Pariwisata NTT : Antara Potensi dan Promosi


        Saya seorang alumni sekolah kedinasan dan sudah dua tahun ini ditempatkan bekerja di NTT. Seringkali saya ikut turun ke lapangan jika ada survei ataupun sensus yang mengharuskan saya mengawasi kerja petugas. Wilayah tugas tidak pandang bulu, kota-desa, pantai-gunung, menyebrang sungai-pinggir laut sampai melewati hutan hujan-padang sabana tandus pun pernah saya lalui. Dua tahun saya terkesan dengan NTT, sekaligus miris melihat kondisi masyarakat yang saya temui. Keelokan alam yang dimiliki NTT seperti sepaket dengan kekeringan, minimnya fasilitas kesehatan, minimnya fasilitas air bersih, gizi buruk dan sejenisnya.

        NTT sudah banyak dikenal masyarakat sebagai salah satu provinsi dengan pendatapan per kapita yang rendah. Badan Pusat Statistik mencatat pendapatan per kapita NTT di tahun 2015 hanya sekitar 14,928 juta rupiah, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan per kapita nasional yang sebesar 45,176 juta rupiah. Sampai di sini saya berpikir, apakah benar potensi alamnya belum diberdayakan? Sebegitu parahkah keterbatasan yang dimiliki? Sebegitu minimkah sumber pendapatan di sini? Atau mungkin masyarakatnya sendiri yang masih nyaman dengan segala keterbatasan?

        Di tahun 2011, pemerintah melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) telah merancang tema pembangunan di Indonesia. Dari 6 koridor ekonomi yang ditetapkan, NTT bersama dengan NTB dan Bali berada dalam koridor ekonomi dengan pengembangan di bidang pariwisata, perikanan dan peternakan. Saya ambil satu tema yang menarik, pariwisata. Mengingat keterbatasan data yang saya miliki, riset kecil-kecilan ini saya batasi hanya di NTT.

        Geliat pariwisata di Bali sudah tidak diragukan lagi. Ikon wisata sebagai Pulau Dewata sudah tersemat di Bali sejak tahun 1980-an. Kelengkapan tujuan wisata yang dimiliki menjadikan Bali sebagai primadonanya pariwisata Indonesia hingga saat ini. Dengan semakin ramainya Bali, agaknya NTB sebagai provinsi tetangganya menjadi tujuan alternatif wisatawan. Tidak mau kalah dengan Bali, NTB mengusung konsep Wisata Halal di Indonesia. Ini menarik dan potensial untuk dikembangkan, mengingat penganut agama Islam di Indonesia sangat banyak dan baru Aceh serta Sumatera Barat yang berkonsep wisata seperti NTB. Bagaimana dengan NTT? Pada tahun ini, agaknya pemerintah daerah NTT mulai serius mengembangkan pariwisata. Hal ini ditandai dengan ditetapkannya NTT sebagai New Tourism Territory.

        Mari berbicara menggunakan data. Seberapa besar pariwisata ketiga provinsi ini mempengaruhi perkembangan ekonominya? Di mana posisi NTT dibandingkan 2 temannya yang berada dalam koridor ekonomi yang sama?

Distribusi pariwisata terhap PDRB tahun 2010-2015

Distribusi pariwisata terhap PDRB tahun 2010-2015

        Dari grafik di atas bisa dilihat, pariwisata Bali sebagai penyumbang perekonomian (yang dalam hal ini digambarkan dalam PDRB atau Produk Domestrik Regional Bruto) terbanyak dibandingkan NTB dan NTT. Dari tahun 2010 hingga 2015, peranan pariwisata di Bali menduduki 26 persen dari total perekonomian. Dalam rentang waktu yang sama, pariwisata NTB menyumbangkan sekitar 11-14 persen dan NTT hanya menghasilkan sekitar 5 persen. Dari grafik juga terlihat, tren kontribusi pariwisata di Bali dan NTT mengalami kondisi yang stabil, berbeda dengan NTB yang menurun di akhir periode. Selanjutnya, mari kita telaah per provinsi.

