Backpaker Tiga Negara : Singapura-Malaysia-Thailand (Day 1 #1)


Cerita ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya. Tapi karena postingan sebelumnya itu tentang acara pernikahan saya, jadinya postingan lanjutan ini saya ganti judul ya.

Nah, ini sebenarnya honeymoon saya dan suami sih. Jadi, agak nggak tepat juga kalo dibilang backpaker. Secara saya dan suami nginep di hostel yang bukan sharing kamar, terus kesana-kemari naik pesawat (dan taksi sesekali). Tapi kalo non backpaker ya nggak juga, lha kami lho nggembel kemana-mana tanpa ikut tour and travel. Haha…

Rute traveling saya dan suami : Batam-Singapura-Bangkok-Kuala Lumpur-Jakarta.

Lanjut ya, saya mulai dari hal paling krusial dalam travelling : budget. Beberapa harganya masih ada di catatan saya, yang lain lagi saya estimasi aja ya soalnya udah agak lupa. Penginapan sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya, begitu juga sama tiket pesawat. Saya pesan di traveloka, jadi bayarnya semua dalam rupiah. Rincian hotel sebagai berikut : Singapura –> nginap di Chinatown 1 malam, Rp 600.000, Bangkok –> nginap di kawasan Khaosan Road 3 malam, total Rp 900.000 dan Kuala Lumpur –> nginap di Chinatown 3 malam, total Rp 750.000. Semua hotel yang saya pesan untuk 1 kamar 2 orang ya. Untuk transportasi, saya menggunakan kapal feri dan pesawat. Start saya dari Batam, kapal feri dari Batam ke Singapura Rp 500.000 untuk 2 orang. Pesawat dari Singapura ke Bangkok saya pakai Jetstar, sekitar Rp 1.600.000 untuk 2 orang. Pesawat dari Bangkok ke Kuala Lumpur saya pakai Malindo, sekitar Rp 1.600.000 untuk 2 orang. Dan dari Kuala Lumpur-Jakarta saya pakai Lion, sekitar Rp 1.200.000 untuk 2 orang. Jadi, jika ditotal, budget awal sebelum saya berangkat untuk transportasi dan hotel adalah sekitar Rp 6.650.000.

Suasana pagi di pelabuhan Batam Center

Suasana pagi di pelabuhan Batam Center

Sekarang, masalah uang yang dibawa untu jalan. Saya tukar uang di Batam untuk SGD (Singapore Dollar), MYR (Malaysia Ringgit) dan THB (Thailand Baht). Jangan lupakan IDR dan USD, selalu sedia dalam dompet (saya sih sedia USD karena kurs nya yang cukup stabil kalo ditukar kemana-mana). Oya, saya juga nukar beberapa Rupiah ke THB di Singapura karena waktu itu persediaan THB di Batam sedang menipis. Yang saya tulis disini pengeluaran total yang saya catat berdasarkan kurs setempat : Rp 700.000, SGD 400, MYR 3.250 dan THB 9.606. Kalau dirupiahkan, semua totalnya sekitar Rp 10.400.000. Total dengan akomodasi, hotel dan lain-lain adalah sekitar Rp 17.050.000. Untuk 2 orang ya. Terhitung cukup mahal, ya gitulah alasannya seperti di atas.

Oke, mari kita mulai jalan-jalannya ya.

06.00 WIB.

Posisi saya dan suami sedang ada di Batam setelah selesai acara resepsi yang kedua. Kami menginap di Asrama Haji di daerah dekat Mega Mall Batam. Jadi, dari penginapan ke pelabuhan feri Batam Center ya tinggal jalan kaki aja udah nyampe. Sengaja kami memilih feri yang berangkat pagi-pagi buta dengan harapan masih cukup sepi. Waktu itu sih lumayan sepi ya, tapi nggak sepi-sepi amat.

08.00 Waktu Singapura.

Waktu Singapura sejam lebih awal dengan WIB, jadi perjalanan yang hanya sekitar 1 jam menjadi seolah-olah 2 jam. Memasuki imigrasi Singapura via Harbour Front (nama pelabuhan di Singapura yang jadi tempat sandaran kapal dari Indonesia) itu dilakukan seperti warga dunia ketiga, serius. Boro-boro senyum, petugasnya aja galak-galak banget. Maklum sih ya, kata suami sih itu karena Singapura ini sudah sering direpotkan sama orang Indonesia (kebanyakan masuk via Batam-Harbour Front ini) yang tujuan awalnya cuma jalan-jalan terus berakhir pada bekerja serabutan.

