Jepang : Metamorfosis (part 1)


Pertama kali saya mendengar kata Jepang adalah ketika saya mendengarkan salah satu lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Trio Kwek-Kwek ketika saya masih kecil. Di  salah satumya lirik yang berbunyi “…Jepang negri sakura, katanya…katanya…Matahari dewanya, katanya.. katanya…Samurai senjatanya,wow.. .wow…Sumo olah-raganya…”.Dalam benak saya ketika kecil, saya tidak tahu apa itu sakura, apa itu dewa, apa itu samurai dan apa itu sumo. Jaman dulu, mendapatkan informasi tidak semudah sekarang. Saya yang waktu itu masih kelas 1 SD, susah payah mencari tahu informasi dari lagu Trio Kwek-Kwek tersebut. Di perpustakaan sekolah saya pun tidak ada buku yang membahas tentang Jepang (maklumlah, SD saya dulu di desa). Saya coba cari di buku IPS kakak tingkat dan hanya sepotong-sepotong informasinya, tidak jauh beda seperti informasi yang saya dapatkan dari kedua orang tua saya. Bahwa sakura itu bunga asli dari Jepang, di sekitar rumah tidak ada yang jual. Bahwa Dewa Matahari itu Tuhannya orang-orang Jepang. Bahwa samurai itu senjata tradisional dari Jepang yang berbentuk pedang, bentuknya lancip lurus dan sangat tajam. Bahwa sumo itu olahraga tradisonal orang Jepang, yang main laki-laki gendut-gendut, mainnya banting-bantingan. Ketika saya bertanya lebih jauh, rata-rata dijawab sama, tidak tahu.

Ketika belajar IPS di SD dulu, saya belajar tentang geografis negara-negara dunia dan sejarah Indonesia-dunia. Dari situ, mulailah pertanyaan-pertanyaan saya tentang Jepang lebih berkembang bukan hanya sebatas lagunya Trio Kwek-Kwek. Dari geografi, disebutkan bahwa negara Jepang itu negara kepulauan yang sangat rawan gempa. Dari sejarah, pada masa perang dunia kedua, Jepang sebagai salah satu negara yang kalah perang habis-habisan. Lalu, sekarang ini Jepang dijuluki sebagai Macan Asia karena majunya perekonomian yang dicapai. Nah, bagaimana orang-orang Jepang dalam waktu 6 dekade bisa menyulap negara yang miskin karena kalah perang menjadi negara ekonominya maju? Bukankah jangka waktunya sama dengan jangka waktu Indonesia merdeka dari penjajah? Bagaimana orang-orang Jepang bisa maju infrastruktur pembangunannya di atas tanah yang sering gempa?

Ketika di SMA, saya masuk ke jurusan IPA. Untuk urusan Jepang, saya sudah agak lupa. Maklum, di jurusan IPA tidak diajarin lagi mata pelajaran IPS (kecuali sejarah). Baru ketika saya masuk kuliah di universitas negeri di kota saya, keingintahuan saya tentang Jepang mulai muncul lagi ke permukaan. Bukan karena tiba-tiba, melainkan ada sebabnya. Waktu itu saya masuk ke jurusan FKIP. Ketika penyambutan mahasiswa baru, salah satu dekan ada yang berbicara tentang Jepang. Beliau berkata bahwa negara miskin sumber daya alam seperti Jepang bisa maju perekonomiannya karena guru. Perubahan terbesar yang menjadi tonggak sejarah untuk menjadi maju bagi negara Jepang itu pada saat setelah perang dunia. Waktu itu, yang pertama kali ditanyakan kaisar Jepang setelah kalah perang bukan berapa banyak kerugian negara ataupun korban perang, tapi berapa banyak guru yang tersedia. Isi pembicaraan beliau selanjutnya benar-benar melahirkan tanda tanya besar di kepala saya, mengapa dan bagaimana bisa.

Dari beberapa sumber yang saya peroleh, ada perubahan sikap rakyat Jepang setelah perang dunia kedua.  Pada awalnya, orang  Jepang terkenal dengan sikap optimis dan memiliki kepercayaan yang tinggi. Namun, ketika kalah perang dunia kedua, sikap optimis dan kepercayaan mereka yang tinggi mulai luntur. Banyak rakyat Jepang yang merasa menjadi korban oleh negara yang ingin menuntut kepada orang yang membuat mereka sengsara. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak didukung oleh pemerintah Jepang. Rasa marah mereka bukan kepada Amerika Serikat sebagai pihak yang menang di perang dunia kedua, tetapi lebih mengarah kepada pemerintah Jepang sendiri yang menyebabkan mereka menderita. Rasa marah dan kecewa mereka terhadap negara yang mereka agung-agungkan selama ini mereka ungkapkan tidak dengan cara yang frontal (kekerasan) karena tradisi mereka yang kuat agar tunduk kepada raja sebagai keturunan dewa.

Cara bangsa Jepang merespon semua unsur asing berpengaruh terhadap kesuksesan mereka selama ini, terutama di bidang ekonomi. Bangsa Jepang mempunya kepribadian yang tangguh dan hal tersebut dijadikan kekuatan bagi mereka untuk menghadapi persaingan dunia barat. Mereka tidak serta merta berkiblat langsung ke barat, tetapi mereka saring terlebih dahulu dengan budaya mereka, sesuai apa tidak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s