Yakin Pilihanmu Ada di Perguruan Tinggi Kedinasan? (Part 1)


Masa-masa sekarang ini –sekitar bulan Februari Maret- para siswa kelas 12 SMA sedang gencar-gencarnya didatangi oleh para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mereka yang datang itu biasanya alumni dari SMA tersebut. Mereka datang dari berbagai perguruan tinggi. Tidak hanya dari perguruan tinggi negeri saja, mahasiswa dari perguruan tinggi swasta yang bergengsi pun ikut meramaikan. Tidak ketinggalan pula mahasiswa dari perguruan tinggi kedinasan juga ikut meramaikan silaturahmi ke sekolah dalam rangkaian ‘kunjungan’ promosi tersebut. Di sini saya tidak akan membahas ‘kunjungan’ mahasiswa dari perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta, tapi hanya akan saya batasi di ‘kunjungan’ mahasiswa dari perguruan tinggi kedinasan. Kenapa? Karena saya salah satu alumni perguruan tinggi kedinasan (meski saya juga sempat sebentar jadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri). Tujuan saya menulis tulisan singkat di blog saya ini hanya untuk meluruskan dan open your mind, dibalik ‘janji-janji surga’ perguruan tinggi kedinasan ada resiko besar yang juga harus dihadapi.

Ada yang masih bertanya apa itu perguruan tinggi kedinasan? Akan saya jelaskan secara singkat saja ya. Perguruan tinggi kedinasan adalah perguruan tinggi yang berada di bawah naungan suatu departemen atau lembaga pemerintah non departemen. Ada yang berbayar ada pula yang gratis. Ada yang ikatan dinas dengan departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang dulu menanungi perguruan tingginya (begitu wisuda dan lulus tes TKD saja bisa langsung diangkat) ada yang tidak (ikut seleksi seperti pelamar CPNS pada umumnya). Ada yang pendidikannya semi militer ada juga yang tidak. Ada yang dapat uang saku ada yang tidak. Dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, silahkan googling sendiri ya :).

Seperti yang saya sebutkan di awal, saya adalah salah satu alumni perguruan tinggi kedinasan. Pacar saya juga berasal dari kampus yang sama (yang artinya dia juga alumni dari perguruan tinggi kedinasan). Adik pertama saya sekarang masih tercatat di salah satu perguruan tinggi kedinasan, meski berbeda kampus dengan saya. Awalnya, saya mau-mau saja masuk ke perguruan tinggi kedinasan dengan beberapa ‘janji-janji surga’ yang sampai di telinga saya dan keluarga. Apa sajakah itu? Di antaranya sebagai berikut :

  1. Kuliah gratis
  2. Dapat uang saku per bulan
  3. Lulus langsung diangkat jadi PNS golongan 3A di salah satu lembaga non departemen milik pemerintah

Waktu itu saya dan keluarga tergiur dengan tiga hal yang saya sebutkan di atas, terlebih lagi saya berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Tanpa mempertimbangkan resiko, tanpa bertanya apa saja nilai minusnya, saya masuk. Konyol? Ya benar. Sikap saya ini memang konyol, memilih tanpa melihat plus minus-nya. Maka, untuk kamu yang sudah mendengar ‘janji-janji surga’ tersebut, waspadalah. Mau maju dan siap menghadapi segala resiko, silahkan. Mau mundur dan cari tempat kuliah lain, ya silahkan. Hidup memang harus memilih bukan?!

Poin pertama, kuliah gratis. Ya, memang benar gratis. Saya hanya membayar biaya sekitar 2,5 juta di awal masa kuliah untuk keperluan seragam, ospek kampus dan outbound. Tapi, sesuatu yang gratis itu pasti ada syarat dan ketentuan yang berlaku dong (enak aja lu main gratis, dikira duit turun dari langit apa? :p). Apa saja syarat dan ketentuan yang harus saya alami?

