Ekspedisi Papandayan #2


persiapan berangkat

 

06.00

Setelah dirasa cukup puas kami beristirahat, berangkatlah kami ke pertigaan Cisurup. Pertama dengar agak serem juga, Fajar bilangnya Cisurupan dan aku dengernya kesurupan (haha…parah). Kami bersepuluh naik angkot. Muat gak muat dimuat-muatin deh, bayar 5rb mau senyaman naik taksi, haha. Lumayan juga nih dapet pemandangan pagi-pagi di pegunungan, hal yang sudah lama banget gak aku rasakan. Yuhu…asek. Udaranya bo, Jakarta mah lewat. Sawah dan gunung-gunung yang gagah menjulang, hm…..benar2 lukisanMu yang tiada tandingnya.

mejeng dulu sebelum naik mobil

07.00

Kami tiba di pertigaan Cisurup. Untuk sampai ke basecamp Gunung Papandayan, kami harus menyewa angkot pick-up lagi. Ongkosnya sekitar 8ribuan per manusia. Haha..asik asik asik, serasa mau takbiran keliling kampung saat dirumah simbah. Gak ada yang mau duduk di depan samping sopir, semuanya duduk di belakang. Jalannya ke sana itu loh, lumayan parah rusaknya. Hm…rata2 jalan di kawasan pegunungan lah. Macem2 komentar teman2, mulai dari serasa kayak di film Titanic (versi Delly dan Genzy), butuh reparasi pantat (versi Maul), ambil foto penduduk lokal (Ode yang kurang kerjaan), ngomentarin jalannya yang asik buat goyang (ahaha..sumber tidak disebutkan), dll. Sial, ternyata aku duduk diatas mesin, pantes pantatku panas T.T

seru cuy 🙂

 

08.00

kawah belerang

berangkat!!

basecamp papandayan

Taraaa….sampai juga kami bersepuluh di basecamp Papandayan. Lumayan lapang untuk parkir mobil atau bus. Hawa dingin mulai terasa. Kami siap2 pake jaket dan beberapa perlengkapan yang kami bawa. Gak perlu lama2. Setelah mengurus perijinan lengkap, kami semua langsung berangkat. Kali ini gak lupa berdoa dulu. Tau gak, kesialan2 kami dari tadi malam tuh ternyata karena dari berangkatnya kami lupa belum berdoa, pada nafsuan pengen cepet2 berangkat seh, hehe. OK, mulai jalan mulai juga foto2 narsis kami. Ceritanya dikit2 aja ya. Gak muat soalnya kalo diceritain semuanya (nyesel gak ikut langsung). Perjalanan kami disambut oleh kawah belerang yang masih aktif. Ini beneran loh, 2 tahun yang lalu kan Gunung Papandayan meletus. Waktu kemaren Gunung Merapi erupsi, Gunung Papandayan juga siaga 1. Untung saja waktu itu cuaca cukup cerah (meski matahari masih aja gak keliatan) sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Fyi, kalo hujan

naik naik ke puncak gunung

biasanya pendakian mendekati kawah dilarang. Biasanya aku menjauh dari yang namanya kawah belerang, karena gak kuat kalo lama2. Ini pertama kalinya aku melihat kawah belerang langsung dari jarak yang sangat dekat. Air yang bergelembung, batu2an belerang, kepulan asap yang menimbulkan suara yang mendesis, dll. Khawatir juga ntar kalo aku tiba2 pusing atau mual, tapi untungnya cuma mata yang pedih. Disarankan memakai masker yang dibasahi dengan air saat melewati kawah belerang biar gak terlalu banyak menghirup gas belerang kali. Jangan lupa juga pake kacamata, beneran perih saat di sekitar kawah itu. Oya, selain gas belerang, keadaan di sekitar kawah juga tandus, kering dan gersang. Hanya batu2an yang menjulang tinggi dan berserakan tak beraturan. Gak ada satupun pohon yang tumbuh di area itu, paling cuma area di bawahnya yang masih aman dari semburan gas belerang. Lumayan lama juga perjalanan di sekitar kawah belerang itu. Jalannya bener2 padang yang gak datar, haha. Tingkat kesesatan 90% kalo aku disuruh naik sendirian dan lalu balik lagi, nyasar sih udah pasti (aku kan bingung arahnya parah). Beruntung kami bertemu dengan beberapa penduduk lokal yang bersedia mengantar kami dan memberi beberapa petunjuk untuk perjalanan selanjutnya. Walaupun gak sampai puncak, tapi setidaknya mereka mengantar kami sampai tempat yang “sudah ada petunjuk untuk diingat” selain batu. Next trip, emang bener bukan lagi padang yang tidak datar, tapi jalurnya ajib bener dah. Naik dan turun yang lumayan ekstrim lagi, 50derajat lebih lah (pasti sukses bikin cewek2 penggila dandan di salon bersiul-siul, hkhkhk). Sedikit kasian untuk pasukan sandal jepit baru (Ode dan Dikky) soalnya medannya cukup licin. Siapa gitu bilang,”kok jalannya gak ada rata2nya sih?” dan ada yang menjawab “rata2nya kan miu”. Alamak………..naik gunung juga masih mikirin miu2an (fyi, dalam ilmu statistika/matematika miu itu berarti rata2 untuk populasi). Kata2 penyemangat kami adalah nasi goreng. Atau TAHAN (kata2 yang sering diusapkan di JA). Malah ada yang matkul inti, teriak MPC (metode penarikan contoh), STATMAT (statistika matematika), METSAT (metode statistika) …haha…stress :). Karena jalur pintas yang seharusnya bisa kami lewati longsor, terpaksalah kami berputar arah. Eh, percaya gak. Di jalur yang kayak gini pun ada juga orang yang naik sepeda gunung. Salut deh. Kami bawa badan aja susah, haha.

09.30

1,5 berjalan di medan yang lumayan kayak gitu plus bawa tas carrier yang lumayan berat juga (kecuali Genzy) membuat kami bersepuluh lapar. Well, buka logistic. Tuing tuing tuing………..mie instan. Loh loh loh….ternyata mie instannya banyak amat yak?! OK lah, sok atuh dimasak, mau mie rebus mau mie gorreng masukin aja lah semuanya. Apapun rasanya semuanya enak. 10 mie instan bener2 kerasa kayak makan 3 sendok deh -.-‘. Gila aja yang cowok makannya cepet amat. Beragam gaya lagi, mulai dari sepiring berdua atau bertiga atau berempat, makan langsung dari misting (panci) atau yang parah pake gelas pinjeman orang lagi. Hahahaha…..seru2an deh. Konyol. Mie instan aja gak cukup, langsung sikat roti. Haha…setelah udah gak begitu lapar lagi, kami melanjutkan perjalanan. Next trip=pondok salada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s