Ekspedisi Gunung Gedhe #3


Memasuki kawasan puncak, jalan sudah lumayan landai lagi. Semua kerja keras seperti terbayarkan. Pemandangan yang ditawarkan benar-benar membuatku lupa pada rasa sakit di perut kiriku. Meskipun saat itu kondisi mendung dan hujan rintik-rintik, view di puncak masih bagus :). Pohon-pohon khas gunung yang berdiri indah, asap dari kawah yang terkihat dari kejauhan, gunung-gunung lain yang

Scene dari puncak

berdiri menantang, kabut tipis yang turun perlahan, serta siluet matahari senja yang mengintip malu-malu di sekitar awan yang menggantung. Kata leader kami, Ilham, puncak yang benar-benar disebut puncak di Gunung Gedhe masih jalan beberapa saat lagi. OK, kami berjalan satu-satu. Meskipun landai, untuk melewati trek di puncak ini juga harus hati-hati. Kanan kiri terlihat jurang yang bervariasi, ada yang curam dan ada yang ditumbuhi semak-semak dan pohon-pohon gunung. Trek puncak yang kami lalui mempunyai lebar sekitar 3-4 meter. Sebenarnya ada pegangan dari tali carmantel yang diikatkan di tiang-tiang di sepanjang trek puncak, tapi sayang tali bantuan ini roboh dan tidak bisa digunakan. Sempat khawatir juga, sandainya ada badai maka kami akan pagangan apa? Sepertinya tiarap saja tidak cukup mengingat kanan kiri kami kondisi jurang seperti itu. Sempat terlintas di pikiranku, dalam kondisi seperti ini, jika ALLAH SWT mengkehendaki badai, maka kami ini tak ubahnya seperti semut yang dengan mudah sekali bisa jatuh tertiup angin. Astagfirullahhal’adzim…………

Akhirnya, that’s it!!! Ini benar-benar yang disebut puncak Gunung Gedhe. Ditandai dengan semacam tugu dan ada tiang bendera merah putih. Foto-foto sudah menjadi agenda wajib saat di puncak, meski kondisi seperti ini, haha…kami tak lama berada di lokasi tersebut. Kira-kira setengah jam kemudaian kami bergegas turun. Agenda kami untuk ke padang edelweiss di daerah Alun-Alun Surya Kencana pun dibatalkan. Untuk mencapai Alun-Alun Surya Kencana, kami harus turun melewati rute yang berbeda. Jika ingin kembali ke pos Kandang Badak, kami harus naik lagi ke puncak baru turun melewati jalur yang sama seperti pertama kali kami naik tadi. Jadi intinya, turun gunung—naik puncak lagi—turun lagi—pos badak.

Seperti ini pose kami di puncak

Turun dari puncak sekitar pukul 18.00. kami melewati jalur yang sama dengan yang kami lewati saat naek tadi sampai di tanjakan setan. Oya, ada yang kelupaan. Saat kami naek dan melewati tanjakan setan tadi, kami bertemu dengan serombongan pendaki yang turun. Mereka menyarankan kepada kami kalo turun ntar lewat sini saja, jalurnya lebih enak meski agak jauh. Tandanya adalah pita yang diikatkan di ranting. Aku masih ingat betul, mereka bilang seperti itu saat aku baru saja selesai naik tanjakan. Well, akhirnya kami menuruti saran dari pendaki yang turun tadi. Mulanya biasa saja. Kendala di sini adalah masalah penerangan. Minimnya lampu senter yang kami bawa membuat kami agak tersendat di perjalanan. Bukannya tidak membawa lampu senter, tetapi rata-rata batu baterainya habis.