Kontribusi Pariwisata Bali terhadap PDRB

Kontribusi Pariwisata Bali terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTB terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTB terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTT terhadap PDRB

Kontribusi pariwisata NTT terhadap PDRB

        Dari ketiga grafik diatas bisa dilihat bagaimana fluktuasi kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian masing-masing provinsi per tahun. Di Bali, meskipun cukup stabil, tetapi dalam 2 tahun terakhir mengalami sedikit penurunan. NTB juga mengalami penurunan di tahun 2015 sekitar 1,7 persen. Sedangkan NTT, meski stabil di angka 5 persen, dalam 4 tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Apakah ini artinya pariwisata NTB dan Bali menurun dan NTT meningkat? Belum tentu. Bisa jadi ada sektor lain yang meningkat dan lebih mendominasi perekonomian di provinsi tersebut.

        Balik lagi ke fokus utama riset saya, NTT. Gambaran di atas sudah terlihat bagaimana pengaruh pariwisata terhadap perekonomian. Sekarang, saya akan tunjukkan berapa besar perkembangan nilai riil dari sektor ini di NTT.

Perkembangan sektor pariwisata NTT

Perkembangan sektor pariwisata NTT

        Dari grafik terlihat pariwisata NTT meningkat sedikit demi sedikit. Secara riil, nilai sektor ini menghasilkan 240 milyar rupiah pada tahun 2010 meningkat menjadi 318 milyar di tahun 2015. Bagaimana tingkat pertumbuhannya? Mari kita simak grafik di bawah.

Laju pertumbuhan sektor pariwisata di NTT

Laju pertumbuhan sektor pariwisata di NTT

        Grafik laju pertumbuhan di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata di NTT ini tidaklah stabil. Apa artinya? Sektor pariwisata bisa terus meningkat, tetapi terhambat. Apa penyebabnya? Mari kita bahas beberapa faktor berikut.

        NTT mempunyai 458 obyek wisata yang tersebar di 22 kabupaten kota. Obyek wisata yang paling banyak dimiliki adalah obyek wisata yang bertema alam. Obyek ini berjumlah 115 obyek atau sekitar 25 persen dari total obyek wisata NTT. Obyek wisata alam ini beragam, mulai dari padang sabana, hutan lindung, goa maupun perbukitan. Obyek wisata kedua terbanyak yang dimiliki NTT adalah pantai. Pantai di NTT berjumlah 104 buah atau sekitar 22 persen dari total obyek wisata, tidak mengherankan memang mengingat NTT sebagai provinsi kepulauan dengan garis pantai sepanjang +- 5.700 km 1). Berikut saya gambarkan presentase obyek wisata yang ada di NTT.

Persentase obyek wisata di NTT

Persentase obyek wisata di NTT

        Satu hal yang disayangkan, hingga tulisan ini diturunkan, saya belum berhasil mendapatkan data mengenai berapa jumlah obyek wisata yang sudah dikelola secara resmi, berapa jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung hingga berapa pendapatan yang diperoleh dari obyek wisata tersebut. Saya hanya menemui jumlah agregat wisatawan yang berkunjung ke NTT yang dibedakan berdasarkan wisatawan domestik dan manca negara. Perhatikan grafik berikut.

Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di NTT

Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di NTT

        Wisatawan yang mengunjungi NTT menunjukkan tren yang terus bertambah selama 5 tahun terakhir. Wisatawan ini didominasi oleh wisatawan domestik dengan perbandingan sekitar 5 hingga 7 kali lipat dibandingkan dengan wisatawan mancanegara.

     Faktor keberadaan akomodasi penginapan sebagai penunjang kegiatan pariwisata juga mempengaruhi. Akomodasi penginapan yang dimaksud di sini meliputi hotel berbintang, hotel non bintang, hostel, dsb. Selama 6 tahun terakhir, jumlah penambahan akomodasi penginapan di seluruh wilayah NTT tidaklah terlalu besar. Di tahun 2010 ada 259 unit, sedangkan 6 tahun setelahnya yaitu tahun 2015 hanya bertambah sekitar 75 unit saja menjadi 334 unit.

Banyaknya akomodasi penginapan di NTT

Banyaknya akomodasi penginapan di NTT

        Bagaimana dengan nilai TPK-nya? TPK atau tingkat penghunian kamar merupakan perbandingan banyaknya malam kamar yang terpakai dengan banyaknya malam kamar yang tersedia di akomodasi penginapan. Badan Pusat Statistik mengeluarkan angka TPK untuk hotel bintang dan non bintang. Dari grafik di bawah dapat diketahui bahwa TPK hotel bintang di NTT lebih tinggi dibandingkan dengan TPK hotel non bintang. Sayangnya, selama 5 tahun terakhir rata-rata kamar yang dipakai kurang dari setengah kamar yang tersedia, baik hotel bintang maupun non bintang. Artinya, pemanfaatan kamar hotel di NTT baik hotel bintang maupun non bintang masih rendah.

