Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 1 #2)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

12.00-13.45

Selepas dari Henderson Waves Bridge, kami berdua balik lagi ke Vivocity. Kami mau naik MRT ke Chinatown. Karena saya nggak punya EZ-link card, maka saya beli 2 kartu Singapore Tourist Pass (STP) yang berlaku untuk 2 hari (@ SGD 26, termasuk deposit yang nanti akan dikembalikan di akhir SGD 10 per kartu). Tenang, jalur MRT di Singapura lebih jelas dan gamblang dibandingkan jalur bus nya (yang meski jelas dan tepat waktu tapi tetap aja pusing karena banyak jalur).Dengan STP ini, gratis naik MRT dan bus sepuas-puasnya selama kartunya belum kadaluarsa. Hohoho…..

Sampailah kami di Chinatown. Tahun 2014 awal kami pernah ke Singapura dan sedikit banyak tau tentang Stasiun MRT di Chinatown ini. Nah, sekarang ini -2 tahun kemudian- tampilan stasiunnya banyak berubah. Kami yang kaget dengan tampilan barunya celingak-celinguk dong lihat peta.

Sudut jalan di Chinatown

Sudut jalan di Chinatown

Disaat kami sedang asik mengamati peta dan menerka-nerka nanti dimana kami harus keluar, datanglah petugas stasiun yang sudah berumur setengah baya. Dengan ramah, petugas tersebut menyapa kami dan dengan sopan meminta kami untuk membuka isi tas ransel yang kami bawa. Fyi, tas kami cukup banyak waktu itu. 2 tas ransel yang kami bawa masing-masing, 1 tas kamera, 1 tas kecil dan 1 koper kabin. Karena memintanya dengan ramah sambil senyum, ya kami nggak keberatan. Petugas tersebut juga bilang, ini sekedar random cek aja. Tapi, saya kok curiganya karena tas kami yang cukup gede ya untuk barang 2 orang. Haha….

Nggak ada masalah setelah pemeriksaan tas oleh petugas stasiun. Kami pun melanjutkan langkah kami ke kedai milik orang India (atau orang Arab ya? India deh kayaknya) yang menjual nasi briyani di dekat Masjid Jamae Chinatown dan dekat pula dengan hostel tempat kami akan menginap nanti.

13.45-14.00

Urusan makan selesai, lanjut check in. Jangan kaget kalo baru pertama kali nginep di hostel dan ditarikin uang deposit, ini untuk jaga-jaga kalo kita merusakkan barang-barang hostel. Nantinya, uang deposit ini akan dikembalikan kok (kalo kita nggak ngerusak) pas kita check out. Deposit hotel yang kmai keluarkan sekitar SGD 10. Fyi, kami menginap di Backpakers Inn Chinatown.

14.00-17.00

Kami leyeh-leyeh santae di hostel. Lelah dan tidur siang dulu, soalnya tadi bangun pagi bener buat ngejar feri. Hahaha….

17.00-19.00

Kami keluar hostel. Tujuan kami ke Raffles Landing Site. Lumayan nyaman lho berada di area itu. Sungainya bersih, taman-tamannya juga. Kami menikmati pemandangan sore di situ sambil jajan es krim uncle yang harganya naik menjadi SGD 1,2. Hiks…

Salah satu daerah dekat Raffles Landing Site

Salah satu daerah dekat Raffles Landing Site

Enak es krim nya Bang ?

Enak es krim nya Bang ?

Dari Raffles Place itu, kami berjalan kaki menuju ke sekitar patung Merlion. Kami urung turun sampai ke bawah di depan patung Merlionnya, pengunjung berjubel banyak banget kayak cendol di sekitar es dawet. Jadilah kami duduk-duduk di taman dekat jalan raya sambil ngobrolin ERP (Electronis Road Piercing) yang sudah diterapkan di Singapura. Kabarnya, ERP juga akan diterapkan di jalan protokol Jakarta. Tapi entahlah, sampai awal 2017 ini ERP di Jakarta (sepertinya) belum diterapkan.

