Belum Ada Judul #2


Terkadang ketika saya sudah terlalu penat dengan berbagai himpitan, saya lupa bahwa saya masih punya satu sikap maut yang mematikan dan tidak terprediksi : DIAM.

DIAM bukan berarti saya setuju.

DIAM bukan berarti saya menolak.

DIAM bukan berarti saya tidak tahu.

DIAM bukan berarti saya tidak berpikir.

DIAM bukan berarti saya tenang.

DIAM bukan berarti saya apatis.

DIAM bukan berarti saya bodoh.

DIAM bukan berarti saya mengabaikan.

DIAM bukan berarti saya pengecut.

DIAM bukan berarti saya sakit jiwa.

Sekali lagi, saya DIAM karena saya sudah terlalu penat dengan berbagai himpitan. Sudah, itu saja.

DIAM itu puncak dari ketidakmengertian saya untuk bagaimana harus bertindak. Saya butuh waktu untuk sendiri.

Saya rasa semua orang juga pernah merasakan.

DIAM.

Jakarta,

diantara serpihan roti, tumpukan buku, serakan kertas dan gelas bekas minum beberapa bungkus kopi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s