Ekspedisi Gunung Gedhe #2


Ada sedikit trouble di tubuhku. Entahlah karena apa. Aku mau sedikit cerita. Waktu aku minta ijin ke mama papaku buat naek ke Gunung Gedhe ini, seperti biasanya lah ya mama papa gak langsung mengijinkan. Ditanyain dulu teman-temannya yang ikut siapa aja, dan tugas-tugas kuliahku gimana. OK, waktu itu menjelang UTS dan di telpon aku sering cerita kalo tugas kuliah lumayan banyak. Peraturan yang sama masih diterapkan, gak di rumah gak di perantauan, boleh pergi asal tugas dan pekerjaanmu selesai, itu aturan dari mama papa. Setelah itu, up to you kalo mau pergi. Aku pun menyanggupinya (sebandel-bandelnya aku masih nurut perintah orang tua, haha). Tugas-tugas yang naudzubillah banyaknya ini aku selesaikan as soon as possible, gak peduli waktu, pokoknya aku harus ikut pendakian apapun caranya. Begadang sampai larut malam, jam tidur yang lumayan sedikit, dopping kopi yang nyaris setiap hari dan jarangnya olahraga membuatku merasa kepayahan di pendakian kali ini. Aku rasa inilah pendakian dengan kondisi yang paling tidak fit sejak aku mendaki gunung untuk yang pertama kali. Tapi aku kuat-kuatkan. Ditambah pula salah packing yang membuat tas carrierku berat sebelah kiri. Eeeeerrrrrrr………ceroboh!!

suasana pagi

Waktu sudah beranjak pagi, matahari sudah mulai bersinar seharusnya. Jalanan sudah dari tadi menunjukkan tanda-tanda menanjak ekstrim. Tapi sayang, pagi hari pertama kami di Gunung Gedhe kami lewati dengan pesona hujan di pagi hari. Mantap!! Ambil mantel dengan cepat. Beruntung kemaren packing dilapisi polybag, padahal biasanya enggak :P. Kami sempat kalang kabut juga, waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 lebih dan kami belum sholat subuh (kami semua beragama Islam, kecuali Prita yang beragama Hindu). Ini karena kami belum menemukan lokasi yang pas untuk sholat. Ditambah lagi dengan kondisi hujan yang mengaharuskan kami memakai mantel. Ya ALLAH……forgive us, please 😥. Alhamdulillah…satu jam kemudian kami bisa menemukan tempat yang agak datar yang sekiranya bisa buat kami pakai untuk sholat subuh. Lokasi ini jauh dari air tejun Cibeureum yang menjadi objek wisata itu. Sekalian istirahat, kami pun sholat subuh bergantian. Yang cewek cuma aku yang sholat. Gak mungkin banget deh kayaknya sholat subuh pakai mukena biasa yang terbuat dari kain dengan kondisi hujan yang lumayan lebat. Akhirnya aku putuskan, sholat dengan memakai mantel kelelawar yang aku pakai dan bawahan celana mantel milik Uun sebagai “mukena” saat itu. Aku tahu ALLAH itu Maha Tahu kok. Bismillahirrahmanirrahim, di tengah udara dingin yang cukup membuat kami menggigil ini, aku menunaikan sholat subuh. Tahukah kamu, ini pertama kalinya aku sholat dibawah hujan. Kamu ingin tahu sensasinya? Benar-benar menakjubkan. Berdiri dibawah rinai air hujan, ruku’ dengan punggung yang tertimpa air dan sujud di tempat yang terkena air hujan yang otomatis mengenai wajah. Kami sholat beralaskan mantel, insyaallah tempatnya suci dari najis meskipun kotor. Jadi inget kata-kata temanku,”kotor itu belum tentu najis, insyaallah kalo kotor debu gak papa kok.” Perasaanku benar-benar dekat sekali dengan ALLAH SWT saat itu. Sekali lagi, ALLAH SWT menunjukkan kuasaNya.