Cukup lama kami berjalan, barulah kami menemui beberapa kejanggalan. Lazimnya, orang yang turun gunung itu membutuhkan waktu yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan waktu naik gunung. Nah ini, kami sudah hampir 2 jam berjalan dan belum menemukan adanya titik temu. Bener sih, ini jalur pendakian. I’m sure. Meskipun masih pendaki amatir, setidaknya aku tahu mana jalur yang biasa dilewati maupun jalur yang gak biasa dilewati. Gak mungkin lah para pendaki tadi menyarankan kami melewati jalur baru yang tidak biasa, aku lihat mereka tidak membawa peralatan untuk membuka jalur baru, hehe… kejanggalan yang lainnya adalah kami tidak menemui persimpangan jalan yang cukup besar (ini yang bilang Mas Aziz, aku sendiri gak begitu memperhatikan). Lalu, Qura bilang kalo jalan ini aneh. Waktu aku tanya kenapa, dia jawab kalo banyak sekali pohon tumbang dan cuma sedikit jejak kaki manusianya.

Swing…swing…swing…pikiranku udah mulai macam-macam. Halusinasi tidak karuan. Senter cuma sedikit, batu baterai mulai limit, persediaan logistik pun minimalis, P3K sekedarnya. Apakah kami TERSESAT??

Kalo tersesat saat menuju puncak sepertinya tidak masalah karena terus saja naik dan puncak itu hanya ada 1 yang tertinggi. Nah kalo tersesatnya saat turun? Itu yang bahaya. Banyak jalan menuju pos awal. Once again, ya ALLAH, safe us. Ilham selaku leader meminta pertimbangan ke yang lain mengenai kejanggalan ini. Setelah berdiskusi kami berempatbelas, akhirnya kami putuskan untuk tetap meneruskan perjalanan selama setengah jam. Jika nantinya selama itu kami belum juga menemukan jalan keluar menuju pos Kandang Badak, kami mau tidak mau harus balik arah dan melewati tanjakan setan seperti yang kami lakukan saat berjalan menuju puncak. Bismillahirrahmanirrahim, aku banyak berdoa dan mensugesti diri sendiri bahwa ini bukan jalan yang sesat. Perutku sudah tak karuan rasanya. Sabar ya perut…maaf kali ini kamu aku abaikan :). Dan voila………………………..setelah 10 menit kami berjalan, sampailah kami di pertigaan jalan antara pos Kandang Badak-Puncak Gunung Gedhe-Puncak Gunung Pangrango. Tapi tunggu…masih ingat kan kalo kami tadi mengambil jalan ke kiri? Kenapa sekarang kami muncul dari tengah, bukan di jalan ke kiri yang menuju puncak Gedhe yang kami ambil tadi? Fyi, jalan ini tak terlihat jika dari pertigaan. Subhanallah….kami semua terlihat lega. Thanks ALLAH, YOU safe us 🙂.

Sesampai di Pos Kandang Badak, lokasi sudah penuh oleh tenda teman-teman yang ikut pendakian umum dari kampus. Kami langsung menuju ke tenda kami. Kamipun bagi tugas, membersihkan tenda dan memasak. Yah karena aku tidak bisa memasak, akhirnya aku lebih milih membersihkan tenda, hoho…sambil meringis-ringis menahan perut yang semakin gak mau diajak berkompromi ini, aku mencari-cari roti untuk pengganjal perut sebelum minum obat maag (meskipun sebenarnya aku tahu bahwa tidak baik dan tidak dianjurkan untuk memakan makanan yang ada raginya sebelum minum obat, tapi mau gimana lagi…). Sialan, rotiku hilang entah kemana. Tendapun sudah bergoyang-goyang karena ulahku yang mengubek-ubek isi tas. Hadeh…alternatif lain saat sakit maag, tidur telentang. Kya……gak kuat bo!! Akhirnya aku putuskan untuk tidur menekuk perut dan kaki,semoga sedikit membantu. Gak efektif ternyata :’(. Agak kasihan juga dengan teman-teman lain yang masak, maaf yak gak bisa bantuin. Saat makanan siap disantap pun aku tidak makan. Bukan karena tidak mau, tapi perutku sudah tingkat akhir ini sakitnya, kalo dimasukin makanan takutnya malah muntah. Ya udahlah, aku tidur saja. Tidur di pinggir dengan kondisi tenda tanpa parasut membuat tetesan-tetesan embun masuk ke tenda. Celana, baju, jaket, sleeping bag dan tas basah semua. Berharap semoga besok gak masuk angin aja deh.

Membuka mata di pagi hari, suara hujan terdengar. Alhamdulillah  perut kiri sudah baikan. Baik sekali dirimu nak :), mengetahui kondisiku. Setelah membuat tempat berteduh seadanya, kami pun mulai memasak apa saja yang kami bawa. Selain karena perut kami lapar berat, tujuan yang lain adalah mengurangi beban tas kami saat turun nanti. Pestalah kami pagi itu. Aneka bahan makanan kami masak. Mulai dari mie instan, kerupuk, nugget, sosis, nasi, kornet, wedang jahe sampai coffeemix. Hoho…kenyang kenyang kenyang.

sebelum meninggalkan pos Kandang Badak

Setelah itu kami packing untuk siap-siap turun. Sekitar pukul 11.45, kami mulai bergerak turun. Bismillahirrahmanirrahim, semoga selamat sampai Jakarta nanti. Di awal-awal perjalanan turun cuaca lumayan cerah. Tapi, di tengah jalan tiba-tiba hujan turun cukup lebat. Terpaksa kami berhenti sebentar untuk memakai mantel. Hm…trek licin lagi ini.

Dan payahnya aku, gak naik gak turun, selalu lambat. Faktor fisik ini T.T. Lain kali kalo mau naik gunung lagi gak akan begadang, gak akan minum kopi banyak-banyak, dan latihan fisik rutin. Hiks…hiks…hiks…perjalanan turun lancar-lancar saja. Yang sedikit ekstrim yaitu saat di lokasi air panas. Kakiku bergetar lebih hebat dari saat pertama kali kemaren. Aku sudah punya firasat ada something wrong di kakiku, gak tau apa. Sempat terpeleset saat akan melewati air panas itu, tepat di permulaan lokasi air panas. Sumpah ya, aku sama sekali gak berani lihat bawah. Dan tahukah kamu bahwa hatiku langsung ciut seciut-ciutnya, how come?? Aku jalan berada di tengah kelompok, jarak teman di depanku sudah jauh. Saat aku menoleh di belakang, tepat di belakangku Mas Aziz yang membantu saat aku nyaris terpeleset tadi. Gak mungkin lah aku minta gendong ke dia untuk melewati air panas (gimana tasku dan tas dia ntar?). Rasanya pengen nangis. Baiklah, sambil tangan dan kaki gemetar hebat, aku berpegangan pada tali carmantel menyusuri lokasi air panas sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa jarakku tidak terpaut jauh dengan teman yang ada di belakang. Yuhu…sukses!! Air panas=done.

Hanya perlu waktu 3 jam buat kami untuk turun dari Pos Kandang Badak menuju Pos Information Center. Hei, tahukah kamu apa nama Pos Information Center di Gedhe-Pangrango ini?? Resort Mandalawangi. Pertama kali aku baca papannya, aku rasa aku pernah dengar nama ini, dimana ya? Aha…setelah memutar otak barulah aku ingat. Ini kan nama tempat yang pernah disebutkan oleh Soe Hok Gie di salah satu puisnya itu. Hohhoo…tahu seperti ini, aku bawa deh puisinya itu. Lalu aku baca di sini dan buat videonya. Romantis sekali…………*diunggah di youtube bisa nyaingin si briptu norman nih…:P

......lembah kasih, lembah mandalawangi.........

…kabut tipis pun turun pelan-pelan di Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi. Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin…

Pukul 17.00, kami pulang. See you Puncak Gedhe, see you Pos Kandang Badak, see you lembah kasih lembah Mandalawangi….I’ll always miss u, and I’ll come back again to meet something special inside you, edelweiss 🙂. Wait me….

di depan Taman Nasional Gunung Gedhe-Pangrango

perjalanan pulang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s