  1. Pertama dan utama, ancaman DO yang besar (terlebih di semester 1 dan 2, kalau di kampus saya. Kampus lain malah ada yang lebih kejam, setiap semester). Ancaman DO ini berlaku untuk mata kuliah inti. Jadilah orang yang jeli, jangan langsung percaya ketika kakak tingkat yang promosi bilang “tenang saja, asal belajar yang rajin nggak bakal kena DO kok”, “nanti ada belajar bersama, DO bisa diatasi”, “mata kuliah intinya gampang-gampang kok,” dsb. Itu versi dia ya, sekali lagi itu versi dia. Coba iseng tanya ke kakak tingkat di perguruan tinggi kedinasan itu apa saja mata kuliah inti di tempatnya belajar. Searching dulu mata kuliah itu tentang apa, garis besarnya aja lah (anak gahol jaman sekarang kayaknya nggak mungkin nggak bisa internetan deh). Dari situ kamu bisa memilih masuk kuliah di perguruan tinggi kedinasan dengan mata yang sedikit terbuka….oh, ini ya mata kuliah intinya. “Itu aku bangetlah”, “Iyuh….ketemu cacing integral rangkap tiga?”, “Hitungan akuntansinya kok rumit ya ternyata”, “Ah, matriks kayak gini sih gampang”, “Kok ketemu mata kuliah hapalan sih.”, dll. It’s up to you. Only you who know your own strenght.
  2. Mata kuliah mulai dari yang mudah hingga sangat sulit. Semua mata kuliah ya, nggak cuma mata kuliah inti. Kalo yang ini relatif sih, sulit dan enggaknya tergantung masing-masing individu. Maka dari itu, penting banget untuk mengenali dulu apakah kamu mampu dan menyenangi bidang ilmu di perguruan tinggi kedinasan tersebut. Kalo hanya sekedar ikut-ikutan trend, ya terima saja kalo di tengah jalan kamu merasa kuliahmu terasa sungguh berat. Begadang? Cari referensi ini itu? Sibuk kesana kemari buat belajar kelompok? Wes biyasaaaaaa……
  3. Ditambah lagi, persaingan antar teman yang cukup ketat. Dari awal, tes masuk ke perguruan tinggi kedinasan sudah ketahuan kan bagaimana ketat dan sulitnya. Yang lolos pastilah pintar-pintar. Di sini berlaku hukum alam, yang pintar (kebanyakan) egois (tingkat tinggi). Jadi ya wajar-wajar saja kalo setelah kamu masuk kuliah di perguruan tinggi kedinasan dan mendapati teman yang demikian. Misalnya ketika besok ujian dan kamu tanya udah belajar belum, dia jawab belum belajar nih….pas hasilnya dibagiin dia dapet nilai A. Atau tanya rumus nggak dijawab atau dijawab nggak ngerti, tapi beberapa saat kemudian ketika dosen bertanya hal yang sama….dia dengan gagah berani maju ke depan kelas dan lancar menuliskan rumusnya yang sudah dia hapal di luar kepala. Atau nggak mau datang ke belajar kelompok dengan alasan yang beragam, padahal dia salah satu orang yang ilmunya di bidang itu mumpuni. Atau ada temen yang kalo mau tau suatu hal tentang pelajaran dia rajin bener tanya ini itu ke kamu, giliran kamu tanya hal lain (tentang pelajaran) juga ke dia (dan dia tahu) malah dia tutup kuping. Dll. Kalo saya tulis satu per satu,bisa penuh ntar halaman ini.
  4. Nilai mata kuliah yang ‘cukup mahal’. Mengapa cukup mahal? Awalnya, saya mengira ini cuma terjadi di kampus saya aja. Ternyata, di kampus adek saya juga. Untuk mata kuliah yang sama, misalnya saja kalkulus, di perguruan tinggi kedinasan dengan di perguruan tinggi lain berbeda penilaian. Memang nggak semua, tapi rata-rata demikian. Well, masalah nilai di mata kuliah emang nggak bisa diperbandingkan ya. Gimana kalo tentang tugas akhir saja? Hehe…agak fair menurut saya. Jadi gini, kuliah saya setara dengan S1. Wajarnya, untuk bisa lulus kuliah ya menyelesaikan skripsi dong. Iya, memang benar yang dikerjakan itu skripi. Tapi, skripsi yang dikerjakan ini kalau diukur tingkat kesulitannya bisa selevel tesis atau bahkan disertasi di perguruan tinggi lain. Saya nggak omong kosong lho, skripsi yang kemarin saya kerjakan aja hampir mirip dengan disertasi orang lain dalam hal metodologi dan sebagian sumber datanya. Teman-teman saya yang lain pun juga demikian. Jika ada yang menyelesaikan di level skripsi, biasanya disindir sama dosen kenapa ngerjain skripsi yang nggak jauh beda sama tugas kuliah biasa. Huhuhu…..Nilai lebihnya, konon ketika menempuh pendidikan master tidak akan kesulitan. Nilai kurangnya, apalagi kalo nggak susah, capek, lelah dan pusing. Skripsi level biasa aja udah pada nyebut, lha ini skripsi yang…..ah sudahlah.
  5. Belum lagi aturan di perguruan tinggi kedinasan yang berbeda dengan perguruan tinggi lainnya. Mulai dari berseragam khusus (jadi, lupakan sense of fashion untuk kuliah), aturan jilbab dan rambut, aturan baju, dan aturan-aturan lain yang sekarang saya sudah gak hapal lagi. Kamu melanggar, kena poin hukuman. Nantinya poin hukuman ini akan diakumulasi setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran (saya lupa). Jika sudah melebihi batas atas, beragam hukumannya. Mulai dari nggak boleh ikut ujian hingga dikeluarkan.

Masih mau membaca? Ok, karena tulisan saya ini kepanjangan maka lanjutannya akan saya tulis di sini ya :).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s