Karena Kita Mahasiswa #1


Bismillahirrahmanirrahim…

Tulisan saya kali ini agak sedikit mikir, tapi mikirnya nggak berat-berat amat. Mahasiswa macam saya mana kuat mikir yang berat-berat, haha… Sebenarnya ini adalah obrolan ringan antara saya dan abang ketika makan malam tadi. Dan di tulisan saya ini, nggak semua murni ide dari saya. Ini idenya si abang, yang saya coba tuangkan dalam bentuk tulisan (karena abang saya orangnya beribet kalo disuruh nulis, terpaksa saya yang jadi tumbalnya).

Well, mari saya mulai. Saya, mahasiswa. Terlepas dari saya ini mahasiswa perguruan tinggi tipe apa dan jurusan apa, tapi saya ini tetaplah mahasiswa. MAHASISWA, bukan sekedar siswa, bukan sekedar bocah yang menerima ilmu di jam sekolah lalu pulang ke rumah untuk belajar-main-tidur. MAHASISWA, the agent of change. Kalo kamu masih ragu, apa mahasiswa bisa menjadi seorang peubah, perlu kamu buka lagi buku sejarah. Siapa yang menjatuhkan pemerintahan orde lama? MAHASISWA. Siapa yang menjatuhkan pemerintahan orde baru? MAHASISWA. Mahasiswa punya power yang kuat, kaum persuasif yang punya otak, kaum idealis dengan jiwa pemberontak.

Kampus saya tercinta, ini yang akan saya ceritakan. Ada sedikit keprihatinan melihat bagaimana kepedulian mahasiswanya. Meskipun setiap hari kami memakai pakaian seragam, tapi kami tetaplah mahasiswa. Kami bukanlah pekerja kantor, meski kami menerima uang dari pemerintah setiap bulan (fyi, itu uang ikatan dinas). Entahlah, mungkin karena banyak yang mikir nggak pengen kuliah di sini, jadi bersikap semau guweh dan acuh tak acuh cuek bebek dengan kampusnya dan bla bla bla. Ehemm…boleh saya tanya kamu sekalian yang sekarang kuliah di kampus yang sama dengan saya? Kamu sudah masuk ke kampus ini kan? Sudah mengalahkan berapa pesaing? Tetap merasa jiwa kamu bukan di sini? Dan masih merasa ‘seharusnya saya disana’? tapi ironisnya, kamu masih kuliah di sini, masih nerima duit dari pemerintah, masih nggak keluar dari kampus, etc. Lalu, dengan alasan itulah mengapa kamu cuek? Tidak adakah jiwa memiliki, tidak adakah jiwa ‘oh…ini lho kampus saya.”??

Balik ke topik utama. Di awal kami masuk dulu, di masa-masa magradika, kami sebagai mahasiswa baru diajarkan untuk peduli. Tapi, setelah magradika selesai, sifat peduli itu mulai berkurang. Kenapa? Silahkan tanya pada diri mahasiswa masing-masing.

Mahasiswa STIS sudah banyak melakukan kegiatan di luar kampus mengenai kemanusaiaan. Entah itu baksos, TPA, kerja bakti, atau apalah. Dan ironisnya, hanya sedikit kegiatan kemanusiaan itu yang ada di internal kampus. Kenapa? Saya tidak tahu.

Saya, mahasiswa. Kamu, mahasiswa. Saya ingin mengajukan saran kepada semua teman-teman mahasiswa, yang ada di kampus saya tentunya. Khususnya untuk angkatan 51 yang (insyaallah) sebentar lagi memikul balok 4 di pundaknya, dan adek-adek tingkat saya pada umumnya. Yuk, kita sebagai agen perubahan mulai berbenah. Tidak usah terlalu muluk-muluk, kita mulai dari diri kita sendiri saja dulu. Oiya, disini juga saya ada beberapa saran yang masih belum menemukan solusi. Bagi yang ada ide, mungkin bisa membantu.

Yang pertama, masalah kantin. Kampus baru, kantin baru. Bagi kamu yang sering nongkrong di kantin, pasti tau dong apa masalah utama di kantin (saya aja yang nggak sering-sering amat berkelana di kantin ngerasain kok). Kalo masih belum ngeh, coba datang ketika jam makan siang. Apa yang kamu rasakan ketika makan? Kalo saya, serasa makan di tempat sampah atau toilet. Maaf, saya pake kata sarkasme, but that’s the fact. Di meja makan yang notabene tempat buat makan, berceceranlah bekas makanan dan minuman yang ditinggal pergi begitu saja dengan penghuninya (serasa di tempat sampah kan?). Belum lagi, bekas tisu yang entah siapa pemakainya ditinggal begitu saja(serasa di toilet kan?). Ok, mungkin kamu akan berkilah,”kan ada pelayannya yang ngambilin piring dan gelas kotor, sama sekalian sampahnya juga. Jadi, buat apa dong kita susah-susah?” Sekarang, saya balik tanya ke kamu, proporsionalkah para pelayan di kantin kampus dengan mahasiswa yang makan? Belum lagi jika ada mahasiswa yang makan, pasti sebagai penjual sesegera mungkin harus dilayani kan? Udahlah, mau berkilah apa lagi? Apa susahnya sih ketika kita habis makan di kantin, sisa makanan atau minuman atau tisu dibuang ke tempat sampah? Dan mengembalikan piring-gelas kotor itu ke penjualnya (sekalian bayar)? Posisikan diri kita sebagai orang yang mau makan di tempat kita duduk tadi, mau kamu makan di tempat yang naruh piring-gelas buat makan aja susah? Belum lagi, kalo kecampur sama bekas makanan orang gimana? Pasti nggak mau kan? Ya udah, besok dimulai yok 🙂

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s