Pakde Raffles

Pakde Raffles

Bosan nongkrong, kami jalan santae dari sekitar patung merlion ke Esplanade. Lumayan jauh sih, tapi seneng aja gitu. Saya suka dengan transportasi jalan raya di Singapura. Tertib, teratur dan rapi. Sampai di sekitar Esplanade, kami menuju halte bus terdekat. Sekarang giliran suami yang bertugas membaca jalur bus. Tujuan kami selanjutnya ke daerah Orchard, kami mau tukar Rupiah ke THB di Lucky Plaza.

Becak tradisional di Singapura

Becak tradisional di Singapura

Orang apa cendol ?

Orang apa cendol ?

19.00-21.00

Untuk urusan naik bus apa dari halte bus dekat Esplanade ke Orchard, jangan tanya saya ya. Saya nggak tau dan lupa mencatat nomor bus nya. Maaf :).

Kawasan Orchard itu cukup luas. Benar memang kami turun di daerah Orchard, tapi sampe sana kami bingung kalo ke Lucky Plaza lewat mana. Kami pernah ke sana sebelumnya, tapi naik MRT. Jelas beda dong ya turun dari MRT dan bus. Haha…

Selfi dulu pas naik bus

Selfi dulu pas naik bus

Celingak-celinguk, kesana kemari nyari gratisan sinyal wifi. Sial, nggak ketemu. Beruntung kami bertemu dengan mbak-mbak kantoran (yang mungkin kasian ngeliat kami mukanya udah muka bingung dan lelah) yang berbaik hati menunjukkan lewat jalur mana kalo mau ke Lucky Plaza. Alhamdulillah…..dengan petunjuk dari si mbak kami sampai :D.

Hal pertama yang kami lakukan, tentu saja tukar duit. Kami tukar duit ke salah satu konter resmi penukaran uang. Cukup banyak sih konternya. Saya milih yang rame aja, soalnya kemungkinan yang rame ini nih rate nya bagus gitu. Haha.. Kalo masih punya energi dan gampang mengingat rate per konter, nggak ada salahnya kok pura-pura jalan sambil ngeliat rate yang biasanya dipampang di layar depan konter.

Papan peringatan

Papan peringatan

Selesai tukar uang, perut kami lapar. Dari hasil browsing sana-sini, Lucky Plaza terkenal sebagai mall-nya orang Indonesia di Singapura. Iseng aja kami muter nyari makan. Sampailah kami ke bebek goreng Pak Ndut yang lokasinya berdekatan dengan Ayam Penyet Ria. Kayaknya harganya gak mahal deh (maklum, budget kami mepet), kami berani-beraniin masuk. Haha…

Harga bebek gorengnya cukup mahal menurut saya, ya iyalah kalo dibandingin sama di Indonesia. Tapi seriusan, enakkkkk. Harganya seporsi sekitar SGD 7 atau 8 ya, saya agak lupa. Lengkap dengan nasi, sambel yang super pedes dan tahu sutra khas daerah Melayu yang endessss (soalnya di Batam tahunya juga sejenis tahu yang enak ini). Penampakannya lihat disini.

Puas kami makan, kami pulang. Sebenarnya agenda selanjutnya adalah nongkrong di Clark Quay, menikmati malam sambil romantis-romantisan gitu. Apalah daya, saya yang sehari sebelumnya tumbang masih belum sehat betul malam itu untuk tidur larut. Jadilah kami pulang ke hostel. Dan mencoba naik bus. Suami tambah seneng pas dapat bus tingkat. Haha… Maklum lah, dia jarang naik bus tingkat. Dari bus tingkat pula, masih kata suami, bisa lihat pemandangan dan lalu lintas. Ya diiyain aja deh, saya mah ngikut. Aku padamu wis.

Suasana Chinatown di malam hari

Suasana Chinatown di malam hari

Rincian pengeluaran hari pertama :

  • Kapal Feri Rp 500.000
  • Makan Rp 38.000 (sarapan beli di Batam) + SGD 36,95
  • STP SGD 52
  • Deposit hotel SGD 10

Cerita selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s