Renungan Liburan


I’m not in a good mood today, sorry 😥

Menulis adalah pelampiasan. Masihkah berlaku? Mari kita coba bersama-sama. Kalo nanti hasilnya acakadut berarti menulis adalah pelampiasan yang buruk, tapi kalo hasilnya keren (OK,lumayan keren) berarti menulis adalah pelampiasan yang baik. Haha..

26 days stay at home. Lama? Iya, pake banget kalo cuma untuk libur lebaran aja. Tapi, hello Saudara-Saudara. Bukan kampusku namanya kalo gak ajaib. 26 hari itu udah plus sama liburan UAS. Nah kan ya….yang tadi bibirnya monyong-monyong iri mendengar panjangnya liburanku itu, sekarang udah bisa ketawa puas bin ngakak sengakak-ngakaknya sambil guling-guling jumpalitan. Well, bagi yang belom ngerti-ngerti juga dengan maksud tulisan diatas karena faktor x, y, dan z, maka akan aku terangkan sebentar.

Ehm… Begini Saudara-Saudara. Biasanya nih, meskipun liburan untuk lebaran mereka cuma sebentar, tapi setelah mendengar cerita dari teman-temanku yang kuliah di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta), libur mereka setelah UAS itu lama loh. Hitungannya udah dalam bulan. Biasanya sih mereka bisa having fun sana-sini, kecuali kalo mereka ada semester pendek. Cuma ada 2 tipe manusia yang mengikuti semester pendek dan menyia-nyiakan (baca:merelakan) liburan yang aduhai macam itu. Pertama, mereka pengen cepet-cepet lulus (macam kelas akselerasi di sekolah menengah). Kedua, memperbaiki nilai mereka yang (katanya) belum atau tidak memuaskan. Wew, padahal iku semester pendek itu kalo gak salah bayar lagi kan ya? Hadeh -,-“

Setelah aku merenung sampai berhari-hari, akhirnya aku sampai pada suatu kesimpulan. PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) itu dari segi manapun memang tidak bisa disamakan dengan PTN maupun PTS. Mungkin tidak semua, tapi hampir sebagian besar. Mahasiswa PTK, selain mempunyai tanggung jawab kepada dirinya sendiri dan orang tuanya, mereka juga bertanggung jawab kepada negara (instansi atau departemen) yang telah “menyekolahkan” mereka.

Disini aku tidak menganggap mahasiswa PTN ataupun PTS tidak mempunyai tanggung jawab kepada negara ini, bukan seperti itu. Sederhananya adalah mahasiswa PTN dan PTS juga bertanggung jawab kepada negara, hanya saja tanggung jawab mereka dalam bentuk “tidak langsung”. Bagaimana bentuk tanggung jawab tidak langsung tersebut? Misalnya saja dalam bentuk pengabdian masyarakat, penelitian-penelitian ilmiah, bahkan demo (unjuk rasa) pun juga merupakan bentuk tanggung jawab loh. Aku akan cerita sedikit tentang yang terakhir ini (lain waktu saya bahas dalam tulisan tersendiri). Mahasiswa merupakan cerminan masyarakat terpelajar yang dipandang mempunyai intelektualitas tinggi. Demo yang dilakukan mahasiswa adalah salah satu wujud kepedulian mahasiswa terhadap pemerintah untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan selama ini, sudah sesuai atau belum. Lihat saja siapa yang menurunkan rezim Orde Lama? Mahasiswa. Lihat saja siapa yang menaikkan dan sekaligus (ironisnya) menurunkan rezim Orde Baru? Mahasiswa. Masih banyak contoh yang lain. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap demo mahasiswa. Demo mahasiswa=kritik sosial. Orang yang tidak tahan kritik berarti orang tersebut tidak ingin maju. Begitu juga dengan pemerintahan dan negara. Bukankah seperti itu?

Well, sudah terlalu jauh aku membahas sampai masalah demo dan segala buntut-buntutnya. Mungkin dari kalian bertanya, bagaimana dengan mahasiswa PTK? Kalo Anda ingin merasakan langsung sensasinya, silahkan dicoba sendiri untuk masuk ke salah satu PTK di negeri ini. Haha…yang jelas dan yang aku rasakan, menjadi mahasiswa PTK itu harus “nurut” dan “tunduk” kepada pemerintah. Di sisi lain kita fine-fine saja sih, toh kita disekolahkan dan dibiayai hidup oleh negara. Udah sewajarnya kan kita tunduk ke negara. Menjadi pembantu? OK, itu bahasa kasarnya. Kalo mau bahasa halus, bahasa halusnya abdi negara. Ah…majas seperti itu hanya pemaknaan di indera pendengaran saja, toh artinya juga tetap sama. Balik lagi ke masalah utama. Intinya, kebangetan banget deh kalo sampai gak nurut sama yang udah ngasih fasilitas. Tapi di sisi lain, kita ini mahasiswa. Idealisme kita masih ada. Tapi, seringkali idealisme kita ini terbentur suatu tembok besar dan akhirnya lenyap. Yah…silahkan dipikir sendiri lah bagaimana-bagaimananya. Tidak perlu terlalu vulgar untuk menceritakan masalah seperti ini.

Bagaimanapun juga semuanya kan harus disyukuri kan?! Mahasiswa PTK seperti yang dirasakan aku dan teman-teman sekampus seperti mendapat biaya kuliah gratis dari masuk sampai lulus nanti, mendapat uang tunjangan yang cukup lumayan setiap bulannya, mendapat jaminan pekerjaan setelah lulus kuliah nanti, dll. Plus-plus PTK ini harus tetap disyukuri, belum tentu setiap orang mendapatkannya kan?! Semua itu ada plus dan minusnya, apapun itu.

Eh, kok tulisannya jadi ngelantur gini ya? Haha…maklumlah, di atas tadi kan sudah dibilang lagi gak mood. Tau gak sih, padahal niat awal tadi aku cuma pengen nulis tentang liburanku. Yup, libur di saat yang lain masuk, dan masuk di saat yang lain libur. Berbeda? Iya banget!!!! Kegiatan akademik di kampusku dimulai bulan Oktober-Februari untuk semester ganjil dan Maret-Juli untuk semester genap. Dan perbedaan masuk beserta liburnya itu lumayan jauh loh dengan PTN ataupun PTS yang lain. Dan seperti yang aku alami seperti ini lah. Kesepian di rumah. Di saat teman-temanku libur, aku masih masuk kuliah. Dan disaat teman-teman masuk kuliah, aku libur. Hhhooooaaammm……………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s