Antara Aku dan Kamu, Hujan Gerimis Itu Pemanis


Aku bersyukur,
matahari terik pukul 4 sudah tak tau dimana sejak pukul 2 lalu.
Tabuhan guruh berkali terdengar,
sebentar lagi musikku dimainkan.
Aku rapikan dudukku,
sambil sedikit membuka jendela bus kota reyot,
sekedar mempersilakan angin sore masuk.
Aku tersenyum tersipu senang,
seperti gadis belasan tahun yang baru saja pulang kencan.
Aku tak peduli pada pengamen lusuh bersuara sumbang di depanku,
aku tak peduli pada lelaki perlente gaya metroseksual di sampingku,
tapi aku peduli kamu.
Perlahan airmu merintik,
seperti angsa menari-nari cantik.
Aku julurkan tanganku sedikit,
sekedar menyentuh dingin sejukmu di kulit lelahku.
Tarianmu kian lincah,
orang-orang kota jalan sudirman goyah.
Bagus,
aku sedang ingin bermesraan denganmu.
“Hai hujan,
terima kasih telah datang.
Jangan ingatkan masa lalu saat denganmu ya,
aku sudah duduk manis sambil melumatkan masa lalu itu.
Aku menyukai baumu,
aku menyukai rintikmu,
aku menyukai airmu saat menyentuh tanganku,
tapi maaf,
aku tidak suka kenangan dulu denganmu.
Jadi, berdamai yuk.
Biar seseorang di masa laluku itu menikmatimu dengan yang lain,
dan aku juga menikmatimu juga dengan yang lain,
dan kamu,
tetaplah menemani kami.
Ini kenang-kenangan dariku,
dan dari orang istimewaku.”
Aku menulis inisial nama kita berdua,
di kaca bus kota yang basah berembun.
“GP,
semoga kamu juga menyukainya,hujan.”

Jakarta, 7 November 2012
GP……Genzy Putri 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s