Welcome

Welcome

08.00-08.30.

Ngurusin administrasi masuk ke Singapura dan leyeh-leyeh melepas lelah di Vivocity. Fyi, Vivocity ini mall yang menyatu dengan MRT dan pelabuhan Harbour Front sekaligus nyambung dengan Resort World Sentosa (sebutlah Sentosa aja ya, kepanjangan namanya). Kami beli roti buat sarapan, harga rotinya gak sampe SGD 10 buat 2 orang. Oya, budget makan untuk kami berdua per orang sekali makan di Singapura ini adalah sebesar SGD 10. Jadi, maksimal uang kami habis sekitar SGD 60 untuk makan berdua. Tenang, ini masih sisa. Makannya ya makan seadanya ya, di fast food atau rumah makan biasa, janga di tempat mewah :p.

08.30-10.30.

Kami ke Sentosa jalan kaki. Serius, ini seru. Di sepanjang Sentosa Boardwalk atau papan jalannya Sentosa, ada boardwalk machine atau bahasa ndesonya papan berbentuk semacam eskalator yang jalan di tempat datar. Kami berdua yang malas jalan mah hanya leyeh-leyeh aja di jalur pinggir sambil ngeliatin bule-bule yang seneng bener udah di boardwalk masih aja jalan cepet. Haha…

Mejeng dulu di depan boardwalk sentosa

Mejeng dulu di depan boardwalk sentosa

Kami udah pernah ke Sentosa sebelumnya, cuma waktu itu kami naik kereta. Ada beberapa keuntungan yang kami dapat dengan memilih jalur jalan kaki ini. Pertama, gratis. Awalnya sih saya baca-baca dari berbagai blog kalo masuk Sentosa lewat jalan kaki ini bayar SGD 1, cuma pas saya ke sana udah gratis tis tis tis. Kedua, ada 2 opsi bagi yang malas dan suka jalan kaki. Kalo kamu malas jalan bisa leyeh-leyeh manja di boardwalk dan jalan bentar-bentar terus sampai. Kalo kamu suka jalan kaki bisa jalan di papan kayu di sepanjang area pejalan kaki yang cukup nyaman, ada ruang terbukanya dan ada yang tertutup. Tenang, yang tertutup cuma atap aja kok, jadi masih bisa lihat pemandangan di sekeliling. Ketiga, bisa berhenti foto-foto di spot yang artistik di sepanjang area pejalan kaki.

Boardwalk Sentosa

Boardwalk Sentosa

Yang kami lakukan di Sentosa adalah……foto-foto. Sengaja kami nggak masuk, mahal coi. Setelah puas, ya kami balik badan lanjut lagi jalan kaki. Haha.

Mejeng di tempat hits

Mejeng di tempat hits

10.30-12.00.

Tujuan kami selanjutnya ke Henderson Waves Bridge atau Jembatan Henderson. Jembatannya unik dan artistik lho menurut saya, bentuknya seperti ombak yang berayun. Lokasinya nggak begitu jauh dari Vivocity. Dari Vivocity, harus naik bus 145 (dari Blk 46 turun di Aft Telok Blangah) atau bus 131 (dari Bt Merah Int turun di Blk 54). Naik bus di Singapura ini cukup membuat saya pusing, lebih-lebih saya nggak bisa baca peta. Jalan terbaik ya ajak teman yang pinter baca peta, kalo nggak ya sediain waktu yang cukup buat melototin petanya.

Henderson Waves Bridge dari bawah

Henderson Waves Bridge dari bawah

Sampai di Henderson Waves, cuaca Singapura cukup terik. Di saat orang-orang masih pada olahraga di jam segitu, saya dan suami santae aja jalan kaki sambil foto-foto. Kalo haus ya tinggal isi ulang di tap water (we did it, too). Dari sini, Singapura cukup seru lho dilihat dari tempat yang agak atas. Selain itu, di Henderson Waves juga banyak taman-taman hijau yang enak bener buat bersantai. Memang ya, Singapura ini sukses menjadikan sebuah kota di dalam taman, bukan lagi sebuah taman di dalam kota.

Penampakan Henderson Waves Bridge

Penampakan Henderson Waves Bridge

Henderson Waves dan Pemandangan

Henderson Waves dan Pemandangan

Singapura dilihat dari atas Jembatan

Singapura dilihat dari atas Jembatan

Cerita selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s