Ayah Juga Lupa


Membaca message di facebook yang sudah lumayan lama bersarang, dan menemukan obrolan menarik dengan salah seorang sahabat terbaik saya. Saya copas aja ya, semoga bermanfaat 🙂

d:”Oi,Aq mau ngrim psan ini kmaren,tp g smpt,aq pnya pglan artikel yg dah ada 100thn yg llu d sbuah koran d eropa,,,kpan2 aq pngn kmu mmbcany,,”

s:”Ttg apa?”

3 hari kemudian, muncullah di message facebook saya.

d:”bacanya dihayati ya..rada panjang”

 

 

“AYAH JUGA LUPA”

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah
tangan kecil merayap dibawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang
lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke
kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran
di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan
perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu. Ada
hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar
kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke
sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah
lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau
melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu.
Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja.
Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru
mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan
melambaikan tangan sambil berseru, “Selamat jalan Ayah!” dan Ayah
mengerutkan dahi, lalu menjawab “Tegakkan bahumu!”

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari
jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut,
memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus
kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk
pulang ke rumah. Kaus kaki mahal — dan kalau kau yang harus membelinya,
kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran
seorang Ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang
perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa
terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar
karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau mau apa?”
semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas melompat ke
arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher dan mencium Ayah,
tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat,
kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang
bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan
kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa
takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah
lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca — ini
adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti
Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu
banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari
tahun-tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati
mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit
luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur
masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada
masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu
dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan
mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau
terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan
bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan
tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata
tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata
ini seolah-olah sebuah ritual: “Dia cuma seorang anak kecil — anak
lelaki kecil!

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat
Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam
tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau
masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah
meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

disadur dari buku psikologi populer

march 18, 2010

 

nb: sahabat saya itu juga sudah buat notes ini di facebooknya dan juga postingan tulisan ini di blog pribadinya. hehehe…copas nggak papa kan yak?? pasti ekspresi sahabat saya itu setelah membaca tulisan ini adalah……csenyum-senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala nggak jelas 😀. oya, judul buku nya Influence, karya Dale Carnegie (kalo gak salah sih tulisannya gini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s