Jepang : Metamorfosis (part 2)


Pendudukan Amerika Serikat pasca perang dunia kedua merupakan awal kebangkitan ekonomi Jepang. Ekonomi Jepang mulai bergerak cepat sehingga pada tahun 1950-an mereka bisa kembali pada tingkat pendapatan per kapita yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelum perang. Kondisi ini terkenal dengan ledakan jimmu karena dianggap sebagai ledakan ekonomi terbesar dalam sejarah Jepang sejak dibentuk oleh Kaisar Jimmu tahun 660 SM.

Pada akhir kependudukan Amerika Serikat di tahun 1960-an, Jepang berhasil memantapkan perekonomiannya di urutan terbesar ketiga di dunia. Hal ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa yang bisa dicapai oleh suatu negara yang kalah perang 15 tahun kemudian. Jepang berada diantara negara-negara maju dan negara-negara berkembang dengan menggabungkan aspek-aspek penting di keduanya. Inilah kunci Jepang sebagai suatu bangsa yang mempunyai kemampuan industri paling besar di dunia.

Kesuksesan industri Jepang dapat dilihat dari hasil produksi Jepang yang berupa peralatan elektronik, segala otomotif, dan segala jenis barang industri lainnya. Perlahan perekonomian Jepang mencapai puncak kejayaannya. Beberapa tahun setelah pendudukan Amerika Serikat berakhir, produk-produk Jepang menguasai dunia internasional, bahkan berhasil menyingkirkan produk-produk negara yang lebih maju sebelumnya.

Berbagai kesuksesan yang diperoleh Jepang tidak lepas dari hubungan dengan bangsa-bangsa asing. Pendudukan Amerika Serikat dan sekutunya dengan membawa hasil revolusi industri berhasil membuat bangsa Jepang sadar akan ketertinggalannya. Masa tersebut merupakan awal bagi Jepang memasuki dunia modern yang ditandai dengan kebijakan yang terkenal dengan Restorasi Meiji. Sejak saat itu, Jepang menaruh perhatian yang besar kepada Eropa dan Amerika Serikat sebagai negara maju.

Satu hal yang cukup menarik dan ini merupakan suatu ironi. Orang-orang Jepang justru menyambut baik kedatangan tentara-tentara Amerika Serikat yang notabene telah menjadikan mereka sebagai negara yang kalah perang. Orang-orang Jepang yang kecewa dan patah semangat yang mestinya menyambut kedatangan Amerika Serikat dengan kebencian dan penyesalan, malah menganggap orang-orang Amerika Serikat sebagai pembimbing menuju yang lebih baik. Orang-orang Jepang memanfaatkan kesempatan ini sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalannya. Dan hal tersebut terbukti jelas setelah pendudukan Amerika Serikat berakhir.

Pernahkah Anda –sebagai seorang warga negara Indonesia—berpikir untuk mengikuti orang-orang Jepang dalam menyuarakan isi hatinya kepada pemerintah? Dimana orang-orang Jepang pada saat sakit hati dengan pemerintah bukannya berdemo besar-besaran dan anarkis, bukan berkoar-koar ini itu dan bukan merasa perlu untuk bicara tentang hal-hal yang bukan bidangnya, tetapi malah meniru serta memodifikasi ilmu yang mereka peroleh dari negara yang mereka anggap maju.

Sudahkah orang-orang Indonesia meniru dan memodifikasi ilmu dari negara maju seperti orang-orang Jepang? Sudah. Hanya perbedaannya, orang-orang Jepang mengangkat ilmu hasil modifikasi mereka menjadi suatu trendsetter baru di dunia internasional dan mengembangkannya di bidang yang memberikan mereka return devisa yang besar, sedangkan kita hanya sekedar follower dan mengembangkannya hanya untuk konsumsi sendiri yang masih sedikit nilai returnnya. Salah satu contohnya, industri otomotif. Jepang meniru dunia otomotif dari bangsa-bangsa barat. Jepang yang dulunya tidak tahu apa-apa, sekarang bisa unjuk gigi. Lihat saja di ajang bergengsi balapan sekelas MotoGP, mayoritas sepeda motor yang dikendarai para pembalap merupakan hasil pabrikan dari Jepang. Sebenarnya, Indonesia juga bisa. Lihat saja mobil hasil rakitan anak SMK yang sempat menghebohkan media nasional. Sebenarnya bukan hanya satu saja, tapi sudah banyak result dari anak bangsa yang bisa dibanggakan. Namun sayang, hasil kerja keras ini seperti tidak ada tindak lanjut. Setelah berita mencuat, media heboh memberitakan, hasil kerja keras anak bangsa ini bukannya dihargai dan dimotivasi tetapi malah ada para petinggi-petinggi negara yang mencemooh. Hasil kerja keras ini pun seperti menjadi mimpi lagi. Entahlah, sepertinya pemerintah malu mengakui.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s