Sudah Titik


Tak lelo…lelo lelo ledhung..cup menengo anakku sing ayu…tak lelo…lelo lelo ledhung…ndhang turuo anakku sing ayu…1)

Perempuan tua berkebaya itu terus bersenandung di bawah rimbunnya pohon dan semilir angin siang pedesaan, hingga balita di gendongannya itu pulas terlelap.

Dengan sangat hati-hati, perempuan tua berkebaya itu melepas lendhang2) dari bahunya. Ia baringkan balita tadi di ranjang. Ia ambil bantal dan guling, lalu ditatanya sedemikian rupa agar si balita tidak jatuh.

“Bu, makan dulu. Saya tadi sudah masak sayur bayam sama tempe goreng kesukaan panjenengan3),” kata seorang perempuan muda, ibu si balita tadi.

“Sebentar Ndhuk4), mumpung hari nggak begitu panas, aku mau mencabuti rumput dulu sekalian bersih-bersih kebun,” ujar perempuan tua berkebaya itu, cekatan mengambil peralatan berkebunnya.

“Tapi Bu, istirahatlah dulu. Dari pagi kan panjenengan belum istirahat,” kata perempuan muda khawatir.

“Nanti. Badanku pegel kalau kebanyakan istirahat.”

***

“Awas ya kalo jajan es lagi, nanti sakit gimana,” kata seorang laki-laki kepada bocah perempuan, si balita 5 tahun lalu. Si bocah hanya tertunduk, tidak berani menatap laki-laki itu.

“Sudahlah, anak sekecil itu kamu marahin dari tadi. Cuma perkara es,” sahut perempuan berkebaya dengan nada tinggi.

“Ibu nggak usah ikut-ikutan,” kata laki-laki itu.

“Nggak bisa, dia itu cucuku. Sini Ngger5), ayo tidur sama Mbah,” kata perempuan tua berkebaya sambil menggamit lengan si bocah, menagajak ke kamar, tidur.

            Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Bingung. Memarahi anaknya sama saja bertengkar dengan mertuanya.

***

“Mbah, mau pamit. Saya mau berangkat ke Jakarta, kuliah,” kata seorang gadis, si bocah perempuan 12 tahun lalu.

“Kapan pulangnya Ngger cah ayu6)?” tanya perempuan tua berkebaya yang semakin tua, matanya bekaca-kaca.

“Belum tahu Mbah. Mungkin 3 bulan lagi,” kata si gadis. Takzim dia mencium tangan dan kedua pipi simbah putrinya.

            “Hati-hati ya, Ngger. Hidup di perantauan itu harus mandiri. Belajar yang rajin ya, biar cepat dapat kerja,” doa sederhana dari mulut perempuan tua berkebaya. Si gadis cepat-cepat beringsut pamit setelah mengamini doa untuknya. Hatinya bergetar hebat. Bulir-bulir air berjatuhan dari mata indahnya.

***

Tidak seperti euphoria7) pulang kampung yang sering ia rasakan, kali ini berbeda.

Si gadis menangis tergugu di depan sebuah gundukan tanah yang sudah ada sejak beberapa hari lalu. Si gadis berdoa dalam hati untuk yang di hadapannya. Hening. Sunyi. Khusyuk.

Cukup lama si gadis di situ. Matahari beranjak naik, beranjak pula si gadis. Pulang. Meninggalkan perempuan tua yang telah damai dalam tidur panjangnya.

Jakarta, 30 Maret 2011

Ket:

1) sebuah nyanyian dalam bahasa Jawa, biasa digunakan untuk menidurkan seorang anak

2) lendhang : berasal dari kata selendhang, biasa digunakan perempuan Jawa zaman dulu untuk menggendong.

3) panjenengan : kamu untuk orang yang dihormati (bahasa Jawa)

4) Ndhuk : berasal dari kata gendhuk, yang berarti anak atau nak, biasa digunakan untuk memanggil anak perempuan.

5) Ngger : anak atau nak (bahasa Jawa)

6) Ngger cah ayu : anak yang cantik (bahasa Jawa)

7) euphoria : rasa senang yang berlebihan

in memoriam my lovely grandma, rest in peace in heaven 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s