Setengah jam kami melepas lelah. Pukul 6.30 kami melajutkan perjalanan. Sekitar 20 menit kami berjalan, sampailah di tempat yang bernama “air panas”. Mulanya aku anggap itu biasa aja, aku pikir paling juga cuma air hangat. Kalo ngrendem kaki disitu lumayanlah bisa ngilangin pegel, hehe…Setelah melihatnya dan merasakan sendiri airnya di kaki, alamak!!!! Seriusan ini air panas!!! Uniknya, air di sekitarnya masih netral (sesuai dengan suhu di gunung). Tapi waktu di air panas itu airnya bener-bener panas, jauh dari dugaanku yang aku kira air hangat itu. Aku perkirakan suhunya sekitar 80an derajat celcius, udah ada uapnya gitu. Aku heran, darimana datangnya ini? Waktu aku cium baunya, sama sekali gak ada bau belerang. Mungkin dari geothermal kali ya. Destination kita selanjutnya adalah Kandang Batu. Untuk bisa sampai ke Kandang Batu, mau tidak mau kita harus melewati lokasi air panas. Lokasi air panas ini adalah air terjun, entah lah berapa meter tingginya dari dasar. Hanya celah sekitar 3m yang bisa diakses ke lokasi berikutnya, sebelah kiri tebing dan sebelah kanan jurang. Lumayan ekstrim juga ini. Layaknya air terjun pada umumnya, di sini banyak kami temui batu-batu yang biasa dipakai untuk pijakan. Kewaspadaan harus ekstra. Kondisi hujan pasti batu licin, jalan sempit, air panas yang mengalir membuat kaki bisa sakit kepanasan dan ketinggian air terjun ini yang tidak bisa aku prediksi. Bukannya tidak bisa, tapi gini-gini aku takut ketinggian, haha… beruntunglah ada tali carmantel (tali yang biasa digunakan untuk panjat dinding atau panjat tebing) yang dipasang di sepanjang jalur air panas ini, sehingga memudahkan orang untuk melewatinya. Dengan kaki gemetaran dan mulut yang tak lupa mengucapkan banyak doa agar selamat sampai kembali nanti, akhirnya aku bisa melewati air panas ini dengan sukses. Begitu juga dengan teman-teman. Yihaa….

Kandang Batu

Berjalan 20 menit, sampailah kami ke Pos Kandang Batu. Berbeda dengan di lokasi air panas tadi yang sebenarnya punya view bagus untuk difoto kalau saja kondisi tidak hujan. Di Kandang Batu ini tidak ada yang istimewa menurutku, view nya biasa aja. Karena hujan, shelter yang cukup lapang ini becek. OK, kami lewat begitu saja. Next trip, menuju Pos Kandang Badak, tempat dimana kami nanti akan ngecamp.

Jalan yang kami lalui semakin ekstrim, jauh lebih ekstrim daripada saat di bawah tadi. Minimal naik setengah lutut dari tanjakan bawahnya, bahkan ada yang sampai sepinggang. Kalo udah yang terakhir gini, merangkak adalah pilihan, haha… Berjalan 1 jam, sampailah kami ke Pos Kandang Badak. Di situ sudah ada beberapa pendaki yang ngecamp. Seperti layaknya kebiasaan mendaki gunung, kami saling bertegur sapa. Inilah hebatnya para pendaki. Meskipun tak saling kenal, tapi saat bertemu di gunung saling menyapa dan bahkan saling membantu layaknya sudah kenal beberapa waktu. Kehangatan unik yang tercipta diantara para pendaki di tengah dinginnya udara gunung.

Tak perlu buang waktu lebih lama, seketika itu juga kami mendirikan tenda berbentuk domehasil pinjam

tenda kami di Kandang Badak

sana-sini, hehe…Ada 3 tenda, 2 tenda untuk cowok dan 1 tenda untuk cewek. Dari ketiga tenda, cuma 1 tenda yang bener. Tenda cowok yang satunya salah kerangka besinya, sedangkan tenda yang cewek gak ada penutup parasutnya. Alamak………..udahlah. Yang penting ada tenda dan nanti malam kami setidaknya bisa tidur, meskipun seadanya. Setelah mendirikan tenda beres, kamipun membuat makanan. Ternyata oh ternyata saudara-saudara sekalian…logistik makanan untuk kelompok maupun pribadi kelebihan banyak sekali, kami overestimate. Pikirku, gak papalah, ketimbang kelaparan mending kelebihan, urusan habis nggak habis itu belakangan.

Emang bener kalo lauk yang paling enak itu ada disaat perut benar-benar lapar. Mie instan, wedang jahe, coffeemix, dan bahkan nasi dimasak pake saos+kecap+blueband pun terasa sedap tak terkira. Hihi…bayangin aja kalo di rumah, pasti gak ada feel lezat-lezatnya. Dan yang lucu nih, teman kami banyak yang gak bawa tempat buat makan. Jadilah mereka hunting tempat. Ada juga sih yang niat bawa kertas minyak buat tempat lauk itu. Waktu aku tanya sendoknya apa, dia lalu merobek kertas minyak secara vertikal, melipatnya dan menjadikannya sedemikian rupa menyerupai sendok (dalam bahasa jawa biasa disebut “disuruh/nyuruh”). Kya………kreatif sekali kamu nak :D.