TPK NTT

TPK NTT

        Selain hotel, faktor penentu kelancaran pariwisata adalah moda transportasi. Saya ambil salah satu moda transportasi utama yang banyak digunakan para wisatawan, pesawat udara. NTT merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai jumlah bandara terbanyak ketiga setelah Papua dan Papua Barat 2). Dari 16 bandara yang tersedia di seluruh NTT, hanya 2 bandara yang tidak dibuka untuk umum atau tidak berfungsi. Ringkasnya bisa dikatakan satu bandara bisa untuk melayani penumpang di 2 kabupaten kota. NTT sebagai provinsi kepulauan sebenarnya cukup diuntungkan dengan banyaknya bandara yang tersedia. Frekuensi kunjungan pesawat pun cukup rutin, rata-rata ada sekitar 4 hingga 5 kunjungan pesawat per hari atau sekitar 34 kunjungan pesawat per minggu di setiap bandara pada tahun 2015.

Frekuensi kunjungan pesawat

Frekuensi kunjungan pesawat

        Dari pemaparan di atas, terlihat jelas pariwisata NTT yang potensial ini belum begitu dikembangkan. Beragamnya obyek wisata yang tersedia, kecukupan akomodasi penginapan dan frekuensi kunjungan pesawat yang cukup rutin sebagai moda transportasi utama belum cukup untuk memicu perkembangan pariwisata NTT secara cepat. Apa solusinya? Digital marketing, pemasaran secara digital.

        Kata digital marketing masih terdengar cukup asing bagi sebagian orang. Digital marketing sendiri merupakan bagian dari proses pemasaran yang menggunakan media digital. Banyak bentuk dari digital marketing, mulai dari website, blog, hingga sosial media yang dikembangkan oleh pemerintah (official social media) seperti fanspage di Facebook, Twitter  maupun Instagram. Tarifnya pun bervariasi, dari yang gratis hingga berbayar. Siapapun bisa melakukan digital marketing ini, mulai dari perseorangan, kelompok, perusahaan komersial hingga pemerintah. Sejauh yang saya tahu, digital marketing di NTT ini banyak dilakukan oleh perseorangan yang mempunyai hobi travelling, badan-badan sosial milik swasta atau LSM yang bergerak di bidang kemasyarakatan, program stasiun televisi swasta dalam maupun luar negeri yang membahas mengenai tempat-tempat wisata di Indonesia dan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata seperti hotel dan resort bintang lima yang concern dengan profit perusahaan.

        Saya belum melihat adanya upaya yang serius dari pemerintah daerah NTT untuk mengembangkan pariwisata melalui digital marketing. Padahal, mengembangkan pariwisata melalui digital marketing lebih mampu mencakup pangsa pasar yang lebih luas dibandingkan dengan non digital marketing. Gaya hidup masyarakat yang bergerak dinamis dan bersentuhan langsung dengan internet menjadikan digital marketing sebuah terobosan baru yang dirasa lebih mampu mempersuasi dan lebih cepat menyebarkan informasi. Ambillah contoh, Kementerian Pariwisata Indonesia dengan slogannya “Wonderful Indonesia” atau “Pesona Indonesia”. Upaya Kementerian Pariwisata Indonesia dalam melakukan digital marketing patut diacungi jempol. Mulai dari menggandeng travel blogger ternama, fotografer profesional yang fokus di bidang pariwisata, hingga membuat  website yang komprehensif (bisa dilihat di sini ) hingga mengelola official account sosial media yang interaktif.

        Selama ini inovasi dari banyak pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata belum terlalu optimal, termasuk juga pemerintah daerah di NTT. Pemerintah daerah, selaku pihak yang bersinggungan langsung dengan potensi wisata yang dimiliki, akan lebih baik jika mengubah mindset dan pelayanan pemerintah yang terjebak dalam kekakuan birokrasi menjadi lebih inovatif, fleksibel, dan melayani kebutuhan masyarakat yang semakin hari semakin beragam. Dengan demikian, diharapkan pariwisata NTT mampu berkembang pesat dan meningkatkan pendapatan masyarakatnya.

        Salam hangat dari daerah tengah Indonesia.

Keterangan :

  1. data diambil dari BKPM Provinsi NTT
  2. data diambil dari www.hubud.dephub.go.id

Sumber gambar dari google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s