Langit Sore, Aku Menyukaimu #2


Ketika aku bertemu dengan angin, dan dia dengan lembut menyapaku,”hai perempuan, sedang memikirkan apa kamu?”

Aku hanya tersenyum samar. Sambil mencabut rumput yang tumbuh dekat kakiku, aku menjawab,”menurutmu?”

Angin diam sebentar, berpikir mungkin. Sekelebat dia berpindah agak mendekat denganku,”jangan melamun, ini sudah petang. Kata orang tua tidak baik melamun di saat seperti ini.”

Aku tertawa. “Aku tidak sedang melamun. Hanya memikirkan sesuatu.”

Angin penasaran. “Memikirkan apa?”

Aku menengadah ke atas, mendapati buritan langit siang yang mulai berubah warnanya. “Memikirkan apa yang masih bisa aku pikirkan, dan memikirkan apa yang memikirkanku.”

“Bukan apa, tapi siapa. Benar begitu?” angin itu mencoba memasuki otakku.

“Ya, itu lebih tepatnya.”

“Apa kamu menyukai langit sore?” tanya angin lirih.

“Senja maksudmu?”

“Siapa lagi?”

“Iya. Mungkin jika ada perkumpulan atau organisasinya, akulah orang pertama yang mendaftar jadi anggotanya.” jawabku dengan bibir menyunggingkan senyum.

“Kenapa?”

‘”Aku selalu merindukannya sejak aku kecil. Seperti ada kehangatan yang menelusup ke hatiku saat senja datang. Senja itu selalu indah. Entah dimanapun aku berada, sekali lagi senja itu indah. Mungkin dia tidak mengerti aku karena banyak yang menyukainya. Tapi, aku selalu mengerti dia karena aku menyukainya.”

“Lalu, apa kamu juga menyukai fajar?”

“Tidak terlalu. Berbeda dengan senja yang selalu menghibur, fajar itu seperti alarm yang berkata ‘hei kalian manusia, bangun tidurlah. cepat cari makan agar tidak mati. bergegaslah. nanti kalian akan kehabisan’. Setelah itu, orang-orang kota seperti kesetanan dikejar waktu seharian.”

Aku dan angin lama terdiam. Kami berdua seolah menekuri alam pikiran masing-masing.

“Apa kamu juga menyukaiku?” sangat lirih angin berucap, nyaris tak terdengar oleh telingaku.

Aku memandangnya lekat-lekat. Ini lucu. Sangat lucu. Konyol. Pertanyaan bodoh. “Kamu mau tahu jawabanku?” aku berkata tidak kalah lirih.

“Kamu mendengar ya, perempuan?” angin kaget. Mungkin disangkanya aku terlalu asyik terlarut dalam pikiranku sendiri.

“Bagaimana aku bisa berkata seperti tadi jika aku tidak mendengar?”

“Terserah. Toh aku bukan senja yang kamu sukai secara fanatik itu.”

“Pertanyaan bodoh. Tak perlu jawaban pun sebenarnya kamu sudah tahu.”

“Sudah ku duga.” Aku mendapati ekspresi wajah datar dari angin.

“Kamu itu sepaket dengan senja. Barang substitusi, bukan barang komplementer. Kalian berdua, senja dan angin, itu substitusi sempurna.”

“Kenapa?”

Dan aku pun mulai kesal. Seperti berbicara dengan balita yang tak pernah puas saja. “Kamu selalu menyertai senja, kamu selalu menyertai fajar, kamu selalu menyertai siang, kamu selalu menyertai malam, semua-semua kamu sertai. Jadi, kamu lebih aku kenal dari senja. Kamu setiap saat, sedangkan senja hanya sesaat.”

“Lalu, apa maumu?”

“Tidak ada. Aku perempuan yang menyukai senja. Dan sekarang, aku juga menyukaimu.” Aku mengembangkan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.

“Dan kita berdua sama-sama ada hubungan dengan senja? Kamu menyukai senja, dan aku sebagai substitusinya? Haha…seperti cinta segitiga saja.”

“Bukan cinta segitiga. Cintaku bukan untukmu, bukan untuk senja.”

“Lalu?” Angin semakin menyelidik.

“DIA. Yang mempunyai aku, kamu, senja dan semua-semuanya.” Aku menengadahkan lagi wajahku, tegak lurus dengan langit senja. Menerawang. Mencoba menerobos dimensi lain dari jagad raya yang tak terlihat.

Angin tersenyum lebar. Mengikutiku, dia menengadah juga ke langit. “Kita sama, perempuan.”

Aku melihat, senja sedikit tersenyum. Tersipu seperti gadis belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Hanya sebentar saja, kemudian setelah itu dia tenggelam. Menyerahkan langit kepada malam.

“Aku pulang.”

Suatu petang di Jakarta,

terkurung dengan rutinitas yang membosankan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s