Perjalanan dari dini hari hingga tadi pagi cukup melelahkan. Setelah perut kenyang dan badan sedikit hangat karena efek makan (ingat, mencerna makanan itu menghasilkan kalor yang bisa menghangatkan tubuh), kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak (baca:tidur). Dan kami berempatbelas sepakat, dengan cuaca seperti ini sepertinya tidak memungkinkan bagi kami untuk mengejar sunrise. Sebelumnya, kami telah mengagendakan melakukan pendakian pada minggu dini hari dari Kandang Badak untuk bisa melihat sunrise. Setelah mempertimbangkan faktor x, y dan z, akhirnya kami putuskan untuk melakukan pendakian ke puncak Gunung Gedhe pada sore harinya. Ganti tujuan, melihat sunset, fufufu….

Sebelum menuju Puncak Gunung Gedhe

Hari Sabtu, 7 Mei 2011 pukul 15.00. Kami berangkat dari Pos Kandang Badak menuju puncak Gunung Gedhe. Kami putuskan hanya membawa 2 carrier bag yang dibawa secara bergantian oleh teman kami yang cowok. Isi carrier bag nya seperti logistik, persediaan air minum, peralatan memasak dan obat-obatan P3K. Masing-masing dari kami membawa senter dan mantel, prediksiku bakalan hujan selama perjalanan. Untuk barang-barang yang lain yang berada di tenda kami titipkan ke teman-teman yang menjadi panitia pendakian umum dari kampus (tim advance) yang kebetulan sudah tiba di situ beberapa waktu yang lalu.

Prediksiku tidak meleset. Tidak beberapa lama setelah kami berjalan, hujan mulai turun. Mula-mula rintik-rintik, lalu semakin lama semakin deras. Mau tidak mau kami harus mengenakan mantel. Sayangnya, ada 1 teman kami (Mas Aziz) yang lupa tidak membawa mantel. Kasihan juga aku melihatnya, sepanjang jalan dia kehujanan dan pastinya lebih kedinginan dari kami yang memakai mantel. Jalan yang kami lalui dari Pos Kandang Badak hingga Puncak Gunung Gedhe lumayan menantang. Dari Kandhang Badak, kami menjumpai pertigaan, jalan ke kanan menuju Puncak Pangrango dan jalan ke kiri menuju Puncak Gedhe. Karena tujuan kami ke Puncak Gedhe, maka beloklah kami ke kiri. Awalnya jalannya masih hampir sama dengan yang beberapa waktu kami lalui untuk sampai ke Kandang Badak, tetapi lama kelamaan jalan semakin menanjak. Kami melewati jalan yang dinamakan Tanjakan Setan. Wew, kedengarannya serem ya. Emang serem sih, tanjakannya. Bayangkan saja, tanjakan ini aku kira-kira mempunyai sudut kemiringan antara 70-80derajat. Memang sih, ada tali carmantel yang disediakan untuk memudahkan para pendaki untuk melaluinya. Tapi, kewaspadaan kami haruslah lebih dari biasanya. Sekali lagi kondisi hujan dan trek batuan licin, ditambah lagi dengan “kostum” mantel kelelawar kami. Sempat pesimis juga untuk bisa sampai ke puncak. Aku ingat betul, waktu itu kondisiku sedang drop lumayan parah. Perut sebelah kiriku sudah mengeluarkan sinyal dari tadi. But, that’s not only my journey. We’re in one group. Aku gak mau merepotkan yang lain, cukup merepotkan mereka saja saat naik dengan gerakan yang lambat. Bismillahirrahmanirrahim, ALLAH help me, I’m so weak as your slave, I’m so afraid to pass it. Safe me, please.

2,5 jam kami berjalan ke puncak. Merangkak dan bergantung pada akar pohon sudah biasa. Trek semakin terjal menuju puncak, tenaga ekstra harus dikerahkan. Inilah saatnya survive. Aku bertahan untuk tidak mengeluh dan tidak menceritakan rasa sakit di perutku yang sudah semakin mencengkeram itu. Rasanya pengen muntah. Dan sepertinya, aku lupa memasukkan obat maag ke kantong P3K kelompok. Ya sudahlah, perjalanan tanggung kalau harus berhenti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s