. Saya melihat, Masjid Jamae ini selain sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat edukasi.

16.30-19.00

Puas saya dan suami beristirahat gratis, kami melanjutkan langkah kami. Tujuan selanjutnya ke Bandara Changi. Kami kesana naik MRT.

Jam-jam segini nih jam-jamnya orang-orang Singapura pulang kerja. Arah orang-orang pulang kerja ini juga ke pinggiran kota, banyak yang searah dengan kami menuju ke Changi. Karena barang bawaan kami yang cukup banyak untuk ukuran orang naik MRT, maka kami sedikit mengalah dengan memilih MRT yang agak akhir saja. Toh MRT di Singapura ini jedanya cuma sebentar dan tepat waktu datangnya. Ditambah lagi, pesawat kami masih jam 23.00. Masih lama. Tenang…

19.00-21.00

Sengaja memang kami datang datang beberapa jam sebelum check in dibuka. Tujuan kami memang ingin keliling-keliling Changi, kan lumayan tuh. Tigerair yang kami naiki ada di Terminal 1, kami langsung menuju Terminal 1 dengan cuma singgah bentar di Terminal 2 dan 3 (lewat doang). Banyak yang cukup seru di terminal 1, tempat leyeh-leyeh sambil males-malesan juga ada.

Kotak telpon merah

Kotak telpon merah

Kami main di pohon sosial. Bentuknya sih layar komputer yang besar dan dibentuk selayaknya pohon. Terus kita ambil foto di alat yang disediakan, pilih pake baju apa dan mau kemana. Terus terbang deh. Lucu. Kami yang ndeso ini terkagum-kagum dengan kerennya.

Pohon sosial

Pohon sosial

Terus ada juga rintik-rintik air yang menari-nari cantik dan teratur, namanya kinetic rain. Saya sempat merekamnya, tapi lupa saya taruh dimana. Bisa dilihat disini deh.

Big Ben Tiruan

Big Ben Tiruan

Tahun baru imlek yang datang sebentar lagi juga turut menyemarakkan suasana bandara. Monyet-monyet emesh (boneka aja sih) dipajang di dalam bandara dengan beberapa bus tingkat dan kios telepon umum khas Kota London. Serasa ada di London deh. Saya jadi ingat teman saya, Erli, yang tergila-gila banget sama London (tapi suka nonton film Korea). Saya ambil beberapa foto dan kirim ke WA dia. Sssstttt, jangan takut susah akses internet di Changi. Wifi gratis bertebaran dimana-mana, PC dengan koneksi cukup stabil dan gratis diakses juga tersedia. Eh tapi, si abang iseng pengen nge-test berapa kecepatan internet di Changi ini dan ditemukanlah sekian.

Boneka monyet lucu

Boneka monyet lucu

Puas kami menikmati suasana bandara yang ih wow banget, kami berdua pun makan malam. Harus kenyang pokoknya, sampai Bangkok tengah malam banget soalnya. Gak lupa isi persediaan air minum di tap water, balada turis hemat. Eh tapi, makan malam kami kali ini yang disponsori dnegan prinsip ‘harus kenyang’ menjadikan kami sedikit boros dalam pengeluaran. Ah gak papa, ini kan hari terakhir di Singapura. Wakwak…

Bus tingkat merah khas London

Bus tingkat merah khas London

Kami juga menukarkan uang di Changi, dari SGD ke THB. Kenapa kami tukar uang? Karena kami nggak jadi naik Singapore Flyer (karena cuaca jelek dan kami lelah dengan takut ketinggian) dan budget yang kami alokasikan untuk airport tax di Changi ternyata gak ada (jaga-jaga aja). Alhasil, kami menukarkan SGD 111,8 kami ke sebuah money changer di sekitar bandara. Hitung-hitung buat tambah uang jajan kami selama di Bangkok.

21.00-23.00

Kami check in di konter kios Tigerair. Kami berdua gak yakin, koper kabin suami ini beratnya kurang dari 7 kg. Maka, kami memutuskan untuk beli bagasi di temoat check in. Hiks….

Sesungguhnya kami berdua terkagum-kagum dengan Self Check In and drop baggage yang sudah diterapkan di Changi. Di Soetta, sebagai bandara terdepan termaju dan ter ter lainnya di Indonesia, rasa-rasanya belum ada saat itu. Ini baru ada di Terminal 3 Ultimate yang baru beroperasi. Padahal ya, sebelumnya kami terpesona dengan sistem silent airport -nya. Duh, ndeso.

Masuk ke ruang tunggu, saya mengalami sedikit diskriminasi oleh petugas. Jadi ceritanya, pas kami masuk, kami berada persis di rombongan siswa-siswa setara anak SMP dari Thailand yang ikut olimpiade di Singapura. Siswi terakhir masuk dan mesin detektor bunyi. Otomatis, saya yang masih berada jauh dan jaga jarak ya nggak maju dong ya. Dia, oleh petugas perempuan yang pake hand detector, disuruh langsung maju terus aja tanpa diperiksa badannya. Giliran saya yang melewati mesin detektor dan sama sekali gak bunyi mesinnya, si pertugas perempuan ini menyuruh saya berhenti dan badan saya diperiksa pake hand detector dia. Ya nggak bunyi lah. Saya curiga, apa karena cuma saya yang pake jilbab terus diginiin? Mesin detektornya lho nggak bunyi, kenapa si ibu petugas meriksa saya lagi? Kenapa di si adek yang bunyi nggak diperiksa?

Cerita selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s