Catatan Pengantin Baru Part #6


Cerita sebelumnya.

Hari Kamis, 21 Januari 2016, seminggu setelah bom Thamrin.

Saya, suami, dan mama papa saya berangkat menuju Kota Batam. Mama dan Papa mertua berencana mengadakan pesta kecil-kecilan disana. Kami berempat berangkat dari Bandara Adi Soemarmo, Solo. Ini pertama kalinya mama papa saya naik pesawat. Agak-agak takut juga saya nanti kalau-kalau mama papa saya mabuk udara atau gimana. Alhamdulillah, kami berempat landing dengan selamat di Hang Nadim, Batam. Pusing-pusing dikit wajarlah, cuaca Bulan Januari seperti biasanya.

Foto di depan tulisan hits

Foto di depan tulisan hits

Kami menginap di Asrama Haji, daerah dekat pusat kotanya Kota Batam. Dari sana bisa terlihat tulisan ‘Welcome to Batam’ yang ala-ala Hollywood itu, Masjid Raya, alun-alun kota dan salah satu pelabuhan penyeberangan ke Singapura. Sore hingga malam hari kami habiskan dengan berjalan-jalan menyusuri kota, sekalian beramah tamah dengan keluarga dari suami.

Di depan alun-alun kota

Di depan alun-alun kota

Hari kedua, kami menuju ke Jembatan Barelang. Hanya sampai jembatan 1 aja sih, soalnya kami nggak boleh capek-capek. Fyi, saya dan suami akan didandani dan dipajang (lagi) besok. Mama papa nggak lupa dong ya foto-foto selfie di Jembatan Barelang. Biar nggak kalah hits sama anak muda, hahaha….

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Di Jembatan Barelang

Sore harinya, salah seorang adik saya turun di Hang Nadim. Dan salah satu yang lainnya ngambek nggak bisa ikut acara resepsi di Batam karena masih kuliah. Yang bisa ikut ke Batam Kiko, dan repotnya kami juga harus ngurusin si Monik yang ngambek pengen ke Batam juga. Ah elah….

Malam hari, kami fitting baju pengantin sekalian baju untuk orang tua. Mama dan papa mertua nggak mau repot-repot ngurusin pesta, jadi semua diserahin ke gedung dan  semacam wedding organizer deh. Baju saya udah OK, baju si abang kegedean (dan si penyewanya kekeuh nggak mau ngecilin, rrrrr), sandal si abang OK, sandal saya enggak (aaaaarrrrgggghhhhh). Gini nih, derita badan suami nggak begitu tinggi dan kaki saya yang panjangnya melebihi rata-rata. Mana tinggal besok lagi acaranya :(.

Jangan perhatiin kaki

Jangan perhatiin kaki

Saya nggak mau dipusingkan dengan segala macam keributan kecil-kecil. Que sera-sera aja lah, whatever will be will be.

Pagi harinya, MuA datang on time sesuai jadwal. Kebetulan, tempat resepsi dan tempat saya menginal masih satu area. Resepsi diselenggarakan di Aula Asrama Haji. Saya dan si abang belum sarapan, kami hanya makan ringan sebelum pesta. Nah, ini nih cikal bakal saya sakit (kayaknya).

OK, muka sakit saya tersamarkan

OK, muka sakit saya tersamarkan

Sesuai kesepakatan awal, saya mau pakai suntiang yang paling ringan. OK. Suntiang yang paling ringan beratnya 1,5 Kg. Kata si abang “Ringan itu, sama kayak adek pake helm.” Berbekal pengetahuan yang saya dapat dari abang, saya pun mengiyakan. Tak disangka, beban yang diterima di kepala saya lebih-lebih. Jilbab model yang cukup ketat dan masih harus menyunggi (apa sih istilahnya membawa beban di kepala?) suntiang, plus cuma makan dikit. Gjkgjkgjk….

Alis Sinchan

Alis Sinchan

Mbak MuA-nya pun bikin saya emosi. Di Sukoharjo, alis saya memang nggak saya apa-apain. Nggak dirapiin ataupun dicukur, udahlah dibiarin aja gitu. MuA di Sukoharjo udah paham dan nggak mempermasalahkan alis ini. Dihias juga masih bagus kok alis saya, hanya jangan di zoom in aja. Eh ini, mbak MuA di Batam ini, pake nyinyirin alis saya yang masih natural. Inilah itulah, kan bikin bete. Yakan yakan yakan. Alis-alis saya, suka-suka saya dong. Gjkgjkgjk…….

Selesai didandanin, saya pun dipakaiin suntiang. OK lah, sepuluh menit pertama masih baik-baik aja. Tibalah saya keluar kamar rias, memakai sepatu dan olalaaaaaaaaaa……………sepatu saya kekecilan!!!!! Sepatu yang saya pakai hak-nya runcing. Bisa dibayangkan kan betapa kaki saya sebagai penopang tubuh ini dipakein sepatu ber-hak runcing dan kekecilan?!

Jalan pelan-pelan, masih bisa senyum. Mendadak, sekitar 15 menit setelah saya pakai suntiang, kepala saya seperti dicengkeram keras banget. Saya pun terhuyung. Nggak sampai jatuh karena dipegangin suami. Tapi, saya nggak kuat dengan pusingnya. Dari awal sebenarnya saya udah bilang, saya punya penyakit vertigo yang sering kambuh kalo terlalu lama pake helm. Rrrrrrrrrr………

Saya udah nggak peduli lagi dengan make up saya, saya sampai nangis saking nggak kuatnya nahan pusing. Pusing kombo yang saya rasakan ini hebat banget lho. Ya kalo nggak pernah ngerasain sakitnya sih ya terserah aja ya, tapi saya ogah banget deh kayak gitu lagi.

Pelan-pelan saya dituntun ke panggung utama. Masih tetap nahan pusing. Saya menegakkan kepala setengah mati. Hanya bisa duduk sambil sesekali air mata saya netes, saya emang kalo lagi sakit sukanya nangis mulu (rrrrrrrrrrr). Disuruh berdiri pas udah duduk di kursi pelaminan, saya nggak kuat. Semua orang panik, bahkan ada yang berpikiran saya dihuna-guna orang lain. Suasana tambah runyam ketika para tamu udah mulai datang. Pusing saya cukup terobati (sedikit banget) setelah saya minum teh manis hangat.

Masih belum bisa berdiri

Masih belum bisa berdiri

Alhamdulilllah, udah bisa berdiri. Senyum, sesekali menolehkan kepala. Para keluarga lega. Sementara acara berjalan lancar.

Menjelang akhir, sakit kepala yang saya rasakan menjadi-jadi lagi. Saya udah mewek lagi, nggak kuat. 1,5 jam saya duduk di panggung, saya nekat minta balik ke ruang rias. Tujuan utama dan pertama : melepas suntiang.

PLONG rasanya setelah suntiang dilepas, walaupun kepala saya masih nyut-nyutan. Badan saya lemes, mulut pait, dan pandangan muter-muter. Saya pun disuruh tidur aja, sementara suami dan keluarga masih menyalami tamu di luar.

The best photo of that day

The best photo of that day

Setelah tidur setengah jam, pusing saya sedikit berkurang. Saya pun ke gedung depan, nggak enak masih ada beberapa tamu. Semua senang saya udah enakan. Tapi, rasa-rasanya saya perlu obat dokter deh.

Sore harinya, saya ke dokter klinik diantar keluarga. Tensi saya (yang biasanya emang udah rendah) cukup rendah saat itu. Setelah dikasih obat, pusing saya agak berkurang.

Nyesel sih saya, pas resepsi malah sakit. Padahal, hari-hari sebelumnya saya udah menjaga diri biar nggak kecapekan lho. Makan minum bergizi, istirahat cukup. Yah, mau gimana lagi. Semoga nggak mengecewakan banyak pihak lah.

Foto bersama keluarga besar

Foto bersama keluarga besar

Lanjutan tulisan